‘Derrrt..
Derrttt’
Ponselku bergetar tertanda ada sebuah
pesan masuk, entah dari siapa. Ku raih ponselku yang tergeletak di atas sofa.
Dari Qinar.
‘Huft, lagi-lagi nanya lagi apa. Bosen
banget! Ga usah di bales ah.’ Ku banting ponselku kembali ke sofa.
Qinar, gadis yang sudah 3 tahun ini
menjadi kekasihku. Gadis yang baik hati, pengertian, dan penuh perhatian. Tapi
harus ku akui, aku jenuh dengan hubungan kami yang flat. Sehari-hari, hanya
bertanya sedang apa, seperti detektif saja.
Kejenuhan akan hubunganku lah yang
membuatku mengambil tindakan untuk menduakannya. Gadis itu bernama Hani. Ia tau
kalau aku menjadikannya yang kedua, namun menurutnya itu tak jadi masalah. Aku
tahu, Qinar pasti terluka jika tahu yang sebenarnya.
Mungkin kalian berpikir aku playboy. Tak
dapat kupungkiri, hati ku masih milik Qinar seutuhnya. Aku melakukan semua ini,
hanya karna aku jenuh dengan hubunganku. Setelah kejenuhanku sirna, aku
berjanji pada diriku sendiri kalau aku akan meninggalkan Hani dan kembali ke
Qinar.
‘Dert…Deerrttt’
Ponselku kembali bergetar. Kali ini,
pesan masuk dari Hani. Ia mengajakku bertemu di mall besok. Aku mengiyakan
ajakannya.
***
Hari dimana kami sepakat untuk bertemu pun
datang. Ku pacu sepeda motor ku menuju mall tempat Hani mengajak bertemu. Sesampainya
disana, aku hanya mendapati Hani sendirian. Tak ada tanda-tanda kawan atau
siapapun yang dia ajak.
‘Mungkin kali ini jalan berdua.’ Pikirku.
Hani mengajak ku menonton film ‘Surat Kecil
untuk Tuhan’. Ceritanya begitu menyentuh. Aku berharap orang-orang disekitarku
tak ada yang memiliki penyakit berbahaya hingga harus berjuang melawan maut
seperti itu.
Selepas dari bioskop, kami beranjak ke
Solaria untuk makan siang. Tanganku tak luput dari rangkulan manja Hani.
Sungguh berbanding terbalik dengan Qinar yang enggan mempertontonkan kemesraan
di depan umum.
Di solaria, Hani banyak berceloteh mengenai
keluarganya. Jenuh aku mendengarnya, namun aku tak sanggup untuk memintanya
untuk menyudahi celotehannya. Rasanya tak tega kalau harus mengecewakannya.
Rasa yang berbeda dengan apa yang kulakukan pada Qinar. Bahkan aku sanggup
menduakannya, menduakan gadis yang selama ini setia disampingku. Bodohkah aku
menduakannya? Tegakah aku padanya? Ataukah jauh di dalam jati diriku, aku
hanyalah seorang begundal brengsek yang memainkan hati seorang gadis? Entahlah,
aku tak tahu harus bilang apa. Mungkin itu semua disebabkan oleh kejenuhanku
akan hubunganku dengan Qinar yang telah mencapai ambang overdosis.
“Dio, kamu dengerin aku kan dari tadi?”
Tanya Hani padaku yang sedari tadi termangu memikirkan dosa yang telah ku
lakukan pada Qinar.
“Iya, aku denger kok. Cuma, aku lapar. Jadi
aku ga bisa banyak ngasih komentar.” Jawabku singkat.
Hani terlihat BT mendengar jawanku. Wajahnya
merengut, menunjukkan kekesalannya padaku. Aku diam, tak kucoba untuk menghibur
Hani.
Sesaat kami larut dalam keheningan. Hingga
ku rasa, ada beberapa langkah kaki yang menuju ke arah kami. Aku menoleh,
berharap itu adalah waitress pembawa pesananku. Tapi justru apa yang kulihat
membuatku diam membatu. Qinar menghampiriku bersama beberapa temannya. Wajah
Qinar berlinang air mata, terlihat pucat. Entah karna sedih atau karna sedang
tidak enak badan.
“Semoga kamu bahagia dengan apa yang kamu
lakukan, Dio. Semoga kamu bahagia dengan gadis pilihan kamu.” Ucap Qinar seraya
menyeka air matanya.
Saat itu, aku hanya bisa diam membatu. Tak
tahu harus berkata apa, bibirku terasa kelu untuk berucap sesuatu. Qinar tak
marah padaku, dia justru mendoakan kebahagiaanku. Qinar berlari meninggalkan
aku. Aku mengejarnya, berharap ia mau memaafkanku.
“Qinar, maafin aku. Jujur, aku masih
mencintai kamu.” Ucapku megenggam tangannya.
“Udah, Dio. Jangan diterusin lagi. Jangan
bohongin perasaankamu lagi.” Ucap Qinar. Air mata semakin membasahi pipinya.
“Aku benar-benar masih mencintai kamu, Qi.”
“Please, Dio. Jangan katakan kamu mencintai
aku lagi. Kamu jangan bohongin perasaan kamu. Aku tau, kamu mencintai Hani.
Maka dari itu, kamu menduakan aku. Aku ga nyalahin kamu, karna aku tau, semua
ini pasti aku yang salah. Aku yang ga bisa jadi pacar yang baik buat kamu.”
Ucap Qinar. Tangannya mendekap erat wajahku. “Sekarang, aku ngelepasin kamu
Dio. Aku bebasin kamu untuk memilih siapa yang kamu cintai.” Qinar melangkahkan
kakinya meninggalkan aku, disusul oleh teman-temannya yang memandangku dengan
pandangan murka.
Tiap langkah yang ku ambil untuk kembali ke
solaria bersama Hani terasa begitu berat. Rasa bersalahku pada Qinar membuatku
enggan untuk kembali pada Hani, tapi apa mau dikata, aku tetap kembali pada
Hani.
Hani menyambutku dengan menggandeng
tanganku. Ia merebahkan kepalanya dibahuku, danberkata bahwa ia mencintaiku.
‘Tuhan, tunjukkanlah pada Qinar kalau ia
salah. Aku sungguh-sungguh masih mencintainya. Justru kali ini, aku sedang
membohongi perasaanku. Tak sedikitpun rasa cintaku untuk Hani. Aku memang
sempat menyukainya, tapi hanya sebatas suka, bukan cinta selayaknya yang
kurasakan pada Qinar.’ Umpatku dalam hati.
Selepas kejadian itu, aku hanya dapat
terdiam, membisu. Tak ada sepatah katapun keluar dari mulutku. Hanya anggukan
dan senyuman yang dapat kuberikanpada Hani jika ia berceloteh padaku.
***
Dua bulan berlalu. Tak ada sedikitpun
kabar dari Qinar.
‘Bencikah ia padaku? Atau dia sudah
menemukan pendamping yang lain?
Entahlah, semoga ia mendapatkanyang terbaik untuknya, tidak sepertiku yang
hanya mampu menghancurkan perasaannya. Tapi, mengapa saat itu dia tidak marah
padaku? Dia justru mendoakan kebahagiaanku. Apa ituu yang dinamakan cinta
sejati? Cinta yang orang bilang cukup dengan melihat orang yang dicintai
bahagia?’
Hubunganku dengan Hani masih sama
seperti sebelum Qinar mengetahui semuanya. Perasaanku pun masih sama, masih tak
mampu mencintai Hani.
Hari ini, teman-temanku mengajakku
bertemu, di mall tempat Qinar melihat aku jalan dengan Hani 2 bulan yang lalu.
Masih terngiang dalam benakku saat-saat aku mengejar Qinar yang terluka karna
ulahku. Trauma rasanya kembali ke tempat itu, namun ya mungkin tak akanapa-apa
bila bersama teman-temanku. Mungkin mereka bisa sedikit benghiburku dan
melupakan sejenak rasa bersalahku pada Qinar.
Setibanya disana, aku bergegas menuju bioskop
membeli tiket untuk teman-temanku. Aku menunggu mereka sambil duduk di sofa
bioskop. Ku lirik jam tangan yang menempel erat di tangan kananku, 15 menit
sudah aku menunggu mereka.
‘Huft, ngaret lagi.’ Pikirku.
“Dio, kamu ngapain disini?” Tanya Hani
terbata-bata. Bergegas ia melapas pegangan tangannya.
“Ga penting kenapa aku disini. Dia
siapa?” Tanyaku menunjuk ke arah laki-laki di samping Hani.
“Gue pacarnya Hani. Lo siapa? Ga usah
nunjuk-nunjuk deh lo.” Jawab laki-laki itu dengan nada emosi.
“Gue jg pacarnya Hani. Jadi selama ini,
lo bilang sayang sama gue semuanya palsu? Bego gue, Ni bisa percaya sama lo.
Mulai sekarang kita putus!” Ucapku seraya melangkahkan kakiku menjauhi Hani.
Aku bertemu teman-temanku di dekat lift.
Aku menjelaskan semuanya dari awal. Dari aku menghianati kepercayaan Qinar. Mereka
menyarankan agar aku meminta maaf pada Qinar, mereka yakin Qinar akan
memaafkanku. Aku bergegas ke rumah Qinar, ku serahkan tiket nonton yang ku beli
pada mereka.
Setibanya aku di rumah Qinar, kulihat
Qinar sedang menyirami tanaman di halaman rumah. Dengan ragu, ku panggil
namanya dan ia membuka pagar rumahnya. Mempersilahkan aku masuk dengan
senyumannya yang khas.
“Ada apa Dio?” Tanyanya.
Sejenak ku perhatikan penampilannya yang
jauh berbeda. Sekarang dia begitu kurus, pucat. Aku segera mengalihkan
pandanganku darinya.
“Aku mau minta maaf Qi. Maafin aku.
Sekarang aku sadar udah begitu bodoh nyia-nyiain dan ninggalin kamu. Aku
berharap kamu mau kembali jadi pacar aku.” Jawabku memohon padanya.
“Aku udah maafin kamu dari dulu Dio. Dan
andaikan aku bisa, aku pasti mau kembali jadi pacar kamu. Tapi sayangnya,
ngga.”
“Ada apa Qi? Kamu sudah punya pacar
baru?”
“Ngga Dio, bukan itu penyebabnya.”
Jawabnya seraya menggelengkan kepalanya.
“Lalu apa?”
“Kamu lihat kan penampilan aku. Aku
bukan Qinar yang dulu. Sudah sejak lama aku mengidap kanker otak. Aku udah coba
semua pengobatan, dengan harapan aku bisa terus nemenin kamu. Sebenarnya aku mau
cerita ke kamu, tapi belum sempet. Dan, semenjak kejadian itu, aku kehilangan
harapan, Dio. Aku menghentikan semua pengobatanku, aku pasrah kalau Tuhan ingin
segera menjemputku.” Jawabnya. Kulihat air mata mengalir dari sudut matanya.
“Jadi? Jadi kamu kena kanker otak Qinar?
Kenapa kamu ga pernah bilang sama aku? Kenapa Qinar!” Air mataku tak dapat
terbendung.
“Aku udah mau cerita, Dio. Tapi sebelum
aku cerita, aku ngeliat kamu sama perempuan itu. Aku urungkan niat aku untuk
ngasih tau kamu. Karna aku ga mau, kamu milih aku hanya karna iba. Jujur, aku
masih mencintai kamu.” Ucapnya menatap mataku.
Tatapannya tak mengisyaratkan
kebohongan. Hanya kejujuran yang tampak dari sepasang matanya yang mengembun.
“Maafin aku Qinar. Aku bener-bener udah
berdosa sama kamu. Aku bodoh udah nyia-nyiain kamu. Aku masih mencintai kamu.
Sekarang kamu lanjutin ya pengobatannya.” Aku memeluk Qinar erat.
“Sssst ga ada yang perlu sesalin Dio.
Mungkin emang udah jalanku kaya gini. Aku udah senang banget bisa jadi pacar
kamu 3 tahun ini. Udah ngga bisa Dio, kanker ku udah akut. Dokter bilang udah
ngga ada harapan lagi.” Setetes cairan merah yang kuyakini itu darah, menetes
dari hidungnya.
“Qinar, kamu mimisan. Kamu istirahat aja
ya. Aku pulang aja.” Aku bangkit dari sofa.
“Jangan Dio. Tolong temenin aku disini.
Aku mohon. Aku mau tidur dibahu kamu aja. Please Dio.” Ucap Qinar menarik tanganku.
“Ya udah- ya udah. Dimana tempat
tisunya. Biar aku yang ambilin.”
“Ada di belakang yo, di dekat lemari.”
Ku langkahkan kakiku menuju lemari.
Setiap langkah yang ku ambil, tiap kali itu juga aku mengutuk diriku. Mengapa
aku begitu bodoh menyia-nyiakannya! Mengapa aku tega membiarkan dia melewati
masa sulit penyakitnya sendirian! Dasar bodoh!! Kalau sampai terjadi sesuatu
sama Qinar, aku ga akan memaafkan diriku sendiri.
“Ini Qinar tisunya.”
“Makasih ya Dio.” Jawabnya seraya
menyambar tisu yang ada di tanganku. Qinar meletakkan kepalanya di bahuku. “Aku
seneng banget kamu kesini dan mau nemenin aku. Makasih ya. Aku pernah berharap,
bisa bersama kamu lagi Dio. Mendengar kamu bilang kalau kamu masih mencintai
aku. Dan itu semua udah ke kabul. Aku rela kalau Tuhan menjemputku sekarang.”
“Hsst. Kamu ga boleh bilang kaya gtu.
Kalau terjadi sesuatu sama kamu, aku ngga akan maafin diri aku sendiri. Karna
aku penyebab kamu menghentikan semua pengobatan kamu. Kamu pasti sembuh.”
Ucapku mengecup rambutnya. Tak dapat dipungkiri akupun takut ia akan pergi
untuk selamanya, aku mendekapnya erat.
“Bukan salah kamu Dio. Kamu harus ingat,
alasan aku bertahan karena kamu. Alasan aku selama ini bisa tersenyum diantara
penyakitku ini juga karena kamu. Jadi kau ga boleh merasa bersalah.”
“Tapi Qinar..”
“Aku ga mau mendengar kata tapi. Aku
mau, kalau sesuatu terjadi sama aku, kamu bisa segera bangkit ya Dio. Karena
aku kan selalu hidup di hati kamu, sebagai kenangan kamu.” Ucapnya tersenyum ke
arah ku.
“Tolong jangan bilang kaya gitu Qinar.
Aku ga sanggup kehilangan kamu. Aku mencintai kamu.” Air mata membasahi pipiku.
“Aku juga mencintai kamu Dio. Dan aku
bahagia bisa bersama kamu. Aku ga mau ngeliat kamu sedih karna aku.” Ucapnya.
Matanya terpejam sambil tangannya tetap mendekap tubuhku.
Aku tak mampu menahan air mataku. Air
mata terus mengalir dari sudut mataku. Perasaanku begitu kalut, takut kalau
Qinar akan meninggalkanku. Aku menyesal pernah menyia-nyiakannya.
“Qinar, Qinar bangun sayang. Kamu
istirahat dikamar aja ya.” Tak ada sahutan dari Qinar, matanya tetap terpejam.
“Qinar bangun, tolong jangan tinggalin
aku. Qinar. Aku mencintai kamu. Bangun” Tangisku pecah melihat Qinar telah
terbujur kaku dalam dekapanku.
***
“Qinar, udah satu bulan semenjak
kepergian kamu. Kamu apa kabar disana? Aku merindukan mu. Kapan aku bisa
menyusulmu kesana sayang. Aku benar-benar menyesal pernah menghancurkan
perasaan kamu. Andai aku ngga pernah menduakan kamu, pasti sekarang kamu masih
ada di sisi aku, mendukung apapun yang aku lakukan. Semoga kamu tenang disana
ya sayang. Tunggu aku, suatu saat nanti aku akan menyusulmu. Aku mencintai kamu
Qinar.”
Ku kecup batu nisan Qinar. Ku taburi bunga
dimakamnya. Sekilas aku seperti melihat Qinar berpakaian serba putih tak jauh
dari makamnya. Ia tersenyum melihatku. Namun, ia lekas lenyap tersapu angin.
Mungkinkah senyumannya pertanda kalau dia masih mencintaiku? Apakah dia masih
terus menemani tiap langkahku walaupun aku tak dapat melihatnya? Ataukah
senyumannya menandakan bahwa dia baik-baik saja disana? Entahlah, hanya Qinar
yang dapat menjawab semua pertanyaan itu.
THE END
By : Salma Nara Fadhilla
Tidak ada komentar:
Posting Komentar