Kamis, 01 Agustus 2013

Antara Aku dan Mereka

          Kami “Corail”, kalian boleh memanggil karang. Kami bukan geng yang hidup mewah, ataupun gaul. Bahkan jauh dari itu, kami hanya sekelompok remaja yang bersatu karena kesamaan latar belakang. Tak pernah merasakan rasa kebahagiaan utuh dari keluarga. Mungkin, sebagian dari kalian bingung mengapa kami bisa bersatu, karena kebanyakan orang akan menutup diri jika mengalami masa lalu seperti kami. Tapi kami berbeda, itulah mengapa mereka memanggil kami karang.
          Aku Hana, sama seperti enam temanku yang lain, hidupku tak melulu mulus. Bahkan dapat dikatakan hidupku penuh dengan lubang yang ditambal sulam. Penuh kemuraman, kelam, dan hidup penuh dengan semua hal yang tidak pasti. Hidup yang penuh dengan tanda tanya, bayangkan bagaimana rasanya.
         Di usia ku yang menginjak delapan tahun, aku harus menelan teriakan yang kudengar setiap malam. Saling ejek, saling menyalahkan, entah teriakan apa lagi yang telah melewati telingaku. Aku benci, diluar sana memang ramai, tapi tanpa mereka sadar, mereka telah memojokkan aku dalam keheningan. Menutup telingaku dari suara mengerikan mereka, dan suara isak kakakku yang hanya mampu menangis.
          Kalau aku boleh memilih, aku akan memilih untuk meninggalkan mereka. Mencari kebahagiaanku sendiri, atau mungkin aku akan memilih untuk memberikan masing-masing mereka pisau. Terserah mau mereka gunakan untuk apa, mungkin untuk membunuh satu sama lain. Tak apa lah, asalkan aku tak perlu melihat mereka bertengkar lagi. Lebih baik mereka berdua mati! Meninggalkan aku dan kakakku, daripada mereka harus terus berjuang pada ego nya masing-masing.
          Aku mengutuk diriku, yang harus menelan pil pahit yang disodorkan oleh ibuku sendiri. Saat aku harus melihat ibuku bersama orang lain. Dengan atau tanpa aku seolah mereka tak peduli, mempetakan benak mereka bahwa aku hanyalah gadis lugu dan naif yang tak mengerti apa-apa.
Melihat bahunya di rangkul manja oleh seorang pemuda yang telah ia cap sebagai kaki tangannya. Berjalan di belakang mereka seolah aku hanyalah ajudan pembawa barang belanjaan. Ingin rasanya ku dorong laki-laki itu terjun dari escalator, mati!
Saat melihat laki-laki itu datang ke rumah, mengobrol dengan ibuku. Bahkan aku pernah dijadikan babu untuk memijat bahunya. Siapa dia? Mempekerjakan aku seolah babu di rumahku sendiri? Dan apa yang ada dalam benak ibuku saat itu? Mengapa ia memaksaku untuk memijat bahu laki-laki brengsek itu? Seberapa penting laki-laki itu untuknya? Lebih pentingkah ia daripada keletihanku?
Atau, saat aku melihat mereka berboncengan motor berdua. Lagu lama, mau mencari perlengkapan motor untuk bengkel. Hati ini geram, mual melihat ulah ibuku. Isi perut ini berteriak, menjerit, seolah meminta dikeluarkan dihadapan wajah dua sampah itu. Ya, sampah! Mereka hanya sampah! Aku memang terlahir dari rahimnya, namun aku tak mengenal sosok yang mengaku melahirkanku ini! Ibu yang seharusnya menjadi panutan bagiku justru lebih menonjol menjadi wanita bodoh yang tak mengerti arti kesetiaan.
Setiap malam, setiap kali ayah dan ibuku bertatap muka, mereka selalu bertegur sapa. Namun tak sama seperti tegur sapa orang tua lain. Mereka hanya saling menyalahkan, membuatku makin muak melihat sosok ibuku.
“Pulang malem terus. Ga usah pulang aja sekalian. Udah ada yang lain kan?” Tuduh ibuku pada ayahku yang baru saja melangkah masuk ke rumah.
“Aku tuh kerja! Bukan berleha-leha di kantor. Kamu sendiri keluyuran sama siapa lagi hah?” Bentak ayahku tak terima pada tuduhan ibu.
“Aku beli perlengkapan buat usaha bengkel. Apa-apaan si! Ga usah ngalihin pembicaraan.” Bentak ibuku.
“Tapi sebenarnya ga harus sama orang itu-itu lagi kan?” Selidik ayahku.
“Terserah. Kamu tuh kalo udah salah emang pasti nyalahin orang lain.” Ujar mamaku melangkah ke arah kamar.
“Aku belom selesai ngomong!” ‘Braaak!!’ Ayahku memukul sebuah kursi plastik hingga alas duduknya pecah menjadi dua. “Aku capek kalo terus menerus kamu tuduh kaya gini. Kamu sendiri ga ngaca sama kelakuan kamu.”
Aku yang kala itu tengah berada di ruang makan ikut geram. Telinga ini sedari tadi mendengar isak tangis kakakku dikamar yang bersebelahan dengan ruang makan.
“Prangg!!”
“Apa-apaan kamu? Udah kaya ya? Bisa beli piring sendiri?” Teriak mamaku menghampiriku.
“Kalian aja bisa berantem dan bisa terus berusaha mecahin gendang telinga anak kalian sendiri. Kenapa piring pecah aja ga boleh? Kursi plastiknya aja pecahkan?”
Ibuku hanya diam, dan menatapku tajam seolah aku adalah momok bagi ibuku. Aku tahu apa yang ada dalam benak ibuku. Gadis naifnya kini berubah menjadi pemberontak yang kapan saja bisa mencetuskan semua rahasianya.
“Kenapa kalian diem? Udah puas berantem? Terusin aja pa, ma, biar tetangga tau! Orangtua macam apa kalian? Sadar ga, sedari tadi mba Rika nangis di kamar? Sadar? Ngga! Kalian sibuk ngurusin masalah kalian sendiri! Gini cara ngasih kenangan masa kecil ke anak? Bagus! Terusin aja! Mungkin lebih baik aku ambil pisau, dan papa dan mama megang satu. Jadi kalian berantem sampe mati sekalian!” ujarku meninggalkan mereka menuju kamar kakakku.
Sepeninggalku, tak sekalipun aku menengok ke belakang untuk mengetahui apa yang mereka lalukan setelah aksi pemberontakanku tadi. Otak ini meledak, tapi hati ini masih memohon ampun pada Tuhan karena telah tidak berlaku sopan pada kedua orang tuaku tadi. Tapi apa mau dikata, semua buntu, hanya itu yang mampu aku lakukan selain menenangkan kakakku yang selalu takut kalau orang tua kami akan bercerai.
Setelah malam itu, tetap taka da yang berubah. Ibu masih terus menuduh ayahku berselingkuh. Ayahku tau perbuatan ibuku, namun tak ada bukti untuk memojokkannya. Ia tak tahu, kalau putri kecilnya adalah saksi mata semua tindakan bodoh yang dilakukan istrinya. Ia hanya bisa bercerita dan bertanya pendapat sesekali padaku, putri kecil yang ia anggap dapat menerima semua persoalan dengan lebih dewasa dibandingkan mba Rika, kakakku yang selalu menangis.
‘Tuhan, maafkan aku. Aku tak mungkin mengatakan yang sejujurnya padanya. Ga mungkin, aku ga mau apa yang ditakutkan oleh kakakku menjadi kenyataan karena pengakuan ku. Jujur, aku ingin mereka berpisah. Aku lelah mendengar pertengkaran mereka. Aku lelah harus terus bersikap dewasa bagi kakakku. Aku tak sanggup melihat sorot mata sendu ayahku yang tetep mencoba mempertahankan hubungan mereka. Selalu Tuhan, selalu hati ini berkata, andai papa tahu yang sesungguhnya. Entah apakah aku anak durhaka atau bukan, yang pasti hati ini membenci seutuhnya ibuku. Maafkan aku Tuhan.’
Pemberontakanku tak hanya terjadi sekali. Aku selalu melakukannya dengan cara berbeda, tiap kali mereka bertengkar. Sampai pada akhirnya, situasi rumahku berangsur hening. Intensitas pertengkaran mereka berkurang sedikit demi sedikit.
Namun, acapkali ibuku ingin keluar rumah, ia selalu memanfaatkan aku. Izin kepada ayahku bahwa ia ingin mengajakku jalan-jalan. Padahal ia meninggalkanku di rumah temanku, dan ia pergi sendiri. Aku yakin, ia pergi dengan lelaki brengsek itu lagi. Kapan ia bisa sadar kalau aku ini bukan barang! Aku tidak buta dan tidak tuli, aku juga tidak bodoh untuk mengerti apa yang tengah terjadi.
Sampai sewaktu ketika, rumahku kecurian. Perhiasan ibuku raib. Mungkin pembalasan dosanya pada kami. Entahlah. Saat itu, ada yang menggelitik di telingaku. Ibuku menyarankan kepada ayahku untuk mendatangi seorang ustad untuk bertanya siapa yang telah membobol rumah kami. Tentunya dengan mengajak aku. Dan ayahku mengangguk setuju.
‘Bodoh!! Sungguh bodoh!! Walaupun dia seorang ustad, dia bukan Tuhan yang mengetahui segalanya. Kenapa papa begitu mudah mengiyakan saran mama. Kenapa papa ngga coba berpikir apa yang direncanakan mama. Bahkan putri kecilmu ini tahu apa yang tengah direncanakan wanita itu! Sungguh ibu licik dan ayah yang lugu.’ Batinku.
Hingga, terjadilah malam itu. Aku dan mama pergi menemui “ustad itu”. Seperti dugaanku sebelumnya, mama meninggalkan aku di rumah temanku. Tapi kali ini aku tidak bodoh. Aku lelah jika harus terus berbohong pada papa.
Aku memutuskan untuk memanggil ojek yang tak jauh dari tempat itu. Aku mengikuti kemana mobil mama pergi. Hingga ia berhenti di sebuah tempat. Rumah, bukan masjid atau mushalah tempat seorang ustad seharusnya berada. Angan ini mulai melayang, mana ada seorang ustad yang bertemu tamu yang meminta bantuan di rumah?
Aku membayar ojek itu dan bersembunyi tak jauh dari rumah itu, berharap mama tak masuk ke dalam rumah itu dan membuatku tak mampu melihat apa yang ia lakukan. Di teras rumah itu duduk seseorang, laki-laki yang paling aku benci. Penghancur keluargaku. Ia memegang erat tangan mama, mengajaknya duduk. Ingin aku keluar dari tempat persembunyianku dan berteriak “zina” agar mereka diarak keliling kampong. Namun aku pendam semua itu.
‘Inikah ustad itu? Pasti ibuku yang telah berbohong, dia bukan ustad. Dia hanya laki-laki matre dan brengsek. Aku muak melihatnya.’
Mereka berbincang sebentar, sejurus kemudian mama mengeluarkan amplop coklat yang aku tahu pasti apa isinya. Amplop itu berisi uang untuk diberikan kepada ustad yang akan membantu kami. Yang ternyata semua cerita itu fiktif!
“Ini untuk pengobatan ibu mu. Buat kamu.” Samar-samar ku dengar apa yang ia katakan.
“Sial!” Umpatku dalam hati. “Kali ini gue akan ancurin kalian berdua!” Segera ku keluarkan hp ku dan memotret mereka berdua.
Aku memutuskan untuk keluar dari persembunyianku. Aku berlari dan segera merebut amplop itu sebelum sempat tersentuh oleh laki-laki matre itu. Mata mama terbelalak melihatku, kaget terpancar jelas dari wajahnya yang tengah memakai jilbab dengan model “asal jadi yang penting ketutup” alias acak-acakan.
“Oh, ini ustadnya? Bagus ya! Muda banget! Gimana cara lo bisa tau siapa yang maling di rumah gue ‘Pak Ustad’? Dengan nyuruh nyokap gue bawa duit buat nyokaplo yang penyakitan? Atau dengan ngajak gue yang jelas-jelas bersuami ke dalem rumah atau bahkan kamar lo? Hah!” Teriak ku kepada laki-laki itu.
“Cukup! Jaga omongan kamu ya!” Mamaku nyaris menamparku. Aku hanya menatap tajam matanya. “Ngapain kamu disini?” ujar mamaku.
“Ngapain aku disini? Kehabisan alasan ya, biasanya lancer aja kalo ngeles depan papa. Oh iya, tadi bukannya mau nampar? Kenapa ga jadi? Perlu aku kasih tau ya. Muka Anda yang minta ditampar. Perlu saya kasih kaca hah! Anda mengaku terhormat tapi tindakan Anda seperti wanita liar yang bisa dipesan! Bukan Anda yang harus bertanya sedang apa saya disini. Seharusnya saya yang bertanya, apa yang Anda lakukan disini! Mana ustad yang Anda bicarakan, Bu Listya!” Ujarkku pada ibuku sendiri. Amarah ku sudah tak dapat tertahankan lagi. Bahkan untuk memanggilnya aku lebih memilih untuk memanggil namanya. Bagiku, kata “ibu atau mama” terlalu indah dan tak pantas untuk wanita murahan seperti dia.
“Dan lo! Gue bisa buat ibu lu yang penyakitan itu mampus! Gue sering denger, lo nelfon nyokap gue dan nyokap gue sebut-sebut kalau nyokap lo kena serangan jantung. Gue bisa pastiin kalo lo ga berenti ganggu keluarga gue. Nyokaplu ga Cuma kena serangan jantung atau stroke! Gue bakal buat lo ngegali kuburan buat nyokaplo sendiri. Semua isi smsan kalian, foto kalian jalan, rekaman kalian ngobrol, bahkan foto nyokap gue mau ngasih uang ke elu tadi udah ada di gue. Dan udah gue gandain. Jadi siap-siap aja nyokaplo mampus kalo liat tu foto. Dan buat lo, Ibu Listya, gue kasih lo pilihan. Mau pulang sama gue sekarang, atau gue yakinin ke elu, papa kan dapet email foto tadi dari gue! Dan lo di depak dari rumah!” ucapku pada mereka berdua.
Aku tak takut apabila mereka memutuskan untuk membunuhku karena aku ancaman bagi mereka. Saat ini dalam benakku, mati lebih baik daripada harus berbohong pada papaku lagi.
Tak seperti dugaanku, akhirnya tanpa melawan mama memutuskan untuk pulang bersamaku. Dari raut wajahnya aku melihat kecemasan yang luar biasa. Tapi aku belum puas menyiksa batinnya.
Sesampainya di rumah, aku bersikap biasa. Seolah taka da yang terjadi tadi. Aku sengaja melakukan itu untuk menyiksa batin ibuku. Agar ia tahu, putrinya yang ia kira lugu, kini berubah menerjangnya dengan belasan bukti yang dapat membunuhnya.
***
          Semenjak saat itu, aku sering mengancam ibuku. Meminta uang darinya tapi disertai dengan ancaman kalau ia tidak memberikannya, aku akan melaporkan semua bukti itu pada ayahku, atau yang biasa kalian sebut memerasnya. Ya aku memeras ibuku, namun uang itu tak pernah ku pakai untuk diriku. Aku memakai uang itu untuk membelikan makanan bagi orang-orang yang tinggal di kolong jembatan. Dengan berpikir bahwa uang itu lebih baik untuk mereka daripada untuk laki-laki benalu itu. Walaupun ia telah lenyap dari kehidupan kami, tak pernah menghubungi ibuku lagi.
          Sudah berkali-kali aku memeras ibuku. Dan ibuku bagai kerbau yang di cucuk hidungnya. Ia hanya bisa menuruti permintaanku. Aku semakin merasa bahwa kini aku mampu menginjak balik harga dirinya seperti dia menginjak kebahagiaan aku dan kakakku. Dan masa kebahagiian semu ku ini lah yang membuatku bertemu para Corailian, teman-temanku. Mereka mengajarkan padaku cara mereka mengatasi permasalahan keluarga mereka, menyadarkan aku kalau aku tak sendiri menghadapi semua ini. Membuka hatiku kalau apa yang selama ini ku lakukan dengan memeras ibuku adalah salah.
          Corail benar, aku salah. Aku terlalu membiarkan ego dan dendam menguasai diriku. Aku lupa identitasku sebagai seorang anak. Selama ini, aku hanya berpikir bagaimana menjatuhkan ibuku, bukan bagaimana cara mengingatkannya kalau yang ia lakukan salah. Aku tak sadar kalau kebahagiaanku memeras ibuku hanyalah kebahagiaan palsu, yang membuatku tak menyadari bahwa batin ini berteriak karena situasi di rumah tetap sama seperti saat ada laki-laki itu. Ya, sama. Karena pada saat ini, akulah yang berubah menjadi seorang yang berengsek.
          “Mama!” Aku memanggilnya. Biasanya aku hanya memanggilnya begitu disaat ada papa dan kakakku. Kalau mereka tidak ada, aku memanggilnya dengan Ibu Listya.
          “Mama, aku minta maaf. Aku udah kurang ajar sama mama. Aku udah ngancem mama. Maaf ma. Aku cuma mau mama sadar, tindakan mama itu salah. Aku mau mama liat, aku dan mba Rika selama ini kesiksa ngeliat papa sama mama ribut terus. Kami cape, tiap malam kami harus denger mama minta cerai. Aku juga cape ma, aku ngerasa berdosa sama papa karena harus boongin papa tentang mama yang sering pergi dengan siapa. Aku mau mama sadar, aku, papa, mba Rika, semua sayang sama mama. Aku mau mama liat, laki-laki itu penghancur semuanya. Aku minta maaf, kalau emosi aku udah buat aku nyakitin perasaan mama.” Ujarku memeluk ibuku dari arah belakang.
          Ibuku yang saat itu tengah mencuci piring, berbalik menatap ku.
          “Mama juga minta maaf, semenjak kamu ngancem mama. Mama baru sadar kalau apa yang mama lakuin selama ini salah. Mama mau minta maaf sama kamu, tapi mama ngga berani. Karena mama rasa kamu begitu ngebenci mama. Mama minta maaf ya, sayang.” Ujar mama membalas pelukanku.
          “Ya aku maafin, maafin aku juga ya ma.”
***
          Semenjak aku dan mamaku meminta maaf, dan sampai saat ini. Keluargaku kembali akur. Seperti saat laki-laki itu belum masuk ke dalam keluarga kami. Aku bersyukur bertemu Corail, yang mengajarkan apa arti keluarga padaku. Sehingga sekarang, aku mendapatkan keluargaku yang utuh. Penuh canda tawa, taka da lagi yang mengucap kata cerai. Dan tak ada lagi yang berteriak dan bertengkar setiap malam.
          “Tuhan, terima kasih. Karena engkau menyelimuti keluargaku dengan kebahagiaan. Terima kasih karena telah membuatku mampu melupakan dendamku pada mama. Aku benar-benar berterima kasih pada kuasa Mu, kini keluargaku kembali utuh. Dan kini aku mampu membantu mereka yang bernasip sama sepertiku dulu. Aku berjanji, Tuhan. Aku akan bantu teman-temanku yang bernasip sama sepertiku untuk bahagia dengan apapun kondisi keluarganya. Aku berjanji, akan membuat mereka yang semula frustasi pada keluarganya, menjadi optimis untuk membuat keluarganya kembali utuh. Aku berjanji, aku tak akan membiarkan teman-temanku hancur karena permasalahan keluarganya. Terima kasih, Tuhan. Terima kasih.”
**TAMAT**

Pesan Penulis:
          Kisah ini berdasarkan kisah nyata seorang narasumber yang tidak mau disebutkan namanya. Kisah ini bercerita tentang seorang gadis yang berusaha membuat keluarganya kembali utuh. Dimana ia harus melawan batasan antara anak dan orang tua. Seorang gadis yang mendapat pertolongan Tuhan dan berhasil menyelamatkan keutuhan keluarganya. Kisahnya, memberi tahu kita apa arti keutuhan keluarganya. Ia berharap, tak ada dari kalian yang mengalami kisah sepertinya.

          Keluarga adalah segalanya. Tempat kalian bernaung, tempat kalian berbagi keluh kesah. Keluarga seharusnya bukan menjadi tempat kehancuran mental dan pikiran positif anak. Jangan biarkan emosi orangtua terlihat oleh anak. Karena tidak semuanya seperti gadis dalam kisah ini. Beberapa dari anak pasti akan membawa dendamnya hingga ia dewasa, dan mungkin ia akan membuang kedua orangtuanya karena berpikir kalau orangtuanya selama ini membuang kebahagiaannya. Sayangi keluargamu selagi mereka masih utuh. Karena keluarga yang bahagia dan utuh adalah harta termahal yang dapat kalian punya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar