Kamis, 01 Agustus 2013

Antara Aku dan Mereka

          Kami “Corail”, kalian boleh memanggil karang. Kami bukan geng yang hidup mewah, ataupun gaul. Bahkan jauh dari itu, kami hanya sekelompok remaja yang bersatu karena kesamaan latar belakang. Tak pernah merasakan rasa kebahagiaan utuh dari keluarga. Mungkin, sebagian dari kalian bingung mengapa kami bisa bersatu, karena kebanyakan orang akan menutup diri jika mengalami masa lalu seperti kami. Tapi kami berbeda, itulah mengapa mereka memanggil kami karang.
          Aku Hana, sama seperti enam temanku yang lain, hidupku tak melulu mulus. Bahkan dapat dikatakan hidupku penuh dengan lubang yang ditambal sulam. Penuh kemuraman, kelam, dan hidup penuh dengan semua hal yang tidak pasti. Hidup yang penuh dengan tanda tanya, bayangkan bagaimana rasanya.
         Di usia ku yang menginjak delapan tahun, aku harus menelan teriakan yang kudengar setiap malam. Saling ejek, saling menyalahkan, entah teriakan apa lagi yang telah melewati telingaku. Aku benci, diluar sana memang ramai, tapi tanpa mereka sadar, mereka telah memojokkan aku dalam keheningan. Menutup telingaku dari suara mengerikan mereka, dan suara isak kakakku yang hanya mampu menangis.
          Kalau aku boleh memilih, aku akan memilih untuk meninggalkan mereka. Mencari kebahagiaanku sendiri, atau mungkin aku akan memilih untuk memberikan masing-masing mereka pisau. Terserah mau mereka gunakan untuk apa, mungkin untuk membunuh satu sama lain. Tak apa lah, asalkan aku tak perlu melihat mereka bertengkar lagi. Lebih baik mereka berdua mati! Meninggalkan aku dan kakakku, daripada mereka harus terus berjuang pada ego nya masing-masing.
          Aku mengutuk diriku, yang harus menelan pil pahit yang disodorkan oleh ibuku sendiri. Saat aku harus melihat ibuku bersama orang lain. Dengan atau tanpa aku seolah mereka tak peduli, mempetakan benak mereka bahwa aku hanyalah gadis lugu dan naif yang tak mengerti apa-apa.
Melihat bahunya di rangkul manja oleh seorang pemuda yang telah ia cap sebagai kaki tangannya. Berjalan di belakang mereka seolah aku hanyalah ajudan pembawa barang belanjaan. Ingin rasanya ku dorong laki-laki itu terjun dari escalator, mati!
Saat melihat laki-laki itu datang ke rumah, mengobrol dengan ibuku. Bahkan aku pernah dijadikan babu untuk memijat bahunya. Siapa dia? Mempekerjakan aku seolah babu di rumahku sendiri? Dan apa yang ada dalam benak ibuku saat itu? Mengapa ia memaksaku untuk memijat bahu laki-laki brengsek itu? Seberapa penting laki-laki itu untuknya? Lebih pentingkah ia daripada keletihanku?
Atau, saat aku melihat mereka berboncengan motor berdua. Lagu lama, mau mencari perlengkapan motor untuk bengkel. Hati ini geram, mual melihat ulah ibuku. Isi perut ini berteriak, menjerit, seolah meminta dikeluarkan dihadapan wajah dua sampah itu. Ya, sampah! Mereka hanya sampah! Aku memang terlahir dari rahimnya, namun aku tak mengenal sosok yang mengaku melahirkanku ini! Ibu yang seharusnya menjadi panutan bagiku justru lebih menonjol menjadi wanita bodoh yang tak mengerti arti kesetiaan.
Setiap malam, setiap kali ayah dan ibuku bertatap muka, mereka selalu bertegur sapa. Namun tak sama seperti tegur sapa orang tua lain. Mereka hanya saling menyalahkan, membuatku makin muak melihat sosok ibuku.
“Pulang malem terus. Ga usah pulang aja sekalian. Udah ada yang lain kan?” Tuduh ibuku pada ayahku yang baru saja melangkah masuk ke rumah.
“Aku tuh kerja! Bukan berleha-leha di kantor. Kamu sendiri keluyuran sama siapa lagi hah?” Bentak ayahku tak terima pada tuduhan ibu.
“Aku beli perlengkapan buat usaha bengkel. Apa-apaan si! Ga usah ngalihin pembicaraan.” Bentak ibuku.
“Tapi sebenarnya ga harus sama orang itu-itu lagi kan?” Selidik ayahku.
“Terserah. Kamu tuh kalo udah salah emang pasti nyalahin orang lain.” Ujar mamaku melangkah ke arah kamar.
“Aku belom selesai ngomong!” ‘Braaak!!’ Ayahku memukul sebuah kursi plastik hingga alas duduknya pecah menjadi dua. “Aku capek kalo terus menerus kamu tuduh kaya gini. Kamu sendiri ga ngaca sama kelakuan kamu.”
Aku yang kala itu tengah berada di ruang makan ikut geram. Telinga ini sedari tadi mendengar isak tangis kakakku dikamar yang bersebelahan dengan ruang makan.
“Prangg!!”
“Apa-apaan kamu? Udah kaya ya? Bisa beli piring sendiri?” Teriak mamaku menghampiriku.
“Kalian aja bisa berantem dan bisa terus berusaha mecahin gendang telinga anak kalian sendiri. Kenapa piring pecah aja ga boleh? Kursi plastiknya aja pecahkan?”
Ibuku hanya diam, dan menatapku tajam seolah aku adalah momok bagi ibuku. Aku tahu apa yang ada dalam benak ibuku. Gadis naifnya kini berubah menjadi pemberontak yang kapan saja bisa mencetuskan semua rahasianya.
“Kenapa kalian diem? Udah puas berantem? Terusin aja pa, ma, biar tetangga tau! Orangtua macam apa kalian? Sadar ga, sedari tadi mba Rika nangis di kamar? Sadar? Ngga! Kalian sibuk ngurusin masalah kalian sendiri! Gini cara ngasih kenangan masa kecil ke anak? Bagus! Terusin aja! Mungkin lebih baik aku ambil pisau, dan papa dan mama megang satu. Jadi kalian berantem sampe mati sekalian!” ujarku meninggalkan mereka menuju kamar kakakku.
Sepeninggalku, tak sekalipun aku menengok ke belakang untuk mengetahui apa yang mereka lalukan setelah aksi pemberontakanku tadi. Otak ini meledak, tapi hati ini masih memohon ampun pada Tuhan karena telah tidak berlaku sopan pada kedua orang tuaku tadi. Tapi apa mau dikata, semua buntu, hanya itu yang mampu aku lakukan selain menenangkan kakakku yang selalu takut kalau orang tua kami akan bercerai.
Setelah malam itu, tetap taka da yang berubah. Ibu masih terus menuduh ayahku berselingkuh. Ayahku tau perbuatan ibuku, namun tak ada bukti untuk memojokkannya. Ia tak tahu, kalau putri kecilnya adalah saksi mata semua tindakan bodoh yang dilakukan istrinya. Ia hanya bisa bercerita dan bertanya pendapat sesekali padaku, putri kecil yang ia anggap dapat menerima semua persoalan dengan lebih dewasa dibandingkan mba Rika, kakakku yang selalu menangis.
‘Tuhan, maafkan aku. Aku tak mungkin mengatakan yang sejujurnya padanya. Ga mungkin, aku ga mau apa yang ditakutkan oleh kakakku menjadi kenyataan karena pengakuan ku. Jujur, aku ingin mereka berpisah. Aku lelah mendengar pertengkaran mereka. Aku lelah harus terus bersikap dewasa bagi kakakku. Aku tak sanggup melihat sorot mata sendu ayahku yang tetep mencoba mempertahankan hubungan mereka. Selalu Tuhan, selalu hati ini berkata, andai papa tahu yang sesungguhnya. Entah apakah aku anak durhaka atau bukan, yang pasti hati ini membenci seutuhnya ibuku. Maafkan aku Tuhan.’
Pemberontakanku tak hanya terjadi sekali. Aku selalu melakukannya dengan cara berbeda, tiap kali mereka bertengkar. Sampai pada akhirnya, situasi rumahku berangsur hening. Intensitas pertengkaran mereka berkurang sedikit demi sedikit.
Namun, acapkali ibuku ingin keluar rumah, ia selalu memanfaatkan aku. Izin kepada ayahku bahwa ia ingin mengajakku jalan-jalan. Padahal ia meninggalkanku di rumah temanku, dan ia pergi sendiri. Aku yakin, ia pergi dengan lelaki brengsek itu lagi. Kapan ia bisa sadar kalau aku ini bukan barang! Aku tidak buta dan tidak tuli, aku juga tidak bodoh untuk mengerti apa yang tengah terjadi.
Sampai sewaktu ketika, rumahku kecurian. Perhiasan ibuku raib. Mungkin pembalasan dosanya pada kami. Entahlah. Saat itu, ada yang menggelitik di telingaku. Ibuku menyarankan kepada ayahku untuk mendatangi seorang ustad untuk bertanya siapa yang telah membobol rumah kami. Tentunya dengan mengajak aku. Dan ayahku mengangguk setuju.
‘Bodoh!! Sungguh bodoh!! Walaupun dia seorang ustad, dia bukan Tuhan yang mengetahui segalanya. Kenapa papa begitu mudah mengiyakan saran mama. Kenapa papa ngga coba berpikir apa yang direncanakan mama. Bahkan putri kecilmu ini tahu apa yang tengah direncanakan wanita itu! Sungguh ibu licik dan ayah yang lugu.’ Batinku.
Hingga, terjadilah malam itu. Aku dan mama pergi menemui “ustad itu”. Seperti dugaanku sebelumnya, mama meninggalkan aku di rumah temanku. Tapi kali ini aku tidak bodoh. Aku lelah jika harus terus berbohong pada papa.
Aku memutuskan untuk memanggil ojek yang tak jauh dari tempat itu. Aku mengikuti kemana mobil mama pergi. Hingga ia berhenti di sebuah tempat. Rumah, bukan masjid atau mushalah tempat seorang ustad seharusnya berada. Angan ini mulai melayang, mana ada seorang ustad yang bertemu tamu yang meminta bantuan di rumah?
Aku membayar ojek itu dan bersembunyi tak jauh dari rumah itu, berharap mama tak masuk ke dalam rumah itu dan membuatku tak mampu melihat apa yang ia lakukan. Di teras rumah itu duduk seseorang, laki-laki yang paling aku benci. Penghancur keluargaku. Ia memegang erat tangan mama, mengajaknya duduk. Ingin aku keluar dari tempat persembunyianku dan berteriak “zina” agar mereka diarak keliling kampong. Namun aku pendam semua itu.
‘Inikah ustad itu? Pasti ibuku yang telah berbohong, dia bukan ustad. Dia hanya laki-laki matre dan brengsek. Aku muak melihatnya.’
Mereka berbincang sebentar, sejurus kemudian mama mengeluarkan amplop coklat yang aku tahu pasti apa isinya. Amplop itu berisi uang untuk diberikan kepada ustad yang akan membantu kami. Yang ternyata semua cerita itu fiktif!
“Ini untuk pengobatan ibu mu. Buat kamu.” Samar-samar ku dengar apa yang ia katakan.
“Sial!” Umpatku dalam hati. “Kali ini gue akan ancurin kalian berdua!” Segera ku keluarkan hp ku dan memotret mereka berdua.
Aku memutuskan untuk keluar dari persembunyianku. Aku berlari dan segera merebut amplop itu sebelum sempat tersentuh oleh laki-laki matre itu. Mata mama terbelalak melihatku, kaget terpancar jelas dari wajahnya yang tengah memakai jilbab dengan model “asal jadi yang penting ketutup” alias acak-acakan.
“Oh, ini ustadnya? Bagus ya! Muda banget! Gimana cara lo bisa tau siapa yang maling di rumah gue ‘Pak Ustad’? Dengan nyuruh nyokap gue bawa duit buat nyokaplo yang penyakitan? Atau dengan ngajak gue yang jelas-jelas bersuami ke dalem rumah atau bahkan kamar lo? Hah!” Teriak ku kepada laki-laki itu.
“Cukup! Jaga omongan kamu ya!” Mamaku nyaris menamparku. Aku hanya menatap tajam matanya. “Ngapain kamu disini?” ujar mamaku.
“Ngapain aku disini? Kehabisan alasan ya, biasanya lancer aja kalo ngeles depan papa. Oh iya, tadi bukannya mau nampar? Kenapa ga jadi? Perlu aku kasih tau ya. Muka Anda yang minta ditampar. Perlu saya kasih kaca hah! Anda mengaku terhormat tapi tindakan Anda seperti wanita liar yang bisa dipesan! Bukan Anda yang harus bertanya sedang apa saya disini. Seharusnya saya yang bertanya, apa yang Anda lakukan disini! Mana ustad yang Anda bicarakan, Bu Listya!” Ujarkku pada ibuku sendiri. Amarah ku sudah tak dapat tertahankan lagi. Bahkan untuk memanggilnya aku lebih memilih untuk memanggil namanya. Bagiku, kata “ibu atau mama” terlalu indah dan tak pantas untuk wanita murahan seperti dia.
“Dan lo! Gue bisa buat ibu lu yang penyakitan itu mampus! Gue sering denger, lo nelfon nyokap gue dan nyokap gue sebut-sebut kalau nyokap lo kena serangan jantung. Gue bisa pastiin kalo lo ga berenti ganggu keluarga gue. Nyokaplu ga Cuma kena serangan jantung atau stroke! Gue bakal buat lo ngegali kuburan buat nyokaplo sendiri. Semua isi smsan kalian, foto kalian jalan, rekaman kalian ngobrol, bahkan foto nyokap gue mau ngasih uang ke elu tadi udah ada di gue. Dan udah gue gandain. Jadi siap-siap aja nyokaplo mampus kalo liat tu foto. Dan buat lo, Ibu Listya, gue kasih lo pilihan. Mau pulang sama gue sekarang, atau gue yakinin ke elu, papa kan dapet email foto tadi dari gue! Dan lo di depak dari rumah!” ucapku pada mereka berdua.
Aku tak takut apabila mereka memutuskan untuk membunuhku karena aku ancaman bagi mereka. Saat ini dalam benakku, mati lebih baik daripada harus berbohong pada papaku lagi.
Tak seperti dugaanku, akhirnya tanpa melawan mama memutuskan untuk pulang bersamaku. Dari raut wajahnya aku melihat kecemasan yang luar biasa. Tapi aku belum puas menyiksa batinnya.
Sesampainya di rumah, aku bersikap biasa. Seolah taka da yang terjadi tadi. Aku sengaja melakukan itu untuk menyiksa batin ibuku. Agar ia tahu, putrinya yang ia kira lugu, kini berubah menerjangnya dengan belasan bukti yang dapat membunuhnya.
***
          Semenjak saat itu, aku sering mengancam ibuku. Meminta uang darinya tapi disertai dengan ancaman kalau ia tidak memberikannya, aku akan melaporkan semua bukti itu pada ayahku, atau yang biasa kalian sebut memerasnya. Ya aku memeras ibuku, namun uang itu tak pernah ku pakai untuk diriku. Aku memakai uang itu untuk membelikan makanan bagi orang-orang yang tinggal di kolong jembatan. Dengan berpikir bahwa uang itu lebih baik untuk mereka daripada untuk laki-laki benalu itu. Walaupun ia telah lenyap dari kehidupan kami, tak pernah menghubungi ibuku lagi.
          Sudah berkali-kali aku memeras ibuku. Dan ibuku bagai kerbau yang di cucuk hidungnya. Ia hanya bisa menuruti permintaanku. Aku semakin merasa bahwa kini aku mampu menginjak balik harga dirinya seperti dia menginjak kebahagiaan aku dan kakakku. Dan masa kebahagiian semu ku ini lah yang membuatku bertemu para Corailian, teman-temanku. Mereka mengajarkan padaku cara mereka mengatasi permasalahan keluarga mereka, menyadarkan aku kalau aku tak sendiri menghadapi semua ini. Membuka hatiku kalau apa yang selama ini ku lakukan dengan memeras ibuku adalah salah.
          Corail benar, aku salah. Aku terlalu membiarkan ego dan dendam menguasai diriku. Aku lupa identitasku sebagai seorang anak. Selama ini, aku hanya berpikir bagaimana menjatuhkan ibuku, bukan bagaimana cara mengingatkannya kalau yang ia lakukan salah. Aku tak sadar kalau kebahagiaanku memeras ibuku hanyalah kebahagiaan palsu, yang membuatku tak menyadari bahwa batin ini berteriak karena situasi di rumah tetap sama seperti saat ada laki-laki itu. Ya, sama. Karena pada saat ini, akulah yang berubah menjadi seorang yang berengsek.
          “Mama!” Aku memanggilnya. Biasanya aku hanya memanggilnya begitu disaat ada papa dan kakakku. Kalau mereka tidak ada, aku memanggilnya dengan Ibu Listya.
          “Mama, aku minta maaf. Aku udah kurang ajar sama mama. Aku udah ngancem mama. Maaf ma. Aku cuma mau mama sadar, tindakan mama itu salah. Aku mau mama liat, aku dan mba Rika selama ini kesiksa ngeliat papa sama mama ribut terus. Kami cape, tiap malam kami harus denger mama minta cerai. Aku juga cape ma, aku ngerasa berdosa sama papa karena harus boongin papa tentang mama yang sering pergi dengan siapa. Aku mau mama sadar, aku, papa, mba Rika, semua sayang sama mama. Aku mau mama liat, laki-laki itu penghancur semuanya. Aku minta maaf, kalau emosi aku udah buat aku nyakitin perasaan mama.” Ujarku memeluk ibuku dari arah belakang.
          Ibuku yang saat itu tengah mencuci piring, berbalik menatap ku.
          “Mama juga minta maaf, semenjak kamu ngancem mama. Mama baru sadar kalau apa yang mama lakuin selama ini salah. Mama mau minta maaf sama kamu, tapi mama ngga berani. Karena mama rasa kamu begitu ngebenci mama. Mama minta maaf ya, sayang.” Ujar mama membalas pelukanku.
          “Ya aku maafin, maafin aku juga ya ma.”
***
          Semenjak aku dan mamaku meminta maaf, dan sampai saat ini. Keluargaku kembali akur. Seperti saat laki-laki itu belum masuk ke dalam keluarga kami. Aku bersyukur bertemu Corail, yang mengajarkan apa arti keluarga padaku. Sehingga sekarang, aku mendapatkan keluargaku yang utuh. Penuh canda tawa, taka da lagi yang mengucap kata cerai. Dan tak ada lagi yang berteriak dan bertengkar setiap malam.
          “Tuhan, terima kasih. Karena engkau menyelimuti keluargaku dengan kebahagiaan. Terima kasih karena telah membuatku mampu melupakan dendamku pada mama. Aku benar-benar berterima kasih pada kuasa Mu, kini keluargaku kembali utuh. Dan kini aku mampu membantu mereka yang bernasip sama sepertiku dulu. Aku berjanji, Tuhan. Aku akan bantu teman-temanku yang bernasip sama sepertiku untuk bahagia dengan apapun kondisi keluarganya. Aku berjanji, akan membuat mereka yang semula frustasi pada keluarganya, menjadi optimis untuk membuat keluarganya kembali utuh. Aku berjanji, aku tak akan membiarkan teman-temanku hancur karena permasalahan keluarganya. Terima kasih, Tuhan. Terima kasih.”
**TAMAT**

Pesan Penulis:
          Kisah ini berdasarkan kisah nyata seorang narasumber yang tidak mau disebutkan namanya. Kisah ini bercerita tentang seorang gadis yang berusaha membuat keluarganya kembali utuh. Dimana ia harus melawan batasan antara anak dan orang tua. Seorang gadis yang mendapat pertolongan Tuhan dan berhasil menyelamatkan keutuhan keluarganya. Kisahnya, memberi tahu kita apa arti keutuhan keluarganya. Ia berharap, tak ada dari kalian yang mengalami kisah sepertinya.

          Keluarga adalah segalanya. Tempat kalian bernaung, tempat kalian berbagi keluh kesah. Keluarga seharusnya bukan menjadi tempat kehancuran mental dan pikiran positif anak. Jangan biarkan emosi orangtua terlihat oleh anak. Karena tidak semuanya seperti gadis dalam kisah ini. Beberapa dari anak pasti akan membawa dendamnya hingga ia dewasa, dan mungkin ia akan membuang kedua orangtuanya karena berpikir kalau orangtuanya selama ini membuang kebahagiaannya. Sayangi keluargamu selagi mereka masih utuh. Karena keluarga yang bahagia dan utuh adalah harta termahal yang dapat kalian punya.

Senin, 22 Juli 2013

Bloody Truth


Tawa membahana terdengar dari meja tempat Riki, Ramon, Vero, dan Winda. Cafe yang awalnya ramai dibuat semakin ramai oleh canda tawa mereka. Celoteh ringan mengenai dosen killer di kampus mampu membuat mereka tertegun bahkan terkadang tertawa saat mengingat kesalahan yang pernah membuat malu sang dosen.
Ramon yang saat itu tengah menyeruput cappuccino pesanannya tiba-tiba berucap “Mainan TOD aja yuk! Bosen ngomongin dosen itu mulu.”
“Boleh, tapi pake apa? Ga ada botol.” Jawab Winda.
“Hmm, gue bawa botol plastik nih. Pas airnya abis, gue lupa buang botolnya.” Ujar Riki seraya mengeluarkan botol dari dalam tasnya dan meletakkannya di meja.
“Oke kita mulai ya?” ujar Ramon seraya memutar botolnya.
Permainan itu berjalan biasa. Satu persatu dari mereka telah menjadi sasaran permainan TOD, sampai akhirnya bagian tutup botol itu mengarah ke Riki.
“Hayo. Jatahnya Riki. Hm, truth or dare nih?” Ujar Winda memandang Riki.
“Truth aja lah. Males gue dare. Abis dari tadi dare nya ga ada yang beres. Yang foto ama waitress lah, yang ngajakin kenalan cewe lah.” Ujar Riki.
“Oke. Kalau gitu gue mau nanya. Sebelum sama Vero, lu pernah pacaran sama siapa lagi?” Tanya Ramon menyelidik.
“Ngga pernah. Vero pacar pertama gue, dan semoga aja jadi yang terakhir.” Jawab Riki menggenggam tangan Vero yang segera di balas senyuman manis dari Vero.
Permainan berlanjut, tanpa mereka sadari sepasang mata mengintai mereka dari kejauhan. Mengawasi setiap gerak-gerik ke lima remaja tersebut dengan tatapan garang.
***
“Ah sialan!”
Ramon menggerutu sendirian, berharap ada taksi yang akan lewat dihadapannya. Sudah setengah jam lebih ia menunggu, sesekali ia melirik jam tangannya. Jam 08.30. Hari ini ia memang ada kuliah malam. Hal itu biasa baginya, namun tidak kali ini.
Dipertengahan jalan pulang, mobil Ramon mogok, dan terpaksa harus ia inapkan di bengkel. Keempat sahabatnya tidak bisa menjemputnya, sehingga Ramon memutuskan untuk berjalan hingga ia mendapatkan taksi.
“Mungkin di perempatan depan bakal ada taksi yang lewat.”
Dengan gontai, ia melangkahkan kakinya melewati bayang-bayang pepohonan yang membuat jalan menjadi temaram. Namun langkahnya terhenti saat ia merasa ada sesuatu yang mengikutinya. Ia menoleh kebelakang, tak ada apa-apa. Namun saat ia menoleh ke depan, matanya membelalak. Tepat dibawah lampu jalan, tak jauh dari tempat Ramon berada, tengah berdiri sosok berjubah hitam dengan membawa pisau yang berkilat dibawah sorot lampu jalan.
“Siapa lo?” Ujar Ramon mencoba melihat wajah sosok berjubah yang ada di hadapannya.
Namun tanpa berkata sedikitpun, sosok itu berlari kea rah Ramon. Bulu kuduk Ramon meremang, ia berlari tak tentu arah. Namun sosok itu tetap mengejar Ramon. Hanya terdengar derapan langkah kaki Ramon dan deru nafasnya yang memburu.
“Pletakk!!!”
Sosok itu melempar sebuah batu yang mendarat tepat di bagian belakang kepala Ramon. Ramon tersungkur seketika, tak bergeming. Darah segar mengucur deras dari kepalanya. Sosok yang tadi mengejarnya semakin mendekat. Menyunggingkan senyuman sinis, puas melihat korbannya tersungkur.
***
Malam itu Riki yang bersiap untuk tidur, tersentak. Mendengar suara seperti barang yang jatuh dari arah lantai satu rumahnya. Dengan bermodal layar handphone nya yang terus ia nyalakan, ia memutuskan untuk menuruni tangga, dan mengecek kebenaran dari apa yang ia dengar.
            Emosi memeluk tubuhnya begitu tahu kalau jendela rumahnya telah pecah karena dilempari seseorang dengan sebuah batu. Ia memperhatikan batu itu sejenak, matanya terbelalak begitu melihat ada bercak darah disana terlebih saat ia melihat ada selembar kertas yang diikat di batu tersebut.

‘Cari Ramon di dekat bangunan tua di Jalan Dharmaraya. If u want to see him again’

Riki tersentak. Khawatir menyelimuti hatinya, terlebih saat ia baru saja ingat bahwa tadi Ramon meminta Riki untuk menjemputnya karena mobilnya mogok.
Riki menyabet kunci mobil yang tergantung di dekat tv. Membawa batu dan surat yang ia temukan tadi. Ia mengendalikan mobilnya dengan kecepatan tinggi, tak peduli handphonenya berulang kali berbunyi tanda sms masuk dari Vero, kekasihnya. Yang ada dalam benaknya saat ini hanya Ramon.
Riki menikung di Jalan Dharmaraya. Memelankan laju mobilnya, berharap bahwa surat kaleng itu hanyalah omong kosong belaka. Namun, mobil itu langsung berhenti, ketika mata Riki menangkap sesuatu yang tergeletak di pinggir jalan. Seperti sepasang kaki lengkap dengan sepatu yang masih menempel.
Riki keluar dari Nissan Juke nya, membawa handphone sebagai penerangan. Detak jantungnya bagai bergema, pikiran negatif kalau itu adalah Ramon memenuhi otaknya. Otaknya kini membenarkan apa yang ia lihat, itu memang manusia. Ia telusuri kaki itu. Degup jantungnya semakin tidak karuan.
‘Ramon! Itu memang Ramon, apa yang terjadi padanya?’ pikir Riki.
Riki mengumpulkan keberaniannya. Dengan tangan yang gemetar, ia berusaha untuk membangunkan Ramon. Namun sia-si, ia tetap terbaring kaku disana. Riki mencoba membalik tubuh Ramon, namun ia tersentak saat melihat luka menganga di leher Ramon, darah segar masih mengucur sedikit demi sedikit dari luka itu. Ia terdiam, membaca apa yang tertulis di kemeja ramon. “You did the dare!” Namun saat ia mendengar sirine mobil polisi dari kejauhan, Riki berlari menjauh. Namun sorot lampu membuat langkahnya terhenti.
Dua orang polisi menyergapnya. Salah satu dari mereka mengecek mayat Ramon, dan satu dari mereka memborgol Riki. Tak lama, ambulans datang dan membawa mayat Ramon dengan kantung mayat untuk di autopsi.
Air mata Riki terus mengalir selama ia diperiksa polisi. Polisi mencurigai Riki lah pelaku pembunuhan Ramon, namun tak ada bukti atau saksi yang menyetujui tuduhan polisi kepada Riki. Esok paginya, Riki diizinkan setelah dimintai keterangan karena polisi tak cukup bukti untuk memenjarakannya.
***
          Kepulangannya dari kantor polisi tak lantas membuat Riki lega. Dalam benaknya masih berkecamuk dendam pada orang yang telah membunuh sahabatnya. Ia tak pernah menyangka kalau Ramon akan meninggal dengan cara yang begitu tragis.
          Vero dan Winda menanti Riki. Saat melihat mobil Riki memasuki garasi, mereka berdua berhamburan menghampiri Riki. Menyambut Riki yang berjalan gontai ke arah ruang tamu dengan berbagai pertanyaan.
          “Sayang, kamu ga papa? Aku yakin bukan kamu pelakunya.” Kata Vero mencoba menenangkan kekasihnya.
          “Kok lo bisa ada di sana?” Selidik Winda.
          “Semalem gue dapet surat di batu yang mecahin kaca rumah gue. Kayaknya ada orang yang sengaja mancing gue buat jadi kambing hitamnya. Siapapun dia, dia harus mati karena udah ngebunuh sahabat gue!” Ujar Riki seraya memukul tembok.
          “Sabar sayang polisi pasti akan nemuin pelakunya.” Ujar Vero.
          “Ga bisa sayang, selama pelakunya belum ketemu, aku yang seolah tersangkanya.”
          “Ya udah sekarang lo istirahat aja, Rik. Kalo gue dapet info baru masalah pembunuh Ramon, lo akan gue kabarin.” Ujar Winda menarik tangan Vero untuk meninggalkan rumah Riki.
          Riki membanting tubuhnya di sofa. Mencoba mencerna apa yang baru saja terjadi.
‘Apa maksud dari tulisan di kemeja Ramon? Apa orang itu membunuh Ramon hanya untuk menantangku? Seolah Ramon adalah bahan permainan TOD? Siapapun dia, dia pasti orang sinting! Gue janji akan bales kematian lo Ram!’ Ujar Riki dalam hati.
***
          Setelah dari rumah Riki, perasaan Winda berkecamuk. Ia sedih karena Ramon telah meninggal, dan ia juga tidak percaya bahwa Riki lah pelakunya. Namun, logikanya mematahkan segalanya. Hanya Riki yang berada di lokasi kejadian, kemungkinan ia pelakunya sangat besar.
          Kepala Winda terasa terbakar, sedang hatinya berkecamuk. Semua kemungkinan yang ada, menurutnya tidaklah mungkin. Dua mata kuliah yang ia jalani hari ini berbuah nihil. Tak ada satupun yang dapat ia serap.
          Ia melangkahkan kakinya menaiki tangga ke atap gedung auditorium kampus. Tempat mereka berempat dulu sering berkumpul. Winda berfikir bahwa pikirannya akan tenang jika berada di sana. Ia terduduk di tepi atap, tempat mereka dulu sering duduk bersama. Tempat yang menurut mereka begitu privasi.
          ‘Ram, kenapa lo pergi secepat ini. Siapa yang tega ngelakuin ini sama lo? Apa bener Riki pelakunya?’
Kalimat itu menjalar bertubi-tubi dalam pikiran Winda. Membuatnya menutup mata, membayangkan saat-saat dulu mereka berempat berada di atap ini. Saat yang tidak dapat diputar ulang, karena Ramon tak akan pernah bisa kembali.
          Winda tak menyadari bahwa dibelakangnya kini tengah berdiri sosok berjubah hitam yang menyeringai menatapnya. Matanya bagai kobaran api yang menyimpan dendam pada Winda. Ia melangkah perlahan mendekati Winda, nyaris tanpa suara.
          Sejurus kemudian, sosok itu telah berada di belakang Winda. Meniup pelan rambut panjang Winda, sehingga membuatnya menoleh. Winda hanya mampu melihat senyuman sinis di balik jubah itu, dan sedetik kemudian tubuhnya telah terjun dari atap dan tertancap di pagar belakang kampus. Darah segar menyembur ke dinding belakang auditorium. Sosok itu melihat mayat Winda dari atap dan tersenyum puas setelah mendorong Winda.
***
          Nissan Juke milik Riki kini telah terpakir rapi di parkiran kampus. Ia berniat untuk menjemput kekasihnya yang saat itu ada kuliah malam. Ia tak ingin kekasihnya bernasib sama seperti Ramon. Diliriknya jam di layar HP nya. Jam 19.20, namun Vero belum juga memunculkan batang hidungnya.
          “Duh pake pengen ke toilet segala! Nyusahin! SMS Vero dulu deh buat nunggu di koridor biasa.” ujar Riki.
          Setelah SMS nya terkirim, Riki melangkahkan kakinya ke arah toilet. Lorong kampus terasa begitu menyeramkan, begitu hening. Hanya sekali Riki berpapasan dengan tukang sapu di kampusnya. Toilet itu, Riki berhenti di depan pintu toilet. Entah mengapa bulu kuduknya meremang, toilet itu terasa begitu mencekam. Dengan lampu kuning yang terkadang berkedip. Namun karena kebelet, ia memaksakan diri untuk masuk ke toilet itu.
          Saat ingin kembali ke mobil, Riki merasa ada seseorang yang mengikutinya. Sesekali ia menoleh kebelakang untuk memastikan bahwa tidak ada yang mengikutinya.
          ‘Perasaan gue doang kali ya?’ ujar Riki.
          Namun baru dua langkah ia berjalan, perasaan itu muncul lagi. Kali ini ia memutuskan untuk kembali menoleh ke belakang. Namun tidak seperti sebelumnya, kali ini ada sosok berjubah hitam yang membawa pisau di kedua tangannya. Ia berada dibelakang Riki, tak jauh dari posisi Riki sekarang. Jubah itu menutup sebagian wajahnya. Membuat Riki tak mampu melihat siapa orang dibaliknya.
Saat Riki tengah terpaku memandang sosok dihadapannya. Sosok itu melemparkan sebuah pisau ke arah Riki, namun meleset. Riki segera berlari meninggalkan sosok itu. Ia mencoba menoleh kebelakang untuk melihat apa sosok itu masih mengejarnya atau tidak, namun ia justru menabrak sesuatu di hadapannya.
“Arrggghh!!!”
“Riki kamu kenapa? Ini aku Vero.” Jawab Vero menggenggam tangan Riki.
Riki mencoba mengatur nafasnya. “Ngga apa-apa. Cuma takut kamu nunggu lama, jadi aku lari-lari. Hehe.” Ia memutuskan untuk berbohong pada kekasihnya agar kekasihnya tidak khawatir akan keselamatannya.
Riki menoleh kebelakang, dan sosok itu tidak ada. Setelah dirasa aman, ia mengajak Vero ke mobil. Mereka berdua berjalan menuju mobil Riki yan terparkir manis. Namun ada yang berbeda dari mobil itu.
“Apa ini?” Ujar Riki mengambil sepucuk surat yang terdapat di kaca depannya, dan membacanya.
“Ada apa sayang?” Ujar Vero melihat surat itu.

‘Cari Winda di setiap sudut kampus ini. Just if you want to know the truth!

“Sialan! Apa lagi yang orang saiko ini lakuin! Dimana kita harus cari Winda?” Ujar Riki menggerutu.
“Aku tau, tempat biasa kita ngumpul. Atap gedung auditorium. Kita cek kesana.” Ujar Vero.
“Ayo sayang.” Ujar Riki menarik tangan Vero ke arah gedung auditorium.
Sesampainya di atap, mereka mencari Winda. Memanggil nama Winda namun nihil, tak ada sahutan. Dan tak ada tanda bahwa Winda disana. Riki merasa surat kali ini adalah surat iseng. Namun, saat ia ingin mengajak Vero kembali ke mobil, ia melihat Vero tertegun. Matanya memandang ke arah tempat yang disorot oleh flash HP nya.
Riki menghampiri Vero. Ia terkejut saat menemukan mayat Winda yang tertancap di pagar. Ia segera memeluk Vero, agar Vero tak lebih lama melihat mayat itu. Saat mereka melihat di pinggir atap tempat biasa mereka duduk, mereka membaca sebuah tulisan bertuliskan “You did the second dare.”
“Sialan!!! Gue bunuh lo!” Ujar Riki memaki.
Sesampainya di mobil, Vero mencoba menelfon polisi, namun Riki menghalanginya. Ia yakin, apabila Vero menghubungi polisi, maka ia yang akan menjadi tersangka, karena waktu ia pergi ke toilet akan dijadikan sebagai perkiraan waktu pembunuhan. Ia tak ingin masuk penjara, ia takut akan terjadi sesuatu pada Vero apabila ia tak ada disampingnya.
Vero memutuskan untuk turun dari mobil. “Ngga! Semua jelas sekarang! Kamu kan yang ngebunuh Ramon sama Winda? Kamu bohong masalah surat ini, pasti kamu kan yang naro surat ini di kaca mobil kamu. Begitu juga batu yang berlumuran darah. Polisi bilang ke aku kalau cuma ada sidik jari kamu disana.” Ujar Vero menuduh.
“Sayang, sumpah. Aku ngga ngelakuin itu. Aku juga ga tau ini ulah siapa!”
“Tutup mulut kamu, aku ga percaya sama kamu. Setelah Ramon dan Winda, siapa lagi yang akan kamu bunuh? Apa aku? Kalau kamu ga salah, seharusnya kamu biarin aku nelfon polisi.” Air mata Vero bercucuran. Hatinya bingung haruskah ia percaya pada Riki atau tidak.
Riki merasa percuma meyakinkan Vero. Ia pasrah saat melihat Vero menelfon polisi tepat di depan wajahnya. Ia mencium kening Vero dan menjalankan mobilnya meninggalkan Vero sendiri menunggu polisi. Yang ada dalam benak Riki sekarang adalah bagaimana caranya lolos dari semua ini.
Sesampainya di rumah, Riki mengambil pakaiannya dan bergegas pergi. Ia sadar, berada di rumah adalah salah satu keputusan paling beresiko, karena tempat pertama yang akan dicari polisi adalah rumahnya. Ia memacu Nissan Juke nya kembali, ia tahu tempat yang aman. Untuk sementara, ia akan tinggal di rumah lamanya di Bogor.
HP nya berdering, terlihat tulisan bahwa ada satu SMS masuk. Dari Vero, ia menepikan mobilnya sebentar. Ia membaca SMS dari kekasihnya tersebut.
“Shit!!”
Vero memberi kabar bahwa ia telah menceritakan kronologis penemuan mayat Winda pada polisi. Namun Riki akan dinyatakan sebagai buronan karena telah melarikan diri dari proses penyelidikan apabila ia tidak segera memberi kabar dan menemui polisi untuk memberi keterangan. Kini batin Riki semakin berkecamuk, ia akan diburu oleh polisi untuk apa yang tidak ia lakukan. Sepertinya ia harus menetap di rumah lamanya dengan waktu yang lebih lama dari dugaan awalnya.
***
Sudah satu minggu Riki menetap di rumah lamanya. Dan ia sungguh ditetapkan menjadi buronan. Ia masih bersyukur, polisi belum menemukannya di rumah lamanya ini. Ia merindukan Vero, walaupun Vero sudah tidak mencintainya lagi, tapi ia masih mencintainya. Tak lama, sebuah SMS dari nomer Vero membuat gemuruh HP Riki.
          
‘Jalan Wangsaagung No.70. If you want to see your love again! Haha

Mata Riki berapi-api membaca SMS itu. Otaknya dipenuhi kecemasan dan rasa dendam. Ia pun membalas SMS itu.

‘Kurang ajar! Ga akan gue biarin lo berbuat sesuatu ke Vero. Kali ini lo pasti gue bunuh!

Tak ada balasan dari nomer Vero. Riki memacu mobilnya kembali ke Jakarta dan mencari alamat yang ada di SMS itu. Ia tidak mempedulikan apabila polisi akan menangkapnya. Tak akan ia biarkan sesuatu terjadi pada kekasihnya meskipun ia harus masuk penjara sebagai gantinya.
          “Kenapa gue malah sembunyi dan ninggalin Vero sendirian si! Dasar bodoh!”
          Mobil Riki terhenti di sebuah bangunan tua tak terawat. Di nomor depannya tertulis Jl. Wangsaagung No.7. Tanpa pikir panjang ia langsung memasuki bangunan tua itu dan mencari Vero.
          “Vero, sayang kamu dimana?”
          Mata Riki tertuju pada sebuah kamar yang pintunya sedikit terbuka. Ia mendorong pintu lapuk itu agar lebih terbuka. Dan ia melihat Vero dan keadaan terikat dikursi. Ia mencoba melepaskan ikatannya. Namun sosok berjubah hitam itu telah berdiri di belakangnya. Sosok itu memukul kayu ke bagian belakang Riki hingga pingsan.
***
          Riki tersadar, matanya berkunang-kunang. Dihadapannya kini ada sosok berjubah hitam yang tengah membelakanginya. Namun ia tidak melihat ada Vero disana.
          “Sialan! Lo apain Vero! Lo apain? Sampe lo ngapa-ngapain dia, gue bunuh lo!” ujar Riki yang memberontak dalam keadaan terikat di kursi.
          Sosok itu berbalik dengan menggenggam sesuatu ditangannya. Riki baru sadar, yang dibawa oleh sosok itu adalah pisau lipat yang selalu ia bawa. Pisau yang menurut Riki sangat tajam. Sosok itu membuka tudung jubahnya.
          “Elo! Elo!! Jadi selama ini elo pelakunya! Biadab lo!” Riki histeris.
          “Sssst!! Kenapa? Kaget liat aku berdiri? Kamu bisa diem kan sayang? Kamu liat disamping kamu ada foto siapa? Foto dua sahabat kamu yang udah mati.” Ujar sosok itu menolehkan wajah Riki ke arah foto mayat Winda dan Ramon di tembok sebelah Riki.
          “Cindi, apa-apan lo! Apa salah mereka sampe lo bunuh mereka semua! Dimana Vero?” Ujar Riki memberontak.
          “Ohh tenang, Vero masih aman. Kamu tanya aku salah mereka apa? Kalian bertiga salah! Ayolah jangan mendramatisir dengan pura-pura lupa kesalahan kalian apa!”
          “Cindi, kita ga ada salah apa-apa sama lo! Dasar cewek gila!”
          “Aku emang gila, aku gila karena kamu. Kamu beneran ga inget semuanya? Dulu, sebelum ada mereka berdua kita pasangan bahagia. Kita saling mencintai. Kamu lupa kejadian 3 tahun lalu? Saat kita jalan-jalan berdua naik motor, dan kamu ngebut saat itu. Padahal udah aku bilang jangan ngebut, inget? Kita jautoh dari motor, kamu ga papa, tapi sayangnya aku lumpuh. Kaki aku ga bisa bergerak! Kamu inget semuanya?” ujar Cindi menangis.
          “Cindi kalau masalah itu aku minta maaf… tapi.” Ujar Riki memotong pembicaraan Cindi.
          “Ssst.. Aku belom selesai ngomong sayang. Dulu awalnya kamu masih bisa terima aku, dan ngerasa bersalah sama aku. Karena kamu yang buat aku lumpuh. Kamu selalu nemenin aku terapi, nyemangatin aku. Tapi setelah mereka berdua dating apa yang kamu lakuin? Kamu habisin waktu kamu sama Winda dan Ramon itu. Ga ada waktu untuk aku. Sampai akhirnya kamu mutusin aku dengan alasan apa? Kamu butuh pacar yang lebih punya semangat hidup, yang bisa di ajak kemanapun kamu pergi, yang bisa kasih support buat kamu bukan kamu yang harus kasih support buat pacar kamu. Kamu tau? Saat itu aku hancur dengernya! Aku seperti itu karena kamu. Aku harus duduk di kursi roda karena kamu. Dan seolah kamu ga peduli. Mereka selalu menatap aku iba, jijik, selalu menatap dengan tatapan seolah aku ga pernah pantas buat kamu. Maka dari itu, aku benci mereka. Mereka harus mati agar mereka tau rasa sakit yang aku rasakan dulu.” Ujar Cindi menutup mulut Riki.
          “Mereka ga salah! Lo yang terobsesi sama gue.” Ucap Riki.
          “Ya, kamu bener, aku kan udah bilang. Aku gila karena kamu.”
          Tiba-tiba seseorang memasuki ruangan tempat Riki disekap, yang membuat Riki semakin terbelalak, itu Vero. Dia membawa nampan berisi pisau, yang membuat Riki yakin ia tak akan mampu selamat kali ini.
          “Jadi lo berdua komplotan! Kurang ajar!” Ujar Riki memaki.
          “Sssst.. sayang diem dulu dong. Aku itu sepupunya kak Cindi. Dan perlu kamu tau, memang kak Cindi yang membunuh Ramon dan Winda, tapi aku yang menaruh surat itu di mobil kamu, dan ngelempar surat kaleng ke rumah kamu. Dan kamu tau kenapa mobil polisi bisa secepat itu sampai ke tempat mayatnya si Ramon? Karena aku yang ngasih tau ke kak Cindio kalau kamu udah ninggalin rumah dan pergi kesana. Ga mungkin kan kak Cindi ngelakuin semuanya sendiri? Dasar cowok bodoh. Jatuh cinta dengan umpan, fantastis! Bahkan kamu ngga sadar kan kalau cara aku merhatiin samu sama dengan cara kak Cindi merhatiin kamu dulu. Kamu tau kenapa kamu ngga sadar? Karena menurut kamu seolah dia udah ngga ada! Sama seperti jawaban kamu malam itu bahwa kamu ngga pernah suka sama siapapun selain aku.” Ujar Vero tertawa di samping telinga Riki. Sekarang kamu diem ya Riki sayang.” Ujar Vero menempelkan lakban ke mulut Riki.
          “Vero, sebaiknya kamu pergi dari sini. Nama kamu bersih, aku akan menyelesaikan urusan aku sama dia, makasih atas bantuan kamu. Ga akan ada yang tahu kalau kamu bagian dari semua ini. Aku janji!”
          “Ok, aku pamit. Selamat bersenang-senang!” Ujar Vero memeluk Cindi.
          Vero berlalu meninggalkan Cindi dan Riki dengan senyum sinis mengembang di sisi bibirnya. Setelah bayang-bayang Vero tak terlihat lagi di tembok. Cindi langsung menyayat kedua pergelangan kaki bagian belajang Riki. Riki menjerit tertahan. Namun tidak puas dengan itu, Cindi menyayat pergelangan tangan kanan Riki.
          “Ini yang terakhir, karena kata-kata kamu yang menyakiti aku. Kamu akan mati seperti Ramon!” Cindi mengambil pisau yang terlihat sangat tajam, berkilat. Ia menyayat leher Riki, darah menyembur kepakaian Riki. Dan Cindi tersenyum melihat detik-detik terakhir Riki kehabisan darah, dan mati menyusul dua sahabatnya.
“Maafin aku sayang, aku sayang kamu. Tapi aku ga bisa liat kamu sama yang lain. Aku akan nyusul kamu. Tunggu aku ya.” Ujar Cindi mencium kening Riki dan menusukkan pisau yang ia gunakan untuk menyayat leher Riki ke perutnya sendiri. 


**TAMAT**

Kamis, 04 Juli 2013

Metamorfosa




“Please maafin aku. Aku nyesel. Aku sadar, dulu aku ga cukup baik buat kamu. Karena itu aku ninggalin kamu, Ven. Sumpah aku minta maaf. Kamu mau kan kembali sama aku?”

Rentetan kalimat itu terlontar bertubi-tubi laksana ombak menghujam karang. Apa yang dihujam oleh rentetan kalimat itu? Guess what, it’s my heart. Kalimat itu gencar menggoda hati ini, meluluh lantakkan tameng sebesar benteng ya telah ku siapkan sedari tadi. And si empunya kalimat itu sendiri namanya Reno, my ex. Kalau kalian lihat, kalian pasti luluh, simpuh sempurna yang dibentuk oleh kaki-kaki panjangnya, tangan yang mendekap tanganku, wajah dengan alis tebal yang meminta belas kasih. Tapi kali ini, tameng yang ku siapkan berhasil memantulkan serangan manis itu.

Aku terdiam, rasanya seperti ada black hole yang menyedotku ke masa lima tahun silam. Masa yang begitu ingin ku hapus, tapi justru menjadi cambuk bagiku. Saat yang sama seperti saat ini, namun dalam keadaan terbalik. Cambuk itu yang membuat kenangan itu menempel erat dalam memori internal otakku, mungkin lebih erat daripada lem tikus.

SMA Nusantara, tempatku menuntut ilmu. Sedang Reno bersekolah di SMA Purnabakti. Kalian pasti pernah mendengar, “Masa SMA adalah masa yang paling indah”. Tapi sayangnya, itu beda arti sama apa yang aku rasakan. Yang aku rasakan justru “Masa SMA adalah masalah yang paling berat”. Saat memori ini terjadi, aku masih duduk di bangku kelas 10, begitupun Reno dan langit sedang redup. Awan bermanjaan dilangit, saling bergandengan satu sama lain. Mentari mungkin sedang tak ingin eksis, karena ia tak terlihat saat itu.

Berbeda dengan sendunya langit, aku justru berdebar saat itu. Hari itu, aku akan bertemu dengan Reno. Beberapa hari sebelumnya, Reno sempat meminta putus denganku, namun aku memintanya untuk memikirkannya lagi. Hingga datanglah hari ini, kami bersepakat untuk bertemu di salah satu kafe di daerah Kemang.

“Maaf, aku ga bisa lanjutin ini semua. Aku jenuh sama kamu. Lagi pula, kita beda sekolah, aku ga bisa kalau harus nunggu balasan SMS kamu terus. Aku mau bebas, ga terikat sama siapapun sekarang. Semoga kamu ngerti.”

Aku hanya bisa membisu, namun di dalam aku remuk. Detik itu juga aku merasa belasan pisau menusukku dan ada palu raksasa yang menghantam kepalaku. Air mataku tak lagi mampu tertahan. Aku mencintainya, masih sangat mencintainya. Lekat dalam benakku janjinya semasa SMP dulu, “Aku ngga akan pernah ninggalin kamu kecuali kamu yang ninggalin aku.” Kurang lebih begitu janjinya.

Namun kini, apa yang tengah aku hadapi? Beberapa bulan duduk dibangku SMA mampu merubahnya hingga sedemikian rupa. Aku bahkan tak mengenalinya lagi.

“Tapi kamu janji..”’’

“Ya, tapi aku ngga bisa nepatin janji itu. Aku jenuh sama hubungan ini. Aku bosen sama kamu. Aku minta kamu jangan pernah nangis lagi karena aku.” Ujarnya memotong pembicaraanku.

“Ok, kalo itu mau kamu, kita putus. Bahkan ga nepatin janji aja ga buat kamu bilang maaf. Kamu ga perlu khawatir, aku ga akan pernah nangis karena kamu.” Ujarku seraya menghapus jejak air mata yang tertoreh di pipiku.

“Ok, kalau itu masalahnya, aku minta maaf karena ga bisa nepatin janji aku. Puas? Kalau gitu kita udah selesai kan? Aku ada keperluan lain.” Ujarnya melangkah pergi.

Saat itu, aku hanya mampu melihatnya. Dalam hati aku menghitung “satu, dua, aku mohon berbaliklah Reno..tiga”. Dan Reno tetap melangkah dengan mantap tanpa melihatku sama sekali. Saat itu, aku memang remuk, bahkan mungkin sudah hancur lebur. Namun, aku bertekad, ia tak akan mampu menghancurkan aku, tidak untuk kedua kalinya.

Ya meski begitu, itu hanya menjadi kenyataan yang aku harus alami lima tahun yang lalu. Kejadian itu, membuatku bertekad, ia harus menyesal karena telah memilih untuk melepasku. Dan cara satu-satunya adalah dengan ia melihatku jauh melebihi dirinya.

Kini aku telah bermetamorfosa. Aku bersekolah di fakultas kedokteran, cita-cita yang tidak bisa Reno miliki. Dulu, ia bercita-cita ingin menjadi dokter atau mengambil jurusan perminyakan. Namun kenyataannya sekarang, dia gagal, bahkan di kedua cita-citanya. Entah bagaimana ceritanya, kini dia justru mengambil jurusan menejemen. Itulah saat dimana aku tertawa lepas untuk pertama kalinya setelah dia menghancurkanku lima tahun lalu.

Dan kepuasan kedua, saat ini, dimana ia membungkuk, memohon kembali cinta yang telah dia hancurkan sebelumnya. Entah apa sebab yang membuatnya ingin aku kembali menjadi miliknya. Mungkin dia telah mendengar kalau aku lebih sukses darinya, selain mendapatkan apa yang ia cita-citakan, aku pun telah menjadi penulis professional dan menerbitkan beberapa buku. Yang dahulu menurutnya aku tak akan mampu menjadi seorang penulis, ia selalu menunjukkan raut wajah malas saat membaca tulisanku. Mungkin baginya, tulisanku bak sampah yang sangat ingin dia bakar. Tapi kini aku membuktikannya.

“Bukannya dulu aku yang ngga cukup baik untuk kamu? Sampai kamu tega ninggalin aku?” Yes, akhirnya kalimat itu berhasil ku lontarkan setelah sepersekian menit aku membatu.

“Ngga, dulu kamu terlalu baik untuk aku, aku takut akan sering nyakitin kamu. Jadi aku milih ninggalin kamu.” Ujarnya mencoba meyakinkanku.

“Lucu ya setelah dua tahun pacaran kamu baru ngerasa akan nyakitin aku. Alasan klise. Tolong beri aku satu alasan kenapa aku harus nerima kamu lagi!”

“Aku sayang sama kamu, Venus. Aku mau kita seperti dulu lagi.”

“Seperti apa maksud kamu? Kamu ngga tahu kan, saat itu aku menghitung dalam hati, supaya kamu berbalik. Karena dulu kamu yang bilang disaat seseorang bilang dia udah ngga ada perasaan apa-apa lagi, tapi dia masih berbalik, berarti dia masih ada setitik rasa yang tersisa. Tapi saat itu jangankan berbalik, menoleh saja seingat aku sepertinya ngga. Sekarang kenapa kamu harus kembali? Untuk apa? Kamu salah kalau ingin kita seperti dulu lagi. Aku bukan lagi itik buruk rupa yang bisa kamu buang. Aku telah bermetamorfosa. Sekarang aku telah menjadi seperti angsa emas yang didambakan semua orang. Bahkan bisa aku lihat sekarang, kamu pun menginginkannya. Sayang, angsa ini tak ingin kamu sebagai pemiliknya. Tapi aku rasa, aku perlu berterima kasih. Karena masa lalu yang kamu kasih, udah buat aku sesukses sekarang. Makasih. Tapi bukan berarti kamu boleh menghancurkan hati orang lain lagi.”

Mobil Nissan Juke bernomor polisi B 173 TR berhenti di pelantaran rumahku. Seseorang membuka kaca mobil dan tersenyum padaku. Aku bangkit dari tempat dudukku, namun Reno mencoba menghadangku.

“Tapi Venus, apa kamu ga bisa kasih aku satu kesempatan lagi?”

“Kamu lupa? Aku udah kasih jeda waktu untuk kamu memikirkannya lagi, tapi kamu tetep pada pendirian kamu kan? Aku ngga pernah denger ada orang yang minta kesempatan ketiga. Perlu aku tegasin sekali lagi, aku bukan lagi itik buruk rupa, aku udah bermetamorfosa menjadi angsa emas. Dan aku tidak menginginkanmu kembali.”

Dan aku berlalu, melangkahkan kakiku dengan mantap kearah Nissan Juke yang terparkir dengan manis menunggu untuk menyambutku. Meninggalkan Reno dengan hitungan dihatinya agar aku menoleh, seperti yang dulu aku lakukan. Tapi kini terbalik, aku tak akan menoleh, bahkan terbesit pun tidak. Aku masih teguh pada tekadku untuk tak membiarkannya membuatku berhitung untuk kedua kalinya. Ku buka pintu mobil yang kini tengah berada di depan tubuhku.

“Maaf lama Va, ada sedikit gangguan.” Kataku seraya mencari posisi yang nyaman untuk duduk di sisi pengemudi.

“Ya ga papa sayang, dia siapa? Kayaknya ada urusan urgent banget sama kamu.” Ujar Vaco menoleh ke kaca mobil di sebelahku, menengok sosok Reno yang tetap tak bergeming dari tempatnya berdiri.

“Kepo deh, bukan siapa-siapa kok. Ngga penting, udah kita jalan aja.”  Ujarku tanpa melirik sidikitpun ke arah kaca mobil.

“Ok.” Dan mobil pun melaju tanpa sedikitpun aku berusaha mengintip Reno dari balik kaca spion.

**TAMAT**



Pesan Penulis:


Jangan takut untuk tersakiti oleh orang yang kalian sayangi. Jadikanlah itu cambuk bagi kalian. Ubah rasa sakit itu menjadi benih metamorfosa kalian. Dan jangan pernah menyia-nyiakan waktu kalian untuk menunggu seseorang untuk berbalik dan menyambut kalian kembali. Ada kalanya kalian harus merasakan fase sakit, agar kalian mengerti apa tujuan hidup kalian. Dan ada kalanya sesuatu yang pernah menyakiti kalian akan kembali, tinggalah kalian yang memutuskan apa itu baik untuk kalian atau tidak. Dibalik kesuksesan dan kebahagiaan seseorang, pasti ada mantan yang menyesal karena telah menyia-nyiakannya.



Oleh: Salma Dhilla (@Alexa Belva)