Kamis, 01 November 2012

Mungkin

             Aroma embun tercium khas olehku. Rintik demi rintik hujan telah membasahi jendela kamarku. Kelabu mewarnai langit, membantuku semakin terikat dalam sendu. Sesekali ku tengok ponsel dalam genggamanku. Nihil, tak ada tanda darinya. Tanda dari laki-laki yang begitu aku cintai, Ray. Sudah satu bulan belakangan, aku tak lagi berkomunikasi dengannya.

         Sesaat aku memejamkan mataku, ku coba mengingat kenanganku bersamanya. Perlahan terlihat kembali kenangan itu. Disaat kami duduk di sebuah pendopo di pinggir danau, dikala gerimis seperti hari ini. Saat-saat dimana Ray tersenyum, tertawa, bahkan termangu karena ulah konyolku. Huft, saat yang ku yakini tak kan terulang.

        ‘Tapi kemana Ray sekarang? Tidakkah ia merindukanku seperti aku merindukannya? Masihkah ia ingat padaku. Akankah penantianku berakhir dengan kecewa? Atau kebahagiaan? Mungkin, tak ada yang tahu.’ Sederet kalimat itu membuyarkan lamunanku. Membuatku enggan melanjutkan lamunanku lagi.

        Aku beranjak dari sofa, dengan gontai ku langkahkan kakiku ke tempat tidurku. Tiap langkah yang kuambil, tak mampu mengusir sosok Ray dalam benakku. Ku banting diriku di atas kasur yang empuk, mencoba untuk terlelap sejenak.

‘Apa aku mencintainya. Ku akui, aku memang mencintainya. Begitu pula yang ia katakan kepadaku satu tahun yang lalu, sebelum ia pindah ke Bandung. Tapi apa dia masih mencintaiku? Bahkan, apa pernah ia termangu hanya demi memikirkanku? Mungkin.’ Semua kalimat itu seperti bersahut-sahutan dalam hatiku. Dan selalu, selalu hanya kata mungkin yang dapat mengakhiri dilema yang kurasakan.

‘Apa aku tidak jenuh dengan semua ini? Ya! Tentu aku jenuh, aku jenuh jika harus menunggunya. Aku jenuh jikalau aku tak pernah mampu melihatnya langsung, namun ia harus terus memenuhi benakku, membayang-bayangi hidupku, membuatku dilema layaknya ada jati diri lain dalam diriku. Aku jenuh. Aku ingin melihat Ray secara langsung, bukan hanya halusinasi yang terjadi karena persekongkolan antara mata, hati dan otakku. Aku merindukannya. Ku rasa, rindu ini telah merusak otakku. Sehingga aku terus menerus berhalusinasi dan merasa kalau Ray ada di dekatku. Dimana kamu, Ray. Aku rindu kamu. Akankah kamu baik-baik saja disana?’ Hatiku kembali bimbang. Kalimat-kalimat itu semakin meracuni otakku. Semakin menyedotku lebih dalam akan ketidakpastian.

***

“Ra, Kira.”

Aku membuka mataku. Semuanya putih, silau. Aku memejamkan kembali mataku.

‘Dimana aku? Mengapa begitu terang disini? Bukankah tadi aku berada di ranjang empukku?’

“Ra, Kira. Bangun Ra.”

Suara itu. Aku seperti mengenal suara itu. Perlahan ku buka kembali mataku. Aku melihat sosok yang selama ini begitu ku rindukan, Ray. Dia hadir dihadapanku sekarang. Tersenyum seperti biasa, senyuman hangat yang selalu mampu meluluhkanku tak peduli sebesar apa amarahku terhadapnya. Namun, kali ini ada yang berbeda dari senyumannya. Wajahnya terlihat pucat, bibirnya membiru, dan  ada lingkaran hitam disekitar matanya.  Hanya senyumannya yang tetep manis bagiku.

“Ray?” Ku coba untuk bangkit.

“Ya Ra, ini aku. Kamu masih inget kan Ra sama aku?” Jawabnya. Tangannya menyapu perlahan pipiku.

“Ini beneran kamu Ray?”

“Iya Ra, tadi kamu tidur dipangkuan aku. Nyawa kamu masih diawang-awang ya Ra?” Tanyanya meledekku.

‘Apa yang barusaja Ray katakan? Aku tertidur dipangkuannya? Mimpikah aku?’ Renungku dalam hati.

“Ra! Hay kok ngelamun?” Ray mengibaskan tangannya dihadapanku.

“Ngga kok Ray. Aku ga percaya aja kalau hari ini aku bisa ngeliat kamu. Kamu pucet banget. Sakit?” Tanyaku seraya menyentuh wajahnya.

Ray menunduk seraya menggelengkan kepalanya. Wajahnya terlihat muram. Entah apa yang terjadi padanya dalam tempo satu bulan ini.

“Kamu kenapa Ray?”

“Ga papa Ra. Ra, aku mau tanya, kamu jawab jujur ya.”

“Tanya apa?”

“Apa kamu masih mencintai aku?” Matanya menatap ku.

“Ngga perlu aku jawab, kamu pasti sudah tau jawabannya kan, Ray?”

“Tapi aku mau denger langsung dari kamu. Please.” Ku lihat matanya basah, membendung air mata.

“Ya Ray. Aku masih mencintai kamu. Dari dulu sampai sekarang, perasaan aku tetep sama ke kamu.”

Ray mengecup keningku, ku rasakan ada air mata yang menetis di pipiku. Ray memelukku. Ku rasa ada yang berbeda darinya. Ray yang ku kenal dulu begitu periang, namun kali ini ia terlihat begitu muram.

“Ada apa Ray? Cerita sama aku.” Aku seka air matanya dengan kedua tanganku.

“Ga ada apa-apa Ra. Aku cuma mau kamu tau, aku mencintai kamu. Apapun yang aku bilang ke kamu, semuanya bohong, yang bener cuma aku mencintai kamu sampai kapanpun.”

“Maksud kamu semuanya bohong apa Ray?”

Ray bangkit dari duduknya. Belum sempat ia menjawab pertanyaanku sedikit demi sedikit Ray memudar, menghilang.

“Ray! Jangan tinggalin aku, Ray!”

***

Aku terbangun di sebuah ruangan bercat biru. Ini kamarku. Ku atur deru nafasku yang masih memburu. Ku coba mencerna apa yang baru saja terjadi.

‘Kemana Ray? Apa tadi itu mimpi? Apa maksud perkataannya?’

Ku langkahkan kakiku ke arah westafel. Ku basuh wajahku, semuanya terasa begitu nyata. Jantungku masih menggebu cepat.

‘Apa terjadi sesuatu dengan Ray? Tak biasanya detak jantungku seperti ini.’ Ku putuskan untuk ke Bandung hari Minggu ini.

***

        Semenjak mimpi itu, aku gundah. Aku takut terjadi apa-apa dengan Ray. Hari ini, aku putuskan untuk pergi menemuinya. Beruntung, Ray pernah memberi tahu ku alamatnya di Bandung.

        Ku pacu mobilku dengan kecepatan tinggi. Tak peduli jika tindakanku dapat membahayakan nyawaku. Aku harus bertemu Ray, aku harus tau bagaimana keadaannya.

        Sesampainya aku di rumahnya, Aku memanggil-manggil nama Ray. Ray menampakkan dirinya. Rasa rindu yang selama ini terpendam, terluap secara spontan. Aku memeluknya, air mata ku tak kuasa terbendung karena bahagia bertemu dengannya. Ray melepas pelukanku. Ia terlihat bingung bagaimana aku bisa berada di Bandung. Ia mempersilahkan aku masuk dan duduk di sofa ruang tamunya.

        “Ada apa kamu ke Bandung Ra?” Tanya Ray bingung menatapku.

        “Aku cemas mikirin kamu. Satu bulan belakangan ini, kamu ngga pernah ngasih kabar. Apa kamu baik-baik aja?” Tanyaku seraya mengelus pipinya.

        “Aku baik-baik aja, Ra. Maaf kalau aku ngga ngasih kabar ke kamu. Sejujurnya, aku udah ngga sanggup ngejalanin hubungan sama kamu. Aku jenuh Ra, kalau cuma bisa berkomunikasi sama kamu lewat telfon atau sms. Aku butuh pacar yang bisa dengan mudah aku temuin. Maaf, tapi aku udah punya pacar baru Ra. Aku bingung gimana caranya nyudahin hubungan kita, maka dari itu aku ngga ngasih kabar ke kamu karena aku fikir, kamu akan segera ngelupain aku.” Jawab Ray, menjauhkan tanganku dari pipinya.

        Sakit rasanya mendengar semua itu keluar dari mulut Ray. Tak pernah terfikir olehku kalau Ray menduakanku. Rasanya bagaikan tersambar kilatan petir. Air mata kebahagiaan yang sempat membasahi pipiku, berubah menjadi air mata kesedihan yang menghujam hati dan benakku.

        “Kamu pasti bohong Ray. Kamu bercandakan?” Ucapku disela-sela rasa perih yang kurasakan. Jujur, hatiku menentang kenyataan ini.

        “Aku serius Ra. Sekarang kamu udah tau semuanya. Aku harap kamu ngerti. Lupain aku, lupain semua tentang kita. Aku ga sebaik yang kamu kira, Ra.”

        “Kalau emang yang kamu bilang bener, tolong tunjukin aku pacar baru kamu.” Tantangku seraya menyeka air mataku.

        “Ayo kalau kamu mau.”

        Ray menarik tanganku. Membawaku kesebuah rumah. Disana ia memanggil-manggil nama Indah. Jujur, hati ini terasa semakin sakit. Menyesal rasanya aku memintanya menunjukkan kekasih barunya padaku.

        Seorang gadis muncul dari balik pintu kayu tua. Gadis berjilbab, dia kah yang bernama Indah, kekasih baru Ray? Ia terlihat bingung dengan apa yang dilihatnya.

        “Ray ada apa?” Tanyanya sambil membuka pagar kecil rumahnya.

        “Tolong bilang sama perempuan ini, kalau kamu itu pacar aku.”

        “Ya tapi, ada apa Ray. Dia siapa?” Tanya Indah. Wajahnya menyiratkan kebingungan.

        “Dia mantan aku yang pernah aku certain ke kamu, Kira. Sekarang tolong bilang ke dia kalau kamu itu pacar aku.” Ucap Ray seraya melepaskan pegangan tangannya dari ku.

        “Ya, aku memang pacar kamu Ray.”

        “Sekarang kamu dengar kan? Aku udah punya Indah, Ra.”

        Ku tatap mata Ray lekat-lekat. Aku masih tak percaya semua kenyataan ini.

        “Tatap mata aku, dan tolong bilang. Apakah kamu masih mencintai aku atau ngga?”

        “Aku sudah ngga mencintai kamu lagi. Dan tolong, jangan pernah ganggu aku.”

        “Baik, kalau itu yang kamu mau Ray. Aku akan pergi dari hidup kamu.” Jawabku seraya berlari meninggalkan Ray dan Indah.

Hatiku hancur. Aku ke Bandung untuk bertemu dengan Ray karena aku mencemaskannya. Tapi ternyata ia tak perlu rasa cemas dari ku. Ia telah memiliki gadis lain. Mungkinkah ia sengaja menyakitiku? Ataukah ini karna ulahku sendiri yang membuatnya meninggalkanku?

        Ku pacu mobiku kembali ke Jakarta. Rasa hancur dan sedih membuatku memacu mobilku dengan kecepatan tinggi. Hingga tanpa sadar, aku menabrak sebuah mobil yang sedang menepi.

        “BRUAAAGG”

***

        Ku buka perlahan mataku, semuanya putih. Apakah ini mimpi seperti dulu? Perlahan penglihatanku yang nanar kembali normal, ini di rumah sakit. Ada mamaku yang tengah tertidur di sisiku. Aku membelai rambut ibuku. Ia terbangun. Mamaku bilang, kalau aku sudah 2 bulan koma di rumah sakit. Aku ingat kalau mobilku menabrak mobil lain di jalan tol.

        Kepalaku masih terasa sakit. Kakiku tak mampu ku gerakkan. Mungkinkah aku lumpuh karna kecelakaan itu?

        “Ma, kenapa kakiku ga bisa digerakkin?” Tanyaku, air mataku tak mampu terbendung.

        “Kamu lumpuh nak, dan leher kamu patah.” Ucap ibuku menangis, ia memelukku.

        Aku hanyut dalam kesedihan, aku cacat. Ray yang ku cintai tak akan lagi memberiku semangat. Bahkan sebelum aku seperti ini, ia telah meninggalkanku.

        “Ra, mama dapet surat. Katanya buat kamu. Ini suratnya.” Sambil menyodorkan sepucuk surat kepadaku.

        “Dari siapa ma?” Ku raih surat itu.

        “Mama kurang tau pasti Ra.”

        Kubuka surat itu dan mulai kubaca perlahan.

       
        Teruntuk malaikat kecil aku, Kira.

Ra, ini aku Ray. Aku sengaja ngga nulis nama aku di amplop ini karna aku takut kamu ngga mau baca.

        Ra, sebenarnya aku mengidap radang paru-paru kronis. Aku baru tau kalau aku mengidap penyakit itu, satu bulan yang lalu. Tepat saat aku udah ngga ngasih kamu kabar. Aku shock Ra. Aku tau, dengan aku memberitahu kamu tentang penyakit aku, justru hanya akan membuat kamu sedih. Aku ga sanggup ngeliat kamu sedih. Jadi aku buat rencana itu. Indah yang aku akuin  sebagai pacar aku, sebenarnya sepupuku yang belum pernah aku kenalin ke kamu. Aku minta bantuannya untuk mengaku kalau aku ini pacarnya. Awalnya dia menolak, tapi akhirnya dia mau karena dia tau tujuan aku bukan untuk menyakiti kamu.

        Ra, maafin aku. Aku ngelakuin itu semua karna dokter udah memvonis umur aku ngga lama. Aku ngga mau kamu sedih berlarut-larut. Maaf karna aku udah nyakitin hati kamu. Karna aku fikir, dengan aku buat kamu sakit hati, kamu akan ngelupain aku. Aku tau kamu bukanlah Rose Dowsen yang mampu cepat bangkit setelah Jack Dowsen udah ga ada. Dan juga aku tau, kita bukanlah Aphrodite dan Andonis, dimana kalaupun Andonis udah ngga ada, dia masih bisa nemuin Aphrodite setiap musim semi. Aku akan pergi buat selamanya Ra, aku ngga akan mampu nemuin kamu lagi. Tapi ternyata aku justru buat kamu celaka. Maafin aku, Ra.

        Aku mencintai kamu, Ra. Masih sangat mencintai kamu. Aku bohong kalau bilang aku ngga mencintai kamu. Maafin aku ya Ra. Walaupun aku udah ngga lagi hidup di dunia yang sama seperti kamu. Dan kamu ngga lagi bisa liat aku. Tapi aku akan selalu ada di deket kamu dan hidup di hati kamu selama kamu masih mencintai aku.

        Selamat tinggal Kira. I LOVE YOU..

        Air mataku semakin membanjiri pipiku. Terkutuklah aku, mengapa aku bisa lupa kalau Ray pernah datang di dalam mimpiku dan bilang kalau apa yang dia ucapkan itu bohong? Aku hanya memikirkan perasaanku yang hancur kala itu, tanpa aku mencoba mengingat mimpi itu. Harusnya aku bisa nemenin Ray dan buat kenangan indah sama dia. Aku begitu bodoh!
 
“Ma, apa Ray sempet kesini?” Tanyaku.

        “Sempet Ra, tapi…” Mamaku menunduk.

        “Tapi apa ma? Kalau Kira udah sembuh, Kira mau ketemu Ray. Ray lagi sakit ma. Mama temenin Kira ya, Kira ngga mungkin kesana sendiri.” Ucapku merengek.

        “Ray udah ngga ada Ra. Dia meninggal seminggu yang lalu.”

        “Mama pasti bohong kan ma? Ray masih hidup.” Air mataku  tak henti-hentinya mengalir. Terasa sulit untuk menerima semua kenyataan ini. Aku tak bisa menemani Ray di akhir sisa hidupnya karena kebodohanku sendiri.

        “Ray maafin aku.. Aku sayang kamu.. Maafin aku..” Teriakku histeris..

Nafasku berat. Penglihatanku berubah nanar. Terlihat dokter dan suster mengelilingiku. Dan mamaku menjauh, memeluk papa dengan berlinang air mata. Semua berubah gelap. Hanya sayup-sayup terdengar teriakan mama memanggil namaku.

‘Hhhhh… Ray, tolong tunggu aku. Maafin semua kebodohan aku. Aku masih sayang kamu.’ Pikirku.

***
       

Pesan penulis:            

 

Dekaplah orang yang kamu cintai selagi ia di dekatmu. Cintailah dia,selama ia mencintaimu. Lindungilah ia disaat ia membutuhkanmu. Pedulilah padanya seperti dia peduli padamu. Karena takdir tak mudah ditebak. Ketika mereka pergi, mereka tak akan pernah kembali tuk mewarnai hidupmu lagi.

Kalian bukan Aphrodite dan Andonis, walaupun Andonis tlah tiada. Andonis tetap bisa bertemu Aphrodite setiap musim semi. Sekali orang yang kamu cintai pergi, dia tak akan kembali.

Kalian bukanlah romeo dan Juliet, dimana saat Romeo tlah tiada, Juliet menyusulnya. Karena di alam lain pun kalian belum tentu bisa bersama.

Kalian bukan Rose dan Jack Dawsen, disaat Jack tlah tiada, Rose mampu secepatnya bangkit. Kalian tidak mungkin setegar itu bukan? Karna saat orang yang kalian cintai pergi meninggalkan kalian, yang tersisa hanyalah keterpurukan dalam kesedihan dan kesepian.

Kalian juga buka Edward Cullen dan Bella Swan yang mampu hidup abadi bersama selamanya. Karna suatu saat nanti entah kalian, ataupun orang yang kalian cintai akan pergi terlabih dahulu.

Hargailah keberadaan orang yang kalian cintai selama ia masih mampu tersenyum, masih mampu berada di sisi mu, masih mampu mewarnai hidupmu. Jangan sia-siakan mereka, karena saat ia menghilang dari hidupmu untuk selamanya. Sosoknya tak akan pernah kembali, hanya akan menyisakan rasa sesak dan kenangan selama bersama mereka.

 

 

 

By     :       Salma Nara Fadhilla

Tidak ada komentar:

Posting Komentar