Sabtu, 01 Maret 2014

Ketika Cinta bertemu Perbedaan


Menunggu adalah hal yang paling ku benci. Entah menunggu dambatan hati, menunggu mendapat pekerjaan, bagiku semua sama saja. Semua tetap membosankan. Seperti hari ini, jenuh terus menggelayuti tubuhku. Statusku yang hanya pegawai honorer di sebuah perusahaan swasta membuatku ingin mencari pekerjaan lain. Selesai melamar pekerjaan kesana-sini, kini tugasku hanya menunggu panggilan interview. Bahkan saat malam temaram seperti sekarang, aku tetap harus menunggu, menunggu hujan yang tak kunjung reda. Huh, semakin membuatku jenuh.
         Halte tempat ku berdiri sekarang, sepi. Hanya musik yang mengalun di telingaku yang membuatnya tak terlalu terasa sepi. Mungkin karena hujan nakal yang terus bermain semenjak sore. Disebelah kiriku, ada seorang ibu yang asik melihat isi dompetnya. Bahkan, ku rasa ia tak tahu ada penghuni lain di halte ini selain dia, ya aku tentunya.
‘Apa ada yang mau meloncat keluar dari dalam dompet itu sampai ia harus terus memandanginya? Dasar ibu-ibu.’ Pikirku, menciptakan senyum mengejek di wajahku.
‘Wussshh’
Angin kencang berhembus dari arah belakangku. Angin yang sama yang baru saja menghempaskan dompet ibu disebelahku ke jalan, basah kuyup. Ibu itu terbelalak melihat dompetnya terlempar. Sejurus kemudian, raut wajahnya berubah panik. Aku yakin dia bingung apa dia harus menerjang hujan untuk mengambil dompet itu atau tidak. Ku pilih untuk diam, memperbesar volume musik ku. Lagi pula, salahnya sendiri, tak memegang dompetnya dengan kencang.
Kepanikan itu tak berangsur lama. Seseorang gadis berpayung biru memungut dompet itu dan memberikannya.
‘Siapa dia? Kenapa peduli banget sama ibu ini?’ Pikirku.
Aku sempat melihat wajahnya, sekilas. Sepertinya aku mengenalnya, aku cukup kenal wajah itu, tapi siapa? Rentetan pertanyaan itu buyar ketika gadis itu menghilang bersama bis yang dinaikinya.
***
         Hari ini, tak jauh berbeda dari hari kemarin. Masih dengan rutinitas yang sama, ke kantor, lalu mencari dan melamar pekerjaan. Entah mengapa lulusan S1 zaman sekarang seolah seperti lulusan SD, tak berharga. Kurang lebih, itulah yang aku rasakan.
     Hari ini, aku melewati rute yang selalu aku lewati ketika aku ingin melamar pekerjaan. Namun, pemandangan kali ini berbeda.
‘Gadis itu, ya gadis itu adalah gadis yang menolong ibu itu, gadis yang bertemu denganku di halte semalam. Sedang apa dia disini? Di TK? Apa dia sudah memiliki anak yang bersekolah di TK?’ Rentetan kalimat itu memenuhi benakku. Namun, tanpa perlu berspekulasi. Semua pertanyaan itu langsung terjawab.
“Bu guru, kakiku berdarah.” Kata seorang gadis kecil kepadanya.
“Tadi kamu jatuh, Rina? Ya udah, sekarang kamu duduk dulu disini ya, ibu ambilin obat.” Kata gadis itu seraya mendudukkan gadis kecil yang bernama Rina itu di ayunan.
Beberapa menit kemudian, gadis itu kembali dengan membawa kotak P3K. Bersimpuh tepat di hadapan Rina. Dengan hati-hati, ia membersihkan luka Rina dan menempelkan plester. Tak sedikitpun ku lihat rona kesakitan dari wajah Rina. Sebegitu haluskah gadis ini menangani anak-anak?
Tanpa kusadari, gadis itu memandang ke arahku, tersenyum. Gugup, ku tengok belakangku, tak ada siapapun. Apa ia tersenyum padaku? Ku beranikan diri memandangnya sekali lagi, dan ia membalas dengan tersenyum. Kali ini, ku balas senyumannya karena aku yakin, senyum itu tertuju untukku.
Ia bangkit dari simpuhnya, berjalan. Dan, ia menghampiriku. Aku gugup bercampur malu. Aku hanya berharap ia tak menyadari, kalau aku lah cowo cuek yang hanya terpaku melihat dompet seorang ibu terhempas ke jalan tadi malam.
“Maaf, ada yang bisa saya bantu. Saya perhatikan dari tadi Anda melihat ke arah taman bermain, apa Anda mencari sesuatu?” Sapanya membuka pembicaraan.
“Oh, ngga. Ngga ada. Saya sedang mencari TK yang dekat dengan rumah untuk keponakan saya. Kebetulan saya lihat ibu begitu halus memperlakukan anak-anak.” Jawabku memutar otak. Entah apa yang baru saja ku katakan, karena aku tidak memiliki keponakan satupun.
“Kalau begitu TK ini bisa Anda jadikan referensi. Oh iya, perkenalkan saya Dira. Saya guru disini.” Ucappnya menyodorkan tangannya.
‘Yes akhirnya aku mendapatkan namanya.’ Pikirku
“Saya Riki. Ya saya rasa, tempat ini referensi yang bagus untuk keponakan saya.” Aku menjabat tangannya.
‘Kriiiingggg!!!’ Suara bel menandkan perpisahan ku dengan Dira.
“Maaf, saya harus mengajar lagi. Saya permisi.” Ujarnya berjalan ke arah taman bermain dan menjemput murid-muridnya untuk kembali ke dalam kelas.
Aku hanya dapat termangu, entah bagaimana tapi ia sangat bertolak belakang denganku. Aku yang begitu cuek, sedangkan ia yang begitu anggun, ramah serta periang. Bahkan anak-anak terlihat begitu menyayanginya.
Entah apa yang telah terjadi, aku yang bisanya tak peduli pada apa yang ada disekitarku, kini justru memikirkannya. Ia kuat menghadapi anak-anak yang menurutku rewel dan manja, bahkan ia memperlakukan mereka dengan sangat halus. Gadis ini, Dira, ia istimewa.
***
     Pagi ini, aku berniat menemui Dira. Setelah semua persiapanku selesai, aku bergegas ke TK itu lagi, TK Mutiara. Tempat dimana aku bisa bertemu gadis istimewa itu lagi.
       Di depan TK itu, suasana begitu ceria. Anak-anak berlari memasuki TK mereka. Ada yang diantar oleh ibu mereka, dan ada pula yang terlihat berlari-lari kecil sendirian. Hingga bel mulai bordering dan jalan di depan TK Mutiara mulai menyepi. Aku menunduk, gagal sudah rencanaku bertemu Dira. Namun, aku bertekad akan kembali saat jam makan siang. Saat dimana biasanya aku melamar pekerjaan baru. Aku baru saja ingin melangkah pergi ketika sesuatu terjadi.
     Aku berlari, bergegas, begitu melihat ada seorang gadis kecil yang jatuh tak sadarkan diri di depan gerbang. Gadis itu terlihat pucat pasi, aku segera menggendongnya. Menyeruak masuk ke dalam TK, panik.
       “Bu Dira! Bu Dira!” Aku berteriak memanggil namanya. Hanya ia yang ku tahu saat ini.
      Dira muncul dari dalam suatu kelas dan menghampiriku. Wajahnya terlihat kalut, sama denganku.
        “Ada apa? Vica kenapa?” Tanyanya panik.
        “Saya tidak tahu, Bu. Tiba-tiba dia pingsan di depan.”
        “Bantu saya bawa dia ke ruang UKS.” Ia mengarahkan ku ke ruang UKS.
      Aku membaringkan gadis kecil bernama Vica itu di kasur UKS. Ia terlihat sangat lemah. Dira terlihat sedang menelfon, aku yakin dia sedang menelfon dokter.
        “Dokternya sedang dalam perjalanan.” Ujarnya padaku.
      “Maaf sebelumnya membuat Anda panik. Saya tidak tahu lagi harus berbuat apa, tadi.” Ujarku menunduk.
       “Tidak apa-apa. Keputusan Anda tepat memanggil saya. Vica memang sering jatuh pingsan. Kata dokter, ia anemia.”
     “Itu menjelaskan semuanya, mengapa tadi dia bisa pingsan. Maaf, saya ga bisa berlama-lama. Saya harus kembali ke kantor."
       “Terima kasih, maaf merepotkan, Pak Riki. Mari saya antar.” Seraya tersenyum dan mengantarkanku ke gerbang.
      “Tidak masalah. Saya takut terjadi apa-apa padanya. Bisa minta satu hal, tolong jangan panggil saya Pak. Saya rasa, saya belum cukup tua untuk panggilan itu.”
      “Maaf Pak Riki, hmm maksud saya Riki. Anda boleh memanggil saya Dira kalau begitu. Kalau begitu, saya kembali ke dalam dulu Riki.” Ujarnya meninggalkanku setiba aku di gerbang.
        Sejenak aku menoleh ke belakang. Menatap kepergiannya. Lalu aku melangkahkan kakiku pergi, kembali ke rutinitasku yang menjemukan. Tapi, sejenak aku berpikir, sejak bertemu dengannya, aku dan duniaku berubah. Entah bagaimana, tapi ada yang menggerakkan hatiku untuk menolong gadis kecil tadi. Mungkin semenjak bertemu dengannya, rasa cuek ini berangsur-angsur menghilang. Ia juga secara ajaib mampu membuatku semakin ingin tahu tentang Dira. Aku ingin tahu seluruh seluk-beluk kehidupan yang membuatnya selalu ceria.
***
       Semenjak saat itu, aku semakin sering menyambanginya. Tentunya, dengan alasan kakakku yang belum percaya akan referensi TK untuk keponakanku. Bahkan, aku memberanikan diri untuk meminta nomer telfonnya, dengan alasan kakakku yang memintanya. Sesekali, aku juga mengajaknya makan siang bersama. Semakin lama, kami semakin akrab. Kata saya-anda juga telah berganti menjadi kata aku-kamu. Ya, layaknya kawan lama.
     Aku pun tahu, mengapa setiap hari ia begitu ceria. Ternyata, menjadi guru TK adalah cita-citanya sejak kecil. Ia begitu menyukai anak-anak, karena menurutnya anak-anak begitu polos dan tak menanggung beban apapun. Cara berpikirnya, membuatku semakin kagum terhadapnya.
      Setiap malam, aku hanya sanggup memandangi layar ponselku. Membaca huruf yang berderet membentuk nama Dira, dan nomer yang begitu membuatku terbuai untuk menelfonnya. Selama ini, caraku bertemu dengannya hanya pada saat aku mengunjungi TK Mutiara. Walaupun aku punya nomer ponselnya, namun aku tidak pernah berani menghubunginya.
         ‘Dira, besok ketemuan di Red Rose Cafe jam 8 malam, bisa ga?’
       Akhirnya SMS ku terkirim. Satu menit, dua menit, lima menit. Namun ia tak kunjung menjawab SMS ku. Membuatku berpikir bahwa dia akan menolak ajakanku. Membuat ku gelisah, dan jantungku, semakin berdegub.
       ‘Ok ;)’ Balasnya yang segera muncul dengan menu top up di layar ponsel ku.
      Aku bersorak, melompat kesana-kemari. Baru kali itu aku begitu bahagia setelah sekian lama aku berkutat pada dunia heningku sendiri.
***
       Hari itu, hari dimana aku akan bertemu dengan Dira di Red Rose Cafe. Ku kerahkan seluruh mentalku. Aku berharap, kali ini aku tidak akan gagap atau tiba-tiba terdiam karena tak tahu apa yang harus kami bicarakan.
       Dira terlihat melangkah masuk, melambaikan tangannya padaku. Ia segera duduk di kursi di hadapanku. Tak lepas mataku menatapnya, ia terlihat semakin anggun saat itu.
        “Kamu kurang tidur ya? Ada kantung matanya.” Ujarku tersenyum.
        “Ihhh, kantung maata bukan karena kurang tidur tau.” Ujarnya sambil bercermin.
        “Iya tau, biasanya kalau orang kurang tidur tu ada kantung matanya.”
       “Ihh orang bukan juga. Mata aku emang begini, dan juga kena sinar matahari terus makanya jadi ada kantung matanya.” Ujarnya mengeyel.
       “Ya udah - ya udah, mungkin kamu yang bener. Kamu mau mesen apa?”
       “Sama kaya kamu aja.”
      Kami menyantap makanan sambil berbincang. Sesekali kami membicarakan tentang anak-anak didik Dira.
     “Dira, sebelumnya maaf. Keponakan aku ngga jadi masuk sekolah kamu. Dia di daftarin di TK deket rumah papa. Biar kalau pulang, bisa langsung ke rumah kakeknya.”
       “Iya, ngga papa kok. Oh iya, aku mau nanya deh, kamu sering kan kerja di depan layar komputer?” Tanya Dira.
        “Ya, emang kenapa?” Tanyaku sembari melahap makanan yang terhidang.
     “Nah kelamaan depan layar computer juga bisa buat kantung mata tau, mata merah, dan mata juga bisa jadi minus.” Ujarnya panjang lebar.
       “Ah kayaknya aku ngga gitu. Aku ngga ada kantung matanya kok. Dan mata aku sehat-sehat aja.” Ujarku mengeyel.
         “Ih kamu kok ngeyel si. Seriusan tau, liat aja nanti pasti ada kantung matanya.”
         “Aku kan cukup istirahat, lagipula kalau ga gitu, aku mau kerja gimana lagi?”
       Dira hanya terdiam, aku tahu dia kecewa dengan jawabanku. Tapi itu yang aku tahu, dan itu yang aku rasakan. Aku hanya meyakinkan pendapatku. Dan menurutku itu tidak salah.
       Sepulang dari makan malam dengan Dira, aku berpikir. Ternyata bukan hanya dunia dan keceriannya yang berbeda denganku. Tapi, pola piker kami pun berbeda. Sejujurnya, bukan hanya kali ini kami bersitegang mengenai pendapat, kami juga pernah berbeda pendapat mengenai high heels, penggunaan kacamata, bahkan sampai makanan oseng kangkung. Entah mengapa, kali ini aku tidak seyakin dulu. Dulu aku begitu yakin kalau aku menyukainya. Dan ia dapat merubah hidupku menjadi lebih berwarna dan lebih ceria. Namun ternyata ia juga membuat pikiranku semakin rumit.
***
          “Hai Riki.”
          Aku membuka mata, melihat ada Dira disisiku.
          “Dira?” Aku bangun dan duduk di sampingnya.
          “Ya.” Ia tersenyum padaku.
          “Dira, aku, aku mau bilang sesuatu sama kamu.”
          “Apa?” Tanyanya.
          “Aku suka sama kamu. Kamu mau jadi pacar aku?” Ujarku.
       Dira bangkit dari tempat duduknya. Ia tersenyum, dan melangkah pergi tanpa memberikan sepatah katapun padaku. Aku mengikutinya, tapi ia menghilang.
          ‘Haaahhh!!!!’
          Aku terbangun dari tempat tidurku. Tadi itu hanya mimpi. Apa maksud mimpi itu? Apa itu artinya aku tak akan bisa bersamanya?Sepertinya benar, mimpi itu pertanda kalau aku bukan untuknya. Dan dia bukan untukku.
         Terlalu banyak perbedaan di antara kami. Bahkan, lebih banyak perbedaan yang membuat kami bersitegang, daripada perbedaan yang saling melengkapi. Sekarang saja, masalah kecil bisa menjadi besar, entah bagaimana nantinya.
        Aku memilih untuk mengurungkan niatku untuk menyatakan perasaanku. Aku rasa, lebih baik kami berteman untuk sementara ini. Mungkin seiring berjalannya waktu, semua akan lebih baik. Tak akan ada bersitegang lagi, jadi kami bisa bersatu. Atau mungkin, justru sebaliknya. Akan lebih banyak bermunculan perbedaan diantara kami yang menunjukkan bahwa kami tidak ditakdirkan untuk satu sama lain. Ya, semua tergantung waktu. Entah bagaimana kisah ini akan berlanjut.

                                                      **TAMAT**

By : Salma Dhilla

  

Tidak ada komentar:

Posting Komentar