When the drama come true…
“Anak-anak, ibu harap
kalian dapat mementaskan naskah drama ciptaan kalian dengan baik! Kalau begitu
ibu permisi. Selamat beristirahat!” Ujar Ibu Gina, guru mata pelajaran Bahasa Indonesia
sembari melangkahkan kakinya meninggalkan ruang kelas XI IPA 4.
Ya, seminggu yang lalu
perintah itu diberikan kepada segenap siswa di kelas XI
IPA 4. Dan kini, Valeri
tengah mengerjakannya dengan segenap hati. Tubuhnya tengah tersandar di sisi
saung, tepi kolam renang. Wajahnya tersenyum memandang layar notebook yang
tengah berada di hadapannya. Jemarinya menari riang di atas huruf-huruf yang
akan membantu menyusun jalan ceritanya. Benaknya menerawang, menghidupkan
imajinasi dari babak demi babak drama yang tengah ia ciptakan.
Drama, satu hal yang
begitu dicintai oleh Valeri. Baginya, ia hanya seorang aktris, dan kehidupannya
tak lebih dari alur sebuah naskah yang Tuhan ciptakan. Ia begitu mencintai
drama, layaknya saat ini. Seharusnya tugas itu untuk berkelompok, namun ia
memilih menciptakan naskahnya sendiri.
Kelompok dramanya terdiri
dari Remon, Lucas, Maria, Cindy dan yang terakhir adalah Valeri sendiri. Valeri
memilih untuk menciptakan sendiri naskahnya bukan karena empat orang lainnya
malas, atau tak bisa dipercaya. Namun, semua itu murni karena Valeri mencintai
drama. Ia ingin memuaskan diri dengan menuangkan semua idenya ke dalam naskah
drama itu.
“Kalian tenang aja ya,
nanti biar aku yang buat naskahnya.” Ujar Valeri.
“Lalu, bagaimana caranya
kita membantu kamu?” Ujar Remon. Salah satu anggota kelompok Valeri, sekaligus
sahabat terdekatnya.
“Kalian janji aja sama aku.
Naskah seperti apapun yang aku buat, kalian harus mau mementaskannya. Dan jika
ada kejadian apapun yang terjadi saat pementasan kita, kalian harus tetap
mementaskan drama itu sampai selesai. Show
must go on!” Ujar Valeri.
“Memang apa yang akan
terjadi, Val? Kamu ngga buat naskah yang aneh-aneh kan?” Tanya Lucas.
“Ngga kok, tapi siapa
yang tahu apa yang akan terjadi. Benar kan? Pokoknya kalian harus janji, show must go on. No matter what happens.”
“Ok, kita janji, Val.”
Ujar ke empat orang itu hamper bersamaan.
***
Valeri ingat betul
perkataannya dua hari yang lalu. Ia yang mengatakan sendiri pada segenap teman kelompoknya,
bahwa ia yang akan bertanggung jawab penuh pada naskah drama itu. Dan ia tengah
membuktikannya. Naskah drama itu hampir selesai. Dan mungkin akan selesai, jika
saja tidak terjadi sesuatu padanya saat itu.
Jantungnya berdegup cepat.
Terasa semakin sakit ketika jantung itu semakin berdegup. Nafasnya tersengal.
Pandangannya mengabur, buram. Valeri merasakan ada sesuatu yang mengalir dari
hidungnya. Ia menyekanya, dan ternyata itu adalah darah.
‘Aku mimisan lagi?’ Pikirnya.
Darah itu terus menerus mengalir, bahkan ketika tissue
telah menyekanya. Kepala Valeri terasa berat dan semakin berat, seperti ada
yang menyengkram erat kepalanya. Dan tak lama kemudian, tubuhnya ambruk. Valeri
tak sadarkan diri.
Entah berapa lama Valeri jatuh pingsan. Ketika
ia tersadar, ia segera beranjak ke westafel. Membersihkan wajahnya yang belepotan
karena darah. Ia melirik jam tangannya, ia telah pingsan selama dua jam. Dan
bahkan seluruh keluarganya belum pulang.
Ia membersihkan noda darah yang tertinggal di
saung itu. Menyimpan naskah itu di laptopnya. Dan akhirnya ia mengunci dirinya
dalam kamar.
Tak ada satupun keluarga Valeri yang mengetahui
apa yang tengah dirasakan Valeri. Tak ada satu pun dari mereka yang mengetahui
kondisi Valeri sebenarnya. Begitu pun sahabat-sahabatnya. Tak ada yang tahu apa
yang tengah diderita Valeri.
***
Seminggu berlalu. Kini
tiba saatnya kelompok Valeri mementaskan drama mereka. Drama itu mengisahkan
tentang lika-liku kehidupan seorang gadis yang bernama Risa. Hidup Risa penuh
dengan cobaan. Mulai dari kedua orang tuanya yang sering bertengkar, kakaknya
yang bernama Mario yang sering tidak pulang, serta adiknya, Lioni yang
terus-menerus menangis karena takut akan teriakan kedua orang tuanya.
Dalam drama itu, Valeri
lah yang dipilih untuk menjadi Risa, sang tokoh utama. Teman-teman
sekelompoknya memilih Valeri, karena menurut mereka hanya Valeri yang mampu
menyajikan makna sesungguhnya dari drama tersebut.
Pada awalnya, pementasan
itu berjalan dengan lancar. Babak demi babak berhasil mereka sajikan dengan
apik. Penonton yang awalnya riuh, berubah menjadi hening, larut akan alur dari
drama tersebut. Hingga tiba di dua babak terakhir, babak yang ditunggu-tunggu
oleh semua pemain. Karena setelah ini, topeng mereka sebagai aktor dan aktris
dalam drama tersebut dapat mereka lepaskan. Dan mereka dapat menjadi diri
mereka yang asli diluar naskah itu.
Babak 9
Risa tengah berada dalam
kamarnya ketika kedua orang tuanya bertengkar di ruang keluarga. Lioni menangis
di tempat tidur Risa sembari memeluk bonekanya erat-erat.
Risa : (Memeluk Lioni)
“Dek, kamu jangan nangis
lagi ya. Sebentar lagi semuanya akan selesai. Kakak janji sama kamu. Kak Risa
akan terus nemenin Lioni. Jadi Lioni jangan sedih lagi ya sayang.”
(Menyeka air mata Lioni)
Lioni : “Lioni takut kak. Kenapa sih papa sama mama teriak-teriak
terus?
Teriakan mama sama papa kan kak, yang buat Kak
Mario pergi? Lioni takut Kak Risa juga ninggalin Lioni kaya Kak Mario.”
Risa : “Ngga Lioni. Kak Risa janji sama Lioni. Kakak akan terus sama
Lioni.
Sekarang biar Lioni ga denger suara papa mama.
Lioni tidur aja ya, sayang. Kak Risa temenin disini.”
Lioni : “Ia kak. Tapi kakak jangan kemana-mana ya.”
Risa : “Ia Lioni. Kakak akan disini sampai Lioni bangun.”
Adegan demi adegan dalam
babak itu berhasil dilakukan Valeri sebagai Risa dan Maria sebagai Lioni.
Hingga adegan terakhir yang mewajibkan tokoh Risa untuk meninggal. Inilah
adegan yang ditunggu-tunggu semua penonton, tak terkecuali Bu Gina.
Di dalam naskah, setelah
Lioni tertidur, Risa beranjak dari tempat tidur ke meja belajarnya. Di meja itu
ia menangis, meratapi hidup keluarganya sembari menuliskan keluh kesahnya di
dalam sebuah memo. Ketika Risa tengah menulis, darah mengalir dari hidungnya.
Penyakit kanker otak yang selama ini ia sembunyikan dari seluruh keluarga dan
teman-temannya, semakin parah. Dan ketika ia ingin meraih obatnya yang ada di
laci meja disamping tempat tidur, ia meninggal tanpa sempat menyentuh obatnya.
Itulah yang tengah
dilakukan Valeri sebagai tokoh Risa. Ia berjalan dari tempat tidur menuju meja
belajar. Wajahnya pucat pasi. Tak ada seorang penontonpun yang menyadari raut
wajah Valeri yang berubah.
Semua penonton, bahkan Bu Gina, terkesima
melihat kelihaian Valeri memainkan adegannya. Termasuk saat Valeri memainkan
adegan tokoh Risa yang merasakan kesakitan. Saat dimana Valeri harus terjatuh
dari kursi, merangkak menuju meja tempat obat, dan meninggal di lantai yang
dingin tanpa sempat menyentuh obatnya.
Tak ada yang menyadari bahwa rasa sakit yang
diperlihatkan Valeri bukanlah acting. Semua orang baru menyadari ada yang tidak
beres ketika narator membacakan narasi babak terakhir dan Valeri tak kunjung
bangkit. Ia masih dalam keadaan berbaring di lantai. Remon mendekati Valeri,
berusaha membangunkannya.
“Lucas, Valeri udah ga bernafas.” Ujar remon
kepada Lucas.
Semua penonton menjadi ricuh. Mereka tak
menyangka bahwa drama ini tidak hanya telah mematikan satu tokoh, tapi dua. Ia
mematikan tokoh Risa sekaligus yang memerankannya. Semua menangis dan hendak
membawa Valeri ke rumah sakit.
“Tunggu! Kami minta maaf, tapi kami mohon semua
tetap ditempat!” Teriak Lucas kepada penonton.
“Apa yang kamu lakukan Lucas. Kamu tidak lihat
bahwa Valeri membutuhkan dokter segera!” Bentak Bu Gina pada Lucas.
“Percuma, Bu. Valeri udah ngga ada. Dan kami
berempat sudah berjanji pada Valeri. Apapun yang terjadi saat pementasan drama
ini, kami harus tetap melanjutkannya hingga selesai. Ini permohonan Valeri pada
kami. Jadi kami mohon ibu kembali menontonnya hingga selesai.” Ujar Cindy
sembari menahan tangis.
Bu Gina kembali ke tempat duduknya sembari
menangis. Ramon dan Lucas menggotong tubuh Valeri dan mendudukkannya di kursi
penonton. Ramon, Lucas, Maria, dan Cindy tetap melanjutkan babak terakhir
sesuai permohonan Valeri.
Setelah drama itu selesai. Segenap siswa dan
juga Bu Gina berhambur memeluk tubuh Valeri. Mereka semua menangis. Ada
beberapa dari mereka yang memanggil-manggil nama Valeri. Sedang beberapa
lainnya, tengah berdoa untuk Valeri.
***
Delapan bulan sebelumnya…
“Dokter, sebenarnya saya
sakit apa. Saya sering kali mimisan, kepala saya sering sakit, dan rambut saya
banyak yang rontok dokter.” Tanya Valeri pada dokter Arya.
“Maaf, tapi apa kamu datang
kesini dengan orang tua kamu, Val?” Tanya dokter Arya.
“Ngga dok. Saya udah
cukup umur kok untuk memeriksakan diri ke rumah sakit sendirian. Saya mau
dokter Arya jujur, saya sakit apa dok?”
“Maaf, Valeri. Menurut
hasil pemeriksaan, kamu mengidap kanker otak stadium lanjut.”
“Kanker, dokter? Apa
masih bisa disembuhkan?”
“Peluangnya sangat kecil
Valeri. Kanker ini sudah menjalar. Tapi walaupun begitu, masih ada harapan bagi
kamu untuk sembuh. Saya akan menemui orang tuamu untuk membicarakan mengenai
pengobatannya.”
“Ngga dokter. Saya mohon
dokter jangan mengatakan apapun pada keluarga saya.”
“Tapi saya dokter pribadi
keluarga kalian, Val. Saya haris menyampaikan ini.”
“Saya mohon dokter, tolong
rahasiakan ini semua dari siapapun. Saya mohon.”
“Baik Valeri kalau itu
maumu. Tapi kamu harus janji, jangan berfikir terlalu keras. Karena akan
berdampak pada kondisimu.”
“Baik dokter. Saya janji.
Makasih banyak dokter. Saya permisi.” Ujar Valeri seraya berjabat tangan dengan
dokter Arya.
“Sama-sama, Valeri.”
Selama beberapa bulan
Valeri berhasil menutupi penyakitnya dari semua orang. Hingga tiga bulan sebelum
pementasan drama itu, ternyata penyakit Valeri semakin parah. Ia semakin sering
mimisan dan semakin hari kepalanya terasa semakin sakit. Valeri menjadi takut
tidur, ia takut jika ia tertidur maka ia tak akan mampu membuka matanya lagi. Orang
tuanya begitu sibuk bekerja, dan kakaknya tengah ngekos karena kuliah, sehingga
tak ada yang tahu bahwa Valeri tengah berjuang melawan maut.
Pada suatu malam, ketika
Valeri bersama kedua orang tuanya tengah berkumpul di ruang keluarga. Valeri
merasakan hal yang aneh. Ia merasa bahwa dirinya akan segera lenyap bersama angin.
“Mama, Val mau minta
sesuatu.” Ujar Valeri kepada mamanya.
“Apa itu?” Mamanya
bingung, karena tak biasanya putri bungsunya meminta sesuatu darinya.
“Kalau nanti terjadi
sesuatu sama Val yang buat Valeri ga bisa masuk kedokteran. Uang kuliah Valeri
mama kasih ke Remon aja ya ma. Kasian Remon, dia mau masuk kedokteran tapi ga
punya biaya. Seenggaknya kalau Valeri ga bisa jadi dokter, ada yang bisa
gantiin Valeri buat nerusin cita-cita Valeri.” Ujar Valeri menunduk.
“Kamu tuh ngomong apa si?
Kamu pasti masuk kedokteran kok. Lagipula kalau ternyata kamu ga masuk
kedokteran, ya uangnya mama pake buat kuliah kamu yang lain.” Ujar mamanya
semakin bingung akan perkataan putrinya.
“Maksud Valeri bukan
gitu, Ma. Ya pokoknya Val minta mama nanti tolong alihin uang buat Val ke Remon
ya. Kalau nanti misalnya terjadi sesuatu sama Val.”
“Ah udah ah, kamu tu
kenapa sih? Jadi ngelantur gini ngomongnya.”
“Valeri ngga
kenapa-kenapa kok ma. Valeri baik-baik aja.” Ujar Valeri melempar senyum pada
mamanya. Senyum yang semakin membuat bingung mamanya.
Dan ternyata semua
perkataannya terbukti. Valeri tak akan pernah mampu menjadi seorang dokter seperti
keinginannya. Waktunya telah berakhir bersamaan dengan berakhirnya drama terakhir
yang ia tulis. Kesedihan menyelimuti semua orang yang mengenalnya. Terlebih
keluarganya, mereka merasa berdosa karena kesibukan membuat mereka tak
mengetahui bahwa putri mereka tengah menderitanya penyakit mematikan. Mereka
baru mengetahui penyakit Valeri, setelah Valeri meninggal, lewat memo yang
selalu di tulis Valeri.
20 Oktober 2013
Hari ini aku menemui dokter lagi. Memastikan apa
penyakitku sebenarnya. Dan jawaban dokter membuatku diam. Aku menderita
penyakit kanker otak stadium lanjut, Tuhan. Itu artinya waktuku tak lama lagi.
Mungkin aku tak akan sempat menjadi seorang dokter seperti keinginanku dan
kedua orang tuaku. Dan mungkin aku tak akan sempat membangun panti asuhan yang
telah menjadi impianku sedari kecil. Tapi tak apa. Aku hanya mohon padamu, tolong
selalu lindungi keluargaku, dan tolong bantu Remon untuk menjadi seorang
dokter. Setidaknya untuk menggantikan aku, Tuhan.
***
Dua puluh tahun setelah Valeri meninggal..
Remon, Lucas, Maria, dan
Cindy berkunjung ke makam Valeri. Setelah Valeri meninggal, orang tua Valeri
mengalihkan semua uang yang seharusnya untuk biaya kuliah Valeri ke Remon. Dan
akhirnya Remon bisa menjadi dokter seperti keingginannya dari dulu.
“Valeri, kamu masih inget
kita ngga? Aku Maria, ini Lucas, Remon, sama Cindy. Kita tim drama terakhir
kamu Val.” Ujar Maria.
“Kita kangen kamu Val.
Udah dua puluh tahun kamu ninggalin kita. Padahal dulu, kita pernah bilang
kalau kita sukses, kita akan ngumpul bareng lagi.” Ujar Cindy.
“Guys, Valeri ada disini.
Dia lagi ngeliatin kita sambil senyum. Dia masih pakai seragam SMA. Sepertinya,
di masih hidup di masa lampau.” Ujar Lucas.
“Valeri, dimanapun kamu, kita mau bilang kalau kita
kangen kamu. Dan aku kesini juga untuk berterima kasih. Orang tua kamu ngebantu
biaya kuliah aku. Katanya, kamu mau aku gantiin kamu jadi dokter. Dan sekarang
aku udah jadi dokter. Aku juga udah bangun panti asuhan yang kamu mau. Makasih
banyak ya Val.” Ujar Remon.
“Valeri bilang dia juga kangen kita. Dan dia
ngucapin terima kasih karena Remon udah mau bangun panti asuhan kaya yang dia
mau. Dia juga juga ngucapin selamat tinggal. Karena sekarang dia bisa pergi
dengan tenang, setelah liat semua orang tersayangnya berhasil.” Ujar Lucas.
“Sampai ketemu lagi ya, Val. Tunggu kita disana.” Ujar Maria seraya menangis.
“Dia udah pergi, dia udah tenang sekarang.” Ujar
Lucas.
“Syukurlah kalau dia udah tenang. Eh iya,
ngomong-ngomong dari kapan kamu bisa lihat kaya gitu Luc?” Tanya Cindy. Sembari
mereka berempat meninggalkan area pemakaman.
“Udah dari lama. Valeri tau kok kalau aku bisa
liat hal kaya gitu. Dan waktu Valeri meninggal, aku ngeliat ruh nya ada di
pojokan kelas, ngeliatin kita. Itu kenapa aku langsung minta yang lain kembali
duduk. Karena aku tahu, Valeri tetap di kelas karena mau lihat pertunjukannya
selesai.” Jawab Lucas.
‘Val, kamu sahabat aku. Ga sampai setahun aku
kenal kamu dan kamu udah begitu baik sama aku. Kamu bantu aku wujudin cita-cita
aku. Makasih banyak Val. Semoga Tuhan nempatin kamu di tempat yang paling
indah.’ Pikir Remon.
“Kamu juga udah bantu aku wujudin keinginan aku
untuk bangun panti Remon. Makasih ya.” Ujar Valeri bersama dengan angin yang
berhembus.
Remon menoleh ke arah datangnya suara, namun tak
ada siapapun. Ia hanya tersenyum melihat makam Valeri dan segera berjalan
mengejar ketiga temannya.
**TAMAT**

