Kamis, 01 November 2012

Sesal


‘Derrrt.. Derrttt’

        Ponselku bergetar tertanda ada sebuah pesan masuk, entah dari siapa. Ku raih ponselku yang tergeletak di atas sofa. Dari Qinar.

        ‘Huft, lagi-lagi nanya lagi apa. Bosen banget! Ga usah di bales ah.’ Ku banting ponselku kembali ke sofa.

        Qinar, gadis yang sudah 3 tahun ini menjadi kekasihku. Gadis yang baik hati, pengertian, dan penuh perhatian. Tapi harus ku akui, aku jenuh dengan hubungan kami yang flat. Sehari-hari, hanya bertanya sedang apa, seperti detektif saja.

        Kejenuhan akan hubunganku lah yang membuatku mengambil tindakan untuk menduakannya. Gadis itu bernama Hani. Ia tau kalau aku menjadikannya yang kedua, namun menurutnya itu tak jadi masalah. Aku tahu, Qinar pasti terluka jika tahu yang sebenarnya.

        Mungkin kalian berpikir aku playboy. Tak dapat kupungkiri, hati ku masih milik Qinar seutuhnya. Aku melakukan semua ini, hanya karna aku jenuh dengan hubunganku. Setelah kejenuhanku sirna, aku berjanji pada diriku sendiri kalau aku akan meninggalkan Hani dan kembali ke Qinar.

        ‘Dert…Deerrttt’

        Ponselku kembali bergetar. Kali ini, pesan masuk dari Hani. Ia mengajakku bertemu di mall besok. Aku mengiyakan ajakannya.

***

Hari dimana kami sepakat untuk bertemu pun datang. Ku pacu sepeda motor ku menuju mall tempat Hani mengajak bertemu. Sesampainya disana, aku hanya mendapati Hani sendirian. Tak ada tanda-tanda kawan atau siapapun yang dia ajak.

‘Mungkin kali ini jalan berdua.’ Pikirku.

Hani mengajak ku menonton film ‘Surat Kecil untuk Tuhan’. Ceritanya begitu menyentuh. Aku berharap orang-orang disekitarku tak ada yang memiliki penyakit berbahaya hingga harus berjuang melawan maut seperti itu.

Selepas dari bioskop, kami beranjak ke Solaria untuk makan siang. Tanganku tak luput dari rangkulan manja Hani. Sungguh berbanding terbalik dengan Qinar yang enggan mempertontonkan kemesraan di depan umum.

Di solaria, Hani banyak berceloteh mengenai keluarganya. Jenuh aku mendengarnya, namun aku tak sanggup untuk memintanya untuk menyudahi celotehannya. Rasanya tak tega kalau harus mengecewakannya. Rasa yang berbeda dengan apa yang kulakukan pada Qinar. Bahkan aku sanggup menduakannya, menduakan gadis yang selama ini setia disampingku. Bodohkah aku menduakannya? Tegakah aku padanya? Ataukah jauh di dalam jati diriku, aku hanyalah seorang begundal brengsek yang memainkan hati seorang gadis? Entahlah, aku tak tahu harus bilang apa. Mungkin itu semua disebabkan oleh kejenuhanku akan hubunganku dengan Qinar yang telah mencapai ambang overdosis.

“Dio, kamu dengerin aku kan dari tadi?” Tanya Hani padaku yang sedari tadi termangu memikirkan dosa yang telah ku lakukan pada Qinar.

“Iya, aku denger kok. Cuma, aku lapar. Jadi aku ga bisa banyak ngasih komentar.” Jawabku singkat.

Hani terlihat BT mendengar jawanku. Wajahnya merengut, menunjukkan kekesalannya padaku. Aku diam, tak kucoba untuk menghibur Hani.

Sesaat kami larut dalam keheningan. Hingga ku rasa, ada beberapa langkah kaki yang menuju ke arah kami. Aku menoleh, berharap itu adalah waitress pembawa pesananku. Tapi justru apa yang kulihat membuatku diam membatu. Qinar menghampiriku bersama beberapa temannya. Wajah Qinar berlinang air mata, terlihat pucat. Entah karna sedih atau karna sedang tidak enak badan.

“Semoga kamu bahagia dengan apa yang kamu lakukan, Dio. Semoga kamu bahagia dengan gadis pilihan kamu.” Ucap Qinar seraya menyeka air matanya.

Saat itu, aku hanya bisa diam membatu. Tak tahu harus berkata apa, bibirku terasa kelu untuk berucap sesuatu. Qinar tak marah padaku, dia justru mendoakan kebahagiaanku. Qinar berlari meninggalkan aku. Aku mengejarnya, berharap ia mau memaafkanku.

“Qinar, maafin aku. Jujur, aku masih mencintai kamu.” Ucapku megenggam tangannya.

“Udah, Dio. Jangan diterusin lagi. Jangan bohongin perasaankamu lagi.” Ucap Qinar. Air mata semakin membasahi pipinya.

“Aku benar-benar masih mencintai kamu, Qi.”

“Please, Dio. Jangan katakan kamu mencintai aku lagi. Kamu jangan bohongin perasaan kamu. Aku tau, kamu mencintai Hani. Maka dari itu, kamu menduakan aku. Aku ga nyalahin kamu, karna aku tau, semua ini pasti aku yang salah. Aku yang ga bisa jadi pacar yang baik buat kamu.” Ucap Qinar. Tangannya mendekap erat wajahku. “Sekarang, aku ngelepasin kamu Dio. Aku bebasin kamu untuk memilih siapa yang kamu cintai.” Qinar melangkahkan kakinya meninggalkan aku, disusul oleh teman-temannya yang memandangku dengan pandangan murka.

 Aku terdiam, dilema antara Hani dan Qinar. Otak dan hatiku bersitegang. Dalam hati, aku mencintai Qinar. Tapi otakku seakan membisikkan sesuatu, kalau mungkin aku akan kembali jenuh bila bersama Qinar. Aku gundah, kuputuskan untuk memilih Hani.

Tiap langkah yang ku ambil untuk kembali ke solaria bersama Hani terasa begitu berat. Rasa bersalahku pada Qinar membuatku enggan untuk kembali pada Hani, tapi apa mau dikata, aku tetap kembali pada Hani.

Hani menyambutku dengan menggandeng tanganku. Ia merebahkan kepalanya dibahuku, danberkata bahwa ia mencintaiku.

‘Tuhan, tunjukkanlah pada Qinar kalau ia salah. Aku sungguh-sungguh masih mencintainya. Justru kali ini, aku sedang membohongi perasaanku. Tak sedikitpun rasa cintaku untuk Hani. Aku memang sempat menyukainya, tapi hanya sebatas suka, bukan cinta selayaknya yang kurasakan pada Qinar.’ Umpatku dalam hati.

Selepas kejadian itu, aku hanya dapat terdiam, membisu. Tak ada sepatah katapun keluar dari mulutku. Hanya anggukan dan senyuman yang dapat kuberikanpada Hani jika ia berceloteh padaku.

***

        Dua bulan berlalu. Tak ada sedikitpun kabar dari Qinar.

        ‘Bencikah ia padaku? Atau dia sudah menemukan  pendamping yang lain? Entahlah, semoga ia mendapatkanyang terbaik untuknya, tidak sepertiku yang hanya mampu menghancurkan perasaannya. Tapi, mengapa saat itu dia tidak marah padaku? Dia justru mendoakan kebahagiaanku. Apa ituu yang dinamakan cinta sejati? Cinta yang orang bilang cukup dengan melihat orang yang dicintai bahagia?’

        Hubunganku dengan Hani masih sama seperti sebelum Qinar mengetahui semuanya. Perasaanku pun masih sama, masih tak mampu mencintai Hani.

        Hari ini, teman-temanku mengajakku bertemu, di mall tempat Qinar melihat aku jalan dengan Hani 2 bulan yang lalu. Masih terngiang dalam benakku saat-saat aku mengejar Qinar yang terluka karna ulahku. Trauma rasanya kembali ke tempat itu, namun ya mungkin tak akanapa-apa bila bersama teman-temanku. Mungkin mereka bisa sedikit benghiburku dan melupakan sejenak rasa bersalahku pada Qinar.

        Setibanya disana, aku bergegas menuju bioskop membeli tiket untuk teman-temanku. Aku menunggu mereka sambil duduk di sofa bioskop. Ku lirik jam tangan yang menempel erat di tangan kananku, 15 menit sudah aku menunggu mereka.

        ‘Huft, ngaret lagi.’ Pikirku.

         Sesering mungkin ku tengok pintu masuk bioskop, masih sepi. Tak ada tanda-tanda teman-temanku datang. Sekali lagi ku tengok pintu itu, yang kulihat justru mebelalak mataku. Hani yang selama ini berkata bahwa ia mencintaiku justru melangkah masuk dengan merangkul tangan laki-laki lain. Emosiku tak mampu terbendung. Ku langkahkan kakiku mendekatinya.

        “Dio, kamu ngapain disini?” Tanya Hani terbata-bata. Bergegas ia melapas pegangan tangannya.

        “Ga penting kenapa aku disini. Dia siapa?” Tanyaku menunjuk ke arah laki-laki di samping Hani.

        “Gue pacarnya Hani. Lo siapa? Ga usah nunjuk-nunjuk deh lo.” Jawab laki-laki itu dengan nada emosi.

        “Gue jg pacarnya Hani. Jadi selama ini, lo bilang sayang sama gue semuanya palsu? Bego gue, Ni bisa percaya sama lo. Mulai sekarang kita putus!” Ucapku seraya melangkahkan kakiku menjauhi Hani.

        Aku bertemu teman-temanku di dekat lift. Aku menjelaskan semuanya dari awal. Dari aku menghianati kepercayaan Qinar. Mereka menyarankan agar aku meminta maaf pada Qinar, mereka yakin Qinar akan memaafkanku. Aku bergegas ke rumah Qinar, ku serahkan tiket nonton yang ku beli pada mereka.

        Setibanya aku di rumah Qinar, kulihat Qinar sedang menyirami tanaman di halaman rumah. Dengan ragu, ku panggil namanya dan ia membuka pagar rumahnya. Mempersilahkan aku masuk dengan senyumannya yang khas.

        “Ada apa Dio?” Tanyanya.

        Sejenak ku perhatikan penampilannya yang jauh berbeda. Sekarang dia begitu kurus, pucat. Aku segera mengalihkan pandanganku darinya.

        “Aku mau minta maaf Qi. Maafin aku. Sekarang aku sadar udah begitu bodoh nyia-nyiain dan ninggalin kamu. Aku berharap kamu mau kembali jadi pacar aku.” Jawabku memohon padanya.

        “Aku udah maafin kamu dari dulu Dio. Dan andaikan aku bisa, aku pasti mau kembali jadi pacar kamu. Tapi sayangnya, ngga.”

        “Ada apa Qi? Kamu sudah punya pacar baru?”

        “Ngga Dio, bukan itu penyebabnya.” Jawabnya seraya menggelengkan kepalanya.

        “Lalu apa?”

        “Kamu lihat kan penampilan aku. Aku bukan Qinar yang dulu. Sudah sejak lama aku mengidap kanker otak. Aku udah coba semua pengobatan, dengan harapan aku bisa terus nemenin kamu. Sebenarnya aku mau cerita ke kamu, tapi belum sempet. Dan, semenjak kejadian itu, aku kehilangan harapan, Dio. Aku menghentikan semua pengobatanku, aku pasrah kalau Tuhan ingin segera menjemputku.” Jawabnya. Kulihat air mata mengalir dari sudut matanya.

        “Jadi? Jadi kamu kena kanker otak Qinar? Kenapa kamu ga pernah bilang sama aku? Kenapa Qinar!” Air mataku tak dapat terbendung.

        “Aku udah mau cerita, Dio. Tapi sebelum aku cerita, aku ngeliat kamu sama perempuan itu. Aku urungkan niat aku untuk ngasih tau kamu. Karna aku ga mau, kamu milih aku hanya karna iba. Jujur, aku masih mencintai kamu.” Ucapnya menatap mataku.

        Tatapannya tak mengisyaratkan kebohongan. Hanya kejujuran yang tampak dari sepasang matanya yang mengembun.

        “Maafin aku Qinar. Aku bener-bener udah berdosa sama kamu. Aku bodoh udah nyia-nyiain kamu. Aku masih mencintai kamu. Sekarang kamu lanjutin ya pengobatannya.” Aku memeluk Qinar erat.

        “Sssst ga ada yang perlu sesalin Dio. Mungkin emang udah jalanku kaya gini. Aku udah senang banget bisa jadi pacar kamu 3 tahun ini. Udah ngga bisa Dio, kanker ku udah akut. Dokter bilang udah ngga ada harapan lagi.” Setetes cairan merah yang kuyakini itu darah, menetes dari hidungnya.

        “Qinar, kamu mimisan. Kamu istirahat aja ya. Aku pulang aja.” Aku bangkit dari sofa.

        “Jangan Dio. Tolong temenin aku disini. Aku mohon. Aku mau tidur dibahu kamu aja. Please Dio.” Ucap Qinar menarik tanganku.

        “Ya udah- ya udah. Dimana tempat tisunya. Biar aku yang ambilin.”

        “Ada di belakang yo, di dekat lemari.”

        Ku langkahkan kakiku menuju lemari. Setiap langkah yang ku ambil, tiap kali itu juga aku mengutuk diriku. Mengapa aku begitu bodoh menyia-nyiakannya! Mengapa aku tega membiarkan dia melewati masa sulit penyakitnya sendirian! Dasar bodoh!! Kalau sampai terjadi sesuatu sama Qinar, aku ga akan memaafkan diriku sendiri.

        “Ini Qinar tisunya.”

        “Makasih ya Dio.” Jawabnya seraya menyambar tisu yang ada di tanganku. Qinar meletakkan kepalanya di bahuku. “Aku seneng banget kamu kesini dan mau nemenin aku. Makasih ya. Aku pernah berharap, bisa bersama kamu lagi Dio. Mendengar kamu bilang kalau kamu masih mencintai aku. Dan itu semua udah ke kabul. Aku rela kalau Tuhan menjemputku sekarang.”

        “Hsst. Kamu ga boleh bilang kaya gtu. Kalau terjadi sesuatu sama kamu, aku ngga akan maafin diri aku sendiri. Karna aku penyebab kamu menghentikan semua pengobatan kamu. Kamu pasti sembuh.” Ucapku mengecup rambutnya. Tak dapat dipungkiri akupun takut ia akan pergi untuk selamanya, aku mendekapnya erat.

        “Bukan salah kamu Dio. Kamu harus ingat, alasan aku bertahan karena kamu. Alasan aku selama ini bisa tersenyum diantara penyakitku ini juga karena kamu. Jadi kau ga boleh merasa bersalah.”

        “Tapi Qinar..”

        “Aku ga mau mendengar kata tapi. Aku mau, kalau sesuatu terjadi sama aku, kamu bisa segera bangkit ya Dio. Karena aku kan selalu hidup di hati kamu, sebagai kenangan kamu.” Ucapnya tersenyum ke arah ku.

        “Tolong jangan bilang kaya gitu Qinar. Aku ga sanggup kehilangan kamu. Aku mencintai kamu.” Air mata membasahi pipiku.

        “Aku juga mencintai kamu Dio. Dan aku bahagia bisa bersama kamu. Aku ga mau ngeliat kamu sedih karna aku.” Ucapnya. Matanya terpejam sambil tangannya tetap mendekap tubuhku.

        Aku tak mampu menahan air mataku. Air mata terus mengalir dari sudut mataku. Perasaanku begitu kalut, takut kalau Qinar akan meninggalkanku. Aku menyesal pernah menyia-nyiakannya.

        “Qinar, Qinar bangun sayang. Kamu istirahat dikamar aja ya.” Tak ada sahutan dari Qinar, matanya tetap terpejam.

        “Qinar bangun, tolong jangan tinggalin aku. Qinar. Aku mencintai kamu. Bangun” Tangisku pecah melihat Qinar telah terbujur kaku dalam dekapanku.

***

        “Qinar, udah satu bulan semenjak kepergian kamu. Kamu apa kabar disana? Aku merindukan mu. Kapan aku bisa menyusulmu kesana sayang. Aku benar-benar menyesal pernah menghancurkan perasaan kamu. Andai aku ngga pernah menduakan kamu, pasti sekarang kamu masih ada di sisi aku, mendukung apapun yang aku lakukan. Semoga kamu tenang disana ya sayang. Tunggu aku, suatu saat nanti aku akan menyusulmu. Aku mencintai kamu Qinar.”

Ku kecup batu nisan Qinar. Ku taburi bunga dimakamnya. Sekilas aku seperti melihat Qinar berpakaian serba putih tak jauh dari makamnya. Ia tersenyum melihatku. Namun, ia lekas lenyap tersapu angin. Mungkinkah senyumannya pertanda kalau dia masih mencintaiku? Apakah dia masih terus menemani tiap langkahku walaupun aku tak dapat melihatnya? Ataukah senyumannya menandakan bahwa dia baik-baik saja disana? Entahlah, hanya Qinar yang dapat menjawab semua pertanyaan itu.
 

 

THE END

 

 

By      :         Salma Nara Fadhilla

Tidak ada komentar:

Posting Komentar