Senin, 22 Juli 2013

Bloody Truth


Tawa membahana terdengar dari meja tempat Riki, Ramon, Vero, dan Winda. Cafe yang awalnya ramai dibuat semakin ramai oleh canda tawa mereka. Celoteh ringan mengenai dosen killer di kampus mampu membuat mereka tertegun bahkan terkadang tertawa saat mengingat kesalahan yang pernah membuat malu sang dosen.
Ramon yang saat itu tengah menyeruput cappuccino pesanannya tiba-tiba berucap “Mainan TOD aja yuk! Bosen ngomongin dosen itu mulu.”
“Boleh, tapi pake apa? Ga ada botol.” Jawab Winda.
“Hmm, gue bawa botol plastik nih. Pas airnya abis, gue lupa buang botolnya.” Ujar Riki seraya mengeluarkan botol dari dalam tasnya dan meletakkannya di meja.
“Oke kita mulai ya?” ujar Ramon seraya memutar botolnya.
Permainan itu berjalan biasa. Satu persatu dari mereka telah menjadi sasaran permainan TOD, sampai akhirnya bagian tutup botol itu mengarah ke Riki.
“Hayo. Jatahnya Riki. Hm, truth or dare nih?” Ujar Winda memandang Riki.
“Truth aja lah. Males gue dare. Abis dari tadi dare nya ga ada yang beres. Yang foto ama waitress lah, yang ngajakin kenalan cewe lah.” Ujar Riki.
“Oke. Kalau gitu gue mau nanya. Sebelum sama Vero, lu pernah pacaran sama siapa lagi?” Tanya Ramon menyelidik.
“Ngga pernah. Vero pacar pertama gue, dan semoga aja jadi yang terakhir.” Jawab Riki menggenggam tangan Vero yang segera di balas senyuman manis dari Vero.
Permainan berlanjut, tanpa mereka sadari sepasang mata mengintai mereka dari kejauhan. Mengawasi setiap gerak-gerik ke lima remaja tersebut dengan tatapan garang.
***
“Ah sialan!”
Ramon menggerutu sendirian, berharap ada taksi yang akan lewat dihadapannya. Sudah setengah jam lebih ia menunggu, sesekali ia melirik jam tangannya. Jam 08.30. Hari ini ia memang ada kuliah malam. Hal itu biasa baginya, namun tidak kali ini.
Dipertengahan jalan pulang, mobil Ramon mogok, dan terpaksa harus ia inapkan di bengkel. Keempat sahabatnya tidak bisa menjemputnya, sehingga Ramon memutuskan untuk berjalan hingga ia mendapatkan taksi.
“Mungkin di perempatan depan bakal ada taksi yang lewat.”
Dengan gontai, ia melangkahkan kakinya melewati bayang-bayang pepohonan yang membuat jalan menjadi temaram. Namun langkahnya terhenti saat ia merasa ada sesuatu yang mengikutinya. Ia menoleh kebelakang, tak ada apa-apa. Namun saat ia menoleh ke depan, matanya membelalak. Tepat dibawah lampu jalan, tak jauh dari tempat Ramon berada, tengah berdiri sosok berjubah hitam dengan membawa pisau yang berkilat dibawah sorot lampu jalan.
“Siapa lo?” Ujar Ramon mencoba melihat wajah sosok berjubah yang ada di hadapannya.
Namun tanpa berkata sedikitpun, sosok itu berlari kea rah Ramon. Bulu kuduk Ramon meremang, ia berlari tak tentu arah. Namun sosok itu tetap mengejar Ramon. Hanya terdengar derapan langkah kaki Ramon dan deru nafasnya yang memburu.
“Pletakk!!!”
Sosok itu melempar sebuah batu yang mendarat tepat di bagian belakang kepala Ramon. Ramon tersungkur seketika, tak bergeming. Darah segar mengucur deras dari kepalanya. Sosok yang tadi mengejarnya semakin mendekat. Menyunggingkan senyuman sinis, puas melihat korbannya tersungkur.
***
Malam itu Riki yang bersiap untuk tidur, tersentak. Mendengar suara seperti barang yang jatuh dari arah lantai satu rumahnya. Dengan bermodal layar handphone nya yang terus ia nyalakan, ia memutuskan untuk menuruni tangga, dan mengecek kebenaran dari apa yang ia dengar.
            Emosi memeluk tubuhnya begitu tahu kalau jendela rumahnya telah pecah karena dilempari seseorang dengan sebuah batu. Ia memperhatikan batu itu sejenak, matanya terbelalak begitu melihat ada bercak darah disana terlebih saat ia melihat ada selembar kertas yang diikat di batu tersebut.

‘Cari Ramon di dekat bangunan tua di Jalan Dharmaraya. If u want to see him again’

Riki tersentak. Khawatir menyelimuti hatinya, terlebih saat ia baru saja ingat bahwa tadi Ramon meminta Riki untuk menjemputnya karena mobilnya mogok.
Riki menyabet kunci mobil yang tergantung di dekat tv. Membawa batu dan surat yang ia temukan tadi. Ia mengendalikan mobilnya dengan kecepatan tinggi, tak peduli handphonenya berulang kali berbunyi tanda sms masuk dari Vero, kekasihnya. Yang ada dalam benaknya saat ini hanya Ramon.
Riki menikung di Jalan Dharmaraya. Memelankan laju mobilnya, berharap bahwa surat kaleng itu hanyalah omong kosong belaka. Namun, mobil itu langsung berhenti, ketika mata Riki menangkap sesuatu yang tergeletak di pinggir jalan. Seperti sepasang kaki lengkap dengan sepatu yang masih menempel.
Riki keluar dari Nissan Juke nya, membawa handphone sebagai penerangan. Detak jantungnya bagai bergema, pikiran negatif kalau itu adalah Ramon memenuhi otaknya. Otaknya kini membenarkan apa yang ia lihat, itu memang manusia. Ia telusuri kaki itu. Degup jantungnya semakin tidak karuan.
‘Ramon! Itu memang Ramon, apa yang terjadi padanya?’ pikir Riki.
Riki mengumpulkan keberaniannya. Dengan tangan yang gemetar, ia berusaha untuk membangunkan Ramon. Namun sia-si, ia tetap terbaring kaku disana. Riki mencoba membalik tubuh Ramon, namun ia tersentak saat melihat luka menganga di leher Ramon, darah segar masih mengucur sedikit demi sedikit dari luka itu. Ia terdiam, membaca apa yang tertulis di kemeja ramon. “You did the dare!” Namun saat ia mendengar sirine mobil polisi dari kejauhan, Riki berlari menjauh. Namun sorot lampu membuat langkahnya terhenti.
Dua orang polisi menyergapnya. Salah satu dari mereka mengecek mayat Ramon, dan satu dari mereka memborgol Riki. Tak lama, ambulans datang dan membawa mayat Ramon dengan kantung mayat untuk di autopsi.
Air mata Riki terus mengalir selama ia diperiksa polisi. Polisi mencurigai Riki lah pelaku pembunuhan Ramon, namun tak ada bukti atau saksi yang menyetujui tuduhan polisi kepada Riki. Esok paginya, Riki diizinkan setelah dimintai keterangan karena polisi tak cukup bukti untuk memenjarakannya.
***
          Kepulangannya dari kantor polisi tak lantas membuat Riki lega. Dalam benaknya masih berkecamuk dendam pada orang yang telah membunuh sahabatnya. Ia tak pernah menyangka kalau Ramon akan meninggal dengan cara yang begitu tragis.
          Vero dan Winda menanti Riki. Saat melihat mobil Riki memasuki garasi, mereka berdua berhamburan menghampiri Riki. Menyambut Riki yang berjalan gontai ke arah ruang tamu dengan berbagai pertanyaan.
          “Sayang, kamu ga papa? Aku yakin bukan kamu pelakunya.” Kata Vero mencoba menenangkan kekasihnya.
          “Kok lo bisa ada di sana?” Selidik Winda.
          “Semalem gue dapet surat di batu yang mecahin kaca rumah gue. Kayaknya ada orang yang sengaja mancing gue buat jadi kambing hitamnya. Siapapun dia, dia harus mati karena udah ngebunuh sahabat gue!” Ujar Riki seraya memukul tembok.
          “Sabar sayang polisi pasti akan nemuin pelakunya.” Ujar Vero.
          “Ga bisa sayang, selama pelakunya belum ketemu, aku yang seolah tersangkanya.”
          “Ya udah sekarang lo istirahat aja, Rik. Kalo gue dapet info baru masalah pembunuh Ramon, lo akan gue kabarin.” Ujar Winda menarik tangan Vero untuk meninggalkan rumah Riki.
          Riki membanting tubuhnya di sofa. Mencoba mencerna apa yang baru saja terjadi.
‘Apa maksud dari tulisan di kemeja Ramon? Apa orang itu membunuh Ramon hanya untuk menantangku? Seolah Ramon adalah bahan permainan TOD? Siapapun dia, dia pasti orang sinting! Gue janji akan bales kematian lo Ram!’ Ujar Riki dalam hati.
***
          Setelah dari rumah Riki, perasaan Winda berkecamuk. Ia sedih karena Ramon telah meninggal, dan ia juga tidak percaya bahwa Riki lah pelakunya. Namun, logikanya mematahkan segalanya. Hanya Riki yang berada di lokasi kejadian, kemungkinan ia pelakunya sangat besar.
          Kepala Winda terasa terbakar, sedang hatinya berkecamuk. Semua kemungkinan yang ada, menurutnya tidaklah mungkin. Dua mata kuliah yang ia jalani hari ini berbuah nihil. Tak ada satupun yang dapat ia serap.
          Ia melangkahkan kakinya menaiki tangga ke atap gedung auditorium kampus. Tempat mereka berempat dulu sering berkumpul. Winda berfikir bahwa pikirannya akan tenang jika berada di sana. Ia terduduk di tepi atap, tempat mereka dulu sering duduk bersama. Tempat yang menurut mereka begitu privasi.
          ‘Ram, kenapa lo pergi secepat ini. Siapa yang tega ngelakuin ini sama lo? Apa bener Riki pelakunya?’
Kalimat itu menjalar bertubi-tubi dalam pikiran Winda. Membuatnya menutup mata, membayangkan saat-saat dulu mereka berempat berada di atap ini. Saat yang tidak dapat diputar ulang, karena Ramon tak akan pernah bisa kembali.
          Winda tak menyadari bahwa dibelakangnya kini tengah berdiri sosok berjubah hitam yang menyeringai menatapnya. Matanya bagai kobaran api yang menyimpan dendam pada Winda. Ia melangkah perlahan mendekati Winda, nyaris tanpa suara.
          Sejurus kemudian, sosok itu telah berada di belakang Winda. Meniup pelan rambut panjang Winda, sehingga membuatnya menoleh. Winda hanya mampu melihat senyuman sinis di balik jubah itu, dan sedetik kemudian tubuhnya telah terjun dari atap dan tertancap di pagar belakang kampus. Darah segar menyembur ke dinding belakang auditorium. Sosok itu melihat mayat Winda dari atap dan tersenyum puas setelah mendorong Winda.
***
          Nissan Juke milik Riki kini telah terpakir rapi di parkiran kampus. Ia berniat untuk menjemput kekasihnya yang saat itu ada kuliah malam. Ia tak ingin kekasihnya bernasib sama seperti Ramon. Diliriknya jam di layar HP nya. Jam 19.20, namun Vero belum juga memunculkan batang hidungnya.
          “Duh pake pengen ke toilet segala! Nyusahin! SMS Vero dulu deh buat nunggu di koridor biasa.” ujar Riki.
          Setelah SMS nya terkirim, Riki melangkahkan kakinya ke arah toilet. Lorong kampus terasa begitu menyeramkan, begitu hening. Hanya sekali Riki berpapasan dengan tukang sapu di kampusnya. Toilet itu, Riki berhenti di depan pintu toilet. Entah mengapa bulu kuduknya meremang, toilet itu terasa begitu mencekam. Dengan lampu kuning yang terkadang berkedip. Namun karena kebelet, ia memaksakan diri untuk masuk ke toilet itu.
          Saat ingin kembali ke mobil, Riki merasa ada seseorang yang mengikutinya. Sesekali ia menoleh kebelakang untuk memastikan bahwa tidak ada yang mengikutinya.
          ‘Perasaan gue doang kali ya?’ ujar Riki.
          Namun baru dua langkah ia berjalan, perasaan itu muncul lagi. Kali ini ia memutuskan untuk kembali menoleh ke belakang. Namun tidak seperti sebelumnya, kali ini ada sosok berjubah hitam yang membawa pisau di kedua tangannya. Ia berada dibelakang Riki, tak jauh dari posisi Riki sekarang. Jubah itu menutup sebagian wajahnya. Membuat Riki tak mampu melihat siapa orang dibaliknya.
Saat Riki tengah terpaku memandang sosok dihadapannya. Sosok itu melemparkan sebuah pisau ke arah Riki, namun meleset. Riki segera berlari meninggalkan sosok itu. Ia mencoba menoleh kebelakang untuk melihat apa sosok itu masih mengejarnya atau tidak, namun ia justru menabrak sesuatu di hadapannya.
“Arrggghh!!!”
“Riki kamu kenapa? Ini aku Vero.” Jawab Vero menggenggam tangan Riki.
Riki mencoba mengatur nafasnya. “Ngga apa-apa. Cuma takut kamu nunggu lama, jadi aku lari-lari. Hehe.” Ia memutuskan untuk berbohong pada kekasihnya agar kekasihnya tidak khawatir akan keselamatannya.
Riki menoleh kebelakang, dan sosok itu tidak ada. Setelah dirasa aman, ia mengajak Vero ke mobil. Mereka berdua berjalan menuju mobil Riki yan terparkir manis. Namun ada yang berbeda dari mobil itu.
“Apa ini?” Ujar Riki mengambil sepucuk surat yang terdapat di kaca depannya, dan membacanya.
“Ada apa sayang?” Ujar Vero melihat surat itu.

‘Cari Winda di setiap sudut kampus ini. Just if you want to know the truth!

“Sialan! Apa lagi yang orang saiko ini lakuin! Dimana kita harus cari Winda?” Ujar Riki menggerutu.
“Aku tau, tempat biasa kita ngumpul. Atap gedung auditorium. Kita cek kesana.” Ujar Vero.
“Ayo sayang.” Ujar Riki menarik tangan Vero ke arah gedung auditorium.
Sesampainya di atap, mereka mencari Winda. Memanggil nama Winda namun nihil, tak ada sahutan. Dan tak ada tanda bahwa Winda disana. Riki merasa surat kali ini adalah surat iseng. Namun, saat ia ingin mengajak Vero kembali ke mobil, ia melihat Vero tertegun. Matanya memandang ke arah tempat yang disorot oleh flash HP nya.
Riki menghampiri Vero. Ia terkejut saat menemukan mayat Winda yang tertancap di pagar. Ia segera memeluk Vero, agar Vero tak lebih lama melihat mayat itu. Saat mereka melihat di pinggir atap tempat biasa mereka duduk, mereka membaca sebuah tulisan bertuliskan “You did the second dare.”
“Sialan!!! Gue bunuh lo!” Ujar Riki memaki.
Sesampainya di mobil, Vero mencoba menelfon polisi, namun Riki menghalanginya. Ia yakin, apabila Vero menghubungi polisi, maka ia yang akan menjadi tersangka, karena waktu ia pergi ke toilet akan dijadikan sebagai perkiraan waktu pembunuhan. Ia tak ingin masuk penjara, ia takut akan terjadi sesuatu pada Vero apabila ia tak ada disampingnya.
Vero memutuskan untuk turun dari mobil. “Ngga! Semua jelas sekarang! Kamu kan yang ngebunuh Ramon sama Winda? Kamu bohong masalah surat ini, pasti kamu kan yang naro surat ini di kaca mobil kamu. Begitu juga batu yang berlumuran darah. Polisi bilang ke aku kalau cuma ada sidik jari kamu disana.” Ujar Vero menuduh.
“Sayang, sumpah. Aku ngga ngelakuin itu. Aku juga ga tau ini ulah siapa!”
“Tutup mulut kamu, aku ga percaya sama kamu. Setelah Ramon dan Winda, siapa lagi yang akan kamu bunuh? Apa aku? Kalau kamu ga salah, seharusnya kamu biarin aku nelfon polisi.” Air mata Vero bercucuran. Hatinya bingung haruskah ia percaya pada Riki atau tidak.
Riki merasa percuma meyakinkan Vero. Ia pasrah saat melihat Vero menelfon polisi tepat di depan wajahnya. Ia mencium kening Vero dan menjalankan mobilnya meninggalkan Vero sendiri menunggu polisi. Yang ada dalam benak Riki sekarang adalah bagaimana caranya lolos dari semua ini.
Sesampainya di rumah, Riki mengambil pakaiannya dan bergegas pergi. Ia sadar, berada di rumah adalah salah satu keputusan paling beresiko, karena tempat pertama yang akan dicari polisi adalah rumahnya. Ia memacu Nissan Juke nya kembali, ia tahu tempat yang aman. Untuk sementara, ia akan tinggal di rumah lamanya di Bogor.
HP nya berdering, terlihat tulisan bahwa ada satu SMS masuk. Dari Vero, ia menepikan mobilnya sebentar. Ia membaca SMS dari kekasihnya tersebut.
“Shit!!”
Vero memberi kabar bahwa ia telah menceritakan kronologis penemuan mayat Winda pada polisi. Namun Riki akan dinyatakan sebagai buronan karena telah melarikan diri dari proses penyelidikan apabila ia tidak segera memberi kabar dan menemui polisi untuk memberi keterangan. Kini batin Riki semakin berkecamuk, ia akan diburu oleh polisi untuk apa yang tidak ia lakukan. Sepertinya ia harus menetap di rumah lamanya dengan waktu yang lebih lama dari dugaan awalnya.
***
Sudah satu minggu Riki menetap di rumah lamanya. Dan ia sungguh ditetapkan menjadi buronan. Ia masih bersyukur, polisi belum menemukannya di rumah lamanya ini. Ia merindukan Vero, walaupun Vero sudah tidak mencintainya lagi, tapi ia masih mencintainya. Tak lama, sebuah SMS dari nomer Vero membuat gemuruh HP Riki.
          
‘Jalan Wangsaagung No.70. If you want to see your love again! Haha

Mata Riki berapi-api membaca SMS itu. Otaknya dipenuhi kecemasan dan rasa dendam. Ia pun membalas SMS itu.

‘Kurang ajar! Ga akan gue biarin lo berbuat sesuatu ke Vero. Kali ini lo pasti gue bunuh!

Tak ada balasan dari nomer Vero. Riki memacu mobilnya kembali ke Jakarta dan mencari alamat yang ada di SMS itu. Ia tidak mempedulikan apabila polisi akan menangkapnya. Tak akan ia biarkan sesuatu terjadi pada kekasihnya meskipun ia harus masuk penjara sebagai gantinya.
          “Kenapa gue malah sembunyi dan ninggalin Vero sendirian si! Dasar bodoh!”
          Mobil Riki terhenti di sebuah bangunan tua tak terawat. Di nomor depannya tertulis Jl. Wangsaagung No.7. Tanpa pikir panjang ia langsung memasuki bangunan tua itu dan mencari Vero.
          “Vero, sayang kamu dimana?”
          Mata Riki tertuju pada sebuah kamar yang pintunya sedikit terbuka. Ia mendorong pintu lapuk itu agar lebih terbuka. Dan ia melihat Vero dan keadaan terikat dikursi. Ia mencoba melepaskan ikatannya. Namun sosok berjubah hitam itu telah berdiri di belakangnya. Sosok itu memukul kayu ke bagian belakang Riki hingga pingsan.
***
          Riki tersadar, matanya berkunang-kunang. Dihadapannya kini ada sosok berjubah hitam yang tengah membelakanginya. Namun ia tidak melihat ada Vero disana.
          “Sialan! Lo apain Vero! Lo apain? Sampe lo ngapa-ngapain dia, gue bunuh lo!” ujar Riki yang memberontak dalam keadaan terikat di kursi.
          Sosok itu berbalik dengan menggenggam sesuatu ditangannya. Riki baru sadar, yang dibawa oleh sosok itu adalah pisau lipat yang selalu ia bawa. Pisau yang menurut Riki sangat tajam. Sosok itu membuka tudung jubahnya.
          “Elo! Elo!! Jadi selama ini elo pelakunya! Biadab lo!” Riki histeris.
          “Sssst!! Kenapa? Kaget liat aku berdiri? Kamu bisa diem kan sayang? Kamu liat disamping kamu ada foto siapa? Foto dua sahabat kamu yang udah mati.” Ujar sosok itu menolehkan wajah Riki ke arah foto mayat Winda dan Ramon di tembok sebelah Riki.
          “Cindi, apa-apan lo! Apa salah mereka sampe lo bunuh mereka semua! Dimana Vero?” Ujar Riki memberontak.
          “Ohh tenang, Vero masih aman. Kamu tanya aku salah mereka apa? Kalian bertiga salah! Ayolah jangan mendramatisir dengan pura-pura lupa kesalahan kalian apa!”
          “Cindi, kita ga ada salah apa-apa sama lo! Dasar cewek gila!”
          “Aku emang gila, aku gila karena kamu. Kamu beneran ga inget semuanya? Dulu, sebelum ada mereka berdua kita pasangan bahagia. Kita saling mencintai. Kamu lupa kejadian 3 tahun lalu? Saat kita jalan-jalan berdua naik motor, dan kamu ngebut saat itu. Padahal udah aku bilang jangan ngebut, inget? Kita jautoh dari motor, kamu ga papa, tapi sayangnya aku lumpuh. Kaki aku ga bisa bergerak! Kamu inget semuanya?” ujar Cindi menangis.
          “Cindi kalau masalah itu aku minta maaf… tapi.” Ujar Riki memotong pembicaraan Cindi.
          “Ssst.. Aku belom selesai ngomong sayang. Dulu awalnya kamu masih bisa terima aku, dan ngerasa bersalah sama aku. Karena kamu yang buat aku lumpuh. Kamu selalu nemenin aku terapi, nyemangatin aku. Tapi setelah mereka berdua dating apa yang kamu lakuin? Kamu habisin waktu kamu sama Winda dan Ramon itu. Ga ada waktu untuk aku. Sampai akhirnya kamu mutusin aku dengan alasan apa? Kamu butuh pacar yang lebih punya semangat hidup, yang bisa di ajak kemanapun kamu pergi, yang bisa kasih support buat kamu bukan kamu yang harus kasih support buat pacar kamu. Kamu tau? Saat itu aku hancur dengernya! Aku seperti itu karena kamu. Aku harus duduk di kursi roda karena kamu. Dan seolah kamu ga peduli. Mereka selalu menatap aku iba, jijik, selalu menatap dengan tatapan seolah aku ga pernah pantas buat kamu. Maka dari itu, aku benci mereka. Mereka harus mati agar mereka tau rasa sakit yang aku rasakan dulu.” Ujar Cindi menutup mulut Riki.
          “Mereka ga salah! Lo yang terobsesi sama gue.” Ucap Riki.
          “Ya, kamu bener, aku kan udah bilang. Aku gila karena kamu.”
          Tiba-tiba seseorang memasuki ruangan tempat Riki disekap, yang membuat Riki semakin terbelalak, itu Vero. Dia membawa nampan berisi pisau, yang membuat Riki yakin ia tak akan mampu selamat kali ini.
          “Jadi lo berdua komplotan! Kurang ajar!” Ujar Riki memaki.
          “Sssst.. sayang diem dulu dong. Aku itu sepupunya kak Cindi. Dan perlu kamu tau, memang kak Cindi yang membunuh Ramon dan Winda, tapi aku yang menaruh surat itu di mobil kamu, dan ngelempar surat kaleng ke rumah kamu. Dan kamu tau kenapa mobil polisi bisa secepat itu sampai ke tempat mayatnya si Ramon? Karena aku yang ngasih tau ke kak Cindio kalau kamu udah ninggalin rumah dan pergi kesana. Ga mungkin kan kak Cindi ngelakuin semuanya sendiri? Dasar cowok bodoh. Jatuh cinta dengan umpan, fantastis! Bahkan kamu ngga sadar kan kalau cara aku merhatiin samu sama dengan cara kak Cindi merhatiin kamu dulu. Kamu tau kenapa kamu ngga sadar? Karena menurut kamu seolah dia udah ngga ada! Sama seperti jawaban kamu malam itu bahwa kamu ngga pernah suka sama siapapun selain aku.” Ujar Vero tertawa di samping telinga Riki. Sekarang kamu diem ya Riki sayang.” Ujar Vero menempelkan lakban ke mulut Riki.
          “Vero, sebaiknya kamu pergi dari sini. Nama kamu bersih, aku akan menyelesaikan urusan aku sama dia, makasih atas bantuan kamu. Ga akan ada yang tahu kalau kamu bagian dari semua ini. Aku janji!”
          “Ok, aku pamit. Selamat bersenang-senang!” Ujar Vero memeluk Cindi.
          Vero berlalu meninggalkan Cindi dan Riki dengan senyum sinis mengembang di sisi bibirnya. Setelah bayang-bayang Vero tak terlihat lagi di tembok. Cindi langsung menyayat kedua pergelangan kaki bagian belajang Riki. Riki menjerit tertahan. Namun tidak puas dengan itu, Cindi menyayat pergelangan tangan kanan Riki.
          “Ini yang terakhir, karena kata-kata kamu yang menyakiti aku. Kamu akan mati seperti Ramon!” Cindi mengambil pisau yang terlihat sangat tajam, berkilat. Ia menyayat leher Riki, darah menyembur kepakaian Riki. Dan Cindi tersenyum melihat detik-detik terakhir Riki kehabisan darah, dan mati menyusul dua sahabatnya.
“Maafin aku sayang, aku sayang kamu. Tapi aku ga bisa liat kamu sama yang lain. Aku akan nyusul kamu. Tunggu aku ya.” Ujar Cindi mencium kening Riki dan menusukkan pisau yang ia gunakan untuk menyayat leher Riki ke perutnya sendiri. 


**TAMAT**

Tidak ada komentar:

Posting Komentar