Senin, 29 Desember 2014

Bebas

Aku memang jahat
Bahkan mungkin terlalu jahat
Aku sadar itu
Dan aku mengakuinya
Tapi aku tak mampu melawannya

Aku tahu aku menyakitimu

Mencarimu lalu melupakanmu
Bersamamu lalu melepaskanmu
Sebab aku bingung
Apa arti kehadiranmu sebenarnya

Saat aku bahagia, kau menghilang

Saat aku dilingkupi sepi, kau hadir
Meraihku dan melambungkanku
Tak sekali, tapi selalu begitu
Kau datang lalu pergi

Kau melawan dunia untukku

Melawan perih untukku
Melawan aturan juga untukku
Kau melawan segalanya untukku
Tapi bukan itu yang ku mau

Kau abu-abu

Sulit ditebak bukan berarti tak bisa
Semakin mencoba bersamamu
Akan semakin sulit mengenalmu
Aku tak bisa di duniamu

Maaf, maafkan aku

Aku naif, aku tahu itu
Aku jahat, aku pun tahu itu
Tapi satu hal tak kau tahu
Aku pembohong yang hebat

Saat ku minta kau pergi

Aku berbohong
Saat ku bilang benci
Kembali aku berbohong
Dan tak satupun kau sadari

Maaf, maafkan aku

Yang telah melakukannya
Hal yang dulu kau lakukan
Tapi ini yang terbaik
Melepasmu, membebaskanmu
Kau tak perlu melawan apapun lagi
Karena aku mencintaimu

By : Salma Dhilla (@AlexaBelva)


Kamis, 11 September 2014

Ketika Hati Telah Memilih

“Apa kalian sudah pernah checkup ke dokter tentang kandungan istrimu?” Tanya ayah mertua Dina.
          “Sudah, Pa.” Ujar Gio.
“Bagaimana hasil checkup nya?” Tanya ibu mertua Dina.
          Dina hanya tertunduk lesu, tak bergeming. Wajahnya yang semula bahagia karena baru pulang berlibur dengan suami tercinta, kini terlihat bermuram durja. Wajahnya terselimuti aura gelap yang memancarkan kesedihan. Jangankan menjawab pertanyaan dari ibu mertuanya, Dina bahkan tak mampu berpikir, apa yang dapat menjadi lebih buruk daripada pernyataan dokter 3 bulan yang lalu.
          “Aku ke kamar dulu ya kak.” Ujar Dina pada suaminya, Gio.
          “Ya, kamu istirahat saja ya.” Ucap suaminya, mengecup lembut jilbab Dina.
          Dina melangkah meninggalkan ruang tengah. Menyeruap ke dalam kamar tidurnya. Ia kembali teringat kalimat demi kalimat yang dilontarkan oleh dokter. Air mata yang sedari tadi coba ia tahan, kini mengalir deras. Ia tersandar di pintu kamarnya, menangis, dan menangis. Benaknya mencoba untuk optimis, tapi hatinya tak dapat berbohong. Gundah, khawatir, malu, dan takut kini tercampur menjadi satu.
          “Ada apa sebenarnya? Apa yang dokter katakan, Gio?” Ujar ibunya.
          “Dokter bilang, ada masalah dengan kandungan Dina. Dan dokter khawatir, Dina akan sulit mempunyai keturunan.” Ujar Gio menunduk.
          “Ya Tuhan, kasihan sekali menantuku. Pantas saja tadi wajahnya seketika murung.” Ujar ibunya.
          “Tapi Gio, kita sudah menunggu selama 8 tahun. Umur Dina sudah lebih dari 30 tahun, sekarang. Akan semakin kecil peluang mempunyai keturunan. Mau sampai kapan kita menunggu keturunan dari Dina? Dokter saja sudah memvonisnya seperti itu.” Ujar ayah Gio.
          “Maksud papa?”’
          “Kenapa kamu tidak menikah lagi? Siapa tahu dengan begitu kamu akan memiliki keturunan.” Ujar ayahnya.
          “Aku tidak mungkin melakukan itu, Pa. Pernyataan dokter sudah cukup membuat Dina stress dan sedih. Alasan aku mengajaknya berlibur untuk melupakan stresnya. Aku tak mungkin membuatnya kembali sedih, bahkan itu pasti akan membuatnya semakin sedih.”
          “Papa ini kenapa? Mama ini juga perempuan. Tidak ada perempuan yang mau divonis sulit memiliki keturunan. Jika saat ini, mama yang ada di posisi Dina, dan papa di posisi Gio, apa papa akan menikah lagi?” Tanya ibunya.
          “Tapi ini situasi yang berbeda, Ma. Kita semakin tua, sedang Gio belum juga mempunyai momongan. Mereka kan tidak mungkin hidup hanya berdua. Jika mereka tidak memiliki keturunan, kalau terjadi apa-apa dengan salah satu diantara Gio dan istrinya, siapa yang akan menjaga mereka nantinya?” Ujar papa tegas.
          Tanpa mereka sadari, Dina mampu mendengar perkataan ayah mertuanya dari dalam kamar. Ia semakin terpuruk, tak tahu harus bagaimana. Ia begitu mencintai suaminya. Ia tak rela membiarkan suaminya menikah lagi dengan wanita lain. Namun ia juga tak ingin dianggap sebagai wanita egois, dengan membiarkan suaminya tak memiliki keturunan selamanya.
          Dina keluar dari kamar, memandang nanar semua orang yang sedang berada di ruang tengah. Mertua dan suaminya. Air mata semakin menuruni pipinya dengan deras. Nafasnya tersengal, perkataannya tercekat. Jantung Dina berdegup keras saat memandang ayah mertuanya. Bukan karena ia membenci ayah mertuanya. Tapi ia membenci dirinya sendiri, karena membiarkan benaknya membenarkan kalimat demi kalimat ayah mertuanya.
          “Ma, Pa, Dina minta maaf karena dina belum bisa memberikan cucu untuk mama dan papa. Tapi demi Tuhan, Dina tidak pernah berharap berada dalam posisi ini.” Ujar Dina masih terisak.
          “Dina,”
Gio tak mampu berkata apa-apa lagi. Batinnya gundah, perkataan ayahnya ada benarnya. Mereka tak mungkin hidup hanya berdua. Jika terjadi sesuatu padanya, siapa yang akan menjaga istrinya nanti. Tapi ia juga tak mungkin menyakiti wanita yang selama ini ia cintai.
“Papa minta maaf, Dina. Tapi menurut papa, ini yang terbaik. Kamu ingin Gio bahagia kan, Dina? Papa mohon, izinkanlah Gio menikah lagi.” Ujar ayah mertuanya.
“Papa, cukup!” Ujar ibu mertuanya.
Dina bersujud di kaki ayah mertuanya. Tangisnya semakin pecah.
“Dina minta maaf, Dina tidak bisa menjadi istri dan menantu yang sempurna. Papa boleh hokum Dina, papa boleh memaki Dina, terserah Papa. Tapi Dina mohon, jangan minta kak Gio untuk menikah kembali. Dina sangat mencintai kakak, Dina tidak akan sanggup melihatnya dengan orang lain. Lagipula dokter bilang masih ada peluang, Pa. Jadi Dina mohon sekali, jangan minta kak Gio menikah lagi.”
“Tapi berapa lama lagi kami harus menunggu? Apa 8 tahun itu kurang lama untuk kamu? Jujur Dina, papa kecewa, dan papa menyesal telah mengizinkan Gio menikah dengan kamu. Karena ternyata, semua menjadi rumit seperti ini.”
Dina bangkit, dengan matanya yang masih membendung air mata, ia menatap ayah mertuanya. Ia tak percaya dengan apa yang ia dengar. Ayah mertua yang selama ini ia anggao sebagai ayahnya, tega berkata sedemikian tajam padanya. Bahkan tega membuat hatinya hancur tak berbentuk.
Dina menyambar kunci motor di atas meja. Berlari keluar rumah dengan mengusap air mata yang masih membanjiri pipinya. Gio mengejarnya, berusaha menahannya.
“Dina, aku mohon kamu jangan pergi. Kita selesaikan semua masalah ini.”
Dina terdiam sejenak. Memandang lekat suami tercintanya.
“Kak, apa kakak akan mengikuti kata-kata papa?”
“Aku, jujur aku belum tahu, Dina. Tapi kita bisa bicarakan ini nanti. Sekarang kamu ikut aku ya, kita kembali ke dalam. Aku temani kamu istirahat.”
Jawaban suaminya justru membuat Dina bagai tersambar petir. ‘Belum tahu?’ Apa maksud kata-kata itu? Apa itu berarti ia akan mempertimbangkannya? Tangis Dina kembali pecah.
“Kak Gio, aku tahu kakak begitu menghormati papa dan mama. Aku juga tahu kakak tidak pernah membangkan kata-kata papa dan mama. Tapi aku ini istri kakak. Apa kakak tidak bisa memperjuangkan aku? Apa semuanya harus berakhir seperti ini kak?”
“Dina, maksud aku bukan begitu.”
“Cukup kak, jangan katakan apa-apa lagi. Dina tahu, Dina yang salah. Papa ga salah, dan kak Gio juga ga salah. Tapi Dina mohon izin, Dina harus pergi. Dina perlu menenangkan diri dulu.”
Dina meninggalkan suaminya yang terus memanggil namanya. Bahkan sekarang, panggilan suaminya tak mampu terdengar lagi di telinganya. Telinganya seolah tak berfungsi, karena kehancuran batinnya saat ini. Matanya yang masih basah terfokus pada jalan, berusaha tetap menyeimbangkan motornya yang kini melaju dengan sangat cepat.
Empat puluh menit kemudian, Dina tiba di tempat tujuannya. Memarkir motornya dan kemudian berlari ke atas bukit, tempat kesukaan ia dan suaminya. Ia jatuh bersimpuh di hamparan rumput hijau. Membiarkan air matanya meleleh membasahi rerumputan. Bibirnya terkatup rapat, tangannya mencengkram erat kepalanya sendiri.
“Tuhan, kenapa engkau membiarkan semua menjadi seperti ini? Mengapa harus aku yang mengalami semua ini?”
Dina mencoba bangkit, berjalan kea rah sebuah batu besar. Batu yang dipenuhi dengan coretan-coretan. Ia duduk menyandarkan dirinya pada batu itu, mencoba mengingat masa sulit yang telah ia lewati bersama suaminya.
‘Dulu, sangat sulit bagi kami untuk bersama. Orangtuaku tak merestui hubunganku dengannya. Tak hanya satu, atau dua tahun, tapi bertahun-tahun aku mencoba meyakinkan kedua orangtuaku, bahwa kak Gio adalah yang terbaik untukku. Aku masih ingat semua yang telah kami lewati, ya semuanya. Saat aku menangis di sisi suamiku yang terbaring lemah di rumah sakit karena kecelakaan. Tak kuasa aku melihatnya dibalut perban, dan diberi transfusi darah. Aku menjaganya, berhari-hari menunggunya untuk membuka mata. Lega rasanya saat ia membuka matanya dan menyentuh wajahku. Delapan tahun sudah, kami bersama. Bersama melewati masa-masa sulit, dan bersama mengarungi masa-masa indah. Hidupku selalu dipenuhi kejutan saat bersamanya. Seolah, kebahagiaan yang ia berikan tak pernah terhenti untukku. Baik di masa sulit maupun dimasa indah kami. Tapi, apa semua harus berakhir seperti ini?’
“Tuhan, apa aku egois jika aku tak mengizinkan suamiku menikah kembali? Apa aku menarik suamiku dalam dosa? Jika aku mintanya untuk tak memenuhi permohonan ayahnya. Aku begitu mencintainya, Tuhan. Sangat mencintainya. Apa aku harus mengorbankan perasaanku untuk kebahagiaannya, kebahagiaan keluarganya? “
“Tuhan, apa ini saatnya aku menunjukkan kesungguhanku padanya? Apa ini saatnya aku harus melakukan pengorbanan terbesarku? Aku sadar, aku tak boleh egois. Mungkin ini memang satu-satunya cara untuk membahagiakan suamiku. Aku tak ingin membuatnya semakin tersudut oleh permintaan papa.”
Dina menggenggam ponselnya. Ada 5 panggilan tak terjawab dari suaminya. Namun, alih-alih menjawabnya, Dina merasa belum mampu bertemu langsung dengan suaminya. Bahkan melalui suara sekalipun. Dina membuat pesan suara melalui BBM kepada suaminya.
“Kak, Dina minta maaf, tadi pergi tanpa meminta persetujuan kakak dulu. Sekarang Dina sadar, Dina selama ini egois. Papa benar, kakak akan membutuhkan seorang anak, yang mungkin tidak akan pernah bisa Dina berikan. Dina hanya mau kakak tahu, dina tak pernah meminta dalam kondisi ini. Kondisi ini adalah kondisi yang paling ditakuti semua perempuan. Dan ternyata, Dina yang harus mengalami ini.
Dan kalau Dina boleh terlahir kembali, Dina akan meminta pada Tuhan, supaya dina bisa manjadi istri yang sempurna. Supaya Dina bisa menjadi seorang ibu. Dan yang pasti, Dina akan tetap memilih kakak menjadi pendamping Dina. Dina tak pernah menyesali keputusan Dina untuk bersama kakak.
Dina sayang sekali sama kakak, Dina sangat mencintai kakak. Dina ingin kakak bahagia, menua bersama keluarga kecil kakak. Dan mungkin itu memang bukan bersama Dina. Dina tidak ingin kakak membangkang papa. Jadi, Dina, Dina mengizinkan kakak menikah lagi. Dina ingin kakak bahagia.
Tapi maaf kak, Dina tidak bisa kembali lagi ke rumah. Berat rasanya melihat kakak bersama wanita lain. Dina akan pergi, ke tempat dimana Dina bisa memulai semua dari awal. Tapi yang perlu kakak tahu, Dina hanya mencintai kakak. Dina pergi bukan karena Dina ingin mencari pengganti kakak. Tapi Dina pergi untuk hidup sendiri, untuk belajar bahagia dengan tahu kakak bahagia, walau bukan bersama Dina lagi. Jadi sekarang, kak Gio baik-baik ya. Dina pamit. Dina sayang sekali sama kak Gio. Dina harap kakak bahagia dengan pendamping baru kakak. Dina sangat mencintai kakak.”
Gio yang menerima pesan itu menjadi khawatir, batinnya berseteru. Ia tak ingin kehilangan wanita yang begitu ia cintai, wanita yang selama delapan tahun ini hidup bersamanya. Tapi ia juga tengah terpojok oleh permintaan ayahnya.
Gio pergi mencari Dina. Berharap Dina berada di bukit, tempat kesukaan mereka. Gio memacu mobilnya, berharap ia tidak terlambat. Berharap Dina berada disana, dan masih berada di sana.
‘Dina, aku salah. Aku mohon jangan pergi. Aku tak akan menuruti permintaan papa. Aku tak peduli, apa aku akan memiliki anak atau tidak. Yang aku pedulikan sekarang hanyalah kebersamaan kita.’ Ujar Gio dalam hati.
Gio memarkir mobilnya. Berlari, mencoba mencari Dina di sekitar bukit. Berlari ke arah batu besar, namun Dina juga tidak berada disana. Ia terduduk lesu di samping batu besar. Ia melihat batu itu, ada satu goresan baru disana.
‘Dina dan Gio. Tuhan. aku harap Gio-ku bahagia.’
Air mata Gio mulai membasahi pipinya. Ia semakin kalut. Ia berteriak memanggil-manggil nama istrinya. Namun nihil, istrinya tak berada disana.
“Derrttttt,,,,derrrttt”
Ponsel Gio berdering, satu panggilan masuk ‘Pak Wira’. Gio menghapus air matanya, mengatur nafas, dan menjawab panggilan itu.
“Halo? Mas Gio?” Ujar Pak Wira.
“Ia, saya sendiri. Ada apa ya, Pak?”
“Mbak Dina kecelakaan, mas. Sekarang saya ada di rumah sakit Persada, menemani mbak Dina.”
“Bagaimana kondisi istri saya, Pak?”
“Saya kurang tahu, mas. Mbak Dina masih ditangani dokter.”
“Baik, Pak. Terima kasih. Saya segera kesana.”
Gio memacu mobilnya menuruni bukit, ke arah rumah sakit Persada. Selama di perjalanan, ia tak lupa mengabari Papa dan Mamanya untuk uga pergi ke rumah sakit. Sesampainya di rumah sakit, Gio melihat Papa dan Mamanya sudah tiba lebih dulu. Pak Wira berdiri di dekat pintu UGD.
“Bagaimana Dina bisa kecelakaan, pak?” Tanya Gio.
“Jadi tadi, tak jauh dari pertigaan yang mengarah ke bukit. Ada sebuah mobil yang melaju cepat di turunan, tepat di belakang motor mbak Dina. Sepertinya mobil itu remnya blong, mobil itu menabrak mbak Dina. Maba dina terpental mas, lukanya cukup parah, karena mbak Dina tidak memakai helm tadi. Pengendara mobilnya sudah diamankan polisi.”
Gio terduduk lesu di lantai rumah sakit. Air matanya mengalir deras. Ia menyesali dirinya yang terlambat mancari Dina. Kedua orangtua Gio tertunduk, menyesali perkataan mereka yang telah membuat Dina pergi, yang membuat Dina kini berada di dalam UGD rumah sakit.
“Apa ada keluarga korban disini?” Tanya dokter yang keluar dari ruang UGD.
“Saya suaminya, dokter. Bagaimana kondisi istri saya?” Tanya Gio khawatir.
“Maaf, pak. Kami sudah berusaha semaksimal mungkin. Namun pendarahan dikepalanya sangat parah. Nyawa korban dan kandungannya tidak dapat tertolong.”
“Kandungan, dokter?” Tanya ayah Gio.
“Iya, korban tengah mengandung. Sepertinya sudah empat atau lima minggu. Tapi kami mohon maaf, kami tidak mampu menyelamatkan keduanya.”
Gio menyeruak masuk ke dalam ruang UGD. Memeluk erat jasat istrinya yang kini tengah terbujur kaku. Tertidur untuk selamanya. Dina benar-benar pergi meninggalkan kehidupan Gio. Tanpa dia tahu, bahwa ia tengah mengandung calon buah hati mereka.
“Tidak mungkin!! Ya Tuhan, Dina! Dina kenapa kamu meninggalkan aku Dina? Aku belum sempat minta maaf sama kamu. Aku milih kamu, Dina. Dan kamu tahu, kamu sedang mengandung anak kita! Aku mohon bangun, Dina!” Ujar Gio memeluk erat tubuh Dina.
***
          Pemakaman Dina telah selesai beberapa jam yang lalu. Sulit bagi Gio untuk meninggalkan pusara mendiang istrinya. Gio pulang ketika ibunya berulang kali membujuknya untuk pulang. Dan kini ia tengah berada di kamarnya, kamar yang dulu ia tempati bersama Dina. Ia menangis, meratapi kebodohannya yang tak mampu tegas disaat Dina membutuhkannya.
          Ia melihat bantal di sebelahnya. Teringat dengan tingkah manja Dina, yang selalu meminta Gio memeluknya saat mereka ingin tidur. Teringat saat Gio berusaha keras menghibur Dina, setelah mereka pulang checkup dari dokter. Memeluk Dina, dan membelai lembut rambutnya. Kini, setiap sudut rumah itu hanya akan mengingatkannya pada Dina. Istri yang begitu ia cintai dan mencintainya.
          “Dina, aku menyesal. Aku menyesal atas jawaban terakhir yang aku berikan ke kamu. Kalau saja saat itu aku tegas. Andaikan saja kita tahu kehamilan kamu lebih cepat. Andai saja papa tak memaksa aku untuk memiliki keturunan dengan menikah lagi. Pati kamu sekarang masih ada disini. Berbaring dipelukan aku dan kita akan sama-sama merawat buah hati kita yang tenagah ada dikandungan kamu. Andai saja aku punya kesempatan untuk bilang ke kamu, kalau aku sangat mencintai kamu. Dan aku tak masalah jika harus menua berdua saja denganmu. Aku harap kita akan bertemu lagi nanti ya sayang.”
          Penyesalan Gio, kini tak ada artinya. Dina tak akan pernah kembali. Gio tak pernah menikah lagi. Ia hidup dengan mengembangkan rasa penyesalan dihatinya. Kini Gio hanya dapat berharap kalau kelak Tuhan akan mempertemukan kembali ia dengan istri dan calon buah hatinya.

**Tamat**


By : Salma Dhilla (@AlexaBelva)

Senin, 26 Mei 2014

Kumohon



Apa mereka menginginkanku??
Jika iya, mengapa begini??
Mereka mengacuhkanku
Seolah aku tak diantara mereka
          Untuk apa aku dilahirkan
          Jika hanya menjadi penonton
Mereka saling berteriak
Saling menunjuk
Saling menyalahkan
Serta saling mencaci
          Andai aku mampu memutar waktu
          Kembali ke masa mungilku
Saat aku hanya bisa menangis
Hanya mampu tersenyum
Dan saat aku tak mengerti apapun
Selain diriku dan keinginanku
          Aku tak perlu melihat ini
          Semua pertengkaran ini
          Dan aku tak ingin mendengarnya
          Semua cacian dan bentakan itu
Kembali ke masa kecilku
Mengembalikan kehangatan itu
Dan mengembalikan keluargaku

Lampion


Pedihkah dia?
Ataukah dia kebahagiaan?
Ia bernama kasih
Ia bernama cinta
Tapi aku taak mengerti dia
                             Apa ini karnanya?
                             Air mata yang tak henti mengalir
                             Entah kecewa, entah bahagia
                             Entah jua apa tujuannya
Ada yang bilang
Air mata cinta itu indah
Air mata mewarnai hati
Layaknya hujan mengobati bumi
Layaknya bintang menerangi malam
                             Saat cinta merayap datang
                             Lampion hati mulai mengerjap
                             Degup jantung merajai diri
                             Serta rona pipi yang tak tersembunyi
Namun, akankah lampionku bertahan?
Aku tak ingin lampionku meredup
Aku tak ingin cinta ini melapuk
Aku tak ingin hati ini meradang
Dan ku tak ingin diri ini terjatuh
                             Bantu aku,
                             Bantu aku menyinari lampionku
                             Menyinari hidupku, hatiku, serta hariku
                             Setidaknya, menggores siluet senyum
                             Di wajah murah ini
Di saat lampionku meredup
Ku kan mampu mengganti lampion itu
Dengan lampion lain yang akan singgah
Suatu saat nanti.. Ya suatu saat 

Diantara Kita


         Malam minggu, malam yang selalu dinantikan oleh semua pasangan. Begitu juga denganku. Hari ini kekasihku, Mario akan berkunjung ke rumahku.
       Sejak sore aku telah sibuk memilih pakaian. Dan kini aku telah siap. Memakai gamis panjang berwarna biru gelap, dan dipadukan dengan jilbab polos berwarna hitam. Tak lupa kusematkan bros jamur kesayanganku untuk memperindah jilbabku.
          Hari ini aku begitu bahagia, hari pertama dimana Mario akan bertemu orangtuaku. Jantungku tak henti-hentinya berdegup cepat. Begitu berdebar-debar, tapi debaran ini berbeda dengan debaran perasaan gadis pada umumnya. Ya, debaranku puluhan kali lebih cepat dan lebih kencang.
          

          ‘Semoga tidak terjadi apa-apa hari ini.’ Ucapku dalam hati.
          ‘Ting…Tong….’
Bel, aku melirik jam yang tergantung tenang di dinding kamarku. Jam 06.30 malam. Aku melipat rapi mukena yang baru saja ku gunakan untuk shalat maghrib. Bercermin sejenak, merapikan pakaian dan jilbabku.
“Bismillah”
Ku langkahkan kakiku keluar kamar. Ayah dan ibu tersenyum menatapku, ku yakin aku terlihat kikuk hari ini. Aku menarik nafas sejenak, dan membuka pintu ruang tamu perlahan. Dihadapanku, tengah ada seorang laki-laki yang berdiri membelakangiku. Memakai celana jeans dan kemeja berwarna hitam dengan garis putih di bagian tepinya.
“Mario?”
“Sarah. Hmp, selamat malam. Ini untukmu.” Ujarnya seraya memberikan karangan bunga mawar padaku. Mawar putih, bunga yang paling kusukai.
“Terima kasih, mari masuk!” Ujarku.
Aku melirik sekilas wajahnya, ketegangan dan kekikukan yang sama denganku. Ternyata tak hanya aku yang berdebar dengan pertemuan ini. Mario pun merasakan hal yang sama. Rasanya wajar kami merasa berdebar, karena hubungan kami telah berlangsung 2 tahun sebelum pertemuan ini. Selama ini, orangtuaku tak tahu apa-apa mengenai dirinya. Dan jika pertemuan ini berhasil, maka ini akan menjadi peresmian hubungan kami. Ku harap setidaknya begitu.
“Assalamu’alaikum Om, Tante.” Ujar Mario mencium tangan ayah dan ibuku.
“Walaikumsalam. Mari masuk nak. Semua masakan mala mini, Sarah yang memasaknya. Katanya spesial untuk nak Rio.” Ujar ayahku menepuk bahu Mario.
Melihat sikap ayahku pada Mario, aku merasa diberi sedikit udara segar. Kini aku mampu bernafas sedikit lebih lega.
Di meja makan, tak seperti biasanya. Hari ini, meja itu ramai oleh perbincangan antara ayah dan Mario. Adikku Fajri tak ada perubahan, dia hanya makan tanpa ekspresi dan tanpa sebongkah kata pun terlontar dari mulutnya.
“Mario, sudah khatam Qur’an berapa kali?” Tanya ayahku.
Ya Allah, aku lupa memberitahukan pada orangtuaku bahwa Mario bukan seorang muslim sepertiku. Ku lihat Mario ragu menjawabnya. Ia hanya menunduk.
“Maaf Om, mungkin Sarah belum mengatakannya. Tapi saya bukanlah seorang muslim. Saya menganut Katolik.” Ujar Mario menatap wajah ayahku.
“Apa! Sarah, bisa kamu ikut ayah sebentar?”
Aku mengikuti ayahku. Ekspresi wajah beliau berubah semenjak Mario berkata bahwa dia berbeda denganku, ia bukanlah seorang Muslim sepertiku. Entah apa yang akan ayah katakan kali ini. Ayahku adalah orang yang blak-blakan. Tak akan ia menasihati seseorang dengan memikirkan perasaan orang itu, apabila menurutnya orang itu memang salah.
“Kamu ini kenapa Sarah?”
Ayah telah memulai pembicaraan ini. Semoga kalimat itu tak setajam yang aku bayangkan. Kalau boleh jujur, aku bahkan enggan membayangkannya.
“Dia bukanlah seorang Muslim! Ini hasil kuliahmu, Sarah? Ayah menyekolahkanmu tinggi hanya untuk membuatmu jatuh hati dengan seorang kafir? Sarah buka matamu! Kamu ini berhijab! Banyak pria yang lebih baik dan seiman dengan kita.”
“Tapi ayah..”
“Dulu, saat ayah ingin menjodohkanmu dengan putra teman ayah sekaligus teman kuliahmu yang bernama Halim. Kamu menolaknya, kamu berkata sudah memiliki pilihan sendiri. Inikah pilihanmu Sarah? Orang kafir itu? Jauh lebih baik Halim yang hafal 10 jus Al-Qur’an itu! Orang kafir itu derajatnya jauh dibawah kita! Mereka berbeda tujuan dan dasar dengan kita Sarah”
“Tapi hati Sarah memilih Mario ayah. Apa itu salah?”
“Sarah kamu!”
“Tunggu om, kalau kedatangan saya kesini justru membuka permasalahan baru di keluarga ini. Sebaiknya saya pulang saja. Tapi saya mohon jangan sakiti Sarah, saya berjanji akan memutuskan hubungan dengan sarah.” Ujar Mario.
“Sebaiknya begitu. Mungkin memang sebaiknya kalian berhenti berhubungan untuk menjernihkan pikiran sarah.” Ujar ayahku sembari melangkah meninggalkan kami.
          Kalau bukan karena Mario, mungkin tamparan ayah telah mendarat di pipiku tadi. Tapi mengapa Mario berkata kalau ia akan meninggalkanku? Dan mengakhiri semua hubungan ini? Ini, rasa ini jauh lebih sakit dibandingkan dengan memikirkan apabila tamparan ayah mengenaiku tadi.
      Tak kusadari, memikirkan berakhirnya hubungan kami membuatku menangis. Air mataku tak henti-hentinya mengalir. Tak terbayang dua tahun tanpa masalah yang kami jalani harus berakhir hanya karna perbedaan kepercayaan.
          “Sarah, sini. Aku mohon berhentilah menangis. Aku berjanji, aku tidak akan menyerah pada hubungan ini. Aku akan memperjuangkan dua tahun yang sudah kita lalui, Sarah. Aku tidak akan berhenti untuk kita. Jangan pikirkan perkataanku tadi, aku akan mengatakan apapun, agar ayahmu tak menyakitimu.” Ujarnya menyentuh lembut bahuku.
          “Kamu janji Mario? Kamu tidak akan menyerah?”
        “Aku janji. Dari awal aku tahu, bahwa langkah kita tak akan mudah. Karena perbedaan diantara kita sudah seperti jurang bagi masyarakat umum. Tapi aku tetap tidak akan menyerah Sarah. Sekarang Sarah berhenti menangis ya!”
          Aku mengangguk. Dan tak lama kemudian, Mario pamit. Ayah dan ibuku tak mengantarnya ke gerbang. Mereka seolah pantang mengantar seorang non muslim. Entah mengapa, bagiku kedua orangtuaku terlalu kolot. Bahkan untuk berdekatan dengan orang non Muslim aja mereka enggan. Tak hanya berhenti disitu, kedua orangtuaku juga menyita ponselku agar aku tak bisa berkomunikasi dengan Rio.
      “Kenapa ayah? Mengapa ayah bertindak kolot begini? Mengapa ayah bertindak seolah Islam adalah agama yang paling elegan? Bagiku Islam memang yang paling benar ayah, tapi apa benar memandang rendah orang lain seperti itu? Bukankah Islam mengajarkan kita untuk menghormati orang lain dan agama lain ayah? Bahkan demi menghormati kita, ia mengucapkan salam kita!”
          Baru kali ini, ya dan hanya sebab ini aku berani menentang ayah. Bahkan mungkin bisa dikatakan kalau aku membentak ayah. Tapi itulah yang aku pikirkan, dan itulah yang berkecamuk dalam batin dan benakku. Setelah aku mengatakan hal itu, aku berlari ke kamarku. Membanting pintu, kalau biasanya membanting pintu atau bahkan menutup pintu dengan keras adalah hal yang tabu di rumah ini, khusus hari ini aku melakukannya.
          Aneh rasanya, tapi seperti ada perasaan yang meletup-letup dalam batinku. Dan ada puluhan kalimat yang terus berputar di benakku. Aku tak mampu menahan gejolak emosi itu, tangisku pecah. Aku hanya mampu membenamkan wajahku ke bantal. Berusaha menghapus semua bayang-bayang ketakutan, takut semuanya akan segera berakhir.
          “Kak..”
          Aku membuka pintu kamarku dan mempersilahkan Fajri masuk. Walaupun aku telah menghapus semua air mataku sebelum membuka pintu, tapi Fajri seolah tahu semuanya. Tatapannya berbeda dari tatapan biasanya. Ia terlihat lebih dewasa, dan tatapannya mampu membuatku tenang.
        “Selama ini Fajri merasa kakak terlalu menuruti ayah dan ibu. Tapi Fajri berusaha diam melihatnya, walaupun sebenarnya Fajri jengah melihat seolah kakak adalah boneka ayah dan ibu. Dan melihat kesungguhan kakak dan kak Rio tadi, meskipun dalam agama kita hal itu dilarang, tapi Fajri tetap mendukung kakak. Fajri yakin kak Rio akan mampu membahagiakan kakak. Hanya saja  situasinya tidak tepat, kalian terlahir berbeda. Tapi perbedaan bukanlah akhir dari segalanya kak.” Ujar Fajri menyentuh pundakku lembut.
          Aku tersentak. Fajri dua tahun lebih muda dariku. Tapi ia mampu berpikir dewasa. Dan baru kali ini aku mendengar Fajri setuju padaku. Aku tak mampu menahan perasaanku, rasanya begitu bahagia saat tahu pilihan kita didukung oleh seseorang. Tangisku kembali pecah, tapi dibarengi dengan sesungging senyum yang kuukir paksa di wajahku.
        “Fajri kembali ke kamar dulu ya kak. Oh iya, ini pake ponsel Fajri saja untuk komunikasi dengan kak Rio. Lagipula, Fajri tidak terlalu butuh, malam minggu saja ponselku sepi kak.”
          “Makasih ya Fajri.”
          Fajri meninggalkan kamarku dengan sesungging senyum tipis di wajahnya. Alhamdulillah aku mengingat nomor ponsel Mario. Jadi aku tetap mampu berkomunikasi dengannya. Aku hanya mampu meminta maaf atas apa yang ayah katakan.
          “Tak apa, ayahmu tidak salah. Ia hanya ingin yang terbaik untukmu.”
         Ya Allah, malaikatkah dia? Bahkan setelah ayahku begitu merendahkannya, ia tetap membela ayahku. Ia tetap menyanjung ayahku. Aku tahu aku salah dan berdosa, tapi aku mengutuk batin ayahku yang tak mampu melihat kebaikan Mario.
Semenjak malam itu, aku selalu dalam pengawasan ketat kedua orangtuaku. Mereka bergantian mengantar jemputku dikampus. Alasannya agar aku tak memiliki waktu untuk bertemu Mario. Tapi Alhamdulillah, aku masih mampu bertemu dengannya saat pelajaran berlangsung, karena kami mengambil mata kuliah yang sama, ya terkecuali agama.
***
          Hari ini, kampus kami mengadakan acara ke Gunung Gede. Tepatnya ke curug Cibereum. Seharian penuh aku berhasil menghabiskan waktu bersama Mario. Tak henti-henti aku memandangnya disaat ia tidak menyadarinya.
          ‘Ya Allah, mengapa harus begini, mengapa kami harus berbeda? Apakah aku harus bersama seseorang yang seiman denganku walau aku tidak tahu apa ia akan bisa membahagiakanku atau tidak? Atau aku harus mengikuti hatiku untuk tetap bersama Mario, meskipun itu melanggar agamaku? Ya Allah apa yang harus aku lakukan?’
       Mario memandangku, seolah tahu apa yang tengah aku pikirkan. Tatapannya begitu dalam menatapku, namun tatapan itu tetap terasa teduh dan hangat untukku.
          “Aku tahu apa yang Sarah pikirkan. Akupun sama bingungnya dengamu. Tapi aku pernah mendengar seorang Muslim berkata bahwa manusia diciptakan berbeda-beda untuk saling mengenal. Tapi mengapa, saat aku ingin mengenalmu lebih dari orang lain mengenalmu, mereka justru melarangku. Aku juga pernah mendengar Muslim berkata ‘untukmu agamamu dan untukkulah agamaku.’ Tapi mengapa mereka mempermasalahkan perbedaan agama kita, Sarah? Aku tak pernah memintamu meyakini keyakinanku, ataupun sebaliknya bukan? Lalu dimana kesalahan kita? Mengapa mereka memandang kita seolah kita momok bagi mereka? Seolah kita virus yang harus mereka jauhi.”
         Ucapan Mario seolah menghujam batinku. Ia tidak salah berfikir begitu, karena jujur akupun berpikir hal yang sama. Tak tertahankan lagi, tangisku pecah untuk kesekian kalinya. Aku menutup wajahku dengan kedua tanganku. Tapi Mario menggenggam tanganku.
          “Sarah, apapun yang terjadi, aku hanya mencintai Sarah. Aku tak peduli apa yang mereka katakan tentang kita. Aku hanya peduli apa yang kau pikirkan tentangku. Selama kamu masih mencintaiku, maka aku akan tetap disini menunggumu, sampai nanti kita bisa bersama. Kalau memang di sini kita tak bisa bersama, maka aku berdoa semoga nanti dikehidupan berikutnya kita bisa bersama.”
          Kata-kata itu begitu menyentuhku. Tak salah lagi, Mario adalah malaikat yang Allah kirimkan untukku. Mario yang bukan seorang Muslim mampu begitu setia padaku yang seorang Muslim. Yang bahkan, mungkin seorang muslim pria tak mampu sesetia itu, jika menghadapi permasalahan yang sama seperti yang kami alami saat ini. Aku bersyukur memilikinya, dan aku tak ingin melepasnya.
       Sepulang dari curug, kami memilih untuk ikut dalam rombongan yang menaiki truk TNI. Selama di truk, Mario menggenggam tanganku. Aku begitu bahagia saat itu. Tapi seketika perasaanku memburuk, seakan sesuatu akan terjadi. Truk yang kami naiki berguncang, dan akhirnya terbalik.
          “Mario!”
         Aku tersadar, semuanya putih. Infus, tabung oksigen, selimut, aku di rumah sakit. Aku mencoba mengingat peristiwa yang terjadi. Saat truk kami mulai berguncang, pegangan tanganku dan Mario terlepas. Ia terlempar dari truk. Setelah itu, aku hanya mampu melihat bayangan nanar Mario yang berteriak-teriak. Entah apa yang ia katakan. Ia berlari menghampiriku dan berusaha menarikku. Seluruh tubuhku merasakan sakit yang teramat sangat, seolah sekujur tubuhku remuk.
          ‘Ya Allah, dimana Mario?’
          Aku melepas selang oksigen yang melingkar di kepalaku. Ku bawa infusku bersamaku. Berjalan menyusuri koridor rumah sakit, mencari keberadaan Mario.
         “Nona mau kemana? Nona masih harus istirahat.” Ujar seorang suster yang menghampiriku.
          “Tidak suster. Saya harus menemui seseorang. Suster tahu dimana pasien bernama Mario Putra Hangga dirawat? Bisa antarkan saya kesana?”
          “Ya saya tahu nona, saya akan antarkan nona kesana. Tapi setelah itu nona harus istirahat kembali ya.”  Ujar suster itu menuntunku ke bangsal Mawar.
        Pemandangan itu menyakiti mataku. Kepala dan tangan kiri Mario diperban, infus terpasang di tangan kanannya. Selang oksigen terbelit melingkari kepalanya.
           “Mario.. Suster apa yang terjadi dengannya?”
          “Menurut saksi mata di lokasi, dia terlempar dari truk bersama lima orang lainnya. Lukanya cukup parah. Tangan kanannya luka robek, sedangkan kepalanya terbentur trotoar. Tapi syukurlah, ia tidak sempat hilang kesadaran, dan begitu dia melihat nona masih terperangkap di dalam truk, dia sekuat tenaga menarik nona dari sana. Karena bensin dari truk itu tumpah, dikhawatirkan akan terjadi ledakan, namun ia nekat menarik nona walaupun warga telah melarangnya. Akhirnya warga juga memberanikan diri menyelamatkan penumpang lainnya. Tak lama setelah menyelamatkan nona, truk itu meledak, dan dia kehilangan kesadarannya sampai hari ini.” Ujar suster menceritakan kejadian saat musibah itu terjadi.
          “Ya Allah Mario, maafin aku udah ngerepotin kamu.”
         Aku kembali ke ruanganku, berharap tidak akan terjadi sesuatu pada Mario. Keesokan harinya, keluargaku datang menjenguk, tapi tetap saja ayah melimpahkan semua kejadian ini seolah akibat hubunganku dan Mario.
           “Kamu lihat kan? Allah tidak menyukai hubunganmu dengan Mario. Allah melarang hubungan berbeda agama. Lagipula untuk apa dengan orang yang derajatnya lebih rendah di mata Allah, kalau kamu bisa mencari yang seiman?” Ujar ayah.
        “Cukup ayah! Perlu ayah tahu, kalau bukan karena orang yang ayah anggap rendah itu, Sarah mungkin tidak berada disini ayah. Mungkin sekarang Sarah sedang dimakamkan! Meskipun lukanya cukup parah, Mario tetap mati-matian mengeluarkan Sarah dari truk yang mau meledak. Ia bukan makhluk rendah seperti yang ayah katakan. Mario itu malaikat penolong sarah, ayah. Tidakkah ayah bisa bersyukur dan berterima kasih sedikit padanya? Mario selalu menyanjung ayah, selalu berusaha membuat Sarah tetap menyayangi ayah. Kami memang berbeda agama, tapi bukan berarti kami berbeda seutuhnya. Apa ayah tidak malu, memandang rendah orang lain hanya karena perbedaan? Sedangkan orang yang ayah rendahkan yang telah menolong anak ayah! Andaikan kami mampu terlahir kembali, kami akan berharap tidak ada perbedaan diantara kami ayah. Dan satu lagi, Mario mencintai Sarah, begitupun Sarah, itu yang penting.”
         “Kakak benar ayah. Tidak ada salahnya berbeda, kalau mereka memang saling mencintai. Apa lagi yang harus kak Rio buktikan ke ayah, kalau ia benar-benar mencintai kak Sarah?” Ujar Fajri menolongku argumenku.
       “Baiklah, ayah akan meminta maaf pada Mario. Tapi ayah tetap tidak mengizinkan hubungan kalian.” Ujar ayah menunduk.
             “Kenapa ayah? Kenapa ayah tetap tidak bisa mengizinkan kami?”
          “Apa tidak cukup jika ayah hanya meminta maaf padanya dan berterima kasih? Kamu tahu kan, dalam agama kita hal itu dilarang.”
           “Tidak ayah, meminta maaf dan berterima kasih tidak akan pernah cukup. Aku benci perbedaan ini!”
            Aku mencabut paksa infusku. Aku berlari ke arah bangsal Mawar tempat Mario dirawat. Aku ingin bersamanya, aku takut setelah ini ayah akan memisahkan kami kembali.
           Aku membuka pintu kamar itu, namun yang aku lihat justru dokter dan suster yang panik melihat Mario yang nafasnya mulai tersengal. Aku berusaha masuk ke ruangan itu, tapi suster melarangku dan mengantar aku keluar ruangan itu.
            “Mario!! Tolong jangan tinggalin aku Mario!!”
         Air mataku mengalir, tak dapat dihentikan lagi. Rasanya sakit, khawatir, dan arah bercampur menjadi satu.. Jika terjadi sesuatu padanya maka akulah yang patut disalahkan. Ia memaksakan diri menolongku saat itu. Pertolongan yang bahkan tidak dihargai oleh keluargaku.
        Tak lama dokter dan suster keluar dari ruangan itu. Tak ada ekspresi di wajah mereka. Aku masuk ke ruangan itu, seluruh tubuh Mario telah ditutupi oleh selimut putih. Aku membuka selimut itu, dan melihat Mario terbaring dengan wajah pucat pasi. Ia tidak lagi bernafas, ia tidak lagi bersamaku.
          “Marioooooooo!!!!!!! Aku mohon kembali!!”
***
          “Hihihi, Mario. Kamu disini ya? Nemenin aku? Jangan pergi lagi ya. Hihi.”
          “Kakak, sadar kak. Ini Fajri, kakak cepat sembuh ya. Biar kakak bisa cepat pulang ke rumah.”
          “Kakak ngga mau pulang. Nanti kalau kakak pulang, Mario ga bisa ikut! Nanti kalau kakak pulang, Mario akan ninggalin kakak. Kakak mau disini aja. Ya Mario ya? Aku mau sama kamu aja disini.”
          “Kakak sadar kak! Kak Mario udah meninggal satu tahun yang lalu. Kakak mau sampai kapan begini? Kakak mau sampai kapan di sini?”
          “Ih kamu gila! Orang Mario masih disini kok. Tuh dia! Hihi.. Tuh Mario.. Mario belum meninggal kok… Mario belum meninggal.. Hiks..”


**TAMAT**

Sabtu, 01 Maret 2014

Pengganti

When the drama come true…


          “Anak-anak, ibu harap kalian dapat mementaskan naskah drama ciptaan kalian dengan baik! Kalau begitu ibu permisi. Selamat beristirahat!” Ujar Ibu Gina, guru mata pelajaran Bahasa Indonesia sembari melangkahkan kakinya meninggalkan ruang kelas XI IPA 4.

          Ya, seminggu yang lalu perintah itu diberikan kepada segenap siswa di kelas XI 
IPA 4. Dan kini, Valeri tengah mengerjakannya dengan segenap hati. Tubuhnya tengah tersandar di sisi saung, tepi kolam renang. Wajahnya tersenyum memandang layar notebook yang tengah berada di hadapannya. Jemarinya menari riang di atas huruf-huruf yang akan membantu menyusun jalan ceritanya. Benaknya menerawang, menghidupkan imajinasi dari babak demi babak drama yang tengah ia ciptakan.

          Drama, satu hal yang begitu dicintai oleh Valeri. Baginya, ia hanya seorang aktris, dan kehidupannya tak lebih dari alur sebuah naskah yang Tuhan ciptakan. Ia begitu mencintai drama, layaknya saat ini. Seharusnya tugas itu untuk berkelompok, namun ia memilih menciptakan naskahnya sendiri.

          Kelompok dramanya terdiri dari Remon, Lucas, Maria, Cindy dan yang terakhir adalah Valeri sendiri. Valeri memilih untuk menciptakan sendiri naskahnya bukan karena empat orang lainnya malas, atau tak bisa dipercaya. Namun, semua itu murni karena Valeri mencintai drama. Ia ingin memuaskan diri dengan menuangkan semua idenya ke dalam naskah drama itu.

          “Kalian tenang aja ya, nanti biar aku yang buat naskahnya.” Ujar Valeri.

        “Lalu, bagaimana caranya kita membantu kamu?” Ujar Remon. Salah satu anggota kelompok Valeri, sekaligus sahabat terdekatnya.

          “Kalian janji aja sama aku. Naskah seperti apapun yang aku buat, kalian harus mau mementaskannya. Dan jika ada kejadian apapun yang terjadi saat pementasan kita, kalian harus tetap mementaskan drama itu sampai selesai. Show must go on!” Ujar Valeri.

          “Memang apa yang akan terjadi, Val? Kamu ngga buat naskah yang aneh-aneh kan?” Tanya Lucas.

          “Ngga kok, tapi siapa yang tahu apa yang akan terjadi. Benar kan? Pokoknya kalian harus janji, show must go on. No matter what happens.”

          “Ok, kita janji, Val.” Ujar ke empat orang itu hamper bersamaan.

***

          Valeri ingat betul perkataannya dua hari yang lalu. Ia yang mengatakan sendiri pada segenap teman kelompoknya, bahwa ia yang akan bertanggung jawab penuh pada naskah drama itu. Dan ia tengah membuktikannya. Naskah drama itu hampir selesai. Dan mungkin akan selesai, jika saja tidak terjadi sesuatu padanya saat itu.

       Jantungnya berdegup cepat. Terasa semakin sakit ketika jantung itu semakin berdegup. Nafasnya tersengal. Pandangannya mengabur, buram. Valeri merasakan ada sesuatu yang mengalir dari hidungnya. Ia menyekanya, dan ternyata itu adalah darah.

‘Aku mimisan lagi?’ Pikirnya.

Darah itu terus menerus mengalir, bahkan ketika tissue telah menyekanya. Kepala Valeri terasa berat dan semakin berat, seperti ada yang menyengkram erat kepalanya. Dan tak lama kemudian, tubuhnya ambruk. Valeri tak sadarkan diri.

Entah berapa lama Valeri jatuh pingsan. Ketika ia tersadar, ia segera beranjak ke westafel. Membersihkan wajahnya yang belepotan karena darah. Ia melirik jam tangannya, ia telah pingsan selama dua jam. Dan bahkan seluruh keluarganya belum pulang.

Ia membersihkan noda darah yang tertinggal di saung itu. Menyimpan naskah itu di laptopnya. Dan akhirnya ia mengunci dirinya dalam kamar.

Tak ada satupun keluarga Valeri yang mengetahui apa yang tengah dirasakan Valeri. Tak ada satu pun dari mereka yang mengetahui kondisi Valeri sebenarnya. Begitu pun sahabat-sahabatnya. Tak ada yang tahu apa yang tengah diderita Valeri.

***

          Seminggu berlalu. Kini tiba saatnya kelompok Valeri mementaskan drama mereka. Drama itu mengisahkan tentang lika-liku kehidupan seorang gadis yang bernama Risa. Hidup Risa penuh dengan cobaan. Mulai dari kedua orang tuanya yang sering bertengkar, kakaknya yang bernama Mario yang sering tidak pulang, serta adiknya, Lioni yang terus-menerus menangis karena takut akan teriakan kedua orang tuanya.

          Dalam drama itu, Valeri lah yang dipilih untuk menjadi Risa, sang tokoh utama. Teman-teman sekelompoknya memilih Valeri, karena menurut mereka hanya Valeri yang mampu menyajikan makna sesungguhnya dari drama tersebut.

          Pada awalnya, pementasan itu berjalan dengan lancar. Babak demi babak berhasil mereka sajikan dengan apik. Penonton yang awalnya riuh, berubah menjadi hening, larut akan alur dari drama tersebut. Hingga tiba di dua babak terakhir, babak yang ditunggu-tunggu oleh semua pemain. Karena setelah ini, topeng mereka sebagai aktor dan aktris dalam drama tersebut dapat mereka lepaskan. Dan mereka dapat menjadi diri mereka yang asli diluar naskah itu.

Babak 9
          Risa tengah berada dalam kamarnya ketika kedua orang tuanya bertengkar di ruang keluarga. Lioni menangis di tempat tidur Risa sembari memeluk bonekanya erat-erat.
Risa   :        (Memeluk Lioni)
“Dek, kamu jangan nangis lagi ya. Sebentar lagi semuanya akan selesai. Kakak janji sama kamu. Kak Risa akan terus nemenin Lioni. Jadi Lioni jangan sedih lagi ya sayang.”
(Menyeka air mata Lioni)
Lioni   :        “Lioni takut kak. Kenapa sih papa sama mama teriak-teriak terus?
Teriakan mama sama papa kan kak, yang buat Kak Mario pergi? Lioni takut Kak Risa juga ninggalin Lioni kaya Kak Mario.”
Risa   :        “Ngga Lioni. Kak Risa janji sama Lioni. Kakak akan terus sama Lioni.
Sekarang biar Lioni ga denger suara papa mama. Lioni tidur aja ya, sayang. Kak Risa temenin disini.”
Lioni   :        “Ia kak. Tapi kakak jangan kemana-mana ya.”
Risa   :        “Ia Lioni. Kakak akan disini sampai Lioni bangun.”

          Adegan demi adegan dalam babak itu berhasil dilakukan Valeri sebagai Risa dan Maria sebagai Lioni. Hingga adegan terakhir yang mewajibkan tokoh Risa untuk meninggal. Inilah adegan yang ditunggu-tunggu semua penonton, tak terkecuali Bu Gina.

          Di dalam naskah, setelah Lioni tertidur, Risa beranjak dari tempat tidur ke meja belajarnya. Di meja itu ia menangis, meratapi hidup keluarganya sembari menuliskan keluh kesahnya di dalam sebuah memo. Ketika Risa tengah menulis, darah mengalir dari hidungnya. Penyakit kanker otak yang selama ini ia sembunyikan dari seluruh keluarga dan teman-temannya, semakin parah. Dan ketika ia ingin meraih obatnya yang ada di laci meja disamping tempat tidur, ia meninggal tanpa sempat menyentuh obatnya.

          Itulah yang tengah dilakukan Valeri sebagai tokoh Risa. Ia berjalan dari tempat tidur menuju meja belajar. Wajahnya pucat pasi. Tak ada seorang penontonpun yang menyadari raut wajah Valeri yang berubah.

Semua penonton, bahkan Bu Gina, terkesima melihat kelihaian Valeri memainkan adegannya. Termasuk saat Valeri memainkan adegan tokoh Risa yang merasakan kesakitan. Saat dimana Valeri harus terjatuh dari kursi, merangkak menuju meja tempat obat, dan meninggal di lantai yang dingin tanpa sempat menyentuh obatnya.

Tak ada yang menyadari bahwa rasa sakit yang diperlihatkan Valeri bukanlah acting. Semua orang baru menyadari ada yang tidak beres ketika narator membacakan narasi babak terakhir dan Valeri tak kunjung bangkit. Ia masih dalam keadaan berbaring di lantai. Remon mendekati Valeri, berusaha membangunkannya.

“Lucas, Valeri udah ga bernafas.” Ujar remon kepada Lucas.

Semua penonton menjadi ricuh. Mereka tak menyangka bahwa drama ini tidak hanya telah mematikan satu tokoh, tapi dua. Ia mematikan tokoh Risa sekaligus yang memerankannya. Semua menangis dan hendak membawa Valeri ke rumah sakit.

“Tunggu! Kami minta maaf, tapi kami mohon semua tetap ditempat!” Teriak Lucas kepada penonton.

“Apa yang kamu lakukan Lucas. Kamu tidak lihat bahwa Valeri membutuhkan dokter segera!” Bentak Bu Gina pada Lucas.

“Percuma, Bu. Valeri udah ngga ada. Dan kami berempat sudah berjanji pada Valeri. Apapun yang terjadi saat pementasan drama ini, kami harus tetap melanjutkannya hingga selesai. Ini permohonan Valeri pada kami. Jadi kami mohon ibu kembali menontonnya hingga selesai.” Ujar Cindy sembari menahan tangis.

Bu Gina kembali ke tempat duduknya sembari menangis. Ramon dan Lucas menggotong tubuh Valeri dan mendudukkannya di kursi penonton. Ramon, Lucas, Maria, dan Cindy tetap melanjutkan babak terakhir sesuai permohonan Valeri.

Setelah drama itu selesai. Segenap siswa dan juga Bu Gina berhambur memeluk tubuh Valeri. Mereka semua menangis. Ada beberapa dari mereka yang memanggil-manggil nama Valeri. Sedang beberapa lainnya, tengah berdoa untuk Valeri.
***
Delapan bulan sebelumnya…

          “Dokter, sebenarnya saya sakit apa. Saya sering kali mimisan, kepala saya sering sakit, dan rambut saya banyak yang rontok dokter.” Tanya Valeri pada dokter Arya.

          “Maaf, tapi apa kamu datang kesini dengan orang tua kamu, Val?” Tanya dokter Arya.

          “Ngga dok. Saya udah cukup umur kok untuk memeriksakan diri ke rumah sakit sendirian. Saya mau dokter Arya jujur, saya sakit apa dok?”

          “Maaf, Valeri. Menurut hasil pemeriksaan, kamu mengidap kanker otak stadium lanjut.”

          “Kanker, dokter? Apa masih bisa disembuhkan?”

         “Peluangnya sangat kecil Valeri. Kanker ini sudah menjalar. Tapi walaupun begitu, masih ada harapan bagi kamu untuk sembuh. Saya akan menemui orang tuamu untuk membicarakan mengenai pengobatannya.”

       “Ngga dokter. Saya mohon dokter jangan mengatakan apapun pada keluarga saya.”

          “Tapi saya dokter pribadi keluarga kalian, Val. Saya haris menyampaikan ini.”

          “Saya mohon dokter, tolong rahasiakan ini semua dari siapapun. Saya mohon.”

          “Baik Valeri kalau itu maumu. Tapi kamu harus janji, jangan berfikir terlalu keras. Karena akan berdampak pada kondisimu.”

          “Baik dokter. Saya janji. Makasih banyak dokter. Saya permisi.” Ujar Valeri seraya berjabat tangan dengan dokter Arya.

          “Sama-sama, Valeri.”

          Selama beberapa bulan Valeri berhasil menutupi penyakitnya dari semua orang. Hingga tiga bulan sebelum pementasan drama itu, ternyata penyakit Valeri semakin parah. Ia semakin sering mimisan dan semakin hari kepalanya terasa semakin sakit. Valeri menjadi takut tidur, ia takut jika ia tertidur maka ia tak akan mampu membuka matanya lagi. Orang tuanya begitu sibuk bekerja, dan kakaknya tengah ngekos karena kuliah, sehingga tak ada yang tahu bahwa Valeri tengah berjuang melawan maut.

          Pada suatu malam, ketika Valeri bersama kedua orang tuanya tengah berkumpul di ruang keluarga. Valeri merasakan hal yang aneh. Ia merasa bahwa dirinya akan segera lenyap bersama angin.

          “Mama, Val mau minta sesuatu.” Ujar Valeri kepada mamanya.

       “Apa itu?” Mamanya bingung, karena tak biasanya putri bungsunya meminta sesuatu darinya.

         “Kalau nanti terjadi sesuatu sama Val yang buat Valeri ga bisa masuk kedokteran. Uang kuliah Valeri mama kasih ke Remon aja ya ma. Kasian Remon, dia mau masuk kedokteran tapi ga punya biaya. Seenggaknya kalau Valeri ga bisa jadi dokter, ada yang bisa gantiin Valeri buat nerusin cita-cita Valeri.” Ujar Valeri menunduk.

          “Kamu tuh ngomong apa si? Kamu pasti masuk kedokteran kok. Lagipula kalau ternyata kamu ga masuk kedokteran, ya uangnya mama pake buat kuliah kamu yang lain.” Ujar mamanya semakin bingung akan perkataan putrinya.

          “Maksud Valeri bukan gitu, Ma. Ya pokoknya Val minta mama nanti tolong alihin uang buat Val ke Remon ya. Kalau nanti misalnya terjadi sesuatu sama Val.”

          “Ah udah ah, kamu tu kenapa sih? Jadi ngelantur gini ngomongnya.”

          “Valeri ngga kenapa-kenapa kok ma. Valeri baik-baik aja.” Ujar Valeri melempar senyum pada mamanya. Senyum yang semakin membuat bingung mamanya.

        Dan ternyata semua perkataannya terbukti. Valeri tak akan pernah mampu menjadi seorang dokter seperti keinginannya. Waktunya telah berakhir bersamaan dengan berakhirnya drama terakhir yang ia tulis. Kesedihan menyelimuti semua orang yang mengenalnya. Terlebih keluarganya, mereka merasa berdosa karena kesibukan membuat mereka tak mengetahui bahwa putri mereka tengah menderitanya penyakit mematikan. Mereka baru mengetahui penyakit Valeri, setelah Valeri meninggal, lewat memo yang selalu di tulis Valeri.

20 Oktober 2013
         
Hari ini aku menemui dokter lagi. Memastikan apa penyakitku sebenarnya. Dan jawaban dokter membuatku diam. Aku menderita penyakit kanker otak stadium lanjut, Tuhan. Itu artinya waktuku tak lama lagi. Mungkin aku tak akan sempat menjadi seorang dokter seperti keinginanku dan kedua orang tuaku. Dan mungkin aku tak akan sempat membangun panti asuhan yang telah menjadi impianku sedari kecil. Tapi tak apa. Aku hanya mohon padamu, tolong selalu lindungi keluargaku, dan tolong bantu Remon untuk menjadi seorang dokter. Setidaknya untuk menggantikan aku, Tuhan.

***



Dua puluh tahun setelah Valeri meninggal..

          Remon, Lucas, Maria, dan Cindy berkunjung ke makam Valeri. Setelah Valeri meninggal, orang tua Valeri mengalihkan semua uang yang seharusnya untuk biaya kuliah Valeri ke Remon. Dan akhirnya Remon bisa menjadi dokter seperti keingginannya dari dulu.

          “Valeri, kamu masih inget kita ngga? Aku Maria, ini Lucas, Remon, sama Cindy. Kita tim drama terakhir kamu Val.” Ujar Maria.

          “Kita kangen kamu Val. Udah dua puluh tahun kamu ninggalin kita. Padahal dulu, kita pernah bilang kalau kita sukses, kita akan ngumpul bareng lagi.” Ujar Cindy.
        
       “Guys, Valeri ada disini. Dia lagi ngeliatin kita sambil senyum. Dia masih pakai seragam SMA. Sepertinya, di masih hidup di masa lampau.” Ujar Lucas.

“Valeri, dimanapun kamu, kita mau bilang kalau kita kangen kamu. Dan aku kesini juga untuk berterima kasih. Orang tua kamu ngebantu biaya kuliah aku. Katanya, kamu mau aku gantiin kamu jadi dokter. Dan sekarang aku udah jadi dokter. Aku juga udah bangun panti asuhan yang kamu mau. Makasih banyak ya Val.” Ujar Remon.

“Valeri bilang dia juga kangen kita. Dan dia ngucapin terima kasih karena Remon udah mau bangun panti asuhan kaya yang dia mau. Dia juga juga ngucapin selamat tinggal. Karena sekarang dia bisa pergi dengan tenang, setelah liat semua orang tersayangnya berhasil.” Ujar Lucas.

“Sampai ketemu lagi ya, Val. Tunggu kita disana.”  Ujar Maria seraya menangis.

“Dia udah pergi, dia udah tenang sekarang.” Ujar Lucas.

“Syukurlah kalau dia udah tenang. Eh iya, ngomong-ngomong dari kapan kamu bisa lihat kaya gitu Luc?” Tanya Cindy. Sembari mereka berempat meninggalkan area pemakaman.

“Udah dari lama. Valeri tau kok kalau aku bisa liat hal kaya gitu. Dan waktu Valeri meninggal, aku ngeliat ruh nya ada di pojokan kelas, ngeliatin kita. Itu kenapa aku langsung minta yang lain kembali duduk. Karena aku tahu, Valeri tetap di kelas karena mau lihat pertunjukannya selesai.” Jawab Lucas.

‘Val, kamu sahabat aku. Ga sampai setahun aku kenal kamu dan kamu udah begitu baik sama aku. Kamu bantu aku wujudin cita-cita aku. Makasih banyak Val. Semoga Tuhan nempatin kamu di tempat yang paling indah.’ Pikir Remon.

“Kamu juga udah bantu aku wujudin keinginan aku untuk bangun panti Remon. Makasih ya.” Ujar Valeri bersama dengan angin yang berhembus.

Remon menoleh ke arah datangnya suara, namun tak ada siapapun. Ia hanya tersenyum melihat makam Valeri dan segera berjalan mengejar ketiga temannya.


**TAMAT**