Jumat, 13 April 2012

Lentera



M
entari telah kembali ke peraduannya. Cakrawala kini berubah jingga. Dentuman ombak terdengar di hamparan pasir putih. Burung-burung berkicau riang mengejar sang mentari seolah malarang ia beristirahat sore ini. Pemandangan yang begitu indah dan teduh kini ku rasakan.
            Dari kejauhan, terlihat sesosok bayangan yang melangkah mendekat, perlahan namun pasti. Sesosok bayangan mungil terlihat setia mengitarinya dengan ceria. Dengan cepat aku mampu mengenali kedua sosok itu, Umi dan Kasih. Dua sosok yang sedari tadi ku nanti. Seberkas senyuman tampak di bibirnya, senyuman yang mampu membuatku melupakan penyakitku untuk sejenak. Ku nanti mereka mendekat, namun kaki Umi yang telah renta tak mampu menahan beban yang begitu berat. Umi terjerembab di atas hamparan pasir putih, tak mampu kembali berdiri. Seketika itu bumi menjadi sunyi. Suara debur ombak tak terdengar lagi. Dengan sigap ku langkahkan kakiku untuk menghampiri Umi, aku membantunya untuk kembali berdiri. Resah merasuk kedalam sukmaku, saat ku lihat wajah Umi yang begitu pucat. Tak pernah ku lihat Umi selemah ini sebelumnya. Air mata kasih tak henti-hentinya mengalir, saat melihat nenek yang begitu ia cintai dan mencintainya roboh dihadapannya. Umi adalah satu-satunya keluarga yang Kasih miliki.
            Dengan sekuat tenaga, ia mencoba berdiri dan usahanya membuahkan hasil. Umi kembali berdiri diantara kedua kaki rapuhnya. Ku larang ia untuk membawa minuman-minuman dagangannya, karena aku takut Umi akan kembali terjatuh. Aku memaksa ingin mengantarkan mereka pulang. Umi mengangguk lemah, sedangkan Kasih hanya mampu mengusap tetesan air mata yang membasahi kedua pipi mungilnya. Ku bawakan barang dagangan Umi yang tak laku hari ini namun, tak kulihat kebahagiaan menghilang dari wajahnya. Umi selalu mensyukuri anugrah yang telah Tuhan berikan kepadanya.
            Sepanjang perjalanan menuju rumah Umi, aku selalu melihat senyum kebahagiaan di wajahnya. Sanubariku bergetar saat ku tahu betapa tegarnya beliau. Di usianya yang menginjak 60 tahun, ia masih bersemangat untuk bekerja menyambung hidupnya dan hidup Kasih. Berjualan minuman keliling di pantai Parangtritis. Lelah tak mampu meruntuhkan semangatnya yang menggebu-gebu. Semangat yang begitu kokoh laksana karang yang tak menjadi puing walau dihantam debur ombak. Senyuman selalu Umi perlihatkan di hadapan semua orang dengan sepasang matanya yang sendu. Usia tak pernah menjadi halangan baginya. Peluh yang menetes, tak pernah ia risaukan. Apapun akan ia lakukan demi Kasih, sang cucu tercinta.
 “Yang penting halal.” kata Umi dengan senyuman lebar di bibirnya.
            Saat melihat semangat Umi, aku seperti melihat sosok seorang ibu di dalam diri Umi. Kasih sayang seorang ibu yang tak pernah aku rasakan semenjak aku terlahir ke alam fana ini. Namun, Umi mampu menutupi rasa rinduku akan seorang Ibu dengan kasih sayangnya yang seakan tak pernah luntur. Aku baru beberapa hari mengenalnya, namun hati ini merasakan kasih sayang layaknya telah lama mengenal sosok Umi. Umi juga lah yang telah mampu membuatku sejenak melupakan penyakit kanker hati yang selama ini ku derita, hanya dengan bongkahan-bongkahan cinta kasih yang ia berikan kepadaku.
            Sebelum mengenal Umi, aku tak mengenal apa yang disebut sebagai harapan. Semenjak dokter menyatakan bahwa harapan hidupku sangatlah tipis, hanya kesedihan dan keterpurukan yang mengiringi langkahku. Semangat Umi telah menyadarkanku, kalau penyakit ini tak boleh menjadi hambatan untukku melangkah maju. Penyakit ini hanyalah ujian dari Tuhan untuk semakin membuatku kuat, bukan semakin membuatku terpuruk. Rasa malu merasuk ke dalam jiwaku saat melihat semangat Umi yang menggebu. Walaupun ia tak muda lagi namun ia masih memiliki semangat yang besar, tapi aku? Aku masih muda namun, aku bahkan tak melihat sepercik harapan mendekatiku. Aku hanya mengenal kata menyerah, menyerah dan menyerah. Tanpa aku pernah berusaha menyelamatkan hidupku sendiri. Umi memberikan semangat agar aku optimis akan kesembuhanku. Sembari berjalan, Umi menasihatiku.
            “Vani, kamu tidak boleh menyerah dengan penyakitmu. Umur hanya Tuhan yang tahu, kita hanya harus menggunakannya dengan sebaik mungkin. Jikalau nanti Tuhan memintamu untuk menghadap pada-Nya, tidak ada penyesalan yang kamu rasakan karena kamu sempat membahagiakan orang-orang yang menyayangi kamu. Dan kamu juga telah melakukan semua yang terbaik di hidup kamu.” kata Umi mengelus punggungku.
            “Ya Umi. Vani akan ikuti semua nasihat Umi agar suatu saat jika Vani dipanggil oleh Tuhan, Vani bisa membawa kenangan indah bersama orang-orang terdekat Vani. Vani kagum sama Umi. Umi sudah tidak muda lagi, namun semangat Umi masih sangat besar. Apa Umi tidak merasa lelah? Apa Umi tak mau beristirahat menikmati masa tua layaknya orang lain?tanyaku penuh arti.
            “Umi tak pernah merasakan ini semua sebagai beban, maka dari itu Umi tak pernah merasa lelah. Umi bahagia melakukan semua ini. Umi ingin sekali melihat Kasih menjadi orang yang berhasil. Kalau kerjaan Umi hanya berleha-leha, Kasih dan Umi akan makan apa? Semoga saja Tuhan memanjangkan umur Umi untuk melihat cita-cita Umi terwujud. Amin. Umur boleh menua, tapi semangat harus tetap jiwa muda!jawab Umi masih dengan seberkas senyuman.
            “Ah Umi bisa saja.”
            Tak lama kami tiba di tempat tinggal Umi. Aku telah beberapa kali singgah di tempat ini, namun beberapa kali juga aku termangu menatap bangunan ini. Gubuk yang telah usang dan reot. Sampah bagaikan mendekorasi setiap sudut gubuk ini. Gubuk ini tak layak dijadikan tempat tinggal. Aku tak mampu membayangkan bagaimana hidup sebagai mereka, begitu berat dan miris dipandang.
           ‘Bagaimana cara Umi dan Kasih mampu bertahan di tempat seperti ini? Tempat yang begitu kumuh dan kotor. Sampah berserakan. Kayu yang melapuk. Bahkan, bangunan ini dapat merenggut nyawa mereka kapanpun karena rawan roboh. Tuhan, tolong berikan mereka tempat tinggal yang lebih layak. Mereka pantas mendapatkan tempat tinggal yang lebih bagus dan lebih bersih daripada gubuk reot ini.’ pikirku dalam hati.
            “Ayo singgah sebentar kak!” ajak Kasih sembari menarik tanganku. Suara kasih memecah lamunanku. Kesedihanku sirna saat melihat sepasang mata sendu Kasih. Mata yang menyiratkan ketulusan dan kebahagiaan.
            Aku mengangguk perlahan. Ku ikuti Kasih menuju balai kayu yang ada di teras rumahnya. Ku lihat Umi segera mengambil sapu lidi yang tersandar di tembok dan mulai menyapu halaman.
            “Uhuk…Uhuk….”
            Suara batuk Umi begitu keras bak gemuruh yang berusaha memecah langit. Aku bergegas menghampiri Umi. Darah segar tampak mengalir dari sela-sela jarinya yang keriput. Menetes sedikit demi sedikit ke pakaiannya yang lusuh. Aku sedih dan tak tega melihatnya. Ku paksa Umi beristirahat, namun ia berdalih ingin membersihkan halamannya dahulu.
            “Sini Umi, biar aku bantu.” kataku menarik sapu yang ia genggam. “Umi duduk saja ya sama Kasih, Vani janji, dalam sekejap halaman Umi pasti bersih.” kataku seraya mengedipkan sebelah mataku.
            “Apa Vani ngga cape? Tadi Vani kan sudah membawakan barang dagangan Umi sampai ke rumah?” tanya Umi menahan tanganku.
            “Udah, ngga papa kok Umi. Vani ngga capek. Vani lebih senang kalau melihat Umi istirahat. Sekarang Umi duduk ya!” kataku memapah Umi ke balai. “Nah Umi istirahat dulu ya, biar Vani yang membersihkan semuanya.”
            “Makasih ya, Ni. Kamu memang anak yang baik.” puji Umi dengan suara parau.
            “Ah Umi bisa saja, ini biasa kok Umi.”
            “Memangnya kakak bisa menyapu?” tanya Kasih meledekku.
            “Wah pasti bisa lah. Cuma menyapu saja masa ngga bisa. Malu dong sama Kasih. Ya ngga?” kataku sambil mengacak-acak pelan rambut Kasih.
            “Ya kak. Kasih aja bisa masa kakak ngga?” kata Kasih mengacungkan jari jempol kanannya. “Yang bersih ya kak! Hehe.” lanjut Kasih seraya menertawaiku. Aku hanya membalasnya dengan seulas senyum.
            Aku tetap memfokuskan pandanganku pada sosok Umi yang tengah bersandar di tembok anyaman rumahnya. Tak ada perubahan di raut wajah Umi, ia tetap terlihat pucat. Sukmaku mengkerut, takut terjadi hal buruk pada Umi. Aku tak mau kehilangan sosok seorang ibu untuk kedua kalinya.
***
             Selesai menyapu, baru kusadari langit telah berubah gelap. Tak ada lagi mentari yang mengucapkan selamat tinggal dengan malu-malu. Aku pamit pada Umi untuk kembali ke vila. Kasih memohon padaku untuk menginap disana namun, aku tak bisa. Esok, aku harus berangkat ke Singapura.
            “Umi, Vani pamit. Besok Vani akan berangkat ke Singapura untuk melakukan pengobatan disana. Tapi Umi tak perlu khawatir. Setelah Vani sembuh, Vani akan kembali ke sini untuk menemui Umi dan Kasih.” kataku.
            “Tak terasa, baru saja kita kenal tapi kamu sudah harus pergi. Hati-hati ya, Nak. Umi menyayangimu. Umi berharap kamu bisa kembali seperti sedia kala saat kamu menemui Umi dan Kasih kembali. Kalau kamu kembali, kamu bisa mencari Umi di rumah ini ya, Ni. Kapanpun kamu kembali, rumah ini akan terbuka untukmu.kata Umi memelukku. Air mata menghujani kedua pipiku.
            “Ya Umi, Vani juga ngerasa waktu cepat banget berlalu. Vani juga sayang Umi. Umi bagaikan ibu kandung Vani. Vani janji akan secepatnya kembali ke sini.”
            “Kakak mau kemana? Kakak kan baru sebentar di sini. Kakak juga baru sebentar main sama Kasih. Kakak jangan pergi!kata Kasih menangis seraya memeluk kakiku.
            “Tapi kakak harus berobat. Nanti kalau kakak sudah sembuh, kakak janji kakak pasti kesini lagi. Kamu tunggu kakak ya! Nanti kita bermain bersama lagi. Dan jangan lupa, jaga Umi buat kakak ya, Kasih!” kataku, mencoba menguatkan diriku sendiri.
            “Janji ya kak? Kasih pasti nunggu kakak dan Kasih juga pasti jaga nenek. Kakak jangan lama-lama ya!”
            “Ya kakak janji. Setelah dokter bilang kakak sudah sembuh, kakak pasti akan langsung ke sini. Sekarang kakak pulang ya. Selamat tinggal Umi, Kasih! Vani sayang kalian.” kataku seraya melangkah menjauhi gubuk itu.
            “Selamat tinggal Vani!” teriak Umi parau.
            “Dah, kakak!” kata Kasih masih menangis.
            “Selamat tinggal!” Kataku seraya melambaikan tangan.
            Dengan berat hati, aku berpamitan dengan Umi dan Kasih. Entah kenapa ada rasa tak enak dalam hatiku saat aku meninggalkan mereka.
            Sesampainya di vila, papa mengingatkan aku akan keberangkatan kami ke Singapura besok. Aku mengangguk dan kembali ke kamarku. Aku terlalu lelah malam ini, hingga tanpa terasa aku terlelap.
***

            Mentari telah mencapai di puncak tertinggi, suasana di bandara cukup ramai. Aku dan papa akan berangkat ke Singapura pukul 14.00. Ragaku memang di bandara, namun pikiranku melayang jauh. Aku tak mampu melepas sosok Umi dan Kasih dari benakku walau hanya untuk sejenak. Aku pasti akan sangat merindukan mereka.
            Setibanya di Singapura, aku segera memulai pengobatanku. Peralatan di sini lebih lengkap dibandingkan di Indonesia. Di setiap semangatku untuk sembuh, selalu terdapat nama Umi, Kasih dan papa didalamnya.
            Tahun telah berganti tahun. Sudah tiga tahun, aku melakukan pengobatan di Singapura. Sampai akhirnya, dokter berkata kalau aku sudah benar-benar sembuh. Aku ingin segera kembali ke Indonesia. Aku sangat merindukan sosok Umi dan Kasih, entah bagaimana rupa mereka sekarang. Aku dan Papa sengaja memilih penerbangan dini hari untuk kembali ke tanah air.
            Setibanya di tanah air, kami langsung melaju menuju rumah Umi dan Kasih dengan menggunakan taxi. Terbesit di benakku, wajah Umi dan Kasih yang menyambut kedatanganku. Aku sungguh tak sabar menemui mereka.
            Beberapa jam telah berlalu. Perjalanan ini terasa begitu lama bagiku. Rasa rindu semakin merasuk ke dalam sukmaku, semakin lama semakin dalam. Kicauan burung semakin membuatku rindu akan mereka. Awan melambai riang seakan menyambutku kembali. Angin bertiup di sela-sela ranting pohon membentuk rangkaian simfoni alam. Hingga akhirnya gubuk itu mulai terlihat. Aku segera berlari kearah gubuk itu. Ku ketuk pintu rumah itu dengan penuh semangat, tapi tak ada jawaban. Ku ketuk lagi, namun sia-sia.
            “Mungkin Umi sedang berdagang, pa. Kita tunggu aja ya!” kataku memohon pada Papa.
            “Ya Vani. Terserah kamu saja. Papa juga mau lihat orang yang bernama Umi dan Kasih itu siapa, sampai membuat kamu begitu merindukan mereka.” kata papa seraya mengelus rambutku.
            Kami menunggu hingga langit mulai berubah jingga, namun Umi dan Kasih tak kunjung menunjukkan batang hidungnya. Seorang pria mendatangi kami dan bertanya apa keperluan kami hingga kami bersikeras menunggu selama berjam-jam disana. Perih manjalari sukmaku, saat pria itu berkata bahwa Umi telah meninggal setahun yang lalu dan kini Kasih tinggal di panti asuhan. Air mataku tak henti-hentinya membanjiri pipiku, tangisku pecah. Orang yang selama ini aku rindukan ternyata telah tiada. Aku kehilangan sosok seorang ibu untuk kedua kalinya. Papa memelukku dan mencoba menenangkanku.
            Masih segar dalam benakku bagaimana aku bertemu Umi. Hari itu adalah pagi yang cerah, saat aku melihat sang mentari muncul dengan malu-malu. Seorang nenek menghampiriku dan menawarkan minuman. Tutur katanya yang sopan membuatku mudah menyukainya. Nenek yang begitu bersemangat. Nenek yang mau mendengarkan semua curahan hati yang selama ini kupendam. Kini nenek itu telah dipanggil oleh Tuhan untuk menemani disisi-Nya. Penglihatanku mengabur, seolah tengah malam datang lebih awal dari biasanya. Semakin lama semakin menggelap, gelap gulita.
            “Vani? Apa kamu tidak apa-apa?”
            Wajah papa tepat berada  di atas kepalaku. Aku baru saja siuman. Saat aku tersadar, aku kembali teringat akan meninggalnya Umi. Tangisku kembali pecah dalam pelukan Papa. Rasa sakit, sedih, dan kesal berbaur menjadi satu. Sakit karena kehilangan sosok ibu untuk kedua kalinya. Sedih karena tak mampu menjani janjiku untuk kembali ke sini dan berkumpul dengan Umi dan Kasih lagi. Dan juga kesal karena aku tetap memilih meninggalkan mereka walaupun ada gejolak buruk ku rasakan. Entah berapa lama aku tenggelam dalam kesunyian dan kesedihan, kini aku mulai mampu mengendalikan diri. Papa menyapu lembut kepalaku dengan tangannya dan ia memberitahu letak panti asuhan dimana Kasih berada saat ini. Kami segera pergi kesana.
            Saat melihat kedatangan kami, Kasih segera berlari memelukku. Ia menangis menceritakan kalau nenek yang sangat ia sayangi telah meninggalkannya. Papa melihat kedekatan antara aku dan Kasih, beliau memutuskan untuk mengadopsi Kasih. Aku sangat berterimakasih pada papa karena dengan adanya Kasih, kesedihanku dapat sedikit demi sedikit terobati. Sejak saat itu Kasih menjadi adik angkatku. Adik yang selalu menghiburku dengan canda tawanya yang riang.
***
            Aku terduduk di jendela, membayangi saat-saat aku bersama Umi. Kulihat burung-burung berkicau dengan riang. Embun masih membasahi jendela kamarku. Membuatku dapat mengukir kata Umi disana. Bunga-bunga semerbak mewangi. Mentari mulai terbangun malu-malu. Sebuah suara membuyarkan lamunanku.
            “Kakak, kita ziarah ke makam nenek yuk!” Ajak Kasih menarik tanganku.
            Aku mengikuti langkah kaki Kasih. Kasih terlihat begitu merindukan sosok Umi. Ia membawa keranjang bunga dengan terburu-buru. Matanya menerawang jauh. Sepanjang perjalanan, ia selalu bercerita tentang Umi yang membuatku semakin merindukan sosoknya.
            Kami berhenti di depan sebuah makam. Makam itu adalah makam Umi, sosok ibu yang pernah menggantikan kerinduanku akan ibu kandungku. Setelah menabur bunga dan berdoa, Kasih bercerita di depan makam itu.
            “Nenek, ini kak Vani. Kak Vani udah pulang nek. Sekarang aku tinggal sama kak Vani. Nenek lagi apa disana? Nenek kangen ga sama kita? tanya Kasih polos.
            “Umi, ini Vani. Sekarang Kasih udah tinggal sama Vani. Jadi Umi bisa tenang sekarang. Vani minta maaf, karena Vani belum sempat memenuhi janji Vani untuk bertemu dengan Umi setelah Vani pulang dari Singapura. Vani janji, Vani akan mengabulkan cita-cita Umi untuk membuat Kasih menjadi orang yang berhasil di masa depan.” kataku seraya mencium batu nisan Umi. Kesedihan menjalar di sekujur tubuhku. Tubuhku bergetar. Air mataku tak dapat terbendung lagi, tangisku pecah. Air mata merembes dari tiap sudut mataku.
            “Kasih dan kak Vani sayang nenek selamanya. Semoga nenek bahagia ya disana.kata Kasih mencium batu nisan nenek. “Kita pulang dulu ya, kasian kak Vani jadi sedih. Kita pasti akan kesini lagi kok. Kasih sayang banget sama nenek. Ayo kak!” Kasih menarik tanganku menjauh dari makam Umi.
            Langkahku boleh menjauh dari makam Umi namun, mataku terpaku menatap gundukan tanah itu. Tanah yang kini menjadi tempat peristirahatan Umi, bukun lagi gubuk reot. ‘Umi, terima kasih atas semua yang telah Umi ajarkan ke Vani. Di tengah keterpurukan, Umi membawa cahaya harapan untuk Vani. Sekarang Vani tahu, hidup bukan hanya berarti sehat tetapi lebih ke arah membahagiakan orang yang ada di sekitar kita. Terima kasih Umi, Umi akan selalu menjadi panutan untuk Vani. Semoga Tuhan memberikan tempat yang terindah untuk Umi ya! Vani sayang Umi.’


**TAMAT**
 
 
 
Pesan penulis :
Cintailah semua yang ada disekitarmu. Artikanlah hidup sebagai memori indah yang akan kau simpan sampai akhir hayat mu. Tak peduli seberapa lama ataupun singkat hidupmu. Tuhan pasti telah memberian garis hidup terbaik untuk kalian. Tinggal kalianlah yang harus mewarnai hidup kalian sendiri. Tegarlah, karena ketegaran adalah salah satu cambuk untuk memandang kedepan hidup ini.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar