Menunggu adalah hal yang paling ku benci.
Entah menunggu dambatan hati, menunggu mendapat pekerjaan, bagiku semua sama
saja. Semua tetap membosankan. Seperti hari ini, jenuh terus menggelayuti
tubuhku. Statusku yang hanya pegawai honorer di sebuah perusahaan swasta
membuatku ingin mencari pekerjaan lain. Selesai melamar pekerjaan kesana-sini,
kini tugasku hanya menunggu panggilan interview. Bahkan saat malam temaram
seperti sekarang, aku tetap harus menunggu, menunggu hujan yang tak kunjung
reda. Huh, semakin membuatku jenuh.
Halte tempat ku berdiri sekarang,
sepi. Hanya musik yang mengalun di telingaku yang membuatnya tak terlalu terasa
sepi. Mungkin karena hujan nakal yang terus bermain semenjak sore. Disebelah
kiriku, ada seorang ibu yang asik melihat isi dompetnya. Bahkan, ku rasa ia tak
tahu ada penghuni lain di halte ini selain dia, ya aku tentunya.
‘Apa ada yang mau meloncat keluar dari dalam
dompet itu sampai ia harus terus memandanginya? Dasar ibu-ibu.’ Pikirku,
menciptakan senyum mengejek di wajahku.
‘Wussshh’
Angin kencang berhembus dari arah
belakangku. Angin yang sama yang baru saja menghempaskan dompet ibu disebelahku
ke jalan, basah kuyup. Ibu itu terbelalak melihat dompetnya terlempar. Sejurus
kemudian, raut wajahnya berubah panik. Aku yakin dia bingung apa dia harus
menerjang hujan untuk mengambil dompet itu atau tidak. Ku pilih untuk diam,
memperbesar volume musik ku. Lagi pula, salahnya sendiri, tak memegang
dompetnya dengan kencang.
Kepanikan itu tak berangsur lama. Seseorang
gadis berpayung biru memungut dompet itu dan memberikannya.
‘Siapa dia? Kenapa peduli banget sama ibu
ini?’ Pikirku.
Aku sempat melihat wajahnya, sekilas.
Sepertinya aku mengenalnya, aku cukup kenal wajah itu, tapi siapa? Rentetan pertanyaan
itu buyar ketika gadis itu menghilang bersama bis yang dinaikinya.
***
Hari ini, tak jauh berbeda dari hari
kemarin. Masih dengan rutinitas yang sama, ke kantor, lalu mencari dan melamar
pekerjaan. Entah mengapa lulusan S1 zaman sekarang seolah seperti lulusan SD,
tak berharga. Kurang lebih, itulah yang aku rasakan.
Hari ini, aku melewati rute yang
selalu aku lewati ketika aku ingin melamar pekerjaan. Namun, pemandangan kali
ini berbeda.
‘Gadis itu, ya gadis itu adalah gadis yang
menolong ibu itu, gadis yang bertemu denganku di halte semalam. Sedang apa dia
disini? Di TK? Apa dia sudah memiliki anak yang bersekolah di TK?’ Rentetan
kalimat itu memenuhi benakku. Namun, tanpa perlu berspekulasi. Semua pertanyaan
itu langsung terjawab.
“Bu guru, kakiku berdarah.” Kata seorang
gadis kecil kepadanya.
“Tadi kamu jatuh, Rina? Ya udah, sekarang
kamu duduk dulu disini ya, ibu ambilin obat.” Kata gadis itu seraya mendudukkan
gadis kecil yang bernama Rina itu di ayunan.
Beberapa menit kemudian, gadis itu kembali
dengan membawa kotak P3K. Bersimpuh tepat di hadapan Rina. Dengan hati-hati, ia
membersihkan luka Rina dan menempelkan plester. Tak sedikitpun ku lihat rona
kesakitan dari wajah Rina. Sebegitu haluskah gadis ini menangani anak-anak?
Tanpa kusadari, gadis itu memandang ke
arahku, tersenyum. Gugup, ku tengok belakangku, tak ada siapapun. Apa ia
tersenyum padaku? Ku beranikan diri memandangnya sekali lagi, dan ia membalas
dengan tersenyum. Kali ini, ku balas senyumannya karena aku yakin, senyum itu
tertuju untukku.
Ia bangkit dari simpuhnya, berjalan. Dan, ia
menghampiriku. Aku gugup bercampur malu. Aku hanya berharap ia tak menyadari,
kalau aku lah cowo cuek yang hanya terpaku melihat dompet seorang ibu terhempas
ke jalan tadi malam.
“Maaf, ada yang bisa saya bantu. Saya
perhatikan dari tadi Anda melihat ke arah taman bermain, apa Anda mencari
sesuatu?” Sapanya membuka pembicaraan.
“Oh, ngga. Ngga ada. Saya sedang mencari TK
yang dekat dengan rumah untuk keponakan saya. Kebetulan saya lihat ibu begitu
halus memperlakukan anak-anak.” Jawabku memutar otak. Entah apa yang baru saja
ku katakan, karena aku tidak memiliki keponakan satupun.
“Kalau begitu TK ini bisa Anda jadikan
referensi. Oh iya, perkenalkan saya Dira. Saya guru disini.” Ucappnya
menyodorkan tangannya.
‘Yes akhirnya aku mendapatkan namanya.’
Pikirku
“Saya Riki. Ya saya rasa, tempat ini
referensi yang bagus untuk keponakan saya.” Aku menjabat tangannya.
‘Kriiiingggg!!!’ Suara bel menandkan
perpisahan ku dengan Dira.
“Maaf, saya harus mengajar lagi. Saya
permisi.” Ujarnya berjalan ke arah taman bermain dan menjemput murid-muridnya
untuk kembali ke dalam kelas.
Aku hanya dapat termangu, entah bagaimana
tapi ia sangat bertolak belakang denganku. Aku yang begitu cuek, sedangkan ia
yang begitu anggun, ramah serta periang. Bahkan anak-anak terlihat begitu
menyayanginya.
Entah apa yang telah terjadi, aku yang
bisanya tak peduli pada apa yang ada disekitarku, kini justru memikirkannya. Ia
kuat menghadapi anak-anak yang menurutku rewel dan manja, bahkan ia
memperlakukan mereka dengan sangat halus. Gadis ini, Dira, ia istimewa.
***
Pagi ini, aku berniat menemui Dira.
Setelah semua persiapanku selesai, aku bergegas ke TK itu lagi, TK Mutiara.
Tempat dimana aku bisa bertemu gadis istimewa itu lagi.
Di depan TK itu, suasana begitu ceria.
Anak-anak berlari memasuki TK mereka. Ada yang diantar oleh ibu mereka, dan ada
pula yang terlihat berlari-lari kecil sendirian. Hingga bel mulai bordering dan
jalan di depan TK Mutiara mulai menyepi. Aku menunduk, gagal sudah rencanaku
bertemu Dira. Namun, aku bertekad akan kembali saat jam makan siang. Saat
dimana biasanya aku melamar pekerjaan baru. Aku baru saja ingin melangkah pergi
ketika sesuatu terjadi.
Aku berlari, bergegas, begitu melihat
ada seorang gadis kecil yang jatuh tak sadarkan diri di depan gerbang. Gadis
itu terlihat pucat pasi, aku segera menggendongnya. Menyeruak masuk ke dalam
TK, panik.
“Bu Dira! Bu Dira!” Aku berteriak
memanggil namanya. Hanya ia yang ku tahu saat ini.
Dira muncul dari dalam suatu kelas dan
menghampiriku. Wajahnya terlihat kalut, sama denganku.
“Ada apa? Vica kenapa?” Tanyanya
panik.
“Saya tidak tahu, Bu. Tiba-tiba dia
pingsan di depan.”
“Bantu saya bawa dia ke ruang UKS.” Ia
mengarahkan ku ke ruang UKS.
Aku membaringkan gadis kecil bernama
Vica itu di kasur UKS. Ia terlihat sangat lemah. Dira terlihat sedang menelfon,
aku yakin dia sedang menelfon dokter.
“Dokternya sedang dalam perjalanan.”
Ujarnya padaku.
“Maaf sebelumnya membuat Anda panik.
Saya tidak tahu lagi harus berbuat apa, tadi.” Ujarku menunduk.
“Tidak apa-apa. Keputusan Anda tepat
memanggil saya. Vica memang sering jatuh pingsan. Kata dokter, ia anemia.”
“Itu menjelaskan semuanya, mengapa tadi dia
bisa pingsan. Maaf, saya ga bisa berlama-lama. Saya harus kembali ke kantor."
“Terima kasih, maaf merepotkan, Pak Riki.
Mari saya antar.” Seraya tersenyum dan mengantarkanku ke gerbang.
“Tidak masalah. Saya takut terjadi
apa-apa padanya. Bisa minta satu hal, tolong jangan panggil saya Pak. Saya
rasa, saya belum cukup tua untuk panggilan itu.”
“Maaf Pak Riki, hmm maksud saya Riki.
Anda boleh memanggil saya Dira kalau begitu. Kalau begitu, saya kembali ke
dalam dulu Riki.” Ujarnya meninggalkanku setiba aku di gerbang.
Sejenak aku menoleh ke belakang.
Menatap kepergiannya. Lalu aku melangkahkan kakiku pergi, kembali ke
rutinitasku yang menjemukan. Tapi, sejenak aku berpikir, sejak bertemu
dengannya, aku dan duniaku berubah. Entah bagaimana, tapi ada yang menggerakkan
hatiku untuk menolong gadis kecil tadi. Mungkin semenjak bertemu dengannya,
rasa cuek ini berangsur-angsur menghilang. Ia juga secara ajaib mampu membuatku
semakin ingin tahu tentang Dira. Aku ingin tahu seluruh seluk-beluk kehidupan
yang membuatnya selalu ceria.
***
Semenjak saat itu, aku semakin sering
menyambanginya. Tentunya, dengan alasan kakakku yang belum percaya akan
referensi TK untuk keponakanku. Bahkan, aku memberanikan diri untuk meminta
nomer telfonnya, dengan alasan kakakku yang memintanya. Sesekali, aku juga
mengajaknya makan siang bersama. Semakin lama, kami semakin akrab. Kata
saya-anda juga telah berganti menjadi kata aku-kamu. Ya, layaknya kawan lama.
Aku pun tahu, mengapa setiap hari ia
begitu ceria. Ternyata, menjadi guru TK adalah cita-citanya sejak kecil. Ia
begitu menyukai anak-anak, karena menurutnya anak-anak begitu polos dan tak
menanggung beban apapun. Cara berpikirnya, membuatku semakin kagum terhadapnya.
Setiap malam, aku hanya sanggup
memandangi layar ponselku. Membaca huruf yang berderet membentuk nama Dira, dan
nomer yang begitu membuatku terbuai untuk menelfonnya. Selama ini, caraku
bertemu dengannya hanya pada saat aku mengunjungi TK Mutiara. Walaupun aku
punya nomer ponselnya, namun aku tidak pernah berani menghubunginya.
‘Dira, besok ketemuan di Red Rose Cafe
jam 8 malam, bisa ga?’
Akhirnya SMS ku terkirim. Satu menit,
dua menit, lima menit. Namun ia tak kunjung menjawab SMS ku. Membuatku berpikir
bahwa dia akan menolak ajakanku. Membuat ku gelisah, dan jantungku, semakin
berdegub.
‘Ok ;)’ Balasnya yang segera muncul
dengan menu top up di layar ponsel ku.
Aku bersorak, melompat kesana-kemari.
Baru kali itu aku begitu bahagia setelah sekian lama aku berkutat pada dunia
heningku sendiri.
***
Hari itu, hari dimana aku akan bertemu
dengan Dira di Red Rose Cafe. Ku kerahkan seluruh mentalku. Aku berharap, kali
ini aku tidak akan gagap atau tiba-tiba terdiam karena tak tahu apa yang harus
kami bicarakan.
Dira terlihat melangkah masuk,
melambaikan tangannya padaku. Ia segera duduk di kursi di hadapanku. Tak lepas
mataku menatapnya, ia terlihat semakin anggun saat itu.
“Kamu kurang tidur ya? Ada kantung
matanya.” Ujarku tersenyum.
“Ihhh, kantung maata bukan karena
kurang tidur tau.” Ujarnya sambil bercermin.
“Iya tau, biasanya kalau orang kurang
tidur tu ada kantung matanya.”
“Ihh orang bukan juga. Mata aku emang
begini, dan juga kena sinar matahari terus makanya jadi ada kantung matanya.”
Ujarnya mengeyel.
“Ya udah - ya udah, mungkin kamu yang
bener. Kamu mau mesen apa?”
“Sama kaya kamu aja.”
Kami menyantap makanan sambil
berbincang. Sesekali kami membicarakan tentang anak-anak didik Dira.
“Dira, sebelumnya maaf. Keponakan aku
ngga jadi masuk sekolah kamu. Dia di daftarin di TK deket rumah papa. Biar
kalau pulang, bisa langsung ke rumah kakeknya.”
“Iya, ngga papa kok. Oh iya, aku mau
nanya deh, kamu sering kan kerja di depan layar komputer?” Tanya Dira.
“Ya, emang kenapa?” Tanyaku sembari
melahap makanan yang terhidang.
“Nah kelamaan depan layar computer
juga bisa buat kantung mata tau, mata merah, dan mata juga bisa jadi minus.”
Ujarnya panjang lebar.
“Ah kayaknya aku ngga gitu. Aku ngga
ada kantung matanya kok. Dan mata aku sehat-sehat aja.” Ujarku mengeyel.
“Ih kamu kok ngeyel si. Seriusan tau,
liat aja nanti pasti ada kantung matanya.”
“Aku kan cukup istirahat, lagipula
kalau ga gitu, aku mau kerja gimana lagi?”
Dira hanya terdiam, aku tahu dia
kecewa dengan jawabanku. Tapi itu yang aku tahu, dan itu yang aku rasakan. Aku
hanya meyakinkan pendapatku. Dan menurutku itu tidak salah.
Sepulang dari makan malam dengan Dira,
aku berpikir. Ternyata bukan hanya dunia dan keceriannya yang berbeda denganku.
Tapi, pola piker kami pun berbeda. Sejujurnya, bukan hanya kali ini kami
bersitegang mengenai pendapat, kami juga pernah berbeda pendapat mengenai high
heels, penggunaan kacamata, bahkan sampai makanan oseng kangkung. Entah
mengapa, kali ini aku tidak seyakin dulu. Dulu aku begitu yakin kalau aku
menyukainya. Dan ia dapat merubah hidupku menjadi lebih berwarna dan lebih
ceria. Namun ternyata ia juga membuat pikiranku semakin rumit.
***
“Hai Riki.”
“Dira?” Aku bangun dan duduk di
sampingnya.
“Ya.” Ia tersenyum padaku.
“Dira, aku, aku mau bilang sesuatu
sama kamu.”
“Apa?” Tanyanya.
“Aku suka sama kamu. Kamu mau jadi
pacar aku?” Ujarku.
Dira bangkit dari tempat duduknya. Ia
tersenyum, dan melangkah pergi tanpa memberikan sepatah katapun padaku. Aku
mengikutinya, tapi ia menghilang.
‘Haaahhh!!!!’
Aku terbangun dari tempat tidurku.
Tadi itu hanya mimpi. Apa maksud mimpi itu? Apa itu artinya aku tak akan bisa
bersamanya?Sepertinya benar, mimpi itu pertanda kalau aku bukan untuknya. Dan
dia bukan untukku.
Terlalu banyak perbedaan di antara
kami. Bahkan, lebih banyak perbedaan yang membuat kami bersitegang, daripada
perbedaan yang saling melengkapi. Sekarang saja, masalah kecil bisa menjadi
besar, entah bagaimana nantinya.
Aku memilih untuk mengurungkan niatku
untuk menyatakan perasaanku. Aku rasa, lebih baik kami berteman untuk sementara
ini. Mungkin seiring berjalannya waktu, semua akan lebih baik. Tak akan ada
bersitegang lagi, jadi kami bisa bersatu. Atau mungkin, justru sebaliknya. Akan
lebih banyak bermunculan perbedaan diantara kami yang menunjukkan bahwa kami
tidak ditakdirkan untuk satu sama lain. Ya, semua tergantung waktu. Entah
bagaimana kisah ini akan berlanjut.
**TAMAT**
By : Salma Dhilla

Tidak ada komentar:
Posting Komentar