Jumat, 13 April 2012

Last Time


          Matahari enggan menampakkan dirinya. Hawa dingin terasa menusuk kulit tubuhku. Tetasan air telah mengembuni jendela kelasku. Aku menoleh ke sudut ruang kelasku, terdapat sebuah jam dinding di sana. Waktu menunjukkan pukul 3.25 sore. Teman-temanku sudah pulang, hanya tersisa beberapa anak. Sunyi dan sepi rasanya.
          ’Hujan lagi’ Fikirku.
          Beberapa temanku sedang berlari-larian di kelas. Kelasku kembali gaduh karenanya. Tiba-tiba sesuatu melesat ke arahku.
          ’Dugg’
          Sebuah bola kasti melesat tepat ke arah pipiku. Bola itu mencium pipiku tanpa sempat aku menghindar.
          ”Aw, hati-hati! Ini bolanya!” Kataku pada seorang temanku.
          ”Maaf Chard! Kami tidak sengaja! Mau ikut main?” Ajak Toni.
          ”Tidak, aku sedang malas bermain!” Kataku melemparkan bolanya.
          ”Ya sudah, terima kasih!” Jawab mereka serentak.
          Aku hanya mengangguk, tanda sama-sama. Hujan deras telah menghadangku untuk pulang. Aku hanya bisa melamun dan memandangi jendela kelasku yang buram karna embun. Suara seseorang telah memecah lamunanku. Itu suara sahabatku Nita.
          ”Richi...... Vey mau ngasih sesuatu ke kamu nih!!!!” Teriak Nita.
          ”Ada apa sih Nit? Kok kamu teriak-teriak gitu?” Jawabku.
          ”Udah cepet sini... sebelum Vey berubah pikiran!!!” Teriak Nita.
          Aku berlari ke arah lorong. Aku takut terjadi sesuatu pada Nita. Di lorong, aku melihat Vey sedang mencoba untuk merebut sebuah bungkusan berwarna biru muda dari tangan Nita. Nita mencoba untuk mempertahankannya.
          ”Vey,,,,kamu ngapain???” Kataku pelan.
          ”Nita ngambil kado aku.” Kata Vey menjawabku singkat.
          ”Nit,, kamu tu apa-apaan sih!! Balikin, Nit!!” Pintaku ke Nita.
          ”Ini itu buat kamu Chi,,, dari Vey. Dia nggak berani langsung kasih
           ke kamu. Tangkap ini Chi!!” Teriaknya seraya melemparkan bungkusan
           itu padaku.
          Belum sempat aku menangkap bungkusan itu, Vey telah menangkapnya terlebih dahulu. Dan terdengar suara yang cukup keras. Dan membuat miris telingaku.
          ’PLAAKKK!!’
          ’Vey,,,, Dia menampar Nita!!’ Pikirku.
          Aku terkejut melihat apa yang dilakukan Vey. Vey terkenal sabar di sekolahku tapi baru saja dia menampar Nita.
          ”Kamu tu apa-apaan sih Nit?? Kamu mau membuatku malu!! Aku fikir
           kamu sahabat yang baik, tapi aku salah!!! Persahabatan kita cukup                  sampai di sini. Mulai sekarang kamu bukan lagi sahabatku. Aku benci                  sama kamu Nita!.” Bentak Vey.
          ”Maafin aku Vey, aku cuma mau bantu kamu. Aku minta maaf kalau
           caraku salah dan buat kamu malu. Tapi aku nggak ada maksud Vey. Aku
           mohon jangan benci aku Vey!” Isak Nita, ia mulai menangis.
          ”Udah deh,, semua yang kamu omongin itu busyit! Buat apa kamu                      nangis? Air mata kamu nggak akan buat aku luluh!” Bentak Vey.
          Air mata Nita semakin deras mengaliri pipinya. Aku tak ingin melihat sahabatku menangis. Tapi, aku juga nggak mau mencampuri urusan mereka berdua.
          ”Udah! Ini Cuma masalah kecil, nggak perlu di besar-besarin!” Kataku.
          ”Maafin aku Vey! Aku...” Tangis Nita. Belum sempat ia menyelesaikan
           kalimatnya, Vey tlah membentaknya terlebih dahulu.        
          ”Stop,, cukup Nit. Aku udah nggak mau mendengar apa-apa lagi dari
           kamu. Aku benci sama kamu! Mulai sekarang aku bersumpah kalau aku                      nggak akan ngomong atau memperlihatkan wajah aku di hadapan kamu                     aku bersumpah Nit!” Teriak Vey meninggalkan Nita dilorong.
          Nita berlari mengejar Vey. Baru kali ini aku melihat Vey begitu marah pada sahabatnya sendiri. Aku tak mau mencampuri urusan mereka berdua. Aku tak bisa berbuat banyak untuk Nita karena aku tak begitu mengenal Vey. Sesaat aku terdiam di lorong, Jam menunjukkan pukul 3.45 sore. Suara tetesan air hujan masih terdengar samar-samar.
          ’Mungkin hujannya telah reda’ Pikirku.
          Aku harus pulang. Aku pulang melalui jalan belakang sekolah. Jalan itu lebih dekat daripada aku harus memutar melewati jalan depan.
          Sesampainya aku di gerbang rumahku. Aku melihat Vey membawa bungkusan yang tadi ia perdebatkan dengan Nita. Wajahnya pucat, tetapi ia masih mencoba untuk tersenyum padaku.
          ”Sore Richi... Maaf aku mengganggumu.” Katanya pelan.
          ”Nggak apa-apa kok. Ada apa Vey? Kamu udah baikan sama Nita?
kasihan dia menangis terus!” Tanyaku.
Dia menunduk. Aku melihat setetes demi setetes air jatuh membasahi pipinya.
’Ia menangis’ Kataku dalam hati.
Aku merogoh sakuku. Aku memberikan sapu tanganku padanya. Aku tak dapat melakukan hal lain selain itu, ya setidaknya ia bisa menyeka air matanya.
”Aku ingin meminta maaf padanya. Tapi semua sudah terlambat.Ku    
 mohon sampaikan maafku padanya. Aku merasa bersalah. Aku                                                                                                   
 tahu ia hanya ingin menolongku, tapi aku tak suka caranya. Aku sangat    
 ingin meminta maaf padanya. Ini untukmu, aku yang menghiasnya
 sendiri.” Seraya memberikan bungkusan itu padaku.
”Terima kasih, akan kusimpan baik-baik!” Kataku
”Aku pergi dulu ya.. Selamat tinggal Richi!!” Katanya lembut padaku.
          Entah kenapa saat ia pergi, aku seperti melihat sepasang sayap di punggungnya. Ia meninggalkanku yang terpaku di gerbang karnanya. Saat itu kulihat jam tanganku menunjukkan pukul 4 sore.
Di dalam rumah, ku buka bungkusan itu perlahan-lahan. Bungkusan itu berisi CD dan jam pasir. CD itu berisi lagu My Heart Will Go On yang di putar berulang-ulang. Di CD itu aku melihat sebuah kalimat yang di tulis dengan spidol biru. Tulisan itu berbunyi, Happily Ever After. Aku tak memiliki hubungan istimewa dengannya, tapi sesungguhnya aku memiliki sedikit cintaku untuknya.
          Saat sedang mendengarkan lagu itu. Aku merenung, aku akan memintanya untuk menjadi kekasihku besok. Kini aku tak perlu takut untuk menyatakan cintaku padanya, karna entah kenapa aku merasa ia juga memiliki perasaan yang sama denganku.
Suatu getaran tlah memecah lamunanku. Hand phoneku berdering. Nita menelfonku. Semua bayang-bayang kebahagiaanku sirna. Aku terdiam saat aku mendengar Vey tewas dalam kecelakaan jam 4 sore tadi. Nita menceritakan seluruh kejadiannya.
”Richi, Vey... dia udah...” Kata Nita ter-isak.
”Vey kenapa Nit?” Tanyaku.
”Vey udah nggak ada Chi, dia meninggal karena kecelakaan jam 3 sore              tadi. Aku ingin memberitahumu tapi, kamu sudah pulang!” Katanya.
”Apa?? Nggak mungkin Ta! Vey baru aja dari rumah aku!” Kataku tak
 percaya.
”Tapi itu bener Chi! Tadi waktu aku ngejar dia ke jalan depan sekolah,            tiba-tiba dari arah berbeda ada mobil dengan kecepatan tinggi, mobil                itu langsung menabrak Vey.” Cerita Nita panjang lebar.
”Nggak mungkin!” Sanggahku tak percaya.
”Apa bungkusannya ada padamu? Karena di samping tubuhnya, aku tidak           menemukan bungkusan itu!” Kata Nita kaget.
”Ya, Vey yang memberikannya padaku di gerbang rumahku tadi.” Kataku.
”Mungkin, ia merasa hadiah itu menjadi beban baginya jika ia tidak                  memberikannya padamu. Chi, walaupun Vey udah nggak ada, tapi cintanya     buat kamu masih dia bawa.” Kata Nita padaku.
”Nit, Vey bilang, dia sebenarnya mau meminta maaf padamu. Tapi ia
 Tidak sempat mengucapkannya. Ia menyesal. Apa kamu mau
 memaafkannya?” Tanyaku penuh harap Nita mau memaafkannya.
”Tentu, dia sahabatku Chi!” Suaranya agak bergetar.
Kini, Nita telah menutup telfonnya. Tak kurasa, setitik demi setitik air mataku jatuh membasahi pipiku. Aku tahu, aku laki-laki dan seharusnya aku tak boleh menangis seperti ini, aku tak boleh cengeng. Tapi, apa salah jika aku menangis karena orang yang ku cintai pergi untuk selamanya?
Vey menghampiriku untuk memberikan hadiah atas perasaannya padaku untuk yang terakhir kalinya. Tak kusangka, pertemuan aku dan dia di gerbang tadi itu, telah menjadi pertemuan terakhirku dengan orang yang ku cintai. Di antara tangisku, aku berdoa untuk Vey.
’Vey tenanglah kamu di sana. Aku telah menyampaikan pesanmu pada Nita. Nita telah memaafkanmu Vey. Andai aku berani mengungkapkan perasaanku padamu lebih cepat. Mungkin kau tidak akan pergi secepat ini dan kau bahagia disini. Ingin rasanya ku putar waktu dimana kau masih disini dan bermain bersama kami, dan jika aku tahu kita memiliki perasaan yang sama, dan aku berani mengungkapkannya mungkin, kamu akan tersenyum bahagia disana. Selamat jalan Vey. Pergilah dengan tenang. Aku mencintaimu.’ Doaku untuk Vey.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar