Kamu,
ya kamu. Sosok yang menurutku begitu sempurna. Tetap ada kekurangan, namun
itulah menyempurnakanmu.
Diam, kata itu yang menjadi landasan berpikirmu mengenai
kasih. Mengasihi dalam diam. Dan mencintai dalam diam. Entah dapat kekuatan dari
mana untuk bertahan dengan prinsip itu. Tapi kamu mencoba, selalu mencoba. Satu
hal yang membuatku salut.
Mencintaimu, berarti aku harus mencocokkan prinsip yang ku
miliki dengan prinsip yang kau miliki. Prinsip yang jelas sekali kontras.
Prinsip yang saling bertolak belakang. Aku, hanya seseorang yang berusaha
memendam asa pada gadis sepertimu. Ya, memendam, bukan mencoba mengasihi dalam
diam seperti yang kau lakukan.
Perlahan lahan, sedikit demi sedikit, lagi dan lagi. Asa
itu ku pupuk sedemikian rutin. Kini aku hidup dalam dua sisi. Berdamai dengan
asa ku untuk memilikimu dan menahan batin yang dilanda gemuruh rasa takut.
Takut ini bagai ombak, bukan hanya karena satu alasan. Aku takut, takut tak
bisa menahan semua asa ku terhadap mu, takut melukai mu, terlebih aku takut tak
mampu memiliki mu.
Ingin ku ucapkan, dengan segala kejujuran yang telah ku
kubur selama ini, bahwa aku mencintaimu. Tapi bibir ini begitu sulit
mengucapkannya. Lidah ini kelu setiap ingin memulai mengatakannya. Dan
kata-kata itu kembali tertelan bersama ludah dan kegelisahan. Kembali tembok
itu memisahkan aku dan kamu. Ya, tembok rasa takut yang ku ciptakan sendiri.
Tembok yang tercipta dari persekongkolan, antara batin yang gelisah dan benak
yang kalut.
***
Hari ini, mulai pagi ini, seperti biasa, hanya mataku yang
mampu berkata. Andaikan sikap diam mu tak membunuh kepekaan mu. Mungkin saat
ini kau akan menoleh padaku, menatap lurus terhadapku, dan membaca semua
gambaran dari sorot mataku. Dan ku harap setelah itu, kau akan tersenyum
padaku.
Semuanya tak tertahankan. Asa ini, rasa sayang ini, semakin
mencapai batasnya. Semua itu tinggal menunggu waktu untuk menyeruak ke
permukaan. Aku merasakannya, jelas merasakannya. Karena aku yang selama ini
selalu menimba asa dan rasa sayang itu.
“Aku menyukaimu, sangat menyukaimu. Kau berbeda dari
mereka. Entah mengapa, bagiku hanya ada satu yang sepertimu. Yaitu dirimu
sendiri. Tak ada jenis gadis lain, yang mampu menyamai posisimu di mataku saat
ini. Atau, mungkin selamanya, selama kita masih bertemu.”
Mataku melirik ke arahnya. Ke arah seorang gadis yang
tengah tersenyum bersenda gurau. Bagiku dia begitu lugu, jelas lebih lugu
dariku mengenai masalah cinta. Ia murni, satu hal lain yang membuatku takut
untuk mengutarakan perasaanku padanya.
“Mengapa? Mengapa kamu harus begitu berbeda dari perempuan
lain? Mengapa aku harus merasa bahwa kamu istimewa? Entah apa yang telah kau
lakukan, atau sihir apa yang tengah ku percikan pada diriku sendiri. Kau selalu
mapu membuatku tenang. Entah, mungkin untuk saat ini, perbedaan antara tenang
dan gelisah semakin terasa tipis. Senyum mu, gelak tawa mu, bahkan keheningan
mu mampu membuatku terpaku. Ah, mengapa aku harus jatuh dalam cengkraman kasih
seperti ini. Kasih yang membuatku selalu merasa takut.”
Tak ada lagi yang namanya fokus pada satu. Kalau pikiranku
mampu diproyeksi, mungkin bukan hanya di sumbu x dan y. Namun pikiranku telah
merambah kemana-mana. Mungkin kalau pikiranku dapat dilukis, kalian akan
melihat pikiranku terlukis dalam bentuk akar, yang merambah kesetiap celah
bebatuan. Ya, itu lah pikiranku. Tak mampu fokus pada satu hal. Bahkan, gadis
itu telah mampu memecah benakku menjadi beberapa cabang.
Entah mengapa aku harus bertemu dengannya. Disaat dimana
aku seharusnya memikirkan pendidikan, yang akan membawaku ke masa depanku. Tapi
aku yakin, Tuhan memiliki rencana tersendiri dengan mempertemukan aku
dengannya. Mungkin dia akan menjadi semangat tambahanku, ya mungkin. Atau
mungkin, Tuhan ingin aku berkenalan dengan jodohku, yang ini juga mungkin, dan
semoga saja yang ini benar.
Pendidikan, gadis itu, serta cita-citaku. Ah! Semua hanya
memperkeruh benakku. Ingin aku melepas penat dengan melepaskan semua pikiran
itu. Namun sia-sia. Mereka saling terkait satu sama lain. Biar ku perjelas pada
kalian semua. Apabila pendidikanku sekarang lancar, nilaiku bagus, kemungkinan
besar aku akan meraih cita-citaku, impianku. Dan kemungkinan besar, lidah ini
tak akan kelu lagi untuk mengatakan pada gadis itu, bahwa aku mencintainya.
Karena aku bukan lagi anak sekolah yang masih bertopang hidup pada orang tua.
Satu-satunya
hal yang mungkin dapat kubanggakan pada gadis itu kelak, yaitu aku bukan lagi
anak yang ditopang oleh keluarga. Tapi aku adalah seorang pria yang akan mampu
menopang hidup ku dan keluarga kecilku bersamanya. Tuhan, andai aku mampu
mengatakan itu. Namun saat ini, aku masih bukan siapa-siapa. Langkahku masih
jauh untuk mendapatkan semua angan itu, Tuhan. Namun aku tak ingin menyerah.
Tolong bantu aku, Tuhan. Bantu aku membangun langkahku tanpa harus membunuh asa
ku pada gadis itu.
***
Setelah sekian lama, akhirnya aku mampu mengatakan
perasaanku padanya. Setelah terkumpul sekian lama. Mungkin bukit telletubies
pun kalah tinggi dengan bukit asa yang ku ciptakan. Memang tidak langsung ku
katakan. Namun aku mengisahkan perasaanku dalam bentuk tulisan singkat. Tulisan
yang kalian sebut dengan chat.
Aku tak mengatakan langsung bukan karena aku seorang
pengecut. Dan bukan juga karena aku takut ditolak. Aku tak mengatakan langsung,
karena aku tak tahu ekspresi apa yang akan ia torehkan begitu mendengarnya. Aku
takut, kejujuranku membuatnya kurang nyaman. Dan tentunya aku tak ingin
melihatnya merasa kurang nyama karena ku. Ya, lagi-lagi semua yang kulakukan
dilandasi dengan rasa takut.
Keputusan untuk mengatakan semuanya, juga dilandasi oleh
ketakutan. Aku takut kehilangannya, dan aku takut tak mampu menerika sesak,
jikalau aku tahu seseorang berhasil memenangkan hatinya. Semua asa yang ku
tumpuk membuat aku merasa bahwa seharusnya ia miliku, entah kapan, tapi ia akan
menjadi milikku.
Jawabannya
membuatku tertegun, membuatku tergantung. Ia berkata bahwa ia suka pada ku
karena kebaikanku. Entah apa maksudnya, apakah ia mencintaiku atau hanya
sekedar mengagumi kebaikanku. Ah! Siapa yang tahu! Mungkin hanya dirinya dan
Tuhan yang mengetahui apa makna kalimat itu.
Jawaban
itu juga yang memancingku untuk melakukan tindakan yang lebih. Ya, lebih. Aku
mulai belajar mencintai gadis itu dengan cara umum. Dengan prinsip umum yang
berbeda dengan prinsipnya. Dan semua itu membuahkan hasil, kini terlihat jelas
apakah gadis itu peduli padaku atau tidak. Kini aku merasa, bahwa gadis itu
mencintaiku, bukan hanya sekedar mengagumiku. Ia mengatakannya padaku. Secara
tersirat ia mengatakan perasaannya padaku, jawaban atas perasaanku padanya. Satu
hal yang telah melanggar prinsipnya.
Kini
aku bingung, aku ragu. Aku telah mengetahui bahwa ia memiliki rasa yang sama
terhadapku. Tapi entah kenapa, aku justru merasa bahwa aku melakukan kesalahan
fatal. Membuatnya melanggar prinsipnya, seolah aku laki-laki paling kejam yang
pernah ia kenal. Mungkin, ia pernah mencintai laki-laki lain sebelum aku.
Namun, hanya aku yang membuatnya melanggar prinsipnya.
Aku
merasa bersalah. Seharusnya aku yang mengikuti prinsipnya, untuk mencintai
dalam diam hingga waktu yang tepat. Bukan justru menariknya untuk mengikuti
prinsip gadis lain pada umumnya. Menariknya perlahan, untuk menerobos batas
prinsip yang ia jaga selama ini.
Setelah
semua kejujurannya padaku, kini aku merasa ia berubah. Kini apa bedanya ia
dengan gadis pada umumnya? Hal yang istimewa darinya, hal yang selalu membuatku
salut terhadapnya, telah hilang. Dan justru aku yang membuatnya menghilangkan
keistimewaannya. Bodoh! Aku memang bodoh! Seharusnya aku berfikir dahulu apa
resiko dari tindakanku. Asa untuk bersamanya, telah membuatku melakukan
kesalahan.
“Tuhan,
aku mohon, dan aku berharap agar aku mampu memperbaiki kesalahanku. Bantu gadis
itu untuk kembali kepada jati dirinya semula, Tuhan. Hamba mohon. Bantu ia
kembali, menjadi gadis istimewa hamba.”
Aku
benar-benar berharap semua kesalahanku dapat ku perbaiki. Perlahan aku mulai
menjaga jarak darinya. Berharap dia segera lupa akan semua pengakuannya padaku.
Berharap kami kembali menjadi teman akrab, tanpa rasa canggung. Dan tentunya,
berharap ia kembali menjadi jati dirinya yang istimewa.
Tapi
di sudut hatiku, aku tak mau ia melupakan semua pengakuanku. Aku ingin dia
selalu ingat, bahwa ada seorang laki-laki yang begitu mencintainya disini,
yaitu aku. Aku ingin dia selalu mencintaiku, hingga nanti aku mampu
memilikinya.
“Nggak!!! Itu egois!!”
Aku tak bisa dan tak boleh menyiksanya perlahan seperti
itu. Haknya untuk mencintai laki-laki lain. Aku hanya boleh berusaha untuk
merebut hatinya, dan mendapatkannya suatu saat nanti. Bukan mengekang
perasaannya agar tetap menjadi milikku.
Aku
yakin, jika memang Tuhan mempertemukan aku dengannya, karena ia adalah jodohku
kelak, maka Tuhan akan memudahkan kami untuk bersatu kembali. Tapi jika tidak,
aku berharap Tuhan menyertakan pasangan yang baik untuk menjaganya. Sehingga
aku dapat dengan tenang melepasnya, agar ia mendapat kebahagiaannya. Aku hanya
memohon, agar Tuhan memberikan aku kelapangan hati. Dan aku yakin, Tuhan akan menyampaikan
kebahagiaan padaku, ketika Ia tahu, aku telah mampu menghargai kebahagiaan itu.
Kini
aku berusaha untuk melepaskannya. Membiarkan ia bebas menjadi dirinya, yang
dahulu sempat terhapus karena ulahku. Membiarkan ia kembali dengan
keheningannya, dengan senyum derta tawanya. Sedang aku, aku akan menjadi dia.
Mengaguminya dalam diam, hingga waktu yang tepat. Hingga aku merasa cukup mampu
untuk membahagiakannya, tanpa harus membuatnya melanggar prinsip apapun yang ia
miliki.
Aku
yakin, kalau niatku tulus untuk membahagiakannya. Tuhan akan mendengar
semuanya, dan Tuhan akan selalu menjaga gadis tercintaku dalam dekapannya.
Menjaga agar gadis itu tak merasa kesepian, dan tak merasakan kekecewaan. Dan
aku terus berharap, semoga aku yang akan menjadi pelengkap kebahagiaannya
kelak. Tapi untuk saat ini, aku harus fokus pada dua hal, pendidikanku dan
impianku. Bukan berarti aku menghapus gadis itu dari benakku. Aku hanya
mengurangi kadar benakku untuknya. Karena ketika pendidikan dan impian telah ku
raih, aku dapat mencurahkan semua pikiran dan waktuku hanya untuknya. Gadis
impianku.
**Tamat**
Written by : Salma Dhilla
Picture by : Maiya Azyza
Cerpennya keren.... gw dah lama pengen jadi penulis tapi gak ada progress apa2 -__-"
BalasHapuskunjungi blog ku juga yah...http://notesformuslims.blogspot.com/
btw, artikelmu ku share juga di fb inysaallah :)
Wahh makasih. Gue juga masih amatir kok. Kalau mau, lo pasti bisa. Dulu juga gue ga ada progress akhirnya gue paksain. Dan jadi terbiasa nulis walaupun gue masih amatir. Makasih kalau di share. BTW keren ya blog lo tentang islam gitu. Jadi bisa belajar banyak. Tadi mau join tapi bingung caranya.
Hapus