Sabtu, 01 Maret 2014

Pengganti

When the drama come true…


          “Anak-anak, ibu harap kalian dapat mementaskan naskah drama ciptaan kalian dengan baik! Kalau begitu ibu permisi. Selamat beristirahat!” Ujar Ibu Gina, guru mata pelajaran Bahasa Indonesia sembari melangkahkan kakinya meninggalkan ruang kelas XI IPA 4.

          Ya, seminggu yang lalu perintah itu diberikan kepada segenap siswa di kelas XI 
IPA 4. Dan kini, Valeri tengah mengerjakannya dengan segenap hati. Tubuhnya tengah tersandar di sisi saung, tepi kolam renang. Wajahnya tersenyum memandang layar notebook yang tengah berada di hadapannya. Jemarinya menari riang di atas huruf-huruf yang akan membantu menyusun jalan ceritanya. Benaknya menerawang, menghidupkan imajinasi dari babak demi babak drama yang tengah ia ciptakan.

          Drama, satu hal yang begitu dicintai oleh Valeri. Baginya, ia hanya seorang aktris, dan kehidupannya tak lebih dari alur sebuah naskah yang Tuhan ciptakan. Ia begitu mencintai drama, layaknya saat ini. Seharusnya tugas itu untuk berkelompok, namun ia memilih menciptakan naskahnya sendiri.

          Kelompok dramanya terdiri dari Remon, Lucas, Maria, Cindy dan yang terakhir adalah Valeri sendiri. Valeri memilih untuk menciptakan sendiri naskahnya bukan karena empat orang lainnya malas, atau tak bisa dipercaya. Namun, semua itu murni karena Valeri mencintai drama. Ia ingin memuaskan diri dengan menuangkan semua idenya ke dalam naskah drama itu.

          “Kalian tenang aja ya, nanti biar aku yang buat naskahnya.” Ujar Valeri.

        “Lalu, bagaimana caranya kita membantu kamu?” Ujar Remon. Salah satu anggota kelompok Valeri, sekaligus sahabat terdekatnya.

          “Kalian janji aja sama aku. Naskah seperti apapun yang aku buat, kalian harus mau mementaskannya. Dan jika ada kejadian apapun yang terjadi saat pementasan kita, kalian harus tetap mementaskan drama itu sampai selesai. Show must go on!” Ujar Valeri.

          “Memang apa yang akan terjadi, Val? Kamu ngga buat naskah yang aneh-aneh kan?” Tanya Lucas.

          “Ngga kok, tapi siapa yang tahu apa yang akan terjadi. Benar kan? Pokoknya kalian harus janji, show must go on. No matter what happens.”

          “Ok, kita janji, Val.” Ujar ke empat orang itu hamper bersamaan.

***

          Valeri ingat betul perkataannya dua hari yang lalu. Ia yang mengatakan sendiri pada segenap teman kelompoknya, bahwa ia yang akan bertanggung jawab penuh pada naskah drama itu. Dan ia tengah membuktikannya. Naskah drama itu hampir selesai. Dan mungkin akan selesai, jika saja tidak terjadi sesuatu padanya saat itu.

       Jantungnya berdegup cepat. Terasa semakin sakit ketika jantung itu semakin berdegup. Nafasnya tersengal. Pandangannya mengabur, buram. Valeri merasakan ada sesuatu yang mengalir dari hidungnya. Ia menyekanya, dan ternyata itu adalah darah.

‘Aku mimisan lagi?’ Pikirnya.

Darah itu terus menerus mengalir, bahkan ketika tissue telah menyekanya. Kepala Valeri terasa berat dan semakin berat, seperti ada yang menyengkram erat kepalanya. Dan tak lama kemudian, tubuhnya ambruk. Valeri tak sadarkan diri.

Entah berapa lama Valeri jatuh pingsan. Ketika ia tersadar, ia segera beranjak ke westafel. Membersihkan wajahnya yang belepotan karena darah. Ia melirik jam tangannya, ia telah pingsan selama dua jam. Dan bahkan seluruh keluarganya belum pulang.

Ia membersihkan noda darah yang tertinggal di saung itu. Menyimpan naskah itu di laptopnya. Dan akhirnya ia mengunci dirinya dalam kamar.

Tak ada satupun keluarga Valeri yang mengetahui apa yang tengah dirasakan Valeri. Tak ada satu pun dari mereka yang mengetahui kondisi Valeri sebenarnya. Begitu pun sahabat-sahabatnya. Tak ada yang tahu apa yang tengah diderita Valeri.

***

          Seminggu berlalu. Kini tiba saatnya kelompok Valeri mementaskan drama mereka. Drama itu mengisahkan tentang lika-liku kehidupan seorang gadis yang bernama Risa. Hidup Risa penuh dengan cobaan. Mulai dari kedua orang tuanya yang sering bertengkar, kakaknya yang bernama Mario yang sering tidak pulang, serta adiknya, Lioni yang terus-menerus menangis karena takut akan teriakan kedua orang tuanya.

          Dalam drama itu, Valeri lah yang dipilih untuk menjadi Risa, sang tokoh utama. Teman-teman sekelompoknya memilih Valeri, karena menurut mereka hanya Valeri yang mampu menyajikan makna sesungguhnya dari drama tersebut.

          Pada awalnya, pementasan itu berjalan dengan lancar. Babak demi babak berhasil mereka sajikan dengan apik. Penonton yang awalnya riuh, berubah menjadi hening, larut akan alur dari drama tersebut. Hingga tiba di dua babak terakhir, babak yang ditunggu-tunggu oleh semua pemain. Karena setelah ini, topeng mereka sebagai aktor dan aktris dalam drama tersebut dapat mereka lepaskan. Dan mereka dapat menjadi diri mereka yang asli diluar naskah itu.

Babak 9
          Risa tengah berada dalam kamarnya ketika kedua orang tuanya bertengkar di ruang keluarga. Lioni menangis di tempat tidur Risa sembari memeluk bonekanya erat-erat.
Risa   :        (Memeluk Lioni)
“Dek, kamu jangan nangis lagi ya. Sebentar lagi semuanya akan selesai. Kakak janji sama kamu. Kak Risa akan terus nemenin Lioni. Jadi Lioni jangan sedih lagi ya sayang.”
(Menyeka air mata Lioni)
Lioni   :        “Lioni takut kak. Kenapa sih papa sama mama teriak-teriak terus?
Teriakan mama sama papa kan kak, yang buat Kak Mario pergi? Lioni takut Kak Risa juga ninggalin Lioni kaya Kak Mario.”
Risa   :        “Ngga Lioni. Kak Risa janji sama Lioni. Kakak akan terus sama Lioni.
Sekarang biar Lioni ga denger suara papa mama. Lioni tidur aja ya, sayang. Kak Risa temenin disini.”
Lioni   :        “Ia kak. Tapi kakak jangan kemana-mana ya.”
Risa   :        “Ia Lioni. Kakak akan disini sampai Lioni bangun.”

          Adegan demi adegan dalam babak itu berhasil dilakukan Valeri sebagai Risa dan Maria sebagai Lioni. Hingga adegan terakhir yang mewajibkan tokoh Risa untuk meninggal. Inilah adegan yang ditunggu-tunggu semua penonton, tak terkecuali Bu Gina.

          Di dalam naskah, setelah Lioni tertidur, Risa beranjak dari tempat tidur ke meja belajarnya. Di meja itu ia menangis, meratapi hidup keluarganya sembari menuliskan keluh kesahnya di dalam sebuah memo. Ketika Risa tengah menulis, darah mengalir dari hidungnya. Penyakit kanker otak yang selama ini ia sembunyikan dari seluruh keluarga dan teman-temannya, semakin parah. Dan ketika ia ingin meraih obatnya yang ada di laci meja disamping tempat tidur, ia meninggal tanpa sempat menyentuh obatnya.

          Itulah yang tengah dilakukan Valeri sebagai tokoh Risa. Ia berjalan dari tempat tidur menuju meja belajar. Wajahnya pucat pasi. Tak ada seorang penontonpun yang menyadari raut wajah Valeri yang berubah.

Semua penonton, bahkan Bu Gina, terkesima melihat kelihaian Valeri memainkan adegannya. Termasuk saat Valeri memainkan adegan tokoh Risa yang merasakan kesakitan. Saat dimana Valeri harus terjatuh dari kursi, merangkak menuju meja tempat obat, dan meninggal di lantai yang dingin tanpa sempat menyentuh obatnya.

Tak ada yang menyadari bahwa rasa sakit yang diperlihatkan Valeri bukanlah acting. Semua orang baru menyadari ada yang tidak beres ketika narator membacakan narasi babak terakhir dan Valeri tak kunjung bangkit. Ia masih dalam keadaan berbaring di lantai. Remon mendekati Valeri, berusaha membangunkannya.

“Lucas, Valeri udah ga bernafas.” Ujar remon kepada Lucas.

Semua penonton menjadi ricuh. Mereka tak menyangka bahwa drama ini tidak hanya telah mematikan satu tokoh, tapi dua. Ia mematikan tokoh Risa sekaligus yang memerankannya. Semua menangis dan hendak membawa Valeri ke rumah sakit.

“Tunggu! Kami minta maaf, tapi kami mohon semua tetap ditempat!” Teriak Lucas kepada penonton.

“Apa yang kamu lakukan Lucas. Kamu tidak lihat bahwa Valeri membutuhkan dokter segera!” Bentak Bu Gina pada Lucas.

“Percuma, Bu. Valeri udah ngga ada. Dan kami berempat sudah berjanji pada Valeri. Apapun yang terjadi saat pementasan drama ini, kami harus tetap melanjutkannya hingga selesai. Ini permohonan Valeri pada kami. Jadi kami mohon ibu kembali menontonnya hingga selesai.” Ujar Cindy sembari menahan tangis.

Bu Gina kembali ke tempat duduknya sembari menangis. Ramon dan Lucas menggotong tubuh Valeri dan mendudukkannya di kursi penonton. Ramon, Lucas, Maria, dan Cindy tetap melanjutkan babak terakhir sesuai permohonan Valeri.

Setelah drama itu selesai. Segenap siswa dan juga Bu Gina berhambur memeluk tubuh Valeri. Mereka semua menangis. Ada beberapa dari mereka yang memanggil-manggil nama Valeri. Sedang beberapa lainnya, tengah berdoa untuk Valeri.
***
Delapan bulan sebelumnya…

          “Dokter, sebenarnya saya sakit apa. Saya sering kali mimisan, kepala saya sering sakit, dan rambut saya banyak yang rontok dokter.” Tanya Valeri pada dokter Arya.

          “Maaf, tapi apa kamu datang kesini dengan orang tua kamu, Val?” Tanya dokter Arya.

          “Ngga dok. Saya udah cukup umur kok untuk memeriksakan diri ke rumah sakit sendirian. Saya mau dokter Arya jujur, saya sakit apa dok?”

          “Maaf, Valeri. Menurut hasil pemeriksaan, kamu mengidap kanker otak stadium lanjut.”

          “Kanker, dokter? Apa masih bisa disembuhkan?”

         “Peluangnya sangat kecil Valeri. Kanker ini sudah menjalar. Tapi walaupun begitu, masih ada harapan bagi kamu untuk sembuh. Saya akan menemui orang tuamu untuk membicarakan mengenai pengobatannya.”

       “Ngga dokter. Saya mohon dokter jangan mengatakan apapun pada keluarga saya.”

          “Tapi saya dokter pribadi keluarga kalian, Val. Saya haris menyampaikan ini.”

          “Saya mohon dokter, tolong rahasiakan ini semua dari siapapun. Saya mohon.”

          “Baik Valeri kalau itu maumu. Tapi kamu harus janji, jangan berfikir terlalu keras. Karena akan berdampak pada kondisimu.”

          “Baik dokter. Saya janji. Makasih banyak dokter. Saya permisi.” Ujar Valeri seraya berjabat tangan dengan dokter Arya.

          “Sama-sama, Valeri.”

          Selama beberapa bulan Valeri berhasil menutupi penyakitnya dari semua orang. Hingga tiga bulan sebelum pementasan drama itu, ternyata penyakit Valeri semakin parah. Ia semakin sering mimisan dan semakin hari kepalanya terasa semakin sakit. Valeri menjadi takut tidur, ia takut jika ia tertidur maka ia tak akan mampu membuka matanya lagi. Orang tuanya begitu sibuk bekerja, dan kakaknya tengah ngekos karena kuliah, sehingga tak ada yang tahu bahwa Valeri tengah berjuang melawan maut.

          Pada suatu malam, ketika Valeri bersama kedua orang tuanya tengah berkumpul di ruang keluarga. Valeri merasakan hal yang aneh. Ia merasa bahwa dirinya akan segera lenyap bersama angin.

          “Mama, Val mau minta sesuatu.” Ujar Valeri kepada mamanya.

       “Apa itu?” Mamanya bingung, karena tak biasanya putri bungsunya meminta sesuatu darinya.

         “Kalau nanti terjadi sesuatu sama Val yang buat Valeri ga bisa masuk kedokteran. Uang kuliah Valeri mama kasih ke Remon aja ya ma. Kasian Remon, dia mau masuk kedokteran tapi ga punya biaya. Seenggaknya kalau Valeri ga bisa jadi dokter, ada yang bisa gantiin Valeri buat nerusin cita-cita Valeri.” Ujar Valeri menunduk.

          “Kamu tuh ngomong apa si? Kamu pasti masuk kedokteran kok. Lagipula kalau ternyata kamu ga masuk kedokteran, ya uangnya mama pake buat kuliah kamu yang lain.” Ujar mamanya semakin bingung akan perkataan putrinya.

          “Maksud Valeri bukan gitu, Ma. Ya pokoknya Val minta mama nanti tolong alihin uang buat Val ke Remon ya. Kalau nanti misalnya terjadi sesuatu sama Val.”

          “Ah udah ah, kamu tu kenapa sih? Jadi ngelantur gini ngomongnya.”

          “Valeri ngga kenapa-kenapa kok ma. Valeri baik-baik aja.” Ujar Valeri melempar senyum pada mamanya. Senyum yang semakin membuat bingung mamanya.

        Dan ternyata semua perkataannya terbukti. Valeri tak akan pernah mampu menjadi seorang dokter seperti keinginannya. Waktunya telah berakhir bersamaan dengan berakhirnya drama terakhir yang ia tulis. Kesedihan menyelimuti semua orang yang mengenalnya. Terlebih keluarganya, mereka merasa berdosa karena kesibukan membuat mereka tak mengetahui bahwa putri mereka tengah menderitanya penyakit mematikan. Mereka baru mengetahui penyakit Valeri, setelah Valeri meninggal, lewat memo yang selalu di tulis Valeri.

20 Oktober 2013
         
Hari ini aku menemui dokter lagi. Memastikan apa penyakitku sebenarnya. Dan jawaban dokter membuatku diam. Aku menderita penyakit kanker otak stadium lanjut, Tuhan. Itu artinya waktuku tak lama lagi. Mungkin aku tak akan sempat menjadi seorang dokter seperti keinginanku dan kedua orang tuaku. Dan mungkin aku tak akan sempat membangun panti asuhan yang telah menjadi impianku sedari kecil. Tapi tak apa. Aku hanya mohon padamu, tolong selalu lindungi keluargaku, dan tolong bantu Remon untuk menjadi seorang dokter. Setidaknya untuk menggantikan aku, Tuhan.

***



Dua puluh tahun setelah Valeri meninggal..

          Remon, Lucas, Maria, dan Cindy berkunjung ke makam Valeri. Setelah Valeri meninggal, orang tua Valeri mengalihkan semua uang yang seharusnya untuk biaya kuliah Valeri ke Remon. Dan akhirnya Remon bisa menjadi dokter seperti keingginannya dari dulu.

          “Valeri, kamu masih inget kita ngga? Aku Maria, ini Lucas, Remon, sama Cindy. Kita tim drama terakhir kamu Val.” Ujar Maria.

          “Kita kangen kamu Val. Udah dua puluh tahun kamu ninggalin kita. Padahal dulu, kita pernah bilang kalau kita sukses, kita akan ngumpul bareng lagi.” Ujar Cindy.
        
       “Guys, Valeri ada disini. Dia lagi ngeliatin kita sambil senyum. Dia masih pakai seragam SMA. Sepertinya, di masih hidup di masa lampau.” Ujar Lucas.

“Valeri, dimanapun kamu, kita mau bilang kalau kita kangen kamu. Dan aku kesini juga untuk berterima kasih. Orang tua kamu ngebantu biaya kuliah aku. Katanya, kamu mau aku gantiin kamu jadi dokter. Dan sekarang aku udah jadi dokter. Aku juga udah bangun panti asuhan yang kamu mau. Makasih banyak ya Val.” Ujar Remon.

“Valeri bilang dia juga kangen kita. Dan dia ngucapin terima kasih karena Remon udah mau bangun panti asuhan kaya yang dia mau. Dia juga juga ngucapin selamat tinggal. Karena sekarang dia bisa pergi dengan tenang, setelah liat semua orang tersayangnya berhasil.” Ujar Lucas.

“Sampai ketemu lagi ya, Val. Tunggu kita disana.”  Ujar Maria seraya menangis.

“Dia udah pergi, dia udah tenang sekarang.” Ujar Lucas.

“Syukurlah kalau dia udah tenang. Eh iya, ngomong-ngomong dari kapan kamu bisa lihat kaya gitu Luc?” Tanya Cindy. Sembari mereka berempat meninggalkan area pemakaman.

“Udah dari lama. Valeri tau kok kalau aku bisa liat hal kaya gitu. Dan waktu Valeri meninggal, aku ngeliat ruh nya ada di pojokan kelas, ngeliatin kita. Itu kenapa aku langsung minta yang lain kembali duduk. Karena aku tahu, Valeri tetap di kelas karena mau lihat pertunjukannya selesai.” Jawab Lucas.

‘Val, kamu sahabat aku. Ga sampai setahun aku kenal kamu dan kamu udah begitu baik sama aku. Kamu bantu aku wujudin cita-cita aku. Makasih banyak Val. Semoga Tuhan nempatin kamu di tempat yang paling indah.’ Pikir Remon.

“Kamu juga udah bantu aku wujudin keinginan aku untuk bangun panti Remon. Makasih ya.” Ujar Valeri bersama dengan angin yang berhembus.

Remon menoleh ke arah datangnya suara, namun tak ada siapapun. Ia hanya tersenyum melihat makam Valeri dan segera berjalan mengejar ketiga temannya.


**TAMAT**

I'm Trying



          Kamu, ya kamu. Sosok yang menurutku begitu sempurna. Tetap ada kekurangan, namun itulah menyempurnakanmu.

          Diam, kata itu yang menjadi landasan berpikirmu mengenai kasih. Mengasihi dalam diam. Dan mencintai dalam diam. Entah dapat kekuatan dari mana untuk bertahan dengan prinsip itu. Tapi kamu mencoba, selalu mencoba. Satu hal yang membuatku salut.

          Mencintaimu, berarti aku harus mencocokkan prinsip yang ku miliki dengan prinsip yang kau miliki. Prinsip yang jelas sekali kontras. Prinsip yang saling bertolak belakang. Aku, hanya seseorang yang berusaha memendam asa pada gadis sepertimu. Ya, memendam, bukan mencoba mengasihi dalam diam seperti yang kau lakukan.

          Perlahan lahan, sedikit demi sedikit, lagi dan lagi. Asa itu ku pupuk sedemikian rutin. Kini aku hidup dalam dua sisi. Berdamai dengan asa ku untuk memilikimu dan menahan batin yang dilanda gemuruh rasa takut. Takut ini bagai ombak, bukan hanya karena satu alasan. Aku takut, takut tak bisa menahan semua asa ku terhadap mu, takut melukai mu, terlebih aku takut tak mampu memiliki mu.

          Ingin ku ucapkan, dengan segala kejujuran yang telah ku kubur selama ini, bahwa aku mencintaimu. Tapi bibir ini begitu sulit mengucapkannya. Lidah ini kelu setiap ingin memulai mengatakannya. Dan kata-kata itu kembali tertelan bersama ludah dan kegelisahan. Kembali tembok itu memisahkan aku dan kamu. Ya, tembok rasa takut yang ku ciptakan sendiri. Tembok yang tercipta dari persekongkolan, antara batin yang gelisah dan benak yang kalut.
***

          Hari ini, mulai pagi ini, seperti biasa, hanya mataku yang mampu berkata. Andaikan sikap diam mu tak membunuh kepekaan mu. Mungkin saat ini kau akan menoleh padaku, menatap lurus terhadapku, dan membaca semua gambaran dari sorot mataku. Dan ku harap setelah itu, kau akan tersenyum padaku.

          Semuanya tak tertahankan. Asa ini, rasa sayang ini, semakin mencapai batasnya. Semua itu tinggal menunggu waktu untuk menyeruak ke permukaan. Aku merasakannya, jelas merasakannya. Karena aku yang selama ini selalu menimba asa dan rasa sayang itu.

          “Aku menyukaimu, sangat menyukaimu. Kau berbeda dari mereka. Entah mengapa, bagiku hanya ada satu yang sepertimu. Yaitu dirimu sendiri. Tak ada jenis gadis lain, yang mampu menyamai posisimu di mataku saat ini. Atau, mungkin selamanya, selama kita masih bertemu.”

          Mataku melirik ke arahnya. Ke arah seorang gadis yang tengah tersenyum bersenda gurau. Bagiku dia begitu lugu, jelas lebih lugu dariku mengenai masalah cinta. Ia murni, satu hal lain yang membuatku takut untuk mengutarakan perasaanku padanya.

          “Mengapa? Mengapa kamu harus begitu berbeda dari perempuan lain? Mengapa aku harus merasa bahwa kamu istimewa? Entah apa yang telah kau lakukan, atau sihir apa yang tengah ku percikan pada diriku sendiri. Kau selalu mapu membuatku tenang. Entah, mungkin untuk saat ini, perbedaan antara tenang dan gelisah semakin terasa tipis. Senyum mu, gelak tawa mu, bahkan keheningan mu mampu membuatku terpaku. Ah, mengapa aku harus jatuh dalam cengkraman kasih seperti ini. Kasih yang membuatku selalu merasa takut.”

          Tak ada lagi yang namanya fokus pada satu. Kalau pikiranku mampu diproyeksi, mungkin bukan hanya di sumbu x dan y. Namun pikiranku telah merambah kemana-mana. Mungkin kalau pikiranku dapat dilukis, kalian akan melihat pikiranku terlukis dalam bentuk akar, yang merambah kesetiap celah bebatuan. Ya, itu lah pikiranku. Tak mampu fokus pada satu hal. Bahkan, gadis itu telah mampu memecah benakku menjadi beberapa cabang.

          Entah mengapa aku harus bertemu dengannya. Disaat dimana aku seharusnya memikirkan pendidikan, yang akan membawaku ke masa depanku. Tapi aku yakin, Tuhan memiliki rencana tersendiri dengan mempertemukan aku dengannya. Mungkin dia akan menjadi semangat tambahanku, ya mungkin. Atau mungkin, Tuhan ingin aku berkenalan dengan jodohku, yang ini juga mungkin, dan semoga saja yang ini benar.

          Pendidikan, gadis itu, serta cita-citaku. Ah! Semua hanya memperkeruh benakku. Ingin aku melepas penat dengan melepaskan semua pikiran itu. Namun sia-sia. Mereka saling terkait satu sama lain. Biar ku perjelas pada kalian semua. Apabila pendidikanku sekarang lancar, nilaiku bagus, kemungkinan besar aku akan meraih cita-citaku, impianku. Dan kemungkinan besar, lidah ini tak akan kelu lagi untuk mengatakan pada gadis itu, bahwa aku mencintainya. Karena aku bukan lagi anak sekolah yang masih bertopang hidup pada orang tua.

Satu-satunya hal yang mungkin dapat kubanggakan pada gadis itu kelak, yaitu aku bukan lagi anak yang ditopang oleh keluarga. Tapi aku adalah seorang pria yang akan mampu menopang hidup ku dan keluarga kecilku bersamanya. Tuhan, andai aku mampu mengatakan itu. Namun saat ini, aku masih bukan siapa-siapa. Langkahku masih jauh untuk mendapatkan semua angan itu, Tuhan. Namun aku tak ingin menyerah. Tolong bantu aku, Tuhan. Bantu aku membangun langkahku tanpa harus membunuh asa ku pada gadis itu.
***

          Setelah sekian lama, akhirnya aku mampu mengatakan perasaanku padanya. Setelah terkumpul sekian lama. Mungkin bukit telletubies pun kalah tinggi dengan bukit asa yang ku ciptakan. Memang tidak langsung ku katakan. Namun aku mengisahkan perasaanku dalam bentuk tulisan singkat. Tulisan yang kalian sebut dengan chat.

          Aku tak mengatakan langsung bukan karena aku seorang pengecut. Dan bukan juga karena aku takut ditolak. Aku tak mengatakan langsung, karena aku tak tahu ekspresi apa yang akan ia torehkan begitu mendengarnya. Aku takut, kejujuranku membuatnya kurang nyaman. Dan tentunya aku tak ingin melihatnya merasa kurang nyama karena ku. Ya, lagi-lagi semua yang kulakukan dilandasi dengan rasa takut.

          Keputusan untuk mengatakan semuanya, juga dilandasi oleh ketakutan. Aku takut kehilangannya, dan aku takut tak mampu menerika sesak, jikalau aku tahu seseorang berhasil memenangkan hatinya. Semua asa yang ku tumpuk membuat aku merasa bahwa seharusnya ia miliku, entah kapan, tapi ia akan menjadi milikku.

Jawabannya membuatku tertegun, membuatku tergantung. Ia berkata bahwa ia suka pada ku karena kebaikanku. Entah apa maksudnya, apakah ia mencintaiku atau hanya sekedar mengagumi kebaikanku. Ah! Siapa yang tahu! Mungkin hanya dirinya dan Tuhan yang mengetahui apa makna kalimat itu.

Jawaban itu juga yang memancingku untuk melakukan tindakan yang lebih. Ya, lebih. Aku mulai belajar mencintai gadis itu dengan cara umum. Dengan prinsip umum yang berbeda dengan prinsipnya. Dan semua itu membuahkan hasil, kini terlihat jelas apakah gadis itu peduli padaku atau tidak. Kini aku merasa, bahwa gadis itu mencintaiku, bukan hanya sekedar mengagumiku. Ia mengatakannya padaku. Secara tersirat ia mengatakan perasaannya padaku, jawaban atas perasaanku padanya. Satu hal yang telah melanggar prinsipnya.

Kini aku bingung, aku ragu. Aku telah mengetahui bahwa ia memiliki rasa yang sama terhadapku. Tapi entah kenapa, aku justru merasa bahwa aku melakukan kesalahan fatal. Membuatnya melanggar prinsipnya, seolah aku laki-laki paling kejam yang pernah ia kenal. Mungkin, ia pernah mencintai laki-laki lain sebelum aku. Namun, hanya aku yang membuatnya melanggar prinsipnya.

Aku merasa bersalah. Seharusnya aku yang mengikuti prinsipnya, untuk mencintai dalam diam hingga waktu yang tepat. Bukan justru menariknya untuk mengikuti prinsip gadis lain pada umumnya. Menariknya perlahan, untuk menerobos batas prinsip yang ia jaga selama ini.

Setelah semua kejujurannya padaku, kini aku merasa ia berubah. Kini apa bedanya ia dengan gadis pada umumnya? Hal yang istimewa darinya, hal yang selalu membuatku salut terhadapnya, telah hilang. Dan justru aku yang membuatnya menghilangkan keistimewaannya. Bodoh! Aku memang bodoh! Seharusnya aku berfikir dahulu apa resiko dari tindakanku. Asa untuk bersamanya, telah membuatku melakukan kesalahan.

“Tuhan, aku mohon, dan aku berharap agar aku mampu memperbaiki kesalahanku. Bantu gadis itu untuk kembali kepada jati dirinya semula, Tuhan. Hamba mohon. Bantu ia kembali, menjadi gadis istimewa hamba.”

Aku benar-benar berharap semua kesalahanku dapat ku perbaiki. Perlahan aku mulai menjaga jarak darinya. Berharap dia segera lupa akan semua pengakuannya padaku. Berharap kami kembali menjadi teman akrab, tanpa rasa canggung. Dan tentunya, berharap ia kembali menjadi jati dirinya yang istimewa.

Tapi di sudut hatiku, aku tak mau ia melupakan semua pengakuanku. Aku ingin dia selalu ingat, bahwa ada seorang laki-laki yang begitu mencintainya disini, yaitu aku. Aku ingin dia selalu mencintaiku, hingga nanti aku mampu memilikinya.

          “Nggak!!! Itu egois!!”

          Aku tak bisa dan tak boleh menyiksanya perlahan seperti itu. Haknya untuk mencintai laki-laki lain. Aku hanya boleh berusaha untuk merebut hatinya, dan mendapatkannya suatu saat nanti. Bukan mengekang perasaannya agar tetap menjadi milikku.

Aku yakin, jika memang Tuhan mempertemukan aku dengannya, karena ia adalah jodohku kelak, maka Tuhan akan memudahkan kami untuk bersatu kembali. Tapi jika tidak, aku berharap Tuhan menyertakan pasangan yang baik untuk menjaganya. Sehingga aku dapat dengan tenang melepasnya, agar ia mendapat kebahagiaannya. Aku hanya memohon, agar Tuhan memberikan aku kelapangan hati. Dan aku yakin, Tuhan akan menyampaikan kebahagiaan padaku, ketika Ia tahu, aku telah mampu menghargai kebahagiaan itu.

Kini aku berusaha untuk melepaskannya. Membiarkan ia bebas menjadi dirinya, yang dahulu sempat terhapus karena ulahku. Membiarkan ia kembali dengan keheningannya, dengan senyum derta tawanya. Sedang aku, aku akan menjadi dia. Mengaguminya dalam diam, hingga waktu yang tepat. Hingga aku merasa cukup mampu untuk membahagiakannya, tanpa harus membuatnya melanggar prinsip apapun yang ia miliki.

Aku yakin, kalau niatku tulus untuk membahagiakannya. Tuhan akan mendengar semuanya, dan Tuhan akan selalu menjaga gadis tercintaku dalam dekapannya. Menjaga agar gadis itu tak merasa kesepian, dan tak merasakan kekecewaan. Dan aku terus berharap, semoga aku yang akan menjadi pelengkap kebahagiaannya kelak. Tapi untuk saat ini, aku harus fokus pada dua hal, pendidikanku dan impianku. Bukan berarti aku menghapus gadis itu dari benakku. Aku hanya mengurangi kadar benakku untuknya. Karena ketika pendidikan dan impian telah ku raih, aku dapat mencurahkan semua pikiran dan waktuku hanya untuknya. Gadis impianku.


**Tamat**


Written by : Salma Dhilla
Picture by : Maiya  Azyza

Ketika Cinta bertemu Perbedaan


Menunggu adalah hal yang paling ku benci. Entah menunggu dambatan hati, menunggu mendapat pekerjaan, bagiku semua sama saja. Semua tetap membosankan. Seperti hari ini, jenuh terus menggelayuti tubuhku. Statusku yang hanya pegawai honorer di sebuah perusahaan swasta membuatku ingin mencari pekerjaan lain. Selesai melamar pekerjaan kesana-sini, kini tugasku hanya menunggu panggilan interview. Bahkan saat malam temaram seperti sekarang, aku tetap harus menunggu, menunggu hujan yang tak kunjung reda. Huh, semakin membuatku jenuh.
         Halte tempat ku berdiri sekarang, sepi. Hanya musik yang mengalun di telingaku yang membuatnya tak terlalu terasa sepi. Mungkin karena hujan nakal yang terus bermain semenjak sore. Disebelah kiriku, ada seorang ibu yang asik melihat isi dompetnya. Bahkan, ku rasa ia tak tahu ada penghuni lain di halte ini selain dia, ya aku tentunya.
‘Apa ada yang mau meloncat keluar dari dalam dompet itu sampai ia harus terus memandanginya? Dasar ibu-ibu.’ Pikirku, menciptakan senyum mengejek di wajahku.
‘Wussshh’
Angin kencang berhembus dari arah belakangku. Angin yang sama yang baru saja menghempaskan dompet ibu disebelahku ke jalan, basah kuyup. Ibu itu terbelalak melihat dompetnya terlempar. Sejurus kemudian, raut wajahnya berubah panik. Aku yakin dia bingung apa dia harus menerjang hujan untuk mengambil dompet itu atau tidak. Ku pilih untuk diam, memperbesar volume musik ku. Lagi pula, salahnya sendiri, tak memegang dompetnya dengan kencang.
Kepanikan itu tak berangsur lama. Seseorang gadis berpayung biru memungut dompet itu dan memberikannya.
‘Siapa dia? Kenapa peduli banget sama ibu ini?’ Pikirku.
Aku sempat melihat wajahnya, sekilas. Sepertinya aku mengenalnya, aku cukup kenal wajah itu, tapi siapa? Rentetan pertanyaan itu buyar ketika gadis itu menghilang bersama bis yang dinaikinya.
***
         Hari ini, tak jauh berbeda dari hari kemarin. Masih dengan rutinitas yang sama, ke kantor, lalu mencari dan melamar pekerjaan. Entah mengapa lulusan S1 zaman sekarang seolah seperti lulusan SD, tak berharga. Kurang lebih, itulah yang aku rasakan.
     Hari ini, aku melewati rute yang selalu aku lewati ketika aku ingin melamar pekerjaan. Namun, pemandangan kali ini berbeda.
‘Gadis itu, ya gadis itu adalah gadis yang menolong ibu itu, gadis yang bertemu denganku di halte semalam. Sedang apa dia disini? Di TK? Apa dia sudah memiliki anak yang bersekolah di TK?’ Rentetan kalimat itu memenuhi benakku. Namun, tanpa perlu berspekulasi. Semua pertanyaan itu langsung terjawab.
“Bu guru, kakiku berdarah.” Kata seorang gadis kecil kepadanya.
“Tadi kamu jatuh, Rina? Ya udah, sekarang kamu duduk dulu disini ya, ibu ambilin obat.” Kata gadis itu seraya mendudukkan gadis kecil yang bernama Rina itu di ayunan.
Beberapa menit kemudian, gadis itu kembali dengan membawa kotak P3K. Bersimpuh tepat di hadapan Rina. Dengan hati-hati, ia membersihkan luka Rina dan menempelkan plester. Tak sedikitpun ku lihat rona kesakitan dari wajah Rina. Sebegitu haluskah gadis ini menangani anak-anak?
Tanpa kusadari, gadis itu memandang ke arahku, tersenyum. Gugup, ku tengok belakangku, tak ada siapapun. Apa ia tersenyum padaku? Ku beranikan diri memandangnya sekali lagi, dan ia membalas dengan tersenyum. Kali ini, ku balas senyumannya karena aku yakin, senyum itu tertuju untukku.
Ia bangkit dari simpuhnya, berjalan. Dan, ia menghampiriku. Aku gugup bercampur malu. Aku hanya berharap ia tak menyadari, kalau aku lah cowo cuek yang hanya terpaku melihat dompet seorang ibu terhempas ke jalan tadi malam.
“Maaf, ada yang bisa saya bantu. Saya perhatikan dari tadi Anda melihat ke arah taman bermain, apa Anda mencari sesuatu?” Sapanya membuka pembicaraan.
“Oh, ngga. Ngga ada. Saya sedang mencari TK yang dekat dengan rumah untuk keponakan saya. Kebetulan saya lihat ibu begitu halus memperlakukan anak-anak.” Jawabku memutar otak. Entah apa yang baru saja ku katakan, karena aku tidak memiliki keponakan satupun.
“Kalau begitu TK ini bisa Anda jadikan referensi. Oh iya, perkenalkan saya Dira. Saya guru disini.” Ucappnya menyodorkan tangannya.
‘Yes akhirnya aku mendapatkan namanya.’ Pikirku
“Saya Riki. Ya saya rasa, tempat ini referensi yang bagus untuk keponakan saya.” Aku menjabat tangannya.
‘Kriiiingggg!!!’ Suara bel menandkan perpisahan ku dengan Dira.
“Maaf, saya harus mengajar lagi. Saya permisi.” Ujarnya berjalan ke arah taman bermain dan menjemput murid-muridnya untuk kembali ke dalam kelas.
Aku hanya dapat termangu, entah bagaimana tapi ia sangat bertolak belakang denganku. Aku yang begitu cuek, sedangkan ia yang begitu anggun, ramah serta periang. Bahkan anak-anak terlihat begitu menyayanginya.
Entah apa yang telah terjadi, aku yang bisanya tak peduli pada apa yang ada disekitarku, kini justru memikirkannya. Ia kuat menghadapi anak-anak yang menurutku rewel dan manja, bahkan ia memperlakukan mereka dengan sangat halus. Gadis ini, Dira, ia istimewa.
***
     Pagi ini, aku berniat menemui Dira. Setelah semua persiapanku selesai, aku bergegas ke TK itu lagi, TK Mutiara. Tempat dimana aku bisa bertemu gadis istimewa itu lagi.
       Di depan TK itu, suasana begitu ceria. Anak-anak berlari memasuki TK mereka. Ada yang diantar oleh ibu mereka, dan ada pula yang terlihat berlari-lari kecil sendirian. Hingga bel mulai bordering dan jalan di depan TK Mutiara mulai menyepi. Aku menunduk, gagal sudah rencanaku bertemu Dira. Namun, aku bertekad akan kembali saat jam makan siang. Saat dimana biasanya aku melamar pekerjaan baru. Aku baru saja ingin melangkah pergi ketika sesuatu terjadi.
     Aku berlari, bergegas, begitu melihat ada seorang gadis kecil yang jatuh tak sadarkan diri di depan gerbang. Gadis itu terlihat pucat pasi, aku segera menggendongnya. Menyeruak masuk ke dalam TK, panik.
       “Bu Dira! Bu Dira!” Aku berteriak memanggil namanya. Hanya ia yang ku tahu saat ini.
      Dira muncul dari dalam suatu kelas dan menghampiriku. Wajahnya terlihat kalut, sama denganku.
        “Ada apa? Vica kenapa?” Tanyanya panik.
        “Saya tidak tahu, Bu. Tiba-tiba dia pingsan di depan.”
        “Bantu saya bawa dia ke ruang UKS.” Ia mengarahkan ku ke ruang UKS.
      Aku membaringkan gadis kecil bernama Vica itu di kasur UKS. Ia terlihat sangat lemah. Dira terlihat sedang menelfon, aku yakin dia sedang menelfon dokter.
        “Dokternya sedang dalam perjalanan.” Ujarnya padaku.
      “Maaf sebelumnya membuat Anda panik. Saya tidak tahu lagi harus berbuat apa, tadi.” Ujarku menunduk.
       “Tidak apa-apa. Keputusan Anda tepat memanggil saya. Vica memang sering jatuh pingsan. Kata dokter, ia anemia.”
     “Itu menjelaskan semuanya, mengapa tadi dia bisa pingsan. Maaf, saya ga bisa berlama-lama. Saya harus kembali ke kantor."
       “Terima kasih, maaf merepotkan, Pak Riki. Mari saya antar.” Seraya tersenyum dan mengantarkanku ke gerbang.
      “Tidak masalah. Saya takut terjadi apa-apa padanya. Bisa minta satu hal, tolong jangan panggil saya Pak. Saya rasa, saya belum cukup tua untuk panggilan itu.”
      “Maaf Pak Riki, hmm maksud saya Riki. Anda boleh memanggil saya Dira kalau begitu. Kalau begitu, saya kembali ke dalam dulu Riki.” Ujarnya meninggalkanku setiba aku di gerbang.
        Sejenak aku menoleh ke belakang. Menatap kepergiannya. Lalu aku melangkahkan kakiku pergi, kembali ke rutinitasku yang menjemukan. Tapi, sejenak aku berpikir, sejak bertemu dengannya, aku dan duniaku berubah. Entah bagaimana, tapi ada yang menggerakkan hatiku untuk menolong gadis kecil tadi. Mungkin semenjak bertemu dengannya, rasa cuek ini berangsur-angsur menghilang. Ia juga secara ajaib mampu membuatku semakin ingin tahu tentang Dira. Aku ingin tahu seluruh seluk-beluk kehidupan yang membuatnya selalu ceria.
***
       Semenjak saat itu, aku semakin sering menyambanginya. Tentunya, dengan alasan kakakku yang belum percaya akan referensi TK untuk keponakanku. Bahkan, aku memberanikan diri untuk meminta nomer telfonnya, dengan alasan kakakku yang memintanya. Sesekali, aku juga mengajaknya makan siang bersama. Semakin lama, kami semakin akrab. Kata saya-anda juga telah berganti menjadi kata aku-kamu. Ya, layaknya kawan lama.
     Aku pun tahu, mengapa setiap hari ia begitu ceria. Ternyata, menjadi guru TK adalah cita-citanya sejak kecil. Ia begitu menyukai anak-anak, karena menurutnya anak-anak begitu polos dan tak menanggung beban apapun. Cara berpikirnya, membuatku semakin kagum terhadapnya.
      Setiap malam, aku hanya sanggup memandangi layar ponselku. Membaca huruf yang berderet membentuk nama Dira, dan nomer yang begitu membuatku terbuai untuk menelfonnya. Selama ini, caraku bertemu dengannya hanya pada saat aku mengunjungi TK Mutiara. Walaupun aku punya nomer ponselnya, namun aku tidak pernah berani menghubunginya.
         ‘Dira, besok ketemuan di Red Rose Cafe jam 8 malam, bisa ga?’
       Akhirnya SMS ku terkirim. Satu menit, dua menit, lima menit. Namun ia tak kunjung menjawab SMS ku. Membuatku berpikir bahwa dia akan menolak ajakanku. Membuat ku gelisah, dan jantungku, semakin berdegub.
       ‘Ok ;)’ Balasnya yang segera muncul dengan menu top up di layar ponsel ku.
      Aku bersorak, melompat kesana-kemari. Baru kali itu aku begitu bahagia setelah sekian lama aku berkutat pada dunia heningku sendiri.
***
       Hari itu, hari dimana aku akan bertemu dengan Dira di Red Rose Cafe. Ku kerahkan seluruh mentalku. Aku berharap, kali ini aku tidak akan gagap atau tiba-tiba terdiam karena tak tahu apa yang harus kami bicarakan.
       Dira terlihat melangkah masuk, melambaikan tangannya padaku. Ia segera duduk di kursi di hadapanku. Tak lepas mataku menatapnya, ia terlihat semakin anggun saat itu.
        “Kamu kurang tidur ya? Ada kantung matanya.” Ujarku tersenyum.
        “Ihhh, kantung maata bukan karena kurang tidur tau.” Ujarnya sambil bercermin.
        “Iya tau, biasanya kalau orang kurang tidur tu ada kantung matanya.”
       “Ihh orang bukan juga. Mata aku emang begini, dan juga kena sinar matahari terus makanya jadi ada kantung matanya.” Ujarnya mengeyel.
       “Ya udah - ya udah, mungkin kamu yang bener. Kamu mau mesen apa?”
       “Sama kaya kamu aja.”
      Kami menyantap makanan sambil berbincang. Sesekali kami membicarakan tentang anak-anak didik Dira.
     “Dira, sebelumnya maaf. Keponakan aku ngga jadi masuk sekolah kamu. Dia di daftarin di TK deket rumah papa. Biar kalau pulang, bisa langsung ke rumah kakeknya.”
       “Iya, ngga papa kok. Oh iya, aku mau nanya deh, kamu sering kan kerja di depan layar komputer?” Tanya Dira.
        “Ya, emang kenapa?” Tanyaku sembari melahap makanan yang terhidang.
     “Nah kelamaan depan layar computer juga bisa buat kantung mata tau, mata merah, dan mata juga bisa jadi minus.” Ujarnya panjang lebar.
       “Ah kayaknya aku ngga gitu. Aku ngga ada kantung matanya kok. Dan mata aku sehat-sehat aja.” Ujarku mengeyel.
         “Ih kamu kok ngeyel si. Seriusan tau, liat aja nanti pasti ada kantung matanya.”
         “Aku kan cukup istirahat, lagipula kalau ga gitu, aku mau kerja gimana lagi?”
       Dira hanya terdiam, aku tahu dia kecewa dengan jawabanku. Tapi itu yang aku tahu, dan itu yang aku rasakan. Aku hanya meyakinkan pendapatku. Dan menurutku itu tidak salah.
       Sepulang dari makan malam dengan Dira, aku berpikir. Ternyata bukan hanya dunia dan keceriannya yang berbeda denganku. Tapi, pola piker kami pun berbeda. Sejujurnya, bukan hanya kali ini kami bersitegang mengenai pendapat, kami juga pernah berbeda pendapat mengenai high heels, penggunaan kacamata, bahkan sampai makanan oseng kangkung. Entah mengapa, kali ini aku tidak seyakin dulu. Dulu aku begitu yakin kalau aku menyukainya. Dan ia dapat merubah hidupku menjadi lebih berwarna dan lebih ceria. Namun ternyata ia juga membuat pikiranku semakin rumit.
***
          “Hai Riki.”
          Aku membuka mata, melihat ada Dira disisiku.
          “Dira?” Aku bangun dan duduk di sampingnya.
          “Ya.” Ia tersenyum padaku.
          “Dira, aku, aku mau bilang sesuatu sama kamu.”
          “Apa?” Tanyanya.
          “Aku suka sama kamu. Kamu mau jadi pacar aku?” Ujarku.
       Dira bangkit dari tempat duduknya. Ia tersenyum, dan melangkah pergi tanpa memberikan sepatah katapun padaku. Aku mengikutinya, tapi ia menghilang.
          ‘Haaahhh!!!!’
          Aku terbangun dari tempat tidurku. Tadi itu hanya mimpi. Apa maksud mimpi itu? Apa itu artinya aku tak akan bisa bersamanya?Sepertinya benar, mimpi itu pertanda kalau aku bukan untuknya. Dan dia bukan untukku.
         Terlalu banyak perbedaan di antara kami. Bahkan, lebih banyak perbedaan yang membuat kami bersitegang, daripada perbedaan yang saling melengkapi. Sekarang saja, masalah kecil bisa menjadi besar, entah bagaimana nantinya.
        Aku memilih untuk mengurungkan niatku untuk menyatakan perasaanku. Aku rasa, lebih baik kami berteman untuk sementara ini. Mungkin seiring berjalannya waktu, semua akan lebih baik. Tak akan ada bersitegang lagi, jadi kami bisa bersatu. Atau mungkin, justru sebaliknya. Akan lebih banyak bermunculan perbedaan diantara kami yang menunjukkan bahwa kami tidak ditakdirkan untuk satu sama lain. Ya, semua tergantung waktu. Entah bagaimana kisah ini akan berlanjut.

                                                      **TAMAT**

By : Salma Dhilla