M
|
entari telah kembali ke peraduannya. Cakrawala kini berubah jingga.
Dentuman ombak terdengar di hamparan pasir putih. Burung-burung berkicau riang mengejar sang mentari seolah malarang ia beristirahat
sore ini. Pemandangan yang begitu indah dan teduh kini ku rasakan.
Dari
kejauhan, terlihat sesosok bayangan yang melangkah mendekat, perlahan namun
pasti. Sesosok bayangan mungil terlihat setia mengitarinya dengan ceria. Dengan
cepat aku mampu mengenali kedua sosok itu, Umi dan Kasih. Dua sosok yang sedari
tadi ku nanti. Seberkas senyuman tampak di bibirnya, senyuman yang mampu
membuatku melupakan penyakitku untuk sejenak. Ku nanti mereka mendekat, namun kaki Umi yang telah renta tak mampu
menahan beban yang begitu berat. Umi terjerembab di atas hamparan pasir putih, tak mampu kembali berdiri. Seketika itu
bumi menjadi sunyi. Suara debur ombak tak terdengar lagi. Dengan sigap ku langkahkan kakiku untuk menghampiri Umi, aku membantunya untuk kembali
berdiri. Resah merasuk
kedalam sukmaku, saat ku lihat wajah Umi yang begitu pucat. Tak pernah ku
lihat Umi selemah ini sebelumnya. Air mata kasih tak henti-hentinya mengalir,
saat melihat nenek yang begitu ia cintai dan mencintainya roboh dihadapannya.
Umi adalah satu-satunya keluarga yang Kasih miliki.
Dengan
sekuat tenaga, ia mencoba berdiri dan usahanya membuahkan hasil. Umi
kembali berdiri diantara kedua kaki rapuhnya. Ku larang ia untuk membawa minuman-minuman dagangannya, karena aku takut Umi akan kembali terjatuh. Aku memaksa ingin mengantarkan mereka pulang. Umi
mengangguk lemah, sedangkan Kasih hanya mampu mengusap tetesan air mata yang
membasahi kedua pipi mungilnya. Ku bawakan barang dagangan Umi yang tak laku
hari ini namun, tak kulihat kebahagiaan menghilang
dari wajahnya. Umi selalu mensyukuri anugrah yang telah Tuhan berikan kepadanya.
Sepanjang
perjalanan menuju rumah Umi, aku selalu melihat senyum kebahagiaan
di wajahnya. Sanubariku bergetar saat ku tahu betapa tegarnya beliau. Di usianya
yang menginjak 60 tahun, ia masih bersemangat untuk bekerja menyambung
hidupnya dan hidup Kasih. Berjualan minuman keliling di pantai Parangtritis.
Lelah tak mampu meruntuhkan semangatnya yang menggebu-gebu. Semangat yang
begitu kokoh laksana karang yang tak menjadi puing walau dihantam debur ombak. Senyuman selalu Umi perlihatkan di hadapan semua orang dengan sepasang
matanya yang sendu. Usia tak pernah menjadi halangan baginya. Peluh yang menetes, tak pernah
ia risaukan. Apapun akan ia lakukan demi Kasih, sang cucu tercinta.
“Yang penting halal.” kata Umi dengan senyuman lebar di bibirnya.
Saat melihat semangat Umi, aku seperti melihat sosok
seorang ibu di dalam diri Umi. Kasih sayang seorang ibu yang tak pernah aku
rasakan semenjak aku terlahir ke alam fana ini. Namun, Umi mampu menutupi rasa rinduku akan
seorang Ibu dengan kasih sayangnya yang seakan tak pernah luntur. Aku baru beberapa hari
mengenalnya, namun hati ini merasakan kasih sayang layaknya telah lama mengenal sosok Umi. Umi juga lah yang telah mampu membuatku sejenak melupakan penyakit kanker hati yang selama ini ku derita, hanya dengan
bongkahan-bongkahan cinta kasih yang ia berikan kepadaku.
Sebelum mengenal Umi, aku tak mengenal apa yang disebut sebagai harapan. Semenjak dokter menyatakan bahwa harapan
hidupku sangatlah tipis, hanya kesedihan dan
keterpurukan yang mengiringi langkahku. Semangat Umi telah menyadarkanku, kalau
penyakit ini tak boleh menjadi hambatan untukku melangkah maju. Penyakit ini hanyalah ujian dari Tuhan untuk semakin
membuatku kuat, bukan semakin membuatku terpuruk. Rasa malu
merasuk ke dalam jiwaku saat melihat semangat Umi yang menggebu. Walaupun ia
tak muda lagi namun ia masih memiliki semangat yang besar, tapi aku? Aku masih
muda namun, aku bahkan tak melihat sepercik harapan mendekatiku. Aku hanya
mengenal kata menyerah, menyerah dan menyerah. Tanpa aku pernah berusaha
menyelamatkan hidupku sendiri. Umi memberikan semangat agar aku optimis akan
kesembuhanku. Sembari berjalan, Umi menasihatiku.
“Vani,
kamu tidak boleh menyerah dengan penyakitmu. Umur hanya Tuhan yang tahu, kita
hanya harus menggunakannya dengan sebaik mungkin. Jikalau nanti Tuhan memintamu
untuk menghadap pada-Nya, tidak ada penyesalan yang kamu rasakan karena kamu
sempat membahagiakan orang-orang yang menyayangi kamu. Dan kamu juga telah
melakukan semua yang terbaik di hidup kamu.” kata Umi mengelus punggungku.
“Ya Umi.
Vani akan ikuti semua nasihat Umi agar suatu saat jika Vani dipanggil oleh
Tuhan, Vani bisa membawa kenangan indah bersama orang-orang terdekat Vani. Vani
kagum sama Umi. Umi sudah tidak muda lagi, namun semangat Umi masih sangat
besar. Apa Umi tidak merasa lelah? Apa Umi tak mau beristirahat menikmati
masa tua layaknya orang lain?” tanyaku penuh arti.
“Umi tak
pernah merasakan ini semua sebagai beban, maka dari itu Umi tak pernah merasa
lelah. Umi bahagia melakukan semua ini. Umi ingin sekali
melihat Kasih menjadi orang yang berhasil. Kalau kerjaan Umi hanya berleha-leha,
Kasih dan Umi akan makan apa? Semoga saja Tuhan memanjangkan umur Umi untuk melihat cita-cita Umi
terwujud. Amin.
Umur boleh menua, tapi semangat harus tetap jiwa muda!” jawab Umi masih dengan seberkas senyuman.
“Ah Umi bisa saja.”
Tak lama kami tiba di tempat tinggal Umi. Aku telah beberapa kali
singgah di tempat ini, namun beberapa kali juga aku termangu menatap bangunan
ini. Gubuk yang telah usang dan reot. Sampah bagaikan mendekorasi setiap sudut
gubuk ini. Gubuk ini tak layak dijadikan tempat tinggal. Aku tak mampu
membayangkan bagaimana hidup sebagai mereka, begitu berat dan miris dipandang.
‘Bagaimana
cara Umi dan Kasih mampu bertahan di tempat seperti ini? Tempat yang
begitu kumuh dan kotor. Sampah berserakan. Kayu yang melapuk. Bahkan, bangunan
ini dapat merenggut nyawa mereka kapanpun karena rawan roboh. Tuhan, tolong berikan mereka tempat tinggal yang lebih
layak. Mereka pantas mendapatkan tempat tinggal yang lebih bagus dan lebih
bersih daripada gubuk reot
ini.’ pikirku dalam hati.
“Ayo
singgah sebentar kak!” ajak Kasih sembari menarik tanganku. Suara kasih
memecah lamunanku. Kesedihanku sirna saat melihat sepasang mata sendu Kasih.
Mata yang menyiratkan ketulusan dan kebahagiaan.
Aku
mengangguk perlahan. Ku ikuti Kasih menuju balai kayu yang ada di teras rumahnya. Ku lihat Umi segera
mengambil sapu lidi yang tersandar di tembok dan mulai menyapu halaman.
“Uhuk…Uhuk….”
Suara batuk Umi begitu keras bak
gemuruh yang berusaha memecah langit. Aku bergegas menghampiri Umi. Darah segar
tampak mengalir dari sela-sela jarinya yang keriput. Menetes sedikit demi
sedikit ke pakaiannya yang lusuh. Aku sedih dan tak tega melihatnya. Ku paksa
Umi beristirahat, namun ia berdalih ingin membersihkan halamannya dahulu.
“Sini
Umi, biar aku bantu.” kataku menarik sapu yang ia genggam. “Umi duduk saja ya
sama Kasih, Vani janji, dalam sekejap halaman Umi pasti bersih.” kataku seraya mengedipkan sebelah
mataku.
“Apa
Vani ngga cape? Tadi Vani kan sudah membawakan barang dagangan Umi sampai ke rumah?” tanya Umi
menahan tanganku.
“Udah, ngga papa kok Umi. Vani ngga capek. Vani lebih senang
kalau melihat Umi istirahat. Sekarang Umi duduk ya!” kataku memapah Umi ke balai. “Nah Umi istirahat dulu ya,
biar Vani yang membersihkan semuanya.”
“Makasih
ya, Ni. Kamu memang anak yang baik.” puji Umi dengan suara parau.
“Ah Umi
bisa saja, ini biasa kok Umi.”
“Memangnya
kakak bisa menyapu?” tanya Kasih meledekku.
“Wah
pasti bisa lah. Cuma menyapu saja masa ngga bisa. Malu dong sama Kasih. Ya ngga?” kataku sambil
mengacak-acak pelan rambut Kasih.
“Ya kak.
Kasih aja bisa masa kakak ngga?” kata Kasih
mengacungkan jari jempol kanannya. “Yang bersih ya kak! Hehe.” lanjut Kasih
seraya menertawaiku. Aku hanya membalasnya dengan seulas senyum.
Aku tetap
memfokuskan pandanganku pada sosok Umi yang tengah bersandar di tembok anyaman rumahnya. Tak ada perubahan di raut wajah Umi, ia tetap terlihat pucat. Sukmaku mengkerut,
takut terjadi hal buruk pada Umi. Aku tak mau kehilangan sosok seorang ibu
untuk kedua kalinya.
***
Selesai menyapu, baru kusadari langit telah
berubah gelap. Tak ada lagi mentari yang mengucapkan selamat tinggal dengan
malu-malu. Aku pamit pada Umi untuk kembali ke vila. Kasih memohon padaku untuk
menginap disana namun, aku tak bisa. Esok, aku harus berangkat ke Singapura.
“Umi, Vani pamit. Besok Vani akan
berangkat ke Singapura untuk melakukan pengobatan disana. Tapi Umi tak perlu
khawatir. Setelah Vani sembuh, Vani akan kembali ke sini untuk menemui Umi dan
Kasih.” kataku.
“Tak terasa, baru
saja kita kenal tapi kamu sudah harus pergi. Hati-hati ya, Nak. Umi menyayangimu. Umi berharap kamu bisa kembali seperti
sedia kala saat kamu menemui Umi dan Kasih kembali. Kalau kamu kembali, kamu
bisa mencari Umi di rumah ini ya, Ni. Kapanpun kamu kembali, rumah ini akan
terbuka untukmu.” kata Umi memelukku. Air mata menghujani kedua pipiku.
“Ya Umi, Vani juga
ngerasa waktu cepat banget berlalu. Vani juga sayang
Umi. Umi bagaikan ibu kandung Vani. Vani janji akan secepatnya kembali ke
sini.”
“Kakak
mau kemana? Kakak kan baru sebentar di sini. Kakak juga baru sebentar main sama
Kasih. Kakak jangan pergi!” kata Kasih menangis seraya memeluk kakiku.
“Tapi kakak harus berobat. Nanti kalau kakak sudah sembuh, kakak janji
kakak pasti kesini lagi. Kamu tunggu kakak ya! Nanti kita bermain bersama lagi. Dan jangan lupa, jaga Umi buat kakak ya, Kasih!” kataku,
mencoba menguatkan diriku sendiri.
“Janji
ya kak? Kasih pasti nunggu kakak dan Kasih juga pasti jaga nenek. Kakak jangan
lama-lama ya!”
“Ya
kakak janji. Setelah dokter bilang kakak sudah sembuh, kakak pasti akan
langsung ke sini. Sekarang kakak pulang ya. Selamat tinggal Umi, Kasih! Vani
sayang kalian.” kataku
seraya melangkah menjauhi gubuk itu.
“Selamat
tinggal Vani!” teriak Umi parau.
“Dah, kakak!” kata Kasih masih menangis.
“Selamat tinggal!” Kataku seraya
melambaikan tangan.
Dengan berat hati, aku berpamitan dengan Umi dan Kasih. Entah kenapa ada
rasa tak enak dalam hatiku saat aku meninggalkan mereka.
Sesampainya
di vila, papa mengingatkan aku akan keberangkatan
kami ke Singapura besok. Aku mengangguk dan kembali ke
kamarku. Aku terlalu lelah malam ini, hingga tanpa terasa aku terlelap.
***
Mentari telah mencapai di
puncak tertinggi, suasana di bandara cukup ramai. Aku dan papa akan berangkat
ke Singapura pukul 14.00. Ragaku memang di bandara, namun
pikiranku melayang jauh. Aku
tak mampu melepas sosok Umi dan Kasih dari benakku walau hanya untuk sejenak. Aku pasti akan sangat merindukan mereka.
Setibanya
di Singapura, aku segera memulai pengobatanku. Peralatan di sini lebih lengkap
dibandingkan di Indonesia. Di setiap semangatku untuk sembuh, selalu terdapat
nama Umi, Kasih dan papa didalamnya.
Tahun telah
berganti tahun. Sudah tiga tahun, aku melakukan pengobatan di Singapura.
Sampai akhirnya, dokter berkata kalau aku sudah benar-benar sembuh. Aku ingin
segera kembali ke Indonesia. Aku sangat merindukan sosok Umi dan Kasih, entah
bagaimana rupa mereka sekarang. Aku dan Papa
sengaja memilih penerbangan dini hari untuk kembali ke
tanah air.
Setibanya
di tanah air, kami langsung melaju menuju rumah Umi dan Kasih dengan
menggunakan taxi. Terbesit di benakku, wajah Umi dan Kasih yang menyambut
kedatanganku. Aku sungguh
tak sabar menemui mereka.
Beberapa
jam telah berlalu. Perjalanan
ini terasa begitu lama bagiku. Rasa rindu semakin merasuk ke dalam sukmaku,
semakin lama semakin dalam. Kicauan burung semakin membuatku rindu akan mereka.
Awan melambai riang seakan menyambutku kembali. Angin bertiup di sela-sela
ranting pohon membentuk rangkaian simfoni alam. Hingga akhirnya gubuk itu mulai terlihat. Aku segera berlari kearah gubuk
itu. Ku ketuk pintu rumah itu dengan penuh semangat, tapi tak ada jawaban. Ku
ketuk lagi, namun sia-sia.
“Mungkin
Umi sedang berdagang, pa. Kita tunggu aja ya!” kataku memohon pada Papa.
“Ya
Vani. Terserah kamu saja. Papa juga mau lihat orang yang bernama Umi dan Kasih
itu siapa, sampai membuat kamu begitu merindukan mereka.” kata papa seraya mengelus rambutku.
Kami
menunggu hingga langit mulai berubah jingga, namun Umi dan Kasih tak kunjung menunjukkan batang hidungnya. Seorang pria mendatangi kami dan bertanya apa keperluan
kami hingga kami bersikeras
menunggu selama berjam-jam disana. Perih manjalari
sukmaku, saat pria itu berkata bahwa Umi telah meninggal setahun yang lalu dan kini Kasih tinggal di panti asuhan. Air mataku tak
henti-hentinya membanjiri pipiku, tangisku pecah. Orang yang selama ini aku
rindukan ternyata telah tiada. Aku kehilangan sosok seorang ibu untuk kedua
kalinya. Papa memelukku dan mencoba menenangkanku.
Masih segar dalam benakku bagaimana
aku bertemu Umi. Hari itu adalah pagi yang cerah, saat aku melihat sang mentari
muncul dengan malu-malu. Seorang nenek menghampiriku dan menawarkan minuman.
Tutur katanya yang sopan membuatku mudah menyukainya. Nenek yang begitu
bersemangat. Nenek yang mau mendengarkan semua curahan hati yang selama ini kupendam.
Kini nenek itu telah dipanggil oleh Tuhan untuk menemani disisi-Nya.
Penglihatanku mengabur, seolah tengah malam datang lebih awal dari biasanya.
Semakin lama semakin menggelap, gelap gulita.
“Vani? Apa kamu tidak apa-apa?”
Wajah papa tepat berada di atas kepalaku. Aku baru saja siuman. Saat
aku tersadar, aku kembali teringat akan meninggalnya Umi. Tangisku kembali
pecah dalam pelukan Papa. Rasa sakit, sedih, dan kesal berbaur menjadi satu.
Sakit karena kehilangan sosok ibu untuk kedua kalinya. Sedih karena tak mampu
menjani janjiku untuk kembali ke sini dan berkumpul dengan Umi dan Kasih lagi.
Dan juga kesal karena aku tetap memilih meninggalkan mereka walaupun ada
gejolak buruk ku rasakan. Entah berapa lama aku tenggelam dalam kesunyian dan
kesedihan, kini aku mulai mampu mengendalikan diri. Papa menyapu lembut
kepalaku dengan tangannya dan ia memberitahu letak panti asuhan dimana Kasih
berada saat ini. Kami segera pergi kesana.
Saat
melihat kedatangan kami, Kasih segera berlari memelukku. Ia menangis
menceritakan kalau nenek yang sangat ia sayangi telah meninggalkannya. Papa
melihat kedekatan antara aku dan Kasih, beliau memutuskan untuk mengadopsi
Kasih. Aku sangat berterimakasih pada papa karena dengan adanya Kasih,
kesedihanku dapat sedikit demi sedikit terobati. Sejak saat itu Kasih menjadi
adik angkatku. Adik yang selalu menghiburku dengan canda tawanya yang riang.
***
Aku
terduduk di jendela, membayangi saat-saat aku bersama Umi. Kulihat
burung-burung berkicau dengan riang. Embun masih membasahi jendela kamarku.
Membuatku dapat mengukir kata Umi disana. Bunga-bunga semerbak mewangi. Mentari
mulai terbangun malu-malu. Sebuah suara membuyarkan lamunanku.
“Kakak,
kita ziarah ke makam nenek yuk!” Ajak Kasih menarik tanganku.
Aku
mengikuti langkah kaki Kasih. Kasih terlihat begitu merindukan sosok Umi. Ia
membawa keranjang bunga dengan terburu-buru. Matanya menerawang jauh. Sepanjang
perjalanan, ia selalu bercerita tentang Umi yang membuatku semakin merindukan
sosoknya.
Kami
berhenti di depan sebuah makam. Makam itu adalah makam Umi, sosok ibu yang
pernah menggantikan kerinduanku akan ibu kandungku. Setelah menabur bunga dan
berdoa, Kasih bercerita di depan makam itu.
“Nenek,
ini kak Vani. Kak Vani udah pulang nek. Sekarang aku tinggal sama kak Vani.
Nenek lagi apa disana?
Nenek kangen ga sama kita?” tanya Kasih
polos.
“Umi,
ini Vani. Sekarang Kasih udah tinggal sama Vani. Jadi Umi bisa tenang sekarang.
Vani minta maaf, karena Vani belum sempat memenuhi janji Vani untuk bertemu
dengan Umi setelah Vani pulang dari Singapura. Vani janji, Vani akan
mengabulkan cita-cita Umi untuk membuat Kasih menjadi orang yang berhasil di
masa depan.” kataku seraya mencium batu nisan Umi. Kesedihan menjalar
di sekujur tubuhku. Tubuhku
bergetar. Air mataku tak dapat terbendung lagi, tangisku
pecah. Air mata merembes dari tiap sudut mataku.
“Kasih
dan kak Vani sayang nenek selamanya. Semoga
nenek bahagia ya disana.” kata Kasih mencium batu nisan nenek. “Kita pulang dulu ya,
kasian kak Vani jadi sedih. Kita pasti akan kesini lagi kok. Kasih sayang banget sama nenek. Ayo kak!” Kasih menarik
tanganku
menjauh dari makam Umi.
Langkahku
boleh menjauh dari makam Umi namun, mataku terpaku menatap gundukan tanah itu.
Tanah yang kini menjadi tempat peristirahatan Umi, bukun lagi gubuk reot. ‘Umi,
terima kasih atas semua yang telah Umi ajarkan ke Vani. Di tengah keterpurukan,
Umi membawa cahaya harapan untuk Vani. Sekarang Vani tahu, hidup bukan hanya
berarti sehat tetapi lebih ke arah membahagiakan orang yang ada di sekitar
kita. Terima kasih Umi, Umi akan selalu menjadi panutan untuk Vani. Semoga Tuhan
memberikan tempat yang terindah untuk Umi ya! Vani sayang Umi.’
**TAMAT**
Pesan penulis :
Cintailah semua
yang ada disekitarmu. Artikanlah hidup sebagai memori indah yang akan kau
simpan sampai akhir hayat mu. Tak peduli seberapa lama ataupun singkat hidupmu.
Tuhan pasti telah memberian garis hidup terbaik untuk kalian. Tinggal kalianlah
yang harus mewarnai hidup kalian sendiri. Tegarlah, karena ketegaran adalah
salah satu cambuk untuk memandang kedepan hidup ini.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar