“Apa
kalian sudah pernah checkup ke dokter tentang kandungan istrimu?” Tanya ayah
mertua Dina.
“Sudah, Pa.” Ujar Gio.
“Bagaimana
hasil checkup nya?” Tanya ibu mertua Dina.
Dina hanya tertunduk lesu, tak bergeming. Wajahnya yang
semula bahagia karena baru pulang berlibur dengan suami tercinta, kini terlihat
bermuram durja. Wajahnya terselimuti aura gelap yang memancarkan kesedihan.
Jangankan menjawab pertanyaan dari ibu mertuanya, Dina bahkan tak mampu
berpikir, apa yang dapat menjadi lebih buruk daripada pernyataan dokter 3 bulan
yang lalu.
“Aku ke kamar dulu ya kak.” Ujar Dina pada suaminya, Gio.
“Ya, kamu istirahat saja ya.” Ucap suaminya, mengecup
lembut jilbab Dina.
Dina melangkah meninggalkan ruang tengah. Menyeruap ke
dalam kamar tidurnya. Ia kembali teringat kalimat demi kalimat yang dilontarkan
oleh dokter. Air mata yang sedari tadi coba ia tahan, kini mengalir deras. Ia
tersandar di pintu kamarnya, menangis, dan menangis. Benaknya mencoba untuk
optimis, tapi hatinya tak dapat berbohong. Gundah, khawatir, malu, dan takut
kini tercampur menjadi satu.
“Ada apa sebenarnya? Apa yang dokter katakan, Gio?” Ujar
ibunya.
“Dokter bilang, ada masalah dengan kandungan Dina. Dan
dokter khawatir, Dina akan sulit mempunyai keturunan.” Ujar Gio menunduk.
“Ya Tuhan, kasihan sekali menantuku. Pantas saja tadi
wajahnya seketika murung.” Ujar ibunya.
“Tapi Gio, kita sudah menunggu selama 8 tahun. Umur Dina
sudah lebih dari 30 tahun, sekarang. Akan semakin kecil peluang mempunyai
keturunan. Mau sampai kapan kita menunggu keturunan dari Dina? Dokter saja
sudah memvonisnya seperti itu.” Ujar ayah Gio.
“Maksud papa?”’
“Kenapa kamu tidak menikah lagi? Siapa tahu dengan begitu
kamu akan memiliki keturunan.” Ujar ayahnya.
“Aku tidak mungkin melakukan itu, Pa. Pernyataan dokter
sudah cukup membuat Dina stress dan sedih. Alasan aku mengajaknya berlibur
untuk melupakan stresnya. Aku tak mungkin membuatnya kembali sedih, bahkan itu pasti
akan membuatnya semakin sedih.”
“Papa ini kenapa? Mama ini juga perempuan. Tidak ada
perempuan yang mau divonis sulit memiliki keturunan. Jika saat ini, mama yang
ada di posisi Dina, dan papa di posisi Gio, apa papa akan menikah lagi?” Tanya
ibunya.
“Tapi ini situasi yang berbeda, Ma. Kita semakin tua,
sedang Gio belum juga mempunyai momongan. Mereka kan tidak mungkin hidup hanya
berdua. Jika mereka tidak memiliki keturunan, kalau terjadi apa-apa dengan
salah satu diantara Gio dan istrinya, siapa yang akan menjaga mereka nantinya?”
Ujar papa tegas.
Tanpa mereka sadari, Dina mampu mendengar perkataan ayah
mertuanya dari dalam kamar. Ia semakin terpuruk, tak tahu harus bagaimana. Ia
begitu mencintai suaminya. Ia tak rela membiarkan suaminya menikah lagi dengan
wanita lain. Namun ia juga tak ingin dianggap sebagai wanita egois, dengan
membiarkan suaminya tak memiliki keturunan selamanya.
Dina keluar dari kamar, memandang nanar semua orang yang
sedang berada di ruang tengah. Mertua dan suaminya. Air mata semakin menuruni
pipinya dengan deras. Nafasnya tersengal, perkataannya tercekat. Jantung Dina
berdegup keras saat memandang ayah mertuanya. Bukan karena ia membenci ayah
mertuanya. Tapi ia membenci dirinya sendiri, karena membiarkan benaknya
membenarkan kalimat demi kalimat ayah mertuanya.
“Ma, Pa, Dina minta maaf karena dina belum bisa memberikan
cucu untuk mama dan papa. Tapi demi Tuhan, Dina tidak pernah berharap berada
dalam posisi ini.” Ujar Dina masih terisak.
“Dina,”
Gio
tak mampu berkata apa-apa lagi. Batinnya gundah, perkataan ayahnya ada
benarnya. Mereka tak mungkin hidup hanya berdua. Jika terjadi sesuatu padanya,
siapa yang akan menjaga istrinya nanti. Tapi ia juga tak mungkin menyakiti
wanita yang selama ini ia cintai.
“Papa
minta maaf, Dina. Tapi menurut papa, ini yang terbaik. Kamu ingin Gio bahagia
kan, Dina? Papa mohon, izinkanlah Gio menikah lagi.” Ujar ayah mertuanya.
“Papa,
cukup!” Ujar ibu mertuanya.
Dina
bersujud di kaki ayah mertuanya. Tangisnya semakin pecah.
“Dina
minta maaf, Dina tidak bisa menjadi istri dan menantu yang sempurna. Papa boleh
hokum Dina, papa boleh memaki Dina, terserah Papa. Tapi Dina mohon, jangan
minta kak Gio untuk menikah kembali. Dina sangat mencintai kakak, Dina tidak akan
sanggup melihatnya dengan orang lain. Lagipula dokter bilang masih ada peluang,
Pa. Jadi Dina mohon sekali, jangan minta kak Gio menikah lagi.”
“Tapi
berapa lama lagi kami harus menunggu? Apa 8 tahun itu kurang lama untuk kamu?
Jujur Dina, papa kecewa, dan papa menyesal telah mengizinkan Gio menikah dengan
kamu. Karena ternyata, semua menjadi rumit seperti ini.”
Dina
bangkit, dengan matanya yang masih membendung air mata, ia menatap ayah
mertuanya. Ia tak percaya dengan apa yang ia dengar. Ayah mertua yang selama
ini ia anggao sebagai ayahnya, tega berkata sedemikian tajam padanya. Bahkan
tega membuat hatinya hancur tak berbentuk.
Dina
menyambar kunci motor di atas meja. Berlari keluar rumah dengan mengusap air
mata yang masih membanjiri pipinya. Gio mengejarnya, berusaha menahannya.
“Dina,
aku mohon kamu jangan pergi. Kita selesaikan semua masalah ini.”
Dina
terdiam sejenak. Memandang lekat suami tercintanya.
“Kak,
apa kakak akan mengikuti kata-kata papa?”
“Aku,
jujur aku belum tahu, Dina. Tapi kita bisa bicarakan ini nanti. Sekarang kamu
ikut aku ya, kita kembali ke dalam. Aku temani kamu istirahat.”
Jawaban
suaminya justru membuat Dina bagai tersambar petir. ‘Belum tahu?’ Apa maksud
kata-kata itu? Apa itu berarti ia akan mempertimbangkannya? Tangis Dina kembali
pecah.
“Kak
Gio, aku tahu kakak begitu menghormati papa dan mama. Aku juga tahu kakak tidak
pernah membangkan kata-kata papa dan mama. Tapi aku ini istri kakak. Apa kakak
tidak bisa memperjuangkan aku? Apa semuanya harus berakhir seperti ini kak?”
“Dina,
maksud aku bukan begitu.”
“Cukup
kak, jangan katakan apa-apa lagi. Dina tahu, Dina yang salah. Papa ga salah,
dan kak Gio juga ga salah. Tapi Dina mohon izin, Dina harus pergi. Dina perlu
menenangkan diri dulu.”
Dina
meninggalkan suaminya yang terus memanggil namanya. Bahkan sekarang, panggilan
suaminya tak mampu terdengar lagi di telinganya. Telinganya seolah tak
berfungsi, karena kehancuran batinnya saat ini. Matanya yang masih basah
terfokus pada jalan, berusaha tetap menyeimbangkan motornya yang kini melaju
dengan sangat cepat.
Empat
puluh menit kemudian, Dina tiba di tempat tujuannya. Memarkir motornya dan
kemudian berlari ke atas bukit, tempat kesukaan ia dan suaminya. Ia jatuh bersimpuh
di hamparan rumput hijau. Membiarkan air matanya meleleh membasahi rerumputan.
Bibirnya terkatup rapat, tangannya mencengkram erat kepalanya sendiri.
“Tuhan,
kenapa engkau membiarkan semua menjadi seperti ini? Mengapa harus aku yang
mengalami semua ini?”
Dina
mencoba bangkit, berjalan kea rah sebuah batu besar. Batu yang dipenuhi dengan
coretan-coretan. Ia duduk menyandarkan dirinya pada batu itu, mencoba mengingat
masa sulit yang telah ia lewati bersama suaminya.
‘Dulu,
sangat sulit bagi kami untuk bersama. Orangtuaku tak merestui hubunganku dengannya.
Tak hanya satu, atau dua tahun, tapi bertahun-tahun aku mencoba meyakinkan
kedua orangtuaku, bahwa kak Gio adalah yang terbaik untukku. Aku masih ingat
semua yang telah kami lewati, ya semuanya. Saat aku menangis di sisi suamiku
yang terbaring lemah di rumah sakit karena kecelakaan. Tak kuasa aku melihatnya
dibalut perban, dan diberi transfusi darah. Aku menjaganya, berhari-hari menunggunya
untuk membuka mata. Lega rasanya saat ia membuka matanya dan menyentuh wajahku.
Delapan tahun sudah, kami bersama. Bersama melewati masa-masa sulit, dan
bersama mengarungi masa-masa indah. Hidupku selalu dipenuhi kejutan saat
bersamanya. Seolah, kebahagiaan yang ia berikan tak pernah terhenti untukku. Baik
di masa sulit maupun dimasa indah kami. Tapi, apa semua harus berakhir seperti
ini?’
“Tuhan,
apa aku egois jika aku tak mengizinkan suamiku menikah kembali? Apa aku menarik
suamiku dalam dosa? Jika aku mintanya untuk tak memenuhi permohonan ayahnya.
Aku begitu mencintainya, Tuhan. Sangat mencintainya. Apa aku harus mengorbankan
perasaanku untuk kebahagiaannya, kebahagiaan keluarganya? “
“Tuhan,
apa ini saatnya aku menunjukkan kesungguhanku padanya? Apa ini saatnya aku
harus melakukan pengorbanan terbesarku? Aku sadar, aku tak boleh egois. Mungkin
ini memang satu-satunya cara untuk membahagiakan suamiku. Aku tak ingin
membuatnya semakin tersudut oleh permintaan papa.”
Dina
menggenggam ponselnya. Ada 5 panggilan tak terjawab dari suaminya. Namun, alih-alih
menjawabnya, Dina merasa belum mampu bertemu langsung dengan suaminya. Bahkan
melalui suara sekalipun. Dina membuat pesan suara melalui BBM kepada suaminya.
“Kak,
Dina minta maaf, tadi pergi tanpa meminta persetujuan kakak dulu. Sekarang Dina
sadar, Dina selama ini egois. Papa benar, kakak akan membutuhkan seorang anak,
yang mungkin tidak akan pernah bisa Dina berikan. Dina hanya mau kakak tahu,
dina tak pernah meminta dalam kondisi ini. Kondisi ini adalah kondisi yang
paling ditakuti semua perempuan. Dan ternyata, Dina yang harus mengalami ini.
Dan
kalau Dina boleh terlahir kembali, Dina akan meminta pada Tuhan, supaya dina
bisa manjadi istri yang sempurna. Supaya Dina bisa menjadi seorang ibu. Dan
yang pasti, Dina akan tetap memilih kakak menjadi pendamping Dina. Dina tak
pernah menyesali keputusan Dina untuk bersama kakak.
Dina
sayang sekali sama kakak, Dina sangat mencintai kakak. Dina ingin kakak
bahagia, menua bersama keluarga kecil kakak. Dan mungkin itu memang bukan
bersama Dina. Dina tidak ingin kakak membangkang papa. Jadi, Dina, Dina
mengizinkan kakak menikah lagi. Dina ingin kakak bahagia.
Tapi
maaf kak, Dina tidak bisa kembali lagi ke rumah. Berat rasanya melihat kakak
bersama wanita lain. Dina akan pergi, ke tempat dimana Dina bisa memulai semua
dari awal. Tapi yang perlu kakak tahu, Dina hanya mencintai kakak. Dina pergi
bukan karena Dina ingin mencari pengganti kakak. Tapi Dina pergi untuk hidup
sendiri, untuk belajar bahagia dengan tahu kakak bahagia, walau bukan bersama
Dina lagi. Jadi sekarang, kak Gio baik-baik ya. Dina pamit. Dina sayang sekali
sama kak Gio. Dina harap kakak bahagia dengan pendamping baru kakak. Dina
sangat mencintai kakak.”
Gio
yang menerima pesan itu menjadi khawatir, batinnya berseteru. Ia tak ingin
kehilangan wanita yang begitu ia cintai, wanita yang selama delapan tahun ini
hidup bersamanya. Tapi ia juga tengah terpojok oleh permintaan ayahnya.
Gio
pergi mencari Dina. Berharap Dina berada di bukit, tempat kesukaan mereka. Gio
memacu mobilnya, berharap ia tidak terlambat. Berharap Dina berada disana, dan
masih berada di sana.
‘Dina,
aku salah. Aku mohon jangan pergi. Aku tak akan menuruti permintaan papa. Aku
tak peduli, apa aku akan memiliki anak atau tidak. Yang aku pedulikan sekarang
hanyalah kebersamaan kita.’ Ujar Gio dalam hati.
Gio
memarkir mobilnya. Berlari, mencoba mencari Dina di sekitar bukit. Berlari ke arah
batu besar, namun Dina juga tidak berada disana. Ia terduduk lesu di samping
batu besar. Ia melihat batu itu, ada satu goresan baru disana.
‘Dina
dan Gio. Tuhan. aku harap Gio-ku bahagia.’
Air
mata Gio mulai membasahi pipinya. Ia semakin kalut. Ia berteriak
memanggil-manggil nama istrinya. Namun nihil, istrinya tak berada disana.
“Derrttttt,,,,derrrttt”
Ponsel
Gio berdering, satu panggilan masuk ‘Pak Wira’. Gio menghapus air matanya,
mengatur nafas, dan menjawab panggilan itu.
“Halo?
Mas Gio?” Ujar Pak Wira.
“Ia,
saya sendiri. Ada apa ya, Pak?”
“Mbak
Dina kecelakaan, mas. Sekarang saya ada di rumah sakit Persada, menemani mbak
Dina.”
“Bagaimana
kondisi istri saya, Pak?”
“Saya
kurang tahu, mas. Mbak Dina masih ditangani dokter.”
“Baik,
Pak. Terima kasih. Saya segera kesana.”
Gio
memacu mobilnya menuruni bukit, ke arah rumah sakit Persada. Selama di perjalanan,
ia tak lupa mengabari Papa dan Mamanya untuk uga pergi ke rumah sakit. Sesampainya
di rumah sakit, Gio melihat Papa dan Mamanya sudah tiba lebih dulu. Pak Wira
berdiri di dekat pintu UGD.
“Bagaimana
Dina bisa kecelakaan, pak?” Tanya Gio.
“Jadi
tadi, tak jauh dari pertigaan yang mengarah ke bukit. Ada sebuah mobil yang
melaju cepat di turunan, tepat di belakang motor mbak Dina. Sepertinya mobil
itu remnya blong, mobil itu menabrak mbak Dina. Maba dina terpental mas,
lukanya cukup parah, karena mbak Dina tidak memakai helm tadi. Pengendara
mobilnya sudah diamankan polisi.”
Gio
terduduk lesu di lantai rumah sakit. Air matanya mengalir deras. Ia menyesali
dirinya yang terlambat mancari Dina. Kedua orangtua Gio tertunduk, menyesali
perkataan mereka yang telah membuat Dina pergi, yang membuat Dina kini berada
di dalam UGD rumah sakit.
“Apa
ada keluarga korban disini?” Tanya dokter yang keluar dari ruang UGD.
“Saya
suaminya, dokter. Bagaimana kondisi istri saya?” Tanya Gio khawatir.
“Maaf,
pak. Kami sudah berusaha semaksimal mungkin. Namun pendarahan dikepalanya
sangat parah. Nyawa korban dan kandungannya tidak dapat tertolong.”
“Kandungan,
dokter?” Tanya ayah Gio.
“Iya,
korban tengah mengandung. Sepertinya sudah empat atau lima minggu. Tapi kami
mohon maaf, kami tidak mampu menyelamatkan keduanya.”
Gio
menyeruak masuk ke dalam ruang UGD. Memeluk erat jasat istrinya yang kini
tengah terbujur kaku. Tertidur untuk selamanya. Dina benar-benar pergi
meninggalkan kehidupan Gio. Tanpa dia tahu, bahwa ia tengah mengandung calon
buah hati mereka.
“Tidak
mungkin!! Ya Tuhan, Dina! Dina kenapa kamu meninggalkan aku Dina? Aku belum
sempat minta maaf sama kamu. Aku milih kamu, Dina. Dan kamu tahu, kamu sedang
mengandung anak kita! Aku mohon bangun, Dina!” Ujar Gio memeluk erat tubuh
Dina.
***
Pemakaman Dina telah selesai beberapa jam yang lalu. Sulit
bagi Gio untuk meninggalkan pusara mendiang istrinya. Gio pulang ketika ibunya
berulang kali membujuknya untuk pulang. Dan kini ia tengah berada di kamarnya,
kamar yang dulu ia tempati bersama Dina. Ia menangis, meratapi kebodohannya
yang tak mampu tegas disaat Dina membutuhkannya.
Ia melihat bantal di sebelahnya. Teringat dengan tingkah
manja Dina, yang selalu meminta Gio memeluknya saat mereka ingin tidur.
Teringat saat Gio berusaha keras menghibur Dina, setelah mereka pulang checkup
dari dokter. Memeluk Dina, dan membelai lembut rambutnya. Kini, setiap sudut
rumah itu hanya akan mengingatkannya pada Dina. Istri yang begitu ia cintai dan
mencintainya.
“Dina, aku menyesal. Aku menyesal atas jawaban terakhir yang
aku berikan ke kamu. Kalau saja saat itu aku tegas. Andaikan saja kita tahu
kehamilan kamu lebih cepat. Andai saja papa tak memaksa aku untuk memiliki
keturunan dengan menikah lagi. Pati kamu sekarang masih ada disini. Berbaring
dipelukan aku dan kita akan sama-sama merawat buah hati kita yang tenagah ada
dikandungan kamu. Andai saja aku punya kesempatan untuk bilang ke kamu, kalau
aku sangat mencintai kamu. Dan aku tak masalah jika harus menua berdua saja
denganmu. Aku harap kita akan bertemu lagi nanti ya sayang.”
Penyesalan Gio, kini tak ada artinya. Dina tak akan pernah
kembali. Gio tak pernah menikah lagi. Ia hidup dengan mengembangkan rasa
penyesalan dihatinya. Kini Gio hanya dapat berharap kalau kelak Tuhan akan
mempertemukan kembali ia dengan istri dan calon buah hatinya.
**Tamat**
By : Salma Dhilla (@AlexaBelva)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar