Pedihkah dia?
Ataukah dia kebahagiaan?
Ia bernama kasih
Ia bernama cinta
Tapi aku taak mengerti dia
Apa
ini karnanya?
Air
mata yang tak henti mengalir
Entah
kecewa, entah bahagia
Entah
jua apa tujuannya
Ada yang bilang
Air mata cinta itu indah
Air mata mewarnai hati
Layaknya hujan mengobati bumi
Layaknya bintang menerangi malam
Saat
cinta merayap datang
Lampion
hati mulai mengerjap
Degup
jantung merajai diri
Serta
rona pipi yang tak tersembunyi
Namun, akankah lampionku bertahan?
Aku tak ingin lampionku meredup
Aku tak ingin cinta ini melapuk
Aku tak ingin hati ini meradang
Dan ku tak ingin diri ini terjatuh
Bantu
aku,
Bantu
aku menyinari lampionku
Menyinari
hidupku, hatiku, serta hariku
Setidaknya,
menggores siluet senyum
Di
wajah murah ini
Di saat lampionku meredup
Ku kan mampu mengganti lampion itu
Dengan lampion lain yang akan singgah
Suatu saat nanti.. Ya suatu saat
Tidak ada komentar:
Posting Komentar