Hari
telah pagi. Mentari telah keluar dari peraduannya di ufuk timur. Ayam-ayam
telah sibuk memperdengarkan suaranya yang merdu. Burung-burung berkicau riang
kesana-kemari. Bunga-bunga bermekaran dan menerbangkan aromanya masing-masing.
Hiruk-pikuk telah meramaikan setiap sudut kota.
Ibu membuka jendela kamarku. Mataku
menyipit karena sinar matahari yang menyilaukan. Sambil mengumpulkan nyawa yang
masih terbang entah kemana, aku mencoba mencari jam wakerku. Jam 6 pagi. Dengan
malas, aku bangkit dan bergegas mandi.
Kini aku lebih segar. Aku merapikan
kamar dan segera berjalan ke ruang makan. Di ruang makan, seluruh keluargaku
telah berkumpul. Maklum, berkumpul saat sarapan dan makan malam merupakan salah
satu tradisi di keluarga kami.
Saat sarapan, ayah bertanya apa
cita-citaku. Aku hanya terdiam, tak tahu harus berkata apa. Aku memang telah
duduk di kelas 2 SMP. Namun hingga saat ini, aku tak tahu apa cita-citaku. Ayah
selalu bilang kalau cita-cita itu penting, karena cita-cita yang akan membuat
kita berjuang untuk meraih masa depan sesuai keinginan kita. Tapi, semua
kata-kata ayah justru membuatku semakin bingung akan apa cita-citaku. Aku hanya
menunduk bingung saat ayah menanyakan apa cita-citaku. Kak Citra dan kak Dimas
juga sering menertawakan aku saat aku bingung menjawab pertanyaan ayah yang
satu itu. Selesai makan, aku bergegas pergi ke mall bersama 2 sahabatku, Maya
dan Gita.
Tatapan Gita sangat aneh begitu
melihatku. Gita menerka-nerka akan apa yang aku rasakan.
“Kamu sedang kesal ya? Pasti ayahmu
bertanya tentang cita-citamu?”
Spontan mataku menatapnya tajam,
tapi sesaat kemudian akau mengangguk. Kami bertiga memang sangat dekat, jadi
aku tak pernah bisa merahasiakan apa yang aku rasakan pada mereka, terkecuali
masalah cinta. Selama kami hang out ,
aku merasa nyaman berada di antara mereka berdua. Mereka mampu membuatku
tertawa. Tidak seperti kedua kakakku yang selalu menertawakan aku.
Di restoran, aku melihat Radit. Mataku
langsung tertuju pada sosok tampan itu. Entah dia malaikat, atau jelmaan para
dewa. Sudah satu tahun belakangan ini, aku memendam perasaan padanya.
Tiba-tiba, ia menoleh pada kami bertiga. Tatapannya membiusku dan membuatku
termangu melihatnya. Maya dan Gita menertawakan aku, sekejap aku tersadar. Aku
malu pada mereka berdua, jadi aku memutuskan untuk mengajak mereka pulang.
Keluar dari mall, pipiku memerah.
Aku masih ingat saat Radit memandangku. Lamunanku sirna saat aku ingat Radit
tak hanya menoleh padaku, tapi pada kami bertiga.
Seseorang berteriak histeris yang membuat
kami bertiga menoleh padanya. Tangannya menunjuk ke arah sebuah mobil meluncur
di jalan menurun. Sang supir seperti tak mampu mengendalikan laju mobilnya. Aku
menatap ke arah jalan. Ada sebuah box yang berisi 2 ekor kucing kecil di tengah
jalan. Kucing itu bisa mati tertabrak. Aku berlari mengambil box itu. Hampir
saja mobil itu menabrak kami tapi mobil itu hanya menyenggol kakiku. Kami
terjatuh di jalur yang lain dari jalur mobil itu. Beruntungnya, jalur tempat
kami terjatuh kosong. Mobil itu baru berhenti
setelah menabrak sebuah pohon di pinggir jalan. Maya dan Gita berlari
kearahku. Aku berusaha mengatur nafasku yang tersengal-sengal karena berlari
tadi. Radit yang berada tak jauh dari tempat aku terjatuh segera berlari kearah
ku.
Mereka bingung dan menanyakan
keadaanku. Sang supir mengatakan kalau mobil itu remnya blong, ia merasa
bersalah dan memintaku untuk ikut dengannya ke rumah sakit. Aku menolak, aku
mengatakan kalau aku tidak apa-apa walaupun kakiku sedikit sakit karena
terserempet mobil tadi. Radit bingung kenapa aku berlari menerjang mobil. Aku
menjelaskan semuanya, tapi mereka tak percaya padaku. Aku melepaskan tanganku yang
menutup atap box itu dan 2 ekor kucing kecil keluar dari dalam box. Radit
bingung akan sikapku yang memilih mempertaruhkan nyawa hanya untuk kucing
kecil. Radit mencoba membuang semua pertanyaan itu dan memutuskan untuk
mengantarku pulang. Aku telah mencoba menolak, tapi Radit tidak menerima
penolakanku dan tetap mengantarku pulang.
“Hatchii..”
“Kamu kenapa Radit? Kamu sakit?”
“Nggak! Aku cuma alergi aja sama bulu
kucing!” Katanya malu.
“Oh, kalau gitu, sampai sini aja
nganternya. Aku bisa pulang sendiri kok!
Daripada kamu bersin terus!” Kataku tersenyum.
“Nggak! Aku mau nganterin kamu sampai
rumah!” Radit bersikeras ingin mengantarku pulang.
***
Aku meminta izin untuk memelihara
kucing itu. Awalnya ibuku menolak. Kucing itu di letakkan di luar rumah. Diam-diam
aku membeli makanan kucing di supermarket. Walaupun aku tidak boleh
memeliharanya, aku selalu bermain dengannya dan memberikannya makan. Dua hari
kucing itu telah bersamaku. Aku mulai menyukainya. Namun sayang, satu dari
mereka mati tertabrak mobil tepat saat aku pulang sekolah. Kini, aku lebih
berhati-hati pada seekor kucing lainnya. Tanpa sepengetahuan keluargaku, aku
telah memberinya kalung yang bertuliskan Lyu.
Minggu malam, turun hujan lebat. Aku
kasihan pada Lyu yang berada di luar. Aku
keluar rumah dan melihat Lyu. Lyu meringkuk kedinginan. Kardus tempat Lyu tidur
telah basah karena air hujan. Aku tak tega melihat Lyu kedinginan. Aku membawa Lyu
masuk ke dalam kamar tanpa meminta izin kepada orang tuaku. Aku memberikan Lyu
selimut. Saat aku ingin tidur, Lyu naik ke atas kasur dan terlelap di dekatku.
Aku tersenyum melihat Lyu yang tertidur lelap. Aku tertidur di dekat Lyu.
Senin pagi sebelum berangkat sekolah.
Lyu membangunkan aku dengan cara
menjilati telapak tanganku. Saat sarapan, ibu menanyakan kenapa Lyu bisa berada
di kamarku. Aku menjelaskan semuanya, dan aku sekaligus meminta izin pada ibu
untuk memelihara Lyu. Ibu mengizinkan aku memelihara Lyu. Aku meminta izin agar
Lyu bisa tidur di kamarku, karena aku kasihan jika dia harus tidur di luar. Aku
kira ibu akan marah, tapi ibu justru tersenyum dan mengizinkan Lyu tidur di
kamarku asalkan aku tidak lupa memberinya makan.
“Mey, memangnya kucing ini sudah
memiliki nama?” Tanya kan Dimas.
“Udah. Namanya Lyu!” Kataku
bersemangat.
“Namanya nggak bagus banget sih!
Ganti Zidan aja!”
“Yah, kak Dimas. Lyu itu betina!”
Kataku ketus.
“Ya udah Ziva aja!” Kata kak Citra
menyambar pembicaraan kami.
“Ini lagi! Sekali Lyu tetep Lyu!”
Jawabku sewot.
“Ya deh. Kamu udah beli makanan Lyu
belum?” Tanya ibu penasaran.
“Ya udah lah Bu. Ini, sampelnya!”
Mengangkat tempat makan Lyu.
“Miaww!”
“Ya sebentar Lyu. Ini makan yang
banyak.”
“Oh jadi kamu udah ngerencanain
ini?” Tanya ayah.
Aku hanya mengangguk. Aku sarapan
dengan perasaan bahagia. Lyu berada di dekat kakiku sambil memakan makanannya.
Saat aku berangkat sekolah, Lyu mengikutiku hingga gerbang rumah. Lyu seperti
ingin ikut denganku, namun aku tak mengizinkannya.
***
Bel istirahat berbunyi. Semua
teman-temanku bergegas ke kantin. Hanya tinggal aku, Gita, Maya, Radit dan
Nico. Saat aku ingin ke kantin, aku bingung mencari dompetku yang tidak ada di
dalam laci. Seingatku, aku membawa dompet itu saat aku membayar uang kas tadi,
jadi tidak mungkin aku tidak membawanya. Gita dan Maya membantu mencari
dompetku yang hilang. Radit dan Nico juga ikut membantu mencari dompetku di
lantai kelas, tapi tetap tidak ditemukan. Radit mencoba membantuku dengan cara
mentraktirku, tapi aku tidak mau. Aku menangis karena bingung. Radit membuka
tasnya untuk mengambil sapu tangan. Saat ia mengambil sapu tangan, ia melihat
ada dompet berwarna biru muda di dalam laci mejanya. Ia bertanya padaku apa itu
dompetku. Aku mengangguk senang. Saat ia
memberikannya padaku, tiba-tiba ia bersin. Apa mungkin Lyu yang meletakkan
dometku di laci meja Radit? Aku tidak peduli. Sebagai tanda terima kasihku pada
mereka, aku mentraktir mereka berempat.
Jam 12.30,
Saat bel pulang sekolah
Bel pulang sekolah berbunyi. Aku
membereskan alat-alat tulisku. Saat keluar kelas, seseorang memanggilku. Aku
menoleh, ternyata Radit yang memanggilku. Aku bingung karena dia belum pulang,
padahal teman-temannya yang lain sudah pulang.
“Kamu kok belum pulang?”
“Aku nunggu kamu. Kita pulang bareng
yuk Mey!” Dia menarik tanganku.
“Tapi aku..aku harus membeli makanan untuk Lyu!” Kataku
menghentikan
langkah dan memberi alasan agar dia tidak mengantarku pulang.
“Siapa Lyu? Adek kamu? Atau pacar
kamu?”Tanyanya penasaran menatapku.
“Lyu itu kucing yang waktu itu aku
tolong.” Kataku memberi penjelasan.
“Kalau gitu aku anter kamu ke
supermarket. Aku juga mau deket sama Lyu.
Ya walaupun dia bikin aku alergi. Yuk!”
Aku tak bisa menolaknya lagi. Aku
justru termakan alasanku sendiri. Walaupun aku menolak ia antar pulang,
sesungguhnya hatiku senang sekali. Dia mengantarku ke supermarket.
Supermarket itu sepertinya penuh.
Aku meminta Radit untuk meninggalkanku saja. Radit tidak mau, ia bersikeras
ingin menungguku. Aku mengingatkannya agar dia tidak memaksakan diri.
“Kalau kamu lelah, kamu pulang aja
ya!” Radit mengangguk.
Aku bingung di mana letak makanan Lyu.
Aku mencarinya dan akhirnya aku temukan di pojok supermarket. Hampir saja aku
pulang karena tidak dapat menemukannya. Saat aku ingin membayar, semua kasir
penuh. Aku mengantri selama 15 menit. Aku kepikiran dengan Radit. Apa dia masih
menungguku di luar? Hampir 30 menit dia menunggu. Mungkin sekarang dia sudah
tidak menungguku lagi.
Keluar dari supermarket. Aku tak
melihat Radit lagi. Mungkin dia sudah pulang! Tapi saat aku berjalan keluar
area parkir motor, aku mendengar seseorang memanggil namaku. Radit!. Dia masih
menungguku. Radit meminta maaf karena ia tidak menungguku di tempat parkir
karena tadi hujan. Aku melihat ke sekelilingku dan melihat semua tenaman basah.
Aku memaafkannya sekaligus meminta maaf karena membuatnya menunggu lama.
Radit mengantarku pulang. Sampai di
rumah Lyu menyambut kedatangan kami. Ibu berterimakasih kepada Radit. Radit
meminta izin padaku untuk bermain dengan Lyu. Awalnya aku tak mengizinkan
karena aku khawatir alerginya akan semakin parah. Tapi, begitulah Radit, keras
kepala. Ia memohon padaku. Ia memegang tanganku dan memohon agar aku mengizinkannya
bermain dengan Lyu. Matanya menatap mataku. Aku hampir saja terbius oleh
tatapan matanya. Aku melihat Lyu menghampiri kami. Mungkin kucing lain akan
berlari-larian saat pemiliknya lengah tapi, Lyu tidak. Lyu justru ikut duduk dan memasang
wajah innocent di hadapanku. Aku tersenyum
melihat mereka berdua dan aku mengizinkan mereka bermain.
Kami senang bermain dengan Lyu.
Radit meminta izin untuk bermain dengan Lyu lagi besok. Tapi, aneh. Kenapa tadi
Radit tidak bersin di dekat Lyu? Aku mencoba menanyakan hal itu padanya, dia
bilang dia telah meminum obat alerginya. Hari sudah sore, Radit pamit pulang.
Saat Radit sudah pulang, aku
menanyakan pada ibu apa jam 10 pagi Lyu berada di rumah. Ibu bilang, Lyu tidak
ada di rumah. Berarti benar, Lyu yang mengambil dompet dari laciku saat kami di
lab komputer dan memindahkannya ke laci Radit. Dasar Lyu, mungkin dia ingin
membalas budi padaku. Aku memeluk Lyu dan berterimakasih padanya.
***
Empat bulan sudah Lyu tinggal
bersamaku. Setiap pagi, Lyu selalu membangunkan aku dengan caranya. Radit
sering mengantarku pulang dengan alasan ingin bermain dengan Lyu. Tanpa ku
sadari, Lyu telah mendekatkan aku pada Radit. Walaupun dengan caranya sendiri. Aku
sangat menyayangi Lyu. Mungkin Lyu memang ditakdirkan untuk bersamaku.
Hari ini aku ingin mengajak Lyu
jalan-jalan. Mungkin Lyu akan senang. Aku mengajak Lyu berjalan-jalan di dekat
pertokoan. Lyu berjalan cepat sekali, sepertinya dia bosan di rumah dan sangat
senang saat aku ajak keluar. Saat melewati sebuah gedung bioskop, Lyu berlari
cepat sekali. Aku tak mampu menemukannya. Jalan sedang ramai, banyak orang yang
menyebrang. Aku tak sadar kalau aku sedang mencari Lyu di tengah jalan. Saat
aku sibuk mencari Lyu, aku tertabrak Radit hingga aku terjatuh.
“Kamu nggak apa-apa Mey? Maaf, aku
ngelamun.”
“Aku baik-baik aja, kok. Makasih
Radit!” Aku mencoba berdiri.
Saat aku mencoba berdiri, Radit
terjatuh karena tersenggol seorang bapak. Radit terjatuh dan hampir menimpaku.
Kami terdiam saling memandang, beberapa saat kemudian Radit bangun dan mencoba
menolongku berdiri. Didekat Radit, aku melihat Lyu tersenyum. Aku mengajaknya pulang,
tapi Lyu tak ingin pulang. Ia malah mengajakku bermain kejar-kejaran. Tapi ia
berlari ke arah yang salah, ia justru berlari ke arah mobil yang sedang
melintas. Aku berlari untuk menyelamatkannya namun sudah tidak sempat. Radit
menahan aku yang juga hampir menerjang mobil lain yang lewat.
“Lyuuu... Nggak!!”
“Mey, jangan! Kamu bisa celaka kalau
kamu kesana!” Radit mencoba
menahanku.
“Aku nggak peduli.” Teriakku melepas
tangannya yang mendekapku.
Aku berlari ke arah Lyu, tapi sebuah
mobil melaju dan menabrakku.
***
Silau. Semuanya terang. Aku melihat
Radit sedang tertidur menungguku. Radit terbangun. Dia bilang aku koma selama
dua bulan. Aku menangis mengingat apa yang terjadi pada Lyu. Dulu, aku
mempertaruhkan nyawaku untuknya, tapi kenapa dia harus pergi dengan cara yang
sama dengan saudaranya. Kenapa semua orang yang aku sayang selalu ninggalin
aku. Aku bertanya pada Radit, apakah Lyu di kuburkan? Radit mengangguk. Lyu
dimakamkan di halaman belakang rumahku.
3 bulan setelah Meyta sadar dari koma
Hari ini aku sudah boleh pulang.
Radit selalu menemaniku selama di rumah sakit. Hari ini dia menjemputku untuk
pulang.
Sesampainya di rumah, aku dan Radit
menjenguk makam Lyu. Aku merindukannya. Selama di rumah sakit, aku selalu
terbangun karena teringat Lyu yang selalu menjilati tanganku. Saat aku
mengingat Lyu, aku selalu menangis. Radit mencoba menghiburku. Dia menyatakan
cinta padaku di hadapan makam Lyu. Aku tersenyum, aku menerima cintanya.
Di dalam rumah, Radit memberikan
sebuah box coklat kepadaku. Aku membukanya. Seekor kucing melompat keluar, dia
mirip Lyu. Kucing ini juga membuat Radit alergi seperti Lyu. Kami menamakannya Lyu
karena semua kemiripan itu. Lyu baru ini juga tidur bersamaku. Dia sangat mirip
dengan Lyu, cara membangunkanku juga sama. Aku juga menyayanginya seperti aku
menyayangi Lyu. Aku menyayangi semua Lyu.
***
Ayah masih sering menanyakan apa cita-citaku.
Tapi kini aku telah mengetahui apa cita-citaku. Aku ingin menjadi dokter, agar
aku bisa menolong orang-orang yang aku sayangi. Kini aku mengetahui apa
cita-citaku dan aku juga mendapatkan Radit berkat Lyu. Semuanya karena Lyu.
“Terima kasih Lyu. Kau memang
sahabat yang baik. Aku menyayangimu.
Semoga kamu tenang di sana!”
*Tamat*
Tidak ada komentar:
Posting Komentar