Mama
memacu mobil dengan kecepatan 20 km/jam. Maklum, di sepanjang jalan sedang ada
proyek penggalian yang membuat laju kendaraan tersendat.
‘Kapan
nyampenya sih?’ Pikirku dalam hati.
Mataku
menyipit karena sinar mentari telah menyilaukan mataku. Kemacetan yang terjadi
telah membuat emosiku bergejolak. Terlebih lagi, udara panas hari itu turut
membantu naiknya emosiku. Aku hanya mampu bergumam di dalam mobil. Sementara
mamaku masih berharap kalau sebentar lagi jalan akan lengang.
Entah
keajaiban apa yang terjadi, deretan mobil di hadapan kami mulai bergerak
sedikit demi sedikit. Ternyata, proyek galian itu hanya sampai jarak 15 meter
dari mobil kami. Setelah melewati proyek galian itu, mama memacu mobil dengan
kecepatan 60 km/jam. Lima belas menit kemudian, kami tiba di pasar Kramat Jati.
Kami segera menuju toko obat langganan mamaku. Manta, pemilik toko obat itu
segera menyambut kami.
“Pesananku
mana Manta?” Tanya mama.
“Ini
tante.” Jawabnya seraya memberikan sebuah plastik yang penuh dengan obat.
“Hmmp..
Ada tambahan nih Manta.” Kata mamaku sambil menyerahkan daftar
obat
tambahan.
“Sebentar
tante, aku cari dulu di gudang.” Kata Manta.
Selama
Manta pergi, selama itu pula aku melihat ke arah jam tanganku. Jarum jam yang
terus berdetik membuatku jenuh. Lima menit, sepuluh menit, lima belas menit
telah berlalu, namun Manta tak kunjung kembali. Sesekali aku menoleh ke arah
jalan yang tadi ia lewati. Namun, tetap saja batang hidungnya tak kunjung
terlihat.
‘Manta
kemana? Apa ketiduran di gudang? Kok lama banget?’
Kalimat
itu memenuhi benakku. Kini, aku terlihat bodoh dengan semua pikiran konyol itu.
Mana mungkin Manta tertidur di gudang yang penuh dengan obat-obatan? Beberapa
saat kemudian, aku mulai tertawa dalam hati. Tentunya, aku menertawakan diriku
sendiri. Aku semakin jenuh menunggu Manta. Lalu aku memutuskan untuk bermain
game di telepon genggamku.
Semakin
lama aku bermain game, semakin membuat rasa jenuhku bertambah. Cukup lama aku
bermain game, dan apa yang kurasakan? Aku justru merasa kalau rasa jenuhku
telah menyentuh ambang maximal. Aku mulai memasang wajah masam yang menandakan
kalau aku terlalu lelah menunggu.
Aku
menyandarkan kepalaku di tembok. Mataku menerawang jauh. Pikiranku terbang
entah kemana, yang pasti aku ingin segera menyingkirkan semua rasa jenuh ini.
Aku ingin segera pulang dan menikmati segelas lemon tea dirumah.
‘Akhhh!!
Kenapa kemarin aku berjanji untuk menemani mama sih? Duh, dasar
bodoh! You’re a big mouth Salma! Andai saja waktu itu aku tidak janji
akan menemani mama, aku pasti sedang bersantai di rumah. Aku bisa tidur dan
tidak harus tersengat teriknya matahari siang ini. Menikmati segelas lemon tea
dan menyandarkan tubuhku di kasur yang empuk. Akh, penyesalan memang selalu
datang belakangan.’
Aku terduduk lunglai, menyesali semua yang kukatakan. Kini, aku hanya mampu menjalani semua kejenuhan yang menjadi akibat dari mulut besarku. Mataku menerawang, membuat aku seperti melihat diriku di rumah. Diriku yang sedang menonton televisi dengan segelas lemon tea disampingku. Oh, betapa menyesalnya aku. Saat membayangkan semua itu, terdengar suara dari arah perutku.
“Kruyuk...
kruyuk”
Astaga,
aku lupa sarapan pagi ini. Sekarang perutku berteriak meminta pertanggung
jawabanku untuk mengisinya. Mama dan beberapa orang yang ada di toko obat itu
menoleh ke arahku. Aku tersipu malu, wajahku memerah.
“Sebesar
itukah suara yang ditimbulkan perutku hingga membuat semua orang menoleh
kesini? Apa salah kalau perutku berbunyi? Manusiawi kok, kalau nggak pernah
bunyi baru dipertanyakan!” Kataku menggerutu sendiri.
‘Aku
lapaaar!!’ Teriakku dalam hati.
Mama
menoleh ke arahku dan memperlihatkan senyuman kecil di wajahnya. Aku merasa
kalau mamaku mengetahui apa yang kurasakan. Beberapa saat kemudian, Manta kembali
dengan membawa sebuah kardus yang penuh dengan obat-obatan. Saat itu juga
wajahku yang masam berubah cerah. Akhirnya aku bisa pulang. Namun, kata-kata
yang dilontarkan oleh mulut mama, segera menghancurkan asaku untuk pulang.
“Beli
stethoscope sama tensi meter dimana ya Manta?” Tanya mama.
“Wah,
aku kurang tau. Tapi kayaknya sih di seputar sini ada.” Kata Manta.
“Ma,
makan dulu bisa ngga?” Kataku memohon. Saat itu, aku memasang wajah
innocent
yang mungkin menjadi salah satu wajah terkonyol sedunia.
“Nanti
ya, kalau stethoscope sama tensi meternya udah ketemu, kita langsung
makan.”
Kata mama sambil mengacak-acak rambutku. Aku mengangguk.
Aku
menemani mamaku berkeliling. Satu persatu toko kami datangi, namun jarang
sekali yang menjual kedua benda itu. Rasanya, sudah lama sekali kami mencari
namun kami tak kunjung mendapatkan kedua benda tersebut. Rasa laparku semakin
memuncak. Kini bukan hanya lapar yang kurasakan namun, pusing dan perutku
terasa perih. Wajahku memucat. Semakin kupaksakan berjalan, semakin terasa
berat di kepalaku. Pandanganku membuyar sesaat, aku semakin merasa pusing.
Aku
mencoba membujuk mamaku lagi untuk mengantarku makan namun, mamaku menolak.
Alasannya karena kami belum menemukan kedua benda tersebut. Emosiku mencapai
puncak. Aku sangat marah karena mamaku lebih mengutamakan usahanya dibanding
aku. Kini telingaku seperti mendengar dua buah bisikan yang saling
bertolak-belakang. Bagaikan perkataan antara malaikat melawan setan.
“Udah,
tinggalin aja mama kamu. Dia juga ngga mau nganter kan?” Bisik setan di
telinga
kiriku.
“Jangan!
Kamu kan sudah janji mau menemani mamamu dulu, baru makan. Janji
tepatin
dong!” Balas malaikat di telinga kananku.
Aku
bingung memilih, namun akhirnya setanlah yang menang. Aku memutuskan untuk
meninggalkan mamaku.
Dengan
emosi yang meluap-luap, aku memutuskan untuk meninggalkan mamaku dan mencari
tempat makan disekitar situ. Beruntungnya, aku sedang membawa uang tabunganku.
‘Terus
aja mentingin bisnis, lupain aja aku! Yang ada di kepala mama cuma bisnis,
bisnis dan bisnis. Aku sakit aja mama ngga peduli! Cuma nganter makan aja ngga
mau, paling berapa lama sih? Ngga akan nyampe seumur hidup kan!’ Kataku dalam
hati.
Saat
sibuk mencari tempat makan, aku melihat ada seorang gadis kecil yang sedang
menenangkan adiknya yang tak henti-hentinya menangis. Gadis kecil itu kira-kira
berumur 9 tahun. Adik yang ada dalam gendongannya terlihat menangis karena
lapar. Saat ada seorang ibu lewat di hadapan mereka, gadis kecil itu segera
mengangkat mangkuk di hadapannya dan berharap belas kasih dari ibu tersebut.
Aku memutuskan untuk menghampiri kakak beradik itu. Saat aku mendekat, gadis
itu kembali mengangkat mangkuk.
“Tolong
kak.. Kami lapar.” Kata gadis itu sambil tetap mendekap adiknya yang
menangis.
“Kalian
lapar? Kalian mau ikut kakak? Kebetulan, kakak juga mau makan.”
Kataku
membungkuk ke arah mereka duduk.
“Kakak
serius? Mau kak, mau!” Kata gadis itu semangat.
Anak
itu menggandeng tanganku. Adiknya tetap menangis di dekapannya. Berulang kali
sang kakak mencoba menenangkannya. Namun, setiap kali sang kakak mencoba
menenangkannya, adiknya justru semakin menangis. Kami berputar-putar di sekitar
pertokoan itu untuk mencari sebuah tempat makan. Tak lama kemudian, kami
melihat sebuah warung soto yang ramai pengunjung.
‘Kelihatannya,
tempat itu bersih dan pengunjungnya pun juga ramai. Mungkin makanannya enak.
Aku coba makan disana saja.’ Pikirku.
Aku
segera mencaari tempat duduk di warung itu namun, kedua kakak beradik itu hanya
terdiam membisu diluar. Mereka sepertinya enggan memasuki warung soto ini. Sang
kakak hanya melihat pengunjung yang sedang makan sambil menelan ludah sedangkan
sang adik tetap terus menangis. Aku mengajak mereka masuk, namun mereka
menolak. Walaupun mereka menolak, aku tetap memaksa mereka untuk makan
bersamaku. Aku menarik kedua tangan sang kakak dan dengan sedikit paksaan itu,
akhirnya ia mau duduk di sebelahku. Aku memesan dua porsi soto. Awalnya, aku
ingin memesan tiga, namun aku berpikir sepertinya adik gadis itu baru berumur 3
tahun dan anak berumur segitu tidak mungkin memakan makanan berat. Saat soto
dihidangkan, gadis itu hanya terdiam seribu bahasa, ia memandangi mangkuk soto
dihadapannya.
“Ayo
makan!” Kataku menyodorkan sendok ke arahnya.
“Ga
papa nih kak?” Katanya memandangku. Mata sayunya telah membuatku
semakin
iba.
“Ya
nggak papa kok. Ayo makan, kasihan adek kamu nangis terus.” Kataku.
Gadis
kecil itu segera melahab makanannya. Adiknya tertidur, mungkin karena lelah
menangis. Selama makan kami bercerita tentang diri kami masing-masing. Nama
gadis kecil itu adalah Nita, sedangkan adiknya bernama Ikhsan. Kedua kakak
beradik itu ternyata tinggal bersama neneknya. Mereka 3 bersaudara. Kakak tertua
mereka bekerja sebagai buruh serabutan di pasar. Orang tua mereka baru saja
meninggal karena sakit. Nenek mereka berprofesi sebagai peminta-minta juga.
Pendapatannya pun tak menentu. Terkadang mereka makan, tetapi lebih sering
berpuasa.
“Kakak
enak ya. Orang tua masih lengkap dan mereka termasuk kalangan yang berada.
Setiap kakak ingin sesuatu pasti tidak susah meminta pada orang tua. Sedangkan
aku, ingin makan saja susah. Sehari makan, dua hari tidak. Orang tuaku aja
ingin berobat tidak ada biaya sampai mereka meregang nyawa di gubuk reyot kami.
Kakak pasti rumahnya bagus, ngga bocor kaya rumah Nita. Coba Nita seperti
kakak!” Kata Nita hampir menangis.
‘Tuhan,
aku bahkan tidak ingat seberapa beruntungnya aku. Orang tua yang masih lengkap,
fasilitas yang mendukungku belajar, dan meminta apapun tidaklah susah. Padahal
masih banyak yang kurang beruntung di banding aku. Selama ini, aku
merasa kedua orangtuaku lebih memilih kerjaan daripada aku dan kakakku. Namun,
kini aku menyadari kalau semua yang kurasakan salah. Mereka bekerja untuk kami.
Agar kami bisa bersekolah setinggi-tingginya. Setiap ada sesuatu yang
kuinginkan, dengan mudah aku memaksa mereka membelikannya tanpa ku tahu betapa
sulitnya mencari uang. Aku pun sering menolak setiap mama meminta bantuanku.
Padahal, mama tak menolak saat harus bertarung antara hidup dan mati untuk
melahirkanku. Tuhan maafkan aku yang lupa bersyukur selama ini.’ Sesalku dalam
hati.
“Kakak
kenapa diam? Nita salah ngomong ya kak? Maaf ya kak. Tapi Nita bener-bener mau
jadi kakak. Kalau Tuhan memberi kesempatan, Nita ingin sekolah lagi. Nita ingin
memperbaiki hidup Nita, agar kelak keluarga Nita ngga seperti Nita sekarang.”
Kata Nita menunduk.
‘Selama
ini, aku masih bisa sekolah karena kedua orang tuaku. Tapi apa balasanku? Aku
justru enggan bangun pagi untuk ke sekolah. Saat mereka mencoba membangunkanku,
aku sering membentak mereka.’
Penyesalanku
semakin mendalam. Aku ingat, betapa mudahnya aku meninggalkan mama yang
kebingungan mencari stethoscope dan tensi meter. Padahal, seingatku
mama juga belum makan. Apa mama akan marah? Tapi, mama memang berhak marah
padaku.
Setelah
makan, aku membayar semua makanan itu. Ternyata, uangku masih tersisa beberapa
puluh ribu. Aku memberikan sisa uangku kepada Nita. Awalnya Nita menolak, namun
aku memaksa dengan alasan uang ini bisa untuk membeli bubur adiknya dan juga
membeli lauk yang cukup untuk makan hari ini. Nita dan adiknya pergi setelah
menerima uang dariku.
Aku
mencari mama ke toko obat langganannya. Dan ternyata benar, mama disitu. Mama
sudah siap marah kepadaku karena aku menghilang tanpa kabar. Mamaku mencoba
menghubungi handphoneku namun tak ku jawab. Sebelum ia marah kepadaku, aku
memeluknya dan meminta maaf akan sikapku selama ini. Mama bingung akan sikapku
kali itu, aku tak pernah mau dipeluknya namun kali ini justru aku yang
memeluknya. Amarah mamaku teredam. Ia bilang kalau ia telah memaafkanku. Dan
mama mengajakku pulang. Kedua benda itupun sudah terbeli.
Saat
dijalan pulang, aku merasa hari ini aku mendapat pelajaran tentang hidup. Bukan
dari guru atau kedua orang tuaku. Namun dari seorang gadis kecil yang telah
mengajarkanku kalau hidup akan lebih berarti jika bisa membahagiakan yang lain,
bukan kita yang membahagiakan diri kita karena kemewahan yang kita miliki.
Mataku
menerawang ke arah langit biru. Saat itu, aku seperti melihat wajah Nita yang
sedang tersenyum kearahku. Aku ingat semua permohonan yang ia kataka.
‘Terimakasih
teman keciku. Semoga suatu saat nanti, kamu benar-benar mampu merubah nasib
keluargamu kearah lebih baik.’ Doaku dalam hati untuknya.
***Tamat***
Pesan Penulis :
Jangan pernah
menganggap bahwa kamu adalah orang yang paling tidak beruntung di dunia, karena
jauh dari perkiraanmu masih banyak orang yang tidak beruntung. Syukurilah
hidupmu bagaimanapun keadaannya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar