Matahari enggan menampakkan dirinya. Hawa
dingin terasa menusuk kulit tubuhku. Tetasan air telah mengembuni jendela
kelasku. Aku menoleh ke sudut ruang kelasku, terdapat sebuah jam dinding di
sana. Waktu menunjukkan pukul 3.25 sore. Teman-temanku sudah pulang, hanya
tersisa beberapa anak. Sunyi dan sepi rasanya.
’Hujan lagi’ Fikirku.
Beberapa temanku sedang
berlari-larian di kelas. Kelasku kembali gaduh karenanya. Tiba-tiba sesuatu
melesat ke arahku.
’Dugg’
Sebuah bola kasti melesat
tepat ke arah pipiku. Bola itu mencium pipiku tanpa sempat aku menghindar.
”Aw, hati-hati! Ini
bolanya!” Kataku pada seorang temanku.
”Maaf Chard! Kami tidak
sengaja! Mau ikut main?” Ajak Toni.
”Tidak, aku sedang malas
bermain!” Kataku melemparkan bolanya.
”Ya sudah, terima kasih!”
Jawab mereka serentak.
Aku hanya mengangguk, tanda
sama-sama. Hujan deras telah menghadangku untuk pulang. Aku hanya bisa melamun
dan memandangi jendela kelasku yang buram karna embun. Suara seseorang telah
memecah lamunanku. Itu suara sahabatku Nita.
”Richi...... Vey mau ngasih
sesuatu ke kamu nih!!!!” Teriak Nita.
”Ada apa sih Nit? Kok kamu
teriak-teriak gitu?” Jawabku.
”Udah cepet sini... sebelum
Vey berubah pikiran!!!” Teriak Nita.
Aku berlari ke arah lorong.
Aku
takut terjadi sesuatu pada Nita. Di lorong, aku melihat Vey sedang mencoba
untuk merebut sebuah bungkusan berwarna biru muda dari tangan Nita. Nita mencoba
untuk mempertahankannya.
”Vey,,,,kamu ngapain???”
Kataku pelan.
”Nita ngambil kado
aku.” Kata Vey menjawabku singkat.
”Nit,, kamu tu
apa-apaan sih!! Balikin, Nit!!” Pintaku ke Nita.
”Ini itu buat kamu Chi,,,
dari Vey. Dia nggak berani langsung kasih
ke kamu. Tangkap ini Chi!!” Teriaknya seraya
melemparkan bungkusan
itu padaku.
Belum sempat aku menangkap
bungkusan itu, Vey telah menangkapnya terlebih dahulu. Dan terdengar suara yang
cukup keras. Dan membuat miris telingaku.
’PLAAKKK!!’
’Vey,,,, Dia menampar
Nita!!’ Pikirku.
Aku terkejut melihat apa
yang dilakukan Vey. Vey terkenal sabar di sekolahku tapi baru saja dia menampar
Nita.
”Kamu tu apa-apaan sih Nit??
Kamu mau membuatku malu!! Aku fikir
kamu sahabat yang baik, tapi aku salah!!! Persahabatan
kita cukup sampai di sini. Mulai sekarang kamu bukan lagi
sahabatku. Aku benci sama kamu Nita!.” Bentak Vey.
”Maafin aku Vey, aku cuma
mau bantu kamu. Aku minta maaf kalau
caraku salah dan buat kamu malu. Tapi aku nggak
ada maksud Vey. Aku
mohon jangan benci aku Vey!” Isak Nita, ia mulai
menangis.
”Udah deh,, semua yang
kamu omongin itu busyit! Buat apa kamu nangis? Air mata kamu nggak akan buat aku
luluh!” Bentak Vey.
Air mata Nita semakin deras
mengaliri pipinya. Aku tak ingin melihat sahabatku menangis. Tapi, aku juga
nggak mau mencampuri urusan mereka berdua.
”Udah! Ini Cuma masalah
kecil, nggak perlu di besar-besarin!” Kataku.
”Maafin aku Vey! Aku...”
Tangis Nita. Belum sempat ia menyelesaikan
kalimatnya, Vey tlah membentaknya terlebih
dahulu.
”Stop,, cukup Nit. Aku udah
nggak mau mendengar apa-apa lagi dari
kamu. Aku benci sama kamu! Mulai sekarang aku
bersumpah kalau aku nggak akan ngomong atau memperlihatkan wajah
aku di hadapan kamu aku bersumpah Nit!” Teriak Vey meninggalkan Nita dilorong.
Nita berlari mengejar Vey.
Baru kali ini aku melihat Vey begitu marah pada sahabatnya sendiri. Aku tak mau
mencampuri urusan mereka berdua. Aku tak bisa berbuat banyak untuk Nita karena
aku tak begitu mengenal Vey. Sesaat aku terdiam di lorong, Jam menunjukkan
pukul 3.45 sore. Suara tetesan air hujan masih terdengar samar-samar.
’Mungkin hujannya telah
reda’ Pikirku.
Aku harus pulang. Aku pulang melalui
jalan belakang sekolah. Jalan itu lebih dekat daripada aku harus memutar
melewati jalan depan.
Sesampainya aku di
gerbang rumahku. Aku melihat Vey membawa bungkusan yang tadi ia perdebatkan
dengan Nita. Wajahnya pucat, tetapi ia masih mencoba untuk tersenyum padaku.
”Sore Richi... Maaf aku mengganggumu.”
Katanya pelan.
”Nggak apa-apa kok.
Ada apa Vey? Kamu udah baikan sama Nita?
kasihan dia menangis terus!” Tanyaku.
Dia menunduk. Aku melihat setetes demi
setetes air jatuh membasahi pipinya.
’Ia menangis’ Kataku dalam hati.
Aku merogoh sakuku. Aku memberikan sapu
tanganku padanya. Aku tak dapat melakukan hal lain selain itu, ya setidaknya ia
bisa menyeka air matanya.
”Aku ingin meminta maaf padanya. Tapi semua
sudah terlambat.Ku
mohon sampaikan maafku padanya. Aku merasa bersalah.
Aku
tahu
ia hanya ingin menolongku, tapi aku tak suka caranya. Aku sangat
ingin
meminta maaf padanya. Ini untukmu, aku yang menghiasnya
sendiri.”
Seraya memberikan bungkusan itu padaku.
”Terima kasih, akan kusimpan baik-baik!”
Kataku
”Aku pergi dulu ya.. Selamat tinggal
Richi!!” Katanya lembut padaku.
Entah
kenapa saat ia pergi, aku seperti melihat sepasang sayap di punggungnya. Ia
meninggalkanku yang terpaku di gerbang karnanya. Saat itu kulihat jam tanganku
menunjukkan pukul 4 sore.
Di dalam rumah, ku
buka bungkusan itu perlahan-lahan. Bungkusan itu berisi CD dan jam pasir. CD
itu berisi lagu My Heart Will Go On yang di putar berulang-ulang. Di CD itu aku
melihat sebuah kalimat yang di tulis dengan spidol biru. Tulisan itu berbunyi,
Happily Ever After. Aku tak memiliki hubungan istimewa dengannya, tapi
sesungguhnya aku memiliki sedikit cintaku untuknya.
Saat
sedang mendengarkan lagu itu. Aku merenung, aku akan memintanya untuk menjadi
kekasihku besok. Kini aku tak perlu takut untuk menyatakan cintaku padanya,
karna entah kenapa aku merasa ia juga memiliki perasaan yang sama denganku.
Suatu getaran tlah
memecah lamunanku. Hand phoneku berdering. Nita menelfonku. Semua bayang-bayang
kebahagiaanku sirna. Aku terdiam saat aku mendengar Vey tewas dalam kecelakaan
jam 4 sore tadi. Nita menceritakan seluruh kejadiannya.
”Richi, Vey... dia
udah...” Kata Nita ter-isak.
”Vey kenapa Nit?”
Tanyaku.
”Vey udah nggak ada
Chi, dia meninggal karena kecelakaan jam 3 sore tadi. Aku ingin
memberitahumu tapi, kamu sudah pulang!” Katanya.
”Apa?? Nggak mungkin
Ta! Vey baru aja dari rumah aku!” Kataku tak
percaya.
”Tapi itu bener Chi!
Tadi waktu aku ngejar dia ke jalan depan sekolah, tiba-tiba dari arah
berbeda ada mobil dengan kecepatan tinggi, mobil itu langsung menabrak
Vey.” Cerita Nita panjang lebar.
”Nggak mungkin!”
Sanggahku tak percaya.
”Apa bungkusannya ada
padamu? Karena di samping tubuhnya, aku tidak menemukan bungkusan itu!” Kata Nita kaget.
”Ya, Vey yang
memberikannya padaku di gerbang rumahku tadi.” Kataku.
”Mungkin, ia merasa
hadiah itu menjadi beban baginya jika ia tidak memberikannya padamu. Chi, walaupun Vey udah
nggak ada, tapi cintanya buat kamu masih dia bawa.” Kata Nita padaku.
”Nit, Vey bilang, dia
sebenarnya mau meminta maaf padamu. Tapi ia
Tidak sempat mengucapkannya. Ia menyesal. Apa
kamu mau
memaafkannya?” Tanyaku penuh harap Nita mau
memaafkannya.
”Tentu, dia sahabatku
Chi!” Suaranya agak bergetar.
Kini, Nita telah
menutup telfonnya. Tak kurasa, setitik demi setitik air mataku jatuh membasahi
pipiku. Aku tahu, aku laki-laki dan seharusnya aku tak boleh menangis seperti
ini, aku tak boleh cengeng. Tapi, apa salah jika aku menangis karena orang yang
ku cintai pergi untuk selamanya?
Vey menghampiriku
untuk memberikan hadiah atas perasaannya padaku untuk yang terakhir kalinya.
Tak kusangka, pertemuan aku dan dia di gerbang tadi itu, telah menjadi
pertemuan terakhirku dengan orang yang ku cintai. Di antara tangisku, aku
berdoa untuk Vey.
’Vey tenanglah kamu di sana.
Aku telah menyampaikan pesanmu pada Nita. Nita telah memaafkanmu Vey. Andai aku
berani mengungkapkan perasaanku padamu lebih cepat. Mungkin kau tidak akan
pergi secepat ini dan kau bahagia disini. Ingin rasanya ku putar waktu dimana
kau masih disini dan bermain bersama kami, dan jika aku tahu kita memiliki
perasaan yang sama, dan aku berani mengungkapkannya mungkin, kamu akan
tersenyum bahagia disana. Selamat jalan Vey. Pergilah dengan tenang. Aku mencintaimu.’
Doaku untuk Vey.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar