Jumat, 13 April 2012

Senja di Pelupuk Mata


M
entari mulai menyapa malu-malu. Cakrawala perlahan kembali benderang. Jendela-jendela masih bermandikan embun pagi. Ayam berkokok silih berganti. Burung-burung terbang merendah, berkicau melewati hamparan bunga yang semerbak aromanya. Semua orang telah terbangun dari alam mimpi. Bersiap memulai rutinitasnya kembali, tak terkecuali Tama. Murid kelas 12 di SMA Nusantara ini sedang bersiap-siap untuk menyongsong hari ini.
            Dari kejauhan, samar terdengar suara mobil yang tak asing di telinga Tama. Jemputan sekolahnya tengah melaju ke arah rumahnya, membuat Tama diwajibkan bergegas. Lalu lalang, kesana kemari mencari peralatan sekolahnya yang berserakan entah dimana.
            “Telat lagi! Telat lagi!” kata Tama kesal.
            Suara klakson mobil jemputan memecah keheningan pagi yang indah ini. Tak hanya sekali, tanpa malu pak supir menekan klakson mobil tua itu lagi dan lagi. Suaranya begitu keras laksana terompet yang ditiup tepat di sebelah telinga.
            “Woy, Tam! Cepetan dikit bisa kali!” suara Rino bersautan dengan suara klakson. “Tukang ngaret dasar!” Lanjutnya dengan kepala menjulur keluar jendela.
            “Iya nih, lama banget! Pasti tu anak bangun kesiangan lagi.”kata Tasya menghela nafas. Matanya terpaku pada jam tangan mungil di tangan kirinya. Gundah terpancar dari seluruh wajahnya.
            Tak lama, Tama pun menunjukkan batang hidungnya. “Hehe sorry. Biasalah, jam weker gue ngaret.” kata Tama sembari tertawa. Tak ada raut penyesalan tersirat dari wajahnya.
            “Gue bosen dengernya! Mana ada jam weker ngaret. Kalau yang punya ngaret tu baru bener!” kata Rino seraya mengalungkan tangan kirinya ke bahu Tama dan mulai mengacak-acak rambut Tama.
           Selama di perjalanan menuju sekolah, pandangan Tama terpaku pada sosok gadis yang duduk di jok belakang, Tasya. Pandangan Tasya tengah menerawang jauh namun sesekali ia melirik ke arah jarum jam yang terus berdetak di tangannya. Tasya terlihat begitu anggun walau hanya berbalut seragam sekolah. Pandangannya menyiratkan kehangatan, namun juga terkesan misterius.
           ‘Diem aja udah cantik. Kalau liat dia lagi serius gini, jadi keliatan makin cantik. Padahal baru pakai seragam, gimana kalau pake baju pergi? Apalagi gaun, pasti makin cantik.’ kata Tama dalam hati. Pikirannya melayang jauh, membayangkan jika Tasya menggunakan gaun berwarna hitam dan tengah makan malam dengannya.
            “ Woy, lu niat sekolah ngga? Kalau mau ayo turun! Malah ngelamun.” teriak Rino memecah lamunan Tama.
            Tersadar dari lamunan indahnya, hanya tinggal Tama seorang diri yang masih berada di dalam mobil jemputan. Rino dan Tasya terlihat berjalan terburu-buru memasuki gedung sekolah. Tak mau kalah, Tama segera membawa ransel meninggalkan mobil jemputan. Berlari-lari kecil mengejar Rino.
            Sesampainya di kelas, ruangan itu segera menjadi ramai oleh suara murid-murid lain yang bersaut-sautan mengejek Tama. Pak guru menenangkan semua murid dan kelaspun menjadi hening kembali.
            “Kenapa kalian terlambat?” tanya  pak guru.
            “Maaf, Pak. Sebenarnya, tadi saya dan Tasya sudah berangkat pagi. Cuma Tama bangun kesiangan, Pak. Jadi kami semua terlambat.” kata Rino menunjuk ke arah Tama. Tama tertunduk malu.
            “Sssst! Rin, jangan bilang gitu! Kasian Tama, nanti dia yang kena marah pak guru.” kata Tasya berbisik ke Rino.
            “Maaf, Pak. Tapi ini semua memang salah saya. Saya yang membuat teman-teman saya terlambat karena menunggu saya. Saya mengaku, saya bangun kesiangan. Jadi ini semua salah saya.” kata Tama tertunduk malu. Ia bahkan tak memiliki keberanian untuk melihat wajah pak guru.
            Pak guru menepuk bahu Tama. Tama memberanikan diri untuk menatap wajah pak guru. “Ya sudah. Kali ini kalian bapak maafkan. Bapak bangga padamu karena kamu mau mengakui kesalahanmu di depan umum. Butuh keberanian besar untuk mencontohmu. Sekarang kalian boleh duduk!”
            Kebahagiaan terpancar dari wajah Tama. Selain karena ia mendapat pujian dari pak guru, tak lain juga karena Tasya sempat membelanya. Kebahagiaan datang bertubi-tubi padanya pagi ini, hatinya bagaikan dipenuhi oleh bunga-bunga indah karena perhatian yang Tasya berikan untuknya.
            Sementara itu, Bella bingung mengapa Tasya masih membela Tama padahal mereka hampir terkena hukuman karena Tama. Pertanyaan demi pertanyaan mengalir di benak Bella. Semakin lama, semakin banyak pertanyaan yang belum terjawab dan pernyataan yang perlu dipastikan. Membuatnya tak sanggup menahan semua tanda tanya itu.
            “Tas, tadi lu ngapain ngebelain Tama? Lu masih suka ya sama dia?” tanya Bella menduga-duga.
Malu merasuk ke dalam sukmanya untuk mengakui apa yang sebenarnya ia rasakan saat ini. Tasya menguatkan diri dan mengangguk perlahan. Pipinya merona merah jambu. Matanya tertuju pada sosok Tama. Terlalu lama ia memendam perasaan suka pada laki-laki itu, tanpa tahu apa yang Tama rasakan padanya. Sanubarinya memberontak, memintanya mengungkapkan isi hatinya pada Tama. Namun, raganya menolak. Berulang kali ia mencoba mengatakannya, namun berulangkali juga bibirnya terasa pilu dan enggan terbuka. Hinga akhirnya tak ada sepatah katapun yang terlontar dari mulut mungilnya.
***
            Bel istirahat berbunyi. Tama, Tasya, Bella dan Rino bergegas menuju kantin. Seperti biasa mereka duduk di pojok kantin tersebut. Angin berhembus, meniup rambut indah Tasya. Tama tertegun melihat kecantikan gadis dihadapannya ini. Bella menarik Rino menjauh, meninggalkan Tama dan Tasya berdua.
“Lu mau ngapain sih Bel?” tanya Rino bingung.
“Sssst! Lu kan temennya Tama, ada yang mau gue kasih tau tentang Tama.” Kata Bella sembari meletakkan jari telunjuknya di bibir Rino agar ia diam.
“Emang apaan Bel?” Rino mulai terlihat antusias dengan apa yang akan dikatakan Bella.
“Tasya.. Tasya itu suka sama Tama. Tapi lu jangan bilang tau dari gue ya! Masalahnya gue kasian sama Tasya, dia udah terlalu lama mendam perasaan itu. Gue rasa udah waktunya Tama tau!” kata Bella perlahan.
Wajah Rino membiaskan cahaya. Kegembiraan membuat wajahnya bersinar. “Pantesan aja setiap gue marah-marah ke Tama karena dia bangun kesiangan si Tasya langsung ngebelain. Nah pas dah tu! Tama juga suka sama Tasya tapi sayangnya dia takut ditolak. Ok lah nanti gue suruh Tama nembak si Tasya aja.” kata Rino mengedipkan sebelah matanya kearah Bella.
Beberapa menit berlalu, meja tempat Tama dan Tasya makan hening laksana tak berpenghuni. Tak ada tegur sapa, dan tak ada celoteh ringan saat makan. Yang terdengar hanyalah melodi dari sendok yang membentur piring.
***
            Bel masuk berdentang. Saat pelajaran tengah berlangsung, Rino dan Tama justru mengobrol. Rino memberitahu Tama kalau Tasya juga menyukainya. Sukmanya berbunga-bunga, pikirannya terbang jauh. Kebahagiaan terpancar dari setiap sudut wajahnya. Raut muka Tama yang awalnya terlihat lelah seketika itu berubah menjadi cerah.
            “Lu serius Rin?” tanya Tama tak percaya akan pendengarannya.
            “Gue serius! Makanya gue minta lu cepet nembak dia. Kasian, dia udah terlalu lama nunggu lu!” kata Rino. Raut muka Rino menampakkan betapa serius ia saat itu. Tamapun dengan mudah percaya akan kata-kata Rino.
            Tama tak sabar menemui Tasya. Terbesit di benaknya kalau ia akan mengajak Tasya jalan-jalan. Dan ia akan menyatakan perasaanya pada saat itu.
Tama tak mampu berkonsentrasi selama pelajaran berlangsung. Dalam benaknya saat ini hanya ada Tasya, Tasya dan Tasya. Satu-satunya gadis yang mampu menaklukan hatinya.  Khayalannya terbang kesegala penjuru. Betapa bahagianya ia saat Tasya menerima cintanya.
            “Buggg!!”
            Tama tersadar dari dunia khayalnya saat sebuah penghapus papan tulis mencium keningnya. Pipinya yang putih seketika itu berubah menjadi hitam kelam. Tama hampir memaki orang yang melempar benda itu sebelum ia tahu kalau pak guru tengah melihatnya dengan emosi yang meluap-luap bak banteng yang siap mengejar sang matador.
            “Tama! Sedang apa kamu? Ayo kerjakan soal di depan.” Kata pak guru dengan kemurkaan yang terpancar dari setiap pancaran matanya.
            Wajah Tama berubah pucat pasi. Ia tak tahu bagaimana cara mengerjakan soal di hadapannya saat ini. Otaknya bak mesin yang per dan bautnya berlompatan kesana kemari karena terlalu keras bekerja. Namun, hasilnya tetap buntu.
            “Maaf, Pak. Tapi saya tidak mengerti.” kata Tama seraya tertunduk malu.
            “Berdiri kamu di pojok ruangan hingga bel pulang berbunyi! Di kelas bukannya belajar malah asik melamun.” Perintah pak guru. Jari telunjuknya menunjuk lurus ke arah pojok depan kelas.
            Tama berjalan lesu. Hatinya menggerutu, enggan melaksanakan tihtah sang guru. Di hari ini, seharusnya ia bahagia karena mengetahui gadis yang ia cintai juga memiliki perasaaan yang sama padanya. Tapi, kejadian memalukan saat penghapus itu mencium pipinya sangat membuatnya tersipu malu. Belum lagi saat pak guru menghukumnya dengan memintanya berdiri di sudut kelas.
            ‘Baru aja terbang tinggi-tinggi, eh jatoh. Dah jatoh ketimpa tangga pula. Sial-sial! Tapi tetep aja gue seneng, seenggaknya ada yang buat gue bahagia hari
ini!’ Gerutu Tama dalam hati.
***
            Bel berdentang, tertanda waktu pulang sekolah telah tiba. Tama segera mencari Tasya untuk mengajaknya jalan-jalan, namun ia tak dapat menemukan Tasya di kelas. Dengan berlari-lari kecil, Tama menyusuri koridor mencari di setiap kemungkinan gadis berparas cantik itu berada. Namun, Tasya tak jua menunjukkan batang hidungnya.
            ‘Oh ia! Handphone! Gue telfon aja deh!’  Tama mengeluarkan handphone dari saku celananya. Tangannya menari-nari di keypoad handphonenya. Tak sabar ia menunggu suara dari seberang telefon sana, namun hanya nada masuk yang terdengar.
            “Hallo?” Sapa suara dari seberang.
            Tanpa berbasa-basi Tama menanyakan keberadaan Tasya. Tasya sedang berada di mobil jemputan. Tama memutuskan hubungan telepon dan menemui Tasya. Langkah kakinya terasa ringan bagai gas, karena kebahagiaan telah memenuhi seluruh sukmanya. Di tengah jalan, ia bertemu dengan Rino.
            “Lu gak pulang bareng gue?” tanyaku.
            “Ngga, kali ini gue lagi baik ama lu. Gue  mau ngebiarin lu berdua aja ma dia. Nanti gue pulang sama yang lain aja. Tapi jangan lupa kabarin gue ya.” kata Rino menepuk bahu Tama sembari tersenyum lebar.
            Tama tersenyum dan kembali berjalan ke arah mobil jemputan. Di setiap langkahnya, senyuman selalu terkembang dari bibirnya. Benaknya dipenuhi oleh bunga-bunga indah, kali ini ia bebas memperhatikan Tasya tanpa terganggu oleh keberadaan Rino. Langkahnya telah membawanya ke dalam mobil jemputan. Tak lama, mobil berjalan menuju rumah mereka. Pandangannya tak pernah lepas dari sosok Tasya. Tasya menoleh kearah Tama.
            “Tas, nanti malem ada acara ga?” tanya Tama sembari duduk di samping Tasya. Tama menguatkan diri untuk melontarkan kata demi kata itu.
            “Hmmmp, ga ada kok. Emang kenapa?” jawabnya penuh ingin tau.
            “Nonton yuk! Mau ga? Kalau mau ntar gue jemput.” jawab Tama dengan tertunduk, takut Tasya berkata tidak.
            “Boleh deh, kebetulan keluarga gue juga lagi pada pergi. Lu jemput gue di taman jam 8 ya. Gue tunggu!” katanya menepuk bahu Tama dan bergegas turun dari mobil.
            Tak terbayang kebahagiaan Tama saat itu. Gadis yang ia cintai memberikan tanggapan positif akan idenya. Tama bertekad akan menyatakan perasaanya pada Tasya malam ini.
***
            Bulan bersinar terang. Bintang-bintang bertaburan, memeriahkan langit cerah malam ini. Tama tengah bersiap-siap. Rambut telah tersisir rapi. Sepatu telah bersih, bahkan dari debu nakal yang mencoba menempel. Pakaian yang ia kenakan adalah pakaian kesayangannya. Pakaian yang membuat dia lebih percaya diri. Parfumnya memancarkan bau khas seorang laki-laki. Motorpun telah ia cuci sore tadi. Semua telah dirasa sempurna malam ini.
            Sebelum berangkat, Tama berdoa agar diberi kemudahan untuk menyatakan perasaannya pada Tasya. Ia semakin membulatkan tekad dan memupuk keberanian di dalam jiwanya. Semua telah dirasa cukup untuk bertemu gadis pujaannya malam ini.
            Lampu-lampu bersinar terang diseluruh jalan yang Tama lewati. Semakin lama, jantungnya semakin berdegup cepat. Nafasnya tak menentu, kalut merasuk ke dalam batinnya. Begitu gugup untuk menemui gadis idamannya. Pikirannya terpecah, entah jadi berapa. Banyak hal yang ia pikirkan saat ini.
            ‘Tasya udah siap belum ya? Apa gue terlambat? Apa baju gue udah cocok buat nonton sama dia mala mini? Apa dia akan nerima cinta gue dan mau jadi pacar gue?’
Rentetan pertanyaan itu silih berganti mengisi kepalanya. Membuatnya tak mampu mengendalikan laju motornya dengan tenang. Matanya tak focus menatap jalan. Di tikungan jalan, tepat sebelum memasuki wilayah perumahan Tasya. Tama tak melihat ada sebuah truk melaju kencang dari arah yang berlawanan.
“Ckiiiitttt…. Brug..Brugg”
            Truk itu menghantam Tama dan motornya dengan keras. Ia tak mampu bangkit kembali. Mulut dan kepalanya banyak mengeluarkan darah. Tama memanggil-manggil nama Tasya dalam keadaan setengah sadar. Bintang-bintang di langit semakin lama semakin menghilang, gelap gulita. Tama tak sadarkan diri. Masyarakat sekitar yang melihat kejadian itu segera membawanya kerumah sakit terdekat.
***
Tasya menunggu di taman tempat ia dan Tama janjian. Jam demi jam telah berlalu. Sudah 3 jam ia menunggu, namun Tama tak jua menampakkan batang hidungnya. Sesekali ia mengecek handphonenya, berharap Tama akan member kabar. Namun, apa yang ia lakukan sia-sia. Tak ada satupun sms ataupun telfon dari Tama. Tasya jengkel bukan kepalang. Terlebih saat ia mencoba menghubungi Tama, namun tak ada jawaban dari seberang.
Tasya pulang dengan perasaan yang bercampur aduk. Antra jengkel, resah dan dendam. Ia jengkel karena Tama tak jua menunjukkan batang hidungnya padahal Tama yang mengajaknya nonton. Alasan lain karena ia merasa dipermainkan oleh Tama. Ia resah, takut terjadi sesuatu pada Tama yang membuatnya tak dapat datang hari ini. Namun, ia juga dendam. Ia bertekad akan membalas perbuatan Tama yang telah membuatnya menunggu. Malam itu Tasya tertidur lelap dengan perasaan jengkel yang masih membanjiri sanubari terdalamnya.
***
Mentari mulai menerangi jagat raya. Burung-burung mulai menari lincah kesana kemari. Kicauannya mampu meluluhkan rasa jengkel di hati Tasya. Ayam berkokok saling bersahutan, memperdengarkan suaranya yang merdu. Hiruk pikuk kota telah berjalan kembali.
Pagi ini, Tama tak ikut mobil jemputan. Bahkan, ia pun tak tampak di sekitar wilayah sekolah. Rasa jengkel memang masih merasuk dalam sukmanya, namun tak dapat dipungkiri terdapat rasa gundah gulana yang mengintip dibalik sanubari kecilnya. Dalam hati ia bertanya apa yang terjadi dengan Tama. Pelajaran pun tak dapat ia terima dengan utuh karena hati dan pikirannya sedang bersatu memikirkan sosok Tama. Tasya tak ingin Bella dan Rino tahu akan kegelisahan yang menjalar di tubuhnya, ia berusaha mengubur dalam-dalam rasa gelisah itu.
“Lu harus ikut gue nanti pulang sekolah!” kata Bella berbisik pada Tasya.
“Mau kemana sih?” tanya Tasya penasaran.
“Ketemu Tama.” lanjut Bella.
“Gue ngga mau! Udah cukup dia ngerjain gue kemaren! Gue sampe nunggu dia 3 jam. Pasti hari ini dia ngga masuk karena takut ma gue.” Ujar Tasya tanpa menoleh sedikitpun kearah Bella.
“Lu harus ikut! Kalau ngga, gue bisa jamin lu bisa nyesel seumur hiduplu!” ujar Bella mengancam.

Tasya menatap tajam ke arah Bella. Ia melihat kesungguhan diantara sepasang mata sendu Bella. Tak ada celah yang menunjukkan Bella sedang bercanda seperti biasanya. Tasya akhirnya menyetujui pergi dengan Bella saat pulang sekolah nanti.
***
            Bel pulang sekolah berdentang, tanda kegiatan belajar telah berakhir. Dengan terburu-buru Rino dan Bella menarik Tasya menjauh dari sekolah tanpa Tasya tahu kemana tujuan mereka sesungguhnya. Gundah semakin merasuki sukma Tasya.
            ‘Sebenarnya apa yang terjadi sama Tama kemaren? Kenapa sikap Rino sama Bella jadi aneh.’ Pikirnya dalam hati.
            Taxi mereka berhenti didepan sebuah rumah sakit. Bella menarik tangan Tasya untuk memasuki bangunan itu. Rasa gundah semakin berkembang pesat di dalam dirinya, memikirkan kemungkinan terburuk tentang Tama. Langkah mereka terhenti di depan sebuah kamar VIP. Perlahan mereka melangkahkan kaki memasuki ruangan itu.
            Kaget dan sedih berkecamuk di hati Tasya. Lelaki yang ia cintai tengah terbaring kaku dengan selang oksigen dihidungnya. Wajah Tama pucat pasi. Perban mengelilingi kepala Tama. Selang infuse tertancap di tangan kirinya. Tasya bergegas mendekati Tama. Air matanya tak dapat lagi terbendung. Sedikit demi sedikit mengalir di pipinya yang putih. Tangisnya pecah.
            “Tama sempat sadar saat sampai di rumah sakit, dia memanggil-manggil nama Tasya. Semenjak saat itu, dia koma. Cuma lu yang bias kita kabarin, orangtuanya udah meninggal.” jelas Rino pada Tasya.
            “Dia bukannya mau ngerjain lu. Dia juga bukannya berniat ngga datang. Tapi di tengah jalan dia kecelakaan. Dan disinilah dia sekarang, terbaring bisu nungguin lu dateng.” jelas Bella panjang lebar.
            “Ngga mungkin! Tama lu jangan bercanda! Candaan ini ngga lucu. Lu bangun sekarang.” Tasya terisak-isak sembari memukul lengan kiri Tama. Namun Tama tetap tak bergerak. “Tama bangun! Jangan tinggalin gue kaya gini. Gue belum sempet bilang kalau gue sayang sama lu. Gue mohon lu bangun.” Tambah Tasya, mulai menangis di sisi Tama. “Please, sadar Tam! Demi gue. Gue udah disini. Gue ada disamping lu sekarang. Please, buka mata lu!” kata Tasya terbata-bata.
            “Tasya…..Tasya…” Tama mengigau memanggil nama Tasya.
            “Gue disini. Lu bisa rasain kehadiran gue kan? Gue disini.” Kata Tasya menggenggam erat tangan Tama.
            “Tasya..” Perlahan mata Tama terbuka. “Maafin gue karena gue ngga nepatin janji gue kemaren malem. Gue ngga ada maksud mainin lu. Please maafin gue.” kata Tama terbata-bata.
            “Lu ngga salah. Seharusnya gue yang minta maaf. Gak sepantesnya gue jengkel sama lu. Lu kaya gini juga karna gue. Maafin gue, Tam!” kata Tasya sembari menangis.
            “Lu ngga salah kok. Mungkin ini bukan waktu yang tepat, tapi gue ngga bisa nahan lagi. Gue sayang sama lu Tas.” Lanjut Tama.
            “Gue juga sayang sama lu Tam. Lu harus janji sama gue kalau lu pasti sembuh. Janji ya? Demi gue.” ujar Tasya mengelus kepala Tama.
            Tama mengelus lembut wajah Tasya. “Gue bahagia banget dengernya Tas. Andai gue tau ini lebih cepat. Makasih karna lu mau mencintai gue. Gue akan selalu sayang sama lu. I love you, Tasya.”
            “I love you too, Tama. Kamu harus janji ya akan sembuh.”
            “Aku janji Tas, sekarang aku mau istirahat dulu. Aku mohon kamu temenin aku disini ya.” kata Tama.
Tangan Tama menggenggam erat tangan Tasya. Namun semakin lama genggaman itu semakin mengendur. Detak jantung Tama semakin melemah, menghilang. Tasya berteriak memanggil dokter. Mereka menunggu diluar saat dokter memeriksa Tama. Setengah jam kemudian dokter menyatakan kalau Tama telah tiada. Tasya histeris dan memeluk jenazah Tama yang terbaring kaku di ranjang. Berkali-kali Tasya memanggil Tama, namun Tama hanya terdiam membatu. Bella memeluk Tasya dan mencoba menenangkannya. Tangis Tasya terus membanjiri pipinya. Ia tak menyangka perasaan mereka dipersatukan dengan cara yang begitu tragis. Kini Tama telah pergi meninggalkan Tasya untuk selamanya.
***
            Setahun kemudian, Tasya berziarah ke makam Tama. Masih segar dalam benaknya saat-saat bersama Tama. Saat ia dibuat kesal karena Tama bangun kesiangan. Atau saat bahagia karena Tama berceloteh saat makan di kantin. Saat-saat yang begitu Tasya rindukan.
            “Tama, apa kamu masih ingat aku? Sudah setahun sejak kepergianmu, namun aku masih merasa kalau kamu selalu ada di dekat aku. Mungkin, itu karena aku belum sepenuhnya percaya kalau kamu udah ngga ada. Aku sayang sama kamu, seperti saat kamu masih disini. Entah apa kamu masih merasakannya atau tidak. Aku masih sangat membutuhkan kamu, kenapa kamu pergi secepat itu? Tapi tak apa, aku yakin Tuhan memberikan tempat terindahnya untukmu. Selamat jalan Tamaku sayang. I love you forever.” ujar Tasya mencium batu nisan Tama.

***TAMAT***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar