Sesaat aku memejamkan mataku, ku coba
mengingat kenanganku bersamanya. Perlahan terlihat kembali kenangan itu. Disaat
kami duduk di sebuah pendopo di pinggir danau, dikala gerimis seperti hari ini.
Saat-saat dimana Ray tersenyum, tertawa, bahkan termangu karena ulah konyolku.
Huft, saat yang ku yakini tak kan terulang.
‘Tapi
kemana Ray sekarang? Tidakkah ia merindukanku seperti aku merindukannya? Masihkah
ia ingat padaku. Akankah penantianku berakhir dengan kecewa? Atau kebahagiaan?
Mungkin, tak ada yang tahu.’ Sederet kalimat itu membuyarkan lamunanku.
Membuatku enggan melanjutkan lamunanku lagi.
Aku
beranjak dari sofa, dengan gontai ku langkahkan kakiku ke tempat tidurku. Tiap
langkah yang kuambil, tak mampu mengusir sosok Ray dalam benakku. Ku banting
diriku di atas kasur yang empuk, mencoba untuk terlelap sejenak.
‘Apa
aku mencintainya. Ku akui, aku memang mencintainya. Begitu pula yang ia katakan
kepadaku satu tahun yang lalu, sebelum ia pindah ke Bandung. Tapi apa dia masih
mencintaiku? Bahkan, apa pernah ia termangu hanya demi memikirkanku? Mungkin.’
Semua kalimat itu seperti bersahut-sahutan dalam hatiku. Dan selalu, selalu
hanya kata mungkin yang dapat mengakhiri dilema yang kurasakan.
‘Apa
aku tidak jenuh dengan semua ini? Ya! Tentu aku jenuh, aku jenuh jika harus
menunggunya. Aku jenuh jikalau aku tak pernah mampu melihatnya langsung, namun ia
harus terus memenuhi benakku, membayang-bayangi hidupku, membuatku dilema
layaknya ada jati diri lain dalam diriku. Aku jenuh. Aku ingin melihat Ray
secara langsung, bukan hanya halusinasi yang terjadi karena persekongkolan
antara mata, hati dan otakku. Aku merindukannya. Ku rasa, rindu ini telah
merusak otakku. Sehingga aku terus menerus berhalusinasi dan merasa kalau Ray
ada di dekatku. Dimana kamu, Ray. Aku rindu kamu. Akankah kamu baik-baik saja
disana?’ Hatiku kembali bimbang. Kalimat-kalimat itu semakin meracuni otakku.
Semakin menyedotku lebih dalam akan ketidakpastian.
***
“Ra,
Kira.”
Aku
membuka mataku. Semuanya putih, silau. Aku memejamkan kembali mataku.
‘Dimana
aku? Mengapa begitu terang disini? Bukankah tadi aku berada di ranjang
empukku?’
“Ra,
Kira. Bangun Ra.”
Suara
itu. Aku seperti mengenal suara itu. Perlahan ku buka kembali mataku. Aku
melihat sosok yang selama ini begitu ku rindukan, Ray. Dia hadir dihadapanku
sekarang. Tersenyum seperti biasa, senyuman hangat yang selalu mampu
meluluhkanku tak peduli sebesar apa amarahku terhadapnya. Namun, kali ini ada
yang berbeda dari senyumannya. Wajahnya terlihat pucat, bibirnya membiru,
dan ada lingkaran hitam disekitar
matanya. Hanya senyumannya yang tetep
manis bagiku.
“Ray?”
Ku coba untuk bangkit.
“Ya
Ra, ini aku. Kamu masih inget kan Ra sama aku?” Jawabnya. Tangannya menyapu
perlahan pipiku.
“Ini
beneran kamu Ray?”
“Iya
Ra, tadi kamu tidur dipangkuan aku. Nyawa kamu masih diawang-awang ya Ra?”
Tanyanya meledekku.
‘Apa
yang barusaja Ray katakan? Aku tertidur dipangkuannya? Mimpikah aku?’ Renungku
dalam hati.
“Ra!
Hay kok ngelamun?” Ray mengibaskan tangannya dihadapanku.
“Ngga
kok Ray. Aku ga percaya aja kalau hari ini aku bisa ngeliat kamu. Kamu pucet
banget. Sakit?” Tanyaku seraya menyentuh wajahnya.
Ray
menunduk seraya menggelengkan kepalanya. Wajahnya terlihat muram. Entah apa
yang terjadi padanya dalam tempo satu bulan ini.
“Kamu
kenapa Ray?”
“Ga
papa Ra. Ra, aku mau tanya, kamu jawab jujur ya.”
“Tanya
apa?”
“Apa
kamu masih mencintai aku?” Matanya menatap ku.
“Ngga
perlu aku jawab, kamu pasti sudah tau jawabannya kan, Ray?”
“Tapi
aku mau denger langsung dari kamu. Please.” Ku lihat matanya basah, membendung
air mata.
“Ya
Ray. Aku masih mencintai kamu. Dari dulu sampai sekarang, perasaan aku tetep
sama ke kamu.”
Ray
mengecup keningku, ku rasakan ada air mata yang menetis di pipiku. Ray
memelukku. Ku rasa ada yang berbeda darinya. Ray yang ku kenal dulu begitu
periang, namun kali ini ia terlihat begitu muram.
“Ada
apa Ray? Cerita sama aku.” Aku seka air matanya dengan kedua tanganku.
“Ga
ada apa-apa Ra. Aku cuma mau kamu tau, aku mencintai kamu. Apapun yang aku
bilang ke kamu, semuanya bohong, yang bener cuma aku mencintai kamu sampai
kapanpun.”
“Maksud
kamu semuanya bohong apa Ray?”
Ray
bangkit dari duduknya. Belum sempat ia menjawab pertanyaanku sedikit demi
sedikit Ray memudar, menghilang.
“Ray!
Jangan tinggalin aku, Ray!”
***
Aku
terbangun di sebuah ruangan bercat biru. Ini kamarku. Ku atur deru nafasku yang
masih memburu. Ku coba mencerna apa yang baru saja terjadi.
‘Kemana
Ray? Apa tadi itu mimpi? Apa maksud perkataannya?’
Ku
langkahkan kakiku ke arah westafel. Ku basuh wajahku, semuanya terasa begitu
nyata. Jantungku masih menggebu cepat.
‘Apa
terjadi sesuatu dengan Ray? Tak biasanya detak jantungku seperti ini.’ Ku
putuskan untuk ke Bandung hari Minggu ini.
***
Semenjak
mimpi itu, aku gundah. Aku takut terjadi apa-apa dengan Ray. Hari ini, aku
putuskan untuk pergi menemuinya. Beruntung, Ray pernah memberi tahu ku
alamatnya di Bandung.
Ku
pacu mobilku dengan kecepatan tinggi. Tak peduli jika tindakanku dapat
membahayakan nyawaku. Aku harus bertemu Ray, aku harus tau bagaimana
keadaannya.
Sesampainya
aku di rumahnya, Aku memanggil-manggil nama Ray. Ray menampakkan dirinya. Rasa
rindu yang selama ini terpendam, terluap secara spontan. Aku memeluknya, air
mata ku tak kuasa terbendung karena bahagia bertemu dengannya. Ray melepas
pelukanku. Ia terlihat bingung bagaimana aku bisa berada di Bandung. Ia
mempersilahkan aku masuk dan duduk di sofa ruang tamunya.
“Ada
apa kamu ke Bandung Ra?” Tanya Ray bingung menatapku.
“Aku
cemas mikirin kamu. Satu bulan belakangan ini, kamu ngga pernah ngasih kabar.
Apa kamu baik-baik aja?” Tanyaku seraya mengelus pipinya.
“Aku
baik-baik aja, Ra. Maaf kalau aku ngga ngasih kabar ke kamu. Sejujurnya, aku
udah ngga sanggup ngejalanin hubungan sama kamu. Aku jenuh Ra, kalau cuma bisa
berkomunikasi sama kamu lewat telfon atau sms. Aku butuh pacar yang bisa dengan
mudah aku temuin. Maaf, tapi aku udah punya pacar baru Ra. Aku bingung gimana
caranya nyudahin hubungan kita, maka dari itu aku ngga ngasih kabar ke kamu
karena aku fikir, kamu akan segera ngelupain aku.” Jawab Ray, menjauhkan
tanganku dari pipinya.
Sakit
rasanya mendengar semua itu keluar dari mulut Ray. Tak pernah terfikir olehku
kalau Ray menduakanku. Rasanya bagaikan tersambar kilatan petir. Air mata
kebahagiaan yang sempat membasahi pipiku, berubah menjadi air mata kesedihan
yang menghujam hati dan benakku.
“Kamu
pasti bohong Ray. Kamu bercandakan?” Ucapku disela-sela rasa perih yang kurasakan.
Jujur, hatiku menentang kenyataan ini.
“Aku
serius Ra. Sekarang kamu udah tau semuanya. Aku harap kamu ngerti. Lupain aku,
lupain semua tentang kita. Aku ga sebaik yang kamu kira, Ra.”
“Kalau
emang yang kamu bilang bener, tolong tunjukin aku pacar baru kamu.” Tantangku
seraya menyeka air mataku.
“Ayo
kalau kamu mau.”
Ray
menarik tanganku. Membawaku kesebuah rumah. Disana ia memanggil-manggil nama
Indah. Jujur, hati ini terasa semakin sakit. Menyesal rasanya aku memintanya
menunjukkan kekasih barunya padaku.
Seorang
gadis muncul dari balik pintu kayu tua. Gadis berjilbab, dia kah yang bernama
Indah, kekasih baru Ray? Ia terlihat bingung dengan apa yang dilihatnya.
“Ray
ada apa?” Tanyanya sambil membuka pagar kecil rumahnya.
“Tolong
bilang sama perempuan ini, kalau kamu itu pacar aku.”
“Ya
tapi, ada apa Ray. Dia siapa?” Tanya Indah. Wajahnya menyiratkan kebingungan.
“Dia
mantan aku yang pernah aku certain ke kamu, Kira. Sekarang tolong bilang ke dia
kalau kamu itu pacar aku.” Ucap Ray seraya melepaskan pegangan tangannya dari
ku.
“Ya,
aku memang pacar kamu Ray.”
“Sekarang
kamu dengar kan? Aku udah punya Indah, Ra.”
Ku
tatap mata Ray lekat-lekat. Aku masih tak percaya semua kenyataan ini.
“Tatap
mata aku, dan tolong bilang. Apakah kamu masih mencintai aku atau ngga?”
“Aku
sudah ngga mencintai kamu lagi. Dan tolong, jangan pernah ganggu aku.”
“Baik,
kalau itu yang kamu mau Ray. Aku akan pergi dari hidup kamu.” Jawabku seraya
berlari meninggalkan Ray dan Indah.
Hatiku
hancur. Aku ke Bandung untuk bertemu dengan Ray karena aku mencemaskannya. Tapi
ternyata ia tak perlu rasa cemas dari ku. Ia telah memiliki gadis lain.
Mungkinkah ia sengaja menyakitiku? Ataukah ini karna ulahku sendiri yang
membuatnya meninggalkanku?
Ku
pacu mobiku kembali ke Jakarta. Rasa hancur dan sedih membuatku memacu mobilku
dengan kecepatan tinggi. Hingga tanpa sadar, aku menabrak sebuah mobil yang
sedang menepi.
“BRUAAAGG”
***
Ku
buka perlahan mataku, semuanya putih. Apakah ini mimpi seperti dulu? Perlahan penglihatanku
yang nanar kembali normal, ini di rumah sakit. Ada mamaku yang tengah tertidur
di sisiku. Aku membelai rambut ibuku. Ia terbangun. Mamaku bilang, kalau aku
sudah 2 bulan koma di rumah sakit. Aku ingat kalau mobilku menabrak mobil lain
di jalan tol.
Kepalaku
masih terasa sakit. Kakiku tak mampu ku gerakkan. Mungkinkah aku lumpuh karna
kecelakaan itu?
“Ma,
kenapa kakiku ga bisa digerakkin?” Tanyaku, air mataku tak mampu terbendung.
“Kamu
lumpuh nak, dan leher kamu patah.” Ucap ibuku menangis, ia memelukku.
Aku
hanyut dalam kesedihan, aku cacat. Ray yang ku cintai tak akan lagi memberiku
semangat. Bahkan sebelum aku seperti ini, ia telah meninggalkanku.
“Ra,
mama dapet surat. Katanya buat kamu. Ini suratnya.” Sambil menyodorkan sepucuk
surat kepadaku.
“Dari
siapa ma?” Ku raih surat itu.
“Mama
kurang tau pasti Ra.”
Kubuka
surat itu dan mulai kubaca perlahan.
Ra, ini aku Ray. Aku sengaja ngga nulis nama aku di amplop
ini karna aku takut kamu ngga mau baca.
Ra, sebenarnya
aku mengidap radang paru-paru kronis. Aku baru tau kalau aku mengidap penyakit
itu, satu bulan yang lalu. Tepat saat aku udah ngga ngasih kamu kabar. Aku
shock Ra. Aku tau, dengan aku memberitahu kamu tentang penyakit aku, justru
hanya akan membuat kamu sedih. Aku ga sanggup ngeliat kamu sedih. Jadi aku buat
rencana itu. Indah yang aku akuin
sebagai pacar aku, sebenarnya sepupuku yang belum pernah aku kenalin ke
kamu. Aku minta bantuannya untuk mengaku kalau aku ini pacarnya. Awalnya dia
menolak, tapi akhirnya dia mau karena dia tau tujuan aku bukan untuk menyakiti
kamu.
Ra, maafin aku.
Aku ngelakuin itu semua karna dokter udah memvonis umur aku ngga lama. Aku ngga
mau kamu sedih berlarut-larut. Maaf karna aku udah nyakitin hati kamu. Karna
aku fikir, dengan aku buat kamu sakit hati, kamu akan ngelupain aku. Aku tau
kamu bukanlah Rose Dowsen yang mampu cepat bangkit setelah Jack Dowsen udah ga
ada. Dan juga aku tau, kita bukanlah Aphrodite dan Andonis, dimana kalaupun
Andonis udah ngga ada, dia masih bisa nemuin Aphrodite setiap musim semi. Aku
akan pergi buat selamanya Ra, aku ngga akan mampu nemuin kamu lagi. Tapi
ternyata aku justru buat kamu celaka. Maafin aku, Ra.
Aku mencintai
kamu, Ra. Masih sangat mencintai kamu. Aku bohong kalau bilang aku ngga
mencintai kamu. Maafin aku ya Ra. Walaupun aku udah ngga lagi hidup di dunia
yang sama seperti kamu. Dan kamu ngga lagi bisa liat aku. Tapi aku akan selalu
ada di deket kamu dan hidup di hati kamu selama kamu masih mencintai aku.
Selamat tinggal
Kira. I LOVE YOU..
Air
mataku semakin membanjiri pipiku. Terkutuklah aku, mengapa aku bisa lupa kalau
Ray pernah datang di dalam mimpiku dan bilang kalau apa yang dia ucapkan itu
bohong? Aku hanya memikirkan perasaanku yang hancur kala itu, tanpa aku mencoba
mengingat mimpi itu. Harusnya aku bisa nemenin Ray dan buat kenangan indah sama
dia. Aku begitu bodoh!
“Ma,
apa Ray sempet kesini?” Tanyaku.
“Sempet
Ra, tapi…” Mamaku menunduk.
“Tapi
apa ma? Kalau Kira udah sembuh, Kira mau ketemu Ray. Ray lagi sakit ma. Mama
temenin Kira ya, Kira ngga mungkin kesana sendiri.” Ucapku merengek.
“Ray
udah ngga ada Ra. Dia meninggal seminggu yang lalu.”
“Mama
pasti bohong kan ma? Ray masih hidup.” Air mataku tak henti-hentinya mengalir. Terasa sulit
untuk menerima semua kenyataan ini. Aku tak bisa menemani Ray di akhir sisa
hidupnya karena kebodohanku sendiri.
“Ray
maafin aku.. Aku sayang kamu.. Maafin aku..” Teriakku histeris..
Nafasku
berat. Penglihatanku berubah nanar. Terlihat dokter dan suster mengelilingiku.
Dan mamaku menjauh, memeluk papa dengan berlinang air mata. Semua berubah
gelap. Hanya sayup-sayup terdengar teriakan mama memanggil namaku.
‘Hhhhh…
Ray, tolong tunggu aku. Maafin semua kebodohan aku. Aku masih sayang kamu.’
Pikirku.
***
Pesan penulis:
Dekaplah
orang yang kamu cintai selagi ia di dekatmu. Cintailah dia,selama ia
mencintaimu. Lindungilah ia disaat ia membutuhkanmu. Pedulilah padanya seperti
dia peduli padamu. Karena takdir tak mudah ditebak. Ketika mereka pergi, mereka
tak akan pernah kembali tuk mewarnai hidupmu lagi.
Kalian
bukan Aphrodite dan Andonis, walaupun Andonis tlah tiada. Andonis tetap bisa
bertemu Aphrodite setiap musim semi. Sekali orang yang kamu cintai pergi, dia
tak akan kembali.
Kalian
bukanlah romeo dan Juliet, dimana saat Romeo tlah tiada, Juliet menyusulnya.
Karena di alam lain pun kalian belum tentu bisa bersama.
Kalian
bukan Rose dan Jack Dawsen, disaat Jack tlah tiada, Rose mampu secepatnya
bangkit. Kalian tidak mungkin setegar itu bukan? Karna saat orang yang kalian
cintai pergi meninggalkan kalian, yang tersisa hanyalah keterpurukan dalam
kesedihan dan kesepian.
Kalian
juga buka Edward Cullen dan Bella Swan yang mampu hidup abadi bersama
selamanya. Karna suatu saat nanti entah kalian, ataupun orang yang kalian
cintai akan pergi terlabih dahulu.
Hargailah
keberadaan orang yang kalian cintai selama ia masih mampu tersenyum, masih
mampu berada di sisi mu, masih mampu mewarnai hidupmu. Jangan sia-siakan mereka,
karena saat ia menghilang dari hidupmu untuk selamanya. Sosoknya tak akan
pernah kembali, hanya akan menyisakan rasa sesak dan kenangan selama bersama
mereka.
By : Salma Nara Fadhilla
Tidak ada komentar:
Posting Komentar