M
|
entari
mulai menyapa malu-malu. Cakrawala perlahan kembali benderang. Jendela-jendela
masih bermandikan embun pagi. Ayam berkokok silih berganti. Burung-burung
terbang merendah, berkicau melewati hamparan bunga yang semerbak aromanya.
Semua orang telah terbangun dari alam mimpi. Bersiap memulai rutinitasnya
kembali, tak terkecuali Tama. Murid kelas 12 di SMA Nusantara ini sedang
bersiap-siap untuk menyongsong hari ini.
Dari kejauhan, samar terdengar suara
mobil yang tak asing di telinga Tama. Jemputan sekolahnya tengah melaju ke arah
rumahnya, membuat Tama diwajibkan bergegas. Lalu lalang, kesana kemari mencari
peralatan sekolahnya yang berserakan entah dimana.
Suara klakson mobil jemputan memecah
keheningan pagi yang indah ini. Tak hanya sekali, tanpa malu pak supir menekan
klakson mobil tua itu lagi dan lagi. Suaranya begitu keras laksana terompet
yang ditiup tepat di sebelah telinga.
“Woy, Tam! Cepetan dikit bisa kali!”
suara Rino bersautan dengan suara klakson. “Tukang ngaret dasar!” Lanjutnya
dengan kepala menjulur keluar jendela.
“Iya nih, lama banget! Pasti tu anak
bangun kesiangan lagi.”kata Tasya menghela nafas. Matanya terpaku pada jam
tangan mungil di tangan kirinya. Gundah terpancar dari seluruh wajahnya.
Tak lama, Tama pun menunjukkan
batang hidungnya. “Hehe sorry. Biasalah, jam weker gue ngaret.” kata Tama
sembari tertawa. Tak ada raut penyesalan tersirat dari wajahnya.
“Gue bosen dengernya! Mana ada jam
weker ngaret. Kalau yang punya ngaret tu baru bener!” kata Rino seraya
mengalungkan tangan kirinya ke bahu Tama dan mulai mengacak-acak rambut Tama.
Selama di perjalanan menuju sekolah,
pandangan Tama terpaku pada sosok gadis yang duduk di jok belakang, Tasya.
Pandangan Tasya tengah menerawang jauh namun sesekali ia melirik ke arah jarum
jam yang terus berdetak di tangannya. Tasya terlihat begitu anggun walau hanya
berbalut seragam sekolah. Pandangannya menyiratkan kehangatan, namun juga
terkesan misterius.
‘Diem
aja udah cantik. Kalau liat dia lagi serius gini, jadi keliatan makin cantik.
Padahal baru pakai seragam, gimana kalau pake baju pergi? Apalagi gaun, pasti
makin cantik.’ kata Tama dalam hati. Pikirannya melayang jauh, membayangkan
jika Tasya menggunakan gaun berwarna hitam dan tengah makan malam dengannya.
“ Woy, lu niat sekolah ngga? Kalau
mau ayo turun! Malah ngelamun.” teriak Rino memecah lamunan Tama.
Tersadar dari lamunan indahnya,
hanya tinggal Tama seorang diri yang masih berada di dalam mobil jemputan. Rino
dan Tasya terlihat berjalan terburu-buru memasuki gedung sekolah. Tak mau
kalah, Tama segera membawa ransel meninggalkan mobil jemputan. Berlari-lari
kecil mengejar Rino.
Sesampainya di kelas, ruangan itu
segera menjadi ramai oleh suara murid-murid lain yang bersaut-sautan mengejek
Tama. Pak guru menenangkan semua murid dan kelaspun menjadi hening kembali.
“Kenapa kalian terlambat?” tanya pak guru.
“Maaf, Pak. Sebenarnya, tadi saya
dan Tasya sudah berangkat pagi. Cuma Tama bangun kesiangan, Pak. Jadi kami
semua terlambat.” kata Rino menunjuk ke arah Tama. Tama tertunduk malu.
“Sssst! Rin, jangan bilang gitu!
Kasian Tama, nanti dia yang kena marah pak guru.” kata Tasya berbisik ke Rino.
“Maaf, Pak. Tapi ini semua memang
salah saya. Saya yang membuat teman-teman saya terlambat karena menunggu saya.
Saya mengaku, saya bangun kesiangan. Jadi ini semua salah saya.” kata Tama
tertunduk malu. Ia bahkan tak memiliki keberanian untuk melihat wajah pak guru.
Pak guru menepuk bahu Tama. Tama
memberanikan diri untuk menatap wajah pak guru. “Ya sudah. Kali ini kalian
bapak maafkan. Bapak bangga padamu karena kamu mau mengakui kesalahanmu di
depan umum. Butuh keberanian besar untuk mencontohmu. Sekarang kalian boleh
duduk!”
Kebahagiaan terpancar dari wajah
Tama. Selain karena ia mendapat pujian dari pak guru, tak lain juga karena
Tasya sempat membelanya. Kebahagiaan datang bertubi-tubi padanya pagi ini,
hatinya bagaikan dipenuhi oleh bunga-bunga indah karena perhatian yang Tasya
berikan untuknya.
Sementara itu, Bella bingung mengapa
Tasya masih membela Tama padahal mereka hampir terkena hukuman karena Tama.
Pertanyaan demi pertanyaan mengalir di benak Bella. Semakin lama, semakin
banyak pertanyaan yang belum terjawab dan pernyataan yang perlu dipastikan.
Membuatnya tak sanggup menahan semua tanda tanya itu.
“Tas, tadi lu ngapain ngebelain
Tama? Lu masih suka ya sama dia?” tanya Bella menduga-duga.
Malu
merasuk ke dalam sukmanya untuk mengakui apa yang sebenarnya ia rasakan saat
ini. Tasya menguatkan diri dan mengangguk perlahan. Pipinya merona merah jambu.
Matanya tertuju pada sosok Tama. Terlalu lama ia memendam perasaan suka pada
laki-laki itu, tanpa tahu apa yang Tama rasakan padanya. Sanubarinya
memberontak, memintanya mengungkapkan isi hatinya pada Tama. Namun, raganya
menolak. Berulang kali ia mencoba mengatakannya, namun berulangkali juga
bibirnya terasa pilu dan enggan terbuka. Hinga akhirnya tak ada sepatah katapun
yang terlontar dari mulut mungilnya.
***
Bel istirahat berbunyi. Tama, Tasya,
Bella dan Rino bergegas menuju kantin. Seperti biasa mereka duduk di pojok kantin
tersebut. Angin berhembus, meniup rambut indah Tasya. Tama tertegun melihat
kecantikan gadis dihadapannya ini. Bella menarik Rino menjauh, meninggalkan
Tama dan Tasya berdua.
“Lu
mau ngapain sih Bel?” tanya Rino bingung.
“Sssst!
Lu kan temennya Tama, ada yang mau gue kasih tau tentang Tama.” Kata Bella
sembari meletakkan jari telunjuknya di bibir Rino agar ia diam.
“Emang
apaan Bel?” Rino mulai terlihat antusias dengan apa yang akan dikatakan Bella.
“Tasya..
Tasya itu suka sama Tama. Tapi lu jangan bilang tau dari gue ya! Masalahnya gue
kasian sama Tasya, dia udah terlalu lama mendam perasaan itu. Gue rasa udah
waktunya Tama tau!” kata Bella perlahan.
Wajah
Rino membiaskan cahaya. Kegembiraan membuat wajahnya bersinar. “Pantesan aja
setiap gue marah-marah ke Tama karena dia bangun kesiangan si Tasya langsung
ngebelain. Nah pas dah tu! Tama juga suka sama Tasya tapi sayangnya dia takut
ditolak. Ok lah nanti gue suruh Tama nembak si Tasya aja.” kata Rino
mengedipkan sebelah matanya kearah Bella.
Beberapa
menit berlalu, meja tempat Tama dan Tasya makan hening laksana tak berpenghuni.
Tak ada tegur sapa, dan tak ada celoteh ringan saat makan. Yang terdengar
hanyalah melodi dari sendok yang membentur piring.
***
Bel masuk berdentang. Saat pelajaran
tengah berlangsung, Rino dan Tama justru mengobrol. Rino memberitahu Tama kalau
Tasya juga menyukainya. Sukmanya berbunga-bunga, pikirannya terbang jauh.
Kebahagiaan terpancar dari setiap sudut wajahnya. Raut muka Tama yang awalnya
terlihat lelah seketika itu berubah menjadi cerah.
“Lu serius Rin?” tanya Tama tak
percaya akan pendengarannya.
“Gue serius! Makanya gue minta lu
cepet nembak dia. Kasian, dia udah terlalu lama nunggu lu!” kata Rino. Raut
muka Rino menampakkan betapa serius ia saat itu. Tamapun dengan mudah percaya
akan kata-kata Rino.
Tama tak sabar menemui Tasya.
Terbesit di benaknya kalau ia akan mengajak Tasya jalan-jalan. Dan ia akan
menyatakan perasaanya pada saat itu.
Tama
tak mampu berkonsentrasi selama pelajaran berlangsung. Dalam benaknya saat ini
hanya ada Tasya, Tasya dan Tasya. Satu-satunya gadis yang mampu menaklukan
hatinya. Khayalannya terbang kesegala
penjuru. Betapa bahagianya ia saat Tasya menerima cintanya.
“Buggg!!”
Tama tersadar dari dunia khayalnya
saat sebuah penghapus papan tulis mencium keningnya. Pipinya yang putih
seketika itu berubah menjadi hitam kelam. Tama hampir memaki orang yang
melempar benda itu sebelum ia tahu kalau pak guru tengah melihatnya dengan
emosi yang meluap-luap bak banteng yang siap mengejar sang matador.
“Tama! Sedang apa kamu? Ayo kerjakan
soal di depan.” Kata pak guru dengan kemurkaan yang terpancar dari setiap
pancaran matanya.
Wajah Tama berubah pucat pasi. Ia
tak tahu bagaimana cara mengerjakan soal di hadapannya saat ini. Otaknya bak
mesin yang per dan bautnya berlompatan kesana kemari karena terlalu keras
bekerja. Namun, hasilnya tetap buntu.
“Maaf, Pak. Tapi saya tidak
mengerti.” kata Tama seraya tertunduk malu.
“Berdiri kamu di pojok ruangan
hingga bel pulang berbunyi! Di kelas bukannya belajar malah asik melamun.”
Perintah pak guru. Jari telunjuknya menunjuk lurus ke arah pojok depan kelas.
Tama berjalan lesu. Hatinya
menggerutu, enggan melaksanakan tihtah sang guru. Di hari ini, seharusnya ia
bahagia karena mengetahui gadis yang ia cintai juga memiliki perasaaan yang
sama padanya. Tapi, kejadian memalukan saat penghapus itu mencium pipinya
sangat membuatnya tersipu malu. Belum lagi saat pak guru menghukumnya dengan
memintanya berdiri di sudut kelas.
‘Baru aja terbang tinggi-tinggi, eh
jatoh. Dah jatoh ketimpa tangga pula. Sial-sial! Tapi tetep aja gue seneng,
seenggaknya ada yang buat gue bahagia hari
ini!’
Gerutu Tama dalam hati.
***
Bel berdentang, tertanda waktu pulang
sekolah telah tiba. Tama segera mencari Tasya untuk mengajaknya jalan-jalan,
namun ia tak dapat menemukan Tasya di kelas. Dengan berlari-lari kecil, Tama
menyusuri koridor mencari di setiap kemungkinan gadis berparas cantik itu
berada. Namun, Tasya tak jua menunjukkan batang hidungnya.
‘Oh ia! Handphone! Gue telfon aja
deh!’ Tama mengeluarkan handphone dari
saku celananya. Tangannya menari-nari di keypoad handphonenya. Tak sabar ia
menunggu suara dari seberang telefon sana, namun hanya nada masuk yang terdengar.
“Hallo?” Sapa suara dari seberang.
Tanpa berbasa-basi Tama menanyakan
keberadaan Tasya. Tasya sedang berada di mobil jemputan. Tama memutuskan
hubungan telepon dan menemui Tasya. Langkah kakinya terasa ringan bagai gas,
karena kebahagiaan telah memenuhi seluruh sukmanya. Di tengah jalan, ia bertemu
dengan Rino.
“Lu gak pulang bareng gue?” tanyaku.
“Ngga, kali ini gue lagi baik ama
lu. Gue mau ngebiarin lu berdua aja ma
dia. Nanti gue pulang sama yang lain aja. Tapi jangan lupa kabarin gue ya.”
kata Rino menepuk bahu Tama sembari tersenyum lebar.
Tama tersenyum dan kembali berjalan
ke arah mobil jemputan. Di setiap langkahnya, senyuman selalu terkembang dari
bibirnya. Benaknya dipenuhi oleh bunga-bunga indah, kali ini ia bebas
memperhatikan Tasya tanpa terganggu oleh keberadaan Rino. Langkahnya telah membawanya
ke dalam mobil jemputan. Tak lama, mobil berjalan menuju rumah mereka.
Pandangannya tak pernah lepas dari sosok Tasya. Tasya menoleh kearah Tama.
“Tas, nanti malem ada acara ga?”
tanya Tama sembari duduk di samping Tasya. Tama menguatkan diri untuk
melontarkan kata demi kata itu.
“Hmmmp, ga ada kok. Emang kenapa?”
jawabnya penuh ingin tau.
“Nonton yuk! Mau ga? Kalau mau ntar
gue jemput.” jawab Tama dengan tertunduk, takut Tasya berkata tidak.
“Boleh deh, kebetulan keluarga gue
juga lagi pada pergi. Lu jemput gue di taman jam 8 ya. Gue tunggu!” katanya
menepuk bahu Tama dan bergegas turun dari mobil.
Tak terbayang kebahagiaan Tama saat
itu. Gadis yang ia cintai memberikan tanggapan positif akan idenya. Tama
bertekad akan menyatakan perasaanya pada Tasya malam ini.
***
Bulan bersinar terang.
Bintang-bintang bertaburan, memeriahkan langit cerah malam ini. Tama tengah
bersiap-siap. Rambut telah tersisir rapi. Sepatu telah bersih, bahkan dari debu
nakal yang mencoba menempel. Pakaian yang ia kenakan adalah pakaian
kesayangannya. Pakaian yang membuat dia lebih percaya diri. Parfumnya
memancarkan bau khas seorang laki-laki. Motorpun telah ia cuci sore tadi. Semua
telah dirasa sempurna malam ini.
Sebelum berangkat, Tama berdoa agar
diberi kemudahan untuk menyatakan perasaannya pada Tasya. Ia semakin
membulatkan tekad dan memupuk keberanian di dalam jiwanya. Semua telah dirasa
cukup untuk bertemu gadis pujaannya malam ini.
Lampu-lampu bersinar terang
diseluruh jalan yang Tama lewati. Semakin lama, jantungnya semakin berdegup
cepat. Nafasnya tak menentu, kalut merasuk ke dalam batinnya. Begitu gugup
untuk menemui gadis idamannya. Pikirannya terpecah, entah jadi berapa. Banyak
hal yang ia pikirkan saat ini.
‘Tasya udah siap belum ya? Apa gue
terlambat? Apa baju gue udah cocok buat nonton sama dia mala mini? Apa dia akan
nerima cinta gue dan mau jadi pacar gue?’
Rentetan
pertanyaan itu silih berganti mengisi kepalanya. Membuatnya tak mampu mengendalikan
laju motornya dengan tenang. Matanya tak focus menatap jalan. Di tikungan
jalan, tepat sebelum memasuki wilayah perumahan Tasya. Tama tak melihat ada
sebuah truk melaju kencang dari arah yang berlawanan.
“Ckiiiitttt….
Brug..Brugg”
Truk
itu menghantam Tama dan motornya dengan keras. Ia tak mampu bangkit kembali.
Mulut dan kepalanya banyak mengeluarkan darah. Tama memanggil-manggil nama
Tasya dalam keadaan setengah sadar. Bintang-bintang di langit semakin lama
semakin menghilang, gelap gulita. Tama tak sadarkan diri. Masyarakat sekitar
yang melihat kejadian itu segera membawanya kerumah sakit terdekat.
***
Tasya
menunggu di taman tempat ia dan Tama janjian. Jam demi jam telah berlalu. Sudah
3 jam ia menunggu, namun Tama tak jua menampakkan batang hidungnya. Sesekali ia
mengecek handphonenya, berharap Tama akan member kabar. Namun, apa yang ia
lakukan sia-sia. Tak ada satupun sms ataupun telfon dari Tama. Tasya jengkel
bukan kepalang. Terlebih saat ia mencoba menghubungi Tama, namun tak ada
jawaban dari seberang.
Tasya
pulang dengan perasaan yang bercampur aduk. Antra jengkel, resah dan dendam. Ia
jengkel karena Tama tak jua menunjukkan batang hidungnya padahal Tama yang
mengajaknya nonton. Alasan lain karena ia merasa dipermainkan oleh Tama. Ia
resah, takut terjadi sesuatu pada Tama yang membuatnya tak dapat datang hari
ini. Namun, ia juga dendam. Ia bertekad akan membalas perbuatan Tama yang telah
membuatnya menunggu. Malam itu Tasya tertidur lelap dengan perasaan jengkel
yang masih membanjiri sanubari terdalamnya.
***
Mentari
mulai menerangi jagat raya. Burung-burung mulai menari lincah kesana kemari. Kicauannya
mampu meluluhkan rasa jengkel di hati Tasya. Ayam berkokok saling bersahutan,
memperdengarkan suaranya yang merdu. Hiruk pikuk kota telah berjalan kembali.
Pagi
ini, Tama tak ikut mobil jemputan. Bahkan, ia pun tak tampak di sekitar wilayah
sekolah. Rasa jengkel memang masih merasuk dalam sukmanya, namun tak dapat
dipungkiri terdapat rasa gundah gulana yang mengintip dibalik sanubari
kecilnya. Dalam hati ia bertanya apa yang terjadi dengan Tama. Pelajaran pun
tak dapat ia terima dengan utuh karena hati dan pikirannya sedang bersatu
memikirkan sosok Tama. Tasya tak ingin Bella dan Rino tahu akan kegelisahan
yang menjalar di tubuhnya, ia berusaha mengubur dalam-dalam rasa gelisah itu.
“Lu
harus ikut gue nanti pulang sekolah!” kata Bella berbisik pada Tasya.
“Mau
kemana sih?” tanya Tasya penasaran.
“Ketemu
Tama.” lanjut Bella.
“Gue
ngga mau! Udah cukup dia ngerjain gue kemaren! Gue sampe nunggu dia 3 jam.
Pasti hari ini dia ngga masuk karena takut ma gue.” Ujar Tasya tanpa menoleh
sedikitpun kearah Bella.
“Lu
harus ikut! Kalau ngga, gue bisa jamin lu bisa nyesel seumur hiduplu!” ujar
Bella mengancam.
Tasya
menatap tajam ke arah Bella. Ia melihat kesungguhan diantara sepasang mata
sendu Bella. Tak ada celah yang menunjukkan Bella sedang bercanda seperti
biasanya. Tasya akhirnya menyetujui pergi dengan Bella saat pulang sekolah
nanti.
***
Bel pulang sekolah berdentang, tanda
kegiatan belajar telah berakhir. Dengan terburu-buru Rino dan Bella menarik
Tasya menjauh dari sekolah tanpa Tasya tahu kemana tujuan mereka sesungguhnya.
Gundah semakin merasuki sukma Tasya.
‘Sebenarnya apa yang terjadi sama
Tama kemaren? Kenapa sikap Rino sama Bella jadi aneh.’ Pikirnya dalam hati.
Taxi mereka berhenti didepan sebuah
rumah sakit. Bella menarik tangan Tasya untuk memasuki bangunan itu. Rasa
gundah semakin berkembang pesat di dalam dirinya, memikirkan kemungkinan
terburuk tentang Tama. Langkah mereka terhenti di depan sebuah kamar VIP.
Perlahan mereka melangkahkan kaki memasuki ruangan itu.
Kaget dan sedih berkecamuk di hati
Tasya. Lelaki yang ia cintai tengah terbaring kaku dengan selang oksigen
dihidungnya. Wajah Tama pucat pasi. Perban mengelilingi kepala Tama. Selang
infuse tertancap di tangan kirinya. Tasya bergegas mendekati Tama. Air matanya
tak dapat lagi terbendung. Sedikit demi sedikit mengalir di pipinya yang putih.
Tangisnya pecah.
“Tama sempat sadar saat sampai di
rumah sakit, dia memanggil-manggil nama Tasya. Semenjak saat itu, dia koma.
Cuma lu yang bias kita kabarin, orangtuanya udah meninggal.” jelas Rino pada
Tasya.
“Dia bukannya mau ngerjain lu. Dia
juga bukannya berniat ngga datang. Tapi di tengah jalan dia kecelakaan. Dan
disinilah dia sekarang, terbaring bisu nungguin lu dateng.” jelas Bella panjang
lebar.
“Ngga mungkin! Tama lu jangan
bercanda! Candaan ini ngga lucu. Lu bangun sekarang.” Tasya terisak-isak
sembari memukul lengan kiri Tama. Namun Tama tetap tak bergerak. “Tama bangun!
Jangan tinggalin gue kaya gini. Gue belum sempet bilang kalau gue sayang sama
lu. Gue mohon lu bangun.” Tambah Tasya, mulai menangis di sisi Tama. “Please,
sadar Tam! Demi gue. Gue udah disini. Gue ada disamping lu sekarang. Please,
buka mata lu!” kata Tasya terbata-bata.
“Tasya…..Tasya…” Tama mengigau
memanggil nama Tasya.
“Gue disini. Lu bisa rasain
kehadiran gue kan? Gue disini.” Kata Tasya menggenggam erat tangan Tama.
“Tasya..” Perlahan mata Tama
terbuka. “Maafin gue karena gue ngga nepatin janji gue kemaren malem. Gue ngga
ada maksud mainin lu. Please maafin gue.” kata Tama terbata-bata.
“Lu ngga salah. Seharusnya gue yang
minta maaf. Gak sepantesnya gue jengkel sama lu. Lu kaya gini juga karna gue.
Maafin gue, Tam!” kata Tasya sembari menangis.
“Lu ngga salah kok. Mungkin ini
bukan waktu yang tepat, tapi gue ngga bisa nahan lagi. Gue sayang sama lu Tas.”
Lanjut Tama.
“Gue juga sayang sama lu Tam. Lu
harus janji sama gue kalau lu pasti sembuh. Janji ya? Demi gue.” ujar Tasya
mengelus kepala Tama.
Tama mengelus lembut wajah Tasya.
“Gue bahagia banget dengernya Tas. Andai gue tau ini lebih cepat. Makasih karna
lu mau mencintai gue. Gue akan selalu sayang sama lu. I love you, Tasya.”
“I love you too, Tama. Kamu harus
janji ya akan sembuh.”
“Aku janji Tas, sekarang aku mau
istirahat dulu. Aku mohon kamu temenin aku disini ya.” kata Tama.
Tangan
Tama menggenggam erat tangan Tasya. Namun semakin lama genggaman itu semakin
mengendur. Detak jantung Tama semakin melemah, menghilang. Tasya berteriak
memanggil dokter. Mereka menunggu diluar saat dokter memeriksa Tama. Setengah
jam kemudian dokter menyatakan kalau Tama telah tiada. Tasya histeris dan
memeluk jenazah Tama yang terbaring kaku di ranjang. Berkali-kali Tasya
memanggil Tama, namun Tama hanya terdiam membatu. Bella memeluk Tasya dan
mencoba menenangkannya. Tangis Tasya terus membanjiri pipinya. Ia tak menyangka
perasaan mereka dipersatukan dengan cara yang begitu tragis. Kini Tama telah
pergi meninggalkan Tasya untuk selamanya.
***
Setahun kemudian, Tasya berziarah ke
makam Tama. Masih segar dalam benaknya saat-saat bersama Tama. Saat ia dibuat
kesal karena Tama bangun kesiangan. Atau saat bahagia karena Tama berceloteh
saat makan di kantin. Saat-saat yang begitu Tasya rindukan.
“Tama, apa kamu masih ingat aku?
Sudah setahun sejak kepergianmu, namun aku masih merasa kalau kamu selalu ada
di dekat aku. Mungkin, itu karena aku belum sepenuhnya percaya kalau kamu udah
ngga ada. Aku sayang sama kamu, seperti saat kamu masih disini. Entah apa kamu
masih merasakannya atau tidak. Aku masih sangat membutuhkan kamu, kenapa kamu
pergi secepat itu? Tapi tak apa, aku yakin Tuhan memberikan tempat terindahnya
untukmu. Selamat jalan Tamaku sayang. I love you forever.” ujar Tasya mencium
batu nisan Tama.
***TAMAT***

Tidak ada komentar:
Posting Komentar