Ada satu hal yang pernah
mengganggu benakku, bahkan sempat membolak-balik perasaanku. Hal itu
sempat menghilang sesaat, namun kini hal itu kembali. Ia kembali menghantuiku,
kembali menghujam benakku, kembali membangkitkan asaku yang telah layu dulu.
Ia kembali bukan tanpa sebab. Aku
lah alasan yang membawanya kembali. Kembali
untuk memasuki kehidupanku lagi. Diriku sendiri yang telah menarik hal itu dari
makam yang kuciptakan untuknya. Aku telah membangkitkan sesuatu yang telah ku
kubur dalam-dalam.
Ia tak pernah berubah. Bahkan, dari
sejak ia pertama kali melalui gerbang kehidupanku. Ia masih menjadi dirinya
yang dulu. Dirinya yang pernah menumbuhkan pohon asa di benakku. Dan pohon asa
yang dulu telah ku timbun dengan longsoran gundahku, kini kembali mencuat,
menampakkan dirinya yang sejati.
Ia memang tidak pernah berubah, tapi
aku yang berubah. Entah sejak kapan, aku kembali tertarik padanya. Pada
laki-laki yang mungkin bahkan tak pernah memperhitungkan keberadaanku. Dulu,
kami memang dekat, atau mungkin hanya aku yang merasa begitu. Lalu seketika ia
menghilang, lenyap. Bukan maksudku lenyap tak berbekas, hanya saja, ia seperti
melupakanku.
Dan kini, kesekian kalinya aku
memberitahumu. Ia benar-benar kembali ke dalam kehidupanku. Dan dengan
kesadarannya sendiri, ia memberitahuku segalanya. Segalanya tentang dirinya.
Tapi aku tetap tak tahu, apa kini ia berpikir untuk memperhitungkanku atau
tidak. Atau mungkin, ia hanya menganggapku sebagai sebuah pit stop,
pemberhentian sesaatnya.
Kami kembali seperti dulu. Saat
dimana ponselku sering bergetar, menandakan ada chat masuk darinya. Saat dimana
kami sering bergurau, dan saling tertawa membaca balasan chat dari satu sama
lain. Tapi kali ini, isi chat itu berbeda. Ia lebih terbuka padaku. Dan aku
senang, mungkin itu tandanya ia mempercayaiku. Aku pun melakukan hal yang sama,
mencoba terbuka padanya.
Dia menceritakan tentang
segalanya. Masa lalu nya, bahkan perasaannya dulu pada seseorang. Aku pun
menceritakan masa laluku, masa lalu kelamku. Tanggapannya tak buruk tentang
itu. Itu yang membuatku mempercayainya. Dan secara tidak langsung, hal itu pula
yang memberi kehidupan untuk pohon asaku. Pohon yang telah layu itu seperti
diberi kesejukan baru.
Aku berbeda dengan
gadis yang sempat ia cintai. Teramat sangat jauh berbeda. Gadis itu berada di
sisi sorotan lampu, dikelilingi hamparan rumput hijau yang indah. Gadis yang
selalu tersenyum ramah, dan baik pada semua orang.
Sedangkan aku, aku berada di sisi yang satunya, disisi kelam.
Berada di tengah kabut yang tercipta dari emosiku bertahun-tahun silam.
Bersandar di pohon tua yang telah mati bersama kebahagiaanku. Aku jarang sekali
tersenyum, bahkan mungkin sering menatap seseorang dengan bengis.
Aku, dulu aku sangat membenci kehidupanku. Kebencian itu
yang menghilangkan senyuman di wajahku. Aku berusaha untuk membawa senyuman itu
kembali, namun butuh bertahun-tahun untuk menariknya kembali ke wajahku. Dan
saat kini aku memiliki tawa dan senyumanku kembali, semua itu tak berarti
apa-apa.
Kini benakku mempermainkanku. Ia
berkomplot dengan batinku untuk menghancurkan logikaku.
“Mengapa aku harus mengenalnya, saat
ia mengenal gadis itu? Mengapa aku harus menyukainya ketika ia menyukai gadis
itu? Mengapa aku harus memikirkannya saat ia hanya berdoa untuk gadis itu?“
Serangkaian kalimat itu terus
berjalan berputar-putar dalam benakku. Selayaknya film lama yang terus-menerus
diputar. Aku bosan memikirkan kalimat-kalimat mematikan itu, dan aku muak
mencari jawabannya. Tapi memang dasar tidak tahu diri, kalimat itu tetap
mengalun dalam benakku.
Tak hanya aku dan gadis itu yang
berada di sisi yang berbeda. Tapi juga laki-laki itu. Kami begitu bertolak
belakang, bagaikan air dan api, tidak, mungkin lebih berbeda dari itu. Aku
memang selalu bertolak belakang dengan siapapun, jarang ada yang sepaham
dengaku. Karena aku sadar, jarang ada gadis lain yang memiliki masa lalu
sekelam diriku. Aku bukanlah seorang drama queen, tapi jalan hidupku telah
tertoreh layaknya drama sedih yang kalian simak di televisi.
Aku benci mengakuinya, tapi
laki-laki itu telah mencintai gadis yang tepat. Gadis itu nyaris sempurna.
Entah apa yang membuat laki-laki itu memilih untuk menyerah. Ia berkata padaku,
itu karena ia sadar akan dirinya sendiri. Tapi bagiku, itu bukanlah alasan. Jika
ia benar-benar mencintainya, bukankah ia akan mencoba untuk setidaknya
menyetarakan dirinya dengan gadis itu?
Tapi diriku yang lain bersyukur, ia tak bersama gadis
itu. Diri ku yang ini, sisiku yang egois ini tak ingin membiarkan sifat asli
laki-laki itu terkubur. Aku menyukai sifat aslinya, tak peduli sekonyol atau
sebodoh apapun tindakan yang ia lakukan. Diriku yang ini juga memiliki
pemikiran tersendiri. Untuk apa mencintai seseorang, jika kita harus merubah
diri kita yang sejati menjadi orang lain? Untuk apa kita bersama seseorang yang
selalu membuat kita merasa bahwa diri kita bukanlah apa-apa dibanding orang
itu? Bersama dengan seseorang adalah cara untuk menyempurnakan diri kita, bukan
membuat kita memandang rendah pada diri kita sendiri. Bukankah begitu?
Kini laki-laki itu memang dekat denganku. Mungkin ia
menganggapku sahabatnya, entahlah, hanya laki-laki itu dan Tuhan yang tahu apa
yang sebenarnya ada dalam benaknya. Mungkin ia mengira aku hanya bergurau saat
aku berkata bahwa ia istimewa. Tapi sebenarnya itulah yang aku pikirkan
tentangnya. Mungkin ia tidak menyadari hal itu, tapi biarlah.
Terkadang aku terdiam, tapi benakku tidak pernah diam.
Terkadang benak ini menerawang jauh, berpikir segala kemungkinan yang bisa
terjadi. Jika ia menyukai seseorang lagi, akankah ia merubah dirinya?
Menghilangkan keunikannya, dan menjadi laki-laki kebanyakan? Akankah aku tidak
mengenalnya lagi? Akankah aku kembali menjadi satu-satunya manusia aneh? Tapi
itu adalah haknya, untuk menjadi siapapun yang ia inginkan. Untuk berubah
menjadi seperti apapun, dan untuk mencintai siapapun dengan caranya.
Aku pun juga akan melakukannya dengan caraku. Ia mungkin
tidak mengetahuinya. Tapi aku yakin, Tuhan mengetahui apa isi di dalam batin
dan benakku. Aku hanya memohon satu hal
untuk laki-laki ini. Permohonan yang sama seperti yang ia pinta untuk gadis
itu.
“Tuhan, jika ia ingin berkembang
menjadi laki-laki yang lebih baik, maka bantulah ia. Tapi aku mohon pada Mu,
jika ia ingin merubah total dirinya, tolong ingatkan dia, bahwa dirinya
istimewa. Tolong ingatkan dia untuk tidak merubah keunikannya. Agar dia tak
harus kehilangan jati dirinya. Dan ku mohon pada Mu, tolong berikan ia yang
terbaik untuknya, siapapun, dan apapun itu. Aamiin.“
Aku memang memendam semuanya. Aku memang
memilih untuk menjadi pendengar. Dan terkadang menjawab chatnya yang
menyinggung soal hati. Entah bagaimana ia menanggapi soal itu. Tapi terkadang,
aku berandai-andai. Andaikan aku bertemu dengannya sebelum ia bertemu gadis
itu. Andaikan aku bertemu dengannya saat aku telah berhasil mendapatkan
senyumanku kembali. Tapi ya, semua itu hanya sebatas kata ‘andaikan‘, dan waktu
tak akan sepaham denganku untuk merubah masa lalu.
**TAMAT**
By : Alexa_Belva
Tidak ada komentar:
Posting Komentar