Hari ini,
seperti biasa aku berlatih taekwondo. Namun tidak seperti biasanya, kali ini
kami berlatih di Training Center karena hari sedang hujan. Selesai berlatih,
sabeum Nanang meminta kami berkumpul dan mengumumkan kalau hari Jum’at akan
diadakan ‘Fight’. Aku kaget dan secara otomatis aku terdiam.
‘Bagaimana bisa fight dilaksanakan
secepat ini? Aku bahkan belum siap. Menendang saja masih sering meleset.
Kemampuanku masih jauh dari ambang standard. Oh Tuhan, mungkinkah aku akan
mempermalukan diriku Jum’at nanti? Oh Tuhan bantu aku!’
Deretan kalimat itu memenuhi
pikiranku. Aku benar-benar akan mempermalukan diriku Jum’at nanti. Aku tidak
mau memperlihatkan kepada anggota taekwondo yang lain kalau kemampuan
beladiriku jauh dibawah kata standard. Saat sibuk memikirkan itu semua, anggota
taekwondo yang lain berteriak dengan kompak.
“Yahhhhh!” Kata mereka serempak.
Ternyata bukan hanya aku yang
gelisah mendengar berita dari sabeum, namun semua hampir taekwondoin juga.
Tapi, mereka lebih beruntung dari aku, karena kemampuan mereka di atasa
standard. Aku terduduk lesu. Tapi, entah kenapa sabeum seperti tahu apa yang
sedang ku fikirkan.
“Jum’at fight ya Salma! Jangan
sampai ngga dateng!” Kata sabeum padaku.
Aku mengangguk lesu. Aku pulang
dengan langkah gontai selayaknya seseorang yang tidak memiliki semangat hari
itu. Selama di perjalanan pulang aku hanya terdiam. Kalimat-kalimat itu masih
membebani pikiranku. Aku tidak tenang. Rasanya kepalaku akan meledak sebentar
lagi.
Setibanya di rumah, aku segera
membersihkan diri. Setelah mandi, aku mengunci diriku di kamar. Aku terdiam
seribu bahasa, mataku menerawang jauh dengan tatapan kosong. Aku membayangkan
apa yang akan terjadi hari Jum’at jika aku tetap memaksakan diriku untuk fight.
‘Babak belur? Kaki terkilir? Sesak
nafas? Atau lebih baik aku tidak datang hari Jum’at? Tapi sampai kapan aku akan
kabur dari fight?’
Aku seperti melihat diriku yang lain
sedang fight. Dan aku dapat melihat peserta lain menertawakanku. Aku tersadar
dari lamunanku saat aku mendengar seseorang mengetuk pintu kamarku. Aku segera
membuka pintu kamarku, ternyata hanya kakakku yang ingin meminjam novel.
Setelah ia mendapatkan apa yang ia mau, ia segera meninggalkanku.
Aku kembali mengunci diri di kamar. Bayangan-bayangan
itu kembali menghampiriku. Aku telah mencoba untuk membuang jauh-jauh pikiran
itu, namun rasanya sangat sulit. Karena kelelahan, aku pun tertidur.
***
Pagi ini, aku masuk sekolah dengan
perasaan tidak tenang. Banyak sekali beban yang menumpuk di pikiranku. Selama
pelajaran berlangsung, aku tak mempu berkonsentrasi secara optimal. Bahkan,
saat ulangan tengah berlangsung, aku tetap tak mampu berkonsentrasi.
Konsentrasiku buyar antara ulangan, fight yang akan dilaksanakan besok, dan
lomba wallmagz. Rasanya aku sangat ingin melepas kepalaku agar aku dapat
terbebas dari semua pikiran itu.
Bel istirahat berbunyi. Aku
memutuskan untuk pergi ke kantin bersama teman-temanku yang juga adalah
seniorku di taekwondo. Di kantin, aku hanya bisa melamun. Bahkan saat Rina
mengajakku bicara, aku tak mampu mendengar suaranya.
“Sal? Lu kenapa ngelamun? Sakit?”
Tanyanya seraya memegang bahuku.
“Gue ngga sakit kok Rin. Cuma...”
kataku tak menyelesaikan kalimat itu.
“Cuma kenapa?” Tanya Aziz.
“Cerita aja sama kita!” Kata Ivan
membujuk agar aku bercerita kepada mereka.
Aku bingung apakah aku harus
bercerita pada mereka atau tidak. Aku takut mereka menertawakanku, dan
terlebih-lebih mereka juga adalah seniorku di taekwondo. Akhirnya aku
menyingkirkan semua prasangka itu dan memilih untuk bercerita kepada mereka.
“Oh gitu, tenang aja kali Sal!” Kata
Rina padaku.
“Tapi gue ngga mau fight dengan
kemampuan gue yang minim!” Kataku menatap Rina.
“Minim apanya? Sabeum aja bilang
kalo lu harus ikut kejuaraan, itu berarti tendangan lu
itu powernya kuat Sal!” Kata Ivan dengan tersenyum sinis kearahku.
“Ya Ma, santai aja kali!” Kata Aziz.
“Ya gue tau lu itu ketua taekwondo,
dan lu kesayangan sabeum pantas aja lu santai. Lah
gue? Cuma sekertaris!” Kataku lesu.
“Ngga usah merendahkan diri lu deh!
Masa seorang Salma yang biasa menghajar anak
laki-laki di kelasnya jadi lemah begini?” Kata Rahid dengan nada
mengejekku.
“Bener juga sih! Thanks ya guys
semangatnya.” Kataku sambil mengacak-acak rambut
Rahid.
Setelah istirahat, aku jadi lebih
mampu berkonsentrasi di kelas. Aku sudah tidak mempedulikan lagi tentang fight
maupun yang lainnya. Saat sedang pergantian jam pelajaran, aku memikirkan apa
yang harus ku lakukan untuk meningkatkankan kemampuanku. Namun, tiba-tiba aku
mendapatkan ide agar aku tidak mempermalukan diriku jum’at nanti.
“Aha!! Guling!!” Kataku senang.
Selama pelajaran terakhir
berlangsung, aku belajar dengan keadaan senang karena aku mendapatkan ide untuk
berlatih sendiri di rumah. Setelah bel pulang sekolah, aku bergegas pulang.
Sesampainya di rumah, aku segera
mengambil guling tak berdosa yang terletak rapi di kasur dan
memasangnya di teralis pintu kamar. Aku membayangkan bahwa guling itu adalah
lawanku nanti, jadi aku dapat berlatih untuk fight. Saat itu juga aku
berlatih, namun tendanganku sering meleset. Bukan mengenai guling, namun kakiku
justru menghantam tembok.
Teriakanku telah membuat kakakku
datang. Kakakku datang bukan untuk membantuku, tapi ia justru menertawakanku.
Aku segera membanting pintu kamarku. Jujur, aku sangat kesal ditertawakan
olehnya. Karena kelelahan, akupun tertidur.
***
Pagi ini aku berangkat sekolah
dengan keadaan ceria. Suasana hatiku hari ini sangat bertolak belakang dengan
yang kemarin. Sekarang aku mampu belajar secara maximal. Aku sudah tidak takut
lagi akan fight. Bahkan, aku berharap waktu berputar lebih cepat agar fight
lebih cepat dilaksanakan.
Tidak terasa,
bel istirahat telah berbunyi. Rina dan yang lainnya menghampiriku di kelas. Ia
mengajakku ke kantin dan aku menurut. Dikantin, aku bercanda dengan mereka.
Mereka bingung kenapa suasana hatiku cepat berubah. Kemarin muram sekarang
ceria. Tapi aku tak mau menjawab pertanyaan mereka. Aku memilih untuk bungkam
dan tetap bercanda dengan mereka.
‘Duh.. Nunggu taekwondo lama banget
sih??’ Pikirku tak sabar.
Bel masuk berbunyi. Aku kembali
belajar di kelas. Sesekali aku memandang keluar jendela dan membayangkan fight
yang akan ku lakukan. Bu guru meminta kami mengisi LKS. Setelah selesai, aku
kembali hanyut dalam lamunanku. Aku terus melamun hingga terdengar bunyi bel
pulang.
Aku segera pulang. Sesampainya di
rumah, aku kembali berlatih. Saat jam menunjukkan pukul 13.40, aku shalat Zuhur
dan bersiap-siap untuk berangkat latihan taekwondo. Pukul 14.00, aku berangkat
ke sekolah. Setibanya di sekolah, ternyata sudah ada beberapa orang yang
datang. Disana ada Aqua, Yoshinta, Agung, Aziz, Ivan, Rina, dan Rasyid. Mereka
terlihat semangat mengikuti fight hari ini.
Kami menunggu selama 45 menit
sebelum latihan di mulai. Tepat pukul 15.30, sabeum telah datang dan kami
memulai latihan. Kami berlatih di training center seperti hari Selasa. Terlebih
dahulu kami pemanasan dan latihan seperti biasa. Setelah itu, sabeum memberi
waktu untuk beristirahat selama 10 menit. Aku, Rina, Aziz, dan Ivan membeli
minuman di tempat langganan kami.
Setelah istirahat, fightpun
dilaksanakan. Aku mendapat urutan ke dua dan lawanku adalah Aqua. Saat figt,
kami dipakaikan pelindung yang disebut ‘body’. Selama fight, Aqua selalu
memepetku dan membuatku sulit menendangnya. Namun, aku tak menyerah dan tetap
berusaha memepetnya. Setelah 5 menit fight, sabeum meminta bantuan untuk
melepas pelindung yang kami kenakan dan mengganti peserta selanjutnya.
“Gimana?? Ga papa kan?” Tanya Rina
begitu aku menghampirinya.
“Not bad!” Jawabku singkat. Rina
menarik tanganku dan merangkulku.
“Makanya kalau belum nyoba jangan
pesimis dulu!” Katanya sambil mengacak-acak
rambutku.
“Ya sih, lu bener. Tapi ga usah pake
ngacak-acak rambut dong! Baru dari salon nih!”
Jawabku seraya merapikan rambutku
kembali.
“Hah?? Salon?” Tanya Rina bingung.
“Jiah dia percaya. Ngapain gue ke
salon. Gue bercanda kali!” Kataku sambil tertawa.
Dan setelah itu, aku tak lagi
takut akan fight. Aku justru menantikan diadakan
fight lagi. Semua ini berkat semangat dari teman-temanku dan pelatihan dari
sabeum. Tak lupa tentunya karena Tuhan yang membantuku menemukan ide untuk
menggunakan guling sebagai target.
‘Terima kasih semuanya. Aku senang
ada kalian di sampingku dan ada Tuhan di hatiku.’
Aku mengucapkan terima kasih kepada
mereka dalam hati, karena aku tak mau memperlihatkan sisi melankolisku di
hadapan mereka.
***TAMAT***
