Tawa membahana terdengar dari
meja tempat Riki, Ramon, Vero, dan Winda. Cafe yang awalnya ramai dibuat
semakin ramai oleh canda tawa mereka. Celoteh ringan mengenai dosen killer di
kampus mampu membuat mereka tertegun bahkan terkadang tertawa saat mengingat
kesalahan yang pernah membuat malu sang dosen.
Ramon yang saat itu tengah
menyeruput cappuccino pesanannya tiba-tiba berucap “Mainan TOD aja yuk! Bosen
ngomongin dosen itu mulu.”
“Boleh, tapi pake apa? Ga ada
botol.” Jawab Winda.
“Hmm, gue bawa botol plastik
nih. Pas airnya abis, gue lupa buang botolnya.” Ujar Riki seraya mengeluarkan
botol dari dalam tasnya dan meletakkannya di meja.
“Oke kita mulai ya?” ujar Ramon
seraya memutar botolnya.
Permainan itu berjalan biasa.
Satu persatu dari mereka telah menjadi sasaran permainan TOD, sampai akhirnya
bagian tutup botol itu mengarah ke Riki.
“Hayo. Jatahnya Riki. Hm, truth
or dare nih?” Ujar Winda memandang Riki.
“Truth aja lah. Males gue dare.
Abis dari tadi dare nya ga ada yang beres. Yang foto ama waitress lah, yang
ngajakin kenalan cewe lah.” Ujar Riki.
“Oke. Kalau gitu gue mau nanya.
Sebelum sama Vero, lu pernah pacaran sama siapa lagi?” Tanya Ramon menyelidik.
“Ngga pernah. Vero pacar
pertama gue, dan semoga aja jadi yang terakhir.” Jawab Riki menggenggam tangan
Vero yang segera di balas senyuman manis dari Vero.
Permainan berlanjut, tanpa
mereka sadari sepasang mata mengintai mereka dari kejauhan. Mengawasi setiap
gerak-gerik ke lima remaja tersebut dengan tatapan garang.
***
“Ah sialan!”
Ramon menggerutu sendirian,
berharap ada taksi yang akan lewat dihadapannya. Sudah setengah jam lebih ia
menunggu, sesekali ia melirik jam tangannya. Jam 08.30. Hari ini ia memang ada
kuliah malam. Hal itu biasa baginya, namun tidak kali ini.
Dipertengahan jalan pulang, mobil
Ramon mogok, dan terpaksa harus ia inapkan di bengkel. Keempat sahabatnya tidak
bisa menjemputnya, sehingga Ramon memutuskan untuk berjalan hingga ia
mendapatkan taksi.
“Mungkin di perempatan depan
bakal ada taksi yang lewat.”
Dengan gontai, ia melangkahkan
kakinya melewati bayang-bayang pepohonan yang membuat jalan menjadi temaram.
Namun langkahnya terhenti saat ia merasa ada sesuatu yang mengikutinya. Ia
menoleh kebelakang, tak ada apa-apa. Namun saat ia menoleh ke depan, matanya
membelalak. Tepat dibawah lampu jalan, tak jauh dari tempat Ramon berada,
tengah berdiri sosok berjubah hitam dengan membawa pisau yang berkilat dibawah
sorot lampu jalan.
“Siapa lo?” Ujar Ramon mencoba
melihat wajah sosok berjubah yang ada di hadapannya.
Namun tanpa berkata sedikitpun,
sosok itu berlari kea rah Ramon. Bulu kuduk Ramon meremang, ia berlari tak
tentu arah. Namun sosok itu tetap mengejar Ramon. Hanya terdengar derapan
langkah kaki Ramon dan deru nafasnya yang memburu.
“Pletakk!!!”
Sosok itu melempar sebuah batu yang
mendarat tepat di bagian belakang kepala Ramon. Ramon tersungkur seketika, tak
bergeming. Darah segar mengucur deras dari kepalanya. Sosok yang tadi
mengejarnya semakin mendekat. Menyunggingkan senyuman sinis, puas melihat
korbannya tersungkur.
***
Malam itu Riki yang bersiap
untuk tidur, tersentak. Mendengar suara seperti barang yang jatuh dari arah
lantai satu rumahnya. Dengan bermodal layar handphone nya yang terus ia
nyalakan, ia memutuskan untuk menuruni tangga, dan mengecek kebenaran dari apa
yang ia dengar.
Emosi memeluk tubuhnya begitu tahu kalau jendela rumahnya telah pecah karena
dilempari seseorang dengan sebuah batu. Ia memperhatikan batu itu sejenak,
matanya terbelalak begitu melihat ada bercak darah disana terlebih saat ia
melihat ada selembar kertas yang diikat di batu tersebut.
‘Cari Ramon di dekat bangunan
tua di Jalan Dharmaraya. If u want to see him again’
Riki tersentak. Khawatir
menyelimuti hatinya, terlebih saat ia baru saja ingat bahwa tadi Ramon meminta
Riki untuk menjemputnya karena mobilnya mogok.
Riki menyabet kunci mobil yang
tergantung di dekat tv. Membawa batu dan surat yang ia temukan tadi. Ia
mengendalikan mobilnya dengan kecepatan tinggi, tak peduli handphonenya
berulang kali berbunyi tanda sms masuk dari Vero, kekasihnya. Yang ada dalam
benaknya saat ini hanya Ramon.
Riki menikung di Jalan
Dharmaraya. Memelankan laju mobilnya, berharap bahwa surat kaleng itu hanyalah
omong kosong belaka. Namun, mobil itu langsung berhenti, ketika mata Riki
menangkap sesuatu yang tergeletak di pinggir jalan. Seperti sepasang kaki lengkap
dengan sepatu yang masih menempel.
Riki keluar dari Nissan Juke
nya, membawa handphone sebagai penerangan. Detak jantungnya bagai bergema,
pikiran negatif kalau itu adalah Ramon memenuhi otaknya. Otaknya kini
membenarkan apa yang ia lihat, itu memang manusia. Ia telusuri kaki itu. Degup
jantungnya semakin tidak karuan.
‘Ramon! Itu memang Ramon, apa
yang terjadi padanya?’ pikir Riki.
Riki mengumpulkan
keberaniannya. Dengan tangan yang gemetar, ia berusaha untuk membangunkan
Ramon. Namun sia-si, ia tetap terbaring kaku disana. Riki mencoba membalik
tubuh Ramon, namun ia tersentak saat melihat luka menganga di leher Ramon,
darah segar masih mengucur sedikit demi sedikit dari luka itu. Ia terdiam,
membaca apa yang tertulis di kemeja ramon. “You did the dare!” Namun saat ia
mendengar sirine mobil polisi dari kejauhan, Riki berlari menjauh. Namun sorot
lampu membuat langkahnya terhenti.
Dua orang polisi menyergapnya.
Salah satu dari mereka mengecek mayat Ramon, dan satu dari mereka memborgol
Riki. Tak lama, ambulans datang dan membawa mayat Ramon dengan kantung mayat
untuk di autopsi.
Air mata Riki terus mengalir
selama ia diperiksa polisi. Polisi mencurigai Riki lah pelaku pembunuhan Ramon,
namun tak ada bukti atau saksi yang menyetujui tuduhan polisi kepada Riki. Esok
paginya, Riki diizinkan setelah dimintai keterangan karena polisi tak cukup
bukti untuk memenjarakannya.
***
Kepulangannya
dari kantor polisi tak lantas membuat Riki lega. Dalam benaknya masih
berkecamuk dendam pada orang yang telah membunuh sahabatnya. Ia tak pernah
menyangka kalau Ramon akan meninggal dengan cara yang begitu tragis.
Vero
dan Winda menanti Riki. Saat melihat mobil Riki memasuki garasi, mereka berdua
berhamburan menghampiri Riki. Menyambut Riki yang berjalan gontai ke arah ruang
tamu dengan berbagai pertanyaan.
“Sayang,
kamu ga papa? Aku yakin bukan kamu pelakunya.” Kata Vero mencoba menenangkan
kekasihnya.
“Kok
lo bisa ada di sana?” Selidik Winda.
“Semalem
gue dapet surat di batu yang mecahin kaca rumah gue. Kayaknya ada orang yang
sengaja mancing gue buat jadi kambing hitamnya. Siapapun dia, dia harus mati
karena udah ngebunuh sahabat gue!” Ujar Riki seraya memukul tembok.
“Sabar
sayang polisi pasti akan nemuin pelakunya.” Ujar Vero.
“Ga
bisa sayang, selama pelakunya belum ketemu, aku yang seolah tersangkanya.”
“Ya
udah sekarang lo istirahat aja, Rik. Kalo gue dapet info baru masalah pembunuh
Ramon, lo akan gue kabarin.” Ujar Winda menarik tangan Vero untuk meninggalkan
rumah Riki.
Riki
membanting tubuhnya di sofa. Mencoba mencerna apa yang baru saja terjadi.
‘Apa maksud dari tulisan di
kemeja Ramon? Apa orang itu membunuh Ramon hanya untuk menantangku? Seolah
Ramon adalah bahan permainan TOD? Siapapun dia, dia pasti orang sinting! Gue
janji akan bales kematian lo Ram!’ Ujar Riki dalam hati.
***
Setelah
dari rumah Riki, perasaan Winda berkecamuk. Ia sedih karena Ramon telah
meninggal, dan ia juga tidak percaya bahwa Riki lah pelakunya. Namun, logikanya
mematahkan segalanya. Hanya Riki yang berada di lokasi kejadian, kemungkinan ia
pelakunya sangat besar.
Kepala
Winda terasa terbakar, sedang hatinya berkecamuk. Semua kemungkinan yang ada,
menurutnya tidaklah mungkin. Dua mata kuliah yang ia jalani hari ini berbuah
nihil. Tak ada satupun yang dapat ia serap.
Ia
melangkahkan kakinya menaiki tangga ke atap gedung auditorium kampus. Tempat
mereka berempat dulu sering berkumpul. Winda berfikir bahwa pikirannya akan
tenang jika berada di sana. Ia terduduk di tepi atap, tempat mereka dulu sering
duduk bersama. Tempat yang menurut mereka begitu privasi.
‘Ram,
kenapa lo pergi secepat ini. Siapa yang tega ngelakuin ini sama lo? Apa bener
Riki pelakunya?’
Kalimat itu menjalar
bertubi-tubi dalam pikiran Winda. Membuatnya menutup mata, membayangkan
saat-saat dulu mereka berempat berada di atap ini. Saat yang tidak dapat
diputar ulang, karena Ramon tak akan pernah bisa kembali.
Winda
tak menyadari bahwa dibelakangnya kini tengah berdiri sosok berjubah hitam yang
menyeringai menatapnya. Matanya bagai kobaran api yang menyimpan dendam pada
Winda. Ia melangkah perlahan mendekati Winda, nyaris tanpa suara.
Sejurus
kemudian, sosok itu telah berada di belakang Winda. Meniup pelan rambut panjang
Winda, sehingga membuatnya menoleh. Winda hanya mampu melihat senyuman sinis di
balik jubah itu, dan sedetik kemudian tubuhnya telah terjun dari atap dan tertancap
di pagar belakang kampus. Darah segar menyembur ke dinding belakang auditorium.
Sosok itu melihat mayat Winda dari atap dan tersenyum puas setelah mendorong
Winda.
***
Nissan
Juke milik Riki kini telah terpakir rapi di parkiran kampus. Ia berniat untuk
menjemput kekasihnya yang saat itu ada kuliah malam. Ia tak ingin kekasihnya
bernasib sama seperti Ramon. Diliriknya jam di layar HP nya. Jam 19.20, namun
Vero belum juga memunculkan batang hidungnya.
“Duh
pake pengen ke toilet segala! Nyusahin! SMS Vero dulu deh buat nunggu di
koridor biasa.” ujar Riki.
Setelah
SMS nya terkirim, Riki melangkahkan kakinya ke arah toilet. Lorong kampus
terasa begitu menyeramkan, begitu hening. Hanya sekali Riki berpapasan dengan
tukang sapu di kampusnya. Toilet itu, Riki berhenti di depan pintu toilet.
Entah mengapa bulu kuduknya meremang, toilet itu terasa begitu mencekam. Dengan
lampu kuning yang terkadang berkedip. Namun karena kebelet, ia memaksakan diri
untuk masuk ke toilet itu.
Saat
ingin kembali ke mobil, Riki merasa ada seseorang yang mengikutinya. Sesekali
ia menoleh kebelakang untuk memastikan bahwa tidak ada yang mengikutinya.
‘Perasaan
gue doang kali ya?’ ujar Riki.
Namun
baru dua langkah ia berjalan, perasaan itu muncul lagi. Kali ini ia memutuskan
untuk kembali menoleh ke belakang. Namun tidak seperti sebelumnya, kali ini ada
sosok berjubah hitam yang membawa pisau di kedua tangannya. Ia berada dibelakang
Riki, tak jauh dari posisi Riki sekarang. Jubah itu menutup sebagian wajahnya.
Membuat Riki tak mampu melihat siapa orang dibaliknya.
Saat Riki tengah terpaku memandang sosok dihadapannya. Sosok itu
melemparkan sebuah pisau ke arah Riki, namun meleset. Riki segera berlari
meninggalkan sosok itu. Ia mencoba menoleh kebelakang untuk melihat apa sosok
itu masih mengejarnya atau tidak, namun ia justru menabrak sesuatu di
hadapannya.
“Arrggghh!!!”
“Riki kamu kenapa? Ini aku
Vero.” Jawab Vero menggenggam tangan Riki.
Riki mencoba mengatur nafasnya.
“Ngga apa-apa. Cuma takut kamu nunggu lama, jadi aku lari-lari. Hehe.” Ia
memutuskan untuk berbohong pada kekasihnya agar kekasihnya tidak khawatir akan
keselamatannya.
Riki menoleh kebelakang, dan
sosok itu tidak ada. Setelah dirasa aman, ia mengajak Vero ke mobil. Mereka
berdua berjalan menuju mobil Riki yan terparkir manis. Namun ada yang berbeda
dari mobil itu.
“Apa ini?” Ujar Riki mengambil
sepucuk surat yang terdapat di kaca depannya, dan membacanya.
“Ada apa sayang?” Ujar Vero
melihat surat itu.
‘Cari Winda di setiap sudut
kampus ini. Just if you want to know the truth! ’
“Sialan! Apa lagi yang orang
saiko ini lakuin! Dimana kita harus cari Winda?” Ujar Riki menggerutu.
“Aku tau, tempat biasa kita
ngumpul. Atap gedung auditorium. Kita cek kesana.” Ujar Vero.
“Ayo sayang.” Ujar Riki menarik
tangan Vero ke arah gedung auditorium.
Sesampainya di atap, mereka
mencari Winda. Memanggil nama Winda namun nihil, tak ada sahutan. Dan tak ada
tanda bahwa Winda disana. Riki merasa surat kali ini adalah surat iseng. Namun,
saat ia ingin mengajak Vero kembali ke mobil, ia melihat Vero tertegun. Matanya
memandang ke arah tempat yang disorot oleh flash HP nya.
Riki menghampiri Vero. Ia
terkejut saat menemukan mayat Winda yang tertancap di pagar. Ia segera memeluk
Vero, agar Vero tak lebih lama melihat mayat itu. Saat mereka melihat di
pinggir atap tempat biasa mereka duduk, mereka membaca sebuah tulisan
bertuliskan “You did the second dare.”
“Sialan!!! Gue bunuh lo!” Ujar
Riki memaki.
Sesampainya di mobil, Vero
mencoba menelfon polisi, namun Riki menghalanginya. Ia yakin, apabila Vero
menghubungi polisi, maka ia yang akan menjadi tersangka, karena waktu ia pergi
ke toilet akan dijadikan sebagai perkiraan waktu pembunuhan. Ia tak ingin masuk
penjara, ia takut akan terjadi sesuatu pada Vero apabila ia tak ada
disampingnya.
Vero memutuskan untuk turun
dari mobil. “Ngga! Semua jelas sekarang! Kamu kan yang ngebunuh Ramon sama
Winda? Kamu bohong masalah surat ini, pasti kamu kan yang naro surat ini di
kaca mobil kamu. Begitu juga batu yang berlumuran darah. Polisi bilang ke aku
kalau cuma ada sidik jari kamu disana.” Ujar Vero menuduh.
“Sayang, sumpah. Aku ngga
ngelakuin itu. Aku juga ga tau ini ulah siapa!”
“Tutup mulut kamu, aku ga
percaya sama kamu. Setelah Ramon dan Winda, siapa lagi yang akan kamu bunuh?
Apa aku? Kalau kamu ga salah, seharusnya kamu biarin aku nelfon polisi.” Air
mata Vero bercucuran. Hatinya bingung haruskah ia percaya pada Riki atau tidak.
Riki merasa percuma meyakinkan
Vero. Ia pasrah saat melihat Vero menelfon polisi tepat di depan wajahnya. Ia
mencium kening Vero dan menjalankan mobilnya meninggalkan Vero sendiri menunggu
polisi. Yang ada dalam benak Riki sekarang adalah bagaimana caranya lolos dari
semua ini.
Sesampainya di rumah, Riki
mengambil pakaiannya dan bergegas pergi. Ia sadar, berada di rumah adalah salah
satu keputusan paling beresiko, karena tempat pertama yang akan dicari polisi
adalah rumahnya. Ia memacu Nissan Juke nya kembali, ia tahu tempat yang aman.
Untuk sementara, ia akan tinggal di rumah lamanya di Bogor.
HP nya berdering, terlihat
tulisan bahwa ada satu SMS masuk. Dari Vero, ia menepikan mobilnya sebentar. Ia
membaca SMS dari kekasihnya tersebut.
“Shit!!”
Vero memberi kabar bahwa ia
telah menceritakan kronologis penemuan mayat Winda pada polisi. Namun Riki akan
dinyatakan sebagai buronan karena telah melarikan diri dari proses penyelidikan
apabila ia tidak segera memberi kabar dan menemui polisi untuk memberi
keterangan. Kini batin Riki semakin berkecamuk, ia akan diburu oleh polisi
untuk apa yang tidak ia lakukan. Sepertinya ia harus menetap di rumah lamanya
dengan waktu yang lebih lama dari dugaan awalnya.
***
Sudah satu minggu Riki menetap
di rumah lamanya. Dan ia sungguh ditetapkan menjadi buronan. Ia masih
bersyukur, polisi belum menemukannya di rumah lamanya ini. Ia merindukan Vero,
walaupun Vero sudah tidak mencintainya lagi, tapi ia masih mencintainya. Tak
lama, sebuah SMS dari nomer Vero membuat gemuruh HP Riki.
‘Jalan Wangsaagung No.70. If
you want to see your love again! Haha ’
Mata Riki berapi-api membaca
SMS itu. Otaknya dipenuhi kecemasan dan rasa dendam. Ia pun membalas SMS itu.
‘Kurang
ajar! Ga akan gue biarin lo berbuat sesuatu ke Vero. Kali ini lo pasti gue
bunuh! ’
Tak ada balasan dari nomer
Vero. Riki memacu mobilnya kembali ke Jakarta dan mencari alamat yang ada di
SMS itu. Ia tidak mempedulikan apabila polisi akan menangkapnya. Tak akan ia
biarkan sesuatu terjadi pada kekasihnya meskipun ia harus masuk penjara sebagai
gantinya.
“Kenapa
gue malah sembunyi dan ninggalin Vero sendirian si! Dasar bodoh!”
Mobil
Riki terhenti di sebuah bangunan tua tak terawat. Di nomor depannya tertulis
Jl. Wangsaagung No.7. Tanpa pikir panjang ia langsung memasuki bangunan tua itu
dan mencari Vero.
“Vero,
sayang kamu dimana?”
Mata
Riki tertuju pada sebuah kamar yang pintunya sedikit terbuka. Ia mendorong
pintu lapuk itu agar lebih terbuka. Dan ia melihat Vero dan keadaan terikat
dikursi. Ia mencoba melepaskan ikatannya. Namun sosok berjubah hitam itu telah
berdiri di belakangnya. Sosok itu memukul kayu ke bagian belakang Riki hingga
pingsan.
***
Riki
tersadar, matanya berkunang-kunang. Dihadapannya kini ada sosok berjubah hitam
yang tengah membelakanginya. Namun ia tidak melihat ada Vero disana.
“Sialan!
Lo apain Vero! Lo apain? Sampe lo ngapa-ngapain dia, gue bunuh lo!” ujar Riki
yang memberontak dalam keadaan terikat di kursi.
Sosok
itu berbalik dengan menggenggam sesuatu ditangannya. Riki baru sadar, yang
dibawa oleh sosok itu adalah pisau lipat yang selalu ia bawa. Pisau yang
menurut Riki sangat tajam. Sosok itu membuka tudung jubahnya.
“Elo!
Elo!! Jadi selama ini elo pelakunya! Biadab lo!” Riki histeris.
“Sssst!!
Kenapa? Kaget liat aku berdiri? Kamu bisa diem kan sayang? Kamu liat disamping
kamu ada foto siapa? Foto dua sahabat kamu yang udah mati.” Ujar sosok itu
menolehkan wajah Riki ke arah foto mayat Winda dan Ramon di tembok sebelah Riki.
“Cindi,
apa-apan lo! Apa salah mereka sampe lo bunuh mereka semua! Dimana Vero?” Ujar
Riki memberontak.
“Ohh
tenang, Vero masih aman. Kamu tanya aku salah mereka apa? Kalian bertiga salah!
Ayolah jangan mendramatisir dengan pura-pura lupa kesalahan kalian apa!”
“Cindi,
kita ga ada salah apa-apa sama lo! Dasar cewek gila!”
“Aku
emang gila, aku gila karena kamu. Kamu beneran ga inget semuanya? Dulu, sebelum
ada mereka berdua kita pasangan bahagia. Kita saling mencintai. Kamu lupa
kejadian 3 tahun lalu? Saat kita jalan-jalan berdua naik motor, dan kamu ngebut
saat itu. Padahal udah aku bilang jangan ngebut, inget? Kita jautoh dari motor,
kamu ga papa, tapi sayangnya aku lumpuh. Kaki aku ga bisa bergerak! Kamu inget
semuanya?” ujar Cindi menangis.
“Cindi
kalau masalah itu aku minta maaf… tapi.” Ujar Riki memotong pembicaraan Cindi.
“Ssst..
Aku belom selesai ngomong sayang. Dulu awalnya kamu masih bisa terima aku, dan
ngerasa bersalah sama aku. Karena kamu yang buat aku lumpuh. Kamu selalu
nemenin aku terapi, nyemangatin aku. Tapi setelah mereka berdua dating apa yang
kamu lakuin? Kamu habisin waktu kamu sama Winda dan Ramon itu. Ga ada waktu
untuk aku. Sampai akhirnya kamu mutusin aku dengan alasan apa? Kamu butuh pacar
yang lebih punya semangat hidup, yang bisa di ajak kemanapun kamu pergi, yang
bisa kasih support buat kamu bukan kamu yang harus kasih support buat pacar
kamu. Kamu tau? Saat itu aku hancur dengernya! Aku seperti itu karena kamu. Aku
harus duduk di kursi roda karena kamu. Dan seolah kamu ga peduli. Mereka selalu
menatap aku iba, jijik, selalu menatap dengan tatapan seolah aku ga pernah
pantas buat kamu. Maka dari itu, aku benci mereka. Mereka harus mati agar
mereka tau rasa sakit yang aku rasakan dulu.” Ujar Cindi menutup mulut Riki.
“Mereka
ga salah! Lo yang terobsesi sama gue.” Ucap Riki.
“Ya,
kamu bener, aku kan udah bilang. Aku gila karena kamu.”
Tiba-tiba
seseorang memasuki ruangan tempat Riki disekap, yang membuat Riki semakin
terbelalak, itu Vero. Dia membawa nampan berisi pisau, yang membuat Riki yakin
ia tak akan mampu selamat kali ini.
“Jadi
lo berdua komplotan! Kurang ajar!” Ujar Riki memaki.
“Sssst..
sayang diem dulu dong. Aku itu sepupunya kak Cindi. Dan perlu kamu tau, memang
kak Cindi yang membunuh Ramon dan Winda, tapi aku yang menaruh surat itu di
mobil kamu, dan ngelempar surat kaleng ke rumah kamu. Dan kamu tau kenapa mobil
polisi bisa secepat itu sampai ke tempat mayatnya si Ramon? Karena aku yang
ngasih tau ke kak Cindio kalau kamu udah ninggalin rumah dan pergi kesana. Ga
mungkin kan kak Cindi ngelakuin semuanya sendiri? Dasar cowok bodoh. Jatuh cinta
dengan umpan, fantastis! Bahkan kamu ngga sadar kan kalau cara aku merhatiin
samu sama dengan cara kak Cindi merhatiin kamu dulu. Kamu tau kenapa kamu ngga
sadar? Karena menurut kamu seolah dia udah ngga ada! Sama seperti jawaban kamu
malam itu bahwa kamu ngga pernah suka sama siapapun selain aku.” Ujar Vero
tertawa di samping telinga Riki. Sekarang kamu diem ya Riki sayang.” Ujar Vero
menempelkan lakban ke mulut Riki.
“Vero,
sebaiknya kamu pergi dari sini. Nama kamu bersih, aku akan menyelesaikan urusan
aku sama dia, makasih atas bantuan kamu. Ga akan ada yang tahu kalau kamu
bagian dari semua ini. Aku janji!”
“Ok,
aku pamit. Selamat bersenang-senang!” Ujar Vero memeluk Cindi.
Vero
berlalu meninggalkan Cindi dan Riki dengan senyum sinis mengembang di sisi bibirnya. Setelah bayang-bayang Vero tak terlihat
lagi di tembok. Cindi langsung menyayat kedua pergelangan kaki bagian belajang
Riki. Riki menjerit tertahan. Namun tidak puas dengan itu, Cindi menyayat
pergelangan tangan kanan Riki.
“Ini
yang terakhir, karena kata-kata kamu yang menyakiti aku. Kamu akan mati seperti
Ramon!” Cindi mengambil pisau yang terlihat sangat tajam, berkilat. Ia menyayat
leher Riki, darah menyembur kepakaian Riki. Dan Cindi tersenyum melihat
detik-detik terakhir Riki kehabisan darah, dan mati menyusul dua sahabatnya.
“Maafin aku sayang, aku sayang
kamu. Tapi aku ga bisa liat kamu sama yang lain. Aku akan nyusul kamu. Tunggu
aku ya.” Ujar Cindi mencium kening Riki dan menusukkan pisau yang ia gunakan
untuk menyayat leher Riki ke perutnya sendiri.
**TAMAT**
