Kamis, 01 November 2012

Mungkin

             Aroma embun tercium khas olehku. Rintik demi rintik hujan telah membasahi jendela kamarku. Kelabu mewarnai langit, membantuku semakin terikat dalam sendu. Sesekali ku tengok ponsel dalam genggamanku. Nihil, tak ada tanda darinya. Tanda dari laki-laki yang begitu aku cintai, Ray. Sudah satu bulan belakangan, aku tak lagi berkomunikasi dengannya.

         Sesaat aku memejamkan mataku, ku coba mengingat kenanganku bersamanya. Perlahan terlihat kembali kenangan itu. Disaat kami duduk di sebuah pendopo di pinggir danau, dikala gerimis seperti hari ini. Saat-saat dimana Ray tersenyum, tertawa, bahkan termangu karena ulah konyolku. Huft, saat yang ku yakini tak kan terulang.

        ‘Tapi kemana Ray sekarang? Tidakkah ia merindukanku seperti aku merindukannya? Masihkah ia ingat padaku. Akankah penantianku berakhir dengan kecewa? Atau kebahagiaan? Mungkin, tak ada yang tahu.’ Sederet kalimat itu membuyarkan lamunanku. Membuatku enggan melanjutkan lamunanku lagi.

        Aku beranjak dari sofa, dengan gontai ku langkahkan kakiku ke tempat tidurku. Tiap langkah yang kuambil, tak mampu mengusir sosok Ray dalam benakku. Ku banting diriku di atas kasur yang empuk, mencoba untuk terlelap sejenak.

‘Apa aku mencintainya. Ku akui, aku memang mencintainya. Begitu pula yang ia katakan kepadaku satu tahun yang lalu, sebelum ia pindah ke Bandung. Tapi apa dia masih mencintaiku? Bahkan, apa pernah ia termangu hanya demi memikirkanku? Mungkin.’ Semua kalimat itu seperti bersahut-sahutan dalam hatiku. Dan selalu, selalu hanya kata mungkin yang dapat mengakhiri dilema yang kurasakan.

‘Apa aku tidak jenuh dengan semua ini? Ya! Tentu aku jenuh, aku jenuh jika harus menunggunya. Aku jenuh jikalau aku tak pernah mampu melihatnya langsung, namun ia harus terus memenuhi benakku, membayang-bayangi hidupku, membuatku dilema layaknya ada jati diri lain dalam diriku. Aku jenuh. Aku ingin melihat Ray secara langsung, bukan hanya halusinasi yang terjadi karena persekongkolan antara mata, hati dan otakku. Aku merindukannya. Ku rasa, rindu ini telah merusak otakku. Sehingga aku terus menerus berhalusinasi dan merasa kalau Ray ada di dekatku. Dimana kamu, Ray. Aku rindu kamu. Akankah kamu baik-baik saja disana?’ Hatiku kembali bimbang. Kalimat-kalimat itu semakin meracuni otakku. Semakin menyedotku lebih dalam akan ketidakpastian.

***

“Ra, Kira.”

Aku membuka mataku. Semuanya putih, silau. Aku memejamkan kembali mataku.

‘Dimana aku? Mengapa begitu terang disini? Bukankah tadi aku berada di ranjang empukku?’

“Ra, Kira. Bangun Ra.”

Suara itu. Aku seperti mengenal suara itu. Perlahan ku buka kembali mataku. Aku melihat sosok yang selama ini begitu ku rindukan, Ray. Dia hadir dihadapanku sekarang. Tersenyum seperti biasa, senyuman hangat yang selalu mampu meluluhkanku tak peduli sebesar apa amarahku terhadapnya. Namun, kali ini ada yang berbeda dari senyumannya. Wajahnya terlihat pucat, bibirnya membiru, dan  ada lingkaran hitam disekitar matanya.  Hanya senyumannya yang tetep manis bagiku.

“Ray?” Ku coba untuk bangkit.

“Ya Ra, ini aku. Kamu masih inget kan Ra sama aku?” Jawabnya. Tangannya menyapu perlahan pipiku.

“Ini beneran kamu Ray?”

“Iya Ra, tadi kamu tidur dipangkuan aku. Nyawa kamu masih diawang-awang ya Ra?” Tanyanya meledekku.

‘Apa yang barusaja Ray katakan? Aku tertidur dipangkuannya? Mimpikah aku?’ Renungku dalam hati.

“Ra! Hay kok ngelamun?” Ray mengibaskan tangannya dihadapanku.

“Ngga kok Ray. Aku ga percaya aja kalau hari ini aku bisa ngeliat kamu. Kamu pucet banget. Sakit?” Tanyaku seraya menyentuh wajahnya.

Ray menunduk seraya menggelengkan kepalanya. Wajahnya terlihat muram. Entah apa yang terjadi padanya dalam tempo satu bulan ini.

“Kamu kenapa Ray?”

“Ga papa Ra. Ra, aku mau tanya, kamu jawab jujur ya.”

“Tanya apa?”

“Apa kamu masih mencintai aku?” Matanya menatap ku.

“Ngga perlu aku jawab, kamu pasti sudah tau jawabannya kan, Ray?”

“Tapi aku mau denger langsung dari kamu. Please.” Ku lihat matanya basah, membendung air mata.

“Ya Ray. Aku masih mencintai kamu. Dari dulu sampai sekarang, perasaan aku tetep sama ke kamu.”

Ray mengecup keningku, ku rasakan ada air mata yang menetis di pipiku. Ray memelukku. Ku rasa ada yang berbeda darinya. Ray yang ku kenal dulu begitu periang, namun kali ini ia terlihat begitu muram.

“Ada apa Ray? Cerita sama aku.” Aku seka air matanya dengan kedua tanganku.

“Ga ada apa-apa Ra. Aku cuma mau kamu tau, aku mencintai kamu. Apapun yang aku bilang ke kamu, semuanya bohong, yang bener cuma aku mencintai kamu sampai kapanpun.”

“Maksud kamu semuanya bohong apa Ray?”

Ray bangkit dari duduknya. Belum sempat ia menjawab pertanyaanku sedikit demi sedikit Ray memudar, menghilang.

“Ray! Jangan tinggalin aku, Ray!”

***

Aku terbangun di sebuah ruangan bercat biru. Ini kamarku. Ku atur deru nafasku yang masih memburu. Ku coba mencerna apa yang baru saja terjadi.

‘Kemana Ray? Apa tadi itu mimpi? Apa maksud perkataannya?’

Ku langkahkan kakiku ke arah westafel. Ku basuh wajahku, semuanya terasa begitu nyata. Jantungku masih menggebu cepat.

‘Apa terjadi sesuatu dengan Ray? Tak biasanya detak jantungku seperti ini.’ Ku putuskan untuk ke Bandung hari Minggu ini.

***

        Semenjak mimpi itu, aku gundah. Aku takut terjadi apa-apa dengan Ray. Hari ini, aku putuskan untuk pergi menemuinya. Beruntung, Ray pernah memberi tahu ku alamatnya di Bandung.

        Ku pacu mobilku dengan kecepatan tinggi. Tak peduli jika tindakanku dapat membahayakan nyawaku. Aku harus bertemu Ray, aku harus tau bagaimana keadaannya.

        Sesampainya aku di rumahnya, Aku memanggil-manggil nama Ray. Ray menampakkan dirinya. Rasa rindu yang selama ini terpendam, terluap secara spontan. Aku memeluknya, air mata ku tak kuasa terbendung karena bahagia bertemu dengannya. Ray melepas pelukanku. Ia terlihat bingung bagaimana aku bisa berada di Bandung. Ia mempersilahkan aku masuk dan duduk di sofa ruang tamunya.

        “Ada apa kamu ke Bandung Ra?” Tanya Ray bingung menatapku.

        “Aku cemas mikirin kamu. Satu bulan belakangan ini, kamu ngga pernah ngasih kabar. Apa kamu baik-baik aja?” Tanyaku seraya mengelus pipinya.

        “Aku baik-baik aja, Ra. Maaf kalau aku ngga ngasih kabar ke kamu. Sejujurnya, aku udah ngga sanggup ngejalanin hubungan sama kamu. Aku jenuh Ra, kalau cuma bisa berkomunikasi sama kamu lewat telfon atau sms. Aku butuh pacar yang bisa dengan mudah aku temuin. Maaf, tapi aku udah punya pacar baru Ra. Aku bingung gimana caranya nyudahin hubungan kita, maka dari itu aku ngga ngasih kabar ke kamu karena aku fikir, kamu akan segera ngelupain aku.” Jawab Ray, menjauhkan tanganku dari pipinya.

        Sakit rasanya mendengar semua itu keluar dari mulut Ray. Tak pernah terfikir olehku kalau Ray menduakanku. Rasanya bagaikan tersambar kilatan petir. Air mata kebahagiaan yang sempat membasahi pipiku, berubah menjadi air mata kesedihan yang menghujam hati dan benakku.

        “Kamu pasti bohong Ray. Kamu bercandakan?” Ucapku disela-sela rasa perih yang kurasakan. Jujur, hatiku menentang kenyataan ini.

        “Aku serius Ra. Sekarang kamu udah tau semuanya. Aku harap kamu ngerti. Lupain aku, lupain semua tentang kita. Aku ga sebaik yang kamu kira, Ra.”

        “Kalau emang yang kamu bilang bener, tolong tunjukin aku pacar baru kamu.” Tantangku seraya menyeka air mataku.

        “Ayo kalau kamu mau.”

        Ray menarik tanganku. Membawaku kesebuah rumah. Disana ia memanggil-manggil nama Indah. Jujur, hati ini terasa semakin sakit. Menyesal rasanya aku memintanya menunjukkan kekasih barunya padaku.

        Seorang gadis muncul dari balik pintu kayu tua. Gadis berjilbab, dia kah yang bernama Indah, kekasih baru Ray? Ia terlihat bingung dengan apa yang dilihatnya.

        “Ray ada apa?” Tanyanya sambil membuka pagar kecil rumahnya.

        “Tolong bilang sama perempuan ini, kalau kamu itu pacar aku.”

        “Ya tapi, ada apa Ray. Dia siapa?” Tanya Indah. Wajahnya menyiratkan kebingungan.

        “Dia mantan aku yang pernah aku certain ke kamu, Kira. Sekarang tolong bilang ke dia kalau kamu itu pacar aku.” Ucap Ray seraya melepaskan pegangan tangannya dari ku.

        “Ya, aku memang pacar kamu Ray.”

        “Sekarang kamu dengar kan? Aku udah punya Indah, Ra.”

        Ku tatap mata Ray lekat-lekat. Aku masih tak percaya semua kenyataan ini.

        “Tatap mata aku, dan tolong bilang. Apakah kamu masih mencintai aku atau ngga?”

        “Aku sudah ngga mencintai kamu lagi. Dan tolong, jangan pernah ganggu aku.”

        “Baik, kalau itu yang kamu mau Ray. Aku akan pergi dari hidup kamu.” Jawabku seraya berlari meninggalkan Ray dan Indah.

Hatiku hancur. Aku ke Bandung untuk bertemu dengan Ray karena aku mencemaskannya. Tapi ternyata ia tak perlu rasa cemas dari ku. Ia telah memiliki gadis lain. Mungkinkah ia sengaja menyakitiku? Ataukah ini karna ulahku sendiri yang membuatnya meninggalkanku?

        Ku pacu mobiku kembali ke Jakarta. Rasa hancur dan sedih membuatku memacu mobilku dengan kecepatan tinggi. Hingga tanpa sadar, aku menabrak sebuah mobil yang sedang menepi.

        “BRUAAAGG”

***

        Ku buka perlahan mataku, semuanya putih. Apakah ini mimpi seperti dulu? Perlahan penglihatanku yang nanar kembali normal, ini di rumah sakit. Ada mamaku yang tengah tertidur di sisiku. Aku membelai rambut ibuku. Ia terbangun. Mamaku bilang, kalau aku sudah 2 bulan koma di rumah sakit. Aku ingat kalau mobilku menabrak mobil lain di jalan tol.

        Kepalaku masih terasa sakit. Kakiku tak mampu ku gerakkan. Mungkinkah aku lumpuh karna kecelakaan itu?

        “Ma, kenapa kakiku ga bisa digerakkin?” Tanyaku, air mataku tak mampu terbendung.

        “Kamu lumpuh nak, dan leher kamu patah.” Ucap ibuku menangis, ia memelukku.

        Aku hanyut dalam kesedihan, aku cacat. Ray yang ku cintai tak akan lagi memberiku semangat. Bahkan sebelum aku seperti ini, ia telah meninggalkanku.

        “Ra, mama dapet surat. Katanya buat kamu. Ini suratnya.” Sambil menyodorkan sepucuk surat kepadaku.

        “Dari siapa ma?” Ku raih surat itu.

        “Mama kurang tau pasti Ra.”

        Kubuka surat itu dan mulai kubaca perlahan.

       
        Teruntuk malaikat kecil aku, Kira.

Ra, ini aku Ray. Aku sengaja ngga nulis nama aku di amplop ini karna aku takut kamu ngga mau baca.

        Ra, sebenarnya aku mengidap radang paru-paru kronis. Aku baru tau kalau aku mengidap penyakit itu, satu bulan yang lalu. Tepat saat aku udah ngga ngasih kamu kabar. Aku shock Ra. Aku tau, dengan aku memberitahu kamu tentang penyakit aku, justru hanya akan membuat kamu sedih. Aku ga sanggup ngeliat kamu sedih. Jadi aku buat rencana itu. Indah yang aku akuin  sebagai pacar aku, sebenarnya sepupuku yang belum pernah aku kenalin ke kamu. Aku minta bantuannya untuk mengaku kalau aku ini pacarnya. Awalnya dia menolak, tapi akhirnya dia mau karena dia tau tujuan aku bukan untuk menyakiti kamu.

        Ra, maafin aku. Aku ngelakuin itu semua karna dokter udah memvonis umur aku ngga lama. Aku ngga mau kamu sedih berlarut-larut. Maaf karna aku udah nyakitin hati kamu. Karna aku fikir, dengan aku buat kamu sakit hati, kamu akan ngelupain aku. Aku tau kamu bukanlah Rose Dowsen yang mampu cepat bangkit setelah Jack Dowsen udah ga ada. Dan juga aku tau, kita bukanlah Aphrodite dan Andonis, dimana kalaupun Andonis udah ngga ada, dia masih bisa nemuin Aphrodite setiap musim semi. Aku akan pergi buat selamanya Ra, aku ngga akan mampu nemuin kamu lagi. Tapi ternyata aku justru buat kamu celaka. Maafin aku, Ra.

        Aku mencintai kamu, Ra. Masih sangat mencintai kamu. Aku bohong kalau bilang aku ngga mencintai kamu. Maafin aku ya Ra. Walaupun aku udah ngga lagi hidup di dunia yang sama seperti kamu. Dan kamu ngga lagi bisa liat aku. Tapi aku akan selalu ada di deket kamu dan hidup di hati kamu selama kamu masih mencintai aku.

        Selamat tinggal Kira. I LOVE YOU..

        Air mataku semakin membanjiri pipiku. Terkutuklah aku, mengapa aku bisa lupa kalau Ray pernah datang di dalam mimpiku dan bilang kalau apa yang dia ucapkan itu bohong? Aku hanya memikirkan perasaanku yang hancur kala itu, tanpa aku mencoba mengingat mimpi itu. Harusnya aku bisa nemenin Ray dan buat kenangan indah sama dia. Aku begitu bodoh!
 
“Ma, apa Ray sempet kesini?” Tanyaku.

        “Sempet Ra, tapi…” Mamaku menunduk.

        “Tapi apa ma? Kalau Kira udah sembuh, Kira mau ketemu Ray. Ray lagi sakit ma. Mama temenin Kira ya, Kira ngga mungkin kesana sendiri.” Ucapku merengek.

        “Ray udah ngga ada Ra. Dia meninggal seminggu yang lalu.”

        “Mama pasti bohong kan ma? Ray masih hidup.” Air mataku  tak henti-hentinya mengalir. Terasa sulit untuk menerima semua kenyataan ini. Aku tak bisa menemani Ray di akhir sisa hidupnya karena kebodohanku sendiri.

        “Ray maafin aku.. Aku sayang kamu.. Maafin aku..” Teriakku histeris..

Nafasku berat. Penglihatanku berubah nanar. Terlihat dokter dan suster mengelilingiku. Dan mamaku menjauh, memeluk papa dengan berlinang air mata. Semua berubah gelap. Hanya sayup-sayup terdengar teriakan mama memanggil namaku.

‘Hhhhh… Ray, tolong tunggu aku. Maafin semua kebodohan aku. Aku masih sayang kamu.’ Pikirku.

***
       

Pesan penulis:            

 

Dekaplah orang yang kamu cintai selagi ia di dekatmu. Cintailah dia,selama ia mencintaimu. Lindungilah ia disaat ia membutuhkanmu. Pedulilah padanya seperti dia peduli padamu. Karena takdir tak mudah ditebak. Ketika mereka pergi, mereka tak akan pernah kembali tuk mewarnai hidupmu lagi.

Kalian bukan Aphrodite dan Andonis, walaupun Andonis tlah tiada. Andonis tetap bisa bertemu Aphrodite setiap musim semi. Sekali orang yang kamu cintai pergi, dia tak akan kembali.

Kalian bukanlah romeo dan Juliet, dimana saat Romeo tlah tiada, Juliet menyusulnya. Karena di alam lain pun kalian belum tentu bisa bersama.

Kalian bukan Rose dan Jack Dawsen, disaat Jack tlah tiada, Rose mampu secepatnya bangkit. Kalian tidak mungkin setegar itu bukan? Karna saat orang yang kalian cintai pergi meninggalkan kalian, yang tersisa hanyalah keterpurukan dalam kesedihan dan kesepian.

Kalian juga buka Edward Cullen dan Bella Swan yang mampu hidup abadi bersama selamanya. Karna suatu saat nanti entah kalian, ataupun orang yang kalian cintai akan pergi terlabih dahulu.

Hargailah keberadaan orang yang kalian cintai selama ia masih mampu tersenyum, masih mampu berada di sisi mu, masih mampu mewarnai hidupmu. Jangan sia-siakan mereka, karena saat ia menghilang dari hidupmu untuk selamanya. Sosoknya tak akan pernah kembali, hanya akan menyisakan rasa sesak dan kenangan selama bersama mereka.

 

 

 

By     :       Salma Nara Fadhilla

Sesal


‘Derrrt.. Derrttt’

        Ponselku bergetar tertanda ada sebuah pesan masuk, entah dari siapa. Ku raih ponselku yang tergeletak di atas sofa. Dari Qinar.

        ‘Huft, lagi-lagi nanya lagi apa. Bosen banget! Ga usah di bales ah.’ Ku banting ponselku kembali ke sofa.

        Qinar, gadis yang sudah 3 tahun ini menjadi kekasihku. Gadis yang baik hati, pengertian, dan penuh perhatian. Tapi harus ku akui, aku jenuh dengan hubungan kami yang flat. Sehari-hari, hanya bertanya sedang apa, seperti detektif saja.

        Kejenuhan akan hubunganku lah yang membuatku mengambil tindakan untuk menduakannya. Gadis itu bernama Hani. Ia tau kalau aku menjadikannya yang kedua, namun menurutnya itu tak jadi masalah. Aku tahu, Qinar pasti terluka jika tahu yang sebenarnya.

        Mungkin kalian berpikir aku playboy. Tak dapat kupungkiri, hati ku masih milik Qinar seutuhnya. Aku melakukan semua ini, hanya karna aku jenuh dengan hubunganku. Setelah kejenuhanku sirna, aku berjanji pada diriku sendiri kalau aku akan meninggalkan Hani dan kembali ke Qinar.

        ‘Dert…Deerrttt’

        Ponselku kembali bergetar. Kali ini, pesan masuk dari Hani. Ia mengajakku bertemu di mall besok. Aku mengiyakan ajakannya.

***

Hari dimana kami sepakat untuk bertemu pun datang. Ku pacu sepeda motor ku menuju mall tempat Hani mengajak bertemu. Sesampainya disana, aku hanya mendapati Hani sendirian. Tak ada tanda-tanda kawan atau siapapun yang dia ajak.

‘Mungkin kali ini jalan berdua.’ Pikirku.

Hani mengajak ku menonton film ‘Surat Kecil untuk Tuhan’. Ceritanya begitu menyentuh. Aku berharap orang-orang disekitarku tak ada yang memiliki penyakit berbahaya hingga harus berjuang melawan maut seperti itu.

Selepas dari bioskop, kami beranjak ke Solaria untuk makan siang. Tanganku tak luput dari rangkulan manja Hani. Sungguh berbanding terbalik dengan Qinar yang enggan mempertontonkan kemesraan di depan umum.

Di solaria, Hani banyak berceloteh mengenai keluarganya. Jenuh aku mendengarnya, namun aku tak sanggup untuk memintanya untuk menyudahi celotehannya. Rasanya tak tega kalau harus mengecewakannya. Rasa yang berbeda dengan apa yang kulakukan pada Qinar. Bahkan aku sanggup menduakannya, menduakan gadis yang selama ini setia disampingku. Bodohkah aku menduakannya? Tegakah aku padanya? Ataukah jauh di dalam jati diriku, aku hanyalah seorang begundal brengsek yang memainkan hati seorang gadis? Entahlah, aku tak tahu harus bilang apa. Mungkin itu semua disebabkan oleh kejenuhanku akan hubunganku dengan Qinar yang telah mencapai ambang overdosis.

“Dio, kamu dengerin aku kan dari tadi?” Tanya Hani padaku yang sedari tadi termangu memikirkan dosa yang telah ku lakukan pada Qinar.

“Iya, aku denger kok. Cuma, aku lapar. Jadi aku ga bisa banyak ngasih komentar.” Jawabku singkat.

Hani terlihat BT mendengar jawanku. Wajahnya merengut, menunjukkan kekesalannya padaku. Aku diam, tak kucoba untuk menghibur Hani.

Sesaat kami larut dalam keheningan. Hingga ku rasa, ada beberapa langkah kaki yang menuju ke arah kami. Aku menoleh, berharap itu adalah waitress pembawa pesananku. Tapi justru apa yang kulihat membuatku diam membatu. Qinar menghampiriku bersama beberapa temannya. Wajah Qinar berlinang air mata, terlihat pucat. Entah karna sedih atau karna sedang tidak enak badan.

“Semoga kamu bahagia dengan apa yang kamu lakukan, Dio. Semoga kamu bahagia dengan gadis pilihan kamu.” Ucap Qinar seraya menyeka air matanya.

Saat itu, aku hanya bisa diam membatu. Tak tahu harus berkata apa, bibirku terasa kelu untuk berucap sesuatu. Qinar tak marah padaku, dia justru mendoakan kebahagiaanku. Qinar berlari meninggalkan aku. Aku mengejarnya, berharap ia mau memaafkanku.

“Qinar, maafin aku. Jujur, aku masih mencintai kamu.” Ucapku megenggam tangannya.

“Udah, Dio. Jangan diterusin lagi. Jangan bohongin perasaankamu lagi.” Ucap Qinar. Air mata semakin membasahi pipinya.

“Aku benar-benar masih mencintai kamu, Qi.”

“Please, Dio. Jangan katakan kamu mencintai aku lagi. Kamu jangan bohongin perasaan kamu. Aku tau, kamu mencintai Hani. Maka dari itu, kamu menduakan aku. Aku ga nyalahin kamu, karna aku tau, semua ini pasti aku yang salah. Aku yang ga bisa jadi pacar yang baik buat kamu.” Ucap Qinar. Tangannya mendekap erat wajahku. “Sekarang, aku ngelepasin kamu Dio. Aku bebasin kamu untuk memilih siapa yang kamu cintai.” Qinar melangkahkan kakinya meninggalkan aku, disusul oleh teman-temannya yang memandangku dengan pandangan murka.

 Aku terdiam, dilema antara Hani dan Qinar. Otak dan hatiku bersitegang. Dalam hati, aku mencintai Qinar. Tapi otakku seakan membisikkan sesuatu, kalau mungkin aku akan kembali jenuh bila bersama Qinar. Aku gundah, kuputuskan untuk memilih Hani.

Tiap langkah yang ku ambil untuk kembali ke solaria bersama Hani terasa begitu berat. Rasa bersalahku pada Qinar membuatku enggan untuk kembali pada Hani, tapi apa mau dikata, aku tetap kembali pada Hani.

Hani menyambutku dengan menggandeng tanganku. Ia merebahkan kepalanya dibahuku, danberkata bahwa ia mencintaiku.

‘Tuhan, tunjukkanlah pada Qinar kalau ia salah. Aku sungguh-sungguh masih mencintainya. Justru kali ini, aku sedang membohongi perasaanku. Tak sedikitpun rasa cintaku untuk Hani. Aku memang sempat menyukainya, tapi hanya sebatas suka, bukan cinta selayaknya yang kurasakan pada Qinar.’ Umpatku dalam hati.

Selepas kejadian itu, aku hanya dapat terdiam, membisu. Tak ada sepatah katapun keluar dari mulutku. Hanya anggukan dan senyuman yang dapat kuberikanpada Hani jika ia berceloteh padaku.

***

        Dua bulan berlalu. Tak ada sedikitpun kabar dari Qinar.

        ‘Bencikah ia padaku? Atau dia sudah menemukan  pendamping yang lain? Entahlah, semoga ia mendapatkanyang terbaik untuknya, tidak sepertiku yang hanya mampu menghancurkan perasaannya. Tapi, mengapa saat itu dia tidak marah padaku? Dia justru mendoakan kebahagiaanku. Apa ituu yang dinamakan cinta sejati? Cinta yang orang bilang cukup dengan melihat orang yang dicintai bahagia?’

        Hubunganku dengan Hani masih sama seperti sebelum Qinar mengetahui semuanya. Perasaanku pun masih sama, masih tak mampu mencintai Hani.

        Hari ini, teman-temanku mengajakku bertemu, di mall tempat Qinar melihat aku jalan dengan Hani 2 bulan yang lalu. Masih terngiang dalam benakku saat-saat aku mengejar Qinar yang terluka karna ulahku. Trauma rasanya kembali ke tempat itu, namun ya mungkin tak akanapa-apa bila bersama teman-temanku. Mungkin mereka bisa sedikit benghiburku dan melupakan sejenak rasa bersalahku pada Qinar.

        Setibanya disana, aku bergegas menuju bioskop membeli tiket untuk teman-temanku. Aku menunggu mereka sambil duduk di sofa bioskop. Ku lirik jam tangan yang menempel erat di tangan kananku, 15 menit sudah aku menunggu mereka.

        ‘Huft, ngaret lagi.’ Pikirku.

         Sesering mungkin ku tengok pintu masuk bioskop, masih sepi. Tak ada tanda-tanda teman-temanku datang. Sekali lagi ku tengok pintu itu, yang kulihat justru mebelalak mataku. Hani yang selama ini berkata bahwa ia mencintaiku justru melangkah masuk dengan merangkul tangan laki-laki lain. Emosiku tak mampu terbendung. Ku langkahkan kakiku mendekatinya.

        “Dio, kamu ngapain disini?” Tanya Hani terbata-bata. Bergegas ia melapas pegangan tangannya.

        “Ga penting kenapa aku disini. Dia siapa?” Tanyaku menunjuk ke arah laki-laki di samping Hani.

        “Gue pacarnya Hani. Lo siapa? Ga usah nunjuk-nunjuk deh lo.” Jawab laki-laki itu dengan nada emosi.

        “Gue jg pacarnya Hani. Jadi selama ini, lo bilang sayang sama gue semuanya palsu? Bego gue, Ni bisa percaya sama lo. Mulai sekarang kita putus!” Ucapku seraya melangkahkan kakiku menjauhi Hani.

        Aku bertemu teman-temanku di dekat lift. Aku menjelaskan semuanya dari awal. Dari aku menghianati kepercayaan Qinar. Mereka menyarankan agar aku meminta maaf pada Qinar, mereka yakin Qinar akan memaafkanku. Aku bergegas ke rumah Qinar, ku serahkan tiket nonton yang ku beli pada mereka.

        Setibanya aku di rumah Qinar, kulihat Qinar sedang menyirami tanaman di halaman rumah. Dengan ragu, ku panggil namanya dan ia membuka pagar rumahnya. Mempersilahkan aku masuk dengan senyumannya yang khas.

        “Ada apa Dio?” Tanyanya.

        Sejenak ku perhatikan penampilannya yang jauh berbeda. Sekarang dia begitu kurus, pucat. Aku segera mengalihkan pandanganku darinya.

        “Aku mau minta maaf Qi. Maafin aku. Sekarang aku sadar udah begitu bodoh nyia-nyiain dan ninggalin kamu. Aku berharap kamu mau kembali jadi pacar aku.” Jawabku memohon padanya.

        “Aku udah maafin kamu dari dulu Dio. Dan andaikan aku bisa, aku pasti mau kembali jadi pacar kamu. Tapi sayangnya, ngga.”

        “Ada apa Qi? Kamu sudah punya pacar baru?”

        “Ngga Dio, bukan itu penyebabnya.” Jawabnya seraya menggelengkan kepalanya.

        “Lalu apa?”

        “Kamu lihat kan penampilan aku. Aku bukan Qinar yang dulu. Sudah sejak lama aku mengidap kanker otak. Aku udah coba semua pengobatan, dengan harapan aku bisa terus nemenin kamu. Sebenarnya aku mau cerita ke kamu, tapi belum sempet. Dan, semenjak kejadian itu, aku kehilangan harapan, Dio. Aku menghentikan semua pengobatanku, aku pasrah kalau Tuhan ingin segera menjemputku.” Jawabnya. Kulihat air mata mengalir dari sudut matanya.

        “Jadi? Jadi kamu kena kanker otak Qinar? Kenapa kamu ga pernah bilang sama aku? Kenapa Qinar!” Air mataku tak dapat terbendung.

        “Aku udah mau cerita, Dio. Tapi sebelum aku cerita, aku ngeliat kamu sama perempuan itu. Aku urungkan niat aku untuk ngasih tau kamu. Karna aku ga mau, kamu milih aku hanya karna iba. Jujur, aku masih mencintai kamu.” Ucapnya menatap mataku.

        Tatapannya tak mengisyaratkan kebohongan. Hanya kejujuran yang tampak dari sepasang matanya yang mengembun.

        “Maafin aku Qinar. Aku bener-bener udah berdosa sama kamu. Aku bodoh udah nyia-nyiain kamu. Aku masih mencintai kamu. Sekarang kamu lanjutin ya pengobatannya.” Aku memeluk Qinar erat.

        “Sssst ga ada yang perlu sesalin Dio. Mungkin emang udah jalanku kaya gini. Aku udah senang banget bisa jadi pacar kamu 3 tahun ini. Udah ngga bisa Dio, kanker ku udah akut. Dokter bilang udah ngga ada harapan lagi.” Setetes cairan merah yang kuyakini itu darah, menetes dari hidungnya.

        “Qinar, kamu mimisan. Kamu istirahat aja ya. Aku pulang aja.” Aku bangkit dari sofa.

        “Jangan Dio. Tolong temenin aku disini. Aku mohon. Aku mau tidur dibahu kamu aja. Please Dio.” Ucap Qinar menarik tanganku.

        “Ya udah- ya udah. Dimana tempat tisunya. Biar aku yang ambilin.”

        “Ada di belakang yo, di dekat lemari.”

        Ku langkahkan kakiku menuju lemari. Setiap langkah yang ku ambil, tiap kali itu juga aku mengutuk diriku. Mengapa aku begitu bodoh menyia-nyiakannya! Mengapa aku tega membiarkan dia melewati masa sulit penyakitnya sendirian! Dasar bodoh!! Kalau sampai terjadi sesuatu sama Qinar, aku ga akan memaafkan diriku sendiri.

        “Ini Qinar tisunya.”

        “Makasih ya Dio.” Jawabnya seraya menyambar tisu yang ada di tanganku. Qinar meletakkan kepalanya di bahuku. “Aku seneng banget kamu kesini dan mau nemenin aku. Makasih ya. Aku pernah berharap, bisa bersama kamu lagi Dio. Mendengar kamu bilang kalau kamu masih mencintai aku. Dan itu semua udah ke kabul. Aku rela kalau Tuhan menjemputku sekarang.”

        “Hsst. Kamu ga boleh bilang kaya gtu. Kalau terjadi sesuatu sama kamu, aku ngga akan maafin diri aku sendiri. Karna aku penyebab kamu menghentikan semua pengobatan kamu. Kamu pasti sembuh.” Ucapku mengecup rambutnya. Tak dapat dipungkiri akupun takut ia akan pergi untuk selamanya, aku mendekapnya erat.

        “Bukan salah kamu Dio. Kamu harus ingat, alasan aku bertahan karena kamu. Alasan aku selama ini bisa tersenyum diantara penyakitku ini juga karena kamu. Jadi kau ga boleh merasa bersalah.”

        “Tapi Qinar..”

        “Aku ga mau mendengar kata tapi. Aku mau, kalau sesuatu terjadi sama aku, kamu bisa segera bangkit ya Dio. Karena aku kan selalu hidup di hati kamu, sebagai kenangan kamu.” Ucapnya tersenyum ke arah ku.

        “Tolong jangan bilang kaya gitu Qinar. Aku ga sanggup kehilangan kamu. Aku mencintai kamu.” Air mata membasahi pipiku.

        “Aku juga mencintai kamu Dio. Dan aku bahagia bisa bersama kamu. Aku ga mau ngeliat kamu sedih karna aku.” Ucapnya. Matanya terpejam sambil tangannya tetap mendekap tubuhku.

        Aku tak mampu menahan air mataku. Air mata terus mengalir dari sudut mataku. Perasaanku begitu kalut, takut kalau Qinar akan meninggalkanku. Aku menyesal pernah menyia-nyiakannya.

        “Qinar, Qinar bangun sayang. Kamu istirahat dikamar aja ya.” Tak ada sahutan dari Qinar, matanya tetap terpejam.

        “Qinar bangun, tolong jangan tinggalin aku. Qinar. Aku mencintai kamu. Bangun” Tangisku pecah melihat Qinar telah terbujur kaku dalam dekapanku.

***

        “Qinar, udah satu bulan semenjak kepergian kamu. Kamu apa kabar disana? Aku merindukan mu. Kapan aku bisa menyusulmu kesana sayang. Aku benar-benar menyesal pernah menghancurkan perasaan kamu. Andai aku ngga pernah menduakan kamu, pasti sekarang kamu masih ada di sisi aku, mendukung apapun yang aku lakukan. Semoga kamu tenang disana ya sayang. Tunggu aku, suatu saat nanti aku akan menyusulmu. Aku mencintai kamu Qinar.”

Ku kecup batu nisan Qinar. Ku taburi bunga dimakamnya. Sekilas aku seperti melihat Qinar berpakaian serba putih tak jauh dari makamnya. Ia tersenyum melihatku. Namun, ia lekas lenyap tersapu angin. Mungkinkah senyumannya pertanda kalau dia masih mencintaiku? Apakah dia masih terus menemani tiap langkahku walaupun aku tak dapat melihatnya? Ataukah senyumannya menandakan bahwa dia baik-baik saja disana? Entahlah, hanya Qinar yang dapat menjawab semua pertanyaan itu.
 

 

THE END

 

 

By      :         Salma Nara Fadhilla