Senin, 26 Mei 2014

Kumohon



Apa mereka menginginkanku??
Jika iya, mengapa begini??
Mereka mengacuhkanku
Seolah aku tak diantara mereka
          Untuk apa aku dilahirkan
          Jika hanya menjadi penonton
Mereka saling berteriak
Saling menunjuk
Saling menyalahkan
Serta saling mencaci
          Andai aku mampu memutar waktu
          Kembali ke masa mungilku
Saat aku hanya bisa menangis
Hanya mampu tersenyum
Dan saat aku tak mengerti apapun
Selain diriku dan keinginanku
          Aku tak perlu melihat ini
          Semua pertengkaran ini
          Dan aku tak ingin mendengarnya
          Semua cacian dan bentakan itu
Kembali ke masa kecilku
Mengembalikan kehangatan itu
Dan mengembalikan keluargaku

Lampion


Pedihkah dia?
Ataukah dia kebahagiaan?
Ia bernama kasih
Ia bernama cinta
Tapi aku taak mengerti dia
                             Apa ini karnanya?
                             Air mata yang tak henti mengalir
                             Entah kecewa, entah bahagia
                             Entah jua apa tujuannya
Ada yang bilang
Air mata cinta itu indah
Air mata mewarnai hati
Layaknya hujan mengobati bumi
Layaknya bintang menerangi malam
                             Saat cinta merayap datang
                             Lampion hati mulai mengerjap
                             Degup jantung merajai diri
                             Serta rona pipi yang tak tersembunyi
Namun, akankah lampionku bertahan?
Aku tak ingin lampionku meredup
Aku tak ingin cinta ini melapuk
Aku tak ingin hati ini meradang
Dan ku tak ingin diri ini terjatuh
                             Bantu aku,
                             Bantu aku menyinari lampionku
                             Menyinari hidupku, hatiku, serta hariku
                             Setidaknya, menggores siluet senyum
                             Di wajah murah ini
Di saat lampionku meredup
Ku kan mampu mengganti lampion itu
Dengan lampion lain yang akan singgah
Suatu saat nanti.. Ya suatu saat 

Diantara Kita


         Malam minggu, malam yang selalu dinantikan oleh semua pasangan. Begitu juga denganku. Hari ini kekasihku, Mario akan berkunjung ke rumahku.
       Sejak sore aku telah sibuk memilih pakaian. Dan kini aku telah siap. Memakai gamis panjang berwarna biru gelap, dan dipadukan dengan jilbab polos berwarna hitam. Tak lupa kusematkan bros jamur kesayanganku untuk memperindah jilbabku.
          Hari ini aku begitu bahagia, hari pertama dimana Mario akan bertemu orangtuaku. Jantungku tak henti-hentinya berdegup cepat. Begitu berdebar-debar, tapi debaran ini berbeda dengan debaran perasaan gadis pada umumnya. Ya, debaranku puluhan kali lebih cepat dan lebih kencang.
          

          ‘Semoga tidak terjadi apa-apa hari ini.’ Ucapku dalam hati.
          ‘Ting…Tong….’
Bel, aku melirik jam yang tergantung tenang di dinding kamarku. Jam 06.30 malam. Aku melipat rapi mukena yang baru saja ku gunakan untuk shalat maghrib. Bercermin sejenak, merapikan pakaian dan jilbabku.
“Bismillah”
Ku langkahkan kakiku keluar kamar. Ayah dan ibu tersenyum menatapku, ku yakin aku terlihat kikuk hari ini. Aku menarik nafas sejenak, dan membuka pintu ruang tamu perlahan. Dihadapanku, tengah ada seorang laki-laki yang berdiri membelakangiku. Memakai celana jeans dan kemeja berwarna hitam dengan garis putih di bagian tepinya.
“Mario?”
“Sarah. Hmp, selamat malam. Ini untukmu.” Ujarnya seraya memberikan karangan bunga mawar padaku. Mawar putih, bunga yang paling kusukai.
“Terima kasih, mari masuk!” Ujarku.
Aku melirik sekilas wajahnya, ketegangan dan kekikukan yang sama denganku. Ternyata tak hanya aku yang berdebar dengan pertemuan ini. Mario pun merasakan hal yang sama. Rasanya wajar kami merasa berdebar, karena hubungan kami telah berlangsung 2 tahun sebelum pertemuan ini. Selama ini, orangtuaku tak tahu apa-apa mengenai dirinya. Dan jika pertemuan ini berhasil, maka ini akan menjadi peresmian hubungan kami. Ku harap setidaknya begitu.
“Assalamu’alaikum Om, Tante.” Ujar Mario mencium tangan ayah dan ibuku.
“Walaikumsalam. Mari masuk nak. Semua masakan mala mini, Sarah yang memasaknya. Katanya spesial untuk nak Rio.” Ujar ayahku menepuk bahu Mario.
Melihat sikap ayahku pada Mario, aku merasa diberi sedikit udara segar. Kini aku mampu bernafas sedikit lebih lega.
Di meja makan, tak seperti biasanya. Hari ini, meja itu ramai oleh perbincangan antara ayah dan Mario. Adikku Fajri tak ada perubahan, dia hanya makan tanpa ekspresi dan tanpa sebongkah kata pun terlontar dari mulutnya.
“Mario, sudah khatam Qur’an berapa kali?” Tanya ayahku.
Ya Allah, aku lupa memberitahukan pada orangtuaku bahwa Mario bukan seorang muslim sepertiku. Ku lihat Mario ragu menjawabnya. Ia hanya menunduk.
“Maaf Om, mungkin Sarah belum mengatakannya. Tapi saya bukanlah seorang muslim. Saya menganut Katolik.” Ujar Mario menatap wajah ayahku.
“Apa! Sarah, bisa kamu ikut ayah sebentar?”
Aku mengikuti ayahku. Ekspresi wajah beliau berubah semenjak Mario berkata bahwa dia berbeda denganku, ia bukanlah seorang Muslim sepertiku. Entah apa yang akan ayah katakan kali ini. Ayahku adalah orang yang blak-blakan. Tak akan ia menasihati seseorang dengan memikirkan perasaan orang itu, apabila menurutnya orang itu memang salah.
“Kamu ini kenapa Sarah?”
Ayah telah memulai pembicaraan ini. Semoga kalimat itu tak setajam yang aku bayangkan. Kalau boleh jujur, aku bahkan enggan membayangkannya.
“Dia bukanlah seorang Muslim! Ini hasil kuliahmu, Sarah? Ayah menyekolahkanmu tinggi hanya untuk membuatmu jatuh hati dengan seorang kafir? Sarah buka matamu! Kamu ini berhijab! Banyak pria yang lebih baik dan seiman dengan kita.”
“Tapi ayah..”
“Dulu, saat ayah ingin menjodohkanmu dengan putra teman ayah sekaligus teman kuliahmu yang bernama Halim. Kamu menolaknya, kamu berkata sudah memiliki pilihan sendiri. Inikah pilihanmu Sarah? Orang kafir itu? Jauh lebih baik Halim yang hafal 10 jus Al-Qur’an itu! Orang kafir itu derajatnya jauh dibawah kita! Mereka berbeda tujuan dan dasar dengan kita Sarah”
“Tapi hati Sarah memilih Mario ayah. Apa itu salah?”
“Sarah kamu!”
“Tunggu om, kalau kedatangan saya kesini justru membuka permasalahan baru di keluarga ini. Sebaiknya saya pulang saja. Tapi saya mohon jangan sakiti Sarah, saya berjanji akan memutuskan hubungan dengan sarah.” Ujar Mario.
“Sebaiknya begitu. Mungkin memang sebaiknya kalian berhenti berhubungan untuk menjernihkan pikiran sarah.” Ujar ayahku sembari melangkah meninggalkan kami.
          Kalau bukan karena Mario, mungkin tamparan ayah telah mendarat di pipiku tadi. Tapi mengapa Mario berkata kalau ia akan meninggalkanku? Dan mengakhiri semua hubungan ini? Ini, rasa ini jauh lebih sakit dibandingkan dengan memikirkan apabila tamparan ayah mengenaiku tadi.
      Tak kusadari, memikirkan berakhirnya hubungan kami membuatku menangis. Air mataku tak henti-hentinya mengalir. Tak terbayang dua tahun tanpa masalah yang kami jalani harus berakhir hanya karna perbedaan kepercayaan.
          “Sarah, sini. Aku mohon berhentilah menangis. Aku berjanji, aku tidak akan menyerah pada hubungan ini. Aku akan memperjuangkan dua tahun yang sudah kita lalui, Sarah. Aku tidak akan berhenti untuk kita. Jangan pikirkan perkataanku tadi, aku akan mengatakan apapun, agar ayahmu tak menyakitimu.” Ujarnya menyentuh lembut bahuku.
          “Kamu janji Mario? Kamu tidak akan menyerah?”
        “Aku janji. Dari awal aku tahu, bahwa langkah kita tak akan mudah. Karena perbedaan diantara kita sudah seperti jurang bagi masyarakat umum. Tapi aku tetap tidak akan menyerah Sarah. Sekarang Sarah berhenti menangis ya!”
          Aku mengangguk. Dan tak lama kemudian, Mario pamit. Ayah dan ibuku tak mengantarnya ke gerbang. Mereka seolah pantang mengantar seorang non muslim. Entah mengapa, bagiku kedua orangtuaku terlalu kolot. Bahkan untuk berdekatan dengan orang non Muslim aja mereka enggan. Tak hanya berhenti disitu, kedua orangtuaku juga menyita ponselku agar aku tak bisa berkomunikasi dengan Rio.
      “Kenapa ayah? Mengapa ayah bertindak kolot begini? Mengapa ayah bertindak seolah Islam adalah agama yang paling elegan? Bagiku Islam memang yang paling benar ayah, tapi apa benar memandang rendah orang lain seperti itu? Bukankah Islam mengajarkan kita untuk menghormati orang lain dan agama lain ayah? Bahkan demi menghormati kita, ia mengucapkan salam kita!”
          Baru kali ini, ya dan hanya sebab ini aku berani menentang ayah. Bahkan mungkin bisa dikatakan kalau aku membentak ayah. Tapi itulah yang aku pikirkan, dan itulah yang berkecamuk dalam batin dan benakku. Setelah aku mengatakan hal itu, aku berlari ke kamarku. Membanting pintu, kalau biasanya membanting pintu atau bahkan menutup pintu dengan keras adalah hal yang tabu di rumah ini, khusus hari ini aku melakukannya.
          Aneh rasanya, tapi seperti ada perasaan yang meletup-letup dalam batinku. Dan ada puluhan kalimat yang terus berputar di benakku. Aku tak mampu menahan gejolak emosi itu, tangisku pecah. Aku hanya mampu membenamkan wajahku ke bantal. Berusaha menghapus semua bayang-bayang ketakutan, takut semuanya akan segera berakhir.
          “Kak..”
          Aku membuka pintu kamarku dan mempersilahkan Fajri masuk. Walaupun aku telah menghapus semua air mataku sebelum membuka pintu, tapi Fajri seolah tahu semuanya. Tatapannya berbeda dari tatapan biasanya. Ia terlihat lebih dewasa, dan tatapannya mampu membuatku tenang.
        “Selama ini Fajri merasa kakak terlalu menuruti ayah dan ibu. Tapi Fajri berusaha diam melihatnya, walaupun sebenarnya Fajri jengah melihat seolah kakak adalah boneka ayah dan ibu. Dan melihat kesungguhan kakak dan kak Rio tadi, meskipun dalam agama kita hal itu dilarang, tapi Fajri tetap mendukung kakak. Fajri yakin kak Rio akan mampu membahagiakan kakak. Hanya saja  situasinya tidak tepat, kalian terlahir berbeda. Tapi perbedaan bukanlah akhir dari segalanya kak.” Ujar Fajri menyentuh pundakku lembut.
          Aku tersentak. Fajri dua tahun lebih muda dariku. Tapi ia mampu berpikir dewasa. Dan baru kali ini aku mendengar Fajri setuju padaku. Aku tak mampu menahan perasaanku, rasanya begitu bahagia saat tahu pilihan kita didukung oleh seseorang. Tangisku kembali pecah, tapi dibarengi dengan sesungging senyum yang kuukir paksa di wajahku.
        “Fajri kembali ke kamar dulu ya kak. Oh iya, ini pake ponsel Fajri saja untuk komunikasi dengan kak Rio. Lagipula, Fajri tidak terlalu butuh, malam minggu saja ponselku sepi kak.”
          “Makasih ya Fajri.”
          Fajri meninggalkan kamarku dengan sesungging senyum tipis di wajahnya. Alhamdulillah aku mengingat nomor ponsel Mario. Jadi aku tetap mampu berkomunikasi dengannya. Aku hanya mampu meminta maaf atas apa yang ayah katakan.
          “Tak apa, ayahmu tidak salah. Ia hanya ingin yang terbaik untukmu.”
         Ya Allah, malaikatkah dia? Bahkan setelah ayahku begitu merendahkannya, ia tetap membela ayahku. Ia tetap menyanjung ayahku. Aku tahu aku salah dan berdosa, tapi aku mengutuk batin ayahku yang tak mampu melihat kebaikan Mario.
Semenjak malam itu, aku selalu dalam pengawasan ketat kedua orangtuaku. Mereka bergantian mengantar jemputku dikampus. Alasannya agar aku tak memiliki waktu untuk bertemu Mario. Tapi Alhamdulillah, aku masih mampu bertemu dengannya saat pelajaran berlangsung, karena kami mengambil mata kuliah yang sama, ya terkecuali agama.
***
          Hari ini, kampus kami mengadakan acara ke Gunung Gede. Tepatnya ke curug Cibereum. Seharian penuh aku berhasil menghabiskan waktu bersama Mario. Tak henti-henti aku memandangnya disaat ia tidak menyadarinya.
          ‘Ya Allah, mengapa harus begini, mengapa kami harus berbeda? Apakah aku harus bersama seseorang yang seiman denganku walau aku tidak tahu apa ia akan bisa membahagiakanku atau tidak? Atau aku harus mengikuti hatiku untuk tetap bersama Mario, meskipun itu melanggar agamaku? Ya Allah apa yang harus aku lakukan?’
       Mario memandangku, seolah tahu apa yang tengah aku pikirkan. Tatapannya begitu dalam menatapku, namun tatapan itu tetap terasa teduh dan hangat untukku.
          “Aku tahu apa yang Sarah pikirkan. Akupun sama bingungnya dengamu. Tapi aku pernah mendengar seorang Muslim berkata bahwa manusia diciptakan berbeda-beda untuk saling mengenal. Tapi mengapa, saat aku ingin mengenalmu lebih dari orang lain mengenalmu, mereka justru melarangku. Aku juga pernah mendengar Muslim berkata ‘untukmu agamamu dan untukkulah agamaku.’ Tapi mengapa mereka mempermasalahkan perbedaan agama kita, Sarah? Aku tak pernah memintamu meyakini keyakinanku, ataupun sebaliknya bukan? Lalu dimana kesalahan kita? Mengapa mereka memandang kita seolah kita momok bagi mereka? Seolah kita virus yang harus mereka jauhi.”
         Ucapan Mario seolah menghujam batinku. Ia tidak salah berfikir begitu, karena jujur akupun berpikir hal yang sama. Tak tertahankan lagi, tangisku pecah untuk kesekian kalinya. Aku menutup wajahku dengan kedua tanganku. Tapi Mario menggenggam tanganku.
          “Sarah, apapun yang terjadi, aku hanya mencintai Sarah. Aku tak peduli apa yang mereka katakan tentang kita. Aku hanya peduli apa yang kau pikirkan tentangku. Selama kamu masih mencintaiku, maka aku akan tetap disini menunggumu, sampai nanti kita bisa bersama. Kalau memang di sini kita tak bisa bersama, maka aku berdoa semoga nanti dikehidupan berikutnya kita bisa bersama.”
          Kata-kata itu begitu menyentuhku. Tak salah lagi, Mario adalah malaikat yang Allah kirimkan untukku. Mario yang bukan seorang Muslim mampu begitu setia padaku yang seorang Muslim. Yang bahkan, mungkin seorang muslim pria tak mampu sesetia itu, jika menghadapi permasalahan yang sama seperti yang kami alami saat ini. Aku bersyukur memilikinya, dan aku tak ingin melepasnya.
       Sepulang dari curug, kami memilih untuk ikut dalam rombongan yang menaiki truk TNI. Selama di truk, Mario menggenggam tanganku. Aku begitu bahagia saat itu. Tapi seketika perasaanku memburuk, seakan sesuatu akan terjadi. Truk yang kami naiki berguncang, dan akhirnya terbalik.
          “Mario!”
         Aku tersadar, semuanya putih. Infus, tabung oksigen, selimut, aku di rumah sakit. Aku mencoba mengingat peristiwa yang terjadi. Saat truk kami mulai berguncang, pegangan tanganku dan Mario terlepas. Ia terlempar dari truk. Setelah itu, aku hanya mampu melihat bayangan nanar Mario yang berteriak-teriak. Entah apa yang ia katakan. Ia berlari menghampiriku dan berusaha menarikku. Seluruh tubuhku merasakan sakit yang teramat sangat, seolah sekujur tubuhku remuk.
          ‘Ya Allah, dimana Mario?’
          Aku melepas selang oksigen yang melingkar di kepalaku. Ku bawa infusku bersamaku. Berjalan menyusuri koridor rumah sakit, mencari keberadaan Mario.
         “Nona mau kemana? Nona masih harus istirahat.” Ujar seorang suster yang menghampiriku.
          “Tidak suster. Saya harus menemui seseorang. Suster tahu dimana pasien bernama Mario Putra Hangga dirawat? Bisa antarkan saya kesana?”
          “Ya saya tahu nona, saya akan antarkan nona kesana. Tapi setelah itu nona harus istirahat kembali ya.”  Ujar suster itu menuntunku ke bangsal Mawar.
        Pemandangan itu menyakiti mataku. Kepala dan tangan kiri Mario diperban, infus terpasang di tangan kanannya. Selang oksigen terbelit melingkari kepalanya.
           “Mario.. Suster apa yang terjadi dengannya?”
          “Menurut saksi mata di lokasi, dia terlempar dari truk bersama lima orang lainnya. Lukanya cukup parah. Tangan kanannya luka robek, sedangkan kepalanya terbentur trotoar. Tapi syukurlah, ia tidak sempat hilang kesadaran, dan begitu dia melihat nona masih terperangkap di dalam truk, dia sekuat tenaga menarik nona dari sana. Karena bensin dari truk itu tumpah, dikhawatirkan akan terjadi ledakan, namun ia nekat menarik nona walaupun warga telah melarangnya. Akhirnya warga juga memberanikan diri menyelamatkan penumpang lainnya. Tak lama setelah menyelamatkan nona, truk itu meledak, dan dia kehilangan kesadarannya sampai hari ini.” Ujar suster menceritakan kejadian saat musibah itu terjadi.
          “Ya Allah Mario, maafin aku udah ngerepotin kamu.”
         Aku kembali ke ruanganku, berharap tidak akan terjadi sesuatu pada Mario. Keesokan harinya, keluargaku datang menjenguk, tapi tetap saja ayah melimpahkan semua kejadian ini seolah akibat hubunganku dan Mario.
           “Kamu lihat kan? Allah tidak menyukai hubunganmu dengan Mario. Allah melarang hubungan berbeda agama. Lagipula untuk apa dengan orang yang derajatnya lebih rendah di mata Allah, kalau kamu bisa mencari yang seiman?” Ujar ayah.
        “Cukup ayah! Perlu ayah tahu, kalau bukan karena orang yang ayah anggap rendah itu, Sarah mungkin tidak berada disini ayah. Mungkin sekarang Sarah sedang dimakamkan! Meskipun lukanya cukup parah, Mario tetap mati-matian mengeluarkan Sarah dari truk yang mau meledak. Ia bukan makhluk rendah seperti yang ayah katakan. Mario itu malaikat penolong sarah, ayah. Tidakkah ayah bisa bersyukur dan berterima kasih sedikit padanya? Mario selalu menyanjung ayah, selalu berusaha membuat Sarah tetap menyayangi ayah. Kami memang berbeda agama, tapi bukan berarti kami berbeda seutuhnya. Apa ayah tidak malu, memandang rendah orang lain hanya karena perbedaan? Sedangkan orang yang ayah rendahkan yang telah menolong anak ayah! Andaikan kami mampu terlahir kembali, kami akan berharap tidak ada perbedaan diantara kami ayah. Dan satu lagi, Mario mencintai Sarah, begitupun Sarah, itu yang penting.”
         “Kakak benar ayah. Tidak ada salahnya berbeda, kalau mereka memang saling mencintai. Apa lagi yang harus kak Rio buktikan ke ayah, kalau ia benar-benar mencintai kak Sarah?” Ujar Fajri menolongku argumenku.
       “Baiklah, ayah akan meminta maaf pada Mario. Tapi ayah tetap tidak mengizinkan hubungan kalian.” Ujar ayah menunduk.
             “Kenapa ayah? Kenapa ayah tetap tidak bisa mengizinkan kami?”
          “Apa tidak cukup jika ayah hanya meminta maaf padanya dan berterima kasih? Kamu tahu kan, dalam agama kita hal itu dilarang.”
           “Tidak ayah, meminta maaf dan berterima kasih tidak akan pernah cukup. Aku benci perbedaan ini!”
            Aku mencabut paksa infusku. Aku berlari ke arah bangsal Mawar tempat Mario dirawat. Aku ingin bersamanya, aku takut setelah ini ayah akan memisahkan kami kembali.
           Aku membuka pintu kamar itu, namun yang aku lihat justru dokter dan suster yang panik melihat Mario yang nafasnya mulai tersengal. Aku berusaha masuk ke ruangan itu, tapi suster melarangku dan mengantar aku keluar ruangan itu.
            “Mario!! Tolong jangan tinggalin aku Mario!!”
         Air mataku mengalir, tak dapat dihentikan lagi. Rasanya sakit, khawatir, dan arah bercampur menjadi satu.. Jika terjadi sesuatu padanya maka akulah yang patut disalahkan. Ia memaksakan diri menolongku saat itu. Pertolongan yang bahkan tidak dihargai oleh keluargaku.
        Tak lama dokter dan suster keluar dari ruangan itu. Tak ada ekspresi di wajah mereka. Aku masuk ke ruangan itu, seluruh tubuh Mario telah ditutupi oleh selimut putih. Aku membuka selimut itu, dan melihat Mario terbaring dengan wajah pucat pasi. Ia tidak lagi bernafas, ia tidak lagi bersamaku.
          “Marioooooooo!!!!!!! Aku mohon kembali!!”
***
          “Hihihi, Mario. Kamu disini ya? Nemenin aku? Jangan pergi lagi ya. Hihi.”
          “Kakak, sadar kak. Ini Fajri, kakak cepat sembuh ya. Biar kakak bisa cepat pulang ke rumah.”
          “Kakak ngga mau pulang. Nanti kalau kakak pulang, Mario ga bisa ikut! Nanti kalau kakak pulang, Mario akan ninggalin kakak. Kakak mau disini aja. Ya Mario ya? Aku mau sama kamu aja disini.”
          “Kakak sadar kak! Kak Mario udah meninggal satu tahun yang lalu. Kakak mau sampai kapan begini? Kakak mau sampai kapan di sini?”
          “Ih kamu gila! Orang Mario masih disini kok. Tuh dia! Hihi.. Tuh Mario.. Mario belum meninggal kok… Mario belum meninggal.. Hiks..”


**TAMAT**