Kami
“Corail”, kalian boleh memanggil karang. Kami bukan geng yang hidup mewah,
ataupun gaul. Bahkan jauh dari itu, kami hanya sekelompok remaja yang bersatu
karena kesamaan latar belakang. Tak pernah merasakan rasa kebahagiaan utuh dari
keluarga. Mungkin, sebagian dari kalian bingung mengapa kami bisa bersatu,
karena kebanyakan orang akan menutup diri jika mengalami masa lalu seperti
kami. Tapi kami berbeda, itulah mengapa mereka memanggil kami karang.
Aku
Hana, sama seperti enam temanku yang lain, hidupku tak melulu mulus. Bahkan
dapat dikatakan hidupku penuh dengan lubang yang ditambal sulam. Penuh
kemuraman, kelam, dan hidup penuh dengan semua hal yang tidak pasti. Hidup yang
penuh dengan tanda tanya, bayangkan bagaimana rasanya.
Di
usia ku yang menginjak delapan tahun, aku harus menelan teriakan yang kudengar
setiap malam. Saling ejek, saling menyalahkan, entah teriakan apa lagi yang
telah melewati telingaku. Aku benci, diluar sana memang ramai, tapi tanpa
mereka sadar, mereka telah memojokkan aku dalam keheningan. Menutup telingaku
dari suara mengerikan mereka, dan suara isak kakakku yang hanya mampu menangis.
Kalau
aku boleh memilih, aku akan memilih untuk meninggalkan mereka. Mencari
kebahagiaanku sendiri, atau mungkin aku akan memilih untuk memberikan
masing-masing mereka pisau. Terserah mau mereka gunakan untuk apa, mungkin
untuk membunuh satu sama lain. Tak apa lah, asalkan aku tak perlu melihat
mereka bertengkar lagi. Lebih baik mereka berdua mati! Meninggalkan aku dan kakakku,
daripada mereka harus terus berjuang pada ego nya masing-masing.
Aku
mengutuk diriku, yang harus menelan pil pahit yang disodorkan oleh ibuku
sendiri. Saat aku harus melihat ibuku bersama orang lain. Dengan atau tanpa aku
seolah mereka tak peduli, mempetakan benak mereka bahwa aku hanyalah gadis lugu
dan naif yang tak mengerti apa-apa.
Melihat
bahunya di rangkul manja oleh seorang pemuda yang telah ia cap sebagai kaki
tangannya. Berjalan di belakang mereka seolah aku hanyalah ajudan pembawa
barang belanjaan. Ingin rasanya ku dorong laki-laki itu terjun dari escalator,
mati!
Saat
melihat laki-laki itu datang ke rumah, mengobrol dengan ibuku. Bahkan aku
pernah dijadikan babu untuk memijat bahunya. Siapa dia? Mempekerjakan aku
seolah babu di rumahku sendiri? Dan apa yang ada dalam benak ibuku saat itu?
Mengapa ia memaksaku untuk memijat bahu laki-laki brengsek itu? Seberapa
penting laki-laki itu untuknya? Lebih pentingkah ia daripada keletihanku?
Atau,
saat aku melihat mereka berboncengan motor berdua. Lagu lama, mau mencari
perlengkapan motor untuk bengkel. Hati ini geram, mual melihat ulah ibuku. Isi
perut ini berteriak, menjerit, seolah meminta dikeluarkan dihadapan wajah dua
sampah itu. Ya, sampah! Mereka hanya sampah! Aku memang terlahir dari rahimnya,
namun aku tak mengenal sosok yang mengaku melahirkanku ini! Ibu yang seharusnya
menjadi panutan bagiku justru lebih menonjol menjadi wanita bodoh yang tak
mengerti arti kesetiaan.
Setiap
malam, setiap kali ayah dan ibuku bertatap muka, mereka selalu bertegur sapa.
Namun tak sama seperti tegur sapa orang tua lain. Mereka hanya saling
menyalahkan, membuatku makin muak melihat sosok ibuku.
“Pulang
malem terus. Ga usah pulang aja sekalian. Udah ada yang lain kan?” Tuduh ibuku
pada ayahku yang baru saja melangkah masuk ke rumah.
“Aku tuh
kerja! Bukan berleha-leha di kantor. Kamu sendiri keluyuran sama siapa lagi
hah?” Bentak ayahku tak terima pada tuduhan ibu.
“Aku beli
perlengkapan buat usaha bengkel. Apa-apaan si! Ga usah ngalihin pembicaraan.”
Bentak ibuku.
“Tapi
sebenarnya ga harus sama orang itu-itu lagi kan?” Selidik ayahku.
“Terserah.
Kamu tuh kalo udah salah emang pasti nyalahin orang lain.” Ujar mamaku
melangkah ke arah kamar.
“Aku
belom selesai ngomong!” ‘Braaak!!’ Ayahku memukul sebuah kursi plastik hingga
alas duduknya pecah menjadi dua. “Aku capek kalo terus menerus kamu tuduh kaya
gini. Kamu sendiri ga ngaca sama kelakuan kamu.”
Aku yang
kala itu tengah berada di ruang makan ikut geram. Telinga ini sedari tadi
mendengar isak tangis kakakku dikamar yang bersebelahan dengan ruang makan.
“Prangg!!”
“Apa-apaan
kamu? Udah kaya ya? Bisa beli piring sendiri?” Teriak mamaku menghampiriku.
“Kalian
aja bisa berantem dan bisa terus berusaha mecahin gendang telinga anak kalian
sendiri. Kenapa piring pecah aja ga boleh? Kursi plastiknya aja pecahkan?”
Ibuku
hanya diam, dan menatapku tajam seolah aku adalah momok bagi ibuku. Aku tahu
apa yang ada dalam benak ibuku. Gadis naifnya kini berubah menjadi pemberontak
yang kapan saja bisa mencetuskan semua rahasianya.
“Kenapa
kalian diem? Udah puas berantem? Terusin aja pa, ma, biar tetangga tau!
Orangtua macam apa kalian? Sadar ga, sedari tadi mba Rika nangis di kamar?
Sadar? Ngga! Kalian sibuk ngurusin masalah kalian sendiri! Gini cara ngasih
kenangan masa kecil ke anak? Bagus! Terusin aja! Mungkin lebih baik aku ambil
pisau, dan papa dan mama megang satu. Jadi kalian berantem sampe mati
sekalian!” ujarku meninggalkan mereka menuju kamar kakakku.
Sepeninggalku,
tak sekalipun aku menengok ke belakang untuk mengetahui apa yang mereka lalukan
setelah aksi pemberontakanku tadi. Otak ini meledak, tapi hati ini masih
memohon ampun pada Tuhan karena telah tidak berlaku sopan pada kedua orang
tuaku tadi. Tapi apa mau dikata, semua buntu, hanya itu yang mampu aku lakukan
selain menenangkan kakakku yang selalu takut kalau orang tua kami akan
bercerai.
Setelah
malam itu, tetap taka da yang berubah. Ibu masih terus menuduh ayahku
berselingkuh. Ayahku tau perbuatan ibuku, namun tak ada bukti untuk
memojokkannya. Ia tak tahu, kalau putri kecilnya adalah saksi mata semua
tindakan bodoh yang dilakukan istrinya. Ia hanya bisa bercerita dan bertanya
pendapat sesekali padaku, putri kecil yang ia anggap dapat menerima semua
persoalan dengan lebih dewasa dibandingkan mba Rika, kakakku yang selalu
menangis.
‘Tuhan,
maafkan aku. Aku tak mungkin mengatakan yang sejujurnya padanya. Ga mungkin,
aku ga mau apa yang ditakutkan oleh kakakku menjadi kenyataan karena pengakuan
ku. Jujur, aku ingin mereka berpisah. Aku lelah mendengar pertengkaran mereka. Aku
lelah harus terus bersikap dewasa bagi kakakku. Aku tak sanggup melihat sorot
mata sendu ayahku yang tetep mencoba mempertahankan hubungan mereka. Selalu
Tuhan, selalu hati ini berkata, andai papa tahu yang sesungguhnya. Entah apakah
aku anak durhaka atau bukan, yang pasti hati ini membenci seutuhnya ibuku.
Maafkan aku Tuhan.’
Pemberontakanku
tak hanya terjadi sekali. Aku selalu melakukannya dengan cara berbeda, tiap
kali mereka bertengkar. Sampai pada akhirnya, situasi rumahku berangsur hening.
Intensitas pertengkaran mereka berkurang sedikit demi sedikit.
Namun, acapkali
ibuku ingin keluar rumah, ia selalu memanfaatkan aku. Izin kepada ayahku bahwa
ia ingin mengajakku jalan-jalan. Padahal ia meninggalkanku di rumah temanku,
dan ia pergi sendiri. Aku yakin, ia pergi dengan lelaki brengsek itu lagi.
Kapan ia bisa sadar kalau aku ini bukan barang! Aku tidak buta dan tidak tuli,
aku juga tidak bodoh untuk mengerti apa yang tengah terjadi.
Sampai
sewaktu ketika, rumahku kecurian. Perhiasan ibuku raib. Mungkin pembalasan
dosanya pada kami. Entahlah. Saat itu, ada yang menggelitik di telingaku. Ibuku
menyarankan kepada ayahku untuk mendatangi seorang ustad untuk bertanya siapa
yang telah membobol rumah kami. Tentunya dengan mengajak aku. Dan ayahku
mengangguk setuju.
‘Bodoh!!
Sungguh bodoh!! Walaupun dia seorang ustad, dia bukan Tuhan yang mengetahui
segalanya. Kenapa papa begitu mudah mengiyakan saran mama. Kenapa papa ngga
coba berpikir apa yang direncanakan mama. Bahkan putri kecilmu ini tahu apa
yang tengah direncanakan wanita itu! Sungguh ibu licik dan ayah yang lugu.’
Batinku.
Hingga,
terjadilah malam itu. Aku dan mama pergi menemui “ustad itu”. Seperti dugaanku
sebelumnya, mama meninggalkan aku di rumah temanku. Tapi kali ini aku tidak
bodoh. Aku lelah jika harus terus berbohong pada papa.
Aku
memutuskan untuk memanggil ojek yang tak jauh dari tempat itu. Aku mengikuti
kemana mobil mama pergi. Hingga ia berhenti di sebuah tempat. Rumah, bukan
masjid atau mushalah tempat seorang ustad seharusnya berada. Angan ini mulai
melayang, mana ada seorang ustad yang bertemu tamu yang meminta bantuan di
rumah?
Aku membayar
ojek itu dan bersembunyi tak jauh dari rumah itu, berharap mama tak masuk ke
dalam rumah itu dan membuatku tak mampu melihat apa yang ia lakukan. Di teras
rumah itu duduk seseorang, laki-laki yang paling aku benci. Penghancur
keluargaku. Ia memegang erat tangan mama, mengajaknya duduk. Ingin aku keluar dari
tempat persembunyianku dan berteriak “zina” agar mereka diarak keliling kampong.
Namun aku pendam semua itu.
‘Inikah
ustad itu? Pasti ibuku yang telah berbohong, dia bukan ustad. Dia hanya
laki-laki matre dan brengsek. Aku muak melihatnya.’
Mereka
berbincang sebentar, sejurus kemudian mama mengeluarkan amplop coklat yang aku
tahu pasti apa isinya. Amplop itu berisi uang untuk diberikan kepada ustad yang
akan membantu kami. Yang ternyata semua cerita itu fiktif!
“Ini
untuk pengobatan ibu mu. Buat kamu.” Samar-samar ku dengar apa yang ia katakan.
“Sial!”
Umpatku dalam hati. “Kali ini gue akan ancurin kalian berdua!” Segera ku
keluarkan hp ku dan memotret mereka berdua.
Aku
memutuskan untuk keluar dari persembunyianku. Aku berlari dan segera merebut
amplop itu sebelum sempat tersentuh oleh laki-laki matre itu. Mata mama
terbelalak melihatku, kaget terpancar jelas dari wajahnya yang tengah memakai
jilbab dengan model “asal jadi yang penting ketutup” alias acak-acakan.
“Oh, ini
ustadnya? Bagus ya! Muda banget! Gimana cara lo bisa tau siapa yang maling di
rumah gue ‘Pak Ustad’? Dengan nyuruh nyokap gue bawa duit buat nyokaplo yang
penyakitan? Atau dengan ngajak gue yang jelas-jelas bersuami ke dalem rumah
atau bahkan kamar lo? Hah!” Teriak ku kepada laki-laki itu.
“Cukup!
Jaga omongan kamu ya!” Mamaku nyaris menamparku. Aku hanya menatap tajam
matanya. “Ngapain kamu disini?” ujar mamaku.
“Ngapain
aku disini? Kehabisan alasan ya, biasanya lancer aja kalo ngeles depan papa. Oh
iya, tadi bukannya mau nampar? Kenapa ga jadi? Perlu aku kasih tau ya. Muka
Anda yang minta ditampar. Perlu saya kasih kaca hah! Anda mengaku terhormat tapi
tindakan Anda seperti wanita liar yang bisa dipesan! Bukan Anda yang harus
bertanya sedang apa saya disini. Seharusnya saya yang bertanya, apa yang Anda
lakukan disini! Mana ustad yang Anda bicarakan, Bu Listya!” Ujarkku pada ibuku
sendiri. Amarah ku sudah tak dapat tertahankan lagi. Bahkan untuk memanggilnya
aku lebih memilih untuk memanggil namanya. Bagiku, kata “ibu atau mama” terlalu
indah dan tak pantas untuk wanita murahan seperti dia.
“Dan lo!
Gue bisa buat ibu lu yang penyakitan itu mampus! Gue sering denger, lo nelfon
nyokap gue dan nyokap gue sebut-sebut kalau nyokap lo kena serangan jantung.
Gue bisa pastiin kalo lo ga berenti ganggu keluarga gue. Nyokaplu ga Cuma kena
serangan jantung atau stroke! Gue bakal buat lo ngegali kuburan buat nyokaplo
sendiri. Semua isi smsan kalian, foto kalian jalan, rekaman kalian ngobrol,
bahkan foto nyokap gue mau ngasih uang ke elu tadi udah ada di gue. Dan udah
gue gandain. Jadi siap-siap aja nyokaplo mampus kalo liat tu foto. Dan buat lo,
Ibu Listya, gue kasih lo pilihan. Mau pulang sama gue sekarang, atau gue
yakinin ke elu, papa kan dapet email foto tadi dari gue! Dan lo di depak dari
rumah!” ucapku pada mereka berdua.
Aku tak takut
apabila mereka memutuskan untuk membunuhku karena aku ancaman bagi mereka. Saat
ini dalam benakku, mati lebih baik daripada harus berbohong pada papaku lagi.
Tak
seperti dugaanku, akhirnya tanpa melawan mama memutuskan untuk pulang
bersamaku. Dari raut wajahnya aku melihat kecemasan yang luar biasa. Tapi aku
belum puas menyiksa batinnya.
Sesampainya
di rumah, aku bersikap biasa. Seolah taka da yang terjadi tadi. Aku sengaja
melakukan itu untuk menyiksa batin ibuku. Agar ia tahu, putrinya yang ia kira
lugu, kini berubah menerjangnya dengan belasan bukti yang dapat membunuhnya.
***
Semenjak
saat itu, aku sering mengancam ibuku. Meminta uang darinya tapi disertai dengan
ancaman kalau ia tidak memberikannya, aku akan melaporkan semua bukti itu pada
ayahku, atau yang biasa kalian sebut memerasnya. Ya aku memeras ibuku, namun
uang itu tak pernah ku pakai untuk diriku. Aku memakai uang itu untuk
membelikan makanan bagi orang-orang yang tinggal di kolong jembatan. Dengan
berpikir bahwa uang itu lebih baik untuk mereka daripada untuk laki-laki benalu
itu. Walaupun ia telah lenyap dari kehidupan kami, tak pernah menghubungi ibuku
lagi.
Sudah
berkali-kali aku memeras ibuku. Dan ibuku bagai kerbau yang di cucuk hidungnya.
Ia hanya bisa menuruti permintaanku. Aku semakin merasa bahwa kini aku mampu
menginjak balik harga dirinya seperti dia menginjak kebahagiaan aku dan
kakakku. Dan masa kebahagiian semu ku ini lah yang membuatku bertemu para
Corailian, teman-temanku. Mereka mengajarkan padaku cara mereka mengatasi
permasalahan keluarga mereka, menyadarkan aku kalau aku tak sendiri menghadapi
semua ini. Membuka hatiku kalau apa yang selama ini ku lakukan dengan memeras
ibuku adalah salah.
Corail
benar, aku salah. Aku terlalu membiarkan ego dan dendam menguasai diriku. Aku
lupa identitasku sebagai seorang anak. Selama ini, aku hanya berpikir bagaimana
menjatuhkan ibuku, bukan bagaimana cara mengingatkannya kalau yang ia lakukan
salah. Aku tak sadar kalau kebahagiaanku memeras ibuku hanyalah kebahagiaan
palsu, yang membuatku tak menyadari bahwa batin ini berteriak karena situasi di
rumah tetap sama seperti saat ada laki-laki itu. Ya, sama. Karena pada saat
ini, akulah yang berubah menjadi seorang yang berengsek.
“Mama!”
Aku memanggilnya. Biasanya aku hanya memanggilnya begitu disaat ada papa dan
kakakku. Kalau mereka tidak ada, aku memanggilnya dengan Ibu Listya.
“Mama,
aku minta maaf. Aku udah kurang ajar sama mama. Aku udah ngancem mama. Maaf ma.
Aku cuma mau mama sadar, tindakan mama itu salah. Aku mau mama liat, aku dan
mba Rika selama ini kesiksa ngeliat papa sama mama ribut terus. Kami cape, tiap
malam kami harus denger mama minta cerai. Aku juga cape ma, aku ngerasa berdosa
sama papa karena harus boongin papa tentang mama yang sering pergi dengan
siapa. Aku mau mama sadar, aku, papa, mba Rika, semua sayang sama mama. Aku mau
mama liat, laki-laki itu penghancur semuanya. Aku minta maaf, kalau emosi aku
udah buat aku nyakitin perasaan mama.” Ujarku memeluk ibuku dari arah belakang.
Ibuku
yang saat itu tengah mencuci piring, berbalik menatap ku.
“Mama
juga minta maaf, semenjak kamu ngancem mama. Mama baru sadar kalau apa yang
mama lakuin selama ini salah. Mama mau minta maaf sama kamu, tapi mama ngga
berani. Karena mama rasa kamu begitu ngebenci mama. Mama minta maaf ya, sayang.”
Ujar mama membalas pelukanku.
“Ya
aku maafin, maafin aku juga ya ma.”
***
Semenjak
aku dan mamaku meminta maaf, dan sampai saat ini. Keluargaku kembali akur.
Seperti saat laki-laki itu belum masuk ke dalam keluarga kami. Aku bersyukur
bertemu Corail, yang mengajarkan apa arti keluarga padaku. Sehingga sekarang,
aku mendapatkan keluargaku yang utuh. Penuh canda tawa, taka da lagi yang
mengucap kata cerai. Dan tak ada lagi yang berteriak dan bertengkar setiap
malam.
“Tuhan,
terima kasih. Karena engkau menyelimuti keluargaku dengan kebahagiaan. Terima
kasih karena telah membuatku mampu melupakan dendamku pada mama. Aku benar-benar
berterima kasih pada kuasa Mu, kini keluargaku kembali utuh. Dan kini aku mampu
membantu mereka yang bernasip sama sepertiku dulu. Aku berjanji, Tuhan. Aku
akan bantu teman-temanku yang bernasip sama sepertiku untuk bahagia dengan
apapun kondisi keluarganya. Aku berjanji, akan membuat mereka yang semula
frustasi pada keluarganya, menjadi optimis untuk membuat keluarganya kembali
utuh. Aku berjanji, aku tak akan membiarkan teman-temanku hancur karena
permasalahan keluarganya. Terima kasih, Tuhan. Terima kasih.”
**TAMAT**
Pesan Penulis:
Kisah
ini berdasarkan kisah nyata seorang narasumber yang tidak mau disebutkan
namanya. Kisah ini bercerita tentang seorang gadis yang berusaha membuat
keluarganya kembali utuh. Dimana ia harus melawan batasan antara anak dan orang
tua. Seorang gadis yang mendapat pertolongan Tuhan dan berhasil menyelamatkan keutuhan
keluarganya. Kisahnya, memberi tahu kita apa arti keutuhan keluarganya. Ia
berharap, tak ada dari kalian yang mengalami kisah sepertinya.
Keluarga
adalah segalanya. Tempat kalian bernaung, tempat kalian berbagi keluh kesah.
Keluarga seharusnya bukan menjadi tempat kehancuran mental dan pikiran positif
anak. Jangan biarkan emosi orangtua terlihat oleh anak. Karena tidak semuanya
seperti gadis dalam kisah ini. Beberapa dari anak pasti akan membawa dendamnya
hingga ia dewasa, dan mungkin ia akan membuang kedua orangtuanya karena
berpikir kalau orangtuanya selama ini membuang kebahagiaannya. Sayangi
keluargamu selagi mereka masih utuh. Karena keluarga yang bahagia dan utuh
adalah harta termahal yang dapat kalian punya.