Kamis, 04 Juli 2013

Metamorfosa




“Please maafin aku. Aku nyesel. Aku sadar, dulu aku ga cukup baik buat kamu. Karena itu aku ninggalin kamu, Ven. Sumpah aku minta maaf. Kamu mau kan kembali sama aku?”

Rentetan kalimat itu terlontar bertubi-tubi laksana ombak menghujam karang. Apa yang dihujam oleh rentetan kalimat itu? Guess what, it’s my heart. Kalimat itu gencar menggoda hati ini, meluluh lantakkan tameng sebesar benteng ya telah ku siapkan sedari tadi. And si empunya kalimat itu sendiri namanya Reno, my ex. Kalau kalian lihat, kalian pasti luluh, simpuh sempurna yang dibentuk oleh kaki-kaki panjangnya, tangan yang mendekap tanganku, wajah dengan alis tebal yang meminta belas kasih. Tapi kali ini, tameng yang ku siapkan berhasil memantulkan serangan manis itu.

Aku terdiam, rasanya seperti ada black hole yang menyedotku ke masa lima tahun silam. Masa yang begitu ingin ku hapus, tapi justru menjadi cambuk bagiku. Saat yang sama seperti saat ini, namun dalam keadaan terbalik. Cambuk itu yang membuat kenangan itu menempel erat dalam memori internal otakku, mungkin lebih erat daripada lem tikus.

SMA Nusantara, tempatku menuntut ilmu. Sedang Reno bersekolah di SMA Purnabakti. Kalian pasti pernah mendengar, “Masa SMA adalah masa yang paling indah”. Tapi sayangnya, itu beda arti sama apa yang aku rasakan. Yang aku rasakan justru “Masa SMA adalah masalah yang paling berat”. Saat memori ini terjadi, aku masih duduk di bangku kelas 10, begitupun Reno dan langit sedang redup. Awan bermanjaan dilangit, saling bergandengan satu sama lain. Mentari mungkin sedang tak ingin eksis, karena ia tak terlihat saat itu.

Berbeda dengan sendunya langit, aku justru berdebar saat itu. Hari itu, aku akan bertemu dengan Reno. Beberapa hari sebelumnya, Reno sempat meminta putus denganku, namun aku memintanya untuk memikirkannya lagi. Hingga datanglah hari ini, kami bersepakat untuk bertemu di salah satu kafe di daerah Kemang.

“Maaf, aku ga bisa lanjutin ini semua. Aku jenuh sama kamu. Lagi pula, kita beda sekolah, aku ga bisa kalau harus nunggu balasan SMS kamu terus. Aku mau bebas, ga terikat sama siapapun sekarang. Semoga kamu ngerti.”

Aku hanya bisa membisu, namun di dalam aku remuk. Detik itu juga aku merasa belasan pisau menusukku dan ada palu raksasa yang menghantam kepalaku. Air mataku tak lagi mampu tertahan. Aku mencintainya, masih sangat mencintainya. Lekat dalam benakku janjinya semasa SMP dulu, “Aku ngga akan pernah ninggalin kamu kecuali kamu yang ninggalin aku.” Kurang lebih begitu janjinya.

Namun kini, apa yang tengah aku hadapi? Beberapa bulan duduk dibangku SMA mampu merubahnya hingga sedemikian rupa. Aku bahkan tak mengenalinya lagi.

“Tapi kamu janji..”’’

“Ya, tapi aku ngga bisa nepatin janji itu. Aku jenuh sama hubungan ini. Aku bosen sama kamu. Aku minta kamu jangan pernah nangis lagi karena aku.” Ujarnya memotong pembicaraanku.

“Ok, kalo itu mau kamu, kita putus. Bahkan ga nepatin janji aja ga buat kamu bilang maaf. Kamu ga perlu khawatir, aku ga akan pernah nangis karena kamu.” Ujarku seraya menghapus jejak air mata yang tertoreh di pipiku.

“Ok, kalau itu masalahnya, aku minta maaf karena ga bisa nepatin janji aku. Puas? Kalau gitu kita udah selesai kan? Aku ada keperluan lain.” Ujarnya melangkah pergi.

Saat itu, aku hanya mampu melihatnya. Dalam hati aku menghitung “satu, dua, aku mohon berbaliklah Reno..tiga”. Dan Reno tetap melangkah dengan mantap tanpa melihatku sama sekali. Saat itu, aku memang remuk, bahkan mungkin sudah hancur lebur. Namun, aku bertekad, ia tak akan mampu menghancurkan aku, tidak untuk kedua kalinya.

Ya meski begitu, itu hanya menjadi kenyataan yang aku harus alami lima tahun yang lalu. Kejadian itu, membuatku bertekad, ia harus menyesal karena telah memilih untuk melepasku. Dan cara satu-satunya adalah dengan ia melihatku jauh melebihi dirinya.

Kini aku telah bermetamorfosa. Aku bersekolah di fakultas kedokteran, cita-cita yang tidak bisa Reno miliki. Dulu, ia bercita-cita ingin menjadi dokter atau mengambil jurusan perminyakan. Namun kenyataannya sekarang, dia gagal, bahkan di kedua cita-citanya. Entah bagaimana ceritanya, kini dia justru mengambil jurusan menejemen. Itulah saat dimana aku tertawa lepas untuk pertama kalinya setelah dia menghancurkanku lima tahun lalu.

Dan kepuasan kedua, saat ini, dimana ia membungkuk, memohon kembali cinta yang telah dia hancurkan sebelumnya. Entah apa sebab yang membuatnya ingin aku kembali menjadi miliknya. Mungkin dia telah mendengar kalau aku lebih sukses darinya, selain mendapatkan apa yang ia cita-citakan, aku pun telah menjadi penulis professional dan menerbitkan beberapa buku. Yang dahulu menurutnya aku tak akan mampu menjadi seorang penulis, ia selalu menunjukkan raut wajah malas saat membaca tulisanku. Mungkin baginya, tulisanku bak sampah yang sangat ingin dia bakar. Tapi kini aku membuktikannya.

“Bukannya dulu aku yang ngga cukup baik untuk kamu? Sampai kamu tega ninggalin aku?” Yes, akhirnya kalimat itu berhasil ku lontarkan setelah sepersekian menit aku membatu.

“Ngga, dulu kamu terlalu baik untuk aku, aku takut akan sering nyakitin kamu. Jadi aku milih ninggalin kamu.” Ujarnya mencoba meyakinkanku.

“Lucu ya setelah dua tahun pacaran kamu baru ngerasa akan nyakitin aku. Alasan klise. Tolong beri aku satu alasan kenapa aku harus nerima kamu lagi!”

“Aku sayang sama kamu, Venus. Aku mau kita seperti dulu lagi.”

“Seperti apa maksud kamu? Kamu ngga tahu kan, saat itu aku menghitung dalam hati, supaya kamu berbalik. Karena dulu kamu yang bilang disaat seseorang bilang dia udah ngga ada perasaan apa-apa lagi, tapi dia masih berbalik, berarti dia masih ada setitik rasa yang tersisa. Tapi saat itu jangankan berbalik, menoleh saja seingat aku sepertinya ngga. Sekarang kenapa kamu harus kembali? Untuk apa? Kamu salah kalau ingin kita seperti dulu lagi. Aku bukan lagi itik buruk rupa yang bisa kamu buang. Aku telah bermetamorfosa. Sekarang aku telah menjadi seperti angsa emas yang didambakan semua orang. Bahkan bisa aku lihat sekarang, kamu pun menginginkannya. Sayang, angsa ini tak ingin kamu sebagai pemiliknya. Tapi aku rasa, aku perlu berterima kasih. Karena masa lalu yang kamu kasih, udah buat aku sesukses sekarang. Makasih. Tapi bukan berarti kamu boleh menghancurkan hati orang lain lagi.”

Mobil Nissan Juke bernomor polisi B 173 TR berhenti di pelantaran rumahku. Seseorang membuka kaca mobil dan tersenyum padaku. Aku bangkit dari tempat dudukku, namun Reno mencoba menghadangku.

“Tapi Venus, apa kamu ga bisa kasih aku satu kesempatan lagi?”

“Kamu lupa? Aku udah kasih jeda waktu untuk kamu memikirkannya lagi, tapi kamu tetep pada pendirian kamu kan? Aku ngga pernah denger ada orang yang minta kesempatan ketiga. Perlu aku tegasin sekali lagi, aku bukan lagi itik buruk rupa, aku udah bermetamorfosa menjadi angsa emas. Dan aku tidak menginginkanmu kembali.”

Dan aku berlalu, melangkahkan kakiku dengan mantap kearah Nissan Juke yang terparkir dengan manis menunggu untuk menyambutku. Meninggalkan Reno dengan hitungan dihatinya agar aku menoleh, seperti yang dulu aku lakukan. Tapi kini terbalik, aku tak akan menoleh, bahkan terbesit pun tidak. Aku masih teguh pada tekadku untuk tak membiarkannya membuatku berhitung untuk kedua kalinya. Ku buka pintu mobil yang kini tengah berada di depan tubuhku.

“Maaf lama Va, ada sedikit gangguan.” Kataku seraya mencari posisi yang nyaman untuk duduk di sisi pengemudi.

“Ya ga papa sayang, dia siapa? Kayaknya ada urusan urgent banget sama kamu.” Ujar Vaco menoleh ke kaca mobil di sebelahku, menengok sosok Reno yang tetap tak bergeming dari tempatnya berdiri.

“Kepo deh, bukan siapa-siapa kok. Ngga penting, udah kita jalan aja.”  Ujarku tanpa melirik sidikitpun ke arah kaca mobil.

“Ok.” Dan mobil pun melaju tanpa sedikitpun aku berusaha mengintip Reno dari balik kaca spion.

**TAMAT**



Pesan Penulis:


Jangan takut untuk tersakiti oleh orang yang kalian sayangi. Jadikanlah itu cambuk bagi kalian. Ubah rasa sakit itu menjadi benih metamorfosa kalian. Dan jangan pernah menyia-nyiakan waktu kalian untuk menunggu seseorang untuk berbalik dan menyambut kalian kembali. Ada kalanya kalian harus merasakan fase sakit, agar kalian mengerti apa tujuan hidup kalian. Dan ada kalanya sesuatu yang pernah menyakiti kalian akan kembali, tinggalah kalian yang memutuskan apa itu baik untuk kalian atau tidak. Dibalik kesuksesan dan kebahagiaan seseorang, pasti ada mantan yang menyesal karena telah menyia-nyiakannya.



Oleh: Salma Dhilla (@Alexa Belva)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar