Entah
mengapa, semua kembali seperti dulu. Aku harus melalui jalan yang sama, dan
menambal sulam jejak lamaku, hanya saja dengan orang yang berbeda. Semua
terulang kembali. Kejadian ini, perasaan ini, semua seolah hanya di copy paste.
Sering
kali aku berpikir, mengapa aku harus terlahir disini, terlahir berbeda dan tak
pernah didengar. Sampai kapan aku harus terus menerus dipojokkan? Kapan aku
akan mendapatkan kebahagiaanku? Kapan ada tangan yang menarikku dari kegelapan
ini?
Aku
selalu berada di sisi gelap ini. Saat aku menyukainya, aku berada di sisi yang
berbeda dari gadis yang pernah ia sukai. Dan sekarang, saat aku telah
bersamanya, aku justru berada di sisi yang lebih kelam lagi. Bukan, bukan
karena dia yang aku cintai, tapi lebih kepada mereka disekitarku, yang ‘seolah‘
mengetahui segala hal tentangku.
Aku
harus mengalami hal yang sama. Keluargaku menghakimi pilihanku. Menganggap
kalau masa depan pilihanku tidak jelas, pendidikannya juga tidak jelas. Tapi
memang siapa mereka yang berani menghakimi pilihanku seperti itu? Mereka Tuhan?
Bukan kan! Masih terlalu dini untuk menghakimi masa depan seseorang seperti
itu.
Disaat
aku sudah merasakan kebahagiaanku, mereka pasti mengusiknya. Mereka tak pernah
menghargai pendapatku. Suaraku tidak didengar disini. Mereka bahkan tak
menyadari mataku yang sembab karena lelah menangis. Mereka bahkan tidak
menyadari otakku yang stres karena ulah mereka. Apa mereka ingin mengetahui
itu? Tidak!! Mereka tidak pernah bertanya tentang apa yang aku rasakan
sebenarnya. Seumur hidupku, aku selalu didikte olahnya.
Sekali
aku melawan, sekali aku mengutarakan pendapatku. Ya, mereka menerimanya, tapi
setelah mereka menghujaniku dengan kata-kata tolol, goblog, dan tidak tahu
terima kasih. Hanya dia yang selama ini mau mendengarkan keluh kesahku. Menjadi
pendengar yang baik saat aku membutuhkan teman. Saat keluargaku membentakku,
hanya dia yang menenangkanku dan berkata bahwa semua akan baik-baik saja.
Kata-kata klise itu yang aku butuhkan, bukan bentakkan. Tapi apa keluargaku mengerti
hal itu? Sepertinya tidak.
Aku
telah menemukannya. Dia terbuka padaku, dia mengerti diriku. Aku sangat bahagia
ketika ia memilihku. Jika saja keluargaku mengerti, kalau aku yang mengejar
laki-laki itu. Mungkin mereka akan menghujaniku dengan kata-kata ‘perempuan
gampangan, bikin malu‘. Tapi aku tidak malu akan hal itu. Aku bersyukur karena
aku mengejarnya, mengusahakannya, karena sekarang aku tahu, dia tangan yang ku
tunggu untuk menarikku dari kubangan derita ini.
Dan
sekarang hal ini harus terjadi lagi. Mereka menolak pria pilihanku. Mereka
melarang aku untuk bertemu dengannya. Alasan yang sama, ‘pendidikannya ga
jelas, masa depannya belum jelas‘. Bagi mereka, masa depan yang jelas hanyalah
pilot, dokter, pengusaha, militer, dan perminyakan. Mereka hanya membuka
sebelah mata mereka. Dan selalu memandang ke arah yang sama. Mereka buta akan
pekerjaan lain, dan masa depan yang lain.
Aku
mencoba menjelaskan semua itu padanya, pada pilihanku. Ia berkata bahwa ia
telah menduga semua itu sejak lama. Aku mencoba untuk mengutarakan keinginanku,
namun aku tidak pandai mengutarakan perasaanku. Aku hanya bisa berkata ‘please
jangan putus‘, bersama air mata yang membuatku mengatakannya dengan
sesenggukan. Tapi itulah perasaan terjujurku saat itu. Aku memang tak ingin
mengakhiri semuanya. Aku tidak sanggup meninggalkan kebahagiaanku.
Dia terlalu baik
untuk diperlakukan seperti ini oleh keluargaku. Mereka bahkan tak pernah
mengundangnya masuk walaupun sekedar untuk berbasa-basi menanyakan alamat
rumahnya, atau sekolahnya, atau apalah. Mereka hanya mampu menghakiminya. Itu
tidak adil untuknya.
Aku tahu aku
egois. Aku egois karena aku memintanya bertahan meskipun keluargaku telah
memperlakukannya sedemikian buruk. Aku tahu aku egois karena memintanya
bertahan denganku, saat diluar sana ada gadis yang sangat baik dengan keluarga
yang sangat ramah sedang menunggunya. Aku tahu aku egois, saat aku berharap
kalau ia adalah tangan yang akan menarikku dari lubang hitam ini, dari keluarga
yang tak pernah mendengar suaraku. Dari keluarga yang berusaha menjadikanku
seorang prajurit yang hanya tahu tunduk dan patuh, tanpa mau mendengar isi
hatiku.
Untuk kamu yang
berada di sana, kamu yang tak bisa ku temui karena mereka melarangku untuk
berhubungan lagi denganmu. Maafkan aku, karena aku telah menarikmu ke dalam
deritaku. Memelukmu erat dan tak mau melepasmu, tak membiarkanmu mendapatkan
kesempatan untuk menemukan gadis dan keluarganya yang lebih baik daripada aku.
Maafkan aku, karena aku tidak bisa berbuat apa-apa saat mereka menghakimimu,
menghina harga dirimu. Aku hanya bisa memendam emosi saat itu, aku mohon tolong
maafkan aku.
Aku hanya ingin
kau tahu, aku sama sakitnya denganmu, saat mereka menghakimimu. Aku sama
emosinya denganmu, saat mereka berkata seolah mereka Tuhan yang tahu apa yang
akan terjadi dengan masa depanmu. Dan aku sama hancurnya denganmu, saat mereka
melarang hubungan ini, bahkan melarang aku untuk bertemu denganmu. Mereka tidak
hanya menghinamu, tapi juga aku. Kau adalah orang yang ku kasihi, dan aku tidak
terima orang yang kukasihi harus menerima semua hal itu.
Tapi kau tak
akan pernah tahu, seberapa sering aku berpikir untuk mati, karena memiliki
keluarga yang pola pikirnya sama sekali berbeda denganku. Seseorang pernah
berkata padaku “Mungkin kau terlahir di dalam keluarga itu karena pola
berpikirmu yang istimewa. Aku rasa kau terlahir dalam keluarga itu untuk
memperbaiki semua pola pikir yang salah dari mereka.“ Banyak yang mengatakan
kalau hanya perlu satu orang untuk melakukan perubahan. Tapi kalian tidak tahu
bagaimana rasanya berbeda. Seolah kau anak marmut yang diasuh oleh keluarga
singa.
Bukan cinta yang membuatku ingin
mati, tapi mereka yang membuatku begitu. Mereka bukan menginginkan anak, mereka
hanya ingin memiliki seorang prajurit patuh yang hanya mengerti kata “iya”
bahkan untuk mengorbankan jiwanya sekalipun. Hanya cinta yang tersisa dariku.
Dia sumber kebahagiaanku, sumber kasih sayangku, sumber ekspresiku. Dan itu pun
ingin mereka renggut dariku dengan alasan bahwa mereka tahu yang terbaik
untukku. Bullshit! Kalian menikah lagi saja kalau belum puas
menjalani hidup! Jangan mengaturku sesuka hati kalian, aku bukan boneka kalian,
dan tak akan pernah menjadi prajurit kalian!
Aku tercipta
sebagai seorang pemberontak. Amunisi yang tercipta dari suara yang tak pernah
di dengar. Bom waktu dari perasaan yang tak pernah disampaikan. Aku adalah
senjata pembunuh, yang akan meledak bila terus dipojokkan.
Kau, orang yang
paling aku sayangi. Andai kau tahu, seberapa bahagianya saat aku bersamamu.
Andai kau tahu seberapa ingin aku terus berjalan denganmu. Dan seberapa besar
aku mencintaimu. Aku bukan penganut majas hiperbola. Aku hanyalah aku, gadis
yang mencoba menyampaikan perasaannya melalui kata demi kata ini.
Mereka mungkin
memandangmu sebelah mata. Meremehkanmu sebebas mereka. Tapi aku tidak, aku
selalu tahu dimana posisimu. Kau setara denganku, karena kau berjalan
bersamaku. Kau tidak berusaha mendikteku, tak seperti penggembala yang sedang
menyeret domba malangnya dengan menggunakan tali. Aku tahu dirimu, beberapa hal
tentangmu, tapi dapat ku katakan kalau aku lebih mengenalmu daripada keluargaku
‘sok‘ mengenalmu. Aku tahu apa yang kau pilih telah sesuai denganmu, dengan
passion mu. Dan aku yakin kau akan sukses dibidang itu. Kau akan menjadi orang
besar nantinya, aku percaya padamu. Mereka boleh tidak mempercayainya, tapi aku percaya akan hal
itu.
Saat kau berkata bahwa kau hanya
menjadi penghalang antara aku dengan pria masa depanku yang mungkin jauh lebih
baik darimu. Kau tahu apa yang aku rasakan? Aku sedih, aku menangis. Karena
aku berpikir kalau kau tak ingin berjuang untukku. Aku mohon, perjuangkan aku.
Aku tak memintamu untuk mengejarku, tapi setidaknya pertahankan aku. Kau tak
perlu berpikir akan ada yang lebih darimu untuk menemaniku dan berjalan
bersamaku. Kau hanya perlu menjadi yang terbaik untukku, dan tetap teguh
berjalan di sisiku, menjabat tanganku hingga aku mampu terbebas dari kolam
lumpur ini. Aku pasti melakukan hal yang sama untukmu. Aku ingin menjadi yang
terbaik untukmu, dan tetap berjalan di sisimu. Ku mohon jangan mengusirku dari
sisimu. Aku yakin tempatku sudah tepat, begitu juga denganmu. Kita hanya perlu
melompati hambatan-hambatan yang diciptakan keluargaku.
Aku mengemis
padamu, agar hubungan ini tak perlu berakhir. Kau tahu kenapa? Karena aku tak
ingin melewatkan kesempatan untuk menjadi orang yang mendukungmu dari nol. Aku
tahu berjuang dari bawah tidak akan mudah, tapi aku lebih menghargai esensi
dari perjuangan itu, dibandingkan hanya menunggumu dipuncak kejayaan.
Balasan dinginmu adalah cambuk
untukku. Kata-kata bosan dan tidak mood mu adalah hukuman terbesar
untukku. Aku tahu keluargaku telah salah padamu. Tapi ku mohon jangan hukum
aku. Jangan bersikap dingin padaku. Jangan tinggalkan aku sendiri. Aku
menyayangimu, sangat menyayangimu. Ku mohon bertahanlah untukku. Bertahanlah
untuk semua angan yang telah kita bayangkan bersama.
Kita memang
masih sama sama muda. Masih di kategori umur yang sering dianggap “ah, kalian
ini tahu apa memangnya? Kalian hanya anak kemarin sore.“ Tapi aku tahu apa yang
aku inginkan, dan langkah apa yang ingin ku tempuh. Tak perlu menunggu beruban
untuk memperjuangkan hal yang aku inginkan.
Saat kau
bertanya padaku, bagaimana jika suatu saat nanti, keluargaku mengetahui
semuanya, kau ingin tahu apa yang ku pikirkan? Persetan dengan mereka! Aku tak
butuh pendapat yang hanya berisi hinaan pada orang yang aku kasihi. Aku
mengasihimu, aku memiliki kepercayaan tentangmu dan masa depanmu. Mereka tahu
apa tentangmu? Mengajakmu masuk ke dalam rumahku untuk sekedar berbasa-basi pun
tidak pernah. Dimana sopan santun mereka padamu yang selama ini banyak
membantuku?
Lalu kau berkata
kembali “Aku takut kamu kena omel nanti.“ Aku bahkan tidak memikirkan tentang
itu. Apapun resikonya, akan aku ambil. Sempat terpikir olehku, kalau kau hari
ini masih berjalan denganku karena aku yang memaksa untuk tidak putus. Tapi
ternyata aku salah, sebegitunya kau memikirkanku. Aku bahkan tidak peduli dengan
hal yang kau khawatirkan. Ini hatiku, perasaanku, aku yang berhak memutuskan
akan berlabuh kemana, bukan mereka. Dan aku memutuskan untuk berhenti mencari,
aku memutuskan untuk menetap.
Untukmu yang aku
kasihi. Ku mohon berjuanglah, berjuanglah untuk dirimu sendiri. Bukan untukku.
Berjuanglah menggapai kebahagiaanmu. Berjuanglah mencapai kesuksesanmu.
Berjuanglah menggapai apa yang menurut orang lain, mustahil kau gapai. Tidak
ada cita-cita yang terlalu tinggi, yang ada hanyalah perjuangan yang tak
selesai. Tidak ada asa yang terlalu berharap, yang ada hanyalah ikhtiar dan doa
yang belum cukup. Tidak ada mimpi yang mustahil, yang ada hanyalah orang takut
untuk tertidur dan bermimpi, takut akan hari esok. Tidak ada kesuksesan kilat, yang ada
hanyalah orang yang terus mencoba tanpa kenal lelah. Ingatlah, sebuah berlian, akan tetap menjadi sebuah berlian meskipun ia berada di kolam lumpur sekalipun. Tak peduli dimana kau bersekolah atau bekerja saat ini, kesuksesan berasal darimu, dan dari apa yang kau kerjakan. Bukan dari mana kau berada.
Hari ini, aku
bukanlah siapa-siapamu. Aku tak lebih dari sekedar orang yang mengasihimu, yang
mungkin posisiku dapat tergantikan suatu saat nanti. Untuk itu, lakukanlah
semua hal dengan hati dan logikamu, demi dirimu sendiri. Kebahagiaanmu,
kesuksesanmu, semua adalah milikmu. Bukan aku, dan bukan milik siapapun selain
dirimu dan Tuhanmu. Jika suatu saat aku berada di dalam agenda kebahagiaanmu,
maka aku akan sangat tersanjung. Tapi aku bukanlah tujuan dasarmu, melainkan
dirimu sendiri. Kau harus menjadi orang besar untuk dirimu sendiri, tapi tetap berguna
untuk banyak orang. Saat ini, aku hanya mampu berdoa, jikalau suatu saat,
namaku akan terpatri di salah satu lembar agenda kebahagiaanmu. Ya, suatu saat.
Aamiin.
***
By: Alexa_Belva