Senin, 31 Agustus 2015

Berlian dalam Kolam Lumpur

         Entah mengapa, semua kembali seperti dulu. Aku harus melalui jalan yang sama, dan menambal sulam jejak lamaku, hanya saja dengan orang yang berbeda. Semua terulang kembali. Kejadian ini, perasaan ini, semua seolah hanya di copy paste.
            Sering kali aku berpikir, mengapa aku harus terlahir disini, terlahir berbeda dan tak pernah didengar. Sampai kapan aku harus terus menerus dipojokkan? Kapan aku akan mendapatkan kebahagiaanku? Kapan ada tangan yang menarikku dari kegelapan ini?
            Aku selalu berada di sisi gelap ini. Saat aku menyukainya, aku berada di sisi yang berbeda dari gadis yang pernah ia sukai. Dan sekarang, saat aku telah bersamanya, aku justru berada di sisi yang lebih kelam lagi. Bukan, bukan karena dia yang aku cintai, tapi lebih kepada mereka disekitarku, yang ‘seolah‘ mengetahui segala hal tentangku.
        Aku harus mengalami hal yang sama. Keluargaku menghakimi pilihanku. Menganggap kalau masa depan pilihanku tidak jelas, pendidikannya juga tidak jelas. Tapi memang siapa mereka yang berani menghakimi pilihanku seperti itu? Mereka Tuhan? Bukan kan! Masih terlalu dini untuk menghakimi masa depan seseorang seperti itu.
            Disaat aku sudah merasakan kebahagiaanku, mereka pasti mengusiknya. Mereka tak pernah menghargai pendapatku. Suaraku tidak didengar disini. Mereka bahkan tak menyadari mataku yang sembab karena lelah menangis. Mereka bahkan tidak menyadari otakku yang stres karena ulah mereka. Apa mereka ingin mengetahui itu? Tidak!! Mereka tidak pernah bertanya tentang apa yang aku rasakan sebenarnya. Seumur hidupku, aku selalu didikte olahnya.
      Sekali aku melawan, sekali aku mengutarakan pendapatku. Ya, mereka menerimanya, tapi setelah mereka menghujaniku dengan kata-kata tolol, goblog, dan tidak tahu terima kasih. Hanya dia yang selama ini mau mendengarkan keluh kesahku. Menjadi pendengar yang baik saat aku membutuhkan teman. Saat keluargaku membentakku, hanya dia yang menenangkanku dan berkata bahwa semua akan baik-baik saja. Kata-kata klise itu yang aku butuhkan, bukan bentakkan. Tapi apa keluargaku mengerti hal itu? Sepertinya tidak.
            Aku telah menemukannya. Dia terbuka padaku, dia mengerti diriku. Aku sangat bahagia ketika ia memilihku. Jika saja keluargaku mengerti, kalau aku yang mengejar laki-laki itu. Mungkin mereka akan menghujaniku dengan kata-kata ‘perempuan gampangan, bikin malu‘. Tapi aku tidak malu akan hal itu. Aku bersyukur karena aku mengejarnya, mengusahakannya, karena sekarang aku tahu, dia tangan yang ku tunggu untuk menarikku dari kubangan derita ini.
         Dan sekarang hal ini harus terjadi lagi. Mereka menolak pria pilihanku. Mereka melarang aku untuk bertemu dengannya. Alasan yang sama, ‘pendidikannya ga jelas, masa depannya belum jelas‘. Bagi mereka, masa depan yang jelas hanyalah pilot, dokter, pengusaha, militer, dan perminyakan. Mereka hanya membuka sebelah mata mereka. Dan selalu memandang ke arah yang sama. Mereka buta akan pekerjaan lain, dan masa depan yang lain.
            Aku mencoba menjelaskan semua itu padanya, pada pilihanku. Ia berkata bahwa ia telah menduga semua itu sejak lama. Aku mencoba untuk mengutarakan keinginanku, namun aku tidak pandai mengutarakan perasaanku. Aku hanya bisa berkata ‘please jangan putus‘, bersama air mata yang membuatku mengatakannya dengan sesenggukan. Tapi itulah perasaan terjujurku saat itu. Aku memang tak ingin mengakhiri semuanya. Aku tidak sanggup meninggalkan kebahagiaanku.
Dia terlalu baik untuk diperlakukan seperti ini oleh keluargaku. Mereka bahkan tak pernah mengundangnya masuk walaupun sekedar untuk berbasa-basi menanyakan alamat rumahnya, atau sekolahnya, atau apalah. Mereka hanya mampu menghakiminya. Itu tidak adil untuknya.
Aku tahu aku egois. Aku egois karena aku memintanya bertahan meskipun keluargaku telah memperlakukannya sedemikian buruk. Aku tahu aku egois karena memintanya bertahan denganku, saat diluar sana ada gadis yang sangat baik dengan keluarga yang sangat ramah sedang menunggunya. Aku tahu aku egois, saat aku berharap kalau ia adalah tangan yang akan menarikku dari lubang hitam ini, dari keluarga yang tak pernah mendengar suaraku. Dari keluarga yang berusaha menjadikanku seorang prajurit yang hanya tahu tunduk dan patuh, tanpa mau mendengar isi hatiku.
Untuk kamu yang berada di sana, kamu yang tak bisa ku temui karena mereka melarangku untuk berhubungan lagi denganmu. Maafkan aku, karena aku telah menarikmu ke dalam deritaku. Memelukmu erat dan tak mau melepasmu, tak membiarkanmu mendapatkan kesempatan untuk menemukan gadis dan keluarganya yang lebih baik daripada aku. Maafkan aku, karena aku tidak bisa berbuat apa-apa saat mereka menghakimimu, menghina harga dirimu. Aku hanya bisa memendam emosi saat itu, aku mohon tolong maafkan aku.
Aku hanya ingin kau tahu, aku sama sakitnya denganmu, saat mereka menghakimimu. Aku sama emosinya denganmu, saat mereka berkata seolah mereka Tuhan yang tahu apa yang akan terjadi dengan masa depanmu. Dan aku sama hancurnya denganmu, saat mereka melarang hubungan ini, bahkan melarang aku untuk bertemu denganmu. Mereka tidak hanya menghinamu, tapi juga aku. Kau adalah orang yang ku kasihi, dan aku tidak terima orang yang kukasihi harus menerima semua hal itu.
Tapi kau tak akan pernah tahu, seberapa sering aku berpikir untuk mati, karena memiliki keluarga yang pola pikirnya sama sekali berbeda denganku. Seseorang pernah berkata padaku “Mungkin kau terlahir di dalam keluarga itu karena pola berpikirmu yang istimewa. Aku rasa kau terlahir dalam keluarga itu untuk memperbaiki semua pola pikir yang salah dari mereka.“ Banyak yang mengatakan kalau hanya perlu satu orang untuk melakukan perubahan. Tapi kalian tidak tahu bagaimana rasanya berbeda. Seolah kau anak marmut yang diasuh oleh keluarga singa.
Bukan cinta yang membuatku ingin mati, tapi mereka yang membuatku begitu. Mereka bukan menginginkan anak, mereka hanya ingin memiliki seorang prajurit patuh yang hanya mengerti kata “iya” bahkan untuk mengorbankan jiwanya sekalipun. Hanya cinta yang tersisa dariku. Dia sumber kebahagiaanku, sumber kasih sayangku, sumber ekspresiku. Dan itu pun ingin mereka renggut dariku dengan alasan bahwa mereka tahu yang terbaik untukku. Bullshit! Kalian menikah lagi saja kalau belum puas menjalani hidup! Jangan mengaturku sesuka hati kalian, aku bukan boneka kalian, dan tak akan pernah menjadi prajurit kalian!
Aku tercipta sebagai seorang pemberontak. Amunisi yang tercipta dari suara yang tak pernah di dengar. Bom waktu dari perasaan yang tak pernah disampaikan. Aku adalah senjata pembunuh, yang akan meledak bila terus dipojokkan.
Kau, orang yang paling aku sayangi. Andai kau tahu, seberapa bahagianya saat aku bersamamu. Andai kau tahu seberapa ingin aku terus berjalan denganmu. Dan seberapa besar aku mencintaimu. Aku bukan penganut majas hiperbola. Aku hanyalah aku, gadis yang mencoba menyampaikan perasaannya melalui kata demi kata ini.
Mereka mungkin memandangmu sebelah mata. Meremehkanmu sebebas mereka. Tapi aku tidak, aku selalu tahu dimana posisimu. Kau setara denganku, karena kau berjalan bersamaku. Kau tidak berusaha mendikteku, tak seperti penggembala yang sedang menyeret domba malangnya dengan menggunakan tali. Aku tahu dirimu, beberapa hal tentangmu, tapi dapat ku katakan kalau aku lebih mengenalmu daripada keluargaku ‘sok‘ mengenalmu. Aku tahu apa yang kau pilih telah sesuai denganmu, dengan passion mu. Dan aku yakin kau akan sukses dibidang itu. Kau akan menjadi orang besar nantinya, aku percaya padamu. Mereka boleh tidak mempercayainya, tapi aku percaya akan hal itu.
Saat kau berkata bahwa kau hanya menjadi penghalang antara aku dengan pria masa depanku yang mungkin jauh lebih baik darimu. Kau tahu apa yang aku rasakan? Aku sedih, aku menangis. Karena aku berpikir kalau kau tak ingin berjuang untukku. Aku mohon, perjuangkan aku. Aku tak memintamu untuk mengejarku, tapi setidaknya pertahankan aku. Kau tak perlu berpikir akan ada yang lebih darimu untuk menemaniku dan berjalan bersamaku. Kau hanya perlu menjadi yang terbaik untukku, dan tetap teguh berjalan di sisiku, menjabat tanganku hingga aku mampu terbebas dari kolam lumpur ini. Aku pasti melakukan hal yang sama untukmu. Aku ingin menjadi yang terbaik untukmu, dan tetap berjalan di sisimu. Ku mohon jangan mengusirku dari sisimu. Aku yakin tempatku sudah tepat, begitu juga denganmu. Kita hanya perlu melompati hambatan-hambatan yang diciptakan keluargaku.
Aku mengemis padamu, agar hubungan ini tak perlu berakhir. Kau tahu kenapa? Karena aku tak ingin melewatkan kesempatan untuk menjadi orang yang mendukungmu dari nol. Aku tahu berjuang dari bawah tidak akan mudah, tapi aku lebih menghargai esensi dari perjuangan itu, dibandingkan hanya menunggumu dipuncak kejayaan.
Balasan dinginmu adalah cambuk untukku. Kata-kata bosan dan tidak mood mu adalah hukuman terbesar untukku. Aku tahu keluargaku telah salah padamu. Tapi ku mohon jangan hukum aku. Jangan bersikap dingin padaku. Jangan tinggalkan aku sendiri. Aku menyayangimu, sangat menyayangimu. Ku mohon bertahanlah untukku. Bertahanlah untuk semua angan yang telah kita bayangkan bersama.
Kita memang masih sama sama muda. Masih di kategori umur yang sering dianggap “ah, kalian ini tahu apa memangnya? Kalian hanya anak kemarin sore.“ Tapi aku tahu apa yang aku inginkan, dan langkah apa yang ingin ku tempuh. Tak perlu menunggu beruban untuk memperjuangkan hal yang aku inginkan.
Saat kau bertanya padaku, bagaimana jika suatu saat nanti, keluargaku mengetahui semuanya, kau ingin tahu apa yang ku pikirkan? Persetan dengan mereka! Aku tak butuh pendapat yang hanya berisi hinaan pada orang yang aku kasihi. Aku mengasihimu, aku memiliki kepercayaan tentangmu dan masa depanmu. Mereka tahu apa tentangmu? Mengajakmu masuk ke dalam rumahku untuk sekedar berbasa-basi pun tidak pernah. Dimana sopan santun mereka padamu yang selama ini banyak membantuku?
Lalu kau berkata kembali “Aku takut kamu kena omel nanti.“ Aku bahkan tidak memikirkan tentang itu. Apapun resikonya, akan aku ambil. Sempat terpikir olehku, kalau kau hari ini masih berjalan denganku karena aku yang memaksa untuk tidak putus. Tapi ternyata aku salah, sebegitunya kau memikirkanku. Aku bahkan tidak peduli dengan hal yang kau khawatirkan. Ini hatiku, perasaanku, aku yang berhak memutuskan akan berlabuh kemana, bukan mereka. Dan aku memutuskan untuk berhenti mencari, aku memutuskan untuk menetap.
Untukmu yang aku kasihi. Ku mohon berjuanglah, berjuanglah untuk dirimu sendiri. Bukan untukku. Berjuanglah menggapai kebahagiaanmu. Berjuanglah mencapai kesuksesanmu. Berjuanglah menggapai apa yang menurut orang lain, mustahil kau gapai. Tidak ada cita-cita yang terlalu tinggi, yang ada hanyalah perjuangan yang tak selesai. Tidak ada asa yang terlalu berharap, yang ada hanyalah ikhtiar dan doa yang belum cukup. Tidak ada mimpi yang mustahil, yang ada hanyalah orang takut untuk tertidur dan bermimpi, takut akan hari esok. Tidak ada kesuksesan kilat, yang ada hanyalah orang yang terus mencoba tanpa kenal lelah. Ingatlah, sebuah berlian, akan tetap menjadi sebuah berlian meskipun ia berada di kolam lumpur sekalipun. Tak peduli dimana kau bersekolah atau bekerja saat ini, kesuksesan berasal darimu, dan dari apa yang kau kerjakan. Bukan dari mana kau berada. 
Hari ini, aku bukanlah siapa-siapamu. Aku tak lebih dari sekedar orang yang mengasihimu, yang mungkin posisiku dapat tergantikan suatu saat nanti. Untuk itu, lakukanlah semua hal dengan hati dan logikamu, demi dirimu sendiri. Kebahagiaanmu, kesuksesanmu, semua adalah milikmu. Bukan aku, dan bukan milik siapapun selain dirimu dan Tuhanmu. Jika suatu saat aku berada di dalam agenda kebahagiaanmu, maka aku akan sangat tersanjung. Tapi aku bukanlah tujuan dasarmu, melainkan dirimu sendiri. Kau harus menjadi orang besar untuk dirimu sendiri, tapi tetap berguna untuk banyak orang. Saat ini, aku hanya mampu berdoa, jikalau suatu saat, namaku akan terpatri di salah satu lembar agenda kebahagiaanmu. Ya, suatu saat. Aamiin.

***

By: Alexa_Belva


Minggu, 26 April 2015

Dua Sisi

      Ada satu hal yang pernah mengganggu benakku, bahkan sempat membolak-balik perasaanku.  Hal itu sempat menghilang sesaat, namun kini hal itu kembali. Ia kembali menghantuiku, kembali menghujam benakku, kembali membangkitkan asaku yang telah layu dulu.

            Ia kembali bukan tanpa sebab. Aku lah alasan yang membawanya kembali. Kembali untuk memasuki kehidupanku lagi. Diriku sendiri yang telah menarik hal itu dari makam yang kuciptakan untuknya. Aku telah membangkitkan sesuatu yang telah ku kubur dalam-dalam.

      Ia tak pernah berubah. Bahkan, dari sejak ia pertama kali melalui gerbang kehidupanku. Ia masih menjadi dirinya yang dulu. Dirinya yang pernah menumbuhkan pohon asa di benakku. Dan pohon asa yang dulu telah ku timbun dengan longsoran gundahku, kini kembali mencuat, menampakkan dirinya yang sejati.

            Ia memang tidak pernah berubah, tapi aku yang berubah. Entah sejak kapan, aku kembali tertarik padanya. Pada laki-laki yang mungkin bahkan tak pernah memperhitungkan keberadaanku. Dulu, kami memang dekat, atau mungkin hanya aku yang merasa begitu. Lalu seketika ia menghilang, lenyap. Bukan maksudku lenyap tak berbekas, hanya saja, ia seperti melupakanku.

            Dan kini, kesekian kalinya aku memberitahumu. Ia benar-benar kembali ke dalam kehidupanku. Dan dengan kesadarannya sendiri, ia memberitahuku segalanya. Segalanya tentang dirinya. Tapi aku tetap tak tahu, apa kini ia berpikir untuk memperhitungkanku atau tidak. Atau mungkin, ia hanya menganggapku sebagai sebuah pit stop, pemberhentian sesaatnya.

            Kami kembali seperti dulu. Saat dimana ponselku sering bergetar, menandakan ada chat masuk darinya. Saat dimana kami sering bergurau, dan saling tertawa membaca balasan chat dari satu sama lain. Tapi kali ini, isi chat itu berbeda. Ia lebih terbuka padaku. Dan aku senang, mungkin itu tandanya ia mempercayaiku. Aku pun melakukan hal yang sama, mencoba terbuka padanya.

            Dia menceritakan tentang segalanya. Masa lalu nya, bahkan perasaannya dulu pada seseorang. Aku pun menceritakan masa laluku, masa lalu kelamku. Tanggapannya tak buruk tentang itu. Itu yang membuatku mempercayainya. Dan secara tidak langsung, hal itu pula yang memberi kehidupan untuk pohon asaku. Pohon yang telah layu itu seperti diberi kesejukan baru.

            Aku berbeda dengan gadis yang sempat ia cintai. Teramat sangat jauh berbeda. Gadis itu berada di sisi sorotan lampu, dikelilingi hamparan rumput hijau yang indah. Gadis yang selalu tersenyum ramah, dan baik pada semua orang.

Sedangkan aku, aku berada di sisi yang satunya, disisi kelam. Berada di tengah kabut yang tercipta dari emosiku bertahun-tahun silam. Bersandar di pohon tua yang telah mati bersama kebahagiaanku. Aku jarang sekali tersenyum, bahkan mungkin sering menatap seseorang dengan bengis.

Aku, dulu aku sangat membenci kehidupanku. Kebencian itu yang menghilangkan senyuman di wajahku. Aku berusaha untuk membawa senyuman itu kembali, namun butuh bertahun-tahun untuk menariknya kembali ke wajahku. Dan saat kini aku memiliki tawa dan senyumanku kembali, semua itu tak berarti apa-apa.

        Kini benakku mempermainkanku. Ia berkomplot dengan batinku untuk menghancurkan logikaku.

            “Mengapa aku harus mengenalnya, saat ia mengenal gadis itu? Mengapa aku harus menyukainya ketika ia menyukai gadis itu? Mengapa aku harus memikirkannya saat ia hanya berdoa untuk gadis itu?“

            Serangkaian kalimat itu terus berjalan berputar-putar dalam benakku. Selayaknya film lama yang terus-menerus diputar. Aku bosan memikirkan kalimat-kalimat mematikan itu, dan aku muak mencari jawabannya. Tapi memang dasar tidak tahu diri, kalimat itu tetap mengalun dalam benakku.

            Tak hanya aku dan gadis itu yang berada di sisi yang berbeda. Tapi juga laki-laki itu. Kami begitu bertolak belakang, bagaikan air dan api, tidak, mungkin lebih berbeda dari itu. Aku memang selalu bertolak belakang dengan siapapun, jarang ada yang sepaham dengaku. Karena aku sadar, jarang ada gadis lain yang memiliki masa lalu sekelam diriku. Aku bukanlah seorang drama queen, tapi jalan hidupku telah tertoreh layaknya drama sedih yang kalian simak di televisi.

            Aku benci mengakuinya, tapi laki-laki itu telah mencintai gadis yang tepat. Gadis itu nyaris sempurna. Entah apa yang membuat laki-laki itu memilih untuk menyerah. Ia berkata padaku, itu karena ia sadar akan dirinya sendiri. Tapi bagiku, itu bukanlah alasan. Jika ia benar-benar mencintainya, bukankah ia akan mencoba untuk setidaknya menyetarakan dirinya dengan gadis itu?

Tapi diriku yang lain bersyukur, ia tak bersama gadis itu. Diri ku yang ini, sisiku yang egois ini tak ingin membiarkan sifat asli laki-laki itu terkubur. Aku menyukai sifat aslinya, tak peduli sekonyol atau sebodoh apapun tindakan yang ia lakukan. Diriku yang ini juga memiliki pemikiran tersendiri. Untuk apa mencintai seseorang, jika kita harus merubah diri kita yang sejati menjadi orang lain? Untuk apa kita bersama seseorang yang selalu membuat kita merasa bahwa diri kita bukanlah apa-apa dibanding orang itu? Bersama dengan seseorang adalah cara untuk menyempurnakan diri kita, bukan membuat kita memandang rendah pada diri kita sendiri. Bukankah begitu?

Kini laki-laki itu memang dekat denganku. Mungkin ia menganggapku sahabatnya, entahlah, hanya laki-laki itu dan Tuhan yang tahu apa yang sebenarnya ada dalam benaknya. Mungkin ia mengira aku hanya bergurau saat aku berkata bahwa ia istimewa. Tapi sebenarnya itulah yang aku pikirkan tentangnya. Mungkin ia tidak menyadari hal itu, tapi biarlah.

Terkadang aku terdiam, tapi benakku tidak pernah diam. Terkadang benak ini menerawang jauh, berpikir segala kemungkinan yang bisa terjadi. Jika ia menyukai seseorang lagi, akankah ia merubah dirinya? Menghilangkan keunikannya, dan menjadi laki-laki kebanyakan? Akankah aku tidak mengenalnya lagi? Akankah aku kembali menjadi satu-satunya manusia aneh? Tapi itu adalah haknya, untuk menjadi siapapun yang ia inginkan. Untuk berubah menjadi seperti apapun, dan untuk mencintai siapapun dengan caranya.

Aku pun juga akan melakukannya dengan caraku. Ia mungkin tidak mengetahuinya. Tapi aku yakin, Tuhan mengetahui apa isi di dalam batin dan benakku. Aku  hanya memohon satu hal untuk laki-laki ini. Permohonan yang sama seperti yang ia pinta untuk gadis itu.

            “Tuhan, jika ia ingin berkembang menjadi laki-laki yang lebih baik, maka bantulah ia. Tapi aku mohon pada Mu, jika ia ingin merubah total dirinya, tolong ingatkan dia, bahwa dirinya istimewa. Tolong ingatkan dia untuk tidak merubah keunikannya. Agar dia tak harus kehilangan jati dirinya. Dan ku mohon pada Mu, tolong berikan ia yang terbaik untuknya, siapapun, dan apapun itu. Aamiin.“


        Aku memang memendam semuanya. Aku memang memilih untuk menjadi pendengar. Dan terkadang menjawab chatnya yang menyinggung soal hati. Entah bagaimana ia menanggapi soal itu. Tapi terkadang, aku berandai-andai. Andaikan aku bertemu dengannya sebelum ia bertemu gadis itu. Andaikan aku bertemu dengannya saat aku telah berhasil mendapatkan senyumanku kembali. Tapi ya, semua itu hanya sebatas kata ‘andaikan‘, dan waktu tak akan sepaham denganku untuk merubah masa lalu.


**TAMAT**


By : Alexa_Belva

Sabtu, 25 April 2015

Aku

Aku adalah aku
Dan bukannya dia
Ini lah aku
Dengan semua yang melekat padaku
Kekurangan serta kelebihanku

Aku adalah aku

Dan dia pun adalah dirinya
Aku tau dia nyaris sempurna
Sedang aku tidak, bahkan jauh
Tapi
Tak pernah sedikitpun 
Aku ingin sepertinya

Aku adalah aku

Yang selalu kau sejajarkan dengannya
Selalu kau bandingkan dengannya
Tapi aku bukanlah dia
Dan ia tak akan menjadi diriku
Tak sedikitpun
Bisa menjadi diriku

Aku adalah aku

Yang lelah mendengar keluhmu
Yang selalu menghela nafas
Tiap kau berkata
"Jadilah sepertinya"

Aku adalah aku

Aku yang mencintai diriku
Dan tak kan ku ubah

Ia sempurna, memang

Dan aku tidak, itu juga benar
Tapi aku memiliki diriku sendiri
Diriku yang khusus
Diriku yang istimewa
Diriku yang unik

Berhentilah, hentikan keluhan konyol itu

Aku akan tetap seperti ini
Dengan diriku yang sekarang ini
Sedang ia akan tetap menjadi dirinya

Baik aku maupun dia

Kami berbeda
Datang dari keluarga yang berbeda
Dan membawa sifat yang berbeda
Hargailah itu
Karena dunia akan selalu seperti kami
Yang berbeda satu sama lain

Senin, 29 Desember 2014

Bebas

Aku memang jahat
Bahkan mungkin terlalu jahat
Aku sadar itu
Dan aku mengakuinya
Tapi aku tak mampu melawannya

Aku tahu aku menyakitimu

Mencarimu lalu melupakanmu
Bersamamu lalu melepaskanmu
Sebab aku bingung
Apa arti kehadiranmu sebenarnya

Saat aku bahagia, kau menghilang

Saat aku dilingkupi sepi, kau hadir
Meraihku dan melambungkanku
Tak sekali, tapi selalu begitu
Kau datang lalu pergi

Kau melawan dunia untukku

Melawan perih untukku
Melawan aturan juga untukku
Kau melawan segalanya untukku
Tapi bukan itu yang ku mau

Kau abu-abu

Sulit ditebak bukan berarti tak bisa
Semakin mencoba bersamamu
Akan semakin sulit mengenalmu
Aku tak bisa di duniamu

Maaf, maafkan aku

Aku naif, aku tahu itu
Aku jahat, aku pun tahu itu
Tapi satu hal tak kau tahu
Aku pembohong yang hebat

Saat ku minta kau pergi

Aku berbohong
Saat ku bilang benci
Kembali aku berbohong
Dan tak satupun kau sadari

Maaf, maafkan aku

Yang telah melakukannya
Hal yang dulu kau lakukan
Tapi ini yang terbaik
Melepasmu, membebaskanmu
Kau tak perlu melawan apapun lagi
Karena aku mencintaimu

By : Salma Dhilla (@AlexaBelva)


Kamis, 11 September 2014

Ketika Hati Telah Memilih

“Apa kalian sudah pernah checkup ke dokter tentang kandungan istrimu?” Tanya ayah mertua Dina.
          “Sudah, Pa.” Ujar Gio.
“Bagaimana hasil checkup nya?” Tanya ibu mertua Dina.
          Dina hanya tertunduk lesu, tak bergeming. Wajahnya yang semula bahagia karena baru pulang berlibur dengan suami tercinta, kini terlihat bermuram durja. Wajahnya terselimuti aura gelap yang memancarkan kesedihan. Jangankan menjawab pertanyaan dari ibu mertuanya, Dina bahkan tak mampu berpikir, apa yang dapat menjadi lebih buruk daripada pernyataan dokter 3 bulan yang lalu.
          “Aku ke kamar dulu ya kak.” Ujar Dina pada suaminya, Gio.
          “Ya, kamu istirahat saja ya.” Ucap suaminya, mengecup lembut jilbab Dina.
          Dina melangkah meninggalkan ruang tengah. Menyeruap ke dalam kamar tidurnya. Ia kembali teringat kalimat demi kalimat yang dilontarkan oleh dokter. Air mata yang sedari tadi coba ia tahan, kini mengalir deras. Ia tersandar di pintu kamarnya, menangis, dan menangis. Benaknya mencoba untuk optimis, tapi hatinya tak dapat berbohong. Gundah, khawatir, malu, dan takut kini tercampur menjadi satu.
          “Ada apa sebenarnya? Apa yang dokter katakan, Gio?” Ujar ibunya.
          “Dokter bilang, ada masalah dengan kandungan Dina. Dan dokter khawatir, Dina akan sulit mempunyai keturunan.” Ujar Gio menunduk.
          “Ya Tuhan, kasihan sekali menantuku. Pantas saja tadi wajahnya seketika murung.” Ujar ibunya.
          “Tapi Gio, kita sudah menunggu selama 8 tahun. Umur Dina sudah lebih dari 30 tahun, sekarang. Akan semakin kecil peluang mempunyai keturunan. Mau sampai kapan kita menunggu keturunan dari Dina? Dokter saja sudah memvonisnya seperti itu.” Ujar ayah Gio.
          “Maksud papa?”’
          “Kenapa kamu tidak menikah lagi? Siapa tahu dengan begitu kamu akan memiliki keturunan.” Ujar ayahnya.
          “Aku tidak mungkin melakukan itu, Pa. Pernyataan dokter sudah cukup membuat Dina stress dan sedih. Alasan aku mengajaknya berlibur untuk melupakan stresnya. Aku tak mungkin membuatnya kembali sedih, bahkan itu pasti akan membuatnya semakin sedih.”
          “Papa ini kenapa? Mama ini juga perempuan. Tidak ada perempuan yang mau divonis sulit memiliki keturunan. Jika saat ini, mama yang ada di posisi Dina, dan papa di posisi Gio, apa papa akan menikah lagi?” Tanya ibunya.
          “Tapi ini situasi yang berbeda, Ma. Kita semakin tua, sedang Gio belum juga mempunyai momongan. Mereka kan tidak mungkin hidup hanya berdua. Jika mereka tidak memiliki keturunan, kalau terjadi apa-apa dengan salah satu diantara Gio dan istrinya, siapa yang akan menjaga mereka nantinya?” Ujar papa tegas.
          Tanpa mereka sadari, Dina mampu mendengar perkataan ayah mertuanya dari dalam kamar. Ia semakin terpuruk, tak tahu harus bagaimana. Ia begitu mencintai suaminya. Ia tak rela membiarkan suaminya menikah lagi dengan wanita lain. Namun ia juga tak ingin dianggap sebagai wanita egois, dengan membiarkan suaminya tak memiliki keturunan selamanya.
          Dina keluar dari kamar, memandang nanar semua orang yang sedang berada di ruang tengah. Mertua dan suaminya. Air mata semakin menuruni pipinya dengan deras. Nafasnya tersengal, perkataannya tercekat. Jantung Dina berdegup keras saat memandang ayah mertuanya. Bukan karena ia membenci ayah mertuanya. Tapi ia membenci dirinya sendiri, karena membiarkan benaknya membenarkan kalimat demi kalimat ayah mertuanya.
          “Ma, Pa, Dina minta maaf karena dina belum bisa memberikan cucu untuk mama dan papa. Tapi demi Tuhan, Dina tidak pernah berharap berada dalam posisi ini.” Ujar Dina masih terisak.
          “Dina,”
Gio tak mampu berkata apa-apa lagi. Batinnya gundah, perkataan ayahnya ada benarnya. Mereka tak mungkin hidup hanya berdua. Jika terjadi sesuatu padanya, siapa yang akan menjaga istrinya nanti. Tapi ia juga tak mungkin menyakiti wanita yang selama ini ia cintai.
“Papa minta maaf, Dina. Tapi menurut papa, ini yang terbaik. Kamu ingin Gio bahagia kan, Dina? Papa mohon, izinkanlah Gio menikah lagi.” Ujar ayah mertuanya.
“Papa, cukup!” Ujar ibu mertuanya.
Dina bersujud di kaki ayah mertuanya. Tangisnya semakin pecah.
“Dina minta maaf, Dina tidak bisa menjadi istri dan menantu yang sempurna. Papa boleh hokum Dina, papa boleh memaki Dina, terserah Papa. Tapi Dina mohon, jangan minta kak Gio untuk menikah kembali. Dina sangat mencintai kakak, Dina tidak akan sanggup melihatnya dengan orang lain. Lagipula dokter bilang masih ada peluang, Pa. Jadi Dina mohon sekali, jangan minta kak Gio menikah lagi.”
“Tapi berapa lama lagi kami harus menunggu? Apa 8 tahun itu kurang lama untuk kamu? Jujur Dina, papa kecewa, dan papa menyesal telah mengizinkan Gio menikah dengan kamu. Karena ternyata, semua menjadi rumit seperti ini.”
Dina bangkit, dengan matanya yang masih membendung air mata, ia menatap ayah mertuanya. Ia tak percaya dengan apa yang ia dengar. Ayah mertua yang selama ini ia anggao sebagai ayahnya, tega berkata sedemikian tajam padanya. Bahkan tega membuat hatinya hancur tak berbentuk.
Dina menyambar kunci motor di atas meja. Berlari keluar rumah dengan mengusap air mata yang masih membanjiri pipinya. Gio mengejarnya, berusaha menahannya.
“Dina, aku mohon kamu jangan pergi. Kita selesaikan semua masalah ini.”
Dina terdiam sejenak. Memandang lekat suami tercintanya.
“Kak, apa kakak akan mengikuti kata-kata papa?”
“Aku, jujur aku belum tahu, Dina. Tapi kita bisa bicarakan ini nanti. Sekarang kamu ikut aku ya, kita kembali ke dalam. Aku temani kamu istirahat.”
Jawaban suaminya justru membuat Dina bagai tersambar petir. ‘Belum tahu?’ Apa maksud kata-kata itu? Apa itu berarti ia akan mempertimbangkannya? Tangis Dina kembali pecah.
“Kak Gio, aku tahu kakak begitu menghormati papa dan mama. Aku juga tahu kakak tidak pernah membangkan kata-kata papa dan mama. Tapi aku ini istri kakak. Apa kakak tidak bisa memperjuangkan aku? Apa semuanya harus berakhir seperti ini kak?”
“Dina, maksud aku bukan begitu.”
“Cukup kak, jangan katakan apa-apa lagi. Dina tahu, Dina yang salah. Papa ga salah, dan kak Gio juga ga salah. Tapi Dina mohon izin, Dina harus pergi. Dina perlu menenangkan diri dulu.”
Dina meninggalkan suaminya yang terus memanggil namanya. Bahkan sekarang, panggilan suaminya tak mampu terdengar lagi di telinganya. Telinganya seolah tak berfungsi, karena kehancuran batinnya saat ini. Matanya yang masih basah terfokus pada jalan, berusaha tetap menyeimbangkan motornya yang kini melaju dengan sangat cepat.
Empat puluh menit kemudian, Dina tiba di tempat tujuannya. Memarkir motornya dan kemudian berlari ke atas bukit, tempat kesukaan ia dan suaminya. Ia jatuh bersimpuh di hamparan rumput hijau. Membiarkan air matanya meleleh membasahi rerumputan. Bibirnya terkatup rapat, tangannya mencengkram erat kepalanya sendiri.
“Tuhan, kenapa engkau membiarkan semua menjadi seperti ini? Mengapa harus aku yang mengalami semua ini?”
Dina mencoba bangkit, berjalan kea rah sebuah batu besar. Batu yang dipenuhi dengan coretan-coretan. Ia duduk menyandarkan dirinya pada batu itu, mencoba mengingat masa sulit yang telah ia lewati bersama suaminya.
‘Dulu, sangat sulit bagi kami untuk bersama. Orangtuaku tak merestui hubunganku dengannya. Tak hanya satu, atau dua tahun, tapi bertahun-tahun aku mencoba meyakinkan kedua orangtuaku, bahwa kak Gio adalah yang terbaik untukku. Aku masih ingat semua yang telah kami lewati, ya semuanya. Saat aku menangis di sisi suamiku yang terbaring lemah di rumah sakit karena kecelakaan. Tak kuasa aku melihatnya dibalut perban, dan diberi transfusi darah. Aku menjaganya, berhari-hari menunggunya untuk membuka mata. Lega rasanya saat ia membuka matanya dan menyentuh wajahku. Delapan tahun sudah, kami bersama. Bersama melewati masa-masa sulit, dan bersama mengarungi masa-masa indah. Hidupku selalu dipenuhi kejutan saat bersamanya. Seolah, kebahagiaan yang ia berikan tak pernah terhenti untukku. Baik di masa sulit maupun dimasa indah kami. Tapi, apa semua harus berakhir seperti ini?’
“Tuhan, apa aku egois jika aku tak mengizinkan suamiku menikah kembali? Apa aku menarik suamiku dalam dosa? Jika aku mintanya untuk tak memenuhi permohonan ayahnya. Aku begitu mencintainya, Tuhan. Sangat mencintainya. Apa aku harus mengorbankan perasaanku untuk kebahagiaannya, kebahagiaan keluarganya? “
“Tuhan, apa ini saatnya aku menunjukkan kesungguhanku padanya? Apa ini saatnya aku harus melakukan pengorbanan terbesarku? Aku sadar, aku tak boleh egois. Mungkin ini memang satu-satunya cara untuk membahagiakan suamiku. Aku tak ingin membuatnya semakin tersudut oleh permintaan papa.”
Dina menggenggam ponselnya. Ada 5 panggilan tak terjawab dari suaminya. Namun, alih-alih menjawabnya, Dina merasa belum mampu bertemu langsung dengan suaminya. Bahkan melalui suara sekalipun. Dina membuat pesan suara melalui BBM kepada suaminya.
“Kak, Dina minta maaf, tadi pergi tanpa meminta persetujuan kakak dulu. Sekarang Dina sadar, Dina selama ini egois. Papa benar, kakak akan membutuhkan seorang anak, yang mungkin tidak akan pernah bisa Dina berikan. Dina hanya mau kakak tahu, dina tak pernah meminta dalam kondisi ini. Kondisi ini adalah kondisi yang paling ditakuti semua perempuan. Dan ternyata, Dina yang harus mengalami ini.
Dan kalau Dina boleh terlahir kembali, Dina akan meminta pada Tuhan, supaya dina bisa manjadi istri yang sempurna. Supaya Dina bisa menjadi seorang ibu. Dan yang pasti, Dina akan tetap memilih kakak menjadi pendamping Dina. Dina tak pernah menyesali keputusan Dina untuk bersama kakak.
Dina sayang sekali sama kakak, Dina sangat mencintai kakak. Dina ingin kakak bahagia, menua bersama keluarga kecil kakak. Dan mungkin itu memang bukan bersama Dina. Dina tidak ingin kakak membangkang papa. Jadi, Dina, Dina mengizinkan kakak menikah lagi. Dina ingin kakak bahagia.
Tapi maaf kak, Dina tidak bisa kembali lagi ke rumah. Berat rasanya melihat kakak bersama wanita lain. Dina akan pergi, ke tempat dimana Dina bisa memulai semua dari awal. Tapi yang perlu kakak tahu, Dina hanya mencintai kakak. Dina pergi bukan karena Dina ingin mencari pengganti kakak. Tapi Dina pergi untuk hidup sendiri, untuk belajar bahagia dengan tahu kakak bahagia, walau bukan bersama Dina lagi. Jadi sekarang, kak Gio baik-baik ya. Dina pamit. Dina sayang sekali sama kak Gio. Dina harap kakak bahagia dengan pendamping baru kakak. Dina sangat mencintai kakak.”
Gio yang menerima pesan itu menjadi khawatir, batinnya berseteru. Ia tak ingin kehilangan wanita yang begitu ia cintai, wanita yang selama delapan tahun ini hidup bersamanya. Tapi ia juga tengah terpojok oleh permintaan ayahnya.
Gio pergi mencari Dina. Berharap Dina berada di bukit, tempat kesukaan mereka. Gio memacu mobilnya, berharap ia tidak terlambat. Berharap Dina berada disana, dan masih berada di sana.
‘Dina, aku salah. Aku mohon jangan pergi. Aku tak akan menuruti permintaan papa. Aku tak peduli, apa aku akan memiliki anak atau tidak. Yang aku pedulikan sekarang hanyalah kebersamaan kita.’ Ujar Gio dalam hati.
Gio memarkir mobilnya. Berlari, mencoba mencari Dina di sekitar bukit. Berlari ke arah batu besar, namun Dina juga tidak berada disana. Ia terduduk lesu di samping batu besar. Ia melihat batu itu, ada satu goresan baru disana.
‘Dina dan Gio. Tuhan. aku harap Gio-ku bahagia.’
Air mata Gio mulai membasahi pipinya. Ia semakin kalut. Ia berteriak memanggil-manggil nama istrinya. Namun nihil, istrinya tak berada disana.
“Derrttttt,,,,derrrttt”
Ponsel Gio berdering, satu panggilan masuk ‘Pak Wira’. Gio menghapus air matanya, mengatur nafas, dan menjawab panggilan itu.
“Halo? Mas Gio?” Ujar Pak Wira.
“Ia, saya sendiri. Ada apa ya, Pak?”
“Mbak Dina kecelakaan, mas. Sekarang saya ada di rumah sakit Persada, menemani mbak Dina.”
“Bagaimana kondisi istri saya, Pak?”
“Saya kurang tahu, mas. Mbak Dina masih ditangani dokter.”
“Baik, Pak. Terima kasih. Saya segera kesana.”
Gio memacu mobilnya menuruni bukit, ke arah rumah sakit Persada. Selama di perjalanan, ia tak lupa mengabari Papa dan Mamanya untuk uga pergi ke rumah sakit. Sesampainya di rumah sakit, Gio melihat Papa dan Mamanya sudah tiba lebih dulu. Pak Wira berdiri di dekat pintu UGD.
“Bagaimana Dina bisa kecelakaan, pak?” Tanya Gio.
“Jadi tadi, tak jauh dari pertigaan yang mengarah ke bukit. Ada sebuah mobil yang melaju cepat di turunan, tepat di belakang motor mbak Dina. Sepertinya mobil itu remnya blong, mobil itu menabrak mbak Dina. Maba dina terpental mas, lukanya cukup parah, karena mbak Dina tidak memakai helm tadi. Pengendara mobilnya sudah diamankan polisi.”
Gio terduduk lesu di lantai rumah sakit. Air matanya mengalir deras. Ia menyesali dirinya yang terlambat mancari Dina. Kedua orangtua Gio tertunduk, menyesali perkataan mereka yang telah membuat Dina pergi, yang membuat Dina kini berada di dalam UGD rumah sakit.
“Apa ada keluarga korban disini?” Tanya dokter yang keluar dari ruang UGD.
“Saya suaminya, dokter. Bagaimana kondisi istri saya?” Tanya Gio khawatir.
“Maaf, pak. Kami sudah berusaha semaksimal mungkin. Namun pendarahan dikepalanya sangat parah. Nyawa korban dan kandungannya tidak dapat tertolong.”
“Kandungan, dokter?” Tanya ayah Gio.
“Iya, korban tengah mengandung. Sepertinya sudah empat atau lima minggu. Tapi kami mohon maaf, kami tidak mampu menyelamatkan keduanya.”
Gio menyeruak masuk ke dalam ruang UGD. Memeluk erat jasat istrinya yang kini tengah terbujur kaku. Tertidur untuk selamanya. Dina benar-benar pergi meninggalkan kehidupan Gio. Tanpa dia tahu, bahwa ia tengah mengandung calon buah hati mereka.
“Tidak mungkin!! Ya Tuhan, Dina! Dina kenapa kamu meninggalkan aku Dina? Aku belum sempat minta maaf sama kamu. Aku milih kamu, Dina. Dan kamu tahu, kamu sedang mengandung anak kita! Aku mohon bangun, Dina!” Ujar Gio memeluk erat tubuh Dina.
***
          Pemakaman Dina telah selesai beberapa jam yang lalu. Sulit bagi Gio untuk meninggalkan pusara mendiang istrinya. Gio pulang ketika ibunya berulang kali membujuknya untuk pulang. Dan kini ia tengah berada di kamarnya, kamar yang dulu ia tempati bersama Dina. Ia menangis, meratapi kebodohannya yang tak mampu tegas disaat Dina membutuhkannya.
          Ia melihat bantal di sebelahnya. Teringat dengan tingkah manja Dina, yang selalu meminta Gio memeluknya saat mereka ingin tidur. Teringat saat Gio berusaha keras menghibur Dina, setelah mereka pulang checkup dari dokter. Memeluk Dina, dan membelai lembut rambutnya. Kini, setiap sudut rumah itu hanya akan mengingatkannya pada Dina. Istri yang begitu ia cintai dan mencintainya.
          “Dina, aku menyesal. Aku menyesal atas jawaban terakhir yang aku berikan ke kamu. Kalau saja saat itu aku tegas. Andaikan saja kita tahu kehamilan kamu lebih cepat. Andai saja papa tak memaksa aku untuk memiliki keturunan dengan menikah lagi. Pati kamu sekarang masih ada disini. Berbaring dipelukan aku dan kita akan sama-sama merawat buah hati kita yang tenagah ada dikandungan kamu. Andai saja aku punya kesempatan untuk bilang ke kamu, kalau aku sangat mencintai kamu. Dan aku tak masalah jika harus menua berdua saja denganmu. Aku harap kita akan bertemu lagi nanti ya sayang.”
          Penyesalan Gio, kini tak ada artinya. Dina tak akan pernah kembali. Gio tak pernah menikah lagi. Ia hidup dengan mengembangkan rasa penyesalan dihatinya. Kini Gio hanya dapat berharap kalau kelak Tuhan akan mempertemukan kembali ia dengan istri dan calon buah hatinya.

**Tamat**


By : Salma Dhilla (@AlexaBelva)

Senin, 26 Mei 2014

Kumohon



Apa mereka menginginkanku??
Jika iya, mengapa begini??
Mereka mengacuhkanku
Seolah aku tak diantara mereka
          Untuk apa aku dilahirkan
          Jika hanya menjadi penonton
Mereka saling berteriak
Saling menunjuk
Saling menyalahkan
Serta saling mencaci
          Andai aku mampu memutar waktu
          Kembali ke masa mungilku
Saat aku hanya bisa menangis
Hanya mampu tersenyum
Dan saat aku tak mengerti apapun
Selain diriku dan keinginanku
          Aku tak perlu melihat ini
          Semua pertengkaran ini
          Dan aku tak ingin mendengarnya
          Semua cacian dan bentakan itu
Kembali ke masa kecilku
Mengembalikan kehangatan itu
Dan mengembalikan keluargaku

Lampion


Pedihkah dia?
Ataukah dia kebahagiaan?
Ia bernama kasih
Ia bernama cinta
Tapi aku taak mengerti dia
                             Apa ini karnanya?
                             Air mata yang tak henti mengalir
                             Entah kecewa, entah bahagia
                             Entah jua apa tujuannya
Ada yang bilang
Air mata cinta itu indah
Air mata mewarnai hati
Layaknya hujan mengobati bumi
Layaknya bintang menerangi malam
                             Saat cinta merayap datang
                             Lampion hati mulai mengerjap
                             Degup jantung merajai diri
                             Serta rona pipi yang tak tersembunyi
Namun, akankah lampionku bertahan?
Aku tak ingin lampionku meredup
Aku tak ingin cinta ini melapuk
Aku tak ingin hati ini meradang
Dan ku tak ingin diri ini terjatuh
                             Bantu aku,
                             Bantu aku menyinari lampionku
                             Menyinari hidupku, hatiku, serta hariku
                             Setidaknya, menggores siluet senyum
                             Di wajah murah ini
Di saat lampionku meredup
Ku kan mampu mengganti lampion itu
Dengan lampion lain yang akan singgah
Suatu saat nanti.. Ya suatu saat