Senin, 31 Agustus 2015

Berlian dalam Kolam Lumpur

         Entah mengapa, semua kembali seperti dulu. Aku harus melalui jalan yang sama, dan menambal sulam jejak lamaku, hanya saja dengan orang yang berbeda. Semua terulang kembali. Kejadian ini, perasaan ini, semua seolah hanya di copy paste.
            Sering kali aku berpikir, mengapa aku harus terlahir disini, terlahir berbeda dan tak pernah didengar. Sampai kapan aku harus terus menerus dipojokkan? Kapan aku akan mendapatkan kebahagiaanku? Kapan ada tangan yang menarikku dari kegelapan ini?
            Aku selalu berada di sisi gelap ini. Saat aku menyukainya, aku berada di sisi yang berbeda dari gadis yang pernah ia sukai. Dan sekarang, saat aku telah bersamanya, aku justru berada di sisi yang lebih kelam lagi. Bukan, bukan karena dia yang aku cintai, tapi lebih kepada mereka disekitarku, yang ‘seolah‘ mengetahui segala hal tentangku.
        Aku harus mengalami hal yang sama. Keluargaku menghakimi pilihanku. Menganggap kalau masa depan pilihanku tidak jelas, pendidikannya juga tidak jelas. Tapi memang siapa mereka yang berani menghakimi pilihanku seperti itu? Mereka Tuhan? Bukan kan! Masih terlalu dini untuk menghakimi masa depan seseorang seperti itu.
            Disaat aku sudah merasakan kebahagiaanku, mereka pasti mengusiknya. Mereka tak pernah menghargai pendapatku. Suaraku tidak didengar disini. Mereka bahkan tak menyadari mataku yang sembab karena lelah menangis. Mereka bahkan tidak menyadari otakku yang stres karena ulah mereka. Apa mereka ingin mengetahui itu? Tidak!! Mereka tidak pernah bertanya tentang apa yang aku rasakan sebenarnya. Seumur hidupku, aku selalu didikte olahnya.
      Sekali aku melawan, sekali aku mengutarakan pendapatku. Ya, mereka menerimanya, tapi setelah mereka menghujaniku dengan kata-kata tolol, goblog, dan tidak tahu terima kasih. Hanya dia yang selama ini mau mendengarkan keluh kesahku. Menjadi pendengar yang baik saat aku membutuhkan teman. Saat keluargaku membentakku, hanya dia yang menenangkanku dan berkata bahwa semua akan baik-baik saja. Kata-kata klise itu yang aku butuhkan, bukan bentakkan. Tapi apa keluargaku mengerti hal itu? Sepertinya tidak.
            Aku telah menemukannya. Dia terbuka padaku, dia mengerti diriku. Aku sangat bahagia ketika ia memilihku. Jika saja keluargaku mengerti, kalau aku yang mengejar laki-laki itu. Mungkin mereka akan menghujaniku dengan kata-kata ‘perempuan gampangan, bikin malu‘. Tapi aku tidak malu akan hal itu. Aku bersyukur karena aku mengejarnya, mengusahakannya, karena sekarang aku tahu, dia tangan yang ku tunggu untuk menarikku dari kubangan derita ini.
         Dan sekarang hal ini harus terjadi lagi. Mereka menolak pria pilihanku. Mereka melarang aku untuk bertemu dengannya. Alasan yang sama, ‘pendidikannya ga jelas, masa depannya belum jelas‘. Bagi mereka, masa depan yang jelas hanyalah pilot, dokter, pengusaha, militer, dan perminyakan. Mereka hanya membuka sebelah mata mereka. Dan selalu memandang ke arah yang sama. Mereka buta akan pekerjaan lain, dan masa depan yang lain.
            Aku mencoba menjelaskan semua itu padanya, pada pilihanku. Ia berkata bahwa ia telah menduga semua itu sejak lama. Aku mencoba untuk mengutarakan keinginanku, namun aku tidak pandai mengutarakan perasaanku. Aku hanya bisa berkata ‘please jangan putus‘, bersama air mata yang membuatku mengatakannya dengan sesenggukan. Tapi itulah perasaan terjujurku saat itu. Aku memang tak ingin mengakhiri semuanya. Aku tidak sanggup meninggalkan kebahagiaanku.
Dia terlalu baik untuk diperlakukan seperti ini oleh keluargaku. Mereka bahkan tak pernah mengundangnya masuk walaupun sekedar untuk berbasa-basi menanyakan alamat rumahnya, atau sekolahnya, atau apalah. Mereka hanya mampu menghakiminya. Itu tidak adil untuknya.
Aku tahu aku egois. Aku egois karena aku memintanya bertahan meskipun keluargaku telah memperlakukannya sedemikian buruk. Aku tahu aku egois karena memintanya bertahan denganku, saat diluar sana ada gadis yang sangat baik dengan keluarga yang sangat ramah sedang menunggunya. Aku tahu aku egois, saat aku berharap kalau ia adalah tangan yang akan menarikku dari lubang hitam ini, dari keluarga yang tak pernah mendengar suaraku. Dari keluarga yang berusaha menjadikanku seorang prajurit yang hanya tahu tunduk dan patuh, tanpa mau mendengar isi hatiku.
Untuk kamu yang berada di sana, kamu yang tak bisa ku temui karena mereka melarangku untuk berhubungan lagi denganmu. Maafkan aku, karena aku telah menarikmu ke dalam deritaku. Memelukmu erat dan tak mau melepasmu, tak membiarkanmu mendapatkan kesempatan untuk menemukan gadis dan keluarganya yang lebih baik daripada aku. Maafkan aku, karena aku tidak bisa berbuat apa-apa saat mereka menghakimimu, menghina harga dirimu. Aku hanya bisa memendam emosi saat itu, aku mohon tolong maafkan aku.
Aku hanya ingin kau tahu, aku sama sakitnya denganmu, saat mereka menghakimimu. Aku sama emosinya denganmu, saat mereka berkata seolah mereka Tuhan yang tahu apa yang akan terjadi dengan masa depanmu. Dan aku sama hancurnya denganmu, saat mereka melarang hubungan ini, bahkan melarang aku untuk bertemu denganmu. Mereka tidak hanya menghinamu, tapi juga aku. Kau adalah orang yang ku kasihi, dan aku tidak terima orang yang kukasihi harus menerima semua hal itu.
Tapi kau tak akan pernah tahu, seberapa sering aku berpikir untuk mati, karena memiliki keluarga yang pola pikirnya sama sekali berbeda denganku. Seseorang pernah berkata padaku “Mungkin kau terlahir di dalam keluarga itu karena pola berpikirmu yang istimewa. Aku rasa kau terlahir dalam keluarga itu untuk memperbaiki semua pola pikir yang salah dari mereka.“ Banyak yang mengatakan kalau hanya perlu satu orang untuk melakukan perubahan. Tapi kalian tidak tahu bagaimana rasanya berbeda. Seolah kau anak marmut yang diasuh oleh keluarga singa.
Bukan cinta yang membuatku ingin mati, tapi mereka yang membuatku begitu. Mereka bukan menginginkan anak, mereka hanya ingin memiliki seorang prajurit patuh yang hanya mengerti kata “iya” bahkan untuk mengorbankan jiwanya sekalipun. Hanya cinta yang tersisa dariku. Dia sumber kebahagiaanku, sumber kasih sayangku, sumber ekspresiku. Dan itu pun ingin mereka renggut dariku dengan alasan bahwa mereka tahu yang terbaik untukku. Bullshit! Kalian menikah lagi saja kalau belum puas menjalani hidup! Jangan mengaturku sesuka hati kalian, aku bukan boneka kalian, dan tak akan pernah menjadi prajurit kalian!
Aku tercipta sebagai seorang pemberontak. Amunisi yang tercipta dari suara yang tak pernah di dengar. Bom waktu dari perasaan yang tak pernah disampaikan. Aku adalah senjata pembunuh, yang akan meledak bila terus dipojokkan.
Kau, orang yang paling aku sayangi. Andai kau tahu, seberapa bahagianya saat aku bersamamu. Andai kau tahu seberapa ingin aku terus berjalan denganmu. Dan seberapa besar aku mencintaimu. Aku bukan penganut majas hiperbola. Aku hanyalah aku, gadis yang mencoba menyampaikan perasaannya melalui kata demi kata ini.
Mereka mungkin memandangmu sebelah mata. Meremehkanmu sebebas mereka. Tapi aku tidak, aku selalu tahu dimana posisimu. Kau setara denganku, karena kau berjalan bersamaku. Kau tidak berusaha mendikteku, tak seperti penggembala yang sedang menyeret domba malangnya dengan menggunakan tali. Aku tahu dirimu, beberapa hal tentangmu, tapi dapat ku katakan kalau aku lebih mengenalmu daripada keluargaku ‘sok‘ mengenalmu. Aku tahu apa yang kau pilih telah sesuai denganmu, dengan passion mu. Dan aku yakin kau akan sukses dibidang itu. Kau akan menjadi orang besar nantinya, aku percaya padamu. Mereka boleh tidak mempercayainya, tapi aku percaya akan hal itu.
Saat kau berkata bahwa kau hanya menjadi penghalang antara aku dengan pria masa depanku yang mungkin jauh lebih baik darimu. Kau tahu apa yang aku rasakan? Aku sedih, aku menangis. Karena aku berpikir kalau kau tak ingin berjuang untukku. Aku mohon, perjuangkan aku. Aku tak memintamu untuk mengejarku, tapi setidaknya pertahankan aku. Kau tak perlu berpikir akan ada yang lebih darimu untuk menemaniku dan berjalan bersamaku. Kau hanya perlu menjadi yang terbaik untukku, dan tetap teguh berjalan di sisiku, menjabat tanganku hingga aku mampu terbebas dari kolam lumpur ini. Aku pasti melakukan hal yang sama untukmu. Aku ingin menjadi yang terbaik untukmu, dan tetap berjalan di sisimu. Ku mohon jangan mengusirku dari sisimu. Aku yakin tempatku sudah tepat, begitu juga denganmu. Kita hanya perlu melompati hambatan-hambatan yang diciptakan keluargaku.
Aku mengemis padamu, agar hubungan ini tak perlu berakhir. Kau tahu kenapa? Karena aku tak ingin melewatkan kesempatan untuk menjadi orang yang mendukungmu dari nol. Aku tahu berjuang dari bawah tidak akan mudah, tapi aku lebih menghargai esensi dari perjuangan itu, dibandingkan hanya menunggumu dipuncak kejayaan.
Balasan dinginmu adalah cambuk untukku. Kata-kata bosan dan tidak mood mu adalah hukuman terbesar untukku. Aku tahu keluargaku telah salah padamu. Tapi ku mohon jangan hukum aku. Jangan bersikap dingin padaku. Jangan tinggalkan aku sendiri. Aku menyayangimu, sangat menyayangimu. Ku mohon bertahanlah untukku. Bertahanlah untuk semua angan yang telah kita bayangkan bersama.
Kita memang masih sama sama muda. Masih di kategori umur yang sering dianggap “ah, kalian ini tahu apa memangnya? Kalian hanya anak kemarin sore.“ Tapi aku tahu apa yang aku inginkan, dan langkah apa yang ingin ku tempuh. Tak perlu menunggu beruban untuk memperjuangkan hal yang aku inginkan.
Saat kau bertanya padaku, bagaimana jika suatu saat nanti, keluargaku mengetahui semuanya, kau ingin tahu apa yang ku pikirkan? Persetan dengan mereka! Aku tak butuh pendapat yang hanya berisi hinaan pada orang yang aku kasihi. Aku mengasihimu, aku memiliki kepercayaan tentangmu dan masa depanmu. Mereka tahu apa tentangmu? Mengajakmu masuk ke dalam rumahku untuk sekedar berbasa-basi pun tidak pernah. Dimana sopan santun mereka padamu yang selama ini banyak membantuku?
Lalu kau berkata kembali “Aku takut kamu kena omel nanti.“ Aku bahkan tidak memikirkan tentang itu. Apapun resikonya, akan aku ambil. Sempat terpikir olehku, kalau kau hari ini masih berjalan denganku karena aku yang memaksa untuk tidak putus. Tapi ternyata aku salah, sebegitunya kau memikirkanku. Aku bahkan tidak peduli dengan hal yang kau khawatirkan. Ini hatiku, perasaanku, aku yang berhak memutuskan akan berlabuh kemana, bukan mereka. Dan aku memutuskan untuk berhenti mencari, aku memutuskan untuk menetap.
Untukmu yang aku kasihi. Ku mohon berjuanglah, berjuanglah untuk dirimu sendiri. Bukan untukku. Berjuanglah menggapai kebahagiaanmu. Berjuanglah mencapai kesuksesanmu. Berjuanglah menggapai apa yang menurut orang lain, mustahil kau gapai. Tidak ada cita-cita yang terlalu tinggi, yang ada hanyalah perjuangan yang tak selesai. Tidak ada asa yang terlalu berharap, yang ada hanyalah ikhtiar dan doa yang belum cukup. Tidak ada mimpi yang mustahil, yang ada hanyalah orang takut untuk tertidur dan bermimpi, takut akan hari esok. Tidak ada kesuksesan kilat, yang ada hanyalah orang yang terus mencoba tanpa kenal lelah. Ingatlah, sebuah berlian, akan tetap menjadi sebuah berlian meskipun ia berada di kolam lumpur sekalipun. Tak peduli dimana kau bersekolah atau bekerja saat ini, kesuksesan berasal darimu, dan dari apa yang kau kerjakan. Bukan dari mana kau berada. 
Hari ini, aku bukanlah siapa-siapamu. Aku tak lebih dari sekedar orang yang mengasihimu, yang mungkin posisiku dapat tergantikan suatu saat nanti. Untuk itu, lakukanlah semua hal dengan hati dan logikamu, demi dirimu sendiri. Kebahagiaanmu, kesuksesanmu, semua adalah milikmu. Bukan aku, dan bukan milik siapapun selain dirimu dan Tuhanmu. Jika suatu saat aku berada di dalam agenda kebahagiaanmu, maka aku akan sangat tersanjung. Tapi aku bukanlah tujuan dasarmu, melainkan dirimu sendiri. Kau harus menjadi orang besar untuk dirimu sendiri, tapi tetap berguna untuk banyak orang. Saat ini, aku hanya mampu berdoa, jikalau suatu saat, namaku akan terpatri di salah satu lembar agenda kebahagiaanmu. Ya, suatu saat. Aamiin.

***

By: Alexa_Belva


Tidak ada komentar:

Posting Komentar