Sabtu, 01 Maret 2014

I'm Trying



          Kamu, ya kamu. Sosok yang menurutku begitu sempurna. Tetap ada kekurangan, namun itulah menyempurnakanmu.

          Diam, kata itu yang menjadi landasan berpikirmu mengenai kasih. Mengasihi dalam diam. Dan mencintai dalam diam. Entah dapat kekuatan dari mana untuk bertahan dengan prinsip itu. Tapi kamu mencoba, selalu mencoba. Satu hal yang membuatku salut.

          Mencintaimu, berarti aku harus mencocokkan prinsip yang ku miliki dengan prinsip yang kau miliki. Prinsip yang jelas sekali kontras. Prinsip yang saling bertolak belakang. Aku, hanya seseorang yang berusaha memendam asa pada gadis sepertimu. Ya, memendam, bukan mencoba mengasihi dalam diam seperti yang kau lakukan.

          Perlahan lahan, sedikit demi sedikit, lagi dan lagi. Asa itu ku pupuk sedemikian rutin. Kini aku hidup dalam dua sisi. Berdamai dengan asa ku untuk memilikimu dan menahan batin yang dilanda gemuruh rasa takut. Takut ini bagai ombak, bukan hanya karena satu alasan. Aku takut, takut tak bisa menahan semua asa ku terhadap mu, takut melukai mu, terlebih aku takut tak mampu memiliki mu.

          Ingin ku ucapkan, dengan segala kejujuran yang telah ku kubur selama ini, bahwa aku mencintaimu. Tapi bibir ini begitu sulit mengucapkannya. Lidah ini kelu setiap ingin memulai mengatakannya. Dan kata-kata itu kembali tertelan bersama ludah dan kegelisahan. Kembali tembok itu memisahkan aku dan kamu. Ya, tembok rasa takut yang ku ciptakan sendiri. Tembok yang tercipta dari persekongkolan, antara batin yang gelisah dan benak yang kalut.
***

          Hari ini, mulai pagi ini, seperti biasa, hanya mataku yang mampu berkata. Andaikan sikap diam mu tak membunuh kepekaan mu. Mungkin saat ini kau akan menoleh padaku, menatap lurus terhadapku, dan membaca semua gambaran dari sorot mataku. Dan ku harap setelah itu, kau akan tersenyum padaku.

          Semuanya tak tertahankan. Asa ini, rasa sayang ini, semakin mencapai batasnya. Semua itu tinggal menunggu waktu untuk menyeruak ke permukaan. Aku merasakannya, jelas merasakannya. Karena aku yang selama ini selalu menimba asa dan rasa sayang itu.

          “Aku menyukaimu, sangat menyukaimu. Kau berbeda dari mereka. Entah mengapa, bagiku hanya ada satu yang sepertimu. Yaitu dirimu sendiri. Tak ada jenis gadis lain, yang mampu menyamai posisimu di mataku saat ini. Atau, mungkin selamanya, selama kita masih bertemu.”

          Mataku melirik ke arahnya. Ke arah seorang gadis yang tengah tersenyum bersenda gurau. Bagiku dia begitu lugu, jelas lebih lugu dariku mengenai masalah cinta. Ia murni, satu hal lain yang membuatku takut untuk mengutarakan perasaanku padanya.

          “Mengapa? Mengapa kamu harus begitu berbeda dari perempuan lain? Mengapa aku harus merasa bahwa kamu istimewa? Entah apa yang telah kau lakukan, atau sihir apa yang tengah ku percikan pada diriku sendiri. Kau selalu mapu membuatku tenang. Entah, mungkin untuk saat ini, perbedaan antara tenang dan gelisah semakin terasa tipis. Senyum mu, gelak tawa mu, bahkan keheningan mu mampu membuatku terpaku. Ah, mengapa aku harus jatuh dalam cengkraman kasih seperti ini. Kasih yang membuatku selalu merasa takut.”

          Tak ada lagi yang namanya fokus pada satu. Kalau pikiranku mampu diproyeksi, mungkin bukan hanya di sumbu x dan y. Namun pikiranku telah merambah kemana-mana. Mungkin kalau pikiranku dapat dilukis, kalian akan melihat pikiranku terlukis dalam bentuk akar, yang merambah kesetiap celah bebatuan. Ya, itu lah pikiranku. Tak mampu fokus pada satu hal. Bahkan, gadis itu telah mampu memecah benakku menjadi beberapa cabang.

          Entah mengapa aku harus bertemu dengannya. Disaat dimana aku seharusnya memikirkan pendidikan, yang akan membawaku ke masa depanku. Tapi aku yakin, Tuhan memiliki rencana tersendiri dengan mempertemukan aku dengannya. Mungkin dia akan menjadi semangat tambahanku, ya mungkin. Atau mungkin, Tuhan ingin aku berkenalan dengan jodohku, yang ini juga mungkin, dan semoga saja yang ini benar.

          Pendidikan, gadis itu, serta cita-citaku. Ah! Semua hanya memperkeruh benakku. Ingin aku melepas penat dengan melepaskan semua pikiran itu. Namun sia-sia. Mereka saling terkait satu sama lain. Biar ku perjelas pada kalian semua. Apabila pendidikanku sekarang lancar, nilaiku bagus, kemungkinan besar aku akan meraih cita-citaku, impianku. Dan kemungkinan besar, lidah ini tak akan kelu lagi untuk mengatakan pada gadis itu, bahwa aku mencintainya. Karena aku bukan lagi anak sekolah yang masih bertopang hidup pada orang tua.

Satu-satunya hal yang mungkin dapat kubanggakan pada gadis itu kelak, yaitu aku bukan lagi anak yang ditopang oleh keluarga. Tapi aku adalah seorang pria yang akan mampu menopang hidup ku dan keluarga kecilku bersamanya. Tuhan, andai aku mampu mengatakan itu. Namun saat ini, aku masih bukan siapa-siapa. Langkahku masih jauh untuk mendapatkan semua angan itu, Tuhan. Namun aku tak ingin menyerah. Tolong bantu aku, Tuhan. Bantu aku membangun langkahku tanpa harus membunuh asa ku pada gadis itu.
***

          Setelah sekian lama, akhirnya aku mampu mengatakan perasaanku padanya. Setelah terkumpul sekian lama. Mungkin bukit telletubies pun kalah tinggi dengan bukit asa yang ku ciptakan. Memang tidak langsung ku katakan. Namun aku mengisahkan perasaanku dalam bentuk tulisan singkat. Tulisan yang kalian sebut dengan chat.

          Aku tak mengatakan langsung bukan karena aku seorang pengecut. Dan bukan juga karena aku takut ditolak. Aku tak mengatakan langsung, karena aku tak tahu ekspresi apa yang akan ia torehkan begitu mendengarnya. Aku takut, kejujuranku membuatnya kurang nyaman. Dan tentunya aku tak ingin melihatnya merasa kurang nyama karena ku. Ya, lagi-lagi semua yang kulakukan dilandasi dengan rasa takut.

          Keputusan untuk mengatakan semuanya, juga dilandasi oleh ketakutan. Aku takut kehilangannya, dan aku takut tak mampu menerika sesak, jikalau aku tahu seseorang berhasil memenangkan hatinya. Semua asa yang ku tumpuk membuat aku merasa bahwa seharusnya ia miliku, entah kapan, tapi ia akan menjadi milikku.

Jawabannya membuatku tertegun, membuatku tergantung. Ia berkata bahwa ia suka pada ku karena kebaikanku. Entah apa maksudnya, apakah ia mencintaiku atau hanya sekedar mengagumi kebaikanku. Ah! Siapa yang tahu! Mungkin hanya dirinya dan Tuhan yang mengetahui apa makna kalimat itu.

Jawaban itu juga yang memancingku untuk melakukan tindakan yang lebih. Ya, lebih. Aku mulai belajar mencintai gadis itu dengan cara umum. Dengan prinsip umum yang berbeda dengan prinsipnya. Dan semua itu membuahkan hasil, kini terlihat jelas apakah gadis itu peduli padaku atau tidak. Kini aku merasa, bahwa gadis itu mencintaiku, bukan hanya sekedar mengagumiku. Ia mengatakannya padaku. Secara tersirat ia mengatakan perasaannya padaku, jawaban atas perasaanku padanya. Satu hal yang telah melanggar prinsipnya.

Kini aku bingung, aku ragu. Aku telah mengetahui bahwa ia memiliki rasa yang sama terhadapku. Tapi entah kenapa, aku justru merasa bahwa aku melakukan kesalahan fatal. Membuatnya melanggar prinsipnya, seolah aku laki-laki paling kejam yang pernah ia kenal. Mungkin, ia pernah mencintai laki-laki lain sebelum aku. Namun, hanya aku yang membuatnya melanggar prinsipnya.

Aku merasa bersalah. Seharusnya aku yang mengikuti prinsipnya, untuk mencintai dalam diam hingga waktu yang tepat. Bukan justru menariknya untuk mengikuti prinsip gadis lain pada umumnya. Menariknya perlahan, untuk menerobos batas prinsip yang ia jaga selama ini.

Setelah semua kejujurannya padaku, kini aku merasa ia berubah. Kini apa bedanya ia dengan gadis pada umumnya? Hal yang istimewa darinya, hal yang selalu membuatku salut terhadapnya, telah hilang. Dan justru aku yang membuatnya menghilangkan keistimewaannya. Bodoh! Aku memang bodoh! Seharusnya aku berfikir dahulu apa resiko dari tindakanku. Asa untuk bersamanya, telah membuatku melakukan kesalahan.

“Tuhan, aku mohon, dan aku berharap agar aku mampu memperbaiki kesalahanku. Bantu gadis itu untuk kembali kepada jati dirinya semula, Tuhan. Hamba mohon. Bantu ia kembali, menjadi gadis istimewa hamba.”

Aku benar-benar berharap semua kesalahanku dapat ku perbaiki. Perlahan aku mulai menjaga jarak darinya. Berharap dia segera lupa akan semua pengakuannya padaku. Berharap kami kembali menjadi teman akrab, tanpa rasa canggung. Dan tentunya, berharap ia kembali menjadi jati dirinya yang istimewa.

Tapi di sudut hatiku, aku tak mau ia melupakan semua pengakuanku. Aku ingin dia selalu ingat, bahwa ada seorang laki-laki yang begitu mencintainya disini, yaitu aku. Aku ingin dia selalu mencintaiku, hingga nanti aku mampu memilikinya.

          “Nggak!!! Itu egois!!”

          Aku tak bisa dan tak boleh menyiksanya perlahan seperti itu. Haknya untuk mencintai laki-laki lain. Aku hanya boleh berusaha untuk merebut hatinya, dan mendapatkannya suatu saat nanti. Bukan mengekang perasaannya agar tetap menjadi milikku.

Aku yakin, jika memang Tuhan mempertemukan aku dengannya, karena ia adalah jodohku kelak, maka Tuhan akan memudahkan kami untuk bersatu kembali. Tapi jika tidak, aku berharap Tuhan menyertakan pasangan yang baik untuk menjaganya. Sehingga aku dapat dengan tenang melepasnya, agar ia mendapat kebahagiaannya. Aku hanya memohon, agar Tuhan memberikan aku kelapangan hati. Dan aku yakin, Tuhan akan menyampaikan kebahagiaan padaku, ketika Ia tahu, aku telah mampu menghargai kebahagiaan itu.

Kini aku berusaha untuk melepaskannya. Membiarkan ia bebas menjadi dirinya, yang dahulu sempat terhapus karena ulahku. Membiarkan ia kembali dengan keheningannya, dengan senyum derta tawanya. Sedang aku, aku akan menjadi dia. Mengaguminya dalam diam, hingga waktu yang tepat. Hingga aku merasa cukup mampu untuk membahagiakannya, tanpa harus membuatnya melanggar prinsip apapun yang ia miliki.

Aku yakin, kalau niatku tulus untuk membahagiakannya. Tuhan akan mendengar semuanya, dan Tuhan akan selalu menjaga gadis tercintaku dalam dekapannya. Menjaga agar gadis itu tak merasa kesepian, dan tak merasakan kekecewaan. Dan aku terus berharap, semoga aku yang akan menjadi pelengkap kebahagiaannya kelak. Tapi untuk saat ini, aku harus fokus pada dua hal, pendidikanku dan impianku. Bukan berarti aku menghapus gadis itu dari benakku. Aku hanya mengurangi kadar benakku untuknya. Karena ketika pendidikan dan impian telah ku raih, aku dapat mencurahkan semua pikiran dan waktuku hanya untuknya. Gadis impianku.


**Tamat**


Written by : Salma Dhilla
Picture by : Maiya  Azyza

2 komentar:

  1. Cerpennya keren.... gw dah lama pengen jadi penulis tapi gak ada progress apa2 -__-"
    kunjungi blog ku juga yah...http://notesformuslims.blogspot.com/
    btw, artikelmu ku share juga di fb inysaallah :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wahh makasih. Gue juga masih amatir kok. Kalau mau, lo pasti bisa. Dulu juga gue ga ada progress akhirnya gue paksain. Dan jadi terbiasa nulis walaupun gue masih amatir. Makasih kalau di share. BTW keren ya blog lo tentang islam gitu. Jadi bisa belajar banyak. Tadi mau join tapi bingung caranya.

      Hapus