Jumat, 13 April 2012

Lyu


            Hari telah pagi. Mentari telah keluar dari peraduannya di ufuk timur. Ayam-ayam telah sibuk memperdengarkan suaranya yang merdu. Burung-burung berkicau riang kesana-kemari. Bunga-bunga bermekaran dan menerbangkan aromanya masing-masing. Hiruk-pikuk telah meramaikan setiap sudut kota.
            Ibu membuka jendela kamarku. Mataku menyipit karena sinar matahari yang menyilaukan. Sambil mengumpulkan nyawa yang masih terbang entah kemana, aku mencoba mencari jam wakerku. Jam 6 pagi. Dengan malas, aku bangkit dan bergegas mandi.
            Kini aku lebih segar. Aku merapikan kamar dan segera berjalan ke ruang makan. Di ruang makan, seluruh keluargaku telah berkumpul. Maklum, berkumpul saat sarapan dan makan malam merupakan salah satu tradisi di keluarga kami.
            Saat sarapan, ayah bertanya apa cita-citaku. Aku hanya terdiam, tak tahu harus berkata apa. Aku memang telah duduk di kelas 2 SMP. Namun hingga saat ini, aku tak tahu apa cita-citaku. Ayah selalu bilang kalau cita-cita itu penting, karena cita-cita yang akan membuat kita berjuang untuk meraih masa depan sesuai keinginan kita. Tapi, semua kata-kata ayah justru membuatku semakin bingung akan apa cita-citaku. Aku hanya menunduk bingung saat ayah menanyakan apa cita-citaku. Kak Citra dan kak Dimas juga sering menertawakan aku saat aku bingung menjawab pertanyaan ayah yang satu itu. Selesai makan, aku bergegas pergi ke mall bersama 2 sahabatku, Maya dan Gita.
            Tatapan Gita sangat aneh begitu melihatku. Gita menerka-nerka akan apa yang aku rasakan.
            “Kamu sedang kesal ya? Pasti ayahmu bertanya tentang cita-citamu?”
            Spontan mataku menatapnya tajam, tapi sesaat kemudian akau mengangguk. Kami bertiga memang sangat dekat, jadi aku tak pernah bisa merahasiakan apa yang aku rasakan pada mereka, terkecuali masalah cinta. Selama kami hang out , aku merasa nyaman berada di antara mereka berdua. Mereka mampu membuatku tertawa. Tidak seperti kedua kakakku yang selalu menertawakan aku.
            Di restoran, aku melihat Radit. Mataku langsung tertuju pada sosok tampan itu. Entah dia malaikat, atau jelmaan para dewa. Sudah satu tahun belakangan ini, aku memendam perasaan padanya. Tiba-tiba, ia menoleh pada kami bertiga. Tatapannya membiusku dan membuatku termangu melihatnya. Maya dan Gita menertawakan aku, sekejap aku tersadar. Aku malu pada mereka berdua, jadi aku memutuskan untuk mengajak mereka pulang.
            Keluar dari mall, pipiku memerah. Aku masih ingat saat Radit memandangku. Lamunanku sirna saat aku ingat Radit tak hanya menoleh padaku, tapi pada kami bertiga.
            Seseorang berteriak histeris yang membuat kami bertiga menoleh padanya. Tangannya menunjuk ke arah sebuah mobil meluncur di jalan menurun. Sang supir seperti tak mampu mengendalikan laju mobilnya. Aku menatap ke arah jalan. Ada sebuah box yang berisi 2 ekor kucing kecil di tengah jalan. Kucing itu bisa mati tertabrak. Aku berlari mengambil box itu. Hampir saja mobil itu menabrak kami tapi mobil itu hanya menyenggol kakiku. Kami terjatuh di jalur yang lain dari jalur mobil itu. Beruntungnya, jalur tempat kami terjatuh kosong. Mobil itu baru berhenti  setelah menabrak sebuah pohon di pinggir jalan. Maya dan Gita berlari kearahku. Aku berusaha mengatur nafasku yang tersengal-sengal karena berlari tadi. Radit yang berada tak jauh dari tempat aku terjatuh segera berlari kearah ku.
            Mereka bingung dan menanyakan keadaanku. Sang supir mengatakan kalau mobil itu remnya blong, ia merasa bersalah dan memintaku untuk ikut dengannya ke rumah sakit. Aku menolak, aku mengatakan kalau aku tidak apa-apa walaupun kakiku sedikit sakit karena terserempet mobil tadi. Radit bingung kenapa aku berlari menerjang mobil. Aku menjelaskan semuanya, tapi mereka tak percaya padaku. Aku melepaskan tanganku yang menutup atap box itu dan 2 ekor kucing kecil keluar dari dalam box. Radit bingung akan sikapku yang memilih mempertaruhkan nyawa hanya untuk kucing kecil. Radit mencoba membuang semua pertanyaan itu dan memutuskan untuk mengantarku pulang. Aku telah mencoba menolak, tapi Radit tidak menerima penolakanku dan tetap mengantarku pulang.
            “Hatchii..”
            “Kamu kenapa Radit? Kamu sakit?”
            “Nggak! Aku cuma alergi aja sama bulu kucing!” Katanya malu.
            “Oh, kalau gitu, sampai sini aja nganternya. Aku bisa pulang sendiri kok!
              Daripada kamu bersin terus!” Kataku tersenyum.
            “Nggak! Aku mau nganterin kamu sampai rumah!” Radit bersikeras ingin                             mengantarku pulang.
***
            Aku meminta izin untuk memelihara kucing itu. Awalnya ibuku menolak. Kucing itu di letakkan di luar rumah. Diam-diam aku membeli makanan kucing di supermarket. Walaupun aku tidak boleh memeliharanya, aku selalu bermain dengannya dan memberikannya makan. Dua hari kucing itu telah bersamaku. Aku mulai menyukainya. Namun sayang, satu dari mereka mati tertabrak mobil tepat saat aku pulang sekolah. Kini, aku lebih berhati-hati pada seekor kucing lainnya. Tanpa sepengetahuan keluargaku, aku telah memberinya kalung yang bertuliskan Lyu.
            Minggu malam, turun hujan lebat. Aku kasihan pada Lyu yang berada di luar.  Aku keluar rumah dan melihat Lyu. Lyu meringkuk kedinginan. Kardus tempat Lyu tidur telah basah karena air hujan. Aku tak tega melihat Lyu kedinginan. Aku membawa Lyu masuk ke dalam kamar tanpa meminta izin kepada orang tuaku. Aku memberikan Lyu selimut. Saat aku ingin tidur, Lyu naik ke atas kasur dan terlelap di dekatku. Aku tersenyum melihat Lyu yang tertidur lelap. Aku tertidur di dekat Lyu.
           
Senin pagi sebelum berangkat sekolah.
            Lyu membangunkan aku dengan cara menjilati telapak tanganku. Saat sarapan, ibu menanyakan kenapa Lyu bisa berada di kamarku. Aku menjelaskan semuanya, dan aku sekaligus meminta izin pada ibu untuk memelihara Lyu. Ibu mengizinkan aku memelihara Lyu. Aku meminta izin agar Lyu bisa tidur di kamarku, karena aku kasihan jika dia harus tidur di luar. Aku kira ibu akan marah, tapi ibu justru tersenyum dan mengizinkan Lyu tidur di kamarku asalkan aku tidak lupa memberinya makan.
            “Mey, memangnya kucing ini sudah memiliki nama?” Tanya kan Dimas.
            “Udah. Namanya Lyu!” Kataku bersemangat.
            “Namanya nggak bagus banget sih! Ganti Zidan aja!”
            “Yah, kak Dimas. Lyu itu betina!” Kataku ketus.
            “Ya udah Ziva aja!” Kata kak Citra menyambar pembicaraan kami.
            “Ini lagi! Sekali Lyu tetep Lyu!” Jawabku sewot.
            “Ya deh. Kamu udah beli makanan Lyu belum?” Tanya ibu penasaran.
            “Ya udah lah Bu. Ini, sampelnya!” Mengangkat tempat makan Lyu.
            “Miaww!”
            “Ya sebentar Lyu. Ini makan yang banyak.”
            “Oh jadi kamu udah ngerencanain ini?” Tanya ayah.
            Aku hanya mengangguk. Aku sarapan dengan perasaan bahagia. Lyu berada di dekat kakiku sambil memakan makanannya. Saat aku berangkat sekolah, Lyu mengikutiku hingga gerbang rumah. Lyu seperti ingin ikut denganku, namun aku tak mengizinkannya.
***
            Bel istirahat berbunyi. Semua teman-temanku bergegas ke kantin. Hanya tinggal aku, Gita, Maya, Radit dan Nico. Saat aku ingin ke kantin, aku bingung mencari dompetku yang tidak ada di dalam laci. Seingatku, aku membawa dompet itu saat aku membayar uang kas tadi, jadi tidak mungkin aku tidak membawanya. Gita dan Maya membantu mencari dompetku yang hilang. Radit dan Nico juga ikut membantu mencari dompetku di lantai kelas, tapi tetap tidak ditemukan. Radit mencoba membantuku dengan cara mentraktirku, tapi aku tidak mau. Aku menangis karena bingung. Radit membuka tasnya untuk mengambil sapu tangan. Saat ia mengambil sapu tangan, ia melihat ada dompet berwarna biru muda di dalam laci mejanya. Ia bertanya padaku apa itu dompetku.  Aku mengangguk senang. Saat ia memberikannya padaku, tiba-tiba ia bersin. Apa mungkin Lyu yang meletakkan dometku di laci meja Radit? Aku tidak peduli. Sebagai tanda terima kasihku pada mereka, aku mentraktir mereka berempat.
           
Jam 12.30,
Saat bel pulang sekolah
            Bel pulang sekolah berbunyi. Aku membereskan alat-alat tulisku. Saat keluar kelas, seseorang memanggilku. Aku menoleh, ternyata Radit yang memanggilku. Aku bingung karena dia belum pulang, padahal teman-temannya yang lain sudah pulang.
            “Kamu kok belum pulang?”
            “Aku nunggu kamu. Kita pulang bareng yuk Mey!” Dia menarik tanganku.
            “Tapi aku..aku  harus membeli makanan untuk Lyu!” Kataku menghentikan
              langkah dan memberi alasan agar dia tidak mengantarku pulang.
            “Siapa Lyu? Adek kamu? Atau pacar kamu?”Tanyanya penasaran menatapku.
            “Lyu itu kucing yang waktu itu aku tolong.” Kataku memberi penjelasan.
            “Kalau gitu aku anter kamu ke supermarket. Aku juga mau deket sama Lyu.
             Ya walaupun dia bikin aku alergi. Yuk!”
            Aku tak bisa menolaknya lagi. Aku justru termakan alasanku sendiri. Walaupun aku menolak ia antar pulang, sesungguhnya hatiku senang sekali. Dia mengantarku ke supermarket.
            Supermarket itu sepertinya penuh. Aku meminta Radit untuk meninggalkanku saja. Radit tidak mau, ia bersikeras ingin menungguku. Aku mengingatkannya agar dia tidak memaksakan diri.
            “Kalau kamu lelah, kamu pulang aja ya!” Radit mengangguk.
            Aku bingung di mana letak makanan Lyu. Aku mencarinya dan akhirnya aku temukan di pojok supermarket. Hampir saja aku pulang karena tidak dapat menemukannya. Saat aku ingin membayar, semua kasir penuh. Aku mengantri selama 15 menit. Aku kepikiran dengan Radit. Apa dia masih menungguku di luar? Hampir 30 menit dia menunggu. Mungkin sekarang dia sudah tidak menungguku lagi.
            Keluar dari supermarket. Aku tak melihat Radit lagi. Mungkin dia sudah pulang! Tapi saat aku berjalan keluar area parkir motor, aku mendengar seseorang memanggil namaku. Radit!. Dia masih menungguku. Radit meminta maaf karena ia tidak menungguku di tempat parkir karena tadi hujan. Aku melihat ke sekelilingku dan melihat semua tenaman basah. Aku memaafkannya sekaligus meminta maaf karena membuatnya menunggu lama.
            Radit mengantarku pulang. Sampai di rumah Lyu menyambut kedatangan kami. Ibu berterimakasih kepada Radit. Radit meminta izin padaku untuk bermain dengan Lyu. Awalnya aku tak mengizinkan karena aku khawatir alerginya akan semakin parah. Tapi, begitulah Radit, keras kepala. Ia memohon padaku. Ia memegang tanganku dan memohon agar aku mengizinkannya bermain dengan Lyu. Matanya menatap mataku. Aku hampir saja terbius oleh tatapan matanya. Aku melihat Lyu menghampiri kami. Mungkin kucing lain akan berlari-larian saat pemiliknya lengah tapi,  Lyu tidak. Lyu justru ikut duduk dan memasang wajah innocent di hadapanku. Aku tersenyum melihat mereka berdua dan aku mengizinkan mereka bermain.
            Kami senang bermain dengan Lyu. Radit meminta izin untuk bermain dengan Lyu lagi besok. Tapi, aneh. Kenapa tadi Radit tidak bersin di dekat Lyu? Aku mencoba menanyakan hal itu padanya, dia bilang dia telah meminum obat alerginya. Hari sudah sore, Radit pamit pulang.
            Saat Radit sudah pulang, aku menanyakan pada ibu apa jam 10 pagi Lyu berada di rumah. Ibu bilang, Lyu tidak ada di rumah. Berarti benar, Lyu yang mengambil dompet dari laciku saat kami di lab komputer dan memindahkannya ke laci Radit. Dasar Lyu, mungkin dia ingin membalas budi padaku. Aku memeluk Lyu dan berterimakasih padanya.
***
            Empat bulan sudah Lyu tinggal bersamaku. Setiap pagi, Lyu selalu membangunkan aku dengan caranya. Radit sering mengantarku pulang dengan alasan ingin bermain dengan Lyu. Tanpa ku sadari, Lyu telah mendekatkan aku pada Radit. Walaupun dengan caranya sendiri. Aku sangat menyayangi Lyu. Mungkin Lyu memang ditakdirkan untuk bersamaku.
            Hari ini aku ingin mengajak Lyu jalan-jalan. Mungkin Lyu akan senang. Aku mengajak Lyu berjalan-jalan di dekat pertokoan. Lyu berjalan cepat sekali, sepertinya dia bosan di rumah dan sangat senang saat aku ajak keluar. Saat melewati sebuah gedung bioskop, Lyu berlari cepat sekali. Aku tak mampu menemukannya. Jalan sedang ramai, banyak orang yang menyebrang. Aku tak sadar kalau aku sedang mencari Lyu di tengah jalan. Saat aku sibuk mencari Lyu, aku tertabrak Radit hingga aku terjatuh.
            “Kamu nggak apa-apa Mey? Maaf, aku ngelamun.”
            “Aku baik-baik aja, kok. Makasih Radit!” Aku mencoba berdiri.
            Saat aku mencoba berdiri, Radit terjatuh karena tersenggol seorang bapak. Radit terjatuh dan hampir menimpaku. Kami terdiam saling memandang, beberapa saat kemudian Radit bangun dan mencoba menolongku berdiri. Didekat Radit, aku melihat Lyu tersenyum. Aku mengajaknya pulang, tapi Lyu tak ingin pulang. Ia malah mengajakku bermain kejar-kejaran. Tapi ia berlari ke arah yang salah, ia justru berlari ke arah mobil yang sedang melintas. Aku berlari untuk menyelamatkannya namun sudah tidak sempat. Radit menahan aku yang juga hampir menerjang mobil lain yang lewat.      
            “Lyuuu... Nggak!!”
            “Mey, jangan! Kamu bisa celaka kalau kamu kesana!” Radit mencoba
              menahanku.
            “Aku nggak peduli.” Teriakku melepas tangannya yang mendekapku.
            Aku berlari ke arah Lyu, tapi sebuah mobil melaju dan menabrakku.
***
            Silau. Semuanya terang. Aku melihat Radit sedang tertidur menungguku. Radit terbangun. Dia bilang aku koma selama dua bulan. Aku menangis mengingat apa yang terjadi pada Lyu. Dulu, aku mempertaruhkan nyawaku untuknya, tapi kenapa dia harus pergi dengan cara yang sama dengan saudaranya. Kenapa semua orang yang aku sayang selalu ninggalin aku. Aku bertanya pada Radit, apakah Lyu di kuburkan? Radit mengangguk. Lyu dimakamkan di halaman belakang rumahku.

3 bulan setelah Meyta sadar dari koma
            Hari ini aku sudah boleh pulang. Radit selalu menemaniku selama di rumah sakit. Hari ini dia menjemputku untuk pulang.
            Sesampainya di rumah, aku dan Radit menjenguk makam Lyu. Aku merindukannya. Selama di rumah sakit, aku selalu terbangun karena teringat Lyu yang selalu menjilati tanganku. Saat aku mengingat Lyu, aku selalu menangis. Radit mencoba menghiburku. Dia menyatakan cinta padaku di hadapan makam Lyu. Aku tersenyum, aku menerima cintanya.
            Di dalam rumah, Radit memberikan sebuah box coklat kepadaku. Aku membukanya. Seekor kucing melompat keluar, dia mirip Lyu. Kucing ini juga membuat Radit alergi seperti Lyu. Kami menamakannya Lyu karena semua kemiripan itu. Lyu baru ini juga tidur bersamaku. Dia sangat mirip dengan Lyu, cara membangunkanku juga sama. Aku juga menyayanginya seperti aku menyayangi Lyu. Aku menyayangi semua Lyu.
***
             Ayah masih sering menanyakan apa cita-citaku. Tapi kini aku telah mengetahui apa cita-citaku. Aku ingin menjadi dokter, agar aku bisa menolong orang-orang yang aku sayangi. Kini aku mengetahui apa cita-citaku dan aku juga mendapatkan Radit berkat Lyu. Semuanya karena Lyu.
            “Terima kasih Lyu. Kau memang sahabat yang baik. Aku menyayangimu.
              Semoga kamu tenang di sana!”




*Tamat*

Tidak ada komentar:

Posting Komentar