Jumat, 13 April 2012

Fight Petamaku


Hari ini, seperti biasa aku berlatih taekwondo. Namun tidak seperti biasanya, kali ini kami berlatih di Training Center karena hari sedang hujan. Selesai berlatih, sabeum Nanang meminta kami berkumpul dan mengumumkan kalau hari Jum’at akan diadakan ‘Fight’. Aku kaget dan secara otomatis aku terdiam.
            ‘Bagaimana bisa fight dilaksanakan secepat ini? Aku bahkan belum siap. Menendang saja masih sering meleset. Kemampuanku masih jauh dari ambang standard. Oh Tuhan, mungkinkah aku akan mempermalukan diriku Jum’at nanti? Oh Tuhan bantu aku!’
            Deretan kalimat itu memenuhi pikiranku. Aku benar-benar akan mempermalukan diriku Jum’at nanti. Aku tidak mau memperlihatkan kepada anggota taekwondo yang lain kalau kemampuan beladiriku jauh dibawah kata standard. Saat sibuk memikirkan itu semua, anggota taekwondo yang lain berteriak dengan kompak.
            “Yahhhhh!” Kata mereka serempak.
            Ternyata bukan hanya aku yang gelisah mendengar berita dari sabeum, namun semua hampir taekwondoin juga. Tapi, mereka lebih beruntung dari aku, karena kemampuan mereka di atasa standard. Aku terduduk lesu. Tapi, entah kenapa sabeum seperti tahu apa yang sedang ku fikirkan.
            “Jum’at fight ya Salma! Jangan sampai ngga dateng!” Kata sabeum padaku.
            Aku mengangguk lesu. Aku pulang dengan langkah gontai selayaknya seseorang yang tidak memiliki semangat hari itu. Selama di perjalanan pulang aku hanya terdiam. Kalimat-kalimat itu masih membebani pikiranku. Aku tidak tenang. Rasanya kepalaku akan meledak sebentar lagi.
            Setibanya di rumah, aku segera membersihkan diri. Setelah mandi, aku mengunci diriku di kamar. Aku terdiam seribu bahasa, mataku menerawang jauh dengan tatapan kosong. Aku membayangkan apa yang akan terjadi hari Jum’at jika aku tetap memaksakan diriku untuk fight.
            ‘Babak belur? Kaki terkilir? Sesak nafas? Atau lebih baik aku tidak datang hari Jum’at? Tapi sampai kapan aku akan kabur dari fight?’
            Aku seperti melihat diriku yang lain sedang fight. Dan aku dapat melihat peserta lain menertawakanku. Aku tersadar dari lamunanku saat aku mendengar seseorang mengetuk pintu kamarku. Aku segera membuka pintu kamarku, ternyata hanya kakakku yang ingin meminjam novel. Setelah ia mendapatkan apa yang ia mau, ia segera meninggalkanku.
            Aku kembali mengunci diri di kamar. Bayangan-bayangan itu kembali menghampiriku. Aku telah mencoba untuk membuang jauh-jauh pikiran itu, namun rasanya sangat sulit. Karena kelelahan, aku pun tertidur.
***
            Pagi ini, aku masuk sekolah dengan perasaan tidak tenang. Banyak sekali beban yang menumpuk di pikiranku. Selama pelajaran berlangsung, aku tak mempu berkonsentrasi secara optimal. Bahkan, saat ulangan tengah berlangsung, aku tetap tak mampu berkonsentrasi. Konsentrasiku buyar antara ulangan, fight yang akan dilaksanakan besok, dan lomba wallmagz. Rasanya aku sangat ingin melepas kepalaku agar aku dapat terbebas dari semua pikiran itu.
            Bel istirahat berbunyi. Aku memutuskan untuk pergi ke kantin bersama teman-temanku yang juga adalah seniorku di taekwondo. Di kantin, aku hanya bisa melamun. Bahkan saat Rina mengajakku bicara, aku tak mampu mendengar suaranya.
            “Sal? Lu kenapa ngelamun? Sakit?” Tanyanya seraya memegang bahuku.
            “Gue ngga sakit kok Rin. Cuma...” kataku tak menyelesaikan kalimat itu.
            “Cuma kenapa?” Tanya Aziz.
            “Cerita aja sama kita!” Kata Ivan membujuk agar aku bercerita kepada mereka.
            Aku bingung apakah aku harus bercerita pada mereka atau tidak. Aku takut mereka menertawakanku, dan terlebih-lebih mereka juga adalah seniorku di taekwondo. Akhirnya aku menyingkirkan semua prasangka itu dan memilih untuk bercerita kepada mereka.
            “Oh gitu, tenang aja kali Sal!” Kata Rina padaku.
            “Tapi gue ngga mau fight dengan kemampuan gue yang minim!” Kataku menatap Rina.
            “Minim apanya? Sabeum aja bilang kalo lu harus ikut kejuaraan, itu berarti tendangan lu
              itu powernya kuat Sal!” Kata Ivan dengan tersenyum sinis kearahku.
            “Ya Ma, santai aja kali!” Kata Aziz.
            “Ya gue tau lu itu ketua taekwondo, dan lu kesayangan sabeum pantas aja lu santai. Lah
              gue? Cuma sekertaris!” Kataku lesu.
            “Ngga usah merendahkan diri lu deh! Masa seorang Salma yang biasa menghajar anak
              laki-laki di kelasnya jadi lemah begini?” Kata Rahid dengan nada mengejekku.
            “Bener juga sih! Thanks ya guys semangatnya.” Kataku sambil mengacak-acak rambut       
              Rahid.
            Setelah istirahat, aku jadi lebih mampu berkonsentrasi di kelas. Aku sudah tidak mempedulikan lagi tentang fight maupun yang lainnya. Saat sedang pergantian jam pelajaran, aku memikirkan apa yang harus ku lakukan untuk meningkatkankan kemampuanku. Namun, tiba-tiba aku mendapatkan ide agar aku tidak mempermalukan diriku jum’at nanti.
            “Aha!! Guling!!” Kataku senang.
            Selama pelajaran terakhir berlangsung, aku belajar dengan keadaan senang karena aku mendapatkan ide untuk berlatih sendiri di rumah. Setelah bel pulang sekolah, aku bergegas pulang.
            Sesampainya di rumah, aku segera mengambil guling tak berdosa yang terletak rapi di kasur dan memasangnya di teralis pintu kamar. Aku membayangkan bahwa guling itu adalah lawanku nanti, jadi aku dapat berlatih untuk fight. Saat itu juga aku berlatih, namun tendanganku sering meleset. Bukan mengenai guling, namun kakiku justru menghantam tembok.
            Teriakanku telah membuat kakakku datang. Kakakku datang bukan untuk membantuku, tapi ia justru menertawakanku. Aku segera membanting pintu kamarku. Jujur, aku sangat kesal ditertawakan olehnya. Karena kelelahan, akupun tertidur.
***
            Pagi ini aku berangkat sekolah dengan keadaan ceria. Suasana hatiku hari ini sangat bertolak belakang dengan yang kemarin. Sekarang aku mampu belajar secara maximal. Aku sudah tidak takut lagi akan fight. Bahkan, aku berharap waktu berputar lebih cepat agar fight lebih cepat dilaksanakan.
Tidak terasa, bel istirahat telah berbunyi. Rina dan yang lainnya menghampiriku di kelas. Ia mengajakku ke kantin dan aku menurut. Dikantin, aku bercanda dengan mereka. Mereka bingung kenapa suasana hatiku cepat berubah. Kemarin muram sekarang ceria. Tapi aku tak mau menjawab pertanyaan mereka. Aku memilih untuk bungkam dan tetap bercanda dengan mereka.
            ‘Duh.. Nunggu taekwondo lama banget sih??’ Pikirku tak sabar.
            Bel masuk berbunyi. Aku kembali belajar di kelas. Sesekali aku memandang keluar jendela dan membayangkan fight yang akan ku lakukan. Bu guru meminta kami mengisi LKS. Setelah selesai, aku kembali hanyut dalam lamunanku. Aku terus melamun hingga terdengar bunyi bel pulang.
            Aku segera pulang. Sesampainya di rumah, aku kembali berlatih. Saat jam menunjukkan pukul 13.40, aku shalat Zuhur dan bersiap-siap untuk berangkat latihan taekwondo. Pukul 14.00, aku berangkat ke sekolah. Setibanya di sekolah, ternyata sudah ada beberapa orang yang datang. Disana ada Aqua, Yoshinta, Agung, Aziz, Ivan, Rina, dan Rasyid. Mereka terlihat semangat mengikuti fight hari ini.
            Kami menunggu selama 45 menit sebelum latihan di mulai. Tepat pukul 15.30, sabeum telah datang dan kami memulai latihan. Kami berlatih di training center seperti hari Selasa. Terlebih dahulu kami pemanasan dan latihan seperti biasa. Setelah itu, sabeum memberi waktu untuk beristirahat selama 10 menit. Aku, Rina, Aziz, dan Ivan membeli minuman di tempat langganan kami.
            Setelah istirahat, fightpun dilaksanakan. Aku mendapat urutan ke dua dan lawanku adalah Aqua. Saat figt, kami dipakaikan pelindung yang disebut ‘body’. Selama fight, Aqua selalu memepetku dan membuatku sulit menendangnya. Namun, aku tak menyerah dan tetap berusaha memepetnya. Setelah 5 menit fight, sabeum meminta bantuan untuk melepas pelindung yang kami kenakan dan mengganti peserta selanjutnya.
            “Gimana?? Ga papa kan?” Tanya Rina begitu aku menghampirinya.
            “Not bad!” Jawabku singkat. Rina menarik tanganku dan merangkulku.
            “Makanya kalau belum nyoba jangan pesimis dulu!” Katanya sambil mengacak-acak
              rambutku.
            “Ya sih, lu bener. Tapi ga usah pake ngacak-acak rambut dong! Baru dari salon nih!”
            Jawabku seraya merapikan rambutku kembali.
            “Hah?? Salon?” Tanya Rina bingung.
            “Jiah dia percaya. Ngapain gue ke salon. Gue bercanda kali!” Kataku sambil tertawa.
            Dan setelah itu, aku tak lagi takut akan fight. Aku justru menantikan diadakan fight lagi. Semua ini berkat semangat dari teman-temanku dan pelatihan dari sabeum. Tak lupa tentunya karena Tuhan yang membantuku menemukan ide untuk menggunakan guling sebagai target.
            ‘Terima kasih semuanya. Aku senang ada kalian di sampingku dan ada Tuhan di hatiku.’
            Aku mengucapkan terima kasih kepada mereka dalam hati, karena aku tak mau memperlihatkan sisi melankolisku di hadapan mereka.


***TAMAT***

True love never die



          Malam itu rembulan bersinar terang, bintang-bintang menampakkan dirinya dan suara kendaraan yang berlalu lalang masih terdengar. Di sebuah rumah bergaya Eropa terlihat Zaskia yang resah menunggu kekasihnya. Beberapa menit ia telah menunggu dan akhirnya orang yang ia tunggupun datang.
          ”Permisi, Zaskia!” Teriak seorang pria dari luar rumah.
          ”Mari silahkan masuk! Silahkan duduk mas, saya akan memanggil
           mbak Zaskia dulu.” Kata bi Sum kepada pria itu.
          ”Siapa yang datang bi?” Teriak Zaskia.
          ”Mas Richi, Mbak. Dia ada di ruang tamu.” kata bi Sum     
          Zaskia segera menemui kekasihnya itu. Zaskia sangat bahagia. Mereka berjanji untuk menonton film malam ini. Zaskia berpamitan kepada orangtuanya.
”Ibu, ayah! Kia pergi dulu ya!” Kata Zaskia pamit.
”Ya, hati-hati Kia!” Jawab Ibu.
Malam ini mereka menonton film Romeo and Juliet. Film yang mengisahkan tentang dua insan yang saling mencintai. Sang pria bernama Romeo dan sang gadis bernama Juliet. Cinta mereka tidak mendapatkan restu dari orangtua Juliet. Orang tua Juliet berusa untuk memisahkan mereka berdua dengan berbagai cara namun karena kekekalan cinta mereka, semua halangan itu dapat mereka lewati. Kekekalan cinta mereka tak dapat terpisahkan walaupun maut menjemput mereka berdua. Film itu telah membuat Zaskia terharu.
Di malam yang sama, setelah mereka menonton film itu, mereka mengucap janji sehidup semati.
”Kia, malam ini aku berjanji kalau aku akan selalu ada disamping kamu.
 Aku nggak akan meninggalkan kamu.” Kata Richi memegang tangan Kia.
”Aku juga janji. Selama aku hidup dan selama kita masih bersama, aku
 nggak akan berpaling.” Kata Zaskia.
          Tahun berganti tahun terasa begitu cepat bagi Zaskia dan Richi yang terus mengisi tahun-tahun itu dengan cinta mereka. Tiga tahun telah ia lewati bersama Richi, dan setiap hari yang Zaskia lewati tak pernah lepas dari bayang-bayang Richi di pikirannya. Semua SMS ataupun telfon dari Richi tak pernah Kia abaikan. Setiap detik yang ia lewati bersama Richi begitu berarti baginya. Tak pernah ada rasa penyesalan, yang ada hanyalah kebahagiaan yang terus menyelimuti diriya saat ia bersama kekasihnya itu.
          ’Malam ini, aku akan menonton bersamanya Richi. Huf, tak sabar rasanya
           untuk merayakan hari jadian kami yang ke tiga.’ pikir Zaskia.
          Zaskia sedang membungkus sesuatu untuk kekasihnya sebagai hadiah hari jadi mereka yang ke tiga. Wajahnya telihat sangat bahagia. Tiba-tiba seseorang mengetuk pintu rumahnya. Bi Sum segera membukakan pintu dan mempersilahkan orang itu untuk masuk. Orang itu adalah sahabat Zaskia.
          ”Mbak Zaskia, ada mbak Reka datang.” Teriak bi Sum.
          ”Ia bi, tolong suruh Reka ke kamar aja ya.” Teriak Kia dari dalam kamar.
          ”Mbak Reka! Mbak Kia bilang langsung ke kamarnya aja!” Kata Bi Sum.
          ”Ya. Makasih ya Bi!”
          Beberapa menit kamudian Reka masuk ke kamar Zaskia dengan wajah sembab seperti habis menangis. Reka memeluk Zaskia erat. Zaskia bingung akan sikap sahabatnya itu. Ia bertanya kenapa Reka menangis. Reka berusaha untuk menceritakan semuanya, namun ia tak mampu melakukannya. Reka tak ingin sahabatnya sedih.
          ”Reka ada apa?” Tanya Zaskia bingung.
          ”Aku nggak bisa jelasin semua ini. Semuanya terlalu rumit. Semoga
           surat Richi bisa menjelaskan semuanya.” Kata Reka terbata-bata.
          ”Richi? Mungkin ia ingin memberiku kejutan untuk hari istimewa ini.”
          Zaskia sangat bahagia mendapatkan surat dari Richi. Ia melihat amplop surat biru dan secarik kertas merah muda didalamnya. Zaskia mulai membaca surat itu dengan seksama. Paras wajahnya berubah setelah membaca surat itu. Raut wajahnya memperlihatkan duka yang sangat dalam dan matanya sembab, hampir menangis.
          Kini Richi telah meninggalkannya untuk selamanya. Pria yang membuatnya selalu bahagia kini tlah tiada. Surat dari Richi itu berbunyi:
          Zaskia, mungkin saat kau membaca surat ini, aku tlah pergi jauh. Aku sangat bahagia dapat mengenalmu. Kau telah membuatku mengerti apa itu cinta. Cinta yang mampu memberiku semangat untuk hidup. Kau juga telah membuat hidupku lebih berwarna. Kia, walaupun aku mencintaimu tapi aku tahu, takdir kita berbeda. Aku mengidap kanker otak stadium 3. Aku tahu umurku sudah tak lama lagi, Kia. Aku takut memberitahumu karena aku tak mau membuatmu sedih. Aku tak bisa melihatmu sedih hanya karna seorang pria tak sempurna sepertiku. Aku ingat jika kita pernah membuat janji sehidup semati. Tapi, ku mohon jangan kau jalankan janji itu. Lupakan semuanya, Kia. Umurmu masih panjang, masa depanmu cerah, dan aku bukanlah pria satu-satunya yang mencintaimu. Ku mohon lanjutkanlah hidupmu. Jika kau tak bisa hidup tanpaku, aku rela kau melupakanku dan seluruh kisah cinta kita untuk selamanya. Kia, apa kamu tahu arti true love never die? Kalimat itu mengungkapkan perasaanku padamu. Satu hal yang harus kau tahu kalau aku masih mencintaimu dan aku ingin kau bahagia walaupun kebahagiaanmu bukan bersamaku. Mungkin tubuhku memang tak lagi ku miliki tapi, aku yakin perasaanku padamu tetap akan merekat pada rohku kemanapun aku pergi. Aku akan mencintaimu untuk selamanya Zaskia.
                                                                   From  :         Richi.

          Dengan berburai air mata, Zaskia keluar rumah dan meninggalkan Reka di kamarnya. Ia menyetir mobilnya dengan kecepatan tinggi.
’Kamu jahat Richi. Hari ini seharusnya jadi hari bahagia buat kita. Tapi
 kamu justru pergi meninggalkan aku!’ Fikir Kia sedih.
Saat di tikungan, ada sebuah truk pengangkut pasir yang mogok. Zaskia tak dapat mengendalikan laju mobilnya. Zaskia membanting setir dan masuk ke dalam jurang sedalam 15 meter. Warga sekitar berusaha menolongnya, tapi kondisinya kritis. Satu minggu Kia koma di rumah sakit. Saai ia tersadar, kondisinya sangat lemah. Ia melihat banyak orang mengerubunginya. Ia melihat orang tuanya ada di sampingnya. Ia berkata kepada orang tuanya.
          ”Ibu,Ayah maafkan aku. Aku tlah merepotkan kalian.Terima kasih
           atas semuanya. Kia sayang ayah dan ibu. Tapi Kia harus mengejar
 orang yang Kia sayangi. Kia sudah tidak kuat lagi Ayah. Maafkan Kia  
 ayah, Ibu!”Bisik Kia terbata-bata.
          ‘Richi, tolong tunggu aku. Aku mencintaimu, maaf jika aku tak
           menuruti permintaanmu tapi aku hanya bisa mencintaimu. Tolong
 tunggu aku. Aku akan menyusulmu ke sana. Semoga kisah cinta kita          
 abadi seperti Romeo and Juliet walaupun kita tlah tiada.’ Pikir Zaskia.
          Beberapa detik kemudian Zaskia tak sadarkan diri. Dokter tlah melakukan apapun untuk menolongnya. Tapi, rohnya telah menolak untuk kembali hidup. Zaskia telah tiada. Orangtuanya menangis histeris.
Orangtuanya memutuskan untuk memakamkannya disebelah makam Richi agar Richi dan Zaskia dapat selalu bersama. Reka sering menjenguk ke dua makam sahabatnya itu.
”Richi, Kia! Entah kalian bisa mendengarku atau tidak? Tapi aku
 selalu berdoa agar kalian selalu bersama!” Kata Reka berdoa.
          Di alam sana, Zaskia dan Richi tersenyum mendengar doa yang dipanjatkan Reka. Mereka berdoa agar Reka mendapatkan kebahagiaan dalam hidupnya.

Kakak Beradik Bermangkuk Kecil

           Matahari bersinar terik. Jalanan di ibukota telah ramai oleh kendaraan yang berlalu lalang. AC mobilku tak mampu mengurangi teriknya matahari siang itu. Ingin rasanya berdiam diri di rumah, namun aku sudah terlanjur berjanji untuk menemani mamaku pergi ke Kramat Jati.

            Mama memacu mobil dengan kecepatan 20 km/jam. Maklum, di sepanjang jalan sedang ada proyek penggalian yang membuat laju kendaraan tersendat.

            ‘Kapan nyampenya sih?’ Pikirku dalam hati.

            Mataku menyipit karena sinar mentari telah menyilaukan mataku. Kemacetan yang terjadi telah membuat emosiku bergejolak. Terlebih lagi, udara panas hari itu turut membantu naiknya emosiku. Aku hanya mampu bergumam di dalam mobil. Sementara mamaku masih berharap kalau sebentar lagi jalan akan lengang.

            Entah keajaiban apa yang terjadi, deretan mobil di hadapan kami mulai bergerak sedikit demi sedikit. Ternyata, proyek galian itu hanya sampai jarak 15 meter dari mobil kami. Setelah melewati proyek galian itu, mama memacu mobil dengan kecepatan 60 km/jam. Lima belas menit kemudian, kami tiba di pasar Kramat Jati. Kami segera menuju toko obat langganan mamaku. Manta, pemilik toko obat itu segera menyambut kami.

            “Pesananku mana Manta?” Tanya mama.

            “Ini tante.” Jawabnya seraya memberikan sebuah plastik yang penuh dengan obat.

            “Hmmp.. Ada tambahan nih Manta.” Kata mamaku sambil menyerahkan daftar

              obat tambahan.

            “Sebentar tante, aku cari dulu di gudang.” Kata Manta.

            Selama Manta pergi, selama itu pula aku melihat ke arah jam tanganku. Jarum jam yang terus berdetik membuatku jenuh. Lima menit, sepuluh menit, lima belas menit telah berlalu, namun Manta tak kunjung kembali. Sesekali aku menoleh ke arah jalan yang tadi ia lewati. Namun, tetap saja batang hidungnya tak kunjung terlihat.

            ‘Manta kemana? Apa ketiduran di gudang? Kok lama banget?’

            Kalimat itu memenuhi benakku. Kini, aku terlihat bodoh dengan semua pikiran konyol itu. Mana mungkin Manta tertidur di gudang yang penuh dengan obat-obatan? Beberapa saat kemudian, aku mulai tertawa dalam hati. Tentunya, aku menertawakan diriku sendiri. Aku semakin jenuh menunggu Manta. Lalu aku memutuskan untuk bermain game di telepon genggamku.

            Semakin lama aku bermain game, semakin membuat rasa jenuhku bertambah. Cukup lama aku bermain game, dan apa yang kurasakan? Aku justru merasa kalau rasa jenuhku telah menyentuh ambang maximal. Aku mulai memasang wajah masam yang menandakan kalau aku terlalu lelah menunggu.

            Aku menyandarkan kepalaku di tembok. Mataku menerawang jauh. Pikiranku terbang entah kemana, yang pasti aku ingin segera menyingkirkan semua rasa jenuh ini. Aku ingin segera pulang dan menikmati segelas lemon tea dirumah.

            ‘Akhhh!! Kenapa kemarin aku berjanji untuk menemani mama sih? Duh, dasar bodoh! You’re a big mouth Salma! Andai saja waktu itu aku tidak janji akan menemani mama, aku pasti sedang bersantai di rumah. Aku bisa tidur dan tidak harus tersengat teriknya matahari siang ini. Menikmati segelas lemon tea dan menyandarkan tubuhku di kasur yang empuk. Akh, penyesalan memang selalu datang belakangan.’
       
             Aku terduduk lunglai, menyesali semua yang kukatakan. Kini, aku hanya mampu menjalani semua kejenuhan yang menjadi akibat dari mulut besarku. Mataku menerawang, membuat aku seperti melihat diriku di rumah. Diriku yang sedang menonton televisi dengan segelas lemon tea disampingku. Oh, betapa menyesalnya aku. Saat membayangkan semua itu, terdengar suara dari arah perutku.

            “Kruyuk... kruyuk”

            Astaga, aku lupa sarapan pagi ini. Sekarang perutku berteriak meminta pertanggung jawabanku untuk mengisinya. Mama dan beberapa orang yang ada di toko obat itu menoleh ke arahku. Aku tersipu malu, wajahku memerah.

            “Sebesar itukah suara yang ditimbulkan perutku hingga membuat semua orang menoleh kesini? Apa salah kalau perutku berbunyi? Manusiawi kok, kalau nggak pernah bunyi baru dipertanyakan!” Kataku menggerutu sendiri.

            ‘Aku lapaaar!!’ Teriakku dalam hati.

            Mama menoleh ke arahku dan memperlihatkan senyuman kecil di wajahnya. Aku merasa kalau mamaku mengetahui apa yang kurasakan. Beberapa saat kemudian, Manta kembali dengan membawa sebuah kardus yang penuh dengan obat-obatan. Saat itu juga wajahku yang masam berubah cerah. Akhirnya aku bisa pulang. Namun, kata-kata yang dilontarkan oleh mulut mama, segera menghancurkan asaku untuk pulang.

            “Beli stethoscope sama tensi meter dimana ya Manta?” Tanya mama.

            “Wah, aku kurang tau. Tapi kayaknya sih di seputar sini ada.” Kata Manta.

            “Ma, makan dulu bisa ngga?” Kataku memohon. Saat itu, aku memasang wajah

              innocent yang mungkin menjadi salah satu wajah terkonyol sedunia.

            “Nanti ya, kalau stethoscope sama tensi meternya udah ketemu, kita langsung

              makan.” Kata mama sambil mengacak-acak rambutku. Aku mengangguk.

            Aku menemani mamaku berkeliling. Satu persatu toko kami datangi, namun jarang sekali yang menjual kedua benda itu. Rasanya, sudah lama sekali kami mencari namun kami tak kunjung mendapatkan kedua benda tersebut. Rasa laparku semakin memuncak. Kini bukan hanya lapar yang kurasakan namun, pusing dan perutku terasa perih. Wajahku memucat. Semakin kupaksakan berjalan, semakin terasa berat di kepalaku. Pandanganku membuyar sesaat, aku semakin merasa pusing.

            Aku mencoba membujuk mamaku lagi untuk mengantarku makan namun, mamaku menolak. Alasannya karena kami belum menemukan kedua benda tersebut. Emosiku mencapai puncak. Aku sangat marah karena mamaku lebih mengutamakan usahanya dibanding aku. Kini telingaku seperti mendengar dua buah bisikan yang saling bertolak-belakang. Bagaikan perkataan antara malaikat melawan setan.

            “Udah, tinggalin aja mama kamu. Dia juga ngga mau nganter kan?” Bisik setan di

              telinga kiriku.

            “Jangan! Kamu kan sudah janji mau menemani mamamu dulu, baru makan. Janji

              tepatin dong!” Balas malaikat di telinga kananku.

            Aku bingung memilih, namun akhirnya setanlah yang menang. Aku memutuskan untuk meninggalkan mamaku.

            Dengan emosi yang meluap-luap, aku memutuskan untuk meninggalkan mamaku dan mencari tempat makan disekitar situ. Beruntungnya, aku sedang membawa uang tabunganku.

            ‘Terus aja mentingin bisnis, lupain aja aku! Yang ada di kepala mama cuma bisnis, bisnis dan bisnis. Aku sakit aja mama ngga peduli! Cuma nganter makan aja ngga mau, paling berapa lama sih? Ngga akan nyampe seumur hidup kan!’ Kataku dalam hati.

            Saat sibuk mencari tempat makan, aku melihat ada seorang gadis kecil yang sedang menenangkan adiknya yang tak henti-hentinya menangis. Gadis kecil itu kira-kira berumur 9 tahun. Adik yang ada dalam gendongannya terlihat menangis karena lapar. Saat ada seorang ibu lewat di hadapan mereka, gadis kecil itu segera mengangkat mangkuk di hadapannya dan berharap belas kasih dari ibu tersebut. Aku memutuskan untuk menghampiri kakak beradik itu. Saat aku mendekat, gadis itu kembali mengangkat mangkuk.

            “Tolong kak.. Kami lapar.” Kata gadis itu sambil tetap mendekap adiknya yang

            menangis.

            “Kalian lapar? Kalian mau ikut kakak? Kebetulan, kakak juga mau makan.”

            Kataku membungkuk ke arah mereka duduk.

            “Kakak serius? Mau kak, mau!” Kata gadis itu semangat.

            Anak itu menggandeng tanganku. Adiknya tetap menangis di dekapannya. Berulang kali sang kakak mencoba menenangkannya. Namun, setiap kali sang kakak mencoba menenangkannya, adiknya justru semakin menangis. Kami berputar-putar di sekitar pertokoan itu untuk mencari sebuah tempat makan. Tak lama kemudian, kami melihat sebuah warung soto yang ramai pengunjung.

            ‘Kelihatannya, tempat itu bersih dan pengunjungnya pun juga ramai. Mungkin makanannya enak. Aku coba makan disana saja.’ Pikirku.

            Aku segera mencaari tempat duduk di warung itu namun, kedua kakak beradik itu hanya terdiam membisu diluar. Mereka sepertinya enggan memasuki warung soto ini. Sang kakak hanya melihat pengunjung yang sedang makan sambil menelan ludah sedangkan sang adik tetap terus menangis. Aku mengajak mereka masuk, namun mereka menolak. Walaupun mereka menolak, aku tetap memaksa mereka untuk makan bersamaku. Aku menarik kedua tangan sang kakak dan dengan sedikit paksaan itu, akhirnya ia mau duduk di sebelahku. Aku memesan dua porsi soto. Awalnya, aku ingin memesan tiga, namun aku berpikir sepertinya adik gadis itu baru berumur 3 tahun dan anak berumur segitu tidak mungkin memakan makanan berat. Saat soto dihidangkan, gadis itu hanya terdiam seribu bahasa, ia memandangi mangkuk soto dihadapannya.

            “Ayo makan!” Kataku menyodorkan sendok ke arahnya.

            “Ga papa nih kak?” Katanya memandangku. Mata sayunya telah membuatku

              semakin iba.

            “Ya nggak papa kok. Ayo makan, kasihan adek kamu nangis terus.” Kataku.

            Gadis kecil itu segera melahab makanannya. Adiknya tertidur, mungkin karena lelah menangis. Selama makan kami bercerita tentang diri kami masing-masing. Nama gadis kecil itu adalah Nita, sedangkan adiknya bernama Ikhsan. Kedua kakak beradik itu ternyata tinggal bersama neneknya. Mereka 3 bersaudara. Kakak tertua mereka bekerja sebagai buruh serabutan di pasar. Orang tua mereka baru saja meninggal karena sakit. Nenek mereka berprofesi sebagai peminta-minta juga. Pendapatannya pun tak menentu. Terkadang mereka makan, tetapi lebih sering berpuasa.

            “Kakak enak ya. Orang tua masih lengkap dan mereka termasuk kalangan yang berada. Setiap kakak ingin sesuatu pasti tidak susah meminta pada orang tua. Sedangkan aku, ingin makan saja susah. Sehari makan, dua hari tidak. Orang tuaku aja ingin berobat tidak ada biaya sampai mereka meregang nyawa di gubuk reyot kami. Kakak pasti rumahnya bagus, ngga bocor kaya rumah Nita. Coba Nita seperti kakak!” Kata Nita hampir menangis.

            ‘Tuhan, aku bahkan tidak ingat seberapa beruntungnya aku. Orang tua yang masih lengkap, fasilitas yang mendukungku belajar, dan meminta apapun tidaklah susah. Padahal masih banyak yang kurang beruntung di banding aku.  Selama ini, aku merasa kedua orangtuaku lebih memilih kerjaan daripada aku dan kakakku. Namun, kini aku menyadari kalau semua yang kurasakan salah. Mereka bekerja untuk kami. Agar kami bisa bersekolah setinggi-tingginya. Setiap ada sesuatu yang kuinginkan, dengan mudah aku memaksa mereka membelikannya tanpa ku tahu betapa sulitnya mencari uang. Aku pun sering menolak setiap mama meminta bantuanku. Padahal, mama tak menolak saat harus bertarung antara hidup dan mati untuk melahirkanku. Tuhan maafkan aku yang lupa bersyukur selama ini.’ Sesalku dalam hati.

            “Kakak kenapa diam? Nita salah ngomong ya kak? Maaf ya kak. Tapi Nita bener-bener mau jadi kakak. Kalau Tuhan memberi kesempatan, Nita ingin sekolah lagi. Nita ingin memperbaiki hidup Nita, agar kelak keluarga Nita ngga seperti Nita sekarang.” Kata Nita menunduk.

            ‘Selama ini, aku masih bisa sekolah karena kedua orang tuaku. Tapi apa balasanku? Aku justru enggan bangun pagi untuk ke sekolah. Saat mereka mencoba membangunkanku, aku sering membentak mereka.’

            Penyesalanku semakin mendalam. Aku ingat, betapa mudahnya aku meninggalkan mama yang kebingungan mencari stethoscope dan tensi meter. Padahal, seingatku mama juga belum makan. Apa mama akan marah? Tapi, mama memang berhak marah padaku.

            Setelah makan, aku membayar semua makanan itu. Ternyata, uangku masih tersisa beberapa puluh ribu. Aku memberikan sisa uangku kepada Nita. Awalnya Nita menolak, namun aku memaksa dengan alasan uang ini bisa untuk membeli bubur adiknya dan juga membeli lauk yang cukup untuk makan hari ini. Nita dan adiknya pergi setelah menerima uang dariku.

            Aku mencari mama ke toko obat langganannya. Dan ternyata benar, mama disitu. Mama sudah siap marah kepadaku karena aku menghilang tanpa kabar. Mamaku mencoba menghubungi handphoneku namun tak ku jawab. Sebelum ia marah kepadaku, aku memeluknya dan meminta maaf akan sikapku selama ini. Mama bingung akan sikapku kali itu, aku tak pernah mau dipeluknya namun kali ini justru aku yang memeluknya. Amarah mamaku teredam. Ia bilang kalau ia telah memaafkanku. Dan mama mengajakku pulang. Kedua benda itupun sudah terbeli.

            Saat dijalan pulang, aku merasa hari ini aku mendapat pelajaran tentang hidup. Bukan dari guru atau kedua orang tuaku. Namun dari seorang gadis kecil yang telah mengajarkanku kalau hidup akan lebih berarti jika bisa membahagiakan yang lain, bukan kita yang membahagiakan diri kita karena kemewahan yang kita miliki.

             Mataku menerawang ke arah langit biru. Saat itu, aku seperti melihat wajah Nita yang sedang tersenyum kearahku. Aku ingat semua permohonan yang ia kataka.

            ‘Terimakasih teman keciku. Semoga suatu saat nanti, kamu benar-benar mampu merubah nasib keluargamu kearah lebih baik.’ Doaku dalam hati untuknya.

  

***Tamat***

 

 

Pesan Penulis :

Jangan pernah menganggap bahwa kamu adalah orang yang paling tidak beruntung di dunia, karena jauh dari perkiraanmu masih banyak orang yang tidak beruntung. Syukurilah hidupmu bagaimanapun keadaannya.

Last Time


          Matahari enggan menampakkan dirinya. Hawa dingin terasa menusuk kulit tubuhku. Tetasan air telah mengembuni jendela kelasku. Aku menoleh ke sudut ruang kelasku, terdapat sebuah jam dinding di sana. Waktu menunjukkan pukul 3.25 sore. Teman-temanku sudah pulang, hanya tersisa beberapa anak. Sunyi dan sepi rasanya.
          ’Hujan lagi’ Fikirku.
          Beberapa temanku sedang berlari-larian di kelas. Kelasku kembali gaduh karenanya. Tiba-tiba sesuatu melesat ke arahku.
          ’Dugg’
          Sebuah bola kasti melesat tepat ke arah pipiku. Bola itu mencium pipiku tanpa sempat aku menghindar.
          ”Aw, hati-hati! Ini bolanya!” Kataku pada seorang temanku.
          ”Maaf Chard! Kami tidak sengaja! Mau ikut main?” Ajak Toni.
          ”Tidak, aku sedang malas bermain!” Kataku melemparkan bolanya.
          ”Ya sudah, terima kasih!” Jawab mereka serentak.
          Aku hanya mengangguk, tanda sama-sama. Hujan deras telah menghadangku untuk pulang. Aku hanya bisa melamun dan memandangi jendela kelasku yang buram karna embun. Suara seseorang telah memecah lamunanku. Itu suara sahabatku Nita.
          ”Richi...... Vey mau ngasih sesuatu ke kamu nih!!!!” Teriak Nita.
          ”Ada apa sih Nit? Kok kamu teriak-teriak gitu?” Jawabku.
          ”Udah cepet sini... sebelum Vey berubah pikiran!!!” Teriak Nita.
          Aku berlari ke arah lorong. Aku takut terjadi sesuatu pada Nita. Di lorong, aku melihat Vey sedang mencoba untuk merebut sebuah bungkusan berwarna biru muda dari tangan Nita. Nita mencoba untuk mempertahankannya.
          ”Vey,,,,kamu ngapain???” Kataku pelan.
          ”Nita ngambil kado aku.” Kata Vey menjawabku singkat.
          ”Nit,, kamu tu apa-apaan sih!! Balikin, Nit!!” Pintaku ke Nita.
          ”Ini itu buat kamu Chi,,, dari Vey. Dia nggak berani langsung kasih
           ke kamu. Tangkap ini Chi!!” Teriaknya seraya melemparkan bungkusan
           itu padaku.
          Belum sempat aku menangkap bungkusan itu, Vey telah menangkapnya terlebih dahulu. Dan terdengar suara yang cukup keras. Dan membuat miris telingaku.
          ’PLAAKKK!!’
          ’Vey,,,, Dia menampar Nita!!’ Pikirku.
          Aku terkejut melihat apa yang dilakukan Vey. Vey terkenal sabar di sekolahku tapi baru saja dia menampar Nita.
          ”Kamu tu apa-apaan sih Nit?? Kamu mau membuatku malu!! Aku fikir
           kamu sahabat yang baik, tapi aku salah!!! Persahabatan kita cukup                  sampai di sini. Mulai sekarang kamu bukan lagi sahabatku. Aku benci                  sama kamu Nita!.” Bentak Vey.
          ”Maafin aku Vey, aku cuma mau bantu kamu. Aku minta maaf kalau
           caraku salah dan buat kamu malu. Tapi aku nggak ada maksud Vey. Aku
           mohon jangan benci aku Vey!” Isak Nita, ia mulai menangis.
          ”Udah deh,, semua yang kamu omongin itu busyit! Buat apa kamu                      nangis? Air mata kamu nggak akan buat aku luluh!” Bentak Vey.
          Air mata Nita semakin deras mengaliri pipinya. Aku tak ingin melihat sahabatku menangis. Tapi, aku juga nggak mau mencampuri urusan mereka berdua.
          ”Udah! Ini Cuma masalah kecil, nggak perlu di besar-besarin!” Kataku.
          ”Maafin aku Vey! Aku...” Tangis Nita. Belum sempat ia menyelesaikan
           kalimatnya, Vey tlah membentaknya terlebih dahulu.        
          ”Stop,, cukup Nit. Aku udah nggak mau mendengar apa-apa lagi dari
           kamu. Aku benci sama kamu! Mulai sekarang aku bersumpah kalau aku                      nggak akan ngomong atau memperlihatkan wajah aku di hadapan kamu                     aku bersumpah Nit!” Teriak Vey meninggalkan Nita dilorong.
          Nita berlari mengejar Vey. Baru kali ini aku melihat Vey begitu marah pada sahabatnya sendiri. Aku tak mau mencampuri urusan mereka berdua. Aku tak bisa berbuat banyak untuk Nita karena aku tak begitu mengenal Vey. Sesaat aku terdiam di lorong, Jam menunjukkan pukul 3.45 sore. Suara tetesan air hujan masih terdengar samar-samar.
          ’Mungkin hujannya telah reda’ Pikirku.
          Aku harus pulang. Aku pulang melalui jalan belakang sekolah. Jalan itu lebih dekat daripada aku harus memutar melewati jalan depan.
          Sesampainya aku di gerbang rumahku. Aku melihat Vey membawa bungkusan yang tadi ia perdebatkan dengan Nita. Wajahnya pucat, tetapi ia masih mencoba untuk tersenyum padaku.
          ”Sore Richi... Maaf aku mengganggumu.” Katanya pelan.
          ”Nggak apa-apa kok. Ada apa Vey? Kamu udah baikan sama Nita?
kasihan dia menangis terus!” Tanyaku.
Dia menunduk. Aku melihat setetes demi setetes air jatuh membasahi pipinya.
’Ia menangis’ Kataku dalam hati.
Aku merogoh sakuku. Aku memberikan sapu tanganku padanya. Aku tak dapat melakukan hal lain selain itu, ya setidaknya ia bisa menyeka air matanya.
”Aku ingin meminta maaf padanya. Tapi semua sudah terlambat.Ku    
 mohon sampaikan maafku padanya. Aku merasa bersalah. Aku                                                                                                   
 tahu ia hanya ingin menolongku, tapi aku tak suka caranya. Aku sangat    
 ingin meminta maaf padanya. Ini untukmu, aku yang menghiasnya
 sendiri.” Seraya memberikan bungkusan itu padaku.
”Terima kasih, akan kusimpan baik-baik!” Kataku
”Aku pergi dulu ya.. Selamat tinggal Richi!!” Katanya lembut padaku.
          Entah kenapa saat ia pergi, aku seperti melihat sepasang sayap di punggungnya. Ia meninggalkanku yang terpaku di gerbang karnanya. Saat itu kulihat jam tanganku menunjukkan pukul 4 sore.
Di dalam rumah, ku buka bungkusan itu perlahan-lahan. Bungkusan itu berisi CD dan jam pasir. CD itu berisi lagu My Heart Will Go On yang di putar berulang-ulang. Di CD itu aku melihat sebuah kalimat yang di tulis dengan spidol biru. Tulisan itu berbunyi, Happily Ever After. Aku tak memiliki hubungan istimewa dengannya, tapi sesungguhnya aku memiliki sedikit cintaku untuknya.
          Saat sedang mendengarkan lagu itu. Aku merenung, aku akan memintanya untuk menjadi kekasihku besok. Kini aku tak perlu takut untuk menyatakan cintaku padanya, karna entah kenapa aku merasa ia juga memiliki perasaan yang sama denganku.
Suatu getaran tlah memecah lamunanku. Hand phoneku berdering. Nita menelfonku. Semua bayang-bayang kebahagiaanku sirna. Aku terdiam saat aku mendengar Vey tewas dalam kecelakaan jam 4 sore tadi. Nita menceritakan seluruh kejadiannya.
”Richi, Vey... dia udah...” Kata Nita ter-isak.
”Vey kenapa Nit?” Tanyaku.
”Vey udah nggak ada Chi, dia meninggal karena kecelakaan jam 3 sore              tadi. Aku ingin memberitahumu tapi, kamu sudah pulang!” Katanya.
”Apa?? Nggak mungkin Ta! Vey baru aja dari rumah aku!” Kataku tak
 percaya.
”Tapi itu bener Chi! Tadi waktu aku ngejar dia ke jalan depan sekolah,            tiba-tiba dari arah berbeda ada mobil dengan kecepatan tinggi, mobil                itu langsung menabrak Vey.” Cerita Nita panjang lebar.
”Nggak mungkin!” Sanggahku tak percaya.
”Apa bungkusannya ada padamu? Karena di samping tubuhnya, aku tidak           menemukan bungkusan itu!” Kata Nita kaget.
”Ya, Vey yang memberikannya padaku di gerbang rumahku tadi.” Kataku.
”Mungkin, ia merasa hadiah itu menjadi beban baginya jika ia tidak                  memberikannya padamu. Chi, walaupun Vey udah nggak ada, tapi cintanya     buat kamu masih dia bawa.” Kata Nita padaku.
”Nit, Vey bilang, dia sebenarnya mau meminta maaf padamu. Tapi ia
 Tidak sempat mengucapkannya. Ia menyesal. Apa kamu mau
 memaafkannya?” Tanyaku penuh harap Nita mau memaafkannya.
”Tentu, dia sahabatku Chi!” Suaranya agak bergetar.
Kini, Nita telah menutup telfonnya. Tak kurasa, setitik demi setitik air mataku jatuh membasahi pipiku. Aku tahu, aku laki-laki dan seharusnya aku tak boleh menangis seperti ini, aku tak boleh cengeng. Tapi, apa salah jika aku menangis karena orang yang ku cintai pergi untuk selamanya?
Vey menghampiriku untuk memberikan hadiah atas perasaannya padaku untuk yang terakhir kalinya. Tak kusangka, pertemuan aku dan dia di gerbang tadi itu, telah menjadi pertemuan terakhirku dengan orang yang ku cintai. Di antara tangisku, aku berdoa untuk Vey.
’Vey tenanglah kamu di sana. Aku telah menyampaikan pesanmu pada Nita. Nita telah memaafkanmu Vey. Andai aku berani mengungkapkan perasaanku padamu lebih cepat. Mungkin kau tidak akan pergi secepat ini dan kau bahagia disini. Ingin rasanya ku putar waktu dimana kau masih disini dan bermain bersama kami, dan jika aku tahu kita memiliki perasaan yang sama, dan aku berani mengungkapkannya mungkin, kamu akan tersenyum bahagia disana. Selamat jalan Vey. Pergilah dengan tenang. Aku mencintaimu.’ Doaku untuk Vey.