Jumat, 13 April 2012

Fight Petamaku


Hari ini, seperti biasa aku berlatih taekwondo. Namun tidak seperti biasanya, kali ini kami berlatih di Training Center karena hari sedang hujan. Selesai berlatih, sabeum Nanang meminta kami berkumpul dan mengumumkan kalau hari Jum’at akan diadakan ‘Fight’. Aku kaget dan secara otomatis aku terdiam.
            ‘Bagaimana bisa fight dilaksanakan secepat ini? Aku bahkan belum siap. Menendang saja masih sering meleset. Kemampuanku masih jauh dari ambang standard. Oh Tuhan, mungkinkah aku akan mempermalukan diriku Jum’at nanti? Oh Tuhan bantu aku!’
            Deretan kalimat itu memenuhi pikiranku. Aku benar-benar akan mempermalukan diriku Jum’at nanti. Aku tidak mau memperlihatkan kepada anggota taekwondo yang lain kalau kemampuan beladiriku jauh dibawah kata standard. Saat sibuk memikirkan itu semua, anggota taekwondo yang lain berteriak dengan kompak.
            “Yahhhhh!” Kata mereka serempak.
            Ternyata bukan hanya aku yang gelisah mendengar berita dari sabeum, namun semua hampir taekwondoin juga. Tapi, mereka lebih beruntung dari aku, karena kemampuan mereka di atasa standard. Aku terduduk lesu. Tapi, entah kenapa sabeum seperti tahu apa yang sedang ku fikirkan.
            “Jum’at fight ya Salma! Jangan sampai ngga dateng!” Kata sabeum padaku.
            Aku mengangguk lesu. Aku pulang dengan langkah gontai selayaknya seseorang yang tidak memiliki semangat hari itu. Selama di perjalanan pulang aku hanya terdiam. Kalimat-kalimat itu masih membebani pikiranku. Aku tidak tenang. Rasanya kepalaku akan meledak sebentar lagi.
            Setibanya di rumah, aku segera membersihkan diri. Setelah mandi, aku mengunci diriku di kamar. Aku terdiam seribu bahasa, mataku menerawang jauh dengan tatapan kosong. Aku membayangkan apa yang akan terjadi hari Jum’at jika aku tetap memaksakan diriku untuk fight.
            ‘Babak belur? Kaki terkilir? Sesak nafas? Atau lebih baik aku tidak datang hari Jum’at? Tapi sampai kapan aku akan kabur dari fight?’
            Aku seperti melihat diriku yang lain sedang fight. Dan aku dapat melihat peserta lain menertawakanku. Aku tersadar dari lamunanku saat aku mendengar seseorang mengetuk pintu kamarku. Aku segera membuka pintu kamarku, ternyata hanya kakakku yang ingin meminjam novel. Setelah ia mendapatkan apa yang ia mau, ia segera meninggalkanku.
            Aku kembali mengunci diri di kamar. Bayangan-bayangan itu kembali menghampiriku. Aku telah mencoba untuk membuang jauh-jauh pikiran itu, namun rasanya sangat sulit. Karena kelelahan, aku pun tertidur.
***
            Pagi ini, aku masuk sekolah dengan perasaan tidak tenang. Banyak sekali beban yang menumpuk di pikiranku. Selama pelajaran berlangsung, aku tak mempu berkonsentrasi secara optimal. Bahkan, saat ulangan tengah berlangsung, aku tetap tak mampu berkonsentrasi. Konsentrasiku buyar antara ulangan, fight yang akan dilaksanakan besok, dan lomba wallmagz. Rasanya aku sangat ingin melepas kepalaku agar aku dapat terbebas dari semua pikiran itu.
            Bel istirahat berbunyi. Aku memutuskan untuk pergi ke kantin bersama teman-temanku yang juga adalah seniorku di taekwondo. Di kantin, aku hanya bisa melamun. Bahkan saat Rina mengajakku bicara, aku tak mampu mendengar suaranya.
            “Sal? Lu kenapa ngelamun? Sakit?” Tanyanya seraya memegang bahuku.
            “Gue ngga sakit kok Rin. Cuma...” kataku tak menyelesaikan kalimat itu.
            “Cuma kenapa?” Tanya Aziz.
            “Cerita aja sama kita!” Kata Ivan membujuk agar aku bercerita kepada mereka.
            Aku bingung apakah aku harus bercerita pada mereka atau tidak. Aku takut mereka menertawakanku, dan terlebih-lebih mereka juga adalah seniorku di taekwondo. Akhirnya aku menyingkirkan semua prasangka itu dan memilih untuk bercerita kepada mereka.
            “Oh gitu, tenang aja kali Sal!” Kata Rina padaku.
            “Tapi gue ngga mau fight dengan kemampuan gue yang minim!” Kataku menatap Rina.
            “Minim apanya? Sabeum aja bilang kalo lu harus ikut kejuaraan, itu berarti tendangan lu
              itu powernya kuat Sal!” Kata Ivan dengan tersenyum sinis kearahku.
            “Ya Ma, santai aja kali!” Kata Aziz.
            “Ya gue tau lu itu ketua taekwondo, dan lu kesayangan sabeum pantas aja lu santai. Lah
              gue? Cuma sekertaris!” Kataku lesu.
            “Ngga usah merendahkan diri lu deh! Masa seorang Salma yang biasa menghajar anak
              laki-laki di kelasnya jadi lemah begini?” Kata Rahid dengan nada mengejekku.
            “Bener juga sih! Thanks ya guys semangatnya.” Kataku sambil mengacak-acak rambut       
              Rahid.
            Setelah istirahat, aku jadi lebih mampu berkonsentrasi di kelas. Aku sudah tidak mempedulikan lagi tentang fight maupun yang lainnya. Saat sedang pergantian jam pelajaran, aku memikirkan apa yang harus ku lakukan untuk meningkatkankan kemampuanku. Namun, tiba-tiba aku mendapatkan ide agar aku tidak mempermalukan diriku jum’at nanti.
            “Aha!! Guling!!” Kataku senang.
            Selama pelajaran terakhir berlangsung, aku belajar dengan keadaan senang karena aku mendapatkan ide untuk berlatih sendiri di rumah. Setelah bel pulang sekolah, aku bergegas pulang.
            Sesampainya di rumah, aku segera mengambil guling tak berdosa yang terletak rapi di kasur dan memasangnya di teralis pintu kamar. Aku membayangkan bahwa guling itu adalah lawanku nanti, jadi aku dapat berlatih untuk fight. Saat itu juga aku berlatih, namun tendanganku sering meleset. Bukan mengenai guling, namun kakiku justru menghantam tembok.
            Teriakanku telah membuat kakakku datang. Kakakku datang bukan untuk membantuku, tapi ia justru menertawakanku. Aku segera membanting pintu kamarku. Jujur, aku sangat kesal ditertawakan olehnya. Karena kelelahan, akupun tertidur.
***
            Pagi ini aku berangkat sekolah dengan keadaan ceria. Suasana hatiku hari ini sangat bertolak belakang dengan yang kemarin. Sekarang aku mampu belajar secara maximal. Aku sudah tidak takut lagi akan fight. Bahkan, aku berharap waktu berputar lebih cepat agar fight lebih cepat dilaksanakan.
Tidak terasa, bel istirahat telah berbunyi. Rina dan yang lainnya menghampiriku di kelas. Ia mengajakku ke kantin dan aku menurut. Dikantin, aku bercanda dengan mereka. Mereka bingung kenapa suasana hatiku cepat berubah. Kemarin muram sekarang ceria. Tapi aku tak mau menjawab pertanyaan mereka. Aku memilih untuk bungkam dan tetap bercanda dengan mereka.
            ‘Duh.. Nunggu taekwondo lama banget sih??’ Pikirku tak sabar.
            Bel masuk berbunyi. Aku kembali belajar di kelas. Sesekali aku memandang keluar jendela dan membayangkan fight yang akan ku lakukan. Bu guru meminta kami mengisi LKS. Setelah selesai, aku kembali hanyut dalam lamunanku. Aku terus melamun hingga terdengar bunyi bel pulang.
            Aku segera pulang. Sesampainya di rumah, aku kembali berlatih. Saat jam menunjukkan pukul 13.40, aku shalat Zuhur dan bersiap-siap untuk berangkat latihan taekwondo. Pukul 14.00, aku berangkat ke sekolah. Setibanya di sekolah, ternyata sudah ada beberapa orang yang datang. Disana ada Aqua, Yoshinta, Agung, Aziz, Ivan, Rina, dan Rasyid. Mereka terlihat semangat mengikuti fight hari ini.
            Kami menunggu selama 45 menit sebelum latihan di mulai. Tepat pukul 15.30, sabeum telah datang dan kami memulai latihan. Kami berlatih di training center seperti hari Selasa. Terlebih dahulu kami pemanasan dan latihan seperti biasa. Setelah itu, sabeum memberi waktu untuk beristirahat selama 10 menit. Aku, Rina, Aziz, dan Ivan membeli minuman di tempat langganan kami.
            Setelah istirahat, fightpun dilaksanakan. Aku mendapat urutan ke dua dan lawanku adalah Aqua. Saat figt, kami dipakaikan pelindung yang disebut ‘body’. Selama fight, Aqua selalu memepetku dan membuatku sulit menendangnya. Namun, aku tak menyerah dan tetap berusaha memepetnya. Setelah 5 menit fight, sabeum meminta bantuan untuk melepas pelindung yang kami kenakan dan mengganti peserta selanjutnya.
            “Gimana?? Ga papa kan?” Tanya Rina begitu aku menghampirinya.
            “Not bad!” Jawabku singkat. Rina menarik tanganku dan merangkulku.
            “Makanya kalau belum nyoba jangan pesimis dulu!” Katanya sambil mengacak-acak
              rambutku.
            “Ya sih, lu bener. Tapi ga usah pake ngacak-acak rambut dong! Baru dari salon nih!”
            Jawabku seraya merapikan rambutku kembali.
            “Hah?? Salon?” Tanya Rina bingung.
            “Jiah dia percaya. Ngapain gue ke salon. Gue bercanda kali!” Kataku sambil tertawa.
            Dan setelah itu, aku tak lagi takut akan fight. Aku justru menantikan diadakan fight lagi. Semua ini berkat semangat dari teman-temanku dan pelatihan dari sabeum. Tak lupa tentunya karena Tuhan yang membantuku menemukan ide untuk menggunakan guling sebagai target.
            ‘Terima kasih semuanya. Aku senang ada kalian di sampingku dan ada Tuhan di hatiku.’
            Aku mengucapkan terima kasih kepada mereka dalam hati, karena aku tak mau memperlihatkan sisi melankolisku di hadapan mereka.


***TAMAT***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar