Sabtu, 01 Maret 2014

Pengganti

When the drama come true…


          “Anak-anak, ibu harap kalian dapat mementaskan naskah drama ciptaan kalian dengan baik! Kalau begitu ibu permisi. Selamat beristirahat!” Ujar Ibu Gina, guru mata pelajaran Bahasa Indonesia sembari melangkahkan kakinya meninggalkan ruang kelas XI IPA 4.

          Ya, seminggu yang lalu perintah itu diberikan kepada segenap siswa di kelas XI 
IPA 4. Dan kini, Valeri tengah mengerjakannya dengan segenap hati. Tubuhnya tengah tersandar di sisi saung, tepi kolam renang. Wajahnya tersenyum memandang layar notebook yang tengah berada di hadapannya. Jemarinya menari riang di atas huruf-huruf yang akan membantu menyusun jalan ceritanya. Benaknya menerawang, menghidupkan imajinasi dari babak demi babak drama yang tengah ia ciptakan.

          Drama, satu hal yang begitu dicintai oleh Valeri. Baginya, ia hanya seorang aktris, dan kehidupannya tak lebih dari alur sebuah naskah yang Tuhan ciptakan. Ia begitu mencintai drama, layaknya saat ini. Seharusnya tugas itu untuk berkelompok, namun ia memilih menciptakan naskahnya sendiri.

          Kelompok dramanya terdiri dari Remon, Lucas, Maria, Cindy dan yang terakhir adalah Valeri sendiri. Valeri memilih untuk menciptakan sendiri naskahnya bukan karena empat orang lainnya malas, atau tak bisa dipercaya. Namun, semua itu murni karena Valeri mencintai drama. Ia ingin memuaskan diri dengan menuangkan semua idenya ke dalam naskah drama itu.

          “Kalian tenang aja ya, nanti biar aku yang buat naskahnya.” Ujar Valeri.

        “Lalu, bagaimana caranya kita membantu kamu?” Ujar Remon. Salah satu anggota kelompok Valeri, sekaligus sahabat terdekatnya.

          “Kalian janji aja sama aku. Naskah seperti apapun yang aku buat, kalian harus mau mementaskannya. Dan jika ada kejadian apapun yang terjadi saat pementasan kita, kalian harus tetap mementaskan drama itu sampai selesai. Show must go on!” Ujar Valeri.

          “Memang apa yang akan terjadi, Val? Kamu ngga buat naskah yang aneh-aneh kan?” Tanya Lucas.

          “Ngga kok, tapi siapa yang tahu apa yang akan terjadi. Benar kan? Pokoknya kalian harus janji, show must go on. No matter what happens.”

          “Ok, kita janji, Val.” Ujar ke empat orang itu hamper bersamaan.

***

          Valeri ingat betul perkataannya dua hari yang lalu. Ia yang mengatakan sendiri pada segenap teman kelompoknya, bahwa ia yang akan bertanggung jawab penuh pada naskah drama itu. Dan ia tengah membuktikannya. Naskah drama itu hampir selesai. Dan mungkin akan selesai, jika saja tidak terjadi sesuatu padanya saat itu.

       Jantungnya berdegup cepat. Terasa semakin sakit ketika jantung itu semakin berdegup. Nafasnya tersengal. Pandangannya mengabur, buram. Valeri merasakan ada sesuatu yang mengalir dari hidungnya. Ia menyekanya, dan ternyata itu adalah darah.

‘Aku mimisan lagi?’ Pikirnya.

Darah itu terus menerus mengalir, bahkan ketika tissue telah menyekanya. Kepala Valeri terasa berat dan semakin berat, seperti ada yang menyengkram erat kepalanya. Dan tak lama kemudian, tubuhnya ambruk. Valeri tak sadarkan diri.

Entah berapa lama Valeri jatuh pingsan. Ketika ia tersadar, ia segera beranjak ke westafel. Membersihkan wajahnya yang belepotan karena darah. Ia melirik jam tangannya, ia telah pingsan selama dua jam. Dan bahkan seluruh keluarganya belum pulang.

Ia membersihkan noda darah yang tertinggal di saung itu. Menyimpan naskah itu di laptopnya. Dan akhirnya ia mengunci dirinya dalam kamar.

Tak ada satupun keluarga Valeri yang mengetahui apa yang tengah dirasakan Valeri. Tak ada satu pun dari mereka yang mengetahui kondisi Valeri sebenarnya. Begitu pun sahabat-sahabatnya. Tak ada yang tahu apa yang tengah diderita Valeri.

***

          Seminggu berlalu. Kini tiba saatnya kelompok Valeri mementaskan drama mereka. Drama itu mengisahkan tentang lika-liku kehidupan seorang gadis yang bernama Risa. Hidup Risa penuh dengan cobaan. Mulai dari kedua orang tuanya yang sering bertengkar, kakaknya yang bernama Mario yang sering tidak pulang, serta adiknya, Lioni yang terus-menerus menangis karena takut akan teriakan kedua orang tuanya.

          Dalam drama itu, Valeri lah yang dipilih untuk menjadi Risa, sang tokoh utama. Teman-teman sekelompoknya memilih Valeri, karena menurut mereka hanya Valeri yang mampu menyajikan makna sesungguhnya dari drama tersebut.

          Pada awalnya, pementasan itu berjalan dengan lancar. Babak demi babak berhasil mereka sajikan dengan apik. Penonton yang awalnya riuh, berubah menjadi hening, larut akan alur dari drama tersebut. Hingga tiba di dua babak terakhir, babak yang ditunggu-tunggu oleh semua pemain. Karena setelah ini, topeng mereka sebagai aktor dan aktris dalam drama tersebut dapat mereka lepaskan. Dan mereka dapat menjadi diri mereka yang asli diluar naskah itu.

Babak 9
          Risa tengah berada dalam kamarnya ketika kedua orang tuanya bertengkar di ruang keluarga. Lioni menangis di tempat tidur Risa sembari memeluk bonekanya erat-erat.
Risa   :        (Memeluk Lioni)
“Dek, kamu jangan nangis lagi ya. Sebentar lagi semuanya akan selesai. Kakak janji sama kamu. Kak Risa akan terus nemenin Lioni. Jadi Lioni jangan sedih lagi ya sayang.”
(Menyeka air mata Lioni)
Lioni   :        “Lioni takut kak. Kenapa sih papa sama mama teriak-teriak terus?
Teriakan mama sama papa kan kak, yang buat Kak Mario pergi? Lioni takut Kak Risa juga ninggalin Lioni kaya Kak Mario.”
Risa   :        “Ngga Lioni. Kak Risa janji sama Lioni. Kakak akan terus sama Lioni.
Sekarang biar Lioni ga denger suara papa mama. Lioni tidur aja ya, sayang. Kak Risa temenin disini.”
Lioni   :        “Ia kak. Tapi kakak jangan kemana-mana ya.”
Risa   :        “Ia Lioni. Kakak akan disini sampai Lioni bangun.”

          Adegan demi adegan dalam babak itu berhasil dilakukan Valeri sebagai Risa dan Maria sebagai Lioni. Hingga adegan terakhir yang mewajibkan tokoh Risa untuk meninggal. Inilah adegan yang ditunggu-tunggu semua penonton, tak terkecuali Bu Gina.

          Di dalam naskah, setelah Lioni tertidur, Risa beranjak dari tempat tidur ke meja belajarnya. Di meja itu ia menangis, meratapi hidup keluarganya sembari menuliskan keluh kesahnya di dalam sebuah memo. Ketika Risa tengah menulis, darah mengalir dari hidungnya. Penyakit kanker otak yang selama ini ia sembunyikan dari seluruh keluarga dan teman-temannya, semakin parah. Dan ketika ia ingin meraih obatnya yang ada di laci meja disamping tempat tidur, ia meninggal tanpa sempat menyentuh obatnya.

          Itulah yang tengah dilakukan Valeri sebagai tokoh Risa. Ia berjalan dari tempat tidur menuju meja belajar. Wajahnya pucat pasi. Tak ada seorang penontonpun yang menyadari raut wajah Valeri yang berubah.

Semua penonton, bahkan Bu Gina, terkesima melihat kelihaian Valeri memainkan adegannya. Termasuk saat Valeri memainkan adegan tokoh Risa yang merasakan kesakitan. Saat dimana Valeri harus terjatuh dari kursi, merangkak menuju meja tempat obat, dan meninggal di lantai yang dingin tanpa sempat menyentuh obatnya.

Tak ada yang menyadari bahwa rasa sakit yang diperlihatkan Valeri bukanlah acting. Semua orang baru menyadari ada yang tidak beres ketika narator membacakan narasi babak terakhir dan Valeri tak kunjung bangkit. Ia masih dalam keadaan berbaring di lantai. Remon mendekati Valeri, berusaha membangunkannya.

“Lucas, Valeri udah ga bernafas.” Ujar remon kepada Lucas.

Semua penonton menjadi ricuh. Mereka tak menyangka bahwa drama ini tidak hanya telah mematikan satu tokoh, tapi dua. Ia mematikan tokoh Risa sekaligus yang memerankannya. Semua menangis dan hendak membawa Valeri ke rumah sakit.

“Tunggu! Kami minta maaf, tapi kami mohon semua tetap ditempat!” Teriak Lucas kepada penonton.

“Apa yang kamu lakukan Lucas. Kamu tidak lihat bahwa Valeri membutuhkan dokter segera!” Bentak Bu Gina pada Lucas.

“Percuma, Bu. Valeri udah ngga ada. Dan kami berempat sudah berjanji pada Valeri. Apapun yang terjadi saat pementasan drama ini, kami harus tetap melanjutkannya hingga selesai. Ini permohonan Valeri pada kami. Jadi kami mohon ibu kembali menontonnya hingga selesai.” Ujar Cindy sembari menahan tangis.

Bu Gina kembali ke tempat duduknya sembari menangis. Ramon dan Lucas menggotong tubuh Valeri dan mendudukkannya di kursi penonton. Ramon, Lucas, Maria, dan Cindy tetap melanjutkan babak terakhir sesuai permohonan Valeri.

Setelah drama itu selesai. Segenap siswa dan juga Bu Gina berhambur memeluk tubuh Valeri. Mereka semua menangis. Ada beberapa dari mereka yang memanggil-manggil nama Valeri. Sedang beberapa lainnya, tengah berdoa untuk Valeri.
***
Delapan bulan sebelumnya…

          “Dokter, sebenarnya saya sakit apa. Saya sering kali mimisan, kepala saya sering sakit, dan rambut saya banyak yang rontok dokter.” Tanya Valeri pada dokter Arya.

          “Maaf, tapi apa kamu datang kesini dengan orang tua kamu, Val?” Tanya dokter Arya.

          “Ngga dok. Saya udah cukup umur kok untuk memeriksakan diri ke rumah sakit sendirian. Saya mau dokter Arya jujur, saya sakit apa dok?”

          “Maaf, Valeri. Menurut hasil pemeriksaan, kamu mengidap kanker otak stadium lanjut.”

          “Kanker, dokter? Apa masih bisa disembuhkan?”

         “Peluangnya sangat kecil Valeri. Kanker ini sudah menjalar. Tapi walaupun begitu, masih ada harapan bagi kamu untuk sembuh. Saya akan menemui orang tuamu untuk membicarakan mengenai pengobatannya.”

       “Ngga dokter. Saya mohon dokter jangan mengatakan apapun pada keluarga saya.”

          “Tapi saya dokter pribadi keluarga kalian, Val. Saya haris menyampaikan ini.”

          “Saya mohon dokter, tolong rahasiakan ini semua dari siapapun. Saya mohon.”

          “Baik Valeri kalau itu maumu. Tapi kamu harus janji, jangan berfikir terlalu keras. Karena akan berdampak pada kondisimu.”

          “Baik dokter. Saya janji. Makasih banyak dokter. Saya permisi.” Ujar Valeri seraya berjabat tangan dengan dokter Arya.

          “Sama-sama, Valeri.”

          Selama beberapa bulan Valeri berhasil menutupi penyakitnya dari semua orang. Hingga tiga bulan sebelum pementasan drama itu, ternyata penyakit Valeri semakin parah. Ia semakin sering mimisan dan semakin hari kepalanya terasa semakin sakit. Valeri menjadi takut tidur, ia takut jika ia tertidur maka ia tak akan mampu membuka matanya lagi. Orang tuanya begitu sibuk bekerja, dan kakaknya tengah ngekos karena kuliah, sehingga tak ada yang tahu bahwa Valeri tengah berjuang melawan maut.

          Pada suatu malam, ketika Valeri bersama kedua orang tuanya tengah berkumpul di ruang keluarga. Valeri merasakan hal yang aneh. Ia merasa bahwa dirinya akan segera lenyap bersama angin.

          “Mama, Val mau minta sesuatu.” Ujar Valeri kepada mamanya.

       “Apa itu?” Mamanya bingung, karena tak biasanya putri bungsunya meminta sesuatu darinya.

         “Kalau nanti terjadi sesuatu sama Val yang buat Valeri ga bisa masuk kedokteran. Uang kuliah Valeri mama kasih ke Remon aja ya ma. Kasian Remon, dia mau masuk kedokteran tapi ga punya biaya. Seenggaknya kalau Valeri ga bisa jadi dokter, ada yang bisa gantiin Valeri buat nerusin cita-cita Valeri.” Ujar Valeri menunduk.

          “Kamu tuh ngomong apa si? Kamu pasti masuk kedokteran kok. Lagipula kalau ternyata kamu ga masuk kedokteran, ya uangnya mama pake buat kuliah kamu yang lain.” Ujar mamanya semakin bingung akan perkataan putrinya.

          “Maksud Valeri bukan gitu, Ma. Ya pokoknya Val minta mama nanti tolong alihin uang buat Val ke Remon ya. Kalau nanti misalnya terjadi sesuatu sama Val.”

          “Ah udah ah, kamu tu kenapa sih? Jadi ngelantur gini ngomongnya.”

          “Valeri ngga kenapa-kenapa kok ma. Valeri baik-baik aja.” Ujar Valeri melempar senyum pada mamanya. Senyum yang semakin membuat bingung mamanya.

        Dan ternyata semua perkataannya terbukti. Valeri tak akan pernah mampu menjadi seorang dokter seperti keinginannya. Waktunya telah berakhir bersamaan dengan berakhirnya drama terakhir yang ia tulis. Kesedihan menyelimuti semua orang yang mengenalnya. Terlebih keluarganya, mereka merasa berdosa karena kesibukan membuat mereka tak mengetahui bahwa putri mereka tengah menderitanya penyakit mematikan. Mereka baru mengetahui penyakit Valeri, setelah Valeri meninggal, lewat memo yang selalu di tulis Valeri.

20 Oktober 2013
         
Hari ini aku menemui dokter lagi. Memastikan apa penyakitku sebenarnya. Dan jawaban dokter membuatku diam. Aku menderita penyakit kanker otak stadium lanjut, Tuhan. Itu artinya waktuku tak lama lagi. Mungkin aku tak akan sempat menjadi seorang dokter seperti keinginanku dan kedua orang tuaku. Dan mungkin aku tak akan sempat membangun panti asuhan yang telah menjadi impianku sedari kecil. Tapi tak apa. Aku hanya mohon padamu, tolong selalu lindungi keluargaku, dan tolong bantu Remon untuk menjadi seorang dokter. Setidaknya untuk menggantikan aku, Tuhan.

***



Dua puluh tahun setelah Valeri meninggal..

          Remon, Lucas, Maria, dan Cindy berkunjung ke makam Valeri. Setelah Valeri meninggal, orang tua Valeri mengalihkan semua uang yang seharusnya untuk biaya kuliah Valeri ke Remon. Dan akhirnya Remon bisa menjadi dokter seperti keingginannya dari dulu.

          “Valeri, kamu masih inget kita ngga? Aku Maria, ini Lucas, Remon, sama Cindy. Kita tim drama terakhir kamu Val.” Ujar Maria.

          “Kita kangen kamu Val. Udah dua puluh tahun kamu ninggalin kita. Padahal dulu, kita pernah bilang kalau kita sukses, kita akan ngumpul bareng lagi.” Ujar Cindy.
        
       “Guys, Valeri ada disini. Dia lagi ngeliatin kita sambil senyum. Dia masih pakai seragam SMA. Sepertinya, di masih hidup di masa lampau.” Ujar Lucas.

“Valeri, dimanapun kamu, kita mau bilang kalau kita kangen kamu. Dan aku kesini juga untuk berterima kasih. Orang tua kamu ngebantu biaya kuliah aku. Katanya, kamu mau aku gantiin kamu jadi dokter. Dan sekarang aku udah jadi dokter. Aku juga udah bangun panti asuhan yang kamu mau. Makasih banyak ya Val.” Ujar Remon.

“Valeri bilang dia juga kangen kita. Dan dia ngucapin terima kasih karena Remon udah mau bangun panti asuhan kaya yang dia mau. Dia juga juga ngucapin selamat tinggal. Karena sekarang dia bisa pergi dengan tenang, setelah liat semua orang tersayangnya berhasil.” Ujar Lucas.

“Sampai ketemu lagi ya, Val. Tunggu kita disana.”  Ujar Maria seraya menangis.

“Dia udah pergi, dia udah tenang sekarang.” Ujar Lucas.

“Syukurlah kalau dia udah tenang. Eh iya, ngomong-ngomong dari kapan kamu bisa lihat kaya gitu Luc?” Tanya Cindy. Sembari mereka berempat meninggalkan area pemakaman.

“Udah dari lama. Valeri tau kok kalau aku bisa liat hal kaya gitu. Dan waktu Valeri meninggal, aku ngeliat ruh nya ada di pojokan kelas, ngeliatin kita. Itu kenapa aku langsung minta yang lain kembali duduk. Karena aku tahu, Valeri tetap di kelas karena mau lihat pertunjukannya selesai.” Jawab Lucas.

‘Val, kamu sahabat aku. Ga sampai setahun aku kenal kamu dan kamu udah begitu baik sama aku. Kamu bantu aku wujudin cita-cita aku. Makasih banyak Val. Semoga Tuhan nempatin kamu di tempat yang paling indah.’ Pikir Remon.

“Kamu juga udah bantu aku wujudin keinginan aku untuk bangun panti Remon. Makasih ya.” Ujar Valeri bersama dengan angin yang berhembus.

Remon menoleh ke arah datangnya suara, namun tak ada siapapun. Ia hanya tersenyum melihat makam Valeri dan segera berjalan mengejar ketiga temannya.


**TAMAT**

Tidak ada komentar:

Posting Komentar