Jumat, 13 April 2012

Kakak Beradik Bermangkuk Kecil

           Matahari bersinar terik. Jalanan di ibukota telah ramai oleh kendaraan yang berlalu lalang. AC mobilku tak mampu mengurangi teriknya matahari siang itu. Ingin rasanya berdiam diri di rumah, namun aku sudah terlanjur berjanji untuk menemani mamaku pergi ke Kramat Jati.

            Mama memacu mobil dengan kecepatan 20 km/jam. Maklum, di sepanjang jalan sedang ada proyek penggalian yang membuat laju kendaraan tersendat.

            ‘Kapan nyampenya sih?’ Pikirku dalam hati.

            Mataku menyipit karena sinar mentari telah menyilaukan mataku. Kemacetan yang terjadi telah membuat emosiku bergejolak. Terlebih lagi, udara panas hari itu turut membantu naiknya emosiku. Aku hanya mampu bergumam di dalam mobil. Sementara mamaku masih berharap kalau sebentar lagi jalan akan lengang.

            Entah keajaiban apa yang terjadi, deretan mobil di hadapan kami mulai bergerak sedikit demi sedikit. Ternyata, proyek galian itu hanya sampai jarak 15 meter dari mobil kami. Setelah melewati proyek galian itu, mama memacu mobil dengan kecepatan 60 km/jam. Lima belas menit kemudian, kami tiba di pasar Kramat Jati. Kami segera menuju toko obat langganan mamaku. Manta, pemilik toko obat itu segera menyambut kami.

            “Pesananku mana Manta?” Tanya mama.

            “Ini tante.” Jawabnya seraya memberikan sebuah plastik yang penuh dengan obat.

            “Hmmp.. Ada tambahan nih Manta.” Kata mamaku sambil menyerahkan daftar

              obat tambahan.

            “Sebentar tante, aku cari dulu di gudang.” Kata Manta.

            Selama Manta pergi, selama itu pula aku melihat ke arah jam tanganku. Jarum jam yang terus berdetik membuatku jenuh. Lima menit, sepuluh menit, lima belas menit telah berlalu, namun Manta tak kunjung kembali. Sesekali aku menoleh ke arah jalan yang tadi ia lewati. Namun, tetap saja batang hidungnya tak kunjung terlihat.

            ‘Manta kemana? Apa ketiduran di gudang? Kok lama banget?’

            Kalimat itu memenuhi benakku. Kini, aku terlihat bodoh dengan semua pikiran konyol itu. Mana mungkin Manta tertidur di gudang yang penuh dengan obat-obatan? Beberapa saat kemudian, aku mulai tertawa dalam hati. Tentunya, aku menertawakan diriku sendiri. Aku semakin jenuh menunggu Manta. Lalu aku memutuskan untuk bermain game di telepon genggamku.

            Semakin lama aku bermain game, semakin membuat rasa jenuhku bertambah. Cukup lama aku bermain game, dan apa yang kurasakan? Aku justru merasa kalau rasa jenuhku telah menyentuh ambang maximal. Aku mulai memasang wajah masam yang menandakan kalau aku terlalu lelah menunggu.

            Aku menyandarkan kepalaku di tembok. Mataku menerawang jauh. Pikiranku terbang entah kemana, yang pasti aku ingin segera menyingkirkan semua rasa jenuh ini. Aku ingin segera pulang dan menikmati segelas lemon tea dirumah.

            ‘Akhhh!! Kenapa kemarin aku berjanji untuk menemani mama sih? Duh, dasar bodoh! You’re a big mouth Salma! Andai saja waktu itu aku tidak janji akan menemani mama, aku pasti sedang bersantai di rumah. Aku bisa tidur dan tidak harus tersengat teriknya matahari siang ini. Menikmati segelas lemon tea dan menyandarkan tubuhku di kasur yang empuk. Akh, penyesalan memang selalu datang belakangan.’
       
             Aku terduduk lunglai, menyesali semua yang kukatakan. Kini, aku hanya mampu menjalani semua kejenuhan yang menjadi akibat dari mulut besarku. Mataku menerawang, membuat aku seperti melihat diriku di rumah. Diriku yang sedang menonton televisi dengan segelas lemon tea disampingku. Oh, betapa menyesalnya aku. Saat membayangkan semua itu, terdengar suara dari arah perutku.

            “Kruyuk... kruyuk”

            Astaga, aku lupa sarapan pagi ini. Sekarang perutku berteriak meminta pertanggung jawabanku untuk mengisinya. Mama dan beberapa orang yang ada di toko obat itu menoleh ke arahku. Aku tersipu malu, wajahku memerah.

            “Sebesar itukah suara yang ditimbulkan perutku hingga membuat semua orang menoleh kesini? Apa salah kalau perutku berbunyi? Manusiawi kok, kalau nggak pernah bunyi baru dipertanyakan!” Kataku menggerutu sendiri.

            ‘Aku lapaaar!!’ Teriakku dalam hati.

            Mama menoleh ke arahku dan memperlihatkan senyuman kecil di wajahnya. Aku merasa kalau mamaku mengetahui apa yang kurasakan. Beberapa saat kemudian, Manta kembali dengan membawa sebuah kardus yang penuh dengan obat-obatan. Saat itu juga wajahku yang masam berubah cerah. Akhirnya aku bisa pulang. Namun, kata-kata yang dilontarkan oleh mulut mama, segera menghancurkan asaku untuk pulang.

            “Beli stethoscope sama tensi meter dimana ya Manta?” Tanya mama.

            “Wah, aku kurang tau. Tapi kayaknya sih di seputar sini ada.” Kata Manta.

            “Ma, makan dulu bisa ngga?” Kataku memohon. Saat itu, aku memasang wajah

              innocent yang mungkin menjadi salah satu wajah terkonyol sedunia.

            “Nanti ya, kalau stethoscope sama tensi meternya udah ketemu, kita langsung

              makan.” Kata mama sambil mengacak-acak rambutku. Aku mengangguk.

            Aku menemani mamaku berkeliling. Satu persatu toko kami datangi, namun jarang sekali yang menjual kedua benda itu. Rasanya, sudah lama sekali kami mencari namun kami tak kunjung mendapatkan kedua benda tersebut. Rasa laparku semakin memuncak. Kini bukan hanya lapar yang kurasakan namun, pusing dan perutku terasa perih. Wajahku memucat. Semakin kupaksakan berjalan, semakin terasa berat di kepalaku. Pandanganku membuyar sesaat, aku semakin merasa pusing.

            Aku mencoba membujuk mamaku lagi untuk mengantarku makan namun, mamaku menolak. Alasannya karena kami belum menemukan kedua benda tersebut. Emosiku mencapai puncak. Aku sangat marah karena mamaku lebih mengutamakan usahanya dibanding aku. Kini telingaku seperti mendengar dua buah bisikan yang saling bertolak-belakang. Bagaikan perkataan antara malaikat melawan setan.

            “Udah, tinggalin aja mama kamu. Dia juga ngga mau nganter kan?” Bisik setan di

              telinga kiriku.

            “Jangan! Kamu kan sudah janji mau menemani mamamu dulu, baru makan. Janji

              tepatin dong!” Balas malaikat di telinga kananku.

            Aku bingung memilih, namun akhirnya setanlah yang menang. Aku memutuskan untuk meninggalkan mamaku.

            Dengan emosi yang meluap-luap, aku memutuskan untuk meninggalkan mamaku dan mencari tempat makan disekitar situ. Beruntungnya, aku sedang membawa uang tabunganku.

            ‘Terus aja mentingin bisnis, lupain aja aku! Yang ada di kepala mama cuma bisnis, bisnis dan bisnis. Aku sakit aja mama ngga peduli! Cuma nganter makan aja ngga mau, paling berapa lama sih? Ngga akan nyampe seumur hidup kan!’ Kataku dalam hati.

            Saat sibuk mencari tempat makan, aku melihat ada seorang gadis kecil yang sedang menenangkan adiknya yang tak henti-hentinya menangis. Gadis kecil itu kira-kira berumur 9 tahun. Adik yang ada dalam gendongannya terlihat menangis karena lapar. Saat ada seorang ibu lewat di hadapan mereka, gadis kecil itu segera mengangkat mangkuk di hadapannya dan berharap belas kasih dari ibu tersebut. Aku memutuskan untuk menghampiri kakak beradik itu. Saat aku mendekat, gadis itu kembali mengangkat mangkuk.

            “Tolong kak.. Kami lapar.” Kata gadis itu sambil tetap mendekap adiknya yang

            menangis.

            “Kalian lapar? Kalian mau ikut kakak? Kebetulan, kakak juga mau makan.”

            Kataku membungkuk ke arah mereka duduk.

            “Kakak serius? Mau kak, mau!” Kata gadis itu semangat.

            Anak itu menggandeng tanganku. Adiknya tetap menangis di dekapannya. Berulang kali sang kakak mencoba menenangkannya. Namun, setiap kali sang kakak mencoba menenangkannya, adiknya justru semakin menangis. Kami berputar-putar di sekitar pertokoan itu untuk mencari sebuah tempat makan. Tak lama kemudian, kami melihat sebuah warung soto yang ramai pengunjung.

            ‘Kelihatannya, tempat itu bersih dan pengunjungnya pun juga ramai. Mungkin makanannya enak. Aku coba makan disana saja.’ Pikirku.

            Aku segera mencaari tempat duduk di warung itu namun, kedua kakak beradik itu hanya terdiam membisu diluar. Mereka sepertinya enggan memasuki warung soto ini. Sang kakak hanya melihat pengunjung yang sedang makan sambil menelan ludah sedangkan sang adik tetap terus menangis. Aku mengajak mereka masuk, namun mereka menolak. Walaupun mereka menolak, aku tetap memaksa mereka untuk makan bersamaku. Aku menarik kedua tangan sang kakak dan dengan sedikit paksaan itu, akhirnya ia mau duduk di sebelahku. Aku memesan dua porsi soto. Awalnya, aku ingin memesan tiga, namun aku berpikir sepertinya adik gadis itu baru berumur 3 tahun dan anak berumur segitu tidak mungkin memakan makanan berat. Saat soto dihidangkan, gadis itu hanya terdiam seribu bahasa, ia memandangi mangkuk soto dihadapannya.

            “Ayo makan!” Kataku menyodorkan sendok ke arahnya.

            “Ga papa nih kak?” Katanya memandangku. Mata sayunya telah membuatku

              semakin iba.

            “Ya nggak papa kok. Ayo makan, kasihan adek kamu nangis terus.” Kataku.

            Gadis kecil itu segera melahab makanannya. Adiknya tertidur, mungkin karena lelah menangis. Selama makan kami bercerita tentang diri kami masing-masing. Nama gadis kecil itu adalah Nita, sedangkan adiknya bernama Ikhsan. Kedua kakak beradik itu ternyata tinggal bersama neneknya. Mereka 3 bersaudara. Kakak tertua mereka bekerja sebagai buruh serabutan di pasar. Orang tua mereka baru saja meninggal karena sakit. Nenek mereka berprofesi sebagai peminta-minta juga. Pendapatannya pun tak menentu. Terkadang mereka makan, tetapi lebih sering berpuasa.

            “Kakak enak ya. Orang tua masih lengkap dan mereka termasuk kalangan yang berada. Setiap kakak ingin sesuatu pasti tidak susah meminta pada orang tua. Sedangkan aku, ingin makan saja susah. Sehari makan, dua hari tidak. Orang tuaku aja ingin berobat tidak ada biaya sampai mereka meregang nyawa di gubuk reyot kami. Kakak pasti rumahnya bagus, ngga bocor kaya rumah Nita. Coba Nita seperti kakak!” Kata Nita hampir menangis.

            ‘Tuhan, aku bahkan tidak ingat seberapa beruntungnya aku. Orang tua yang masih lengkap, fasilitas yang mendukungku belajar, dan meminta apapun tidaklah susah. Padahal masih banyak yang kurang beruntung di banding aku.  Selama ini, aku merasa kedua orangtuaku lebih memilih kerjaan daripada aku dan kakakku. Namun, kini aku menyadari kalau semua yang kurasakan salah. Mereka bekerja untuk kami. Agar kami bisa bersekolah setinggi-tingginya. Setiap ada sesuatu yang kuinginkan, dengan mudah aku memaksa mereka membelikannya tanpa ku tahu betapa sulitnya mencari uang. Aku pun sering menolak setiap mama meminta bantuanku. Padahal, mama tak menolak saat harus bertarung antara hidup dan mati untuk melahirkanku. Tuhan maafkan aku yang lupa bersyukur selama ini.’ Sesalku dalam hati.

            “Kakak kenapa diam? Nita salah ngomong ya kak? Maaf ya kak. Tapi Nita bener-bener mau jadi kakak. Kalau Tuhan memberi kesempatan, Nita ingin sekolah lagi. Nita ingin memperbaiki hidup Nita, agar kelak keluarga Nita ngga seperti Nita sekarang.” Kata Nita menunduk.

            ‘Selama ini, aku masih bisa sekolah karena kedua orang tuaku. Tapi apa balasanku? Aku justru enggan bangun pagi untuk ke sekolah. Saat mereka mencoba membangunkanku, aku sering membentak mereka.’

            Penyesalanku semakin mendalam. Aku ingat, betapa mudahnya aku meninggalkan mama yang kebingungan mencari stethoscope dan tensi meter. Padahal, seingatku mama juga belum makan. Apa mama akan marah? Tapi, mama memang berhak marah padaku.

            Setelah makan, aku membayar semua makanan itu. Ternyata, uangku masih tersisa beberapa puluh ribu. Aku memberikan sisa uangku kepada Nita. Awalnya Nita menolak, namun aku memaksa dengan alasan uang ini bisa untuk membeli bubur adiknya dan juga membeli lauk yang cukup untuk makan hari ini. Nita dan adiknya pergi setelah menerima uang dariku.

            Aku mencari mama ke toko obat langganannya. Dan ternyata benar, mama disitu. Mama sudah siap marah kepadaku karena aku menghilang tanpa kabar. Mamaku mencoba menghubungi handphoneku namun tak ku jawab. Sebelum ia marah kepadaku, aku memeluknya dan meminta maaf akan sikapku selama ini. Mama bingung akan sikapku kali itu, aku tak pernah mau dipeluknya namun kali ini justru aku yang memeluknya. Amarah mamaku teredam. Ia bilang kalau ia telah memaafkanku. Dan mama mengajakku pulang. Kedua benda itupun sudah terbeli.

            Saat dijalan pulang, aku merasa hari ini aku mendapat pelajaran tentang hidup. Bukan dari guru atau kedua orang tuaku. Namun dari seorang gadis kecil yang telah mengajarkanku kalau hidup akan lebih berarti jika bisa membahagiakan yang lain, bukan kita yang membahagiakan diri kita karena kemewahan yang kita miliki.

             Mataku menerawang ke arah langit biru. Saat itu, aku seperti melihat wajah Nita yang sedang tersenyum kearahku. Aku ingat semua permohonan yang ia kataka.

            ‘Terimakasih teman keciku. Semoga suatu saat nanti, kamu benar-benar mampu merubah nasib keluargamu kearah lebih baik.’ Doaku dalam hati untuknya.

  

***Tamat***

 

 

Pesan Penulis :

Jangan pernah menganggap bahwa kamu adalah orang yang paling tidak beruntung di dunia, karena jauh dari perkiraanmu masih banyak orang yang tidak beruntung. Syukurilah hidupmu bagaimanapun keadaannya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar