Kamis, 11 September 2014

Ketika Hati Telah Memilih

“Apa kalian sudah pernah checkup ke dokter tentang kandungan istrimu?” Tanya ayah mertua Dina.
          “Sudah, Pa.” Ujar Gio.
“Bagaimana hasil checkup nya?” Tanya ibu mertua Dina.
          Dina hanya tertunduk lesu, tak bergeming. Wajahnya yang semula bahagia karena baru pulang berlibur dengan suami tercinta, kini terlihat bermuram durja. Wajahnya terselimuti aura gelap yang memancarkan kesedihan. Jangankan menjawab pertanyaan dari ibu mertuanya, Dina bahkan tak mampu berpikir, apa yang dapat menjadi lebih buruk daripada pernyataan dokter 3 bulan yang lalu.
          “Aku ke kamar dulu ya kak.” Ujar Dina pada suaminya, Gio.
          “Ya, kamu istirahat saja ya.” Ucap suaminya, mengecup lembut jilbab Dina.
          Dina melangkah meninggalkan ruang tengah. Menyeruap ke dalam kamar tidurnya. Ia kembali teringat kalimat demi kalimat yang dilontarkan oleh dokter. Air mata yang sedari tadi coba ia tahan, kini mengalir deras. Ia tersandar di pintu kamarnya, menangis, dan menangis. Benaknya mencoba untuk optimis, tapi hatinya tak dapat berbohong. Gundah, khawatir, malu, dan takut kini tercampur menjadi satu.
          “Ada apa sebenarnya? Apa yang dokter katakan, Gio?” Ujar ibunya.
          “Dokter bilang, ada masalah dengan kandungan Dina. Dan dokter khawatir, Dina akan sulit mempunyai keturunan.” Ujar Gio menunduk.
          “Ya Tuhan, kasihan sekali menantuku. Pantas saja tadi wajahnya seketika murung.” Ujar ibunya.
          “Tapi Gio, kita sudah menunggu selama 8 tahun. Umur Dina sudah lebih dari 30 tahun, sekarang. Akan semakin kecil peluang mempunyai keturunan. Mau sampai kapan kita menunggu keturunan dari Dina? Dokter saja sudah memvonisnya seperti itu.” Ujar ayah Gio.
          “Maksud papa?”’
          “Kenapa kamu tidak menikah lagi? Siapa tahu dengan begitu kamu akan memiliki keturunan.” Ujar ayahnya.
          “Aku tidak mungkin melakukan itu, Pa. Pernyataan dokter sudah cukup membuat Dina stress dan sedih. Alasan aku mengajaknya berlibur untuk melupakan stresnya. Aku tak mungkin membuatnya kembali sedih, bahkan itu pasti akan membuatnya semakin sedih.”
          “Papa ini kenapa? Mama ini juga perempuan. Tidak ada perempuan yang mau divonis sulit memiliki keturunan. Jika saat ini, mama yang ada di posisi Dina, dan papa di posisi Gio, apa papa akan menikah lagi?” Tanya ibunya.
          “Tapi ini situasi yang berbeda, Ma. Kita semakin tua, sedang Gio belum juga mempunyai momongan. Mereka kan tidak mungkin hidup hanya berdua. Jika mereka tidak memiliki keturunan, kalau terjadi apa-apa dengan salah satu diantara Gio dan istrinya, siapa yang akan menjaga mereka nantinya?” Ujar papa tegas.
          Tanpa mereka sadari, Dina mampu mendengar perkataan ayah mertuanya dari dalam kamar. Ia semakin terpuruk, tak tahu harus bagaimana. Ia begitu mencintai suaminya. Ia tak rela membiarkan suaminya menikah lagi dengan wanita lain. Namun ia juga tak ingin dianggap sebagai wanita egois, dengan membiarkan suaminya tak memiliki keturunan selamanya.
          Dina keluar dari kamar, memandang nanar semua orang yang sedang berada di ruang tengah. Mertua dan suaminya. Air mata semakin menuruni pipinya dengan deras. Nafasnya tersengal, perkataannya tercekat. Jantung Dina berdegup keras saat memandang ayah mertuanya. Bukan karena ia membenci ayah mertuanya. Tapi ia membenci dirinya sendiri, karena membiarkan benaknya membenarkan kalimat demi kalimat ayah mertuanya.
          “Ma, Pa, Dina minta maaf karena dina belum bisa memberikan cucu untuk mama dan papa. Tapi demi Tuhan, Dina tidak pernah berharap berada dalam posisi ini.” Ujar Dina masih terisak.
          “Dina,”
Gio tak mampu berkata apa-apa lagi. Batinnya gundah, perkataan ayahnya ada benarnya. Mereka tak mungkin hidup hanya berdua. Jika terjadi sesuatu padanya, siapa yang akan menjaga istrinya nanti. Tapi ia juga tak mungkin menyakiti wanita yang selama ini ia cintai.
“Papa minta maaf, Dina. Tapi menurut papa, ini yang terbaik. Kamu ingin Gio bahagia kan, Dina? Papa mohon, izinkanlah Gio menikah lagi.” Ujar ayah mertuanya.
“Papa, cukup!” Ujar ibu mertuanya.
Dina bersujud di kaki ayah mertuanya. Tangisnya semakin pecah.
“Dina minta maaf, Dina tidak bisa menjadi istri dan menantu yang sempurna. Papa boleh hokum Dina, papa boleh memaki Dina, terserah Papa. Tapi Dina mohon, jangan minta kak Gio untuk menikah kembali. Dina sangat mencintai kakak, Dina tidak akan sanggup melihatnya dengan orang lain. Lagipula dokter bilang masih ada peluang, Pa. Jadi Dina mohon sekali, jangan minta kak Gio menikah lagi.”
“Tapi berapa lama lagi kami harus menunggu? Apa 8 tahun itu kurang lama untuk kamu? Jujur Dina, papa kecewa, dan papa menyesal telah mengizinkan Gio menikah dengan kamu. Karena ternyata, semua menjadi rumit seperti ini.”
Dina bangkit, dengan matanya yang masih membendung air mata, ia menatap ayah mertuanya. Ia tak percaya dengan apa yang ia dengar. Ayah mertua yang selama ini ia anggao sebagai ayahnya, tega berkata sedemikian tajam padanya. Bahkan tega membuat hatinya hancur tak berbentuk.
Dina menyambar kunci motor di atas meja. Berlari keluar rumah dengan mengusap air mata yang masih membanjiri pipinya. Gio mengejarnya, berusaha menahannya.
“Dina, aku mohon kamu jangan pergi. Kita selesaikan semua masalah ini.”
Dina terdiam sejenak. Memandang lekat suami tercintanya.
“Kak, apa kakak akan mengikuti kata-kata papa?”
“Aku, jujur aku belum tahu, Dina. Tapi kita bisa bicarakan ini nanti. Sekarang kamu ikut aku ya, kita kembali ke dalam. Aku temani kamu istirahat.”
Jawaban suaminya justru membuat Dina bagai tersambar petir. ‘Belum tahu?’ Apa maksud kata-kata itu? Apa itu berarti ia akan mempertimbangkannya? Tangis Dina kembali pecah.
“Kak Gio, aku tahu kakak begitu menghormati papa dan mama. Aku juga tahu kakak tidak pernah membangkan kata-kata papa dan mama. Tapi aku ini istri kakak. Apa kakak tidak bisa memperjuangkan aku? Apa semuanya harus berakhir seperti ini kak?”
“Dina, maksud aku bukan begitu.”
“Cukup kak, jangan katakan apa-apa lagi. Dina tahu, Dina yang salah. Papa ga salah, dan kak Gio juga ga salah. Tapi Dina mohon izin, Dina harus pergi. Dina perlu menenangkan diri dulu.”
Dina meninggalkan suaminya yang terus memanggil namanya. Bahkan sekarang, panggilan suaminya tak mampu terdengar lagi di telinganya. Telinganya seolah tak berfungsi, karena kehancuran batinnya saat ini. Matanya yang masih basah terfokus pada jalan, berusaha tetap menyeimbangkan motornya yang kini melaju dengan sangat cepat.
Empat puluh menit kemudian, Dina tiba di tempat tujuannya. Memarkir motornya dan kemudian berlari ke atas bukit, tempat kesukaan ia dan suaminya. Ia jatuh bersimpuh di hamparan rumput hijau. Membiarkan air matanya meleleh membasahi rerumputan. Bibirnya terkatup rapat, tangannya mencengkram erat kepalanya sendiri.
“Tuhan, kenapa engkau membiarkan semua menjadi seperti ini? Mengapa harus aku yang mengalami semua ini?”
Dina mencoba bangkit, berjalan kea rah sebuah batu besar. Batu yang dipenuhi dengan coretan-coretan. Ia duduk menyandarkan dirinya pada batu itu, mencoba mengingat masa sulit yang telah ia lewati bersama suaminya.
‘Dulu, sangat sulit bagi kami untuk bersama. Orangtuaku tak merestui hubunganku dengannya. Tak hanya satu, atau dua tahun, tapi bertahun-tahun aku mencoba meyakinkan kedua orangtuaku, bahwa kak Gio adalah yang terbaik untukku. Aku masih ingat semua yang telah kami lewati, ya semuanya. Saat aku menangis di sisi suamiku yang terbaring lemah di rumah sakit karena kecelakaan. Tak kuasa aku melihatnya dibalut perban, dan diberi transfusi darah. Aku menjaganya, berhari-hari menunggunya untuk membuka mata. Lega rasanya saat ia membuka matanya dan menyentuh wajahku. Delapan tahun sudah, kami bersama. Bersama melewati masa-masa sulit, dan bersama mengarungi masa-masa indah. Hidupku selalu dipenuhi kejutan saat bersamanya. Seolah, kebahagiaan yang ia berikan tak pernah terhenti untukku. Baik di masa sulit maupun dimasa indah kami. Tapi, apa semua harus berakhir seperti ini?’
“Tuhan, apa aku egois jika aku tak mengizinkan suamiku menikah kembali? Apa aku menarik suamiku dalam dosa? Jika aku mintanya untuk tak memenuhi permohonan ayahnya. Aku begitu mencintainya, Tuhan. Sangat mencintainya. Apa aku harus mengorbankan perasaanku untuk kebahagiaannya, kebahagiaan keluarganya? “
“Tuhan, apa ini saatnya aku menunjukkan kesungguhanku padanya? Apa ini saatnya aku harus melakukan pengorbanan terbesarku? Aku sadar, aku tak boleh egois. Mungkin ini memang satu-satunya cara untuk membahagiakan suamiku. Aku tak ingin membuatnya semakin tersudut oleh permintaan papa.”
Dina menggenggam ponselnya. Ada 5 panggilan tak terjawab dari suaminya. Namun, alih-alih menjawabnya, Dina merasa belum mampu bertemu langsung dengan suaminya. Bahkan melalui suara sekalipun. Dina membuat pesan suara melalui BBM kepada suaminya.
“Kak, Dina minta maaf, tadi pergi tanpa meminta persetujuan kakak dulu. Sekarang Dina sadar, Dina selama ini egois. Papa benar, kakak akan membutuhkan seorang anak, yang mungkin tidak akan pernah bisa Dina berikan. Dina hanya mau kakak tahu, dina tak pernah meminta dalam kondisi ini. Kondisi ini adalah kondisi yang paling ditakuti semua perempuan. Dan ternyata, Dina yang harus mengalami ini.
Dan kalau Dina boleh terlahir kembali, Dina akan meminta pada Tuhan, supaya dina bisa manjadi istri yang sempurna. Supaya Dina bisa menjadi seorang ibu. Dan yang pasti, Dina akan tetap memilih kakak menjadi pendamping Dina. Dina tak pernah menyesali keputusan Dina untuk bersama kakak.
Dina sayang sekali sama kakak, Dina sangat mencintai kakak. Dina ingin kakak bahagia, menua bersama keluarga kecil kakak. Dan mungkin itu memang bukan bersama Dina. Dina tidak ingin kakak membangkang papa. Jadi, Dina, Dina mengizinkan kakak menikah lagi. Dina ingin kakak bahagia.
Tapi maaf kak, Dina tidak bisa kembali lagi ke rumah. Berat rasanya melihat kakak bersama wanita lain. Dina akan pergi, ke tempat dimana Dina bisa memulai semua dari awal. Tapi yang perlu kakak tahu, Dina hanya mencintai kakak. Dina pergi bukan karena Dina ingin mencari pengganti kakak. Tapi Dina pergi untuk hidup sendiri, untuk belajar bahagia dengan tahu kakak bahagia, walau bukan bersama Dina lagi. Jadi sekarang, kak Gio baik-baik ya. Dina pamit. Dina sayang sekali sama kak Gio. Dina harap kakak bahagia dengan pendamping baru kakak. Dina sangat mencintai kakak.”
Gio yang menerima pesan itu menjadi khawatir, batinnya berseteru. Ia tak ingin kehilangan wanita yang begitu ia cintai, wanita yang selama delapan tahun ini hidup bersamanya. Tapi ia juga tengah terpojok oleh permintaan ayahnya.
Gio pergi mencari Dina. Berharap Dina berada di bukit, tempat kesukaan mereka. Gio memacu mobilnya, berharap ia tidak terlambat. Berharap Dina berada disana, dan masih berada di sana.
‘Dina, aku salah. Aku mohon jangan pergi. Aku tak akan menuruti permintaan papa. Aku tak peduli, apa aku akan memiliki anak atau tidak. Yang aku pedulikan sekarang hanyalah kebersamaan kita.’ Ujar Gio dalam hati.
Gio memarkir mobilnya. Berlari, mencoba mencari Dina di sekitar bukit. Berlari ke arah batu besar, namun Dina juga tidak berada disana. Ia terduduk lesu di samping batu besar. Ia melihat batu itu, ada satu goresan baru disana.
‘Dina dan Gio. Tuhan. aku harap Gio-ku bahagia.’
Air mata Gio mulai membasahi pipinya. Ia semakin kalut. Ia berteriak memanggil-manggil nama istrinya. Namun nihil, istrinya tak berada disana.
“Derrttttt,,,,derrrttt”
Ponsel Gio berdering, satu panggilan masuk ‘Pak Wira’. Gio menghapus air matanya, mengatur nafas, dan menjawab panggilan itu.
“Halo? Mas Gio?” Ujar Pak Wira.
“Ia, saya sendiri. Ada apa ya, Pak?”
“Mbak Dina kecelakaan, mas. Sekarang saya ada di rumah sakit Persada, menemani mbak Dina.”
“Bagaimana kondisi istri saya, Pak?”
“Saya kurang tahu, mas. Mbak Dina masih ditangani dokter.”
“Baik, Pak. Terima kasih. Saya segera kesana.”
Gio memacu mobilnya menuruni bukit, ke arah rumah sakit Persada. Selama di perjalanan, ia tak lupa mengabari Papa dan Mamanya untuk uga pergi ke rumah sakit. Sesampainya di rumah sakit, Gio melihat Papa dan Mamanya sudah tiba lebih dulu. Pak Wira berdiri di dekat pintu UGD.
“Bagaimana Dina bisa kecelakaan, pak?” Tanya Gio.
“Jadi tadi, tak jauh dari pertigaan yang mengarah ke bukit. Ada sebuah mobil yang melaju cepat di turunan, tepat di belakang motor mbak Dina. Sepertinya mobil itu remnya blong, mobil itu menabrak mbak Dina. Maba dina terpental mas, lukanya cukup parah, karena mbak Dina tidak memakai helm tadi. Pengendara mobilnya sudah diamankan polisi.”
Gio terduduk lesu di lantai rumah sakit. Air matanya mengalir deras. Ia menyesali dirinya yang terlambat mancari Dina. Kedua orangtua Gio tertunduk, menyesali perkataan mereka yang telah membuat Dina pergi, yang membuat Dina kini berada di dalam UGD rumah sakit.
“Apa ada keluarga korban disini?” Tanya dokter yang keluar dari ruang UGD.
“Saya suaminya, dokter. Bagaimana kondisi istri saya?” Tanya Gio khawatir.
“Maaf, pak. Kami sudah berusaha semaksimal mungkin. Namun pendarahan dikepalanya sangat parah. Nyawa korban dan kandungannya tidak dapat tertolong.”
“Kandungan, dokter?” Tanya ayah Gio.
“Iya, korban tengah mengandung. Sepertinya sudah empat atau lima minggu. Tapi kami mohon maaf, kami tidak mampu menyelamatkan keduanya.”
Gio menyeruak masuk ke dalam ruang UGD. Memeluk erat jasat istrinya yang kini tengah terbujur kaku. Tertidur untuk selamanya. Dina benar-benar pergi meninggalkan kehidupan Gio. Tanpa dia tahu, bahwa ia tengah mengandung calon buah hati mereka.
“Tidak mungkin!! Ya Tuhan, Dina! Dina kenapa kamu meninggalkan aku Dina? Aku belum sempat minta maaf sama kamu. Aku milih kamu, Dina. Dan kamu tahu, kamu sedang mengandung anak kita! Aku mohon bangun, Dina!” Ujar Gio memeluk erat tubuh Dina.
***
          Pemakaman Dina telah selesai beberapa jam yang lalu. Sulit bagi Gio untuk meninggalkan pusara mendiang istrinya. Gio pulang ketika ibunya berulang kali membujuknya untuk pulang. Dan kini ia tengah berada di kamarnya, kamar yang dulu ia tempati bersama Dina. Ia menangis, meratapi kebodohannya yang tak mampu tegas disaat Dina membutuhkannya.
          Ia melihat bantal di sebelahnya. Teringat dengan tingkah manja Dina, yang selalu meminta Gio memeluknya saat mereka ingin tidur. Teringat saat Gio berusaha keras menghibur Dina, setelah mereka pulang checkup dari dokter. Memeluk Dina, dan membelai lembut rambutnya. Kini, setiap sudut rumah itu hanya akan mengingatkannya pada Dina. Istri yang begitu ia cintai dan mencintainya.
          “Dina, aku menyesal. Aku menyesal atas jawaban terakhir yang aku berikan ke kamu. Kalau saja saat itu aku tegas. Andaikan saja kita tahu kehamilan kamu lebih cepat. Andai saja papa tak memaksa aku untuk memiliki keturunan dengan menikah lagi. Pati kamu sekarang masih ada disini. Berbaring dipelukan aku dan kita akan sama-sama merawat buah hati kita yang tenagah ada dikandungan kamu. Andai saja aku punya kesempatan untuk bilang ke kamu, kalau aku sangat mencintai kamu. Dan aku tak masalah jika harus menua berdua saja denganmu. Aku harap kita akan bertemu lagi nanti ya sayang.”
          Penyesalan Gio, kini tak ada artinya. Dina tak akan pernah kembali. Gio tak pernah menikah lagi. Ia hidup dengan mengembangkan rasa penyesalan dihatinya. Kini Gio hanya dapat berharap kalau kelak Tuhan akan mempertemukan kembali ia dengan istri dan calon buah hatinya.

**Tamat**


By : Salma Dhilla (@AlexaBelva)